Monodrama – FF EXO oneshoot

 

Monodrama

Title : Monodrama

 

Author : @Rizkilla96 (Niekazy Luffhyunwooyounghambaro)

 

Cast : Park Chanseul and Kim Minseok (Xiumin, EXO-M)

 

Support Cast : Yoo Jin Goo as Park Jin Goo, Shin Sohyun (U-Kiss), Song Aeri + Song Ahri (Ulzzang)… *saeng ama kembaran ikut ngeksis ne deldel eonn?😄

 

Gendre : Sad, little agst, de el el..

 

Leght : Oneshort

 

 

A/N :

Anyeongg… Fani back!!!!!! ^^

Ini epep terakhir fani sebelum hiatus. Buat epep sebelom-sebelomnya, ntar fani post pas kambek.

 

Ah, ya.. Fani persembahin epep ini buat yang reqwest, adel eonn.. *mian telat*

Buat Kriez eonn, masih mau dibikinin epep ama kangjun kaga?? Otte??

Yakk!! Eiicha saeng!! Mana?? Katanya mau bikinin epep buat eonn???

Ovi eonn, jangan sirik ne.. Pan waktu itu saeng ude bikinin epep buat eonn.. Masih mau?? Kkekeke😄

Boojin eonnii.. Gomapta songfict + epep hidding you’re jinnie nya eonn.. ^^

 

Wahh.. Cuap-cuapnya kepanjangan ya?? Yaudah.. Selamat membaca.. ^^

Fani kaga ngejamin epep ini bersih dari typo. *males ngeditnya lagi..😄

 

 

 

 

 

••••••• 

 

 

 

 

Incheon, 21 April 2013..

 

 

 

Kamshahamnida..” Ucap Chanseul tak bersemangat. Ia sama sekali tak berniat menatap ataupun tersenyum pada pengunjung cafe yang saat ini tengah berada dihadapannya. Namun, itu tak menyurutkan niat namja –si pengunjung cafe– untuk tetap menunjukan senyuman manisnya pada Chanseul.

 

 

“Ne.. Kamshamanida agasshi..

 

Suara berat namja itu sukses membuat Chanseul mendongakkan kepalanya. Yeoja itu tercengang melihat sosok dihadapannya yang sangat sangat ia kenal.

 

Bibirnya tergerak untuk mengucapkan sebuah kata..

 

 

 

Baozzi-ah...”

 

 

 

 

 

Lama mereka terdiam. Saling menatap lamat satu sama lain. Menyelidiki kebenaran dan ikatan pada soseorang dihadapannya.

 

 

 

 

 

Chan Seul POV

 

 

 

Apakah itu dirimu??

 

 

“N.. Ne? Agasshi.. Bagaimana bisa kau mengetahui nama panggilanku?”

 

 

Sejenak aku terdiam. Mencerna jawaban sekaligus pertanyaan dari Minseok. Ah, maksudku.. Seorang namja yang sangat mirip denganya. Ini.. Bagaimana bisa dia..

 

 

Agasshi..”

 

 

Kembali kualihkan pandanganku pada namja yang masih saja mempertahankan wajah bingungnya. Ya tuhan.. Bagaimana bisa dia begitu mirip dengan Minseok? Heii.. Bahkan namja ini memiliki nama panggilan yang sama dengannya.

 

 

Agasshi... Apa kita pernah kenal.. Ah, anni.. Maksudku.. Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Di suatu tempat yang tak kuingat mungkin??”

 

 

Ne.. Seblumnya.. Aku pernah mengenal seseorang yang mirip denganmu.. Sangat sangat mengenalnya..

Tapi.. Apa benar kau tak mengingatku?

Apa aku benar-benar sudah gila? Kau bukan dia kan?? Kau tidak mungkin dia kan??? Karna Minseok.. Dia.. Namja itu.. Tidak akan pernah kembali padaku lagi.

 

 

“A.. Ah.. Annimnida.. Hanya saja.. Kau mirip dengan seseorang yang kukenal dulu..” Gumamku, namun sepertinya namja itu dapat mendengarnya dengan jelas.

 

 

Jeongmal??  Ah, keurae... Semoga kita bisa bertemu lagi agasshi. Anyeong…”

 

 

Entah untuk kesekian kalinya aku menghela nafas. Sosok ‘namja mirip Minseok‘ begitu saja hilang dibalik pintu cafe.

 

Tatapanku kembali kosong…

Helaan nafas kembali meluncur dari bibirku.

 

Bahkan satu tahun berlalu.. Semuanya terasa sangat berbeda. Orang yang dulu selalu membullyku, sekarang menarik tanganku dan membantuku bangkit. Orang yang kupikir akan terus kujaga sampai mati.. Justru malah lebih dulu meninggalkanku. Juga.. Orang yang dulu pernah mencintaiku, dan yang selama ini sesalu kucintai.. Nyatanya saat ini, detik ini, sama sekali tak mengenaliku.

 

Dia..

Namja itu.. Namja yang sangat mirip denganmu..

Kim Min Seok.

 

 

 

############################

 

Flashback on

(masih povnya chanseul)

 

 

 

 

“Yakk!! Haksaeng mesum!! Berhenti kalian disana eohh!!”

 

Sekuat tenaga, aku terus berlari mengejar segerombolan haksaeng dari sekolah lain yang berusaha melakukan pelecehan seksual di buss padaku. Aisshh.. Sekarang aku tahu kenapa teman-teman yeojaku tidak mau naik buss lagi. Ini pasti karna ulah haksaeng-haksaeng nakal itu..

 

 

“Yakk!! Jeongmalyo!!!!” Teriakku keras. Cepat kucopot sebelah sepatuku dan melayangkannya kearah mereka yang sedang mengatur nafas sejenak. Tak apa jika aku tidak berhasil menangkap semuanya.. Yang penting aku dapat menangkap salahsatu dari mereka.

 

 

 

BUKKKKK!!!!

 

 

 

“Arrggghhh…”

 

 

Mataku membulat. Bukan haksaeng-haksaeng nakal itu yang menjadi korban empuk sepatu kesayanganku, melainkan seorang namja yang memakai seragam yang sama denganku. Namja yang belum pernah kulihat sebelumnya.

 

Aku berdecak kesal. Haksaeng-haksaeng itu tertawa kemudian berlari menjauhiku dan namja tak kukenal yang masih saja mengelus kepalanya.. Tentu saja ia meringis.. Sepatuku memiliki hak yang cukup keras dan kuat. Kkekeke😄

 

Malas… *Meskipun sebenarnya aku ingin tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi korban sepatuku* Kuhampiri namja itu dan mengambil sepatuku yang tergeletak tak jauh dari tempatnya meringis.

 

 

“Aku tahu itu sakit.. Mianhamnida...” Ucapku enteng. Aihhh.. Aku tak tahu harus menunjukan ekspresi seperti apa padanya. Dan.. Sejujurnya.. Aku cukup kesal karna sepatuku tidak berhasil mengenai salah satu dari haksaeng nakal tadi.

 

Aku berbalik, berjalan menuju sekolah yang kurasa cukup jauh dari posisiku saat ini. Kupukul-pukul jidatku pelan.

Aiisshhh… Lagi-lagi karna haksaeng-haksaeng nakal itu. Aku terlalu bersemangat mengejar mereka sampai sejauh ini.

 

 

“Yakk!! Kau sebut itu permintaan maaf?? Seperti itukah??”

 

 

Kuhentikan langkahku dan berbalik. Menatap namja itu dengan tampang polosku. Dan masih dengan nada bicara yang sama, aku menjawab pertanyaannya yang lebih terdengar seperti hhmmm.. sebuah sindiran untuku.

 

 

“Eummm?? Ah, ne..”

 

 

Kembali aku berjalan. Dapat kudengar dia menggerutu dan berlari. Kearahku mungkin?

 

 

“Yakk!! Setidaknya kau harus mengajakku pergi kesekolah bersama..” Ucapnya enteng.

 

Eh? Apa maksudnya?

Otomatis langkahku terhenti begitu saja. Sementara namja itu masih terus melanjutkan langkahnya.

 

 

“M.. Mwo?”

 

“Aiisshh.. Kau haksaeng Myungdae High School kan?? Nado.. Hanya saja..”

 

“Kau murid baru, begitu?”

 

 

Kusejajarkan langkahku dengannya. Dia berdehem malas. Heeiii… Apa namja berpipi bakpau ini tidak suka bersekolah di Myungdae?? Bodoh.. Myungdae termasuk sekolah terbaik dengan biaya murah di incheon.

 

 

Aku hanya bisa menghela nafas menyetujui permintaannya. Ahh.. Bagaimanapun aku bersalah, dan ini juga tidak ada ruginya bagiku.

 

 

 

 

 

Tak ada yang spesifik dari sepanjang perjalanan kami menuju sekolah. Tentu saja.. Namja itu terus memainkan ponsel. Aku tak ingin membuang harga diriku untuk berbicara padanya. Cihhhh.. Tidak akan pernah!!

 

 

 

 

 

 

“Disana ruang kepala sekolahnya.. Hati-hatilah, dia mengerikan..” Jawabkuku sesampainya kami di gerbang Myungdae (bayangin aja bangunan Seungri High School di drakor School 2013). Sebelumnya, namja berpipi bakpau itu menanyakan ruang kepala sekolah, jauh sebelum kami sampai disini.

 

Namja itu tersenyum tipis mendengar ucapanku. Ahh, saat tersenyum ia terlihat mengagumkan..

 

Eh? Tunggu.. Apa yang kupikirkan. Bodoh!

 

Cepat kugelangkan kepala dan berlari munuju kelasku. Sejenak aku menoleh kebelakang. Hahhh.. Rupanya dia sudah masuk ke kandang macan. Hiiii…

 

 

Ah ya, aku lupa menanyakan namanya..

 

.

.

.

 

Tukk! Tukk! Tukk!

 

Kumainkan balpoin bosan. Tak bisanya Aeri dan Ahri *sikembar yang duduk didepanku* akur seperti itu. Tak biasanya juga Seo songsaengnim telat masuk kelas. Dan tak biasanya juga (lagi) Shin Sohyun sunbae tidak membully ataupun meminta setoran dariku. *sebenarnya aku sendiri heran.. Shin sunbae bukan orang serba kekurangan, keluarganya juga cukup terpandang.. Tapi anehnya ia selalu melakukan itu padaku dan beberapa teman-temanku yang lain. Apa ia membenciku??*

 

 

“Haksaeng!!” Suara menggelegar khas Seo songsaeng berhasil memecahkan keheningan kelas yang tak seperti biasanya (Lagi.. Lagi..). Aku merubah posisi dan duduk dengan benar. Jika tidak, habislah aku diterkam seo songsaeng. Dan sialnya lagi.. Aku duduk diurutan kedua terdepan. Dan lebih lebih lebih sialnya lagi.. Namja berpipi bakpau *korban sepatuku tadi* kini tengah mengekor dibelakang tubuh runcing(?) Seo songsaeng.

 

Ahhh.. Apa dia akan tinggal dikelas kami??

 

Dari sekian banyak kelas 2.. Kenapa dia harus masuk kelas 2-2 yang notabandnya adalah kelasku. Kelas sang pelaku pelemparan sepatu tadi pagi yang melibatkannya. Ya.. Ya.. Ya.. Dia memang tidak mempermasalahkannya… Tapi bukan berarti besok, lusa, dan seterusnya, dia tetap seperti itu.

 

 

“Anyeonghasseo.. Nan Kim Minseok imnida. Bagaseumnida..”

 

 

Namja berpipi bakpau itu membungkukan badannya. Hmm.. Minseok ya.. Dilihat dari reaksi para  haksaeng yang acuh tak acuh, sepertinya dia tidak akan nendapat banyak teman.

 

Ah!! Untuk apa aku memikirkannya.. Toh, itu sama sekali tak ada hubungannya denganku..

 

 

 

 

 

 

“Na wasseo..”

 

 

“Ahh.. Nunna!!” Pekikan Jin Goo berhasil menyambut kepulanganku dengan meriah. Aiisshh.. Jinjja!! Sebal, kulirik tajam namdongsaeng tersayangku itu lalu meletakan sepatu di rak dan.. Tunggu! Apa aku tidak salah lihat? Jin Goo..

 

 

“Yakkk!! Ada apa dengan wajahmu eohh!!”

 

 

Aku mendelik dan berlari mengejar Jin Goo yang mencoba melarikan diri melihat kemarahanku. Wajahnya.. Wajah Jin Goo.. Wajah dongsaengku yang tampan itu sekarang dihiasi lebam-lebam biru. Ahh, aku tahu.. Ini pasti ulah teman-teman satu genknya.

 

Tanpa pikir panjang lagi, kuambil gagang sapu dan menggedor kamarnya yang sudah terkunci rapat.

 

 

“Yakk.. Park Jin Goo-ya~ cepat buka pintunya sebelum nunna semakin marah..”

 

 

Terdengar runtukan Jin Goo dari dalam. Cihh.. Sudah salah, masih saja mau melarikan diri.

 

 

“Palli buka pintunya!!! YAKKK!! PARK JIN GOO!!!”

 

“Ahh, shireo!! Nunna pasti akan memukuliku dan menyuruhku keluar dari gank kan?!! SHIREO!!”

 

“APA KAU BODOH EOHH!! APA KAU INGIN MATI DIPUKULI??? KKA!! NUNNA AKAN MEMUKULIMU SAMPAI MATI.. KKA!!!!”

 

 

Hening~

Tak terdengar sepatah katapun dari dalam. Tunggu.. Aku seperti mendengar isakan. Apa Jin Goo menangis??

Aku memegang sebelah dadaku. Sesak… Tidak bolehkah aku melarang adikku bergaul dengan brandalan-brandalan kecil itu??

 

Kukerjapkan mataku, berusaha menahan air mata yang hendak keluar dari sana. Mengatur nafas, mencoba mengembalikan nafas normalku. Aku harus kuat.. Aku harus kuat agar dapat menjaga Jin Goo.. Aku harus kuat agar Jin Goo merasa aman denganku.

 

 

“Jin Goo-ya~ Apa nunna salah?? Hahh.. Harusnya saat itu nunna juga mati saja.”

 

 

“Ania.. Anni nunnaa.. Aku salah.. Aku yang salah.. Mianhae.. Jeongmal mianhae.. Jangan seperti itu. Aku akan melakukan apapun asalkan nunna memaafkanku lagi..” Rengek Jin Goo.  Aiihhhh… Bagaimana bisa namja cengeng sepertinya punya keberanian untuk masuk gank?? Dia benar-benar ingin mati!

 

“Keluar dari gank!! Kau harus keluar dari gank!”

 

“SHIREO!!”

 

“Kalau begitu keluar.. Kka.. KELUAR PARK JIN GOO!! AKU AKAN MEMUKULIMU SAMPAI MATI!! Mati sekarang maupun besok sama saja.. KAU AKAN MATI KARNA DIPUKULI BODOH!!!!”

 

 

 

(Esoknya….)

 

 

05.25  PM

 

 

Entah kenapa, pagi ini aku ingin sekali membuatkan sarapan untuk Jin Goo. Padahal aku masih kesal dengan kelakuan dan ucapannya semalam. Bagaimana ia bisa lebih memilih gank dan teman-teman nakalnya dibanding mendengarkan nasihatku..

 

 

Kucicipi sedikit masakan sebelum menatanya dimeja. Ahh.. Masshittta… Anak nakal itu pasti menyukainya. Ia sangat menyukai capcai daging.

 

 

“Nunna..” Gumam Jin Goo pelan, namun masih dapat kudengar. Aku menarik kursi untuknya. Parlahan ia mendekat dan duduk dukursi itu.

 

 

“Makanlah..”

 

 

Hening~

Kuhela nafas pertama kalinya pagi ini. Jin Goo sama sekali tidak menyentuh sendoknya.

 

Apa dia masih kesal padaku??

 

 

“Makanlah.. Kau harus tetap sehat, baru aboji dan eomma dapat tenang dan tersenyum disana… Sekalipun kau membenciku.. Sekalipun kau tidak menyukainya karna itu masakanku.. Kau tetap harus memakannya.” Ucapku sembari beranjak. Hahhh.. Sepertinya masakanku hari ini akan sia-sia..

 

 

“Kajima..”

 

 

Langkahku otomatis terhenti. Aku berbalik dan tersenyum menatap Jin Goo yang kini menundukan kepalanya.

 

 

“Temani aku makan, nunna..”

 

 

 

….

 

 

 

Class 2-2, Myungdae High School..

 

 

 

“Ketemu??”

 

Ahri menghampiriku yang tengah kalap mencari balpoin di depan kelas. Aku terduduk lesu. Tak banyak haksaeng yang peduli dengan kegiatanku.

 

 

“Opseo??” Tanyanya sekali lagi. Aku mengangguk lemah. Eottokhae?? Itu balpoin peninggalan ayahku.

 

 

“Aku yakin aku menaruhnya disela-sela komikku.. Bagaimana balpoin itu bisa hilang..” Ucapku frustasi. Tiba saat seseorang menghampiriku dan mengetuk-ketukan sepatunya membuatku otomatis mendongak. Dia si namja berpipi bakpau.. Kim Minseok.

 

“Kau mencari ini??”

 

Minseok menyodorkan benda yang sedari tadi kucari-cari. Cepat aku merebut balpoin itu dari tangannya.

 

“Ckckck.. Apa kau menamai semua barang-barangmu seperti itu..” Sindirnya. Aku menahan kesal. Memang.. Tulisan di balpoin itu agak sesikit narsis. Tapi bagaimanapun itu pemberian aboji. Aku sangat menyukainya…

 

 

“Ige.. Bagaimana bisa ada ditanganmu??”

 

“Menurutmu bagaimana Princess Park??”

 

“YAKKK!! Aku tanya.. KENAPA INI BISA ADA DITANGANMU EOHH!?!”

 

 

Semua pandangan haksaeng sontak menoleh kearah kami.

 

Ah, aku tak peduli.. Hari ini, habislah kau Kim Min Seok!!

 

Aku mulai bangkit dan menarik dasinya kasar. Kali ini Aeri menahan tanganku, meski tak berkata-kata.. Dari matanya saja aku yakin dia sedang mencoba mengingatkanku agar tidak bertindak hal-hal yang aneh. Aiissshhhh.. Aku ingat poin (nilai yang didapatkan jika seorang haksaeng melanggar aturan sekolah)  yang kudapatkan *karna sering datang terlambat* sudah menggunung. Jika aku melakukan tindak kekerasan disekolah, maka mereka tanpa segan-segan menendangku dari sekolah ini.

 

Yakk!! Mereka pikir apa alasanku selama ini selalu terlambat..

 

 

“Dengarkan aku, Minseok-ssi.. Sekali lagi kau menyentuh balpoin ataupun barang-barangku yang lain.. Aku tidak akan mengampunimu saat itu juga. Arraseo!!”

 

 

Kuhempaskan tanganku. Menatap tajam minseok yang bingung melihat tingkahku, dan berlalu begitu saja setelah mengemasi barang-barangku. Lagipula, jam pelajaran pokok sudah selesai.

 

 

“Kau tak mengikuti jam tambahan?? Sebentar lagi kita ujian kenikan kelas…”

 

“Katakan saja aku izin, Ahri-ah.. Jin Goo akhir-akhir ini sedang tidak sehat. Aku harus merawatnya..” Jawabku asal tanpa memandang Ahri dan Aeri yang kuyakin tengah berdiri dibelakangku. Samar-samar kudengar Minseok menggumamkan nama Jin Goo.

 

 

Cihh.. Apa maksudnya coba??

 

 

 

 

••beberapa hari berlalu••

 

 

 

 

Aku berlarian menuju gerbang sekolah. Sesekali melirik jam dipergelanganku. Aiisshhh.. Sepertinya hari ini aku terlambat lagi.

 

Benar saja..

Kim ajushi baru saja menutup gerbangnya saat aku berada beberapa meter dari sana.

 

Apa aku harus menaiki tembok pinggir sekolah lagi??

 

 

“Kau terlambat juga..”

 

 

 

 

Kutolehkan kepalaku, mencari asal suara yang mungkin berbicara padaku. Mataku menagkap sosok namja yang sangat kukesali saat ini. Setelah apa yang waktu itu ia lakukan, jangan harap aku akan berbicara padanya!!

 

 

Hiii.. Ternyata aku benar-benar mengerikan saat marah..

 

 

 

“Mianhamnida.. Aku tidak tahu balpoin itu sangat berharga bagimu.” Ucap Minseok -nanja itu- pelan. Aku sama sekali tak berniat menjawabnya.

 

 

 

GREPP..

 

 

“Yakk! Apa yang kau lakukan huh??” Teriakku spontan saat tangan Minseok menarik paksa tanganku.

 

 

“Aku akan menebus kesalahanku..”

 

“Mwo?? Yakk! Tidak perlu seperti ini.. Yakk!!”

 

 

Minseok dengan paksa mendorong tubuhku kedalam mobilnya. Aku tak menyangka dia sekaya itu. Tapi kenapa dia bisa terlambat dengan mengendarai mobil??

 

 

 

Eh? Tunggu!! Mau dibawa kemana aku??

 

 

 

“Karna gerbang sekolah sudah ditutup. Lebih baik kita memanfaatkannya untuk berjalan-jalan ke Lotte Word..” Tuturnya ramah. Ah.. Baiklah. Dengan begitu aku tidak perlu bertanya lagi padanya.

 

Tapi… Tidakkah itu terdengar seperti sebuah kencan??

 

 

 

……

 

 

 

Kami terdiam didalam bianglala tanpa sepatah katapun. Setelah tadi mencoba beberapa arena permainan, kurasa ini tempat terakhir.

 

 

Minseok, ternyata tak seburuk yang kupikirkan…

 

 

 

“Kau.. Kenapa begitu marah waktu itu??”

 

“N.. Ne??” Ucapku bingung, sedetik kemudian aku ingat kejadian beberapa hari lalu saat balpoinku ada ditangannya.

 

“Ah, itu.. Karna balpoin itu sesuatu yang paling berharga selain Jin Goo dihidupku.”

 

“Jin Goo??”

 

“Dia adiku.. Setelah kecelakaan beruntun yang kami alami 2 tahun lalu, Jin Goo lah alasanku tetap hidup. Dia tampan, seperti aboji. Aku menyayanginya.. Meski aku tidak pernah mengatakan itu langsung padanya. Tapi.. Aku bukan nunna yang baik. Aku tidak bisa benar-benar mendidik dan menjaganya..”

 

Kuhela nafas berat. Ah.. Tanpa kusadari, kami tengah berada dipuncak bianglala. Kuedarkan pandanganku melihat pemandangan dibawah.

 

Mataku menangkap segerombolan haksaeng sekolah menangah sedang memalak anak-anak lain yang dibawah umur mereka.

 

 

 

Tunggu! Bukankah itu Jin Goo..

 

 

 

Aku membulatkan mataku. Benar! Itu Jin Goo.. Aiisshhh.. Anak itu benar-benar.. Apa selama ini begitu kelakuannya!?

 

 

“Waegeurae??” Tanya Minseok penasaran. Aku menunjuk tempat Jin Goo dan ganknya beraksi(?).

 

“Dia.. Jin Goo. Aku harus menghentikannya..” Aku mulai beranjak dari tempat duduk, namun Minseok menahan tanganku.

 

“Kita sedang berada diatas, Chanseul-ssi..”

 

Ah.. Benar. Aku lupa.. -.-“)

Kembali kuposisikan duduk disampingnya lagi. Minseok menarik lengannya dan tersenyum canggung padaku.

 

 

Ada apa dengan anak ini??

 

 

 

….

 

 

 

“Jin Goo-ya! Apa yang kau lakukan eoh!?” Ucapku keras setelah kami berada ditempat Jin Goo dan ganknya.

 

 

“N.. Nunna!!”

 

 

Jin Goo membulatkan matanya. Teman-teman Jin Goo yang sebelumnya menatap kami bingung, sedetik kemudian mereka berlari menjauhi kami, termasuk Jin Goo. Beruntung Minseok menahan tangannya.

 

Jin Goo menatap tajam Minsok.

 

 

“Nugu?! Yakk.. Lepaskan aku..”

 

“PARK JIN GOO!!” Bentakku. Jin Goo terdiam. Aku benar-benar tak mengerti jalan pikirannya.

 

“Seperti inikah kelakuanmu? Nunna bekerja larut malam demi menyekolahkanmu.. Apa ini yang kau lakukan huh?? Bolos sekolah.. Tawuran.. Memeras orang lain.. APA KAU INGIN MENJADI BRANDALAN EOHH!!!!”

 

 

Kupukuli tubuh Jin Goo yang hanya diam. Minseok menghentikannya. Menyembunyikan tubuh Jin Goo dibalik tubuhnya.

 

 

“Minggir..”

 

“Chanseul-ssi..”

 

“KUBILANG MINGGIRR!!!!!!” Teriakku keras. Aku rasa saat ini banyak pasang mata yang menatap kearah kami. Kuhela nafasku.

 

 

“Park Jin Goo… kehidupan seperti inikah yang kau inginkan??”

 

Kutatap tajam Jin Goo yang masih terdiam dibelakang tubuh Minseok. Diam.. Berarti Ya.

Aku tersenyum sinis pada mereka.

 

 

“Ah.. Baiklah… Itu sudah cukup. Aku akan berhenti peduli padamu lagi.”

 

Aku berjalan meninggalkan Jin Goo dan minseok yang masih terdiam. Kupejamkan mataku. Membiarkan setetes air mata jatuh dari sana.

 

Ini yang terakhir..

Esok, lusa, dan seterusnya.. Tidak akan ada air mata lagi..

 

 

 

“Aku melakukannya untuk nunna!!”

 

 

Degg..

Langkahku terhenti. Itu suara Jin Goo..

 

 

“Aku tahu nunna mati-matian bekerja untuk menyekolahkanku… Aku tahu nunna menolak memindahkanku dari sekolah mahal itu.. Aku tahu nunna bahkan hampir setiap hari terlambat sekolah karna terlalu lelah.. Aku tahu walaupun nunna menyembunyikan semuanya.. Mianhae.. Meski ini cara yang salah, aku harus melakukan ini untuk meringankan beban nunna. Jeongmal mianhae..” Tutur Jin Goo dengan suara seraknya. Perlahan airmataku kembali jatuh. Ingin rasanya aku berbalik dan memeluknya. Tapi ini tak sedramatis di drama.. Ego dan kekecewaan jauh melebihi perasaan itu saat ini.

 

 

“Jin Goo-ya..” Lirihku pelan. Kuhela nafasku lagi sebelum melanjutkannya.

 

“Pulanglah.. Kemasi barang-barangmu. Bukankah kau lebih memilih gankmu dari pada aku..”

 

 

 

 

 

******

 

 

 

 

Aku mengambil sehelai roti di meja dan berangkat kesekolah tanpa sepatah katapun, melewati Jin Goo yang baru saja keluar dari kamar mandi.

 

Sudah beberapa hari aku tak berbicara dengannya. Meskipun rasa kesalku sudah mereda, tapi rasa kecewa tak bisa hilang begitu saja. Sebenarnya.. Bukan karna Jin Goo lebih memilih ganknya, melainkan karna aku tak dapat mendidiknya dengan baik seperti keinginan aboji. Ya.. Aku memang Nunna yang gagal..

 

 

Akhir-akhir ini juga hubunganku dengan Minseok membaik. Dia namja menyenangkan.. Aku nyaman berada didekatnya.

 

 

 

….

 

 

 

“Shin sunbae!!” Seruku saat menyadari Shin Sunbae lagi-lagi begitu saja membiarkanku lewat di koridor sekolah. Shin sunbae menoleh dan tersenyum ramah kearahku. Aneh..

 

Ah.. Mungkin dia sedang jatuh cinta. Yakk!! Aisshhh.. Apa yang kufikirkan. Sekarang bukan itu masalahnya.. Tapi.. Apa mungkin Shin sunbae bisa membantuku menangani Jin Goo??

 

 

“Sunbae.. Biasakah kita bicara??”

 

 

 

-Skip-

 

 

 

“Wae??” Tanya Shin sunbae ramah. Aku sedikit aneh dengan sikapnya sekarang. Tapi ini lebih baik daripada dia harus terus-menerus membullyku.

 

 

“Hhmm.. Sebenarnya banyak sekali yang ingin kutanyakan pada sunbae..” Ucapku ragu. Shin sunbae tampak mendengarkanku dengan seksama.

 

 

“Pertama.. Aku ingin tahu, alasan kenapa sunbae sangat kasar..”

 

“Bwahahaha.. Kapan aku kasar padamu??” Shin sunbae tertawa garing dan menoyor kepalaku keras.

 

Yakk!! Kupikir dia benar-benar berubah..

 

 

“Sunbae… Aisshhh..” Runtukku kesal. Shin sunbae mengentikan tawanya dan kembali bersikap ramah.

 

“Mianhae.. Hhehe. Aku bersikap seperti itu hanya sekedar pemberontakanku saja.” Ucapnya pelan. Aku menunduk. Apa Jin Goo juga sedang memberontak padaku??

 

“Wae?? Apa ada masalah dengan adikmu??”

 

Aku mendongak. Menatap Shin sunbae penuh tanda tanya.

 

“Bagaimana sunbae bisa tahu aku punya adik??”

 

 

Aku mengerutkan kening. Lagi-lagi Shin sunbae tertawa.

 

 

“Hanya menebak.. Dan, heii!! Siapa yang tidak tahu keluarga polisi Park yang terkenal di seantero Incheon ini.”

 

“Itu dulu sunbae.. Sekarang orang-orang mungkin sudah melupakan jasa-jasa aboji..” Lirihku.

 

Ya.. Sebelum kecelakaan beruntun itu terjadi… Aboji adalah seorang kepala polisi di Incheon. Saat itu, kami berencana mencari rumah dan sekolah tinggi favorit di Seoul untuku. Berulang kali aku menolak, namun aboji tetap tak ingin mendengarkan alasanku yang memang terlalu kekanakan. Aku.. Hanya tak ingin berpisah dengan Aboji, eomma, dan Jin Goo. Aku takut mereka meninggalkanku. Apa itu salah?

 

 

Naas.. Di perjalanan, mobil yang kami tumpangi ikut menjadi korban dari kecelakaan beruntun. Beruntung aku tidak mengalami luka yang begitu parah. Jin Goo.. Dia mengalami pendarahan kecil diotaknya. Tapi setelah operasi yang ia jalani, dokter bilang Jin Goo sudah sembuh total.

Dan.. Aboji, juga Eomma.. Mereka meninggal ditempat perkara. Saat itulah aku baru sadar… Aboji dan eomma benar-benar meninggalkan kami seperti yang aku takuti selama ini.

 

 

“Sudahlah.. Lupakan. Wae?? Apa yang terjadi dengan adikmu??” Ucapan Shin sunbae membuyarkan lamunanku.

 

“Hmm.. Kurasa dia sedang memberontak. Sama seperti sunbae waktu itu..” Ucapku lemah. Shin sunbae menepuk pundakku.

 

“Cobalah lebih perhatikan dia.. Mungkin dia seperti itu karna merasa kesepian.”

 

Aku mengangguk, merenungkan apa yang baru saja Shin sunbae katakan. Baiklah.. Sepulang nanti, aku akan membuatkan makanan kesukaan Jin Goo dan lebih memperhatikannya.

 

 

“Ah, ya.. Akhir-akhir ini aku rasa sunbae banyak perubahan. Apa sunbae sedang jatuh cinta??”

 

 

“M.. Mwo?? Ah.. Anni..”

 

 

Shin sunbae terlihat gugup menjawab pertanyaanku. Aku semakin curiga padanya..

 

 

“Biar kutebak.. Sunbae menyukai Aeri kan..” Ucapku asal. Wajah Shin sunbae memerah. Bahkan jika aku tidak menghindar.. Sebuah toyoran hampir saja mendarat lagi dikepalaku. Kurasa aku benar.. Waktu itu juga aku pernah melihat Shin sunbae tersenyum malu-malu pada Aeri. *tak apeu ditaksir Sohyun ajushi, yang penting eksis.. #plak!!😄

 

 

“Yakk!! Lalu bagaimana dengan haksaeng baru berpipi bakpau itu.. Kalian selalu bersama. Apa kalian sedang berkencan huh??”

 

 

Blusshh..

 

 

Kurasa kali ini wajahku yang memerah. Apa kami.. Aku dan Minseok terlihat begitu dekat??

A.. Aku bahkan tak tahu bagaimana perasaan Minseok padaku.

 

 

“A.. Anni.. Annia..”

 

“Ayolah.. Mengaku saja.. Baiklah.. Sebagai namja sejati.. Aku akui, aku menyukai Aeri..”

 

 

Aku tertawa mendengar pengakuan Shin sunbae. Begitupun Shin sunbae. Wajahnya seperti kepiting rebus, membuatku semakin tak bisa menahan tawa. Ternyata benar.. Kita tak bisa menilai seseorang hanya dengan melihatnya saja. Kadang.. Ada suatu sisi tersembunyi dalam diri seseorang yang belum tentu kita ketahui hanya dengan melihatnya. Seperti sisi lembut, rapuh, dan menyenangkan yang ada pada Sohyun sunbae.

 

 

Ah… Tapi.. Ada apa denganku? Kenapa hari ini aku begitu merindukan Jin Goo..

 

 

 

…..

 

 

 

Aku memandang rumah yang gelap. Berbagai pertanyaan dan firasat bermunculan dibenakku.

 

Kemana Jin Goo??

Apa yang terjadi padanya??

Apakah dia baik-baik saja???

 

Cepat aku membuka pintu rumah. Menyalakan lampu, dan mengecek seluluh ruangan. Mencoba mencari keberadaan Jin Goo.

 

Tiba saat sebuah pesan kuterima dari temannya…

 

 

From : Seung Woo (chingu Jin Goo)

Nunna.. Sesuatu terjadi pada Jin Goo..

Kami sekarang ada di RS Incheon.

 

 

 

Degg!!

 

 

Aku memegang dadaku. Tanpa pikir panjang lagi aku berlari, menghentikan taksi dan segera menuju RS.

 

Aku merasakannya.. Sesuatu yang buruk terjadi pada Jin Goo.

 

 

 

 

-Skip-

 

 

 

 

“Nunna..” Ucap Seung Woo sembari menyeka air matanya.

 

Meski berat, perlahan aku melangkah mendekati bangsal dimana Jin Goo tidur. Ku usap wajahnya yang penuh dengan luka memar.

 

“Yakk.. Jin Goo-ya.. Kenapa wajahmu sangat dingin??” Ucapku pelan saat merasakan wajah Jin Goo yang dingin seperti es.

 

Perlahan air mataku menetes begitu saja..

 

Jin Goo.. Dia tidak bisa tidur dengan selimbut setipis ini.. Bagaimana mereka begitu saja membiarkan nae Jin Goo tidur kedinginan seperti ini…

 

Annia.. Andwe.. Jeongmal andwe..

Mereka tidak benar.

Jin Goo.. Dia hanya tertidur. Ya.. Hanya tertidur.

 

 

“Jin Goo-ya.. Kau sangat lelah heumm?? Irona.. Kenapa kau tidur sangat nyenyak?? Jin Goo-ya.. Park Jin Goo.. Palli irona!”

 

Kuguncangkan tubuh Jin Goo yang tak merespon apapun dari perkataanku. Perawat-perawat pembohong itu menjauhkanku dari tubuh Jin Goo.

 

Andwe!! Jangan jauhkan kami.. JANGAN PISAHKAN AKU DAN JIN GOO!!!!

 

 

“Nunna..” Sekali lagi aku mendengar samar-samar suara Seung woo. Sebelum akhirnya aku melihat bayangan Jin Goo yang tersenyum.

 

 

Gomawo.. Dan mianhae nunna..

Aku, pergi..

 

 

Cahaya gelap mulai menghilangkan sosok Jin Goo dari bayanganku. Dan detik selanjutnya aku tak mengingat apapun lagi.

 

 

 

 

****

 

 

 

Aku terdiam disudut kamar Jin Goo. Memeluk lutut dan menenggelamkan wajahku disana. Air mata tak henti-hentinya mengalir dari kedua mataku. Aku pikir.. Aku akan gila. Bayangan Jin Goo yang menuliskan cita-citanya didinding kamar ini masih jelas diingatanku.

 

 

Aku ingin seperti aboji. Menjadi seorang polisi yang akan melindungi nunna seumur hidupku..

 

 

Itulah yang ia tulis.

Terlalu banyak kenangan dikamar ini.. Bagaimana Jin Goo mengeluh karna selimbutnya terlalu tipis..

Bagaimana Jin Goo memberantakan buku-bukunya dilantai hanya untuk mencari sebuah komik kecil..

Dan bagaimana Jin Goo selalu menangis di sudut kamar karna merindukan Eomma dan Aboji.

Semua bayang-bayang kejadian itu selalu berpitar dengan jelas di memory otakku.

 

Aku salah.. Aku yang salah.. Ucapan ‘Kau akan mati karna dipukuli’ bagaikan sebuah kutukan yang kuucapkan pada Jin Goo.

 

Ya.. Jin Goo.. Ternyata pendarahan diotaknya belum sembuh total. Aku bodoh!! Bagaimana bisa aku begitu kejam mengabaikannya saat ia mengeluh sakit kepala beberapa waktu lalu… Bagaimana bisa aku membiarkannya pergi kesekolah dan membuat Jin Goo dipukuli teman-teman ganknya lagi..

 

Jin Goo-ya.. Maafkan nunna..

Ini semua salah nunna..

 

 

 

…..

 

 

 

Drettt.. Drett..

 

 

Kulirik ponsel yang tergeletak disampingku. Entah untuk kesekian puluh kalinya Minseok menghubungi dan mengirim pesan padaku.

Aku tergerak mengangkat panggilan darinya.

 

 

‘Chanseul-ah..’

 

“Eottokhae?? Aku.. Aku yang salah.. Kenapa bukan aku saja yang mati.. Kenapa harus Jin Goo???!!!”

 

‘Kenapa kau harus mati huh?! Ini bukan salahmu.. Jangan menyalahkan dirimu sendiri!’

 

“Harusnya aku yang mati!!”

 

‘Yaakk!! Park Chan Seul!! Berhentilah berbicara omong kosong! Apa kau ingin aku mati karna menghawatirkanmu eohh!!’

 

 

Aku terdiam. Minseok.. Kenapa dia seperti itu padaku?? Kenapa dia peduli pada orang sepertiku???

 

 

‘Jin Goo.. Dia tidak akan senang melihatmu seperti itu. Ayo kita akhiri.. Park Chan Seul yang terpuruk, cukup sampai disini. Karna aku akan terus ada disampingmu..’

 

 

“Minseok-ah..”

 

 

‘Ayo kita berkencan. Saat Chan Seul yang kuat kembali.. Ayo kita kencan, seperti apa yang kita lakukan saat terlambat sekolah di Lotte Word.’

 

 

Aku kembali terisak. Kali ini karna ucapan Minseok yang begitu mempedulikanku. Apa aku harus percaya padanya??

 

 

 

 

*****

 

 

 

 

Aku melebarkan senyumanku. Pagi ini.. Sudah kuputuskan untuk mengakhiri keterpurukanku. Melewati gerbang sekolah dengan semangat. Ah.. Aku sangat merindukan kelasku.. Aeri.. Ahri.. Shin sunbae.. Guru-guru.. Juga.. Minseok. Aku sangat merindukan itu semua. Aku tak sabar mengucapkan ‘Ayo kita berkencan’ pada Minseok dan memberikan secarik kertas ini saat kita berkencan nanti.

 

 

Entah.. Apa ini hanya perasaanku saja. Suasana sekoalah terasa lebih asing dari biasanya. Begitupun saat aku memasuki kelas dan mengedarkan pandanganku, mencari sosok Minseok.

 

Opseo.. Aku tak menemukannya.

 

 

“Ahri-ah… Dimana minseok?? Apa dia belum datang??”

 

Ahri menatapku lamat. Bingung, sedih, dapat kulihat itu dari wajahnya. Perasaanku semakin tak enak..

 

 

“Kau benar-benar tidak tahu?? Minseok.. Semalam rumahnya kebakaran, Chanseul-ah..”

 

 

 

….

 

 

 

Aku menelusuri puing-puing bangunan rumah Minseok. Tubuhku melemas… Kertas yang sedari tadi kugenggam terjatuh begitu saja ketanah.

 

 

“Minseok-ah..”

 

 

Kata-kata Ahri terus saja terngiang ditelingaku.

Ada 2 korban disana.. Seorang namja dan yeoja. Polisi menduga itu jasad Minseok dan Eommanya.

 

 

Kembali aku meneteskan airmata..

Jin Go-ya..

Nunna.. Kehilangan lagi.

 

 

Eomma dan Aboji.. Aku kehilangan mereka sebelum sempat mengatakan ‘aku benar-benar menyayangi kalian..’

Jin Goo.. Aku kehilangannya sebelum kami sempat berbaikan..

Dan Minseok.. Aku kehilangannya sebelum kami sempat berkencan..

 

 

Inikah yang disebut akhir??

Seperti inikah yang orang-orang katakan?? Benar.. Happy ending hanya ada didalam dongeng dan drama..

 

Tapi.. Kenapa akhir seperti ini harus terjadi padaku lagi??

 

Minseok-ah.. Kurasa aku benar-benar akan gila setelah ini..

 

 

 

 

Flashback off

 

#############################

 

 

 

Waktu mungkin dapat mengambil seseorang yang kita cintai..

Waktu mungkin akan mempertemukan kita dengan seseorang yang sangat sama dengan seseorang dimasa lalu kita..

Waktu juga mungkin dapat merubah pikiran dan hati semua orang…

 

Tapi tidak denganku. Karna aku sangat mengetahui hatiku lebih dari siapapun..

Hati yang dipenuhi rasa kecewaku padanya…

Hati yang dipenuhi rasa rinduku padanya…

Juga hati yang dipenuhi rasa cintaku padanya…

 

 

 

..

 

 

“Meskipun ini mustahil. Tapi selama jodohku belum datang mencariku.. Aku akan tetap mencintainya.” Ucapku pelan. Xiumin masih tetap memandangiku. Aku tak tahu apa arti dari pandangan itu…

 

 

Aku mulai beranjak meninggalkan Xiumin. Namja yang sangat mirip dengan Minseok… dengan antengnya dia mendengarkan semua ceritaku.

Bodoh jika aku berkata aku tidak menyukainya…

Tapi.. Meskipun wajah mereka, nama panggilan mereka, dan cara tersenyum mereka sama… Bukan berarti aku bisa begitu saja mencintai Xiumin, seperti aku mencintai Minseok.

 

 

Chan Seul POV end

 

 

 

 

 

Beberapa hari sebelumnya..

 

 

 

 

 

Flashback on

 

 

Aomori, Jepang.. 19 April 2013.

 

 

 

Kim Min Seok… Neaga neol saranghae.. Jeongmal jeongmal saranghae..

(Seseorang yang mungkin kau cintai, dan selamanya akan mencintaimu..

 -Park Chanseul-

21 April 12)

 

 

 

Seorang namja menatap lamat secarik kertas yang ada ditangannya. Perlahan ia menghela nafas dan ternsenyum.

 

“Siapa dia? Kenapa aku sangat menyukai tulisan tangannya??”

 

 

 

“Xiumin-ah..”

 

 

Namja itu mendongak, seorang ajhuma tersenyum memandanginya. Senyuman mereka terlihat sama…

 

 

“Sudah saatnya kita pulang.. Kka..” Ucap ajhuma itu lembut. Terlihat beberapa koper besar sudah berjejer rapi dibelakang tubuh kecil nan rapuhnya.

 

 

“Kita akan kemanna eomma??” Tanya putra semata wayangnya polos.

 

Incheonn.. Korea Selatan... Kita akan pulang kesana. Kau bisa menemuinya. Seseorang yang menulis note itu untukmu…”

 

 

Flashback off

 

 

 

And

 

 

 

The End ^^

 

Jangan minta squell ne….. ^^

Idenya udah mentok sampe sini soalnya..

4 thoughts on “Monodrama – FF EXO oneshoot

  1. Waaa baru baca tapi ceritanya benar2 bermakna, penyesalan selalu datang belakangan kalo di depan perkenalan namanya hohoh… Raasa sayang itu perlu diungkapkan jangan sampai terjadi lgi hanya karna kesalahpahaman…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s