The Music of Love (Part 11)

TMOL11

The Music of Love

by: Tya Siti

 

Pemain:                                                                

Shim Chang Min (TVXQ) sebagai Kang Hyun Jae

Jung Yun Ho (TVXQ) sebagai Kang Hyun Woo

Seo Jo Hyun (SNSD) sebagai Song In Hee

Member Super Junior dan SNSD

 

 

 

 

 

 

PART XI

 

Di rooftop ini. Hyun Jae tengah duduk dan mendengarkan musik. Wajahnya terlihat buruk hari ini. Aku menghampirinya duduk disampingnya, mengambil satu earphonenya dan mamakainya. Terdiam menikmati musik yang mengalun indah. Hyun Jae, kau sedang kesal hari ini? Pada siapa?

            “Hyun Jae-ssi, ini adalah musikmu?” Tanyaku. Dia hanya menggangguk.

 “Hyun Jae-ssi?” Ucapku. Dia tak menjawab. “Hyun Jae-ssi?” Dia tetap diam. Hyun Jae-ah? Hyun Jae?” Aku terus memanggil namanya. Dia tetap tak menjawab. Apa masalahnya benar-benar besar? “Hyun Jae-ah?” Lalu sesaat kemudian hening. Kenapa dia diam saja? Tak tahukah dia, aku ingin mendengar suaranya.

Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Aku memasangkan kembali earphone ke telinganya. Aku tersenyum. Sangat manis. Menggenggam tangan kirinya.

“Hyun Jae-ah. Ayo kita pergi.” Ucapku sambil memperlihatkan arloji miliknya kearahnya. “Ini sudah bel masuk. Ayo!” Aku bangkit dari duduk.

“Ya, duduk kembali!” Ucapnya.

“Tapi ini sudah masuk. Sekarang ada jam Hyun Woo Seonsaengnim, aku tak ingin di hukum lagi olehnya.” Jawabku.

“Aku bilang duduk kembali!” Dia menggenggam tanganku dan menarikku kembali duduk. Memasangkan kembali satu earphone ke telingaku. Jemari kami masih saling bertautan dan semakin erat.  Kembali terdiam menikmati musik. Angin berhembus membawa aroma daun kering. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Hening. Apa ini membuatmu tenang, Hyun Jae? Berbahagialah. Aku ada disampingmu.

***

Beberapa nama di panggil melalui informasi untuk datang ke ruang musik. Nama Hyun Jae ada diantaranya. Apakah ini tentang pertunjukan akhir sekolah? Aku pergi ke ruang pertunjukan. Sepertinya akan menyenangkan.

Aku memencar pandanganku mencari Hyun Jae. Itu dia. Bersama dengan ketiga temannya. Dia menoleh kearahku. Aku melambaikan tangan padanya. Aku duduk di sebuah deretan bangku paling belakang.

 “Kenapa memilih duduk paling belakang?” Tanyanya. Dia duduk di sebelah kananku, sepertinya ia telah memahami kebiasaanku sekarang.

 “Bukankah disini tempat paling strategis. Ini rencana untuk mencari perhatian. Kau tahu itu?” Ucapku.

Dia menatap kedepan. “Kau ingin menjadi pemeran utama di pertunjukan ini?”

“Itu impianku selama sekolah disini. Lagi pula bukankah nanti aku akan menjadi daftar siswi populer. Jadi, semua orang mengenal namaku. Mengenalku.” Aku menatapnya tajam. Seharusnya dia mengerti apa maksudku yang sebenarnya.

 “Ah, maaf. Telah membuat kalian menunggu lama disini. Kami sungguh minta maaf.” Ucap Yuri, adik Yoona diatas panggung. Dia masih seperti dulu. Sangat cantik. “Baiklah, kami mengumpulkan murid sekalian disini berhubungan dengan pertunjukan akhir sekolah kita yang sebentar lagi akan diselenggarakan. Dan, kalian semua disini adalah yang terpilih untuk berpartisipasi di pertunjukan ini. Pertunjukan kali ini akan di tangani oleh seorang penulis skenario dan sutradara cantik yang terkenal. Ia juga merupakan alumni dari sekolah kita. Tiffany Hwang.”

Tiffany? Ah, apa kabarnya gadis itu. Ini pertama kalinya kami bertemu.

“Beri sambutan yang meriah untuknya. Ia akan menjelaskan lebih lengkap tentang pertunjukan ini.” Yuri memberikan microphone pada Tiffany.

“Ah, terima kasih. Aku sungguh senang bisa kembali ke sekolah ini. Aku juga memiliki perasan senang yang sama seperti kalian dulu disaat seperti ini. Apalagi aku adalah pemeran utama wanita saat itu. Kau tahu betapa menyenangkannya itu. Dan, kali ini yang menjadi pemeran utama untuk pertunjukan ini adalah …” Semua bersorak menanti siapa yang terpilih saat itu. “Baiklah, kalian sudah tidak sabar rupanya. Dan pemeran utama untuk pertunjukan kali ini adalah Kang Hyun Jae dan …”

 Sudah pasti. Dan semua bersorak. “Kim Tae Yeon. Chukhayo.” Lanjutnya.

Melihat wajahnya hatiku agak sedikit sesak. Aku tak dendam padanya hanya saja. Ah, entahlah. Aku menggenggam tangan Hyun Jae erat.

            “Hyun Jae, fighting!” Ucapku. Dia menatapku dalam.

“Aku mengganti pemeran utama wanita karena aku pikir wajah mereka tak serasi dan lagi pula pemeran utama wanita yang seharusnya sedang sakit. Jadi, aku harap kalian bisa menerima keputusanku ini. Maafkan aku, nona Song. Pertunjukan kita kali ini akan mengangkat tema tentang ‘Dream High’. Aku berharap kerja sama kalian. Dan, bisakah pemeran utama naik keatas panggung?”

Sikap seenak hatinya masih tetap ada.

“Pergilah. Aku menunggumu di danau. Oke?” Hyun Jae berjalan menuju ke panggung.

Dari atas panggung itu. Dia pasti dapat melihatku dengan jelas. Aku tersenyum padanya lalu pergi saat ia tengah sibuk menjawab pertanyaan dari Tiffany.

***

Aku tengah menengadahkan wajahku memandang langit saat ia datang ke danau.

“Ah, Hyun Jae-ssi.” Aku melambaikan tanganku dan tersenyum padanya. Ia berjalan menghampiriku.

“Menikmati angin?” Tanyanya.

“Bodoh. Namja bodoh. Bukankah kau juga sering melakukannya?” Aku memukul lengannya kesal.

“Tapi aku tak pernah sampai sakit karena menikmati angin. Lihat wajahmu itu, sangat pucat.” Dia memegang dahiku.

“Aku tidak sakit.” Sanggahku. “Kau perlu bukti?”

“Mwo?”

“Coba kau jongkok.” Aku merangkulnya dari belakang. “Cepat gendong aku!” Ucapku. “Bagaimana? Berat bukan? Itu berarti aku tidak sakit.”

Dia hanya tersenyum dan membawaku berlari digendongannya.

***

Ruangan musik. Hari ini aku mengajaknya kemari. Ini saatnya aku menjalankan tujuanku. Memintaku membuatkan lagu. Sesuatu yang harus aku selesaikan sebelum pergi kealamku.

“Silakan duduk, Tuan.” Aku memersilakan dia duduk di bangku yang aku siapkan.

“Ehem. Tuan Kang Hyun Jae yang terhormat. Bersyukurlah anda karena hari ini anda akan menyaksikan seorang maestro beraksi.” Aku memberikan hormat. Duduk dan memangku sebuah gitar akustik. Aku mulai memainkan lagu tanpa lirikku. Dia tengah mencoba menikmati permainanku. Aku tahu Tuhan memilihnya karena dia lah yang terbaik. ChoiKang Hyun Jae.

“Bagaimana? Permainan gitarku baik, bukan?” Tanyaku. Dia mengacungkan jempolnya.

“Tapi bisakah kau mainkan alat musik yang lain. Tamu kehormatan ini sangat memohon untuk agar permintaannya ini di kabulkan.” Ucapnya. Aku terdiam mulai berpikir.

“Baiklah. Ini untukmu, Tuan.” Aku menghampiri sebuah biola dan memainkannya, suling, drum dan yang terakhir adalah piano. Alat musik yang kumainkan memang berbeda tapi lagu yang kumainkan sama. Aku harap ia hapal nada-nadanya.

“Ikut bergabung denganku, Tuan?” Aku memersilakannya untuk bergabung. Dia ikut memainkan lagunya.

“Kau hapal nadanya?” Tanyaku.

Ini akan lebih mudah jika dia sudah menghapalnya. Dia mengangguk dan memainkan lagunya satu kali lagi. “Wah, musikalitasmu sangat tinggi.” Aku bertepuk tangan. Terimakasih, Hyun Jae. Kau akan lebih memudahkan segalanya.

“Terima kasih, Nona.” Ucapnya. “Hei, sedang apa?” Aku bersembunyi di kolong piano.

“Jangan berisik! Ada yang datang.”

“Mwo?” Dia menoleh kearah pintu.

“Hyun Jae, kau ada di sini. Cepatlah kita di tunggu untuk latihan.” Yesung muncul dari balik pintu. “Tak perlu sembunyi. Keluarlah!” Yesung pergi.

“Wah, Yesung-ssi sangat jeli.” Ucapku. Aku tahu maksud Yesung bukan padaku. “Kau akan pergi latihan? Kalau begitu sampai jumpa besok. Annyeong. Fighting!” Aku pergi begitu saja meninggalkannya sendiri.

***

Hyun Woo, dia datang ke rooftop. Dia masih mengingat hari ulang tahunku. Hyun Woo-ah, tahukah betapa beruntungnya aku menjadi wanita yang sangat kau cintai? Dia datang membawa sebuah cupcake cokelat kesukaanku dan menyimpannya di tempat semediku. Terimakasih, Hyun Woo-ah. Dia pergi setelahnya. Aku mengikutinya dari belakang. Dia menghampiri Yuri dan yang lainnya. Sepertinya mereka akan pergi.

“Annyeong, Hyun Woo. Apa kau sekarang akan pergi ketempatku yang lain? Jangan lupa bawa bunga matahari untukku.”

Aku berjalan kembali kedalam sekolah. Hyun Jae tengah berjalan sendiri di lorong.

“Hyun Jae-ah?” Aku berjalan mendekat. “Hyun Jae-ah, maukah membolos latihan hari ini? Temani aku. Ah, tidak bukan membolos. Hari ini memang tidak ada latihan. Semua Seonsaengnim pergi.” Aku menunjukan wajah penuh harap padanya.

“Kemana?” Aku menarik tangannya dan berlari kearah rooftop.

 “Nyanyikan lagunya untukku.” Aku mengeluarkan cupcake cokelat kecil yang diberikan Hyun Woo. Dia terlihat kebingungan. “Lagu ulang tahun. Ayo cepat.” Aku menyalakan lilinnya.

“Saengil chukha hamnida. Saengil chukha hamnida. Saengil chukha …”

“Stop! Aku akan meniupnya sekarang.” Aku meniup lilinnya. Dia terkesiap.

“Kau tak memohon permintaan dulu?”

“Tak perlu. Untuk apa minta pada Tuhan kalau yang aku minta sudah ada di hadapanku.”

“Naega?”

“Ne. Hyun Jae-ah.” Aku mendekatkan wajahku padanya. “Hyun Jae-ah, apa kau mau melakukan sesuatu untukku?”

“M- mwo?” Jawabnya dengan tergagap.

“Hyun Jae-ah.”

Aku membuka kancing jasnya. Wajahku semakin dekat pada wajahnya. Dia menutup matanya.

“Hyun Jae-ah, kenapa kau memejamkan matamu?” Aku tertawa lepas. “Aku tidak akan melakukan sesuatu yang kau pikirkan itu. Dasar mesum.”

“Hei, kau yang mesum.” Ucapnya.

 “Mwo?” Aku mendengus kesal. “Aku kan hanya ingin kau membuatkan lagu untukku.” Aku menyerahkan selembar kertas padanya.

“Mwo?”

“Buatkan lagu untukku dari nada-nada ini. Ini lagu yang kemarin. Kau tahu, ini adalah lagu yang aku buat sudah lama tapi tidak pernah ada liriknya. Bisa buatkan liriknya untukku? Aku tahu kau ahlinya dalam hal itu. Bagaimana, Hyun Jae? Kau mau, yah? Nilaiku dalam membuat lagu sangat buruk. Mau, yah? Anggap ini hadiah untukku.”

“Balasannya?”

“Kau bisa menyanyikannya di pertunjukan akhir sekolah. Dan …” Aku berpikir sejenak. “Dan kau akan tahu siapa namaku. Bagaimana? Bukankah ini perjanjian yang menguntungkan?”

“Aku tak janji.” Ucapnya.

“Gamsahamnida, Hyun Jae-ah. Aku tahu kau akan melakukannya untukku.” Aku memeluknya erat.

***

Sudah lima hari ini aku sama sekali tak melihat Hyun Jae. Ia benar-benar sangat sibuk dengan latihannya. Tahukah dia aku merindukannya. Merindukan wajahnya yang angkuh itu. Hah, sepertinya aku juga mulai tertarik pada karismanya sama halnya dengan Soo Young. Aku berjalan menuju ruang latihan. Aku harap ia belum pulang.

Tae Yeon baru saja keluar dari ruang latihan. Dia melangkah pergi dan berhenti di depan tempat minuman dan membeli sebotol. Ia kembali ke arah ruang latihan dan berdiri agak lama didepan pintu. Ia hanya menyimpan botol minumannya di depan pintu lalu pergi. Aku berjalan mengambil botol itu. Setidaknya ini bisa menjadi buah tanganku untuk Hyun Jae. Sekali lagi ini adalah bukan mencuri hanya sebuah keberuntungan.

“Hyun Jae-ah?” Aku melambaikan tangan kearahnya. Ia hanya terduduk sambil memukuli punggungnya dengan gulungan kertas.

“Apa kau sangat lelah?” Tanyaku. Aku duduk disampingnya.

“Ne.” Ucapnya. Dia menunjukkan wajah manjanya. Dan itu menggelikan. Akan lebih baik dia menunjukan tampang angkuh dibanding tampang manjanya sekarang.

“Oh, Hyun Jae yang malang.” Ucapku. “Ini.” Aku memberikan minuman padanya. Dia menerimanya dan langsung meneguknya. Sepertinya dia sudah sangat kehausan.

Aku terdiam memerhatikannya. Sisa air disekitar mulutnya. Kenapa terlihat sangat seksi bagiku? Hyun Jae-ah sepertinya daya tarik padamu sudah berbeda jalur sekarang.

 Dia menyeka sisa air di mulutnya. “Wae? Apa aku sangat tampan? Kau bahkan tak berkedip saat melihatku.” Ucapnya.

“Aish, kau ini.” Aku menyandarkan tubuhku ke tembok.

“Ah, pijat punggungku!” Dia memutar posisi duduknya.

“Mwo?”                                                                       

“Pijat!” Dia menunjuk punggungnya.

“Ish. Baiklah.” Aku memijat punggungnya. Punggung yang aku tahu banyak menyimpan beban kesepian. Dulu punggungnya tak selebar ini. “Hyun Jae-ah, kau tak lupa janjimu padaku, kan?” Tanyaku.

“Tidak. Selelah apapun aku tetap akan memenuhi janjiku padamu.” Jawabnya. Ia  memegang tanganku yang ada dibahunya dengan erat. Kami kembali terdiam. “Ah, pijat kembali.”

***

“Hyun Jae-ah.” Panggilku. Dia menoleh, Aku melambaikan tangan. Aku berjalan kearah lorong dan berdiri menyandar pada tembok. Dia datang dan berdiri dihadapanku. Aku mengangkat kepalaku.

“Hyun Jae-ah, cepat putar badanmu.” Aku memasukan sebuah piringan hitam kedalam tasnya. Aku baru menemukan itu dibawah tempat persembunyian gitar. Itu milik grup band Appa. “Ini. Kau cobalah dengarkan. Ini akan membantumu membuat lagu.” Dia membalik badannya kembali. “Baiklah, aku tak akan mengganggu latihanmu. Cepat pergi!”

Dia masih tetap tak bergerak dari posisinya. Memandang wajahnya tajam. Aku benar-benar tak bisa beranjak, tubuhnya terlalu dekat dengan tubuhku dan itu membuatku tak leluasa untuk bergerak. Dia membuatku dada sesak.

“Ya, cepat pergi!” Ucapku.

Dia menyentuh pipiku lembut. Aku tersentak kaget. Apa yang akan dia lakukan?

“Maukah kau menungguku di rooftop saat aku selesai latihan? Tunggu aku disana.” Ucapnya. Mata kami bertemu. Dia mengecup keningku lembut. “Baiklah, kalau begitu aku pergi.”

Anak itu. Dia sukses membuatku membatu. Apa yang aku rasakan ini? Didalam hatiku seperti ada kembang api yang tengah meledak-ledak. Aku benar-benar telah tertarik padanya sebagai seorang perempuan pada laki-laki? Ah, ini gila.

==== to be continued ====

One thought on “The Music of Love (Part 11)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s