Hello, Good Bye! / Oneshoot

 

HelloGoodbye

Judul: Hello, Good Bye!

Genre: Romance

Author: Susan Arisanti aka Emnna (Admin KPDK)

Rate: G

Cast: Kim So Hyun, Park Hanna, Jung Ilwoo

Disclaimer: This is Susan’s FF, happy reading, guys!😀

_______________________________

 

“Kadang, kita terlalu percaya diri tentang cinta. Tentang perasaan. Kita lupa bahwa di sana—ada Tuhan yang menggenggam takdir manusia.”

 

***

 

14 Februari identik dengan merah muda dan coklat. 14 Februari sering diasumsikan dengan hari kasih sayang. Toh, nyatanya, 14 Februariku tak lebih dari sekedar atau tak lebih berkesan dari biasanya. Orang tuaku? Mereka hanya mementingkan pekerjaan. Saudara? Aku tak punya. Ah, betapa sepinya hidupku. 14 Februari menjeratku seperti mimpi buruk, seperti kubangan yang memerangkapku. Ini benar-benar menyedihkan. Dan aku benci dengan keadaanku ini. Aku ingin sekali mengatakan Hello pada hari Valentine, tapi keinginanku itu seperti ruang kosong yang tak berpenghuni. Tak berisi sedikitpun untuk bisa kubanggakan. Tidak juga kekasih. Hei, aku tak punya pacar! Cih, menjijikan sekali berbicara seperti ini. Seperti remaja belasan tahun yang dirudung cinta lalu patah hati dn menangis. Ah, tidak! Aku bukan remaja belasan tahun lagi. umurku sudah 21 tahun dan aku tak boleh berubah jadi moster daun waru demi asmara. Sungguh, dalam lubuk hatiku. Aku ingin membagi perasaan. Apa ini yang disebut sindrom jomblo? Entahlah.

 

Sebenarnya, bukannya aku menutup diri dalam pergaulan. Aku adalah salah satu aktivis kampus. Aku punya banyak kenalan, baik laki-laki maupun perempuan. Dari mereka tak ada yang menarik minatku untuk berkencan, kecuali satu pemuda. Dia adalah pemuda berfisik mutiara dan berhati malaikat. Terserah kalian menganggapku gila atau berlebihan. Setidaknya, ini menurutku.

 

Hal yang kusadari selanjutnya adalah aku hanya gadis biasa laksana pasir yang wujud dimana-mana. Mana mungkin mutiara disamakan dengan pasir? Siapapun orangnya, pasti bodoh jika menyamakannya.

“Hey, melamun lagi?” suara hangat itu mengembalikan alam sadarku.ya, pemuda yang tersenyum di depanku kali ini adalah pemuda mutiara malaikat yang kuceritakan.

“So Hyun Oppa, sudah lama datang?” aku tersipu. Ah, bodoh aku! Kenapa dengan jantungku? Setiap kami berbicara, ada yang berbeda dalam hatiku. Apa otakku salah setting? Atau jangan-jangan…. Aku gila?

Ia hanya mengangguk sekilas, “Tidak kencan?”

Pertanyaannya berhasil menohok hatiku. Harus kujawab apa? Aih, kurasa kepercaan diriku sudah menguar dan diganti dengan rasa canggung, serba salah dan… oh, otakku benar-benar gila!

“Aku harus menyelesaikan proposal kegiatan BEMEXPO, Oppa.” Balasku. Great, Hanna! Tak percuma kau jadi menteri pemberdayaan perempuan dalam kabinet Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang dipimpin So Hyun. Aku tidak terlihat seperti gadis yang tak punya pasangan di usia yang ke-21, kan?

“Oppa sendiri?”

“Ya?”Ia menoleh setelah berhasil duduk dengan nyaman di kursinya.

“Tidak kencan?”

“O, tidak.” Ia berhenti, memandangku lalu, “aku harus menyiapkan keperluan sebelum berangkat ke Jepang untuk ikut pertukaran mahasiswa.”

Aku tersenyum bahagia, ia ikut pertukaran mahasiswa karena otaknya yang cerdas, kuhampiri meja kerjanya, “selamat!”Kuulurkan tanganku dan ia tersenyum, gigi tikusnya berjejer rapi dan senyumannya terlihat tulus.

“Gumawo, Hanna-a.”

Kuanggukan kepalaku lalu kembali ke meja kerjaku, “Eh, tapi gimana dengan BEM, Oppa?”

“Aku hanya 3 bulan disana jadi BEM akan ditangani Ilwoo.”

Dan 3 bulan itu, ia tak terlihat dimataku. Apa sebaiknya kukatakan perasaanku padanya? Mumpung momennya pas? Valentine. Ah, tidak! Apa kesannya jika aku mengatakannya terlebih dulu? Tapi apa salah jika aku yang lebih dulu mengatakannya? Setidaknya, perasaanku lebih jelas agar aku tak selalu berharap dan diam-diam meliriknya seperti ini.

Kuketuk-ketukkan tanganku di meja hingga kudengar derit kursi di depanku. Ruangan BEM ini, hanya ada kami berdua. Aku menatap orang yang duduk di depanku. So Hyun menatapku intens membuat jantungku serasa melompat dari tempatnya. Aku gila!

“Aku tak bisa berbasa-basi. Aku tak tahu, apakah yang kukatakan ini benar atau salah. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa selama ini,” So Hyun berhenti, “Aku memendam cintaku untukmu. Aku  tak  tahu harus mengungkapkannya darimana. Kisah kita ini tak perlu dimulai. Tak ada kejelasan  kalaupun dimulai. Aku tak berharap kau mengatakan iya pada perasaanku, karena kalau jawabannya iya, maka aku akan segera melamarmu saja” So Hyun tersenyum skeptis, “Aku mengerti tentang dirimu. Aku sadar diri, siapa aku dan siapa kamu. Mohon maafkanlah aku yang lancang padamu.” Ia meletakkan sepucuk kartu berwarna putih dengan motif merah muda di mejaku. Gerakan tangannya sangat ragu.

 

Sementara aku? Aku hanya mematung, kaget dengan yang dia ucapkan barusan. Rasanya, seperti terkena jutaan mercon yang meledak secara bersamaan di tempat yang sama. So Hyun menghela nafas, merasa tak ada respon dariku, ia segera berdiri, tersenyum sepintas lalu suara lirihnya menggumamkan maaf. Dan saat aku sadar bahwa aku harus meresponnya, ia sudah cukup jauh dariku.

 

Akupun berlari mengejarnya, “So Hyun Oppa!”

 

Ia menoleh.

 

“Apakah kau ingin tahu perasaanku padamu. Bukankah kamu ingin aku menjawab perasaanmu itu?” aku berjalan mendekatinya. Ia menatapku, wajahnya tegang dan heran.

“Aku mau kau–” aku berhenti. Nada suaraku menghilang ketika aku menyadari apa yang akan kukatakan.aku menatap So Hyun dengan tulus, “Apakah engkau  mau aku menjadi tulang rusukmu yang hilang?”

So Hyun membuka mulutnya tapi urung bersuara. Ia hanya tersenyum dengan mantap. Aku menangkap gelombang kebahagian dari sorot matanya dan ini semakin membuat jantungku bergetar dan berdetak lebih cepat dari seharusnya. Aku membalas senyum So Hyun, ingin sekali aku berlari kearahnya lalu mendekapnya erat-erat. Tapi aku sadar belum saatnya bertingkah seperti ini. Meski bisa dikatakan dia pacarku, tapi lelaki manapun akan lebih menghargai wanita yang menjaga kehormatannya hingga ada kata pernikahan. Dan ternyata, Valentineku tahun ini sangat menyenangkan. Hello, my beautiful valentine.

 

*

 

Aku memandang kartu yang diberikan So Hyun dua hari lalu, sebelum dia berangkat ke Jepang. Kartu yang ia berikan tepat saat Valentine. Kartu pertama yang kudapatkan dan dia adalah cinta pertamaku. Kubaca puisi yang ia tulis dalam kartu itu.

 

“Senyummu adalah polesan kesahajaan dari jiwa yang jingganya menyentuh duniaku”

Welcome in Valentine, my love.

 

Aku selalu tersenyum begitu selesai membacanya. Alangkah memabukkan cinta itu. Berulangkali kulihat ekspresi orang yang jatuh cinta di teater, film atau ekspresi temanku ketika jatuh cinta namun rasanya sangat  berbeda saat aku merasakannya sendiri.

 

Aku semakin melayang memutar scene-scene kejadin kemarin yang membuat hatiku bahagia. Inikah rindu? Inikah cinta?

 

HPku berdering. Nomer ponsel Ilwoo muncul dan ini terlihat penting, “Hanna! Kau dimana?” Suara Ilwoo di telpon tiba-tiba membuatku disergap rasa aneh.

“Di rumah kenapa?”

“Kau lihat berita di TV?”

“Apa?”

“Pesawat yang ditumpangi So Hyun…” suara Ilwoo berhenti, “pesawatnya kecelakaan!”

 

Tubuhku melemas di kursi. Mataku ikut memanas dan kemungkinan buruk sudah menari di otakku dengan ribuan ketakutan akan kehilangan. Kartu putih itu terlepas begitu saja dari tanganku. So Hyun Oppa… Kau baik-baik saja, kan?

 

 

*

 

Jarum jam menunjukan pukul 16.00, suasana masih sore, begitu juga senja yang ada dihatiku. Rasanya baru kemarin aku mengenalnya dan bekerja sama dalam sebuah organisasi, berbagi ide dan gagasan demi kemajuan organisasi dan bahkan baru kemarin aku menghabiskan waktu bersamanya di ruang BEM, baru kemarin kan dia mengatakan perasaannya yang ia pendam? Aku masih dapat mengingat ekspresinya dengan gamblang ketika bertemu denganku. Ekspresi bahagia. Ekspresi heran karena tingkahku, dan masih bisa kudefinisikan dengan jelas makna dari bentuk bibirnya ketika tersenyum. Tapi kenapa sekarang? Ah….

 

Angin menghembuskan bunga kamboja yang baunya menusuk hingga saraf-saraf penciumanku seperti terkunci pada satu aroma, aroma kematian. Aku menatap lagi makam yang tanahnya masih berwarna merah. Bunga-bunga diatasnya masih segar. Untuk kesekian kalinya, aku membaca nama yang tertulis di batu nisan itu, Kim So Hyun. Tak berubah. Kenapa nama batu nisan itu tak mau berubah?! Rasanya ada yang menusuk ulu hatiku saat aku sukses membaca nama pemilik makam ini. Ada yang perih di hatiku. Sakit dengan sebab yang kuketahui.

 

Terasa semakin menyedihkan lagi bahwa tak ada yang bisa mengobati luka di hatiku. Ingin sekali aku menumpahkan airmataku lagi, ingin sekali aku memanggilnya kembali agar dia bisa menemaniku lagi. Bahkan jika aku memiliki simpanan airmata, sakitnya tak akan menyamai airmata dihatiku. Aku mencintainya karena hatinya, hingga hatiku terasa sakit karena kehilangannya. Aku tak begitu pandai menyembunyikan cintaku ini, menyembunyikan sakitku ini. Wajahnya bisa lenyap dari pandanganku, tapi cintanya akan selalu membekas dihatiku.

 

“Aku tak mengerti lagi dengan duniamu, tapi aku harap, kelak kita akan bercinta di surgaNya. Bye, my Valentine.”

 

Setetes airmataku jatuh. Lihatlah aku! Betapa aku rapuh karena kepergianmu. Tolong, menolehlah padaku, kuatkan aku lagi dengan hembusan cinta dari tatapan matamu yang tak kan kujumpai itu. Angin menderu kencang dan satu hal yang membuatku sadar. Cintaku telah menemui pemiliknya yang sejati. Meninggalkan aku yang semakin tenggelam dalam bayangan masa lalu yang gelap dan kejam. Dan disudut kota kecil ini, aku hanya bisa menangis.

 

 

END

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s