The Music of Love (Part 8)

TMOL8

The Music of Love

by: Tya Siti

 

Pemain:                                                                

Shim Chang Min (TVXQ) sebagai Kang Hyun Jae

Jung Yun Ho (TVXQ) sebagai Kang Hyun Woo

Seo Jo Hyun (SNSD) sebagai Song In Hee

Member Super Junior dan SNSD

 

 

 

 

 

 

PART VIII

 

=== flashback ===

(18 tahun yang lalu. Song In Hee pov)

            Aku terduduk di ruang duka sendiri. Appa? Mengapa harus dia? Mengapa bukan aku saja yang mati? Aku menangis tanpa henti. Aku adalah seorang anak berusia tujuh tahun yang harus sendirian berada di ruang duka tanpa seseorang menemaniku. Eomma? Dia masih tak sadarkan diri karena kecelakaan itu. Apa yang akan terjadi nanti saat ia tahu Appa sudah tak ada? Apa yang akan dia lakukan padaku saat ia menyadari bahwa kecelakaan itu. Kecelakaan itu, aku lah penyebabnya. Aku. Aku terlalu banyak mengoceh saat itu. Mengoceh ingin menjadi orang asing pertama yang menggendong adik kecil, anak sahabat Appa. Mendesak Appa untuk mengendarai mobil lebih cepat agar segera sampai. Kalau saja saat itu aku bersikap wajar, semua ini tak akan terjadi. Aku menangis tetap menangis menatap poto Appa.

            “In Hee-ah, kau baik saja?”

Ada sebuah tangan merangkulku. Tangan itu begitu hangat. Tangan seorang Ayah. Tapi, aku tahu itu bukan Appa.

            “In Hee-ah. Jangan bersedih. Kau tahu kau tak sendiri. Masih ada Eomma-mu. Dan …” Suara itu terhenti. Kini hanya terdengar suara tangisnya. Aku menoleh kearahnya. Paman Kang In Soo.

            Seharusnya kami bertemu di rumah sakit hari ini. Melihat anaknya yang baru lahir. Tangisannya itu, harusnya adalah tangisan haru membahagiakan. Bukan seperti menit ini.

            “Song Si Won. Aku akan menjaga anakmu ini. Menjaga isterimu. Aku akan menjaga mereka. Kau tahu itu? Kau dengar itu? Itu janjiku.” Dia memegang bahuku lebih erat. “In Hee-ah, kau masih memilikiku. Paman akan menjagamu.” Ucapnya.

Air matanya masih mengalir. Kata-katanya, aku percaya pada apa yang ia katakan. Tapi bisakah ia hidupkan Appa-ku kembali saja? Dia bangkit dan pergi menyimpan setangkai bunga untuk Appa.

            “In Hee-ah. Song In Hee? Apa kau sudah makan?” Suara lembut itu menyapaku. “Kau harus makan. Ini.” Dia memberikan sebungkus nasi kepal padaku. Tangannya kecil. Aku menoleh padanya. Dia tersenyum padaku. “Makanlah. Appa-mu tak suka jika kau sakit.”

            “In Hee-ah, makanlah. Istirahatlah sebentar. Biar aku yang menjaga Appa-mu. Hyun Woo-ah, temani ia makan.”

            Dua lelaki ini. Mereka yang menemaniku di ruang duka itu. Mereka yang memberi kehangatan untukku saat itu.

***

(7 tahun yang lalu.)

Ruang musik sudah penuh dengan gulungan kertas. Ah, apa membuat lirik lagu itu benar-benar sangat sulit? Hyun Woo? Dimana dia? Aku benar-benar membutuhkannya. Aku mencoba kembali berkonsentrasi. Menulis kembali sebuah lagu. Sudah aku coba dengan keras namun tetap saja hanya nada ini yang terpikir olehku. Seberapa kerasnya aku berpikir yang aku tulis tetap hanya sebuah nada tanpa ada lirik di dalamnya. Aku benar-benar sudah putus asa.

            “Appa, mengapa aku tak bisa sepertimu? Song Si Won, sang komposer handal. Appa, apa kau masih marah padaku? Appa, maafkan aku. Jangan hukum aku seperti ini. Aku benar-benar tak ingin kau mati dengan tragis seperti itu. Maafkan aku. Jika saja saat itu aku tak banyak bicara dan akhirnya mengganggu konsentrasimu menyetirmu, mungkin kecelakaan itu tak akan terjadi dan aku bisa bertanya padamu tentang hal ini. Cukup hanya Eomma saja. Jangan aku juga! Appa!”  Ucapku dalam hati.

Aku menitikan banyak air mata. Mengingat kejadian kecelakaan itu. Karena aku kecelakaan itu terjadi. Karena kecelakaan itu, Appa pergi dan membuat Eomma tertekan hingga tak pernah mau berbicara padaku. Dan mulai saat itu pula aku harus kehilangan suaraku. Aku bagai orang bisu. Eomma benar-benar belum memaafkan aku. Aku benar-benar tertekan.

            “In Hee-ah, kau disini?”

Suara itu. Suara yang sangat lembut yang selalu membuatku tenang. Entah bagaimana jadinya aku jika aku tak bertemu dengannya saat itu. Akhirnya, aku bertemu lagi dengannya setelah sembilan tahun terpisahkan. Di sekolah ini. Eomma, dia membawaku pergi berpindah-pindah tempat setelah kepergian Appa.

Aku memeluknya dan menangis di pelukannya. “Hyun Woo-ah tetaplah bersamaku.”

***

            “Hei, apa kau benar-benar tak tahu diri? Kau masih saja berani mendekati Hyun Woo, heh?” Tiffany menampar pipiku dengan sangat kasar. “Bukankah sudah aku peringatkan padamu, berhenti mendekati Hyun Woo. Apa kau benar-benar gagu dan tuli? Hah?”

            “Apa hebatnya kau? Malah aku pikir kau itu pembawa sial, In Hee. Aku dengar kau adalah seorang pembunuh. Kau ingat Appa-mu? Dia mati karenamu. Eomma-mu? Bahkan, dia tak mau lagi berbicara padamu. Uh, aku pikir kau tak pantas hidup.” Ucapan Yoona benar-benar membuatku gila. Aku menutup telingaku dan menangis.

            “Jadi ingat, jangan pernah lagi dekati Hyun Woo! Ingat itu!” Ucap Tiffany kasar. Dadaku sesak. “Bukankah akan lebih baik jika kau mati saja, heh? Itu akan lebih baik. Atau kau mau menunggu siapa lagi yang hidupnya akan hancur karenamu. Hyun Woo? Keluarganya? Dan itu semua karenamu?” Aku terdiam. Mati???

***

            Rumah ini. Keluarga ini. Setidaknya mereka adalah pengganti keluargaku saat ini. Hyun Woo Appa, Hyun Woo Eomma, Hyun Woo dan Hyun Jae kecil. Mereka adalah keluargaku.

            “In Hee-ah, kau cobalah lauknya. Hyun Woo Eomma benar-benar seorang chef.” Ucap Hyun Woo Appa saat memberikan sepotong ikan di mangkuk nasiku.

Dia. Dia menepati janjinya dulu. Ia adalah Appa-ku sekarang. Aku tersenyum dan memakan ikan yang di berikannya. Hyun Woo Appa, dia adalah pahlawanku. Teman Appa yang paling baik terhadapku.

            Hanya ada aku, Hyun Woo Appa, Hyun Woo Eomma, dan Hyun Woo di ruang makan. Seperti biasa Hyun Jae kecil tak ikut bersama kami. Sudah lama aku datang ke rumah ini namun selama itu pula aku tak pernah bertemu dengannya. Hyun Woo selalu bilang bahwa ia seorang yang pemalu. Dia memang hanya seorang anak kecil yang pendiam dengan banyak perasaan terpendam di hatinya seperti halnya diriku. Dan selama itu pula aku sangat ingin mengenalnya lebih dekat. Seorang anak dengan punggung kecil yang penuh dengan rasa sepi.

“Ah, kau sudah selesai. Tunggulah aku di kamar, nanti aku menyusul. Aku akan menyelesaikan makanku dulu dan berbincang dengan Appa sebentar. Ok!” Ucap Hyun Woo. Aku pamit terlebih dahulu.

***

Kamar Hyun Woo, aku sangat menyukai baunya. Kamarnya sangat tertata rapi dan bersih. Tembok itu, tembok ini adalah tembok yang memisahkan kamar Hyun Woo dengan Hyun Jae kecil.  Dari tembok ini aku bisa merasakan kesakitan dan kemarahan yang di rasakan olehnya. Yang ia pendam di tembok ini. Aku duduk menyandar pada tembok itu.

Hyun Jae-ah, apa kau di belakangku? Apa punggung kita tengah bersandar pada tembok yang sama? Aku bisa merasakan hawa panas kemarahanmu dari sini. Hyu Jae-ah, kepada siapa kemarahanmu itu?” Ucapku dalam hati. Aku memetik senar gitar dan memainkan sebuah lagu. Hyun Jae kecil juga suka pada gitar. Sepertiku, Appa, dan Appa-nya. Kami distukan oleh gitar.

Hyun Jae-ah, kemarahan itu bukan padaku, kan? Appa-mu tak membencimu, Appa-mu hanya belum berdamai dengan waktu atas kesalahan yang waktu berikan pada Appa-mu. Kelahiranmu dan kematian Appa-ku. Itu membuatnya benar-benar gila. Bukan padamu kebencian itu Hyun Jae-ah tapi pada waktu. Hyun Jae-ah, jika kemarahanmu itu untuk keluargamu maka kau harus belajar untuk melupakan perasaanmu itu. Sebelum nanti kau menyesal setelah salah satunya tak ada. Hyun Jae-ah, muridku yang sangat aku sayangi, kau dengar apa yang aku katakan?”

Hyun Woo masuk ke kamar. Aku tersenyum padanya. Dia duduk di sampingku. Membenamkan tubuhku ke dalam pelukannya.

“Aku tak akan meninggalkanmu? Aku akan terus bersamamu. Aku berjanji! Kau juga akan seperti itu, kan?” Aku terdiam.

 Hyun Woo, ada apa dengannya? Mengapa tiba-tiba dia berkata seperti itu?

“Hyun Woo-ah, Appa-mu memanggilmu.” Ucap Hyun Woo Eomma dari balik pintu.

“Ne, Eommanim.” Jawab Hyun Woo. “Aku akan mengatakannya pada Appa. Aku tidak akan menerima beasiswa itu. Aku akan menunggumu saja. Akan lebih baik jika aku tetap berada di dekatmu. Kau tunggu disini.”

Hyun Woo pergi ke ruang kerja Hyun Woo Appa. Aku mengikutinya.Aku mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

“Terimalah, beasiswa itu. In Hee? Biar dia bersama Appa dan Eomma-mu. Kau tahu kami juga sayang padanya. Kau tahu aku sangat menghormati ayahnya, kan? Aku yang akan menjaganya.” Ucap Hyun Woo Appa.

“Tidak, Appa. In Hee, benar-benar membutuhkanku. Aku tak ingin meninggalkannya sendiri.” Jawab Hyun Woo.

“Hyun Woo-ah.”

“Tidak, Appa.”

Aniyo, Hyun Woo-ah. Apa yang di katakan Appa-mu benar. Kau harus menerima beasiswa itu. Aku tahu kau berbakat, aku tak ingin menjadi sebuah alasan yang akan membuat hidupmu hancur.” Ucapku dalam hati.

Beasiswa? Hyun Woo akan menolak beasiswa itu demi diriku? Dia akan menunda kelulusannya hanya untuk menungguku menyelesaikan tugas akhirku. Menciptakan sebuah lagu. Ia benar-benar akan melakukan hal itu? Ucapan Tiffany dan Yoona terngiang kembali. Aku memberanikan diri membuka pintu ruang kerja Hyun Woo Appa.

“In Hee-ah.” Ucap Hyun Woo. “Kembalilah ke kamar. Biar aku selesaikan pembicaraanku dengan Appa.” Lanjutnya. Aku menggeleng. Aku berjalan mendekatinya dan aku mengenggam tangannya dan tersenyum.

Kau harus dengarkan, Appa-mu. Aku menuliskannya di tangan Hyun Woo.

“Bukankah tadi aku sudah menjelaskannya padamu.”

Lakukan. Aku akan menunggumu. Buat aku bangga. Ne, Hyun Woo? 

“Tidak.”

Ini Untukku. Aku tersenyum meyakinkan. Hyun Woo terdiam. Hyun Woo Appa menghampiriku dan memelukku.

“Aku tahu kau anak yang baik. Aku sangat ingin memiliki anak perempuan dan Tuhan mengirim kau. In Hee-ah, Gomawo.”

***

Hyun Woo masih saja terdiam. Dia hanya menyandarkan tubuhku di pelukannya. Hyun Woo, hanya dia orang yang tak pernah aku mengerti arti dari sikap diamnya. Hingga hari telah larut kami masih saja terdiam.

Hyun Woo, aku mau pulang. Antarkan aku. Aku menuliskannya di tangannya.

“Kenapa kau tak menginap saja?” Aku menggeleng. “Baiklah, aku pinjam mobil dulu pada Appa.” Aku dan Hyun Woo keluar dari kamar.

“Appa, Eomma, In Hee dia ingin pamit.” Ucap Hyun Woo.

“In Hee-ah, bukankah lebih baik kau menginap saja. Ini sudah larut malam.” Ucap mereka. Aku tersenyum dan menggelengkan kepala. “Baiklah, hati-hati membawa mobilnya, Hyun Woo.”

“Ne, Appa.” Hyun Woo mengambil kunci yang Hyun Woo Appa berikan.

Aku memeluk Hyun Woo Appa dan Eomma bergantian.

***

Aku mengenggam tangan Hyun Woo erat sebelum turun dari mobil.

Baik-baiklah, Hyun Woo. Aku menuliskannya di tangannya.

Tangan itu. tangan yang selama tiga tahun ini sudah menjadi ganti mulutku. Dia tersenyum dan mengusap kepalaku lembut. Aku turun dari mobil dan melambaikan tangan padanya. Dia membalas dan pergi. Aku melihat mobilnya yang pergi menjauh. Mobilnya sudah tak terlihat. Aku berjalan masuk ke rumah.

Hatiku benar-benar terasa sakit. Eomma. Apa yang dia lakukan? Aku membuang obat yang ada di tangannya. Dia ingin bunuh diri? Dia ingin meninggalkanku? Eomma biarkan aku saja yang pergi. Aku memeluk Eomma erat. Dia menangis sejadinya. Sudah tak terhitung berapa kali ia mencoba melakukan hal ini. Aku memeluknya lebih erat. Rasanya ingin sekali berteriak tapi itu tak mungkin.

Dia sudah sedikit tenang. Aku mengantarkannya pergi ke kamar dan menunggunya hingga terjaga. Eomma. Wajahnya terlihat sangat lelah.

Eomma, maafkan aku. Aku mengecup keningnya. Aku kembali ke kamar.

Tubuhku benar-benar terasa sangat sakit. Aku menjatuhkan tubuhku di lantai. Lantai yang begitu sangat dingin.

Appa, apakah harus seperti ini? Hingga kapan? Appa, tak bisakah kau akhiri semua ini?

Aku meraih pigura poto keluargaku. Poto terakhir yang kami ambil saat Appa mendapatkan sebuah penghargaan musik. Melihatnya dan menangisi poto keluarga yang ada di tanganku. Ucapan Tiffany dan Yoona kembali terngiang.

Aku sudah sangat lelah, Appa. Apakah aku saja yang pergi menemuimu, jika kau tak bisa menemuiku?

Aku menjadi gelap mata. Aku mengambil pisau lipat yang tergeletak di hadapanku. Aku memotong pergelangan tanganku dengan pisau yang biasa aku gunakan untuk menajamkan pensilku. Pisau yang Hyun Woo berikan padaku sebagai hadiah penyemangat mengerjakan tugas akhirku. Membuat sebuah lagu.

Darah mengalir deras dari pergelangan tanganku. Darah itu membasahi poto dan ketas-kertas lagu yang tergeletak berantakan di lantai. Semua bayangku tentang kebahagianku dengan keluargaku terulang kembali. Kenangan bersama Hyun Woo dan juga keluarganya. Aku tersenyum. Dan menutup mataku.

***

(Kang Hyun Woo pov)

“Appa.” Aku berdiri lemah di hadapan Appa. Aku tak sanggup melangkah. Aku tetap berdiri didepan pintu kamar In Hee. Hari ini, kami menjemput In Hee dan Eomma-nya untuk memperingati hari kematian Appa-nya. Kami sengaja selalu meninggalkan Hyun Jae sendiri di rumah untuk memperingati hari ini. Hyun Jae, dia pasti sangat membenci kami karena selalu menomorduakannya setiap tahun. Appa selalu lebih mementingkan hari peringatan kematian sahabatnya, di banding ulang tahun anaknya. “Appa.” Aku menangis sejadinya. Apakah yang aku lihat di kamar itu dia? Tubuh yang di penuhi dengan darah itu. Di hari peringatan kematian Appa-nya?

“Hyun Woo-ah, wae?” Appa bertanya kebingungan.

“In Hee. In Hee.” Aku terduduk di depan pintu. Memeluk kakiku. Appa berjalan masuk ke kamar In Hee.

Kamar In Hee penuh dengan darah. Tubuhnya telah di lumuri banyak darah. Tubuhnya kaku. Appa menghampiri tubuh In Hee.

“In Hee-ah. In Hee. Bangunlah! Jebal. In Hee-ah. Tteonajima jebal, In Hee-ah. Mohon jangan pergi. Jangan pada hari ini lagi. In Hee-ah? Cukup hanya Appa-mu saja. In Hee-ah.” Appa berteriak. Air matanya mengalir deras.

Benarkah itu dia? In Hee? Kenapa harus dengan cara seperti ini? In Hee-ah. Aku menangis. Aku tak sanggup melihat kenyataan yang ada.  Gadis yang begitu aku cintai. Gadis yang selalu ingin aku lindungi.

Eomma dan In Hee Eomma keluar dari kamarnya. Eomma membantunya merapikan diri tadi. Ia tak tahu apa yang terjadi pada In Hee? Sungguhkah dia tak peduli pada In Hee? Sebegitu marahnya ia pada In Hee? Aku menatapnya nanar.

“In Hee-ah.” In Hee Eomma jatuh pingsan seketika.

            “Eonnie!”

***

            Appa benar-benar terpukul dengan hal ini. Dia selalu menyalahkan waktu atas semua yang terjadi. Di hari kelahiran anaknya yang sungguh begitu istimewa baginya, Ia harus di tinggalkan oleh dua orang yang berharga dalam hidupnya. Sahabat dan anak gadisnya. Betapa ia begitu bangga memiliki anaknya yang tumbuh begitu tampan. Anak yang fisik, perilaku, selera musiknya sama sepertinya, sahabatnya, dan gadis itu.

Tapi, karena itulah, itu adalah hal yang membuat Appa semakin membenci dirinya sendiri saat melihat Hyun Jae. Melihat Hyun Jae berjalan. Saat Hyun Jae memakai baju dengan warna kesukaannya. Mendengarkan aliran musiknya. Dan saat ia memainkan gitar. Hyun Jae benar-benar paket lengkap dengan segala keistimewaannya. Ia tampan dan berbakat seperti Song Si Won. Dan ia mencintai gitar seperti Appa dan gadis itu.

“Yobo, haruskah seperti ini? Haruskah kau hancurkan semua kenangan indahmu dengan Si Won dengan cara seperti ini?” Ucap Eomma saat Appa memutuskan untuk menghancurkan segala sesuatu yang berhubungan dengan masa lalunya bersama sahabatnya.

“Entahlah. Disini.” Appa menunjuk dadanya. “Disini. Aku sudah sangat lelah.”

***

(3 tahun yang lalu. Hyun Jae pov)

Aku memainkan gitar baru milikku. Di dalam kamar, tempat teristimewa di rumah. Bagiku. Aku membelinya dari uang tabunganku. Aku menghadiahi diriku sendiri dengan gitar ini di hari ulang tahunku. Ulang tahun. Siapa yang peduli dengan ulang tahunku. Semua keluargaku selalu pergi di hari itu. Sangat sibuk. Bahkan, mungkin mereka tidak ingat ini hari ulang tahunku. Mereka sepertinya lebih mengingat hari itu sebagai hari yang lebih spesial daripada hari ulang tahunku. Tapi, ya sudahlah. Aku sudah terbiasa dengan hal itu.

Aku memainkan lagu Twinkle-twinkle. Lagu yang sangat aku kuasai. Lagu pertama yang aku pelajari dari seorang guru tak terlihat yang sangat aku sayangi. Siapa dia? Aku tak tahu yang aku tahu dia adalah seseorang di balik tembok dengan permainan gitar sihirnya.

“Hyun Jae, hentikan permainan gitarmu!” Appa masuk ke kamarku dengan tiba-tiba. Ini pertama kalinya dia masuk kedalam kamarku.

“Ne, Aboji.” Ia duduk di sampingku.

“Kau sudah besar. Bulan depan kau masuk SMA. Ingin sekolah apa?” Tanyanya.

“Musik.”

Appa mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kau harus contoh Hyung-mu. Dia siswa terbaik di sekolahnya. Musik klasik. Jika kau ingin masuk ke sekolah musik maka kau harus masuk kelas klasik tapi bukan gitar. Terserah kau ingin memilih alat musik apa tapi jangan gitar.” Ucap Appa dengan tegas.

Aku kira ini adalah waktu yang sangat aku tunggu. Waktu bersama seorang ayah. Ayah yang sesungguhnya. Tapi, tetap saja dia Appa yang aku kenal. Appa yang selalu saja menjadikan Hyun Woo dewa.

“Tapi Appa, kau tahu aku sangat menyukai gitar, bukan? Lagi pula aku tak suka musik klasik. Kenapa aku harus seperti Hyung? Aku bukan Hyung, aku Hyun Jae. Aku juga anakmu, bukan? Bukankah kau juga seorang gitaris?” Sanggahku.

“Tidak. Appa beri dua pilihan untukmu. Sekolah musik klasik, tapi bukan gitar atau kau sekolah bisnis. Musik klasik tanpa gitar atau sekolah bisnis? Hanya itu pilihanmu.” Ucapnya lalu pergi.

Aku hanya terdiam. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupku beradu pendapat dengan Appa. Aku tak pernah ingin berselisih paham dengan Appa. Aku selalu mencoba menjadi anak yang baik untuk Appa. Aku selalu menuruti apa yang di inginkannya.

“Appa, tahukan dia, aku sangat menyayanginya. Tapi entahlah, sepertinya dia tak begitu padaku.”

==== to be continued ====

 

 

 

One thought on “The Music of Love (Part 8)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s