Fallin’ Love With ELF / Oneshoot

 

FallinLoveELF

“FALLIN’ LOVE WITH ELF” 

 

length : Oneshoot  cast: Lee Donghae ( Super Junior ) – Addler ( oc ) 

Author : Ade Pratiwi (FB)

genre : fantasy 

ratting : G 

 

disclaimer

 

woohoo~~~ entah kenapa imajinasi ku akhir-akhir ini makin menggila dan bahasa ku di cerita ini kayanya beda sama ff sebelumnya,dan aku juga ga masukin kosakata bahasa Korea sama sekali . wakakakakk .  Lee Donghae sepenuhnya milik Tuhan Yang Maha Kuasa, Addler dan keseluruhan cerita milik saya . 

 

Happy reading~ and be a good reader ~ ^^

 

 

Salju yang seputih kapas terus melayang turun dengan ringannya dari langit malam yang begitu kelam.  Dalam dekapanku kini telah ada seorang gadis dengan tubuh mungilnya yang nyaris membeku. Lelehan airmatanya pun tak lagi terlihat, mungkin karena telah mengering atau justru membeku termakan hawa dingin yang menggigit ini.

“Donghae, maafkan- aku.” Ratapnya lirih

 

Jemarinya berusaha meraih wajahku meski terlihat begitu lemah dan bergetar.  Bibirnya yang biasanya merekah merah semerah delima kini berubah menjadi pucat, paras cantiknya yang selalu memamerkan semburat keindahan kini menghilang seiring dengan sinar matanya yang semakin meredup. Tidak- apa ini akan berakhir sampai disini?

 

“Addler, bangunlah. Kumohon.”

 

Kupererat dekapanku pada tubuh gadis yang semakin melemah dengan suhu tubuhnya yang semakin mendingin ini. Tuhan, seandainya aku tak pernah bertemu dengannya mungkin dia tidak akan seperti ini sekarang …

 

—- flashback begin —–

 

Mentari pagi masih terasa begitu menghangatkan tengkukku saat aku berlari kecil menyusuri jalan setapak ditaman kecil nan indah ini.

 

Kuhirup oksigen yang terasa begitu menyegarkan sembari kupejamkan mata dan kurentangkan kedua tanganku yang bebas seolah siap memeluk dunia tempat ku berlindung ini.

 

“Aah segarnya…” Gumamku pada diriku sendiri

 

Ku kencangkan ikatan pada tali sepatuku kemudian melanjutkan aktifitas lari pagiku ditaman ini. Setiap minggu pagi bila cuaca hangat dan cerah seperti ini aku memang selalu berlari disini, menyegarkan tubuh dan pikiran dari segala rutinitas yang melelahkan sepanjang minggu.

 

-plung-

 

Langkahku terhenti begitu mendengar suara seperti benda kecil yang jatuh kedalam air. Refleks kulayangkan pandanganku kearah kolam di tengah taman ini, satu-satu nya lokasi yang masuk akal menjadi arah suara itu.

 

Dan sontak iris mataku melebar saat menangkap sosok tubuh ramping dengan rambut panjang yang menjuntai lembut, berkilau ditempa cahaya mentari.

 

“Em? Seorang gadis- siapa? Sepertinya aku belum pernah melihatnya.” Gumamku lagi-lagi pada diriku sendiri

 

Dengan langkah perlahan kuberanikan diri mendekati gadis yang berdiri memunggungiku itu. Seolah sadar akan kehadiranku gadis itu menoleh dan – astaga Tuhan ! Baru pertama kali dalam hidupku aku melihat gadis berparas hampir sesempurna ini. Kulit wajahnya putih dengan semburat pink pada pipi tirusnya dan matanya..apa aku salah melihat? Tapi aku yakin, warna bola gadis itu biru. Bukan biru biasa, tapi biru sapphire. Sangat indah.

 

“Nona, apa yang kau lakukan disini dan siapa dirimu? Aku tak pernah meli-”

 

Belum tuntas kalimat yang keluar dari mulutku, gadis itu diluar dugaanku berbalik dan berlari meninggalkanku yang hanya dapat terpaku menatap sosok rampingnya yang menghilang dibalik pohon Cherry Blossom yang mulai memamerkan bunganya.

 

“Ck- kenapa dia?” Dan aku hanya bisa menggerutu menyesali diriku yang tak berusaha mencegahnya

 

—————–

 

Satu hari, satu minggu, satu bulan..  Satu bulan waktu berlalu sejak pertemuanku dengan gadis misterius ditaman pagi itu, namun rasa penasaranku justru semakin membesar dan meluap – luap. Siapa gadis itu sebenarnya?

 

Selama satu bulan itu pula setiap hari aku berjalan ditaman ini dengan harapan akan bertemu dengannya, namun hasilnya nol besar. Gadis itu tak pernah menunjukan tanda kehadirannya.

 

Tapi rupanya pagi ini dewi fortuna berpihak padaku.  Gadis itu, masih ditempat yang sama dan balutan busana yang sama persis saat aku melihatnya sebulan yang lalu, berdiri dengan rambutnya yang terjuntai lembut terbawa angin nakal yang meniup helaiannya.

 

“Aku tak boleh kehilangan dia kali ini.” Fikirku.

 

Aku pun mendekatinya perlahan, dan lagi-lagi dia menyadari kedatanganku tapi kali ini aku bergerak lebih cepat. Kuraih tangan kanannya dan ku genggam dengan erat. Aku hanya ingin tahu siapa gadis ini, yah mungkin sekedar tahu namanya.

 

“Lepaskan aku.”

 

Dia bicara. Suaranya begitu merdu dan lembut, meski terdengar sedikit sinis.

 

“Maafkan aku. Aku tak berniat jahat, hanya sekedar ingin tahu siapa dirimu.” Ujarku tanpa melonggarkan peganganku pada tangan mungilnya yang terus meronta. Dari ekspresi wajahnya terlihat jelas rasa ketakutan dalam dirinya.

 

“Aku Donghae. Lee Donghae. Aku pria baik-baik, percayalah.” Ujarku berusaha meyakinkan

 

Gadis itu pun berhenti meronta namun matanya masih menatap waspada padaku. Bola matanya- ternyata penglihatanku dulu tidak salah, bola matanya berwarna biru sapphire. Apa dia keturunan asing? Tapi wajahnya terlihat cantik layaknya gadis Korea pada umumnya, tidak ada aksen barat sedikitpun.

 

“Nonna, siapa namamu?”

 

“Lepaskan tanganku.” Ucapnya sinis namun sedikit bergetar, tanda dia menyembunyikan ketakutannya.

 

“Bila aku lepaskan, maka kau akan lari seperti dulu.”

 

“Bila aku berjanji tidak berlari apa kau akan melepaskan?”

 

Astaga- gadis itu memutar balik kata-kataku. Tapi dia benar, sebenarnya aku memang tidak akan melepas tangannya.

 

“Lee Donghae, lepaskan aku. Sekarang.”

 

“Tidak adil.”

 

“Apa maksudmu?”

 

“Ini tidak adil, kau sudah tahu namaku sedangkan aku?” Aku mencoba menyerangnya, sedikit memaksa agar dia mau memberi tahu namanya.

 

“Addler.”

 

“Apa?” Aku tak yakin aku mendengar suaranya, suaranya begitu kecil saat menyebut namanya, berbeda dengan saat dia membentakku tadi.

 

“Addler!! Namaku Addler. Sekarang lepaskan aku.”

 

“Sepertinya benar, kau warga asing?” Perlahan aku melepaskan peganganku pada pergelangan tangannya.

 

Gadis itu mengusap-usap pergelangan tangannya yang terlihat memerah, rupanya aku terlalu keras menggenggamnya.

 

“Akh maaf, aku terlalu keras rupanya.”

 

“Em, tak apa-apa. Sekarang aku boleh pergi kan?” Gadis bernama Addler itu menatapku dengan bola mata birunya tapi kali ini tidak sinis seperti tadi, justru berbalik menjadi tatapan yang begitu lembut meski bibirnya tidak melengkungkan senyum sedikitpun. Dan aku seperti terhipnotis hanya bisa mengangguk perlahan, yang dibalas dengan langkahnya menjauhi diriku yang bahkan tak mampu bergerak. Sial- Lee Donghae, sepertinya gadis itu berhasil membuatmu mabuk.

 

“Nona, besok aku menunggumu disini.”

 

—o0o—

 

Aku benar – benar tak percaya dengan apa yang kulihat. Gadis itu, Addler kini ada dihadapanku. Gaun putihnya yang selutut berkibar dengan anggun dibuai semilir angin pagi.

 

“Addler…” Tanpa kusadari bibirku menceracau menyebut namanya

 

Gadis itu tersenyum, senyuman terindah yang pernah kulihat. Lengkungan pada bibir delimanya terlihat begitu sempurna berpadu dengan hidung dan matanya yang terukir dengan indah diwajahnya.

 

“Addler, apa aku tidak bermimpi?”

 

“Ya?”

 

“Tidak, hanya saja-”

 

“Tuan Donghae, apa kau sering kesini akhir-akhir ini?”

 

“Ya? Ah tidak. Hanya beberapa hari ini saja aku menyempatkan diri kesini.”

 

“Apa kau menungguku?”

 

“Ya? Ah tidak, hanya…”

 

“Ternyata benar.”

 

“Ya? Addler, kurasa kau telah salah paham. Aku hanya kebetulan melihatmu saat itu.”

 

“Lee Donghae, aku selalu memperhatikanmu. Satu bulan ini aku selalu melihatmu datang kesini, kau mencariku.”

 

“Akh rupanya aku ketahuan. Baiklah aku mengaku. Aku memang menunggumu.”

 

“Kenapa?”

 

“Entahlah.. Tapi bola mata birumu, senyummu, semua hal tentang dirimu membuatku penasaran.”

 

“Benarkah? Kenapa penasaran denganku? Aku hanya seorang gadis.”

 

Addler melangkah anggun menuju kolam ikan kecil ditengah taman yang airnya mengeluarkan riak-riak kecil akibat gerakan ikan-ikan didalamnya.

 

“Addler, apa kau bukan warga Korea?”

 

“Hem. Menurutmu?”

 

“Mata birumu itu…kau menggunakan lensa mata?”

 

“Lensa mata? Apa itu?”

 

Aku sedikit terhenyak dengan jawaban gadis itu. Apa benar dia tidak mengetahui benda yang sangat digandrungi gadis- gadis Korea saat ini? Ekspresi wajahnya menunjukan dia sedang tidak berpura – pura.

 

“Ah lupakan.” Dan aku memutuskan untuk tidak membahas hal canggung itu. Bagiku menatap mata indahnya saja cukup.

 

“Lee Donghae, apa semua manusia sepertimu?”

 

“Maksudmu?”

 

“Manusia… Apa semua memiliki mata yang lembut dan senyuman yang hangat sepertimu?”

 

Astaga- apa yang sedang dibicarakan gadis ini? Dapat kurasakan darahku berdesir dan jantungku berdebam cepat mendengar penuturannya yang terdengar jujur dan polos. Ya, gadis ini polos sekali. Dan itu membuatku semakin penasaran tentang gadis misterius ini.

 

“Addler, bolehkah setiap hari aku bertemu dengamu disini?”

 

Gadis itu tersenyum, lembut dan sangat cantik. Perlahan dia menganggukan kepalanya lalu tanpa sepatah katapun dia berbalik dan lagi – lagi pergi, kemudian menghilang dibalik batang Cherry blossom.

 

Astaga Lee Donghae, kau sudah benar – benar terhipnotis rupanya.

 

—o0o—-

 

Waktu demi waktu berlalu, dia benar – benar menepati janjinya untuk bertemu denganku. Setiap pagi aku selalu menyempatkan diri mendatanginya yang sudah berdiri anggun menungguku dengan senyum menawannya. Tidak banyak hal yang kami bicarakan karena Addler lebih banyak diam dan menunduk sambil sesekali matanya menerawang jauh dan aku pun entah kenapa lebih memilih menatapnya dalam diam pula. Menatap wajahnya saja sudah membawa angin sejuk dalam diriku. Hal ini terus aku lakukan hingga akhirnya aku menyadari hal itu. Aku – mencintai gadis berparas purnama ini. Aku mencintai Addler.

 

Hari ini tidak seperti biasanya aku meminta Addler menungguku dibawah sinar bulan purnama, bukan dibawah mentari pagi seperti yang selalu kami lakukan hari – hari sebelumnya.

 

“Addler…” Ku tatap iris mata gadis yang kini mengarah tepat ke mataku menyiratkan pertanyaan atas tatapanku.

 

“Addler…aku- aku mencintaimu.”

 

“Lee Donghae, nampaknya kau tidak sadar dengan yang katakan.”

 

“Tidak. Aku sepenuhnya sadar.”

 

“Lee Donghae, tapi aku-”

 

“Berhentilah menyiksaku dengan perasaan ini. Addler, kumohon berada disisiku selamanya.”

 

Dengan sekali gerakan kini aku telah berlutut dihadapannya. Dalam genggamanku kini telah terbuka sebuah kotak kecil dengan ring kecil bermahkotakan berlian didalamnya. Aku tak main – main untuk melamar gadis ini.

 

“Hentikan.”

 

Gadis itu dengan ucapan lembut namun tegas memotong kata-kataku. Dia menatapku dengan mata birunya yang mulai berair.

 

“Lee Donghae, berhenti mencariku disini. Aku pun tak akan datang kesini lagi.”

 

“Apa? Addler, aku tahu ini terlalu cepat. Tapi aku benar – benar tak mampu membohongi hatiku. Aku mencintaimu Addler.”

 

“Hentikan Lee Donghae. Aku tidak seperti yang kau pikirkan.”

 

“Apa maksudmu?”

 

“Lee Donghae, aku selamanya tak akan pernah bisa berada disisimu. Aku milik alam.”

 

Pandangannya sayu, menerawang jauh. Ditatapnya purnama malam yang begitu indah.

 

“Donghae, apa kau percaya bahwa selain manusia ada makluk lain yang turut menjaga alam?”

 

“Ya?

 

” Aku- tak mengerti kata-katamu. Berhenti bicara hal aneh. Cukup terima cintaku.”

 

“Donghae, aku- beda denganmu.”

 

“Ya kita memang berbeda, kau seorang gadis dan aku laki-laki.” Gurauku ditengah situasi canggung ini. Addler hanya mengernyitkan kening lalu menatapku tajam.

 

“Lee Donghae, kau pikir kenapa warna mataku biru, kenapa aku hanya muncul ditaman ini, dan kau pikir kenapa aku melarikan diri saat pertama bertemu denganmu.”

 

“Addler, berhenti berputar-putar. Kumohon.”

 

“Lee Donghae, lupakan aku. Aku tidak seperti yang kau fikirkan.”

 

Addler menatapku sejenak kemudian kembali memalingkan wajahnya ke arah bulan yang seperti menjadi saksi pembicaraan kami malam ini dan aku benar – benar tak mengerti kata- katanya.

 

“Apa kau tak menyukaiku ?” Kutatap matanya dalam -dalam agar dia dapat mengerti isi hatiku.

 

“Bukan.. Bukan begitu.”

 

Addler menyentuh pipiku dengan jemari lentiknya, perlahan tapi pasti kulihat buliran bening itu meleleh dari matanya.

 

“Lee Donghae… Kau manusia pertama yang bicara padaku. Kau manusia pertama yang begitu peduli padaku.”

 

Kini buliran bening itu semakin deras, menyusuri lekuk demi lekuk parasnya yang terukir dengan begiti sempurna.

 

“Donghae, aku tak bisa bersamamu. Karena aku-”

 

– taaaarr —

 

Kata – katanya terputus saat kilatan petir tiba – tiba menyambar dilangit. Gadis itu kini menunjukan raut penuh kecemasan. Apa yang terjadi? Sebelum nya langit begitu cerah bahkan bulan purnama nampak begitu anggun menghiasi langit malam, kenapa tiba – tiba…

 

“Donghae…Lee Donghae…”

 

Astaga- baru sejenak aku memalingkan pandangan dari Addler, kini gadis itu-

 

“Addler, apa yang-”

 

Aku benar – benar tak mampu meneruskan kalimatku. Gadis ini, apa aku bermimpi? Sepasang benda transparan berbentuk sayap yang begitu dan indah bertengger dengan anggun di punggungnya. Ku pejamkan mataku sesaat, berharap saat ku buka mataku semuanya akan menjadi normal kembali, namun nihil. Gadis itu kini malah tidak menginjak bumi.

 

“Addler, kau…”

 

“Lee Donghae, sudah kukatakan aku berbeda. Aku – aku seorang Elf.”

 

Elf? Aku pernah membaca tentang itu, Elf – entah itu peri atau sejenisnya tapi kufikir itu hanya mahkluk khayalan.

 

“Maafkan aku. Tapi aku-”

 

“Aku tak peduli. Addler, bisakah kita hidup bersama? Entah mahluk apa kau sebenarnya, aku tak mengerti. Yang aku mengerti hanya… Aku mencintaimu.”

 

“Donghae… Lee Donghae…”

 

Kini Addler melayang perlahan ke arahku, ku ulurkan tanganku bersiap meyambutnya. Mata biru gadis itu kini tak lagi secerah pertama aku melihatnya.

 

“Lee Donghae, aku pun mencintaimu…”

 

“Addler…aakh terimakasih.”

 

Ku rengkuh tubuh gadis ini, kutarik kedalam dekapanku yang paling hangat, mencoba membuat dia merasakan degup jantungku yang kini berdebar cepat, ku kecup keningnya dengan penuh kasih sayang, tubuhnya begitu hangat.

 

Namun rupanya kebahagiaan yang melesakan hatiku ini tak berlangsung lama. Aku mulai menyadarinya saat butiran putih seperti kapas melayang perlahan dari langit yang semakin kelam. Astaga- salju. Bukankah ini belum waktunya? Belum habis rasa bingungku, mendadak tubuh Addler ambruk.

 

“Astaga- Addler…Addler?!!”

 

—- flashback end ———–

 

“Addler… Kumohon. Bangunlah..”

 

Tubuhnya kini semakin dingin dan ringan. Gadis itu membuka matanya, akh bola matanya – bola mata yang dulu berwarna biru saphire yang begitu berkilau seperti mutiara kini berubah. Hitam. Bola matanya kini berwarna hitam. Pandangannya begitu sayu, namun dia masih berusaha tersenyum.

 

“Donghae- maafkan aku. Kami para Elf tidak boleh merasakan jatuh cinta dengan manusia, tapi aku telah melanggar hukum paling utama itu.”

 

“Apa? Lalu- apa yang akan… Aakh tidak. Addler, kumohon bertahanlah.”

 

Gadis itu memejamkan matanya, lalu kurasakan tubuhnya semakin ringan dan terus menjadi lebih ringan. Tidak- aku tak mengerti apa yang akan terjadi tapi entah kekuatan darimana yang mendorongku, ku raih wajah gadis itu lebih dekat. Ku dekatkan bibirku ke bibir ranumnya. Dan perlahan ku kecup bibirnya. Airmataku tak mampu lagi bertahan di tempatnya. Dibawah butiran salju airmataku menetes, mengalir di wajah Addler yang kini terpejam dengan begitu damai.

 

“Apa kau akan mati hahh?? Apa bila kau mencintai manusia maka kau akan mati??? Kumohon… Buka matamu Addler. Bangunlah..maafkan aku. Aku berjanji akan menjauh darimu bila itu bisa membuatmu terus hidup. Addler… Aakhh kumohon, bangunlah!!.”

 

Seperti orang yang kehilangan akal aku hanya bisa berteriak sambil terus memaki diriku sendiri. Aku yang tak pernah memberinya kesempatan bicara, aku yang hanya mementingkan perasaanku, dan kini perlahan sosok gadis di pelukanku benar – benar menghilang. Addler telah menghilang bersama angin.  Menghilang, selamanya. Meninggalkanku yang terpuruk dalam penyesalan yang begitu dalam.

 

—— beberapa hari setelah itu —-

 

Ku bolak balik buku tebal yang kutemui setelah bersusah payah bergumul di antara ribuan buku penuh debu lainnya di perpustakan pusat kota ini.

 

“The Legend of ELF”

 

Judul yang tertera di buku itu.

 

“ELF atau peri adalah mahkluk yang menjaga kelestarian alam. Menurut legenda, ELF yang biasanya berwujud seorang gadis cantik bermata biru dengan sayap transparan yang berkilau dilarang jatuh cinta dan dicintai. Bila mereka melanggar hukum itu, alam akan marah dan menghukum…

 

Sial- halaman buku ini robek tepat dibagian yang paling membuatku penasaran. Hukuman apa yang dimaksud? Addlerku kini telah menghilang.. Hilang ditelan angin. Yaa benar – benar dibawa oleh angin.

 

— brugh-

 

Lamunanku buyar saat mendengar suara tumpukan benda jatuh. Kulirik sejenak, kulihat seorang gadis berambut panjang dengan kacamata tebal sedang memunguti buku – buku yang berserakan. Sepertinya dia menjatuhi bukunya.

 

“Nona, kau tak apa- apa?”

 

Ujarku sembari mendatanginya. Gadis itu tak menjawab. Dia hanya terus bergerak memunguti bukunya tanpa mengalihkan wajahnya.

 

“Hey nona. Aku bicara padamu.” Ujarku sedikit kesal karena merasa diabaikan.

 

“Ya? Aakh maaf aku tak mendengar.”

 

Astaga- gadis itu melepaskan earphone yang dipakainya. Rupanya itu yang membuat dia seolah mengabaikanku. Gadis itu kini telah selesai merapihkan bukunya, dia pun bangkit kemudian membenarkan letak kacamatanya.

 

Dan kini aku benar – benar tertegun dibuatnya. Gadis itu- kenapa dia begitu mirip dengan…

 

“Addler…” Bisikku pelan.

 

Gadis itu hanya tersenyum, senyum yang begitu mirip dengan gadis yang pernah kukenal dulu. Tak salah lagi.  Gadis itu membungkukan badan lalu melangkah pergi tanpa menghiraukan aku yang hanya bisa menatapnya dalam diam penuh takjub, seperti saat pertama aku melihat Addler.

 

——– END ——–

 

Wakakaakakak apaan ini cerita ?? Maaf ya, endingnya emang sengaja begitu. Kaya pelem” barat begonoh. XD  Wakakakakkk.  Maaf kalo gaje .____.v

 

#author kabur ke markas militer Yesung#

3 thoughts on “Fallin’ Love With ELF / Oneshoot

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s