“Miss Boy and Mr Girls” (Part 2)

MBMG2

“Miss Boy and Mr Girls”

part 2

Author: Nellykyu

Fb: nelly oniel Sshisparkyuhyunbin

Editor: *tya (numpang tenar^^) Editor @Page_KPDK

Genre: Romance, Sad, Gaje

Rating: PG 15+

 

Cast ;

– Amber Liu of F(x)

– Lee sungmin of SUJU

– Kim Ryeo Wook of SUJU

– Shin Dong Hae of SUJU

– Krystal Jung of F(x)

– Choi Si Won of SUJU

dll

 

Ost :

» Ryeowook – One Fine Spring Day

» Kim Hyun Joong – Kiss Kiss

» Super Junior – Haru

»Super Junior – My Love, My Kiss, My Heart

» Super Junior – S.E.O.U.L

» Secret – Starlight Moonlight

» Seouhyun SNSD – I’ll Be Waiting

(Ost.-nya bisa berubah kapanpun^^)

 

 

“Kenapa tempat tidurku berubah jadi empuk seperti ini?” Ucapku sambil menggeliat pelan masih tetap dengan mata terpejam, tapi ada yang aneh. Bukankah, tadi aku sedang menangis dihalaman belakang rumah? Tapi kenapa? Aku segera membuka mataku lebar.

“Woah, indah sekali ruangan ini. Dimana aku? Apa aku sudah disurga?” Aku bertanya-tanya. Setiap sudut yang kulihat benar-benar sangat terasa aneh dimataku.

Kreeek

Tiba-tiba pintu ruangan ini terbuka. Aku memandang kearah pintu tersebut. Seorang Kakek masuk kedalam ruangan ini dan menghampiriku, dia tersenyum melihatku. Tapi, dibalik senyumnya, aku masih dapat melihat kilatan kesedihan dimatanya.

“Kakek siapa? Dan ini dimana?” Tanyaku pada Kakek tersebut.

“Makanlah dulu, nanti Kakek akan menceritakan semuanya.” Ucap kakek itu dan mulai menuntun tanganku untuk mengikutinya.

             Akupun berjalan mengikutinya karena memang aku sudah lapar. Kakek itu menuntunku pergi keruang makan. Sesampainya diruang makan lagi-lagi mataku dibuat takjub dengan semua hidangan mewah yang tersaji diatas meja. Aku hanya dapat menelan ludah karenanya .

“Jangan hanya dilihat, makanlah! Kau pasti lapar.” Ucap Kakek itu memersilakanku.

“Bolehkah aku makan ini, ini, dan ini, juga ini?” Ucapku sambil menunjuk makanan yang aku sukai.

“Ne, semuanya boleh kau makan.” Ucap Kakek itu sambil tersenyum.

Aku membalas senyumannya dan duduk dikursi menghadap barbagai hidangan yang jarang sekali aku lihat. Aku mulai memakan semua makanan yang sudah memanggil-manggilku sejak tadi.

“Wah, enak sekali, Kek. Semua makanan ini sangat enak.” Ucapku dengan mulut penuh makanan.

“Jangan terburu-buru makannya, nanti kau tersedak.” Ucap Kakek itu mengingatkan.

Kakek ini benar-benar perhatian padaku, tapi siapa dia? Aku benar-benar masih bingung.

Ah, sudahlah. Aku makan saja dulu. Aku benar-benar lapar.

***

Perutku kini sudah terisi. Benar-benar terisi. Sangat penuh. Hingga, rasanya makanan ini akan keluar kembali dari mulutku. Suara sendawaku saja terganjal dikerongkongan. Aku benar-benar sangat kekenyangan. Perutku kini seperti perut sebuah beruang besar. Sangat besar dan buncit.

“Kau sudah selesai?” Tanya Kakek itu padaku. Aku menganggukkan kepalaku. “Setelah ini pergilah mandi, nanti Kakek akan mengajakmu pergi kesuatu tempat. Apakah bisa?”

“Ne.” Aku pergi kembali ke kamar yang tadi. Kakek itu mengikutiku hingga aku masuk kedalam kamar mandi yang berada didalam kamar ini.

“Aku benar-benar tak tega melihatnya.” Ucap Kakek itu. Samar-samar aku mendengar ucaapannya itu. aku menyalakan shower dan mulai membersihkan diri. Mencoba tak mempedulikan apa maksud dari ucapan Kakek tadi.

Beberapa menit kemudian aku keluar dari kamar mandi dan mulai merapikan diriku didepan cermin. Setelah merasa penampilanku sudah rapi, aku keluar dari kamar dan  menghampiri Kakek yang sedang duduk diruang tamu rumah itu.

“Kakek, aku sudah selesai.” Ucapku padanya.

“Ah, kau sudah rapi sekarang. Ayo kita pergi!” Ucap Kakek itu menggenggam tanganku menuju mobil sedan warna hitam yang terparkir didepan rumah itu.

“Kita mau kemana, Kek?” Tanyaku bingung.

“Nanti kau juga akan tau.” Ucap kakek itu dengan nada sedih.

Mobil ini mulai berjalan ketempat yang Kakek ini maksudkan. Aku hanya duduk terdiam disamping Kakek ini dengan banyak pertanyaan berterbangan dikepalaku.

* * *

Mobil ini berhenti didepan pintu utama sebuah rumah sakit besar dan terkenal di Seoul. Untuk apa Kakek itu mengajakku kemari? Kakek itu menggenggam tanganku dan menuntunku berjalan bersamanya masuk kedalam rumah sakit. Aku tetap terdiam mengikuti kemana Kakek itu mengajakku pergi. Aku yakin, Kakek ini orang baik. Ia tak akan berbuat yang macam-macam padaku. Aku yakin itu.

“Kenapa kita kerumah sakit, Kek? Siapa yang sakit?” Aku bertanya padanya, tapi tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. “Apa kakek sakit? Kek, kenapa kau diam saja? Kakek, bicaralah!” Cerocosku sepanjang jalan karena Kakek ini tak menjawab satu pun pertanyaanku.

Tapi, kakek itu tetap diam membisu. Tampak matanya mulai berkaca-kaca saat dia berdiri didepan sebuah ruangan. Kakek itu menghela napas pelan sebelum membuka pintu ruangan itu.

Kreeek

Pintu mulai terbuka. Kakek masuk kedalam ruangan ini. Kini aku dapat melihat seseorang yang tengah terbaring lemah diatas tempat tidur dengan kain putih pajang yang menutupi sekujur tubuhnya.

“Masuklah!” Ucap kakek itu padaku yang masih berdiri mematung didepan pintu.

Aku melangkah sedikit ragu, berjalan mendekati Kakek  yang sudah berdiri disamping tempat tidur tempat terbaringnya seseorang.

“Si-siapa ini, Kek?” Tanyaku dengan nada terbata.

“Dia adalah…” Kakek itu menjawab dengan kalimat yang belum selesai ia ucapkan. Kalimatnya terpotong dan kini ia mulai menangis karena tidak sanggup berucap. Melihat Kakek yang menangis mataku pun mulai ikut berkaca-kaca. Aku memberanikan diri untuk menyentuh kain putih yang menutupi tubuh seseorang yang kini ada didepan mataku dan mulai membukanya perlahan.

Srreeettt

Kain putih itu terbuka dan kini aku bisa melihat siapa sosok yang ditutupi oleh kain putih itu. Tanpa terasa butiran air bening jatuh dari kedua sudut mataku. Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang.

 

[Ost. Ryeowook – One Fine Spring Day ON ]

 

“Ini tidak mungkin! Ini tidak mungkin! Dia bukan, dia bukan, aaaaah. Haaa…aa” Aku berteriak semampu yang aku bisa. Aku menangis, memeluk tubuh seseorang yang sudah terbaring kaku ditempat tidur.

Aku semakin menjadi. Kakek yang ada disampingku semakin tidak bisa membendung air matanya dan menangis terisak sambil membungkam mulutnya.

“Eomma, bangunlah! Bangun, Eomma. Kenapa kau tidur sangat lama, Eomma…Eomma. Jika, kau tidak bangun, aku akan marah padamu! Eomma, bangunlah!” Aku meratap meminta agar Eomma terbangun dari tidurnya. Kugoncangkan tubuh Eomma dengan tangan kecilku dengan semua tenaga yang aku miliki. Tubuh Eomma sudah terbujur kaku, dia benar-benar sudah pergi meninggalkanku. Selamanya.

***

»Flashback ON«

Disebuah restoran mewah terlihat dua orang tengah berbicara serius. Eomma Amber dan Kakeknya. Dia adalah Kakek kandung Amber dan Appa dari Eomma Amber. Dia adalah seorang pengusaha yang sukses dan kaya. Dia juga memiliki sanggar karate yang terkenal oleh prestasi para muridnya yang banyak memenangkan kejuaraan diberbagai negara. Dialah, Kang So Man  Liu.

“Apa kabar, Appa? Apa kau hidup dengan baik?” Tanya Kang Sora pada Appa-nya itu.

“Tentu saja, hidupku memang selalu baik.” Jawab So Man dingin.

“emm, Appa maafkan aku. Aku menyesal tidak mendengarkan kata-katamu waktu itu.” Ucap Sora penuh penyesalan.

“Hemm, lelaki itu meninggalkanmu, kan? Sudah kubilang, dia tidak pantas untukmu. Tapi,  jika sudah jadi seperti ini, kau mau apa?” Tanya So Man sinis.

“Aku memang bersalah, Appa. Kau boleh membenciku dan tak memaafkanku, tapi untuk saat ini aku mohon bantulah aku, Appa.”Ucap Sora memohon.

“Sudahlah. Appa sudah memaafkanmu. Tidak ada orang tua yang membenci anaknya sendiri walaupun anak itu mempunyai kesalahan yang besar. Bicaralah, apa yang harus ku bantu?” Ucap So Man yang mulai melunak melihat anak semata wayangnya yang sudah lama dirindukannya.

Sora tak kuasa membendung air matanya lagi melihat betapa bersalahnya dia pada Appa yang sangat menyanyanginya dengan tulus.

“Appa gomawo. Aku benar-benar bersalah padamu. Mianhae, Appa. Mianhae, sudah meninggalkanmu begitu lama.”  Ucap sora sambil berlutut didepan Appa-nya dan menangis terisak.

“Sudahlah jangan menangis lagi! Lupakan masa lalu yang suram itu.” Ucap So Man sambil menepuk-nepuk pundak anaknya pelan untuk menenangkannya. Sorapun duduk kembali dan tersenyum cerah melihat Appa-nya.

“Appa, kau sudah menjadi Kakek sekarang. Kau mempunyai cucu perempuan yang cantik sepertiku.” Ucap Sora sambil menyerahkan sebuah foto.

“Ah, sepertinya dia tampan. Lihatlah! Dia sangat tomboy, dia mirip denganmu. Hanya saja kau lebih feminim darinya, siapa namanya?” Ucap So Man sambil tersenyum dan mengelus-elus foto yang dipegangnya.

“Namanya Amber, Appa. Amber Liu. Dia sekarang baru kelas 5 SD.” Ucap Sora lagi.

“Bagus. Dia tidak memakai marga Park. Apa kau tahu akan begini jadinya? Oleh karena itu, kau merubah namanya?” Ucap So Man senang.

“Ne, Appa.” Ucap Sora singkat tanpa alasan.

“Kalau begitu, kalian pindah saja kerumah Appa. Disana nanti pasti akan ramai, jika ada dia. Kita berkumpul bersama lagi.” Ucap So Man penuh harap.

“Ne, tentu saja. Kalau Appa tak keberatan.” Ucap Sora.

“Mana mungkin keberatan? Hanya kalian berdua yang Appa punya didunia ini, dan Amber. Dia bisa menjadi penerus sanggar karate yang Appa miliki. Sepertinya, dia cocok dibidang itu.” Gurau So Man sambil tertawa bahagia.

“Amber memang menyukai karate, Appa. Dia bahkan sudah ikut kegiatan itu di sekolahnya.” Ucap Sora seraya tertawa.

“Sepertinya sudah waktunya Amber pulang. Bagaimana kalau kita jemput bersama? Kita buat kejutan untuknya.” Tawar So Man.

“Baiklah. Kajja! Kita jemput Amber.” Ucap Sora bersemangat dan menggandeng Appa-nya pergi meninggalkan restoran.

* * *

Ditengah perjalanan Sora meminta Appa-nya menghentikan mobil. Ia ingin membeli sesuatu terlebih dahulu.

“Appa berhenti sebentar aku ingin membeli sesuatu.” Ucap Sora.

“Baiklah. Cepat kembali, ne? Nanti kita terlambat menjemput Amber.” Ucap So Man.

Sora tersenyum mengangguk. Dia keluar dari mobil dan berjalan kesebuah toko ditepi jalan. Sebuah toko sepeda. Dia melihat-lihat sepeda yang berjejer rapi diluar toko.

“Ahjussi, apa ada sepeda fixie warna hitam?” Tanya Sora pada penjual sepeda.

Ahjusi itu menunjukkan sepeda yang diinginkan Sora.

“Wah, ini yang saya cari. Sangat cocok untuk Amber.” Ucap Sora tersenyum dan membeli sepeda itu segera.

Dia menuntun sepeda itu kearah mobil Appa-nya. “Amber pasti menyukainya.  Sepedanya kan sudah rusak dan jelek. Mianhae, Amber. Eomma baru bisa membelikanmu sepeda ini sekarang.” Ucap Sora seraya tersenyum dan memandang sepeda yang dituntunnya.

Tapi, dia menghentikan langkahnya karena melihat seorang anak laki-laki yang berada ditengah jalan. Anak itu terus diam ditengah jalan. Padahal banyak mobil yang berlalu lalang dan mengklakson berulang kali pada anak tersebut. Sora yang tidak tega melihatnya meninggalkan sepedanya dan memutuskan untuk menyebrang membantu anak laki-laki itu. So Man yang berada didalam mobil dapat melihat Sora yang akan menyebrang jalan. Akhirnya So Man pun keluar dari mobil dan menghampiri sepeda yang baru dibeli putrinya itu. Dia memanggil supirnya dan menyuruhnya memasukan sepeda itu kebagasi belakang. So Man tersenyum melihat putrinya yang sangat peduli dengan orang lain. Beberapa langkah lagi Sora akan sampai untuk  menghampiri anak laki-laki itu.

“Hey, tetap diam disitu, ne?” Teriak Sora pada anak tersebut, tapi dari arah selatan ada mobil yang melaju kencang kearah anak itu. Sora yang melihatnyapun panik. Dia nekad menerobos jalanan yang ramai dengan kendaraan untuk membantu anak laki-laki itu. “Hey, awas!” Sora berteriak dan berlari kearah anak itu. Jarak mobil itu semakin dekat dan Sora  mendorong anak itu keras ke tepi jalan.

Naas, dia terjatuh dan jarak mobil semakin dekat. Sora hanya bisa memejamkan matanya takut dan …

Braaakkk

Suara itu terdengar sangat keras dan memekakkan telinga. Senyum So Man pudar melihat kejadian yang baru saja dilihatnya. Dia segera berlari kedalam kerumunan yang mulai ramai oleh orang-orang. Dadanya sesak melihat putri yang baru saja kembali padanya, tergeletak dijalan dan berlumuran dengan darah disekujur tubuhnya. So Man pun mengangkat tubuh putrinya yang berlumuran darah itu kedalam mobilnya untuk dibawa kerumah sakit, tanpa menunggu ambulans yang terlalu lama untuk ditunggu.

“Sora bertahanlah! Jangan tinggalkan Appa lagi.” Ucap So Man menangisi tubuh anaknya dan memeluk putrinya yang tengah sekarat dipangkuannya. Sora membuka matanya sedikit.

“Appa, jang-ngan men-nang-ngis, ak-ku men-cinn-ta-iimu. Tol-long jag-ga Am-m-ber, mi-mi-mianhae.” Ucap Sora dengan napas tersenggal lalu menutup matanya.

“TIDAK… SORA. SORA… BANGUNLAH!!” So Man berteriak dan memeluk putrinya erat sambil menangis terisak. Bahkan, supir So Man tak kuasa menangis melihat Ayah dan anak yang ada dibelakangnya.

»Flashback OFF«

***

“Eomma, Eomma. Tidak, tidak. Dia bukan Eomma. Dia bukan Eomma. Dia bukan Eomma kan, Kek?” Tangisku semakin menjadi-jadi.

“Sudahlah, chagi. Jangan menangis lagi, Eomma-mu akan sedih, jika melihatmu seperti ini. Kau masih punya Kakek disini.” Ucap Kakek. Ia memelukku erat.

Aku melepaskan pelukannya dan berlari keluar dari ruangan itu.

“Amber, kau mau kemana?” Teriaknya dan berusaha mengejarku. Tapi, langkahnya terhenti saat Dokter datang.

“Kita harus membicarakan sesuatu, Pak.” Ucap Dokter padanya. Ia akhirnya mengikuti Dokter keruangannya.

Aku berlari. Terus berlari. Bagiku, apa yang aku lihat tadi tidaklah nyata. Aku yakin aku masih tertidur dan ini hanyalah mimpi buruk. Tuhan, kapankah aku terbangun dari mimpi ini? Aku terus saja berlari, berlari hingga akhirnya berhenti di sebuah taman disamping rumah sakit ini dan menangis tertunduk diatas salah satu bangku taman dekat air mancur.

“Eomma jahat. Eomma jahat. Kenapa kau meninggalkanku sendirian?” Gerutuku dalam tangis. Tiba-tiba  ada bola berwarna pink yang menggelinding mendekat ke kakiku. Aku menghentikan tangisku dan memungut bola itu.

“Bola siapa ini?” Tanyaku bingung.

Bomin? Bomin? Bomin, kau dimana?” Ucap seorang anak laki-laki yang mencari tengah sesuatu.

Aku melihat kearah anak itu. “Apa dia mencari bola ini?”

“Ahh …” Teriak anak laki-laki itu yang terjatuh karena tersandung. Aku malah tertawa dibuatnya, aku sama sekali mengabaikannya yang tengah kesakitan.

“Namja, pabo.” Ucapku sambil tertawa.

“Hey, siapa itu?” Ucap anak laki-laki itu sambil meraba-raba mencari sebuah tongkat yang tak jauh dari tempatnya jatuh.

Aku baru menyadari sesuatu dan seketika tawaku lenyap.

“Di-dia buta.” Ucapku iba. Aku segera berlari menolong anak itu dan memberikan tongkat yang tenagha dicarinya padanya .

“Gomawo.” Ucap anak laki-laki disertai senyumannya.

“Mianhae.” Ucapku merasa bersalah.

“Kenapa kau minta maaf? Aku sangat berterima kasih padamu telah membantuku.” Ucap anak laki-laki itu .

“Mianhae, tadi aku menertawakanmu.” Ucapku menyesal.

“Tidak apa-apa. Aku senang mendengarmu tertawa dan tidak menangis seperti tadi.” Ucap anak laki-laki itu lagi.

“Darimana kau tahu kalau aku tadi sedang menangis?” Tanyaku bingung.

“Walaupun aku tidak bisa melihat tapi aku masih bisa mendengar dengan baik, dan ini masih ada sisanya sebagai bukti.” Ucap anak laki-laki itu sambil mencoba meraba wajahku dan mengusap lembut sudut mataku yang masih ada butiran air matanya. Aku hanya tersenyum tipis.

“Jangan menangis lagi, Eomma-mu pasti akan sedih jika melihatmu seperti ini terus. Kau masih beruntung dari orang lain yang lebih menderita. Aku juga pernah merasakan hal yang sama denganmu, jadi jangan pernah merasa sendiri di dunia ini.” Ucap anak itu padaku.

“Kau pernah merasakan hal yang sama? Apa Eomma-mu juga sudah meninggal?” Tanyaku pada anak itu.

“Bukan Eomma-ku, tapi Appa-ku. Saat dia meninggalkanku aku merasa sangat sedih dan ditambah aku harus menerima kenyataan kalau aku tidak akan bisa melihat indahnya dunia ini lagi.” Cerita anak itu.

Dari cerita anak itu, aku sadar betapa beruntungnya aku dari anak itu, karena aku masih bisa melihat indahnya dunia.

“Kau benar. Aku harus menerima kenyataan bahwa Eomma memang sudah tiada, aku tidak boleh terlalu terpuruk seperti ini. Aku harus bangkit dan tetap tersenyum untuk Eomma.” Ucapku mencoba tabah.

“Fighthing!” Ucap anak itu menyemangatiku.

“Gomawo. Telah menyadarkanku. Ah, kau tadi mencari apa?” Tanyaku pada anak itu.

“Aku mencari Bominku. Apa kau melihatnya?”

“Apa Bomin sebuah bola berwarna pink?” Tanyaku lagi.

“Ah, ne, ne. Itu Bominku.” Ucap anak itu senang. Aku tersenyum melihatnya tersenyum senang, karena yang ia cari ternyata ada padaku. Aku menyerahkan bola yang ditemukanku padanya.

“Gomawo.” Ucap anak itu senang.

“Ne, cheonma. Emm, bukankah kau seorang namja? Kenapa barang-barangmu semua serba pink? Lihat saja dari bola, gelang tangan, tongkat, dan sandalmu semua berwarna pink.” Ucapku heran.

“Aku tidak suka warna gelap, karena aku sudah bosan hidup dalam kegelapan seperti ini. Aku menyukai pink karena itu warna yang manis dan saat aku bisa melihat lagi, aku tidak ingin melihat kegelapan lagi.” Ucap anak itu sambil tersenyum.

“Ah, ne. Aku mengerti sekarang.” Ucapku seraya mengangguk-anggukkan kepalaku.

“Minggu ini, aku akan menjalani operasi mataku. Jika operasi itu berhasil, aku mungkin bisa melihat lagi.  Jika, nanti aku bisa melihat lagi, apa kau mau mengunjungiku? Aku ingin bisa melihatmu.” Ucap anak itu kemudian.

“Tentu saja. Aku juga ingin kau melihatku yang sudah bisa tersenyum.” Janjiku padannya.

“Janji kau akan datang?” Ucap anak itu dan mengarahkan jari kelingkingnya padaku.

“Ne, aku janji.” Aku menautkan kelingkingku pada kelingkingnya.

“Minie? Minie? Minie, kau dimana?” Ucap seorang Ahjumma mencari anaknya.

“Ah, sepertinya itu suara Eommaku. Aku harus pergi.” Ucap anak itu lalu berajak dari duduknya.

“Kau bisa sendiri?” Tanyaku khawatir.

“Ne. Ini Bomin untukmu. Mainlah dengannya saat kau merasa sedih, dia akan menghiburmu. Aku sudah membuktikannya.” Ucap anak itu seraya tersenyum dan menyerahkan bola pink itu padaku.

“Baiklah. Aku akan mencobanya.” Jawabku seraya memegangi bola dari anak itu.

“Ingat! Kau harus mengunjungiku minggu ini. Aku ada diruang Teddy Bear nomor 6, ne? Aku akan menunggumu datang.”  Ucap anak itu dan mulai berjalan menjauh.

Tampak seorang Ahjumma menghampiri anak itu dan mengusap pipinya lembut. Kemudian, ia mulai menuntun anak itu kedalam rumah sakit. Aku hanya dapat melihatnya dengan senyuman miris dan melambaikan tanganku pada anak itu. Walaupun, anak itu tak melihatnya. Aku memandangi bomin yang sedang aku pegang.

“Tunggu aku datang.” Ucapku pelan.

 

*** to be continued ***

 

apakah Amber akan menepati janjinya pada anak itu?

Tetap nantikan part berikutnye oce2^^

*Huaahhh, akhirnya Author bisa juga ngelanjutin epep gaje ini. Gimana-gimana Readers tambah gaje yah atau feelnya kagak dapet? Haduh Author juga bingung gimana caranya buat Readers terbawang suasana cerita. Mian. Tapi teuteup segaje-gajenya ini epep, Readers musti, wajib, harus budayakan dan melestarikan BUDAYA RCL yah.

gomawo all^^

»reading»coment»like^^

7 thoughts on ““Miss Boy and Mr Girls” (Part 2)

  1. huhuhu.. kasian amber.. ditinggal eommanya pergi…

    kasian si namja kecil itu… sabar ya.. fighting!!

    onnie tunggu part selanjutnya.. jgn lama” ya..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s