Ohae Hajimaseyo, Hyung! Jebal… Part 10

OHH10

 

Ohae Hajimaseyo, Hyung! Jebal… Part 10

 

Author                       : Whindalee

Cast                            :

         Leeteuk as Cho Jung Soo / Leeteuk

         Donghae as Cho Donghae

         Kyuhyun as Cho Kyuhyun

Support Cast            :

         Ajusshi Lee (OC)

         Siwon

         Ryewook as Kyuhyun’s Friend

         Han Hyu Ra & Cho Min Soo (OC) as Kyuhyun’ seomma&appa.

Genre                        : Brothership, Tragedy, Angst, Family, Friendship, Hurt, & Sad.

Length                       : Continue

 

Sebelumnya…

 

“Apa yang akan kau pilih, Hae? Kau masih ingin tinggal disini, bukan? Oh ne, Ajusshi Lee… Mulai saat ini kuberikan kau tugas tambahan untuk menjaga Donghae agar ia tidak mendekati anak itu ataupun kamarnya. Jika tidak! Kalian akan tahu resiko apa yang pantas untuk kalian terima!”

 

Donghae benar-benar sudah tidak bisa berkutik hingga ia hanya bisa menuruti keegoisan Jungsoo dan aku juga menuruti apa yang ia perintahkan, karena jika tidak aku takut Kyuhyun akan menghadapi Leeteuk seorang diri.

“Kurasa pembicaraan ini cukup! Jangan sampai aku harus mengucapkan kata-kata itu lagi! Ini hanya membuang-buang waktuku… Keluarlah!!”

 

Selanjutnya…

 

Beberapa hari kemudian

 

04.35 p.m. KST

 

Donghae Pov

 

Kuhempaskan tubuhku kesofa yang letaknya begitu dekat dengan jarak kakiku, kukendurkan pula dasi hitam bergaris silver yang satu hari ini telah mencekik leherku hingga bentuknya tak lagi beraturan. Dengan nafas yang lelahpun tak ada habisnya kuhempaskan berkali-kali karena teringat akan satu hal.

Setelah kuketahui penyakit Kyuhyun yang sebenarnya, aku hanya bisa berdiam diri bagai orang yang bodoh. Tidak ada satupun yang mampu kulakukan untuknya. Meskipun dari dalam hati masih tersisa rasa benci padanya, namun rasa ibaku tiba-tiba menghancurkan segalanya dan nyaris saja juga akan menghancurkan masa depanku.

Masih teringat olehku kata-kata Teuki hyung yang jelas-jelas mengancam itu, sehingga membuatku bimbang pilihan mana yang harus kuambil. Disisi lain aku begitu ingin berada disampingnya untuk meringankan sedikit sakit yang ia rasakan selama ini, akan tetapi disisi lain pula aku harus tetap mempertahankan asset keluarga yang sebagian merupakan milikku. Aku tidak mau terusir dari rumah ini, apalagi jika sampai menjadi gelandangan.

 

Setelah beberapa saat kuberbaring, baru kusadari kondisi rumah saat ini benar-benar sepi. Bahkan tidak ada satupun pelayan yang kulihat menyambut kedatanganku. Jika hal ini terjadi pada Teuki hyung, maka semua pelayan dirumah ini bisa saja dipecat dengan mudahnya.

 

“Teuki hyung…. Ajusshi Lee….” Panggilku berulang-ulang. Tapi tak ada sedikitpun sahutan mereka untukku dan kupikir ini suatu kesempatan yang baik agar kubisa melihat keadaan Kyuhyun dikamarnya walaupun hanya sebentar.

 

Dia pasti begitu kesepian….

 

Sebab yang kutahu dari Ajusshi Lee bahwa Kyuhyun telah memutuskan untuk berhenti kuliah mengingat kondisi tubuhnya yang sudah tak lagi memungkinkan untuk melakukan hal-hal seperti itu. Teman semasa kecilnya, Ryewook juga jadi lebih sering mengunjungi Kyuhyun setiap harinya selepas jam kuliah.

Semakin lemah dan semakin lemah, itulah yang pernah Ajusshi Lee katakan padaku. Mungkin saja jika aku berada diposisi Kyuhyun saat ini, aku tak akan sanggup menjalaninya dan tindakkan yang akan kuambil bisa saja menyudahi hidupku dengan cara bunuh diri. Karena buat apa aku terus mempertahankan hidup jika harus terus menerus tersiksa seperti ini.

Tapi lain halnya dengan Kyuhyun, ia akan terus bertahan meskipun seberapa sulitnya cobaan yang ia hadapi dengan ditemani senyuman ceria yang menghiasi wajahnya. Dongsaengku itu… Dia memang hebat, ia bahkan lebih kuat dariku.

 

Kakiku mulai melangkah menaiki anak tangga dengan debaran jantung yang berdetak luar biasa. Takut-takut niatku kali ini diketahui oleh Teuki hyung dan jika hal itu sampai terjadi, maka habislah aku….

 

***

 

Wajahnya yang sedang tertidur memperjelas bentuk wajahnya yang kini mengurus. Tulang pipinya nampak terlihat menghiasi wajah Kyuhyun saat ini. Mataku yang semula mengering kini dipenuhi air mata begitu saja tanpa bisa kutahan sebelumnya. Setetes demi setetes buliran bening ini mengalir berlombaan melewati pipiku. Kulihat keningnya tiba-tiba saja berkerut, membuatku cemas dan sedikit mendekatinya lagi.

“Kyu, apa kau bermimpi buruk?” Gumamku pelan.

“Selama ini kau pasti telah melalui kesedihan dan kesulitan seorang diri. Mianhae.. Jeongmal mianhae… Karena aku tak bisa melakukan apapun untukmu. Aku memang hyung yang pabo, Kyu. Aku bahkan tak bisa disampingmu utnuk berbagi rasa sakit, sedih, ataupun sepi bersama. Mian, Kyu…”

 

Kutatap langit-langit kamar sekaligus memperhatikan kesekeliling ruangan. Semenjak 4 tahun terakhir baru kali ini kuinjakkan kaki dikamarnya. Aku merindukan semuanya, aku merindukan tawa kebersamaan dan mungkinkah kita bisa kembali seperti dulu? Jauh sebelum eomma dan appa pergi meninggalkan kita?

“Kyu, sungguhkah kau akan menyusul mereka? Benarkah kau juga akan meninggalkan kami? Aku sungguh tak menyangka kalau kau yang harus menerima kenyataan seperti ini?”

“Kenapa bukan aku saja yang terkena penyakit itu? Aku bukanlah orang yang dipenuhi  rasa bersyukur sepertimu. Aku tak pernah mengucapkan kata terima kasih pada seseorang yang telah melakukan sesuatu untukku. Aku tak pernah mengucapkan kata maaf pada seseorang disaat aku melakukan sebuah kesalahan. Seharusnya aku yang menerima itu semua, Kyu. aku pantas mendapatkannya!”, isak tangisku ini mungkin saja terdengar hingga keluar ruangan sampai membuatku harus membekap mulutku dengan tangan.

Kemudian kubungkukkan sedikit badanku padanya dan keluar kamar dengan mata yang masih berair. Sebenarnya aku ingin berlama-lama disana, mengelus-elus kepalanya atau mungkin membenarkan posisi selimutnya. Namun, aku tak sanggup karena keitka melihatnya air mataku akan mudah terjatuh tanpa bisa ditahan.

 

Saat menuruni anak tangga dengan air mata yang belum kuseka. Langkahku terhenti ketika mendapati Leeteuk hyung berdiri dilantai dasar dengan kedua tangan yang ia lipat serta tatapan matanya yang sangat tajam. Ajusshi Lee yang datang menghampirinya pun langsung terkejut ketika melihatku berdiri ditengah-tengah anak tangga.

“Darimana kau?!”

“……….” Aku diam karena untuk berbohongpun akan terasa percuma.

“KAU BARU SAJA DARI KAMAR ANAK SIAL ITU, BUKAN?”

“………”

“JAWAB AKU, DONGHAE!!”

“Mian, Tuan Muda. Aku yang mengizinkannya ke kamar Kyuhyun-ssi. Kurasa ia perlu melihat keadaan dongsaengnya.” Ucap ajusshi berbohong demi melindungiku.

“Eoh, ajusshi…” Ucapku berusaha mencegahnya.

“Ini kesalahanku, Tuan muda. Tolong jangan hukum Donghae-ssi…!”, Ajusshi Lee membungkuk begitu rendah hingga akupun langsung menghampirinya dengan berlari. Karena bagiku dengan ia membungkuk rendah seperti itu, maka itu sama saja merendahkan dirinya sendiri.

“KENAPA KAU BEGITU LANCANG??! SESUAI DENGAN PERKATAAN YANG PERNAH KUUCAPKAN, KAU KUPECAT!!!” Bentak Teuki hyung sangat marah.

“HYUNG! INI BUKANLAH KESALAHANNYA..! AKU SENDIRI YANG MAU MELAKUKAN INI. AJUSSHI LEE BAHKAN TIDAK TAHU KALAU AKU KE KAMAR KYUHYUN…” Ucapku keras balik membentaknya.

“KAU BERANI MEMBENTAKKU!!!”

“Hyung, jebal.. Kita sudahi saja semua ini. Kita mulai segalanya dari awal. Apa kau tega melihat Kyuhyun terus menderita seperti itu?! Dimana hatimu sebagai seorang hyung.” Ujarku yang kali ini terang-terangan membela Kyuhyun.

“Aku memang tidak punya hati, Hae! Yang ada hanyalah rasa benci, dendam dan dengki yang kumiliki. Tapi satu hal yang perlu kau tahu, aku bukanlah pembunuh seperti anak sial itu.”

 

 

“Hyung…..”

 

Terdengar suara parau lemah dari lantai atas hingga membuat kami menoleh keasal suara tersebut. Ketika tahu suara siapa itu, aku meringis sedih saat melihat Kyuhyun berusaha menuruni anak tangga satu persatu sambil memegang pinggiran tangga. Ajusshi yang melihatnya pun, segera menghampirinya untuk membantu, tapi Kyuhyun langsung menolak.

“Aku bisa sendiri, ajusshi.” Ujarnya sambil tersenyum tipis.

Saat tiba dilantai dasar, Kyuhyun berdiri tepat didepan Leeteuk yang sudah memasang wajah dinginnya yang angkuh. Dan dengan wajah pucatnya, Kyuhyun pun berkata,

 

“Jebal… Hyung! Jangan pecat Ajusshi Lee.. Jeongmal jebal…. Jika akulah penyebab masalah ini, maka seharusnya aku yang kau hukum. Kau bisa mengusirku dari rumah ini sewaktu-waktu atau kau mau menunggu kematianku tiba dirumah ini? Kau tidak perlu bersusah payah untuk terus menjauhiku karena tidak akan lama lagi aku akan pergi tanpa mengganggu hidupmu kelak.”

Kulihat Kyuhyun tidak menangis, tapi ia malah tersenyum lebar-lebar dihadapan Teuki hyung. Justru air mataku lah yang mengalir begitu saja dengan mudah.

“Tunggulah beberapa saat lagi… Maka aku tak akan mengganggu hidupmu, hyung. Jebal… Ini permohonanku yang terakhir, biarkan ajusshi tetap disini menemaniku.” Ujar Kyuhyun yang hendak memegang tangan Leeteuk. Namun, dengan sigap Leeteuk hyung langsung menepis tangan Kyuhyun sambil berjalan berlalu dan setelah berjalan beberapa langkah dia menoleh kearah kami, kemudian berkata,

“Aku akan membiarkannya disini, karena aku juga tidak ingin disusahkan untuk merawat orang sepertimu. Dan janjimu untuk segera pergi, akan selalu kutunggu…”

Dia kembali berjalan menjauhi kami hingga tak lagi melihat sosoknya dibalik pintu kamar mewahnya tersebut.

 

BRUK…!!!

 

Kyuhyun jatuh terduduk karena lemas dengan keringat-keringat dingin yang sudah membasahi keningnya. Dengan nafas yang terlihat sesak, kulihat punggungnya bergetar hebat hingga membuat Ajusshi Lee duduk berlutut sambil menepuk-nepuk pundak Kyuhyun.

“Menangislah….” Ujar Ajusshi Lee pelan.

“Ia…. Sang…at mem…bbenci..kuu, ajuss…hi… Dan ia… Tak akan mem…aaffkan…ku…”

Baru kali ini kulihat Kyuhyun menangis terisak-isak, bahkan tangisannya sekarang terdengar begitu menyayat hati dibandingkan pada saat acara pemakaman eomma dan appa terdahulu.

“Kau selalu menyembunyikan tangismu… Sekarang menangislah..!” Imbuh Ajusshi Lee seraya memeluk Kyuhyun yang telah menangis sejadi-jadinya dengan nafas yang sesak. Sedangkan aku hanya terdiam sambil terus menangis, membiarkan air mata jatuh beriringan.

 

Author Pov

 

Ada yang lain dari hari ini, yang biasa Donghae rasakan sebelumnya. Biasanya setiap pagi ia selalu makan bersama dengan hyungnya itu. Namun, tidak untuk sekarang, Leeteuk seakan benar-benar mengindar dan bersikap dingin pada Donghae. Mungkin penyebab sikapnya itu adalah karena pertengkaran kemari malam.

Donghae yang tidak terlalu ambil pusing dalam hal ini terus melakukan kegiatannya seperti biasa termasuk bekerja diperusahaan. Akan tetapi, saat tiba ditempat itupun tak ada satu karyawan pun yang menyambut atau menyapanya. Hingga Donghae berpikir bahwa kehadirannya mungkin saja tidak disadari oleh mereka karena ia tidak datang bersama Leeteuk pagi ini.

Ia menaiki lift seorang diri, kemudian berjalan disepanjang lorong perusahaan yang menikung dan akhirnya terhenti didepan ruangan dengan papan bertuliskan nama ‘Cho Donghae’. Namun, kali ini ia harus kembali menahan amarahnya karena suatu hal terjadi begitu banyak hari ini.

 

Klik… Klik…

 

Pintu yang terkunci dengan passwordnya tidak mau juga terbuka. Berulang kali Donghae memasukkan password dengan angka kelahirannya terus saja gagal hingga membuatnya merasa gerah.

“Eoh, ini semua pasti karena Teuki hyung…” Gumamnya kesal yang akhirnya menyerah menekan password, kemudian bersandar dipintu ruang kerjanya sambil sesekali melihat jam tangannya.

 

“Donghae-ssi…. Donghae-ssi….” Terdengar suara Sekertaris Sungmin yang memanggil namanya dari kejauhan sambil berlari-lari.

“Waeyo?” Sahut Donghae santai.

“Perusahaan…. Choi…. Leeteuk-ssi memutuskan kerjasama mereka.” Ujarnya terputus-putus.

“MWO??!!”

Donghae tidak mengatakan apa-apa lagi dan segera berlari secepatnya menuju kesuatu tempat dengan mengeluh habis-habisan.

“Enak saja dia memutuskan kontrak dengan perusahaan itu? Selama 2 tahun aku berusaha untuk mendapatkannya karena perusahaan Choi juga begitu berpengaruh di Seoul. Dan sekarang begitu mudahnya kah ia menyudahi ini?”

 

BRAK!!!

 

Donghae membuka ruangan Leeteuk dengan kasar tanpa mengetuk sama sekali. Ia yang sudah begitu kesal hingga tangannya mengepal, menatap Leeteuk dengan tajam tepat dihadapannya.

“Ige mwo ya?!!” Bentak Donghae.

“Seharusnya aku yang mengatakan itu! Darimana kau belajar sopan santun seperti ini? Tanpa mengetuk pintu lalu membukanya kasar, kau langsung masuk keruanganku.” Sahutnya dengan nada tinggi.

“Kau kah yang melakukan semua ini?” Labrak Donghae tanpa melihat situasi.

“Memangnya apa yang kulakukan? Mengunci ruang kerjamu atau memutuskan hubungan kerjasama dengan perusahaan Choi?”

“Jadi benar kau yang melakukannya, hyung?” Ujarnya tak percaya.

“Ne, apa kau senang? Bukankah itu kemauan mu sendiri? Ini bahkan belum apa-apanya, Hae. Kau belum kuusir bersama Ajusshi Lee dan aku berniat akan melakukannya malam ini!” Tuturnya disertai senyuman licik.

“Hyung!! Hajiman, bukankah kau sudah berjanji pada Kyuhyun untuk tidak memecat ajusshi?”

“Janji hanyalah janji, Hae. Aku yang paling berkuasa disini, jadi aku bebas melakukan apa saja yang bisa membuat hatiku senang.”

“Apa kau sungguh Jungsoo hyung yang kukenal?”

“Ne? Kau yang memaksaku melakukan ini, Donghae-ah. Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan pada Kyuhyun. Kau jadi lebih dekat bukan dengannya? Geurrae, itu bagus… Dan aku tidak akan melarangmu melakukan itu, tapi dengan syarat kau harus keluar dari rumah itu bersama mereka. Ottokhe?”

“Hyung…”

“Kau yakin ingin tinggal bersama mereka?” Ujarnya memotong perkataanku.

“Kupastikan kau akan hidup sengsara bersama mereka, Hae! Belum lagi kondisi anak sial itu yang semakin memburuk membuatnya harus dirawat dirumah sakit. Jika hal tersebut sungguh terjadi, semua rumah sakit bisa saja ku blacklist, agar dengan nama pasien Cho Kyuhyun tidak diterima dirumah sakit manapun. Perlu kau ketahui, Hae.. Aku bisa melakukan itu! Ottokheyo? Kau masih mau tinggal bersama mereka?”

 

Kau sangat kejam, hyung… Donghae membatin.

 

“Jadi apa yang kau mau dariku, hyung?” Ujar Donghae dengan matanya yang merah menahan amarah.

“Cukup menjauhi anak sial itu, seperti yang pernah kita lakukan sebelumnya.” Jawabnya singkat.

“Ne, arraseo. Hajiman, bagaimana aku bisa mempercayai ucapanmu ini?”

“Dengan kau menuruti kemauan ku ini, semua akan baik-baik saja, Hae. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Mereka bisa tetap tinggal dirumah itu sebagaimana mestinya. Dan akan ada satu pelayan yang mengawasimu untuk memegang ucapanmu itu. Jadi, setidaknya kau perlu berhati-hati.”

“Geurraseo, hyung. Kuharap kau tidak mengecewakanku kali ini…”

“Itu semua tergantung padamu, Hae.” Sambungnya seraya tersenyum licik pada Donghae.

 

Kyu… Jeongmal mianhae! Aku harus melakukan ini demi kebaikanmu.. Aku tak akan membiarkan Teuki hyung menyakitimu atau menyentuhmu.. Semoga setelah ini kau dapat hidup lebih baik.

 

***

 

Telapak kaki Lee melangkah setapak demi setapak setelah ia mendengar sedikit suara ricuh yang bermula dari dapur. Dengan perlahan namun pasti kakinya kini telah memasuki ruang dapur.

Ketika tahu siapa pembuat suara tersebut, keningnya berkerut seakan bertanya-tanya dalam hati untuk apa ia disini.

“Kyu….”

“Eoh, ajusshi… Kau mau kubuatkan satu juga untukmu?” Ujarnya sambil menoleh kearahku kemudian kembali sibuk melakukan aktivitasnya awal. Lee melihat Kyuhyun menuangkan 2 sendok kopi hitam dengan setengah sendok gula halus setelah itu, lalu memberikan air panas hingga batas cangkir yang ada.

“Ah, apa kau membuat kopi?”

“Ne….” Jawabnya sambil tersenyum.

“Tapi kau tidak boleh meminum itu, Kyu. Kopi akan mempengaruhi kondisi jantung dan paru-parumu. Kau…”

“Aishh! Ajusshi! Tolong jangan potong perkataanku kalau belum selesai..”

“Mianhamnida…” Ujarnya sambil membungkuk.

“Aku juga tahu mana yang berbahaya untuku dan mana yang baik untukku. Lagipula kopi ini sengaja kubuatkan untuk Jungsoo hyung. Bukankah setiap pagi ia selalu meminum ini?”

“Oh, jadi itu untuknya…” Ungkap Lee lega.

“Ne, hajiman jebal, ajusshi, jangan katakan padanya kalau aku yang membuat kopi ini.”

“Tapi, Kyu… Tidak seharusnya kau melakukan ini, akan lebih baik jika kau beristirahat didalam kamar dan biasanya selalu aku yang buatkan kopi untuk Jungsoo. Keadaanmu itu lemah, Kyu…”

“Ne, arrayo.. Hajiman.. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk menunjukkan rasa sayangku, ajusshi. Jebal, izinkan aku untuk melakukannya setiap pagi hingga aku benar-benar tak mampu melakukan apa-apa lagi. Sekali ini saja… Jangan melarang keinginanku, sebab aku sungguh ingin menebus kesalahanku selama ini.”

“Geurrae…”

 

Lee menatap tubuh Kyuhyun dari belakang dengan rasa simpati dan perasaan aneh lainnya. Berkali-kali pula ia harus menahan air mata yang hendak menetes dipelupuk matanya itu.

“Cha..! Ajusshi, bisakah kau antar ini padanya?” Ujar Kyuhyun sambil menyerahkan secangkir kopi dengan nampan berwarna coklat.

“Ne, arraseo..”

“Gomawo!”

“Cheonma, Kyu.. Dan kembalilah sekarang kekamarmu.”

“Arrayo…”

 

Langkah merekapun terpisah saat melewati ruang makan, Kyuhyun menaiki anak tangga, sedangkan Lee berjalan menuju ruang kerja Leeteuk.

 

“Tuan Muda, saya datang mengantarkan kopi.”

“Ye… Masuklah!”

Ketika masuk kedalam ruangan tersebut, Lee segera menaruh secangkir kopi itu tepat dihadapan Leeteuk.

Dengan mata yang terus tertuju pada dokumen ditangannya, Leeteuk menyeruput kopi yang masih setengah panas itu. Kemudian keningnya berkerut sambil menatap secangkir kopi itu. Lee yang tahu perubahan wajah Leeteuk langsung merasa khawatir dan agak kikuk.

“Apa kau yang membuat kopi ini?” Tanyanya curiga.

“Ye.. Tuan muda. Waeyo? Apa rasanya aneh?”

“Anni.. Aku hanya merasa kopi buatanmu berbeda dari yang biasanya kau buatkan untukku.”

“Mungkin karena kami menggunakan kopi export baru, Tuan Muda. Maka rasanya agak berbeda. Hajiman, apa kopi ini tidak cocok untuk lidah Anda? Apa perlu saya menganti semua persediaan kopi baru dengan yang lama kembali?” Ucap Lee berbohong mencari-cari alasan, karena sebenarnya kopi yang Leeteuk minum pagi ini dan kemarin adalah kopi yang sama.

“Ah, tidak perlu! Hanya saja rasa kopi ini serupa dengan buatan eomma dulu. Buatkan kopi seperti ini lagi untukku besok pagi. Arraseo?!”

“Ne, arrayo.. Saya permisi, Tuan..”

“Ne….”

 

Lee pun akhirnya melangkahkan kaki keluar kamar dengan lega sambil menyiratkan senyum kecil diwajahnya.

 

 

 

 

 

Tbc

13 thoughts on “Ohae Hajimaseyo, Hyung! Jebal… Part 10

  1. Sedih bgt baca part ini leeteuk kpn sadarnya thor dan bisa baik dan maafin kyu kasian sie kyu menderita
    Hiks..hiks…
    Lanjut thor jangan lama2 jadi penasaran gimana leeteuk bisa sadar sama sikapnya slama ini itu slh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s