Last Farewell (Chapter 2) / Series

 

LF2

Genre: sad, romance

Author : Kim MysHwa

Main cast : – Kwon Jiyong, -Jung Min Ah

Sub cast : Kim Hyo Ra, Lee Seung Hyun, Lee Kang Joo, etc.

Disclaimer: This FF is original strory from my mind.

 

Happy reading.🙂

Jiyong-ah mari makan siang…

Dia teman SMA.. dia mantanku..

Perasaanku seperti cola yang kehilangan buihnya

Nappuen namja.. kau picik!!!

                                           

                                                        ” DON’T JUDGE ME”

Cuaca  distrik Gangnam cerah, hari ke 17 di musim semi. Orang-orang tampak memancarkan sinar cerah diwajahnya, begitupun Min Ah dia sangat antusias di musim ini, melihat bunga cherri mekar dimana-mana dan mencium semerbak harumnya, juga melihat dedaunan yang menghijau di sekelilingnya, yaa meski kejadian kemarin bukanlah awal yang bagus untuknya di musim semi ini.

Min Ah bersiap-siap untuk berangkat bekerja sembari mendengarkan radio, ia hanya mengenakan make up sederhana meski begitu kecantikannya jelas terpancar dari parasnya yang berseri itu. Segera ia mengalungkan tanda pengenalnya, ia mengabaikan ego nya pada Jiyong karna ia membutuhkan pekerjaan ini. Ia mencoba untuk mengulang dari awal, sebagai seorang karyawan yang sama sekali tak mengenal sang CEO.

“So take a look at me now

There’s just an empty space

And there’s nothing left here to remind me

just the memory of your face Well, take a look at me now, There’s just an empty space And you coming back to me is against the odds

And that’s what I’ve got to face”

(Maka lihatlah aku di sini kini Hanya ada ruang hampa Dan tak ada yang tersisa di sini tuk ingatkanku Hanya kenangan tentang wajahmu Lihatlah aku di sini kini Hanya ada ruang kosong Dan kemungkinan kau kembali padaku amatlah kecil Dan itulah yang harus kuhadapi)

 

 

Min Ah terduduk sejenak di kasurnya, ia terduduk lesu. Entah apa dipikirannya, wajahnya tampak tak bersemangat setelah mendengar lagu itu.

“ Ahk, andai saja aku bisa hilang ingatan, aku membenci  lagu cinta ini, memiliki kenangan dengannya” keluh Min Ah, ekspresinya  tampak putus asa.

Yaa, lagu itu adalah lagu kenangan mereka, dia dengan Jiyong. Mereka sering sekali mendengarkan lagu itu bersama-sama, lagu yang sama-sama mereka sukai. Kemudian Min Ah tertawa geli .

“ Yaak, pabo! Kalau di pikir-pikir lucu juga kenapa kami menyukai lagu itu dan sekarang kenyataanya terjadi padaku” ucap Min Ah dengan tawa yang terdengar lirih.

“Kau hanyalah debu yang menghilang”  kata Min Ah kembali berujar pada dirinya sendiri.

Ia menghela nafas panjang, kemudian kembali menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa ke kantor  tanpa semangat tak seperti tadi. Memang menghapus memori itu tak semudah di bayangkan, terkadang ia masih mengingat kenangan mereka, namun hanya  menyakitkan dan sia-sia. Jika saja melupakan seseorang itu seperti memecahkan soal matematika maka dia akan mengerjakannya meski harus menyelesaikannya sehari semalam, tapi kenyataanya tidaklah seperti itu. Tak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi Min Ah sangat susah melupakan seseorang meskipun telah menyakitinnya. Ia memiliki daya ingat yang kuat.

“ AJA!! AJA!” ujar Min Ah menyemangati dirinya seraya menggenggamkan tangan kanannya, ia tak ingin terkunci dalam kenangan masa lalu.

“ KLIK” Min Ah mematikan radio kecilnya dimeja rias,lalu berjalan keluar pintu. Sekali lagi ia menghirup napas dalam-dalam, seakan menarik energi dari semerbak harum bunga-bunga cherri.

####***####

 

“ Maldo andwae”  seru Hyo Ra setelah merazia barang-barang milik Jiyong, dari dompet hingga dokumen di laptop pribadi milik Jiyong. Ia masih curiga kalau Jiyong berbohong atas ucapannya kemarin tentang perasaan nya pada Min Ah, jadi dia berpikir mungkin saja Jiyong masih  menyimpan foto Min Ah. Tapi meski berulang-ulang kali dia memeriksa tak satupun ia temukan foto Min Ah.

“ Meski aku tak mempunyai perasaan pada mantanku tapi aku masih mempunyai fotonya, tapi syukurlah” gumam yeoja itu.

“ Ahk, tapi sayang sekali aku tak tahu password di handphone nya, mungkin saja ada di sini” celoteh Hyo Ra tak jelas sembari memegang Iphone milik Jiyong.

“Oette…oette… tak mungkin jika aku harus bertanya langsung pada Jiyong, oette???” Hyo Ra seakaan berpikir keras sembari memandangi Iphone itu lalu mulai mencoba memecahkan password nya namun ia tak kunjung jua bisa menebak kata sandinya.

“ CLECK” pintu ruangan Jiyong tiba-tiba terbuka, Hyo Ra pun jadi panik segera ia berpindah dari kursi Jiyong. Seolah tidak melakukan apa-apa. Benar saja beberapa detik kemudian seorang namja dengan berperawakan semampai masuk keruangan itu.

“ Kenapa kau sudah kembali, bukannya kau harus meeting?” sambut Hyo Ra dengan pertanyaan.

Ne, tapi aku lupa membawa handphone ku” jawab Jiyong sembari memperlihatkan Iphone ditangannya yang ia ambil dari mejanya itu.

“ Hajiman.. kenapa kau diruanganku, bukannya kau juga harus menyambut klien kita di bandara?” Tanya balik namja itu.

“ Ohh, matta.. aku hampir lupa, tadi aku hanya….. hanya ingin meminta tanda tanganmu di laporan” jawab Hyo Ra yang sedikit terlihat gugup dari nada bicaranya.

Geure, selagi aku masih ada waktu mana laporannya, aku akan tanda tangan

Jigeum??” jawab Hyo Ra refleks karna yang ia katakan tadi hanya dalih saja agar Jiyong tak mencurigai kenapa dia berada diruangan itu.

Ne, wae??” Tanya balik namja itu atas respon Hyo Ra yang aneh.

“ Ohh yaa benar, sekarang aku harus pergi nanti aku  terlambat menjemput klien kita, annyeongyeoja itu beralasan lagi kemudian buru-buru meninggalkan Jiyong sebelum Jiyong bertanya lebih banyak padanya.

“ Aneh” komentar Jiyong setelah Hyo Ra berlalu, tidak hanya dengan sikap Hyo Ra juga pada Iphonenya yang terasa panas seperti baru saja di gunakan. Tapi ia tidak menemukan keanehan setelah ia membuka Iphonenya, ia hanya berpikir mungkin saja ia lupa kalau menggunakannya tadi cukup lama, ia berpikir positif.

***##***

@Ruang Karyawan

Aigoo, ige mwoya??” keluh Min Ah, ia sangat asing dengan pekerjaan yang ia lakukan ini, ia menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Ia hanya mengerti rumus-rumus dasar dari laporan yang ia harus selesaikan itu.

Neo paboya!!” umpat seorang yeoja yang tak jauh beda dari umurnya namun merupakan sang manajernya sehingga Min Ah harus menahan emosinya mendengar perkataan itu. Rupanya sedari tadi sang manajer mengawasinya.

“ Kau belum juga menyelesaikan laporan itu, seharusnya ini hanya diselesaikan setengah hari, bagaimana bisa selama ini!! Saya tidak mau tahu, pokoknya besok laporan ini harus selesai, arra???” kata sang manajer dengan penekan kata-kata, tentunya terdengar seperti omelan, Min Ah hanya mendengarkan cuma-cuma ia tak suka di bentak seperti itu di depan umum, tentu saja karyawan lain melirik kearahnya dan mencibirnya.

Ne, arraseo” jawab Min Ah lemah.

Geuri” sahut sang manajer lalu beranjak pergi.

“ Aisshh..” keluh Min Ah setelah manajer itu pergi, seiringan dengan itu semakin banyak karyawan yang berbisik-bisik di belakangnya. Sekarang ia baru merasakan bagaimana “sendiri” itu. Sama sekali tak ada yang peduli padanya, bahkan orang yang dia kenal pun mengabaikannya, sang mantan.

“ Apa sebaiknya aku pindah bekerja?? Aku tak bisa jika terus seperti ini” bisiknya dihati.

 

***##***

Jiyong tiba di salah satu restaurant mewah di Gangnam dengan mengendarai mobil mewah, sebuah Bentley Continen GT lalu seorang pelayan restaurant itu segera membukakan pintu untuk namja itu dengan ramah, yaa memang lumrah sebuah pelayanan yang memang harus di lakukan untuk sebuah restaurant mewah.

Jiyong segera melangkah ke sebuah meja yang sudah di tempati beberapa orang yaitu dua orang namja dan seorang yeoja, seorang namja yang Nampak seperti seorang sekretaris dari meja itu melambaikan tangan ke arah Jiyong, ia pun mempercepat langkah.

“ Maap, saya terlambat” Jiyong membuka pembicaraan setelah duduk di meja itu.

“  Yaa, tidak masalah” jawab seorang namja yang merupakan wakil direktur dari sebuah perusahaan besar yang sukses di Amerika.

“ Begini Jiyong-ssi. Apa anda sudah setuju dengan kerjasama yang kami ajukan sebelumnya?? “ jelas yeoja itu yang ternyata assisten pribadi sang wakil direktur.

Jiyong terdiam sejenak, ia tampak berpikir.

“ Tapi, kenapa kalian ingin bekerjasama dengan perusahaan kami, sedangkan kalian sukses di Amerika?” Tanya Jiyong serius.

“ Kami hanya ingin mencoba melebarkan sayap di negeri sendiri” jawab sang wakil direktur yang terdengar angkuh.

Seung Hyun-ssi, maap, kita sepertinya tidak cocok kerjasama, prinsip kita berbeda, saya tidak pernah coba-coba dalam bisnis ini” jelas Jiyong dengan tatapan serius kepada wakil sang direktur itu.

Orang-orang dari perusahaan JM itu pun terhenyak mendengar jawaban yang keluar dari mulut namja itu, bagaimana mungkin dia menolak kerjasama yang sangat menguntungkan bagi perusahaannya.

“ Apa anda yakin?” Tanya sang sekretaris dari perusahaan JM itu.

Ne” tegas Jiyong tanpa ragu.

“ Lagi pula bagaimana dua perusahaan iklan bergabung, itu hanya akan mengacaukan” sambung Jiyong.

“ Baiklah, saya harap anda tidak menyesal” balas Seung Hyun santai.

“ Hmm, kuharap begitu” jawab Jiyong acuh.

“ Kalau anda hanya ingin menolak kerjasama ini kenapa anda harus datang sendiri? Anda bisa mengirim asisten atau sekretaris” Tanya Lee Kang Joo, asisten Seung Hyun.

Oette?? Aku hanya tak ingin kalian malu karna sudah jauh-jauh datang dari negeri paman Sam hanya bertemu bawahanku, dan juga aku ingin tahu bagaimana wajah orang yang ingin memulai perang dingin secara halus ini” ucap Jiyong dengan seringainya yang mengarah pada Seung Hyun.

“ Apa maksud anda?? Saya hanya ingin bekerjasama!” kilah Seung Hyun dengan wajah yang memerah menahan amarah.

“ Sudahlah Seung Hyun-ssi, saya bukan orang bodoh”

“ Semoga kita tidak bertemu lagi, annyeong” ucap Jiyong mengakhiri pembicaraan itu, ia tak ingin menjadi pertikaian yang berkelanjutan.

***

Jiyong mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, melebihi batas normal. Tentu saja sekarang jiwanya sedang labil. Tiba-tiba saja ia kehilangan kendali mobilnya, ia pun dengan segera membanting stir mobilnya.

“cccctttttttt” suara rem mobilnya terdengar keras.

“Yaak! Apa anda bisa menyetir?? Bagaimana cerobohnya anda!” teriak seorang yeoja yang jatuh terduduk didepan mobilnya. Sementara Jiyong masih berada didalam mobil itu, ia mencoba menenangkan emosinya sebelum menghadapi orang yang ia tabrak itu.

“Yaak, apa anda tuli atau bahkan buta??” teriak yeoja itu lagi.

Na naya” ujar Jiyong sembari menuju ketempat yeoja itu.

Neo!!” balas yeoja yang ternyata Min Ah itu, ia makin emosi setelah melihat orang yang keluar dari mobil mewah itu.

Gweanchana??” Tanya Jiyong datar.

Paboya!! Apa kau tak lihat lutut dan tanganku yang berdarah??” jawab Min Ah dengan nada tinggi.

Geumanhae, kau terlihat menyedihkan jika berpura-pura seperti itu, mobilku cuma mengenai tubuhmu sedikit saja” tutur Jiyong tanpa rasa bersalah.

Neo, jinja!! Apa kamu mabuk, heh?? Mengebut di jalan seperti ini, meski sedikit mengenai tubuhku tapi tabrakannya sangat keras”  jelas Min Ah dengan emosi yang meluap, Jiyong terdiam sejenak, ia menelaah ucapan Min Ah tadi, yaa memang benar itu semua karna kecerobohannya, Min Ah sama sekali tidak berpura-pura dengan lukanya itu.

Kajja!! Ikut aku kerumah sakit” kata Jiyong kemudian.

Dwaesseo” sahut Min Ah singkat, ia mencoba berdiri tapi kemudian jatuh lagi, luka di lututnya itu terlihat cukup parah, darah segar terus mengalir.

“ Keras kepala” celutuk Jiyong lalu menuju tempat Min Ah dan langsung menggendongnya.

“ Apa yang kamu lakukan?? Cepat turunkan aku!” berontak Min Ah sembari memukul dada bidang milik Jiyong sehingga mengotori kemeja putihnya karna bercak darah dari telapak tangan yeoja itu.

“ Michyeoseo?? Turunkan aku!!” teriak Min Ah karna tak ada respon dari Jiyong.

Siggeureo!!!” kata Jiyong sembari menempatkan Min Ah dikursi belakang mobilnya.

“ Diam dan turuti perintahku karna aku atasanmu, sekarang kita kerumah sakit!” perintah Jiyong, Min Ah terdiam, hanya memandang dengan tatapan penuh benci pada namja itu.

***##***

 

“ Lukanya tidak serius hanya luka luar saja, anda bisa langsung pulang” jelas seorang yeoja setelah memasangkan perban dikedua lutut Min Ah.

“ Gamsahamnida” balas Min Ah disertai senyum kecil dokter itu pun pamit setelahnya, kini ia seorang diri diruangan yang menakutkan baginya itu, ruangan yang di dominasi warna putih dan benda-benda tajam, seperti jarum suntik dan jarum infus apalagi masih banyak benda tajam lainnya di ruang operasi. Ia sangat bersyukur dokter tak memberinya suntikan. Sementara namja yang membawanya ketempat menyeramkan itu entah menghilang kemana.

 

Nappuen saram” bisik Min Ah lirih.

Ia berjalan perlahan menuju pintu keluar, rasanya nyeri dari kakinya itu memang masih terasa, tapi tak seperti pertama tadi. Disepanjang jalan ia melihat pemandangan yang tak mengenakan, ada darah, tangisan, luka menganga, pasien yang merengek kesakitan dan semacamnya, karna itu ia sangat tak suka pergi kerumah sakit, memang pemikiran yang salah tapi baginya hanya satu kesan dari tempat itu “ menyeramkan”.

“ Bagaimana mungkin seorang wanita  dingin dan kasar merengek minta tak disuntik” ejek Jiyong yang ternyata berada ditempat administrasi. Min Ah diam saja mendengar ucapan itu, ia menahan diri, tak mungkin ia memarahi namja itu didepan umum, ia berlalu saja.

“Haha… aku baru tahu rumah sakit adalah phobia mu” ejek Jiyong lagi yang mengikuti Min Ah.

“ Jangan mengikutiku!!” Min Ah kini bersuara setelah mereka berada diluar.

“ Aku takkan mengucapkan terima kasih atau mengganti uang pengobatan!!” sambungnya.

Geumanhae, aktingmu sungguh jelek. Bukankah kau yang mengikutiku, kalau tidak mengapa kamu masuk keperusahaanku dan juga kenapa kau berada dikantor sementara semua orang telah pulang, apa kau menungguku dikantor?? Aku tidak akan menabrakmu di depan kantor  jika kau sudah pulang” jelas Jiyong panjang lebar, kini emosi mulai mengusainya kembali, Min Ah terhenyak mendengarkan tuduhan Jiyong pada dirinya.

“ Apa aku begitu rendah dimatamu, apa kau pikir aku seperti itu. Baiklah, kita hentikan sekarang, aku akan keluar dari perusahaanmu!!” Min Ah tak dapat lagi mehanan amarahnya, butiran bening tertahan dimatanya.

Jebal, jangan menilaiku seperti itu, ini hanya ketidaksengajaan aku bekerja diperusahaanmu. Bahkan kau yang mengantungkan hubungan kita, kau yang meninggalkanku entah kemana, kenapa kau bertingkah seperti ini??” sambung yeoja itu dengan suara lirih, ia tak mampu berteriak lagi, ia pasti tak bisa menahan airmata jika berteriak.

“  Tak peduli siapa yang meninggalkan dan ditinggalkan, yang lebih menyakitkan adalah siapa yang melukai dan dilukai, kau yang menoreh luka itu terlebih dahulu” balas Jiyong dingin, Min Ah tak mampu berkata-kata lagi, ia hanya menahan bulir-bulir air bening dimatanya agar tak jatuh setitik pun. Ini lebih nyeri dari luka yang ia rasa tadi, sementara Jiyong pergi berlalu begitu saja tanpa memperdulikan Min Ah lagi.

 

TBC.

RCL Sangat di Butuhkan🙂

One thought on “Last Farewell (Chapter 2) / Series

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s