The Music of Love (Part 13-END)

TMOL13

The Music of Love

by: Tya Siti

 

Pemain:                                                                

Shim Chang Min (TVXQ) sebagai Kang Hyun Jae

Jung Yun Ho (TVXQ) sebagai Kang Hyun Woo

Seo Jo Hyun (SNSD) sebagai Song In Hee

Member Super Junior dan SNSD

 

 

 

 

 

PART XIII

                      

Aku menanti

Menanti di pojok langit berwarna jingga

Aku menanti

Menanti di tengah kelabu titik-titik hujan

Aku menanti

Menanti di bawah kelabu langit malam

Aku menanti

Menanti di iringi detik-detik jam yang mendentang

Aku menanti

Menanti pancaran cahaya kuning hangatmu diufuk timur

Aku menanti

Menanti di temani dengan titik-titik embun

Aku menanti

Menanti dengan bau tanah yang menyegarkan

Aku menanti … aku menunggu

Aku menanti

Menanti waktu mengarah padaku

Menanti waktu memelukku

Menanti waktu memihakku padaku

Menanti … menantimu

Menanti kau datang menghampiriku

Duduk disampingku

Menggenggam tanganku

Dan bersandar dalam pelukku

Aku menanti

Menantimu memancarkan sinarmu

Senyummu padaku

Aku menanti

Menanti untuk menyatakan kata tertahan ini

Mengatakan kata cinta

Aku cinta padamu

Itu adalah lirik lagu yang Hyun Jae ciptakan untuk nada yang telah aku ciptakan. Ia begitu sempurna menciptakan lagunya. Benar-benar sama dengan yang aku yang aku inginkan bahkan lebih. Dan itu artinya tujuanku telah tercapai. Aku telah menyelesaikan lagunya. Maka ini saatnya aku untuk pergi ke duniaku yang sesungguhnya.

Tapi, Tuhan memang begitu baik. Ia memberikanku waktu kembali untuk menyampaikan kata perpisahan pada orang-orang yang sangat aku sayangi. Hanya dua orang. Dan aku memilih dua bersaudara yang berkarisma itu. Hyun Woo dan Hyun Jae.

***

Lelaki ini. Dia tengah terduduk dengan wajah yang tak dapat aku tebak apa yang tengah ia rasakan sekarang. Wajahnya. Sejak dulu aku tak pernah dapat mengerti arti diam dari dirinya. Yang aku tahu dari dia adalah dia lelaki yang selalu memberi kehangatannya untukku. Selalu melindungiku dengan senyumannya. Kang Hyun Woo.

Seorang anak berusia tujuh tahun yang bisa membuatku nyaman berada didekatnya saat aku harus kehilangan lelaki paling berharga bagi diriku. Lelaki yang selalu meminjamkan dadanya saat aku lelah dengan hidupku. Lelaki yang selalu bersabar atas sikap diamku. Lelaki yang selalu meminjamkan lengannya untuk menjadi ganti mulutku. Lelaki yang bagai sebuah pelangi yang muncul setelah hujan lebat yang turun dalam hidupku. Lelaki ini.

 “Hyung.” Hyun Jae datang dan duduk disampingnya. Dia memberikan sebuah kertas pada Hyun Woo. “Ini mungkin lagu yang dibuatnya untukmu.” Hyun Jae bangkit dan pergi.

Kertas itu. Itu adalah kertas milikku. Kertas yang didalamnya terdapat nada yang telah diberi lirik oleh Hyun Jae dengan begitu sempurna. Lagu itu. Itu memang untuknya. Ungkapan rasa dari hatiku. Aku tersenyum melihatnya.

“Ini saatnya kita untuk bertemu, Hyun Woo-ah.” Aku meletakkan tanganku didepan wajahnya.

Dia memegang tanganku. Dia membuka matanya. Aku tersenyum padanya.

“Hyun Woo-ah.” Aku memanggil namanya. Ini pertama kalinya aku memanggilnya dengan mulutku.

Dia tersenyum. Dia menarik tubuhku kedalam pelukkannya. Aroma tubuhnya. Baunya masih sama seperti dulu. Dia memelukku erat.

“In Hee-ah, kau tahu aku sangat merindukanmu.” Ucapnya. Aku mengangguk dan membalas pelukkannya.

“Hyun Woo-ah. Hyun Woo, nado. Aku juga sangat merindukanmu. Hyun Woo-ah, kau sudah mendengarnya? Itu adalah nadaku dan adikmu dia membuatnya lebih sempurna dengan liriknya. Hyun Woo-ah, mianhae. Mianhae membuatmu menunggu terlalu lama.”

Dia melepaskan pelukkannya. Memandang wajahku lekat.

“In Hee-ah, kenapa harus dia?”

Aku tersenyum tak menjawab. Karena kami sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Hyun Jae dan aku. Kami ditakdirkan. Dari awal dan hingga akhir. Oleh diam, sepi, musik, gitar, kemarahan, kekecewaan, dan kematian.

“Hyun Woo-ah.” Aku mendekatkan telingaku padanya. “Saranghae.”

Dia menatapku. Aku tersenyum. Kata itu. Itu kata yang selalu ingin aku katakan padanya. “Saranghaeyo.”

“Nado. Nado saranghae.” Dia tersenyum. Kini kami saling berpandangan.

“Hyun Woo-ah, mengapa sekarang kau tak mencimku? Bukankah sepasang kekasih boleh melakukan hal itu?” Dia terbelalak. “Hyun Woo-ah, cium aku. Kau tahu waktu kita sudah tidak banyak.” Ucapku.

 Dia mendekatkan bibirnya pada bibirku. Menciumku hangat. Aku memegang tangannya. Waktuku sudah berakhir. Aku melepaskan ciumanku. Memandangnya dan tersenyum.

“Hyun Woo-ah, ini sudah waktunya.” Aku menatapnya. “Dulu aku tak sempat mengucapkan kata perpisahan. Tapi sekarang aku akan mengatakannya. Hyun Woo-ah, baik-baiklah. Tetap tersenyum. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.” Aku mengecup rahang kirinya. “Kau tahu? Itu adalah bagian yang sangat aku sukai dari dirimu. Tanganmu. Terimakasih untuk segalanya.” Dia hanya terdiam. “Kau tahu saat kau tak berbicara padaku aku sangat merasa kesepian. Tidak bisakah aku mendapatkan pelukanmu?”

Dia memeluk tubuhku erat. Sangat lama. Aku melepaskan pelukanku. Waktuku telah berakhir dengannya. Aku meletakkan tanganku di depan wajahnya lalu menghilang.

***

Kamar ini. Seperti inikah kamarnya? Kamar yang hanya temboknya sajalah yang dapat aku lihat dulu. Kamar yang menyimpan banyak rasa sakit dan sepi yang dimiliki pemiliknya. Kamar ini, kamar yang selalu saja tertutup saat aku melewatinya dulu. Kamar yang pemiliknya hanya mengizinkanku untuk melihat sebuah punggung kecil saat kamar ini terbuka. Kamar ini. Tembok ini. Tembok takdir kami. Tembok yang menjadi jembatan kami untuk dapat saling memahami dari sebuah diam.

Kamar yang pemiliknya merasa ia tak tepat waktu lahir kedunia. Kamar ini. Pemiliknya lahir saat Appa-nya begitu berduka dengan kepergian sahabatnya. Membuatnya selalu tak sanggup melihat wajah pemilik kamar ini. Terlalu mirip. Setiap jengkal tingkah dan sikapnya, terlalu mirip dengan Song Si Won. Sahabatnya.

Aku duduk di tepi tempat tidurnya. Memandangi setiap senti kamar ini. Sangat gelap. Ia sangat menyukai gelap. Kang Hyun Jae.

Aku tersenyum sangat manis. Menyambut seseorang yang datang ke kamar. Sosok itu. Lelaki yang begitu tinggi dengan wajah angkuhnya. Dia terdiam ditempatnya. Menatapku begitu dalam. Dia melangkah mendekatiku dan memelukku sangat erat dan benar-benar sangat erat.

“Hyun Jae-ah.”  Dia tetap memeluknya. Tak menjawab. “Hyun Jae-ah.” Dia memererat pelukannya. Semakin erat. “Hyun Jae.” Dia tetap diam. Hanya pelukannya saja. Dia semakin erat memelukku. Aku membalas pelukannya. “Hyun Jae. Hyun Jae. Hyun Jae-ah.”

“Hyun Jae-ah, aku sangat merindukanmu.” Ucapku. Dia melepaskan pelukannya. “Hyun Jae-ah, aku sangat merindukanmu.” Dia terdiam. Aku menatapnya dan tersenyum. “Kau tak percaya? Apa kau ingin tahu seberapa banyak aku merindukanmu?”

Dia hanya terdiam. Aku tersenyum. Memegang wajahnya. Wajah ini. Aku sangat merindukan wajah ini. Dahinya yang selalu ia tutupi dengan rambutnya. Matanya, mata yang selalu menatap mataku dalam. Pipinya, pipi pertama yang aku kecup. Hidungnya, dagunya, dan bibirnya. Aku mengecup setiap jengkal wajahnya. Wajah angkuhnya yang begitu aku suka. Wajah angkuh yang begitu aku rindukan. Wajah yang selalu ingin aku lihat setiap detik yang aku miliki.

“Sebanyak itu. Kau percaya?” Ucapku. Tanganku masih memegang wajahnya.

Dia menatapku dalam. Dia menyentuh wajahku lembut dengan kedua tangannya. Mendekatkan dahinya pada dahiku.

“Dan kau tahu, seberapa dalam aku merindukanmu?” Ucapnya.

Dia mencium bibirku lembut. Aku menikmati lembut bibirnya. Ciuman ini. Aku tahu, dia amat merindukanku. Sangat. Aku menikmati ciumannya. Aku memejamkan mataku. Melingkarkan tanganku lehernya.

Semuanya begitu hangat. Begitu terasa jelas. Tanpa melalui kata-kata. Aku melepas ciumannya. Dia masih memejamkan matanya. Tahukah dia? Sekarang ini dia terlihat begitu tampan.

“Hyun Jae-ah.” Aku menyentuh wajahnya. Dia menggenggam tanganku. Menciumnya. “Hyun Jae.” Dia membuka matanya. Dia tersenyum padaku. “Hyun Jae-ah, apa kau sangat lelah? Pasti sangat lelah.” Aku membenarkan posisi dudukku agar lebih nyaman, mempersilakannya untuk berbaring dipangkuanku.

“Aku sangat lelah. Sangat lelah.” Jawabnya. Ia memegang dadanya. “Disini.” “Berbaringlah!” Dia membaringkan kepalanya dipangkuanku.

“Kau sangat lelah? Aku akan memberikan banyak energi padamu.” Aku menjelajahi setiap jengkal wajahnya. “Hyun Jae-ah, bentuk wajahmu sangat indah. Tapi kau sangat terlihat sombong. Terlalu menyebalkan. Perbanyaklah tersenyum. Ok?”

Dia menarik wajahku mendekat ke wajahnya. “Itu tak penting. Setidaknya hal itu yang membuat kau menyukaiku. Eh, apa tadi kau bilang? Memberi banyak energi padaku? Bagaimana caranya?”

 “Kau ingin seperti apa? Dasar otak mesum.” Aku membenarkan kembali posisi tubuhku.

“Hei, baiklah. Mari kita ganti posisi.” Dia bangkit dan menarik berbaring di kasur. Kini tubuh kami saling berhadapan. Dia mengusap wajahku lembut.

“Berapa lama? Hingga kapan aku bisa melihatmu?”

“Nikmatilah waktu yang ada. Sekarang. Soal waktu kedepan aku tak tahu. Aku bukan Tuhan. Eoh?” Aku menggenggam tangannya erat.

“Baiklah. Kalau begitu, beri aku energi aku sangat lelah. Aku tak memiliki tenaga sekarang.” Ucapnya manja.

“Ish, kau. Apa yang kau mau?”

“Cium aku lagi!”

Dasar laki-laki mesum. “Mwo?”

Dia memanyunkan bibirnya dan mengarahkannya lebih dekat lagi padaku.

“Baiklah.” Aku mendekatkan tubuhku lebih dekat. Aku mengecup keningnya.

“Hei, bukan ini. Tapi ini.” Dia menunjuk bibirnya. Aku menatapnya kesal. Dasar mesum kau kan lebih muda dariku. Ya, mesum.

Dia menarik kepalaku mendekat dan mencium bibirku. Sangat lama. Hyun Jae, kau benar-benar mesum. Sangat. Tapi kau tahu? Aku sangat menikmatinya. Setiap detiknya. Sentuhan bibirmu itu.

“Apa sudah cukup?” Ucapku saat ia telah mengakhiri ciumannya. Dia menggeleng. “Kau memang benar-benar mesum.” Aku memandangi wajahnya. Bibirnya. Bibirnya basah. Masih belum menyadarinya kah dia. Saat bibirnya basah, ia terlihat begitu seksi. ”Hyun Jae. Jangan pernah membuat basah bibirmu di depan wanita lain. Aku tidak menyukainya.” Aku mengusap bibirnya lembut dengan jempolku. “Kau tahu, itu adalah saat kau terlihat sangat seksi.”

“Jinja?” Tanyanya. Aku menganggukkan kepala. Dia memelukku erat.

“Hyun Jae-ah.”

“Eoh?”

“Hyun Jae-ah.”

“Eoh?”

“Kang Hyun Jae.”

“Eoh?”

“Tidak. Aku hanya ingin memanggil namamu saja. Kau tahu, namamu bagus. Kang Hyun Jae.”

“Song In Hee.”

Aku tersentak. Dia memanggil namaku. Dadaku sesak di buatnya. Ini pertama kalinya dia memanggil namaku. Aku melepaskan pelukkannya. Menatapnya dalam.

“Song In Hee. Song In Hee.” Aku menggenggam jemarinya kuat. “Song In Hee. In Hee-ah.”

Dia menutup mata setelahnya. Dia pasti benar-benar sangat lelah. Bodoh. Tidak tahukah ini adalah hari terakhir kita? Setelah ini aku tak tahu apakah kita bisa bertemu lagi atau tidak? Dasar bodoh. Aku memandangi wajahnya.

“Hyun Jae-ah, kau masih bisa mendengarku?”

“Eoh?” Ucapnya dengan sisa-sisa nyawa yang ia miliki.

“Kau tahu. Aku memiliki kabar baik untukmu dari Tuhan. Dia bilang, kau harus berbahagia dan menjalani hidupmu dengan baik mulai besok, karena Appa-mu, dia akan memberikan kebebasan untukmu. Kebebasan dalam jalan hidupmu. Kau dengar?”

“Eoh.”

“Hyun Jae?” Tak ada jawaban. Sepertinya ia sudah benar-benar tertidur. Aku menggengam jemarinya lebih erat. Memandangi wajahnya. “Hyun Jae-ah, mianhae. Mianhae, membuatmu menderita karena harus menunggu seorang diri. Mulai sekarang, aku mohon, jangan pernah bersembunyi lagi karena semakin kau bersembunyi maka yang kau rasa adalah sepi. Nikmati kehidupanmu.” Aku terdiam. Terus memandangi wajahnya.

“Hyun Jae-ah, kau tahu? Aku sangat takut. Takut karena setelah ini aku tak akan melihatmu. Kau tahu aku harus menerimanya walau aku tak mau. Aku harus menerimanya kalau kita akan berakhir. Hyun Jae-ah, mianhae karena membuat jalan hidupmu menjadi aneh. Gomawo, karena kau telah menjadi takdirku yang paling indah. Hyun Jae-ah, saranghae.” Aku mengenggam tangannya erat dam memejamkan mataku. Aku telah siap sekarang untuk segala keputusan Tuhan untukku setelah ini.

***

“Kau percaya pada takdir, In Hee-ah? Appa percaya pada takdir. Pernah ada yang berkata, ketika seseorang yang berharga dalam hidupmu pergi, maka akan datang seseorang yang baru dalam hidupmu untuk menjadi seseorang yang lebih berharga lagi. Takdir adalah rencana Tuhan, yang telah di buatnya dengan begitu banyak perhitungan yang sangat tepat dan rumit, yang manusia tak akan pernah tahu sebelum ia menjalani takdir itu. Kau tahu? Apa kau juga percaya pada takdir seperti Appa?”

“Eoh, aku percaya pada takdir, Appa. Aku kehilangan dirimu dan Tuhan mengirimkan Hyun Woo Appa dan juga keluarganya yang begitu baik. Aku harus kehilangan suaraku dan Tuhan memberi lengan Hyun Woo sebagai gantinya. Aku kehilangan kesempatan pertamaku dan Tuhan memberikan kesempatan keduanya. Hyun Woo Appa kehilangan Appa dan Tuhan mengirimkan Hyun Jae untuknya. Appa, aku percaya pada takdir. Seperti halnya dirimu. Takdir yang mempertemukanku dengan Hyun Jae. Bukankah kita hanya perlu memejamkan mata, diam, dan rasakan bahwa di sekeliling kita ada orang-orang yang sangat berharga untuk menggantikan seseorang yang pergi itu. Bukan menggantikan hanya untuk membuat keadaan seimbang kembali.”

==== the end ====

One thought on “The Music of Love (Part 13-END)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s