Deception A Masokis (Part 1)

 

DAM1

[FF Series]

Title: Deception A Masokis 1
Author: Susan
Genre: Politic, Friendship, Romance, Action, School live
Rate: 15th
Cast:
Kyuhyun SJ as Kyuhyun
Kang Rail OC
Changmin DBSK as Shim Changmin
Minhoo Shinee as Minho
Jonghyun CNBlue as Jonghyun

Desclaimer: This story is original from @sa02011. Oh ya awalnya FF ini kuberi judul Sound Of A Broken Heart tapi kuremake menjadi Deception A Masokis. Hehee. And, happy reading.

-= Sound Of A Broken Heart =-

Selalu, sama seperti hari-hari sebelumnya—namja itu terlihat menyebalkan. Ingin sekali kucakar-cakar wajahnya yang sok tampan atau menendang tubuhnya karena kelakuannya yang sok hebat itu. Aku sempat berfikir, kenapa dia bisa lahir di muka bumi ini? Aku yakin, jika saja, bumi tahu dia yang begitu arogan, bumi tak akan sudi menerimanya.

“Siapa yang kau lihat?” Jihyun ikut menatap genk Kyu-line yang duduk di cafetaria. Jihyun tersenyum sekilas saat tatapan matanya bertemu dengan manik mata Minho. Oh, jangan bilang kalau Jihyun menyukai Minho!

“Kau kenapa?” tatarku pada Jihyun yang terlihat grogi. ia menyesap minuman lemon hangat yang ia pesan lalu tersenyum lagi. Kali ini dengan senyuman sumringah. O, apa benar Jihyun menyukai Minho?

“Kau pernah jatuh cinta?”

Kugelengkan kepalaku.

“Ah, kau jangan bohong! Kau pernah ingin sekali bertemu seseorang tapi ketika melihatnya baik-baik saja, kau menghentikan rencanamu?”

Well, satu-satunya rencanaku yang selalu kufikirkan adalah membalas kekejaman Si Cho Kyuhyun. Namja ambang batas yang keevilannya sudah mencapai 200.000 Hertz. Benar-benar tak bisa ditolerir lagi.

“Jika itu yang kau maksud dengan cinta, itu menurutku hanya sebuah obsesi.” Ucapku. Jihyun langsung menatapku dan memain-mainkan jarinya di mulut cangkir. kucondongkan tubuhku agar lebih dekat dengan Jihyun.

“Kau tahu, aku tak pernah percaya dengan orang lain. Aku tak pernah berniat meletakkan hatiku pada orang lain dan aku hanya yakin dan mempercayakan semua pada kemampuanku.”

“Omo~ Hatimu terlalu keras, Rail.”

“Kau tahu, kehidupan tak pernah lembut pada kita.”

“Lalu persahabatan kita?”

“Itu hanya salah satu cara Tuhan membuat hidupku lebih manusiawi lagi.”

“Maksudmu? Apa maksudmu dengan lebih manusiawi lagi, huh?”

“Jihyun-ah, kau tak akan mengerti. Cukup kau mengenalku sebagai Rail-Sahabatmu, maka itu akan lebih baik daripada kau tahu siapa aku.”

Jihyun menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku tak terlalu ambil peduli dengan sikapnya.

“Rail, apapun yang kau katakan hari ini, kuharap itu adalah angin—yang bisa berlalu seiring dengan berjalannya waktu.” Jihyun menatapku, “In my hope, ada seorang lelaki yang mampu menyentuh hatimu.”

Aku seperti terhipnotis kalimat Jihyun itu. Kalimat itu seperti mantra yang membuat tubuhku tertegun hingga beberapa saat. Aku hendak berucap tapi teralihkan oleh suara gumaman dan desak-desakan beberapa siswa. Mendadak cafetaria tempatku duduk menjadi sedikit ramai. Aku menoleh dengan malas-malasan, melihat apa yang membuat penghuni cafeteria sedikit histeris. Aku mendengus kesal saat melihat ke arah dua sosok yang tak asing lagi bagiku. Dua orang yang hidup dalam topeng kebusukan dan membuatku muak. Tiba-tiba, aku bersyukur mengenal Cho Kyuhyun—namja yang terus terang mengibarkan bendera peperangan denganku ketimbang orang yang mengumbar senyum manis tapi di belakang saling bermusuhan dan tak akur.

“Annyeong,” salam si wanita.

“Annyeong, Agashi.” Balas Jihyun dengan sopan. Cih~ menjijikkan sekali, “Rail, aku pergi dulu.”

Setelah Jihyun pergi sepasang suami istri itu duduk disisiku setelah memberikan ciuman palsu di keningku.

“Kau makan dengan baik.” Ucap pria berambut ikal dengan wajah berwibawa. Suara pelan dan intonasinya sangat baik. Tiba-tiba, kepalaku pusing melihat mereka ada disini.

“Kalian kenapa disini?”

“Rail, jaga ucapanmu!” suara si wanita anggun itu berdesis, matanya menghujam tajam padaku lalu ia tersenyum palsu lagi saat menyadari ada sinar blitz ke arah kami.

“Kau tak suka? Pergilah!” sewotku kembali tenang lalu menyesap minumanku. Kulihat, bibir tipisnya yang merah marun itu komat-kamit dan aku bisa melihat pandangan benci dari sorot matanya.

“Putriku, apa salah jika ada orang tua yang ingin makan siang dengan putrinya?” suara bass itu berhasil membuatku menoleh. Aku tersenyum skeptic—tak memercayai ucapannya.

“O, lalu besok aku lihat headline surat kabar, Perdana Mentri Kang Hyo In dan istrinya, Kang Jinhee menghabiskan waktu makan siang dengan putri tunggalnya. Lalu diberita itu ditulis tentang kehangatan dan kesempurnaan sebuah keluarga untuk menaikkan pamor anda sebagai perdana mentri atau menaikkan pamor anda sebagai pengusaha sukses, Tuan dan Nyonya Kang? Kalau begitu, selamat! Anda sukses membohongi khalayak ramai. Selamat atas kekaguman masyarakat yang berhasil kalian ciptakan. Selamat!”

“Rail, jangan membuatku naik pitam!”

“Kau benar-benar keras kepala!”

“O, begitu?” kunaikkan alisku, “lalu kalian? Telihat mesra di hadapan public lalu di rumah? Satu hobby selingkuh dan yang satu hobby tidur dengan pria lain.”

Kulihat gigi mereka bergemelutuk menahan amarah. Biar saja, biar mereka marah lalu menamparku seperti biasanya saat di rumah. Biar saja mereka marah dan tak menahan emosinya agar masyarakat tak lagi diracuni kebohongan mereka. Kebohongan keluarga Kang yang terhormat. Kebohongan yang benar-benar tak dapat kumengerti alasan mereka melakukan ini.

Wanita itu bangkit lalu meraih puncak kepalaku. Lagi-lagi dia tersenyum padaku. Oh, tentu saja, dia tengah mencari popularitas di hadapan publik. Wanita itu—ibu tiriku. Orang yang membuatku benar-benar kehilangan sosok orang tua yang sebenarnya.

“Kita selesaikan ini di rumah.” Ia mengecup keningku sembari mengucapkan kalimat itu. Aish, sial! Bagaimana aku bisa bertahan hidup dengan mereka? Pura-pura baik di depan umum, tapi ketika di rumah—sangat bertolak belakang.

Aku masih duduk kaku di kursiku saat ayahku mengecup keningku juga, “Rail, lain kali—jaga bicaramu.”

Jujur, aku tak pernah berharap lahir dari keluarga itu. Lebih baik aku lahir dari keluarga miskin tapi hidup penuh cinta ketimbang lahir dari keluarga terpandang tapi tersiksa. Di keluargaku tak ada kasih sayang, yang ada hanya kepentingan. Ayahku adalah seorang politisi Negara. Ia menjabat sebagai perdana mentri Korea Selatan dalam beberapa kurun waktu terakhir ini—tepatnya 3 tahun ini. Tahun depan, dia mau mencalonkan diri sebagai presiden. Ia lebih peduli pada imejnya di masyarakat daripada imejnya di mataku. Ia lebih peduli mengayomi masyarakat dengan programnya yang brilian ketimbang mendidikku untuk tumbuh lebih baik dalam pengawasannya.

Sementara wanita cantik yang notabenenya adalah ibu tiriku. Dia adalah budak seks! Aku membencinya. Aku tak tahu kenapa ayah bertahan dengan wanita itu. Yang jelas wanita itu adalah putri dari ketua partai—tempat ayah bernanung dan mengembangkan sayap politiknya.

“Ini!” sebuah tissue terulur sempurna di mataku. Kutatap wajah pemuda yang duduk disamping kiriku. Ia tersenyum padaku. Bukankah dia mengajakku untuk bermusuhan?

“Kau kerasukan setan apa? Siapa yang mau menangis?” elakku tak ingin terlihat lemah di depannya. Ia makin mendekatkan tissue tersebut dan menganggukan kepalanya seakan meyakinkanku dengan niat baiknya. Rasanya, melihatnya yang begitu tulus, membuatku ingin menangis.

“Bisakah kau melupakan permusuhan kita untuk sebentar?”

Kuterima tissunya dengan kasar lalu menghapus airmataku yang hendak menetes. Namja itu melihat ke arahku lalu tersenyum miring, “kau ternyata lemah.”

“YA! Siapa yang kau bilang lemah?”

Kyuhyun hanya menaikkan bibirnya lagi, memamerkan senyumnya yang terlihat menyebalkan, “Sepertinya, singa masokistik menjijikan salah meletakkan hatinya—sangat salah. Mana mungkin ia mencintai domba lemah dan cengeng?”

“Apa maksudmu?” aku menatap tajam padanya. Well, kali ini—aku malas berfikir. Kyuhyun hanya berdiri, “kalau kau menangis aku bisa menghukummu dengan memblokirmu dari sekolah ini.”

“Kau—,”

“Kau jelek kalau menangis.”

Spontan, kusemprotkan mayonise yang ada di mejaku ke jas almamaternya. Zat berbentuk jel itu terlihat lengket di almamaternya. Aku hanya terkikik melihat perubahan wajahnya yang semula terlihat penuh percaya diri, kini setengah mati menahan kekesalan.

“YA! Bisakah kau tidak mengotori apa yang kupakai, huh!” ia menarik tubuhku dengan kasar, “kau tahu, ini harganya 20juta won. Beda dengan jas yang kau pakai, bodoh!”

“Oh, aku baru tahu bahwa kau adalah pria 20juta won!”

Ia berdesis kesal lalu melepas jasnya. Entah kenapa rasanya begitu menyenangkan melihatnya begitu. Hahahaa. Sungguh, Kyuhyun itu terlihat makin menggemaskan saat marah. Ya! Apa? Menggemaskan? Tidak, itu persepsi yang salah. Kyuhyun itu namja arogan dan dingin, tidak menggemaskan sama sekali. Aku sibuk membenarkan pernyataan otakku tentang Kyuhyun hingga yang kusadari, sesuatu yang basah dan lunak ada di rambutku. Kucium aromanya—astaga!

“Michigetda saram!” teriakku saat ia sudah melempar botol mayonise ke meja. Ia sukses menuangkan isi mayonise ke rambutku dan membuat rambutku berbau—serta lengket. Aku menyesal mengatakan dia menggemaskan.

Kulepaskan pukulanku di rahang kokohnya, ia hanya tersenyum sekilas. Ia tak kesakitan dengan pukulanku. Menyedihkan sekali kekuatanku. Kyuhyun tertawa seakan mengolokku.

Aku benar-benar membenci hari ini. Hari dimana orang tuaku datang ke sekolahku dengan alasan makan siang denganku padahal itu hanya akal-akalan mereka saja. mereka melakukan itu untuk menarik anemo masyarakat tentang dirinya. Aku benci hari dimana aku ditertawakan seisi cafeteria karena ulah namja 20juta won!

“Kau benar-benar membuat si singa masokistik jatuh cinta.” Ujarnya lalu mengedipkan sebelah matanya.

“Menjijikkan,” responku pada sikapnya yang aneh, tanganku meraih botol mayonise yang tadi dilemparnya di meja.

“Kyuhyun-ssi, aku belum mengatakan damai denganmu!” kulempar botol itu tepat di keningnya. Ia mengerang sebentar lalu meringis kesakitan. Oh, hebat kau Rail. Pemuda 200.000 hertz itu juga harus tahu rasanya mencium botol mayonise! Rail, Jjang!

TBC

RCL Chingu🙂 | baru Lanjut🙂

Emnna (Admin KPDK)

17 thoughts on “Deception A Masokis (Part 1)

  1. Eumm.. aku suka cerita part 1 ini. tp msh belom tau nih konfliknya. Knp Kyu bs tiba-tiba ada direstoran itu jg? Yg aku tau hanya masalah keluarga Rail yg terlihat begitu pelik.
    Tapi ff nya seru dan menarik. Jadi, lanjut ya…..😀

  2. Whoaaah ini baru part pertama dan udh buat, miris (ats kelakuan orang tua rail) dan cengar-cengir (liat kelakuan kyuhyun dan rail)..
    Ga sabar untuk baca part-part selanjutnya ^^

  3. Semacem benci tp cinta.. Kyu Hyun sering bgt jd cast arogan knp ya ? Apa mukanya begitu cocok.. coba bikin ff yg cast Kyu Hyun nya jd kepribadian ganda atau pembunuh bayaran gitu..

    Hehe mian cm request thor

    Ff ini bagus cm langsung kaget karena konflik kluarga Rail cpt bgt dcritainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s