The Music of Love (Part 10)

TMOL10

The Music of Love

by: Tya Siti

 

Pemain:                                                                

Shim Chang Min (TVXQ) sebagai Kang Hyun Jae

Jung Yun Ho (TVXQ) sebagai Kang Hyun Woo

Seo Jo Hyun (SNSD) sebagai Song In Hee

Member Super Junior dan SNSD

 

 

 

 

 

PART X

(In Hee’s Pov)

 

            Hidup di dunia yang semu. Aku tak pernah membayangkan sebelumnya. Aku ada di antara mereka tapi mereka tak merasakan kehadiranku. Tuhan begitu baik, ia memberiku kesempatan untuk menyelesaikan hal yang belum sempat aku selesaikan. Tapi, saat itu belum tiba hingga kini. Hingga tahun ke-7 kematianku.

            “Tuhan, siapa orang baik yang akan membantuku itu?”

            Aku berdiri menikmati angin di rooftop. Angin musim gugur disini masih sama. Bahkan selama tujuh tahun ini pun sekolah ini masih sama.

 “Tiga tahun yang sia-sia.”

Seorang pemuda datang ke rooftop. Dia orang asing pertama yang datang ke tempat ini selama tujuh tahun terakhir. Biasanya yang datang ke tempat ini hanya Hyun Woo atau Hyun Woo Appa.

Sepertinya dia juga tersihir oleh tempat ini. Bahkan ia juga tahu bagaimana cara menikmati angin. Diakah orang itu? Tuhan apa dia orangnya? Pemuda itu bangkit dari duduknya. Wajahnya sangat lucu.

“Ah, sungguh tiga tahun yang sia-sia. Sepertinya akan menyenangkan jika saja aku telah lama menemukan tempat ini. Sial.” Ucapnya.

Wajahnya terlihat sangat kesal atas sesuatu bahkan ia menendang tempat persembunyian gitarku. Diakah? Inikah waktunya? Dia mengambil gitarku dan memainkannya. Twinkle-twinkle, itu adalah lagu pertama yang aku ajarkan pada muridku. Kang Hyun Jae.

Permainan gitarnya tidak terlalu bagus. Apa dia bukan pemain gitar? Aku duduk di sampingnya. Menikmati permainan gitarnya. Selama tujuh tahun ini, ini adalah pertama kalinya aku mendengar seseorang bermain gitar. Hyun Woo tak pernah bermain gitar saat ia datang, Hyun Woo Appa pun begitu.

Pemuda itu berhenti dari permainan gitarnya. Dia melihat kearahku. Dia dapat melihatku? Diakah orang yang akan membantuku? Dia menoleh kearahku. Aku tersenyum kearahnya. Untuk beberapa saat kami hanya saling berpandangan. Aku memegang pundaknya ringan dan mengangkat jempolku untuknya. Untuk permainan gitarnya. Dan segalanya. Mengakhiri penantianku. Dia hanya terdiam. Kami hanya saling berpandangan hingga akhir. Di temani oleh angin musim gugur yang berhembus.

***

Kau pernah merasakan hari dimana kau merasa menjadi orang baru? Hari ini aku tengah mengalami itu. Aku bagai seseorang yang baru. Selama tujuh tahun terakhir ini aku hanya bisa melihat kerumunan anak sekolah yang tengah berjalan menuju sekolah dari rooftop. Aku terkurung di rooftop itu selama tujuh tahun lamanya. Dan kemarin aku mendapatkan kebebasan karena pemuda itu. Kini, aku berada di antara kerumunan siswi sekolah. Ini seperti tujuh tahun lalu. Aku benar-benar begitu bahagia.

Pemuda itu, dia tengah berjalan bersama dua temannya. Menuntun sepeda. Itu sama seperti yang dulu aku lakukan bersama Hyun Woo. Dia. Pemuda itu sangat tinggi di banding kedua temannya, bahkan sepertinya dia juga lebih tinggi dibandingkan Hyun Woo. Wajahnya. Kenapa wajahnya terlihat begitu sombong. Begitu jelas, terlihat begitu angkuh.

Kedua temannya pergi meninggalkannya. Aku tertawa melihatnya. Aku berjalan mendekat kearahnya. Tersenyum dan melambaikan tangan kearahnya. Ekspresi wajahnya berubah sangat kikuk.

            “Kau?” Ucapnya.       

            “Kau?” Aku bisa berbicara. Tuhan begitu baik sangat baik.

“Kau mengagetkanku.”                                                     

“Kau mengagetkanku?” Aku mengulang lagi kata-katanya. Tahukah dia aku sangat senang bisa mendengar suaraku kembali?

“Ah, kau.” Suara dentang lonceng menggema. Dia melihat arloji ditangannya. “Bel. Kau ikut?” Ucapnya sambil menunjuk ke arah boncengan di belakangnya. Aku duduk di boncengan sepedanya, aku melingkarkan tanganku dipinggangnya. Ini seperti benar-benar masa tujuh tahun lalu.

 Aku turun dan membungkukkan setengah badan memberinya hormat, tersenyum, melambaikan tangan lalu pergi sesaat setelah sampai di muka pintu gedung sekolah.

“Hei, chakkamanyo.” Dia memanggilku. Tapi aku tetap berlari mengikuti seorang gadis yang lari terburu-buru. Sepertinya ia tak ingin terlambat datang ke kelas.

***

Gadis itu berlari semakin jauh. Aku benar-benar merasa senang hari ini. Aku berjalan menuju rooftop. Menikmati angin hari ini.

“Tuhan, terimakasih. Aku akan berusaha yang terbaik untuk hidupku kali ini.”

Aku berjalan kembali ke dalam sekolah. Terdiam berdiri di muka lorong. Aku benar-benar tak tahu harus pergi kemana. Haruskah mencari pemuda itu? Ah, itu tidak mungkin. Akan sangat aneh nanti jika hanya dia saja yang bisa melihatku. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Menarik napas dan melihat kearah kiri. Hyun Woo? Aku sangat mengenal punggung itu. Bahkan dari jarak yang cukup jauh seperti sekarang ini. Kang Hyun Woo. Aku berlari mengejarnya.

Pergi kemana dia? Dia mengajar? Dia menjadi guru? Bukan itu cita-citanya dulu. Dia ingin menjadi seorang musisi seperti Appaku dan Appanya. Membuat sebuah grup musik yang sangat terkenal. Hyun Woo. Dia merubah cita-citanya untukku?

***

Gadis ini. Dia sangat cantik. Siapa namanya tadi? Ah, Kim Tae Yeon.  Dia begitu baik mengjakku datang ke tempat ini. Perpustakaan. Bukan. Dia tak mengjakku, dia bahkan tak dapat mengetahui keberadaanku. Aku hanya mengikutinya saja dari mulai akhir pembelajan tadi. Aku tak mau mengikuti Hyun Woo. Aku takut akan melakukan sesuatu yang nantinya malah membuat tujuan utamaku berantakan jika terus bersamanya.

Gadis itu menuju kearah rak buku yang menyimpan arsip buku kenangan siswa sekolah ini. Dia mengambil satu buku tahun 2000 dan mulai membacanya. Aku melangkah menuju deretan buku tahun 2007. Buku yang seharusnya ada dataku didalamnya. Aku hanya memandanginya dengan pandangan yang kosong tapi tetaplah titik-titik air yang tertahan di pelupuk mataku mengalir.

Aku tersenyum getir dan menoleh kearah kiri. Pemuda itu. Dia di hadapanku. Pemuda itu. Dia yang akan membantuku. Dia melangkahkan kakinya berjaln kearahku.

“Hyun Jae-ah. Ayo kita pergi. Kami sudah selesai.”

Temannya yang tadi pagi berjalan bersamanya memanggilnya. Temannya itu menjadi pahlawanku hari ini. Jika saja ia tak ada mungkin semua ini akan berakhir detik tadi. Tuhan, kau begitu baik. Dia  memutar arahnya. Berjalan pergi meninggalkanku.

“Hyun Jae?” Aku tersenyum mengetahui namanya. “Hyun Jae? Kenapa namanya sama dengan muridku tersayang. Muridku itu juga pasti sudah sebesar dia. Kang Hyun Jae.”

***

Come on! Get WILD!! Shaking My SOUL. Let me feel what I’ve never seen. You’re gonna baby, baby be my Angel. Just take you I wanna take you…”

Dia menyanyikan sebuah lagu dan menggunakan gitarku. Dia. Apa dia sudah merasa gitar itu miliknya? Permainan gitarnya hari ini lebih baik dibanding kemarin. Dia datang lagi kemari. Punggungnya aku melihat punggungnya. Punggungnya sepertinya aku mengenal punggung itu. Aku melangkah kearahnya. Berdiri dibelakangnya. Dia menghentikan permainannya. Memalingkan wajahnya kearah kiri. Aku mengarahkan telunjukku kearah pipinya. Jarak wajah kami sangat dekat sekarang.

“Hyun Jae-ssi.” Ucapku. Aku duduk disamping kirinya. Aku sangat suka berada di posisi kiri. Karena aku merasa saat itu aku bisa menahan hal negatif dalam diri orang yang berada disampingku dan membuatnya selalu ada pada zona positif saat bersamaku.

Aku tersenyum kearahnya dan menunjuk gitarku.

            “Ini milikmu?” Tanyanya. Aku mengangguk. “Kau mau memainkan satu lagu untukku?”

Aku menggeleng. Aku hanya terdiam menikmati angin musim gugur sama seperti yang  biasa aku lakukan.

“Kau yakin tak ingin memainkan satu lagu untukku?” Dia memberikan gitar itu padaku. Aku  masih menikmati angin. “Kau yakin?” 

Aku membuka mataku, menatapnya dan tersenyum. Kami kembali terdiam dengan pikiran kami masing-masing. Dedaunan berguguran menyentuh kami.

“Hyun Jae-ssi.” Ucapku akhirnya. Aku mengambil sebuah daun di sampingku dan memberikannya padanya. “Hadiah.” Aku bangkit dan pergi. Aku tak tahu harus bagaiman aku memulainya.

***

Rasanya sangat menyenangkan melihat semua murid disini bersemangat mengikuti ujiannya. Ah, sepertinya mereka mempersiapkannya dengan sangat matang. Semuanya menampilkan yang terbaik. Tiga teman Hyun Jae pun. Mereka bertiga berkolaborasi, suara mereka menghasilkan harmoni yang begitu indah. KRY. Kyu Hyun, Yesung, dan Ryeo Wook. Lalu, Hyun Jae? Dia bermain piano. Dia benar-benar mengingatku pada Hyun Woo dulu. Permainannya sangat indah.

“ Wah, Hyun Jae memang sangat berkarisma. Benar-benar sangat mirip dengan Hyun Woo Seonsaengnim. Mereka dua saudara yang sangat berkarisma. Bukankah aku sangat beruntung pernah sekelas dengannya saat SD? Aku gadis yang beruntung, bukan? Iyakan, Tae Yeon-ssi?” Ucap Soo Young, teman Tae Yeon.

Kata-kata Soo Young tadi. Mereka adalah saudara yang sangat berkarisma. Saudara? Hyun Woo dan Hyun Jae? Jadi, dia Hyun Jae kecil. Pantas saja aku mengenal punggungnya. Bagian tubuhnya yang paling aku kenal dari dirinya. Muridku. Kini kau adalah pahlawanku. Kang Hyun Jae.

***

“… Bi odeus sarangi nae mameul jeokshyeoyo. Naemami naemami jeongmal sarangingeolyo. Geudae geuriunmankeum … Ige sarangin geotyo …”

Ah, selain cantik gadis ini juga sangat berbakat. Dia memiliki suara yang indah. Aku benar-benar merasa sangat bahagia. Akhirnya aku bisa merasakan bernyanyi diatas panggung. Walau tak ada yang akan mendengar atau melihatnya tapi setidaknya aku menikmatinya. Karena dulu aku terancam tak lulus karena belum menciptakan sebuah lagu. Ah, sampai sekarangpun aku memang belum lulus.

Hyun Jae. Darimana saja dia? Tidak tahukah dari tadi aku mencarinya. Aku berlari kearahnya cepat.

 “Hyun Jae-ssi?” Ucapku. Ia menoleh. “Kau mau ikut?” Aku mengarahkan tanganku padanya. Dia meraih tanganku. Aku mengajaknya berlari keluar dari ruang musik. Kami terus berlari menjauh dari ruang pertunjukan.

***

Wajahnya sangat terkesima saat aku mengajaknya pergi ke danau. Apa dia belum pernah ke tempat ini? Aku memerhatikan wajahnya. Hyun Jae. Kau sudah sangat besar, bahkan sekarang kau sangat tinggi melebihiku juga Hyung-mu. Apa kau masih sangat pemalu sekarang? Hyun Jae, muridku.

            “Kau menyukainya?” Tanyaku.         

            “Emm. Areumdappda.” Jawabnya.

Aku menggenggam tangan kirinya, merentangkannya. Aku memandangnya dan memberikan isyarat untuk melakukan apa yang aku lakukan. Memejamkan mata. Menikmati angin musim gugur dan guguran daun yang menghujani tubuh kami.

            “Iremi mwoyeyo?” Tanyanya tetap dengan posisi yang sama. “Siapa namamu?” Tanyanya kembali.

            Aku melepaskan genggaman tanganku. Dia benar-benar tak mengenali wajahku. Dia benar-benar tak mengingatku? Atau dia benar-benar tak mengenalku? Aku gurunya. Dia tak mengingatnya?

Dia membuka matanya, menoleh padaku. Aku mendekatkan wajahku pada wajahnya, mengerutkan dahiku.

            “Iremi mwoyeyo?” Tanyaku. Dia terdiam dan hanya tersenyum kikuk.

            “Ya, Hyun Jae-ssi.” Aku duduk di bangku yang ada didekatku, membuang napas dalam. Dia  duduk disampingku. Terdiam. Aku merogoh tasku dalam dan mengambil sesuatu. Sebuah kotak makan. Ini aku dapat dari tas Soo Young. Bukan mencuri hanya tak sengaja memasukkannya kedalam tasku. Maafkan aku, Tuhan.

            “Ini.” Aku memberikan satu buah pisang padanya. Aku menempelkan buah pisang yang lainnya di telingaku. “Ehem, yeoboseyo?”

            Dia  tersenyum melihat tingkahku. Dia mungkin menganggapku gila. Tapi, dia juga gila karena dia mengikuti apa yang aku lakukan.

“Ehem. Ne, yeoboseyo. Nuguseyo?”

            “Ya, Hyun Jae-ssi. Kau benar-benar tak mengenalku?”

            “Mollayo. Wae?” Jawabnya.

Aku memanyunkan bibirku. Aku bangkit dari dudukku dan bergegas pergi.

“Ya, pisangmu.” Ucapnya.

            Aku menoleh kesal. “Untukmu saja. Hadiah.” Aku pergi dengan kesal.

            “Ya, chakkaman.” Dia mengejarku. Kami berjalan berdampingan kembali kedalam sekolah.

            “Neonuideureun eodieseo wanni? Darimana kalian berdua?” Tanya seseorang dari arah belakang.

Kami menoleh. Kang Hyun Woo. Ah, sayang sekali dia tak bisa melihatku. Kalau saja bisa, aku pasti sudah mengadu padanya bahwa adiknya tak mengenaliku. Ah, aku sangat kesal.

            Aku memberi hormat padanya, memandang Hyun Jae sebentar dan pergi. Setidaknya menjadi sebuah alibi untukku dengan melakukan hal ini. Ah, sepertinya sekarang aku lebih pintar.

***

            Aku benar-benar ingin memeluknya. Aku benar-benar sangat merindukannya. Dia benar-benar. Hyun Woo-ah. Bisakah menunggu sebentar lagi? Aku akan berusaha sekuat tenaga. Dia sangat berkarisma saat mengajar. Dia ternyata menjadi seorang guru. Aku benar-benar tak mengerti dengan jalan pikirannya. Melepaskan impiannya demi impianku. Hyun Woo-ah.

“Tae Yeon-ssi, saat ujian kau menampilankan penampilan yang baik. Jadi, apa kau bisa mainkan lagu untuk kami?”

“ Ne, Seonsaengnim.”

“Gitar. Apa kau bisa mainkan gitar hari ini?” Tanyanya.

Apa dia sedang merindukanku sekarang?

“Ne, Seonsaengnim.”

Permainan gitar dan suara Tae Yeon benar-benar sangat menghibur. Aku menyandarkan tubuhku di papan tulis menikmati permainan gitar Tae Yeon.

Hyun Jae sedang apa dia? Mengikuti menikmati permainan Tae Yeon? Hanya mengikuti apa yang teman-temannya lakukan? Hyun Jae, jangan sampai kau melakukan hal yang bodoh. Dia melambaikan tangannya kearahku. Ah, dia benar-benar. Cepat pergi.

“Dasar bodoh.” Ucapku. “Kau baru saja akan merusak penantianku.”

***

Hyun Jae, dia belum pulang. Aku melangkah menghampirinya dan langsung duduk di bangku boncengan sepedanya.

“Puas kau?” Ucapku. Dia menoleh.

            “Tadi kau di hukum?” Aku tak menjawabnya. Dia terdiam dan mengayuh sepedanya.

            “Stop.” Ucapku saat berada di depan gerbang. “Eomma. Aku pergi. Eomma-ku sudah menunggu. Annyeong.” Aku melambaikan tangan dan pergi menghampiri Eomma yang ada di pinggir penyebrangan. Ah, ini melanggar peraturan. Apakah tak apa? Apa yang akan terjadi setelah ini? Tapi memang tak ada alibi yang lebih baik lagi sekarang. Lagi pula ada Eomma. Aku baru melihat wajahnya kembali.

            Eomma. Sedang apa ia disini? Apakah ini sering ia lakukan? Hyun Woo menghampiri Eomma dan memberikan hormat pada Eomma.

“Eommanim, aku antar menyebrang. In Hee sudah pulang baru saja.” Ucapnya. Dia menelpon seseorang dan mepersilakan Eomma duduk dibangku tempat menunggu bus.

Apa Eomma sering melakukan ini? Apakah selama tujuh tahun terakhir ini? Eomma maafkan anakmu ini. Hyun Woo-ah, gomawo.

“Hyun Woo-ssi.” Seorang gadis berpakaian putih-putih menghampiri kami.

 Hyun Woo tersenyum kearahnya. Apakah dia yang merawat Eomma? Apakah Eomma separah itu? Dia membawa Eomma masuk kedalam mobil.

“Terimakasih. Seperti biasa dia pasti menyusahkanmu. Dia pasti sangat merindukan  In Hee. Tekanan jiwa yang dialaminya semakin berat karena kehilangan In Hee.” Ucapan perempuan itu membuatku menangis. Eomma maafkan aku. 

“Terimakasih, Hyo Yeon-ssi. Tolong jaga Eommanim baik-baik.” Ucap Hyun Woo.

 Perempuan itu tersenyum dan pamit. Ia pergi membawa Eomma pergi.

 

==== to be continued ====

 

 

One thought on “The Music of Love (Part 10)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s