Deception A Masokis (Part 2)

 

DAM2

Title: Deception A Masokis 2

 

Genre: Politic, Friendship, Romance, Action, School live

Rate: 15th

Cast:

Kyuhyun SJ as Kyuhyun

Kang Rail OC

Changmin DBSK as Shim Changmin

Minhoo Shinee as Minho

Jonghyun CNBlue as Jonghyun

 

 

Disclaimer: This is Susan’s fanfiction. The cast belongs to God. Hehee. And, happy reading ^_^

 

 

 

 

Part Sebelumnya:

 

“Kau benar-benar membuat si singa masokistik jatuh cinta.” Ujarnya lalu mengedipkan sebelah matanya.

 

“Menjijikkan,” responku pada sikapnya yang aneh, tanganku meraih botol mayonise yang tadi dilemparnya di meja.

 

“Kyuhyun-ssi, aku belum mengatakan damai denganmu!” kulempar botol itu tepat di keningnya. Ia mengerang sebentar lalu meringis kesakitan. Oh, hebat kau Rail. Pemuda 200.000 hertz itu juga harus tahu rasanya mencium botol mayonise. Rail, Jjang!

 

 

 

 

______ Sound Of A Broken Heart  3________

 

 

 

“Ya! Ekor tupai!” Kyuhyun menatap nanar padaku. Matanya membulat sempurna dan dadanya kembang kempis, seperti menahan emosi. Ya, tentu saja. Aku baru saja melempar botol Mayonise ke keningnya. Itu pasti sakit sekali. Tak masalah, sesekali dia memang perlu seperti itu, mengingat tak ada yang berani melawannya.

 

“Astaga! Kau—u,” Kyuhyun bangkit dari posisinya dan kembali menuju bangku cafeteria bersama genknya. Aku berdesis kecil untuk merutuki kepergiannya.

 

Biar bagaimanapun, aku sudah keterlaluan tadi. Kuikuti ia, ingin meminta maaf. Well, kuakui, aku adalah orang yang kejam dan suka berkata kasar—tapi, aku masih tahu batasan dan ekspresi orang yang kusakiti. Tak tega, walau secara implisit, Kyuhyun yang membuat emosiku meledak-ledak—menuangkan mayonise di rambutku. Oh, entahlah. Ini semata-mata emosi atau memang aku merasa nyaman saat mampu menyalurkan kemarahanku pada Kyuhyun.

 

Aku menepuk pundak Kyuhyun, berharap ia berbalik dan melihatku. Tapi tidak—bukan begitu yang dilakukannya. Dia meraih tanganku,  menariknya hingga tubuhku terseret beberapa langkah dan membentur punggungnya. Kyuhyun mengungkit tanganku ke belakang dan menguncinya dalam satu gerakan. Kini, Kyuhyun dibelakangku dan kedua tanganku terkunci di pinggangku.

 

Ngilu. Demi apa, tangan Kyuhyun yang menarik paksa pergelangan tanganku  itu membuat sendiku seperti terbetot dari tempatnya. Aku meringis menahan sakit yang bersumber dari kekejaman Cho Kyuhyun. namja itu masih tak berubah, masih kasar.

 

“Lepaskan!”

 

“Aku akan melepaskanmu asal dengan satu syarat.”

 

Aku diam, mencoba tak merespon ucapannya. Apapun syaratnya, aku yakin, pasti menguntungkan dirinya dan merugikan aku. Mana mungkin aku tertarik dengan simbiosis parasitisme seperti penawaran Kyuhyun?

 

“Kau ikut pesta dansa Valentine denganku—atau kau kucium sekarang di hadapan semua orang. Bagaimana?”

 

“Cih,” aku hampir saja mengumpat jika Kyuhyun tak membalik tubuhku.  Membuat kami berhadapan dan sangking dekatnya, aku bisa mencium aroma maskulin tubuhnya. Aroma tubuh yang membuatku pusing dan—sial! Aku menggurutu saat menatap wajah Kyuhyun. Ia tersenyum 160 derajat dan menyipitkan matanya, membuatnya sesayu mungkin dan kulihat rambut acak-acakannya yang sedikit basah karena peluh. Damn! Apa dia sedang menggodaku? Aku berontak dari pelukannya.

 

“Jawab, atau—aku menciummu se—ka—rang.” Tangannya merambat dari pelipis ke pipiku. Baiklah, ini harus diakhiri. Kyuhyun seperti seorang yang—ah, entahlah.

 

“Baik. Aku mau.”

 

“Ulangi.”

 

“Geurae, aku setuju ke pesta dansa denganmu. Puas!”

 

“Kau bisa kupercaya?”

 

“Jemput aku.” Tantangku kemudian. Ia melepas tautan tangannya yang mengunciku lalu melepas tubuhku. Namja itu membalikkan tubuh dan tanpa sepatah kata  ia meninggalkanku. Sungguh, aku menyesal dengan pikiranku tadi—aku  mau meminta maaf pada Kyuhyun—tapi, justru aku memberi dia kesempatan memaafkan kebaikanku. Aigo~

 

“Hahahaa.” Jihyun datang dengan tertawa puas. Ia memehrongkan lidahnya lalu menyenggol pundakku. Aku menatapnya dengan malas. Apalagi yang mau dia lakukan kecuali mengolokku. Ugh, kenapa aku bisa nyaman bersahabat dengannya?

 

“Kau akan ke pesta Valentine sekolah dengan Kyuhyun?”

 

“Iya.”

 

“Chukkaeyo!”

 

Jihyun memelukku erat lalu melonjak-lonjak bahagia sambil memegangi jemariku. Ish, tingkahnya terlalu berlebihan. Apa hebatnya bisa ke pesta dansa dengan Kyuhyun? tapi tunggu dulu—pesta dansa? PESTA DANSA? Kulihat tanganku, kakiku lalu tubuhku. Ini—Oh, kenapa di dunia harus ada dansa?

 

Aku melepas pegangan tangan Jihyun lalu meninggalkannya.

 

“Kemana?”

 

“Membersihkan mayonise di rambutku. Mau ikut?” tanyaku dengan nada sedikit ketus. Jihyun melirik rambutku lalu terkikik sebentar.

 

“Tidak, terima kasih.” Ia berkata dengan wajah tanpa dosa, membuatku ingin mengulitinya tubuhnya bulat-bulat. Kuhentakkan kakiku dengan kuat dan berjalan cepat. Sampai di koridor menuju kamar mandi, langkahku menyeleweng 90 derajat lalu naik ke lantai dua lalu ketika sampai di pintu berwarna cokelat muda aku berhenti. Aku menarik gagangnya tanpa mengetuk terlebih dulu. Kulihat di sudut ruangan, Jonghyun tengah menghimpit seorang gadis, Minho bermain piano dan Changmin yang menyanyi. Sementara makhluk yang kucari—dia duduk di sofa dan matanya fokus ke sebuah tablet PC—oh, bukan tablet PC, itu PSP.

 

Keempat orang itu menghentikan aktivitasnya, kecuali Kyuhyun. dia masih asyik dengan PSPnya. Aku hanya menggeleng.

 

“Kyuhyun-ssi, bisakah aku bicara denganmu?”

 

Tak ada gerakan darinya. Ia hanya cengengesan dan matanya tetap fokus di layar benda mati itu. Sepertinya, ia bahagia sekali.

 

“Kyuhyun-ssi!”

 

Masih sama. Kesimpulan pertamaku, dia tuli.

 

“Ya! Kyuhyun oppa!” kuubah panggilanku. Great! Aku berhasil membuatnya mendongak, menatapku sepersekian detik lalu, “ada apa?”

 

Astaga! Sekejab tadi, dia banyak bicara tapi sekarang? Apa Kyuhyun berkepribadian ganda?

 

Aku yang masih kaku di ujung pintu hanya merunduk bingung, mencari kosakata yang tepat. Sikap dingin Kyuhyun membuatku kehilangan kemampuan berbicara dengan baik.

 

“Aku ingin bicara, tentang pes—ta Valentine.” Suaraku memelan di ujung, Kyuhyun menyilangkan kakinya dan menatapku yang berdiri kaku.

 

“Bicara saja.”

 

Kuhampiri dia lalu kurebut tablet PSP yang menyita waktunya sedemikian hebat. Aku berdiri di depannya.

 

“Yayayaya! Mau kau apakan PSPku, ekor tupai?”

 

“Ya! Pria 20 juta won, berhenti memanggilku ekor tupai!”

 

“Tidak.” Ia santai sekali menanggapi suaraku yang meledak bak bom Molotov. Ia menyandarkan bahunya di sofa.

 

“Kau—!”

 

“Apa, Sayang? Kau kan setuju untuk ikut pesta dansa denganku?”

 

Suara tawa cekikikan terdengar di telingaku. Omo, tiga orang itu  menahan tawanya seolah kalimat yang diucapkan Kyuhyun adalah kalimat lucu. Tidak tahukah mereka kalau kalimat itu semacam godaan iblis, MENYESATKAN!

 

Ya! Kyuhyun tadi bilang apa? Sayang? Sa—yang? Astaga, ingin mati ditanganku dia.

 

“Kau kenapa?” tanyanya menatapku bingung, “ada yang aneh?”

 

“Kyuhyun-ssi, rasanya aku butuh pisau untuk merajammu. Kau ingin aku memutilasi tubuhmu karena panggilan menjijikkan itu, huh?”

 

“Hahahaa. Kau memang kejam, Rail.”

 

Aku mendengus, “Jangan mencari perkara denganku. Kyuhyun-ah, aku membatalkan pesta Valentine.”

 

Ia diam, tampak mengernyit sedikit lalu wajah dinginnya kembali memenuhi wajahnya yang tampan. Mwo? Aku mengatakan wajah Kyuhyun tampan? Hash, dilihat darimana? Oh, tidak. Namja itu tidak tampan. Dia menyebalkan.

 

“Kau tak bisa dipercaya bukan?”

 

“Kau tenang saja, Kyu. Aku akan menggantinya, kencan hari sabtu besok, misalnya.”

 

“Mwo? Kau kencan denganku?” ia menatapku tanpa kedip, pandangan polosnya itu membuatku menarik bibirku untuk tersenyum. Kuanggukan kepalaku, ia menampilkan senyum 160 derajatnya lagi. benar-benar senyuman iblis yang mempesona. Kurasa, jika aku sebuah lilin, aku sudah meleleh dibuatnya. Meleleh? Ah, tidak! Aku salah menganalogikan, salah persepsi.

 

“Sepertinya itu ide bagus, sayang.”

 

“Ucapkan sayang lagi, aku akan menarik lidahmu!”

 

“Oh, sayangku kita bisa bicarakan ini baik-baik, bukan?”

 

Tanganku bergerak menarik kerahnya, “Kyuhyun-ssi, seharusnya panggilan itu hanya untuk orang yang kau sayang.”

 

Kyuhyun menahan tawanya, “Haih, bagaimana jika orang yang kusayang itu kamu, ekor tupai?”

 

“Yak!” kujambak rambut tebal namja 200.000 hertz ke belakang. Ia menggersah kesakitan kemudian tanpa kuduga, ia menarik tubuhku yang semula berjongkok di hadapannya. Tarikannya ini membuatku kehilangan keseimbangan dan jatuh menimpanya.

 

Sesuatu yang lembut menempel di bibirku. Mengalirkan hawa hangat yang menggetarkan sampai hawa hangat itu berubah menjadi panas luar biasa. Astaga! Ini—bibir Kyuhyun? Buru-buru aku menarik tubuhku. Sungguh, ingin sekali kuinjak-injak wajahnya itu tapi yang kulakukan sekarang amat ganjil. Aku hanya berdiri dengan kaki bergetar, tak berani menatap Kyuhyun.

 

Ya Tuhan, itu ciuman pertamaku. Fisrt kissku dengan namja. Kenapa harus Kyuhyun?

 

“Kau—ya! Kau belum pernah berciuman, oh? Aigo, yang benar saja? Hahahaaa,” ia memandangku dengan tatapan meremehkan lalu tertawa menjijikkan.

 

“Cih!” aku menggersah kesal dan segera membalikkan tubuh.

 

“Geurae, kujemput kau hari sabtu besok!” teriak Kyuhyun sebelum aku menghilang di balik pintu. Kutatap ia yang menahan tawa, aku hanya melengos dan mengabaikannya. Menyebalkan!

 

“Ya! Rail, kenapa dengan rambutmu, huh?” Yoon saem menatapku penuh selidik, “Omo, kenapa kau keluar dari ruangan Kyu-line?”

 

“Songsaengnim,”

 

“Yayayaya!” ia mundur ke belakang saat aku mencoba mendekatinya, “Bersihkan rambutmu!”

 

“Iye,” aku berhenti lalu melangkahkan kaki menuju toilet.

 

Hari ini sangat menyebalkan. Semua kesialanku hari ini disebabkan namja yang suka berteriak dengan frekuensi 200.000 Hz. Hah, namja itu hendak meruntuhkan bangunan dengan teriakannya—sepertinya. Tapi, kurasa, dia—

 

“Kau benar-benar membuat singa masokistik jatuh cinta,”

 

Well, singa masokistik? Jatuh cinta? Aku? Argh! Entahlah, seperinya aku butuh penerjemah kalimat agar otakku tak low begini. Kuraba lagi bibirku, sekelibat bayangan tadi melintas begitu saja di otakku. Well, bagaimana jika aku mengerjai Kyuhyun Sabtu nanti sebagai balasan karena ia telah mencuri ciuman pertamaku?

 

“Kyuhyun-ssi, aku pasti bisa membalasmu.” Aku mengangguk-anggukan kepala menyetujui ide tercerdasku kali ini. Aku tertawa, bahagia sekalimembayangkan wajah Kyuhyun yang memelas, takut dan—aih, kenapa aku mirip orang Psicho? Hash, baiklah—aku harus segera mencuci rambutku dan menyusun rencana untuk Sabtu nanti.

 

 

 

TBC

 

 

 

 

Emmna (Admin KPDK)

15 thoughts on “Deception A Masokis (Part 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s