Deception A Masokis (Part 3)

 

DAM3

Title: Deception A Masokis 3

Author: Susan arisanti aka Emnna (Admin KPDK)

Main Cast:

~ Kyuhyun

~ Rail

Genre: School Live, Romance,

Rate: 15th

 

Disclaimer: This is Susan’s fanfiction. J Anyway, RCL is loved.❤ and, Happy reading!

 

 

 

________ Deception A Masokis_________

 

 

Di daun yang ikut mengalir lembut,

Terbawa sungai di ujung mata,

Dan aku mulai takut terbawa cinta,

Menghirup rindu yang sesakkan dada_Letto: Ruang Rindu.

 

 

___________

 

 

 

Berulangkali aku mematut-matutkan diri di depan cermin. Kala kaos turtle neck melekat di tubuhku, aku buru-buru melepasnya. Kuambil lagi kaos polo shirt. Kaos itu kini membalut tubuhku. Tak sesuai. Tak cocok.

Sial! Kenapa koleksi kaosku tak mencerminkan sisi feminimku? Oh, ini hanya sebuah kencan dengan Kyuhyun. sangat tidak masuk akal jika aku kelabakan karena pakaian yang harus kukenakan? Aneh. Aneh sekali. Agh, eottokheyo? Makhluk itu sudah menungguku di bawah. Aku tak bisa menyebutnya manusia, bukan? Dia tak pantas disebut seperti itu dengan segudang prestasinya yang sukses membuatku kesal. Dia lebih bagus dinamakan makhluk. Right?

 

Mataku jelalatan melihat isi lemari, mataku membelalak takjub pada sebuah gaun yang menggantung sempurna dalam lemari. Mungkin, gaun sutra pembelian “wanita itu” bagus kupakai saat ini. Well, bagaimana jika kucoba? Tanganku meraih gaun sutra berwarna hijau toska itu, mematutkan gaun itu di depan cermin. Oh, tidak! Membayangkan tubuhku mengenakan gaun itu saja membuatku mual. Kubuang gaun aneh itu ke lantai kemudian membanting tubuhku di ranjang. Frustasi.

 

“Aaagh, nan molla!”

 

Demi apa, beginikah sindrom yang dialami sepasang kekasih bila mau berkencan?

 

Heish, aku dan Kyuhyun bukan sepasang kekasih. Ini murni karena dia memanfaatkan kesempatan saja. Ugh, namja itu benar-benar mencari mati denganku. Kuraih kaos dari bahan katun yang dipadu dengan bahan polyester berwarna putih dengan gambar boneka. Bodoh! Hanya kaos itu yang sedikit memberikan persepsi bahwa aku wanita tulen.

 

Bagaimana kesan Kyuhyun berjalan denganku yang seperti ini? Apa ia tidak malu dicibir orang karenaku? Ish, biar saja! Itu urusan dia, bukan urusanku. Kuraih blazer coklat muda dan mengenakannya. Kuambil dompet yang semula kutaruh di tas, kupindahkan ke kantong blazer.

 

Aku siap.

 

Kuturuni tangga menuju ruang tamu. Terang saja, hatiku ketar ketir. Mataku menangkap sosok di jarak 10 meter dariku. Tubuhku mengejang kaku.

 

Itu—Kyuhyun dengan ayah? Mereka berbicara dan terlihat akrab. Kutegaskan, mereka terlihat hangat dan dekat. Namja itu— Ugh….

 

“Nah, itu dia Rail!”

 

Mampus! Aku sudah membalik tubuhku dan siap-siap mengurungkan niat menemui Kyuhyun tapi itu semua terhentikan oleh celetukan Ayah. Aku membalik tubuhku dengan gerakan janggal. Kembali, langkahku menuruni tangga dan berjalan terseok-seok mendekati mereka.

 

“Eh, Appa…”

 

“Kamu sudah siap?” lelaki paruh baya itu terlihat berwibawa dan ekspresinya seperti tak dibuat-buat. Aku menemukan sisi kebapakan yang lama tertutup oleh obsesinya sebagai politikus. Dalam satu waktu, aku yakin sekali bahwa dia adalah ayahku.

 

“Nikmati waktu kalian,” ia berdiri diikuti Kyuhyun. Mereka berjabat tangan, Ayah pun sempat menepuk-nepuk bahu Kyuhyun. mataku memincing melihat mereka. Ini sangat di luar kebiasaan Ayah yang biasanya dingin.

 

“Rail,” ayah mengedipkan matanya membuatku berjengit ngeri. Genit sekali perdana mentri Kang.

 

“Appa, jangan berniat menyuruh body guard lagi!”

 

“Tentu, Chagi. Sudah ada namja yang melindungimu, bukan?” lagi, ayah tersenyum seolah mengejekku dengan kencan pertamaku yang sangat konyol ini. Aku hanya berdecak kesal.

 

“Kajja!”

 

Kuanggukan kepalaku, “Ayah,”

 

“Ne?”

 

“Jangan rindukan aku!” kumehrongkan lidahku dan disambut gelak tawa dari Ayah. Kyuhyun menahan tawanya.

 

“Aku akan membuat Kyuhyun menyesal jika terjadi sesuatu denganmu,”

 

Aku abaikan kalimat ayahku dan berjalan mendahului Kyuhyun. langkahku berhenti saat di halaman. Tak ada mobil Kyuhyun. kutoleh namja itu.

 

“Kita naik itu,” tunjuk Kyuhyun pada sepeda citybike berwarna hitam. Ada keranjang di bagian depan dan sebuah tembat boncengan. Kuelus dadaku. Well, rencana pertamaku untuk pura-pura mual dan muntah gagal total. Cih, makhluk itu kenapa menggunakan sepeda? Aish, jjincha?

 

“Ayo, naik!” suruh Kyuhyun, ia sudah nangkring di sepeda dan mengenakan helm. Aku berjalan malas malasan lalu duduk di bagian boncengan. Kyuhyun memutar bagian gears dan mengatur gigi sepeda lebih rendah agar membuatnya ringan saat dikayuh.

 

“Kau siap?”

 

“Jalan saja, Masokis!”

 

Aku bisa mendengarnya menahan tawa. Dia sendiri kan yang menjuluki dirinya sebagai singa masokisme? Kurasa, bukan salahku jika memanggilnya masokis. Sepertinya, itu julukan yang tepat.

 

Kayuhan pertama Kyuhyun—kueratkan peganganku di sadelnya. Pun tak mungkin aku memegangi pinggang Kyuhyun. Astaga, aku lebih terhormat dari itu. Aku mendengus kesal saat melihat tatapan satpam atau beberapa polisi yang bertugas di rumah. Mereka tak berkedip. Menyedihkan sekali nasibku.

 

Kusembunyikan wajahku di bahu Kyuhyun, berharap mereka tak melihatku. Oh, bodoh! Bodoh! Ide Kyuhyun amat sangat gila sekali! Aku bisa mati duduk melihat ekspresi kaget dan takjub mereka.

 

“Omo~ manisnya… selama aku bekerja disini, baru sekali ini aku melihatnya kencan,”

 

“Nona terlihat malu-malu! Lihat dia menyembunyikan wajahnya di bahu namjachingunya,”

 

Demi apa, gunjingan mereka membuatku semakin diremas-remas dalam kawah panas.

 

“Kyu, kayuh lebih cepat!” perintahku karena tak tahan lagi mendengar perbincangan mereka.

 

“Kau harus membayar mahal karena menyuruhku.”

 

“Kita bicarakan itu nanti.”

 

Kurasakan angin berhembus lebih cepat di kakiku. Aku terkikik saat menyadari Kyuhyun mematuhi suruhanku.

 

“Ra-ya, pegangan!”

 

Tunggu! Bagaimana dia memanggilku? Ra-ya—Ra-ya? Ah, kenapa jantungku berdetak keras begini?

 

“Aghh….” Keluhku saat tubuhku mencelat dan membentur boncengan dengan kuat, “Ya! Kau tak bisa membonceng?”

 

“Hahaha. Aku sudah bilang agar kamu pegangan.”

 

“Alasan! Bilang saja kau ingin kupegang-pegang kan?”

 

“Kau terlalu percaya diri, Nona Kang.”

 

“Aish, untuk masokis sepertimu pasti begitu.”

 

“Eih, kau sudah tahu arti masokisme?”

 

“Dengar ya? Aku ini pembaca novel Leopold Ritter.”

 

“Oh, aku lupa.” Dia tertawa, “Omong-omong, apa kesanmu naik sepeda denganku di kencan pertamamu?”

 

“M-mwo? Kencan p-pertama? Aigo, kau sok tahu.”

 

“Itu yang dikatakan ayahmu,” ucapnya santai sambil terus mengayuh sepeda, “Apa—ayahmu membohongiku? Ah, tidak. Mungkin saja, kau malu mengatakan bahwa kau tidak laku.”

 

“Ya!”

 

“Kenapa gadis tak laku?” Kyuhyun terkikik. Kikikannya berubah jadi erangan saat aku mencubit pinggangnya, “Awhhh…”

 

“Kyuhyun-nim, jangan mengatakan aku tak laku. Buktinya kau mengajakku berkencan,”

 

“Ingat ya? Bukan aku yang mengajakmu kencan tapi kau yang menawariku. Apa itu tak cukup membuktikan kau tak laku, huh?” Kyuhyun bersiul.

 

Sebenarnya, otaknya terbuat dari apa? Kenapa dia selalu bisa membalik keadaan dan membuatku tersudut?

 

“Oke, oke, aku terima olokanmu. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal.”

 

“Mwo?”

 

Sebuah cahaya kilat menerpa penglihatanku. Aku celingukan. Nihil, tak ada yang mencurigakan dari bangunan-bangunan yang berjajar rapi di sisi kananku.

 

“Kenapa kau menerima tawaranku. Oh, maksudku begini, kau bisa kan menolak itu?”

 

“Kau lupa. Kau membatalkan janji untuk ke pesta dansa Valentine. Mana mungkin aku menyiakan tawaranmu.”

 

“Ya! Tepat! Itu artinya kau memang menginginkan berduaan denganku kan? Oh, Kyu…. Omo, jangan katakan kau menyukaiku!”

 

Tiba-tiba Kyuhyun mengerem mendadak membuat kepalaku membentur bahunya. Aku mengaduh pelan. Naasnya, namja itu malah tertawa terbahak-bahak. Kucubit lagi pinggangnya. Berharap dia menghentikan tawanya.

 

“Baiklah, kuakui, kau terlalu percaya diri. Apa kau tak mati bosan dengan seperti itu?”

 

“Apa kau tak mati bosan menutupi kata hatimu?”

 

“Ya!” kini kulihat ia jadi uring-uringan.

 

“Ayolah. Mengakulah. Aku tak marah kok,” kukedip-kedipkan mataku, menggodanya.

 

“Astaga, Rail! Bisakah kau tidak berekspresi menakutkan begitu, eoh?”  Kyuhyun membalik tubuhnya yang miring menghadapku. Ia kembali mengayuh sepeda.

 

“Mengakulah, Kyu. Kau tak ingat perkataanmu kemarin, begini ‘kau benar-benar membuat singa masokistik jatuh cinta’ eih, begitu kan kalimatmu?”

 

Ia mendengus. Ahahahaa. Tampaknya, ia tengah kesal. Rasakan itu, Kyuhyun. makanya, jangan sekali-kali cari perkara denganku.

 

Kembali, sebuah cahaya blitz memerangkap mataku. Membuatku mengerjap dan menoleh sekeliling. Mobil di jalur kiri yang berjalan pelan di belakang kami itu asal kilatan blitz. Astaga, itu papparazy? Aku bukan artis. Kenapa harus mencuri gambarku? Eih, tiga sosok berjas hitam di mobil itu—siapa? Aku seperti pernah melihat mereka.

 

“Kyu, sepertinya, kita dalam masalah,”

 

“Kenapa? Kau baru tahu bahwa ada yang mengikuti kita?”

 

“Kyu, kalau dia wartawan, kenapa ada banyak orang di belakangnya.” Analisisku, Kyuhyun mengendikkan bahunya.

 

“Maksudmu?”

 

“Mereka—Kyu, mereka mencurigakan,”

 

“Kau serius?”

 

“Rail, pegangan kali ini.”

 

Tanganku memegang pinggang Kyuhyun, hanya jaketnya saja yang kupegang. Kyuhyun menambah gigi sepeda lalu mengayuh lebih cepat. Membuatku ngeri dan mengeratkan peganganku, membuat tanganku melingkar sempurna di pinggangnya dan merebahkan kepalaku di punggungnya untuk menghindari terpaan angin yang begitu kuat.

 

Ia mempercepat laju sepedanya dan baru bisa bersantai saat sudah sampai di taman bermain. Di tempat ramai seperti ini. Aku buru-buru turun lalu menyerahkan sapu tangan padanya.

 

“Ini—pakailah!”

 

Ia tersenyum sebentar lalu mengambil sapu tanganku. Hish, cepat sekali senyumnya itu, aku masih ingin melihatnya. Kyuhyun menyapukan kain katun itu ke kulit wajahnya. Ia sedikit mendongak ke atas saat menyapu keringat di lehernya. Omo, leher itu jenjang sekali…. Oh, eh, astaga, kenapa pikiranku jadi jalang? Omona, omona.

 

“Ternyata, kau berat juga. Hehehee.” Ia menarik pergelangan tanganku dan menuju sebuah kursi taman. Bahunya rebah di kursi tersebut, menghela nafas kuat-kuat lalu menatapku dengan seringaian yang aneh. Sebuah seringaian kelicikkan yang menggoda.

 

Kami duduk tenang dan hanya memandang ke depan. Aku tak bisa memulai pembicaraan. Kyuhyun? Entahlah, namja itu masih rebah di kursi dan sedikit mendongakkan wajahnya ke atas, ia merentangkan kedua tangganya di pinggiran atas kursi.

 

“Rail,”

 

“Ne,”

 

“Apa yang harus dilakukan namja untuk kencan pertama mereka?”

 

“Iye?”

 

“Apa yang harus kulakukan untukmu?”

 

“Hash, kau tak usah sok manis!”

 

“Aku hanya ingin bersikap seperti pria sejati,” ia menghela nafas, tatapannya nanar padaku.

 

“Aku tak tahu. Mungkin—beli es krim.”

 

“Es krim?”

 

“Sudahlah, kita juga tidak berpacaran, kau terlihat aneh kalau begitu,”

 

Kyuhyun mendengus.

 

“Aigo, aigo…. Apa yang kita temukan disini?”

 

“Kyuhyun berkencan!”

 

“Ya! Kau menyukai ekor tupai yang sering kau ceritakan, huh?” kalimat Jonghyun membuatku melirik tajam pada Kyuhyun. Aku tahu, ekor tupai itu aku. Karena saat pertama kali bertemu Kyuhyun, ia sudah memanggilku dengan sebutan ekor tupai dengan suaranya yang berfrekuensi 200.000 hertz. Sebuah frekuensi yang berpotensi membuat telinga pekak atau tuli.

 

Kulihat mereka berhighfive ria dan tertawa-tawa bahagia, mengacukan aku. Dasar, namja-namja penebar pesona. Difikirnya mereka menarik untuk dilihat apa? Lihat saja, kelakuan mereka yang sok cool dan akrab itu! Benar-benar membuat perutku mulas.

 

“”Rail, hati-hati dengan Kyuhyun.” pesan Changmin dengan kerlingan senyum yang terlihat menjijikkan. Ia menepuk pundakku.

 

“Tunggu, jadi mobil di belakang kami tadi kalian?”

 

“Hahahahaa,” ketiga namja itu tertawa, “Mungkin nanti, Kyuhyun akan membayar mahal pada kami karena berhasil membuatmu memegang pinggangnya.”

 

“Oh, Rail, bagaimana foto mesra kalian kami pajang di mading sekolah?”

 

“MWO???”

 

“Kau setuju? Ah, terima kasih.”

 

“Ya! Jangan cari perkara kalian!” teriakku gusar, mereka terkikik sementara Kyuhyun hanya diam tak berekspresi.

 

“Begini saja, bagaimana kalau kalian berciuman di depan kami. Mungkin, itu bisa menggagalkan niatku,” tawar Minho dengan ide setannya. Kujitak kepalanya dengan emosi meledak.

 

“Ya! Kalau kalian masih ingin selamat, CEPAT PERGI!”

 

“Eih, maksudmu, kau ingin segera berduaan?” Changmin mengedip-ngedipkan matanya.

 

“Ya!”

 

“Pergilah.” Suruh Kyuhyun dengan suara lirih membuat mereka berhenti menjahiliku. Mereka berjalan menjauhi kami. Hingga di jarak 4 meter, mereka berhenti dengan kompak.

 

“Kyuhyun, Fighting!” teriak geng Kyu-line pada sahabatnya yang duduk di sampingku.

 

Kulirik Kyuhyun, ia tengah tersenyum tapi ketika aku menoleh, ia buru-buru memasang tampang dinginnya lagi. Eih, kenapa sih dia berubah-rubah begitu?

 

Aku pura-pura tak memandang Kyuhyun. Aku menatap kea rah jam tujuh. Ada yang aneh disana. Sosok berkaca mata itu berbicara via handphone. Mataku menangkap lagi sosok yang ada di jam sebelas. Ia melihat kea rah kami tapi buru-buru menutup wajahnya dengan Koran. Mencurigakan! Aku yakin, mereka bukan body guard suruhan ayah. Lalu, siapa mereka?

 

 

 

 

 

To  Be Continu

 

 

 

 

Regards, Emnna

 

10 thoughts on “Deception A Masokis (Part 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s