Missing?!? Again?

 

missingAgain

Missing?!? Again?

Kami akan terus bersama, menyajikan kebahagian, membuat teman-teman abadi kami tertawa, menghibur mereka dengan karya kami, bermain bersama di Super Show. Dari kami pergi satu persatu, kembali satu persatu sampai berkumpul kembali seperti dulu. Kami akan selalu bersama, maukah kalian berjanji? Maukah kalian menunggu saat itu tiba?

Title : Missing?!? Again?

Author : Cressentia Dulcie (Desty Cho Eun Ji)

Genre : Family and Brothership

Rate : All age

cast : Yesung
Jong Jin and all Super Junior member

Other Cast : Duo Han, Han Hyo Jae dan Han Yui (eonniku terANTIK :p)

Desclaimer : Semua cast milik Tuhan dan orang tua mereka. Saya hanya memiliki cerita ini yang dibuahkan dari rasa galau para ahjuma Hijabers dan mungkin sebagian dari Elf :p. Silahkan berkhayal bahwa mereka milik kalian. Suju cinta Elf dan Leeteuk mencintaiku/geplaked.

Warning : Semua asli dari saya, mungkin ada yang tidak sesuai dengan apa yang ada didalam kenyataan. Tapi saya sudah berusaha, entahlah ini bisa menggalaukan atau tidak -.- UDAAAH TELAAT BANGEET..

Cerita ini teruntuk clouds tersayang, Happy Reading…MissingAgai

Jalanan Seoul masih terlihat lenggang, Sebuah mobil Renault Samsung SM5 melaju pelan. Orang yang menyetir mobil tersebut hanya ingin lebih menikmati kota Seoul saat pagi hari. Lampu-lampu masih menyala, terlihat indah bila dilihat dari atas Namsan Tower. Walaupun sudah memasuki musim panas Seoul tetaplah membeku saat pagi hari, pengendara itu sesekali mengubah frekuensi penghangat dimobilnya menyesuaikan dengan suhu tubuhnya. Matanya sedikit menerawang, diliriknya penumpang di sebelah kanannya. Dengan sengaja dia menoyor kepala laki-laki -yang tidak lain adalah adiknya- membuat kepala laki-laki itu terantuk jendela mobil dan terbangun dari tidur free stylenya. Dia terkekeh saat adiknya hanya mengusap kepalanya dan kembali tidur; memperbaiki posisinya. Pengendara itu sedikit merasa bersalah, dia membuat tidur nyenyak sang adik terganggu oleh ulahnya. Pagi ini dia hanya ingin menghabiskan waktunya sebaik mungkin, sebelum dia menjalankan tugas negara selama 2 tahun. Masih diingatnya saat dia membangunkan adiknya, wajah memberenggut dan mengomel itu pasti akan sangat dia rindukan. Dia kembali terkekeh saat adiknya menggulung dirinya didalam selimut membuatnya terlihat seperti kepompong sebelum dia menarik selimutnya membuat sang adik terjerambab dilantai, tidak hanya itu dia juga menyeret adiknya kekamar mandi dan menyiramnya dengan air. Membuat suara gedebukan karna keterkejutan adiknya yang membuahkan dia harus terpleset dikamar mandi. Ada rasa kesal tapi juga lucu. Sekali lagi dia menoleh pada adiknya dan tersenyum.

“Mianhae, Jong Jin-ah.”

Dia sedikit membuka jendela mobilnya, menghirup udara pagi sebanyak mungkin sebelum akhirnya dia menutup kembali jendelanya karna angin pagi sangatlah dingin membuat bulu kuduknya sedikit meremang. Dia melihat jam tangan hitam yang bertengger ditangannya, masih setengah lima pagi. Wajar saja masih sepi, semua orang pasti lebih memilih bergelung diselimutnya. Dia mulai bersenandung ringan sembari melihat sekelilingnya, emperan toko yang biasanya dipenuhi oleh penjual Pojangmacha masih tampak sepi. Mobilnya masih melaju pelan, melewati beberapa toko seperti Concierge, Baskin Robbins, Nature Republic. Sebagian toko masih tutup namun sebagian lagi selalu buka 24 jam. Dia sedikit menambah kecepatannya saat akan sampai ketempat yang dituju. Saat dia melihat gedung Samsung Mobile dia melambatkan laju mobilnya, merubah perseneling mobil Renault Samsung miliknya dan berbelok kearah kiri menuju gang kecil. Begitu melihat tempat yang dituju, dia menghentikan mobilnya dan keluar dari mobil, sengaja tidak membangunkan adiknya. Dia berputar menuju arah mobil disisi satunya, membuka pintu dan dengan semangat menjitak kepala adiknya yang masih tidur. Dengan memasang wajah datar dia berlalu begitu saja, setelah beberapa langkah tawanya terdengar membahana saat adiknya berteriak, “Yesung Hyuuuung!” dan mengejarnya.

Menghindari kejaran adiknya dia berlari menuju tempat bertitle ‘Mouse Rabbit’ yang masih tampak gelap. Yesung berhenti saat kakinya menginjak satu tangga menuju pintu masuk. Memandangi setiap sudut cafe dengan nuansa putih tersebut.Tempat ini akan menjadi salah satu tempat yang sangat dia rindukan, dia ingin memotret banyak momen bersama adiknya disini, bukan dengan kamera tetapi dengan mata dan hatinya. Itulah kenapa dia begitu ngotot membangunkan adiknya dipagi buta seperti ini, karna hanya saat seperti inilah dia bisa menghabiskan waktu tanpa gangguan dari Elf. Sedikit tepukan dikepalanya membuatnya tersadar dari lamunannya, ya, sedikit membuatnya mengaduh lara. Jong Jin menjulurkan lidahnya dan membuka satu-satunya pintu yang berwarna merah. Membuat Yesung mendengus, rupanya adiknya begitu berhaus untuk membalaskan dendamnya.

Kakinya melangkang hati-hati ditangga mini cafe. Meresapi setiap sudut ruangan, Jong Jin sudah menyalakan sebagian lampu cafe Mouse and Rabbit. Perlahan Yesung membuka pintu merah itu, Sebelum masuk dia sempat melirik pintu putih disebelah tempatnya berdiri. Pintu putih itu menuju beranda tempat untuk merokok. Yesung tersenyum sekilas dan memasuki cafenya. Berhenti lagi di samping counter saat dia menemukan dua buah kursi dengan gitar yang bersandar disalah satu kursi dan miniatur sepeda terletak diatas kursi yang lainnya. Pandangannya beralih keatas, sebuah tulisan Mouse and Rabbit terpapang disana dibawahnya ada angka 19841987 yang tidak lain adalah tahun lahirnya si Mouse dan si Rabbit -Yesung and Jong Jin-. Yesung kembali terkekeh saat dia mengingat tujuan dua kursi itu diletakkan disana. Tentu saja kursi itu khusus untuknya dan Jong Jin. Mereka pernah berencana untuk berfoto disana, dia merasa mungkin ini adalah saatnya. Yesung melihat sekeliling mencari Jong Jin yang entah sedang melakukan apa. Dia melambaikan tangannya saat melihat Jong Jin, menyuruhnya untuk datang.

“Jong Jin-ah.”

“Ne, Hyung.”

Jong Jin segera menuju kearah kakaknya dan mengernyit bingung. Saat akan membuka mulutnya untuk bertanya, kakaknya sudah mendahuluinya.

“Ayo, kita selca,” Jong Jin mengangguk dan hanya menurut saat Yesung menariknya; menyuruhnya duduk di kursi itu dengan membawa miniatur sepeda peninggalan cafe sebelum Mouse Rabbit; Terrace. Yesung mengarahkan I-Phone kearah mereka. Dengan memasang senyum konyol Jong Jin berpose disamping Yesung yang membawa gitar. Sampai akhirnya Yesung menoyor kepala adiknya sembari bergumam, “Senyum yang benar,” membuat Jong Jin memberenggut dan Yesung memotretnya.

“YA! Hyung,” Jong Jin mencak-mencak yang dibalas dengan decakan kagum Yesung.

”Dongsaengku memang tampan,” Gumamnya masih terus melihat hasil foto barusan, Yesung melirik Jong Jin yang masih dalam posisi semula; duduk membawa miniatur sepeda dengan wajah kesal dibuat-buat. Yesung mendengus dan meninggalkan Jong Jin tanpa peduli tatapan mematikan yang diberikan adiknya.

Seolah mengikuti naluri Yesung kaki itu terus melangkah menyusuri keseluruhan cafe yang berdiri tanggal 11 november tersebut. Yesung naik kelantai dua yang sepenuhnya diisi kursi dan meja untuk makan dan sekedar bercanda. Ruangan itu sepenuhnya berwarna putih dengan atap coklat yang menyeimbangkan suasana. Yesung duduk disalah satu sofa, dia memperhatikan sekeliling; mencoba untuk menyimpan segalanya dengan baik diotaknya.

Ada sebuah jam proyektor yang menempel pada dinding, Yesung meliriknya dan menyamakan dengan jam ditangannya. Rupanya tidak jauh berbeda; Pukul setengah enam pagi. Yesung kembali turun dan melihat sebatang pohon yang tumbuh ditengah ruangan hampir dekat dengan pintu keluar, pohon itu setinggi 4,50 Meter. Dengan akar yang yang berada diruang bawah tanah Mouse Rabbit.

Jong Jin sedang berada di balik meja kasir, sepertinya dia sedang membuat sesuatu. Ruangan Mouse Rabbit ini didesain sedemikian rupa oleh dua Kim bersaudara, mereka hanya mengupayakan agar semua pengunjung merasa nyaman berada di sini. Sambil sesekali memutarkan kepalanya ke seluruh sudut Mouse Rabbit, Yesung berjalan menuju ruang bawah tanah. Dia menuruni tangga dengan hati-hati, kali ini dia mencoba menghirup aroma terapi yang tersebar diruang bawah tanah yang memang dirancang untuk bersantai. Yesung membuka pintu sambil melepaskan sepatunya karna memang saat di ruang bawah tanah tidak boleh memakai alas kaki, Jong Jin pernah bercanda bahwa itu seperti orang India. Yesung meletakkan sepatunya pada rak yang disediakan dan mulai menelusuri ruang yang dibuat sedikit gelap.

Yesung duduk di pinggiran akar pohon yang batang pohonnya menembus kelantai atas. Di sekitar akar pohon itu seperti dibangun pembatas untuk duduk bersantai dengan lampu bintang yang berkelap kelip diruang gelap. Ide yang sangat jenius bukan? Yesung menerawang ‘Andai saja aku bisa duduk disini dengan orang yang kucintai,’ Dan beberapa detik kemudian dia tertawa, menertawakan khayalannya sendiri. Dia terlalu sibuk hanya untuk mengurus masalah hati. Kemaren dia sudah terlalu banyak memikirkan kemungkinan apa yang terjadi dengan orang-orang dan sesuatu yang akan dia tinggalkan. Yesung menghela nafas, Semua akan baik-baik saja, ‘kan? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Fansnya pasti akan terus menunggunya, adik-adiknya di Super Junior tidak mungkin melupakannya begitu pula keluarganya. Dan ini juga hanya 2 Tahun, lalu apa yang harus ditakutkan?

Yesung terperanjat saat mendengar pintu terbuka, Jong Jin masuk sambil membawa dua buah cangkir. Dihirup dari baunya sepertinya itu capuccino. Jong Jin menyorongkan satu gelas pada hyungnya yang diterima Yesung dengan senang hati. Jong Jin menyusul duduk disamping Yesung sambil mendongakkan kepalanya, sedikit menghela nafas. Rasanya berat sekali melihat wajah kakaknya, dia takut air matanya akan jatuh. Namja yang lebih muda 3 tahun dari Yesung itu sudah berjanji untuk berpisah dengan senyuman bukan dengan lelehan cairan asin yang menyesakkan dada. Menyadari suasana yang hening anak pertama dari keluarga kecil Kim itu berdehem, meniup capuccinonya dengan canggung. Jong Jin yang cepat tanggap langsung tersenyum dan menghirup capuccinonya.

“Mashita?”

“Ne, kau memang Barista yang hebat, Jinie-ya.”

“Jinie?” Jong Jin tersedak aroma capuccinonya, Yesung yang menyadari panggilan konyolnya hanya terbahak.

“Hari ini kau akan kemana, Hyung?”

“Aku akan ke Dorm, menemui mereka. Aku tidak akan ke Why Style.”

“Apa kau akan menginap?”

“Entahlah, aku rasa mereka tidak akan membiarkanku pulang.”

“Ini tanggal berapa, Hyung?”

“5 Mei, hari Minggu yang sangat cerah,” Yesung menghirup capuccinonya, hanya sekadar mengalihkan perhatian karna dia bisa melihat Jong Jin yang terus menatap kedepan tidak pernah ingin menatap dirinya.

“Berarti besok ya, Hyung?” Jong Jin memutarkan jarinya dipinggiran gelas, namun matanya masih melihat kedepan enggan melihat wajah kakak satu-satunya. Walaupun tempat ini gelap Yesung sangat yakin bahwa adiknya kini tengah mati-matian menahan air mata. Kakak adik itu terdiam, si sulung menatap adiknya trenyuh dan adiknya masih tetap memutar tangannya diujung gelas secara perlahan, seolah sedang merasakan tekstur gelas tersebut.

“Ini tidak akan lama, Jong Jin-ah,” Jong Jin mengangguk pelan. Semalaman dia sudah terlalu banyak menangis, walaupun diam-diam saat kakaknya sedang bebicara dengan Orang tuanya. Hari ini Jong Jin yakin bahwa kakaknya pasti akan menghabiskan waktunya dengan member Super Junior, karna besok siang tepat jam 1 kakaknya akan menuju barak militer, berada disana berlatih selama 4 minggu. Jong Jin sebenarnya ingin tetap menahan Yesung disini bersamanya namun dia tidak ingin egois, pasti Yesung juga merindukan Member Super Junior setelah ditinggal konser ke Amerika Selatan kemarin. Apalagi member Super Junior itu sangat sibuk, lagi pula Yesung sudah tinggal bersamanya sejak jauh-jauh hari untuk menghabiskan banyak waktu bersama keluarga. Yesung orang yang sangat loyal, kepada siapapun yang dia sayangi dia tidak akan menyia-nyiakan waktunya.

“Setelah ini mungkin jam 7 aku akan ke Dorm suju. Kalau aku menginap aku akan pulang pagi, aku sudah menyiapkan semuanya jadi tinggal pergi saja.”

“Kau tidak ingin melihat ELF dulu?”

“Tidak, aku takut aku akan menangis dihadapan mereka. Aku tidak akan rela melihat mereka menangis. Aku akan pergi sebelum kau membuka cafe.”

“Aku ingin melihatmu sebelum kau benar-benar pergi, Hyung.”

“Kita masih bisa bertemu pagi harinya, Dongsaeng. Lagipula semua peralatan juga ada dirumah ‘kan?” Jong Jin menunduk, capuccinonya dibiarkan begitu saja.

“Jaga Eomma dan Appa dengan baik, urus fansku ya,” Yesung bermaksud melucu tapi rupanya dari dulu lawakannya tidak pernah berhasil.

“Kau sudah siap dengan rambut botakmu, Hyung?”

“Sebenarnya aku tidak suka, jidatku pasti terlihat semakin lebar,” Jong jin tersenyum walau masih menunduk. Dia memang sudah sering berpisah dengan kakaknya tapi entah kenapa rasanya kali ini sangat berat. Mungkin karna sudah ada banyak tekanan yang menyerang kakaknya Jong Jin merasa tidak tega, kakaknya sudah berjuang terlalu keras tapi entah kenapa orang-orang tidak tahu diri itu malah menyudutkan kakaknya. Jong Jin kecewa; sangat. Dadanya sesak melihat kakaknya yang begitu kuat dan tegar menghadapi semua itu.

“Saat disana, atur pola makanmu, kau punya penyakit lambung jaga kesehatan. Jangan menyanyi dikamar mandi, kau akan dilempar gayung oleh Komandan.”

”Kau juga, jaga kesehatan. Hilangkan cara tidur free stylemu itu. Jong Jin-ah, lihat Hyung,” Jong Jin menoleh, sudah Yesung duga mata Jong Jin tampak merah. Yesung meletakkan gelasnya dan meraih gelas Jong Jin, Dia menghirup capuccino Jong Jin sedikit dan meletakkan gelasnya di samping gelas Yesung.

”Capuccino sisa dari adikku lebih manis,” Air mata Jong Jin mengalir perlahan, dia menggigit bibirnya. 2 tahun tidak akan melihat orang yang begitu dia kagumi ini, seperti De Javu saat hyungnya akan pergi traine beberapa tahun silam. Yesung menarik adiknya kedalam pelukannya, dia ingin menangis tapi tidak bisa. Yesung menarik nafas keras-keras saat mendengar isakan Jong Jin dan tubuh Jong Jin yang bergetar dalam pelukannya. Dia tetap tidak boleh menangis, Yesung menepuk-nepuk punggung adiknya mencoba untuk menenangkan. Namun Jong Jin semakin terisak, walaupun hanya 2 tahun tapi dia sulit melepas kakaknya. Dicengkramnya lengan Yesung erat, benar-benar tidak ingin melepaskannya.

Yesung melepaskan pelukannya dan menggenggam bahu Jong Jin yang terus menunduk dengan air mata yang tertahan di kedua matanya. Yesung menggoyangkan bahu adiknya, menyuruhnya untuk menatap matanya. Jong Jin bergeming, dia menggelengkan kepalanya. Yesung menghela nafas.

“Jong Jin-ah, Hyung tidak suka melihat orang menangis jadi berhentilah,” Lagi-lagi Jong Jin bergeming, Yesung menarik dagu adiknya dan menghapus air mata Jong Jin dengan ibu jariya, “Kau ingin melihat Hyung menangis?” Jong Jin menggeleng, “Kalau begitu berhentilah.”

Jong Jin menarik nafasnya kuat, menahan isakannya. Dia menarik kakaknya kedalam pelukannya, memeluknya terlalu erat membuat Yesung lagi-lagi menahan airmata yang  membuat matanya perih.

“Mumpung masih pagi ayo makan sesuatu, Hyung,” Jong Jin melepaskan pelukannya dan menarik Yesung untuk ikut bersamanya. Jong Jin terus berjalan membelakangi Yesung. Dia sedang berusaha keras untuk tidak menangis lagi. Sering kali Yesung melihat adiknya menarik dan membuang nafas keras-keras.

Mereka kembali kelantai atas, Yesung duduk disalah satu bangku didekat jendela kaca dan memperhatikan Jong Jin yang mengambil beberapa dagangannya. Sambil melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan jam enam pagi, Yesung menghirup banyak-banyak udara pagi. Jong Jin datang dengan membawa muffin dan segelas milk shake, mereka mulai makan dalam diam. Sesekali Jong Jin melirik kakaknya, airmatanya sudah mengering. Mereka mencoba menikmati kebersamaan mereka ini, tanpa percakapan namun tatapan hangat dari kedua pasang mata itu sudah mampu mewakilkan perasaan-perasaan terpendam mereka. Segala sesuatu memang tidak bisa dengan mudah untuk diwakilkan dengan kata-kata, itulah yang mereka alami sekarang.

Yesung berpamitan pada Jong Jin dengan sebuah pelukan dan pergi meninggalkan Jong Jin sendiri. Dia melambaikan tangan dan tersenyum sebentar namun Jong Jin justru berbalik dan masuk kedalam café. Yesung tampak kecewa dan senyumnya menghilang, dia perlahan melangkahkan kakinya dengan kepala menunduk. Seharusnya dia tahu bahwa Jong Jin sekarang kembali menangis dibalik pintu merah satu-satunya di café Mouse and Rabbit.

****

Main vocal dari salah satu boyband ternama korea itu berjalan pelan, dia berhenti sebentar saat merasa ada yang mengikutinya. Yesung kembali berjalan, dan orang yang mengikutinya juga ikut berjalan membuat Yesung sedikit was-was. Dia berjalan cepat dan orang itu juga berjalan cepat. Yesung berlari dan orang itu megejarnya, Yesung segera masuk kedalam mobilnya dan menguncinya. Yesung melihat sekeliling dan dia melihat dua orang Yeoja sedang berdiri di samping mobilnya, dia mengernyit saat melihat mata mereka yang berkaca-kaca. Salah satu dari mereka mendekat dan mengetuk pintu mobil Yesung.

“Open, Please!” Suara itu terdengar serak, Yesung tidak tega melihatnya. Yeoja satunya lagi sudah menangis bibirnya bergerak-gerak seperti bergumam, “Oppa, Jebaal!” Karna tidak tega Yesung akhirnya membuka jendela mobilnya dan melihat dua Yeoja itu tersenyum sambil terisak.

“Oppa, mianhae.”

“Kami hanya ingin memberikan sesuatu padamu.”

“Tidak apa-apa, sini berikan padaku,” Kedua yeoja itu memberikan apa yang mereka bawa. Satu memberikan kaktus kecil dan satu memberikan bingkisan kecil. Yesung menerimanya sembari tersenyum.

“Siapa namamu?”

“Han Hyo Jae,” Orang yang memberikan kaktus menjawab cepat.

“Aku Han Yui,” Yang memberikan bingkisan kecil tidak ingin kalah.

“Hyo Jae-ssi, kenapa memberiku kaktus?”

“Karna kaktus itu unik seperti Oppa. Dia berduri tapi bunganya sangat cantik,” Yesung tersenyum.

“Jadi menurutmu aku berduri?” Hyo Jae gelagapan dan menggeleng bingung.

“Aku hanya bercanda, dan kau Han Yui-ssi?” Yesung tersenyum dan Han Yui hanya mengangguk gugup, “Apapun isinya ini aku sangat berterima kasih, kalian cantik,” Duo Han itu hanya menganga mendengar ucapan Yesung.

“Maaf aku harus pergi.”

“Nde, Oppa jaga dirimu baik-baik dan kembalilah dengan selamat.” Mereka berdua berujar kompak yang membuat Yesung terkekeh. Yesung mengangguk sebentar dan tersenyum.

“Datanglah ke Mouse Rabbit dan temani Jong Jin,” Yesung menutup kempali jendelanya dan menjalankan mobilnya. Dia kembali tersenyum saat melihat duo Han melambai-lambaikan tangannya, dengan sengaja dia membunyikan klakson dan membuka jendela mobil lagi sambil balas melambai, sama sekali tidak peduli efek dari lambaian tangannya. Kedua Yeoja itu sekarang terdiam membeku ditempatnya.

Mobil Renault Samsung SM5 melaju menyusuri jalanan Seoul yang sudah memulai aktifitasnya kembali. Yesung melirik dua buah kado yang diberikan Fansnya tadi. Dia tidak menyangka akan ada fans yang menunggunya sepagi ini, dia hanya belum sadar bahwa ada begitu  banyak orang diseluruh penjuru dunia yang rela melakukan apapun untuknya. Yesung hanya berfikir, memangnya selama ini apa yang telah dia lakukan sampai diberikan cinta yang begitu besar? Dia terkekeh, melihat kaca diatas kepalanya dan bergumam, “Pasti karna aku tampan,” membuat makhluk hidup satu-satunya selain dirinya –kaktus- merontokkan durinya. Mobilnya terus melaju melewati sungai Han yang memang dekat dengan Apartment Super Junior. Saat dia melihat gedung Lotte Apartment dia memelankan laju mobilnya karna sebentar lagi dia akan sampai pada tempat tujuannya, Dorm suju terletak tepat di belakang Lotte Apartment.

Yesung memasuki tower C, menuju lift dan berfikir sebentar akan menuju lantai 1101 atau 1201. sampai akhirnya dia lebih memilih ke lantai 1101 dulu, karma dilantai 1201 pasti sangat sepi. Bunyi ‘Thing’ yang menandakan bahwa dia sudah sampai diikuti dengan pintu lift yang terbuka membuyarkan lamunan Yesung. Kepalanya kembali menyelusuri seluruh gedung, saat menemukan pintunya dia langsung memasukkan passwordnya, untung saja dia masih ingat dan untung saja adik-adiknya tidak menggantinya. Dorm masih sepi, dia tidak berfikir bahwa ini terlalu pagi untuk berkunjung. Yesung melepaskan sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah, merasa mendengar sesuatu yang berisik didapur dia langsung menuju dapur yang memang dekat dengan pintu masuk setelah kamar KyuMin tentu saja. Dia melihat Ryeowook sedang membuat sesuatu, tentu saja dia sudah menduga bahwa adik kecilnya inilah yang paling rajin di Dorm.

“Ryeowook-ah, kau disini?” Ryeowook menoleh kaget, dan segera memeluk Yesung. Sungguh dia merindukan Hyungnya ini.

“Hyung, kau datang. Aku merindukanmu, Hyung.”

“Nado, yang lain belum bangun?”

“Belum, mereka pasti kelelahan. Hyung, mau teh gingseng?” Yesung mengangguk dan segera menuju meja makan yang memang menjadi satu dengan dapur.

“Kau sendiri, apa kau tidak lelah?”

“Sudah biasa, Hyung. Ini tehnya, minumlah mumpung masih hangat,” Ryeowook memberikan gelasnya pada Yesung dan mendudukkan dirinya di samping Hyung kesayangannya itu.

“Kau mau?”

“Aku sudah, Hyung,” Yesung bergumam dan meminum teh ginsengnya, dia sedikit tersedak saat menyadari Ryeowook melihatnya tanpa berkedip.

“Aku harus berpisah lagi dengan Hyungku, tidakkah ini menyebalkan? Setiap tahun harus berpisah. Pergi dan kembali,” Yesung terkekeh dan mengacak rambut Ryeowook yang memberenggut.

“Seharusnya kalian sudah terbiasa dengan berpisah seperti ini,” Perkataan Yesung membuat Ryeowook sedih. Super Junior punya banyak anggota tentu saja perpisahan mereka juga akan sangat sering.

Ryeowook dan Yesung terdiam, mereka memang seharusnya sudah terbiasa tetapi yang namanya perpisahan pasti menyakitkan. Tidak bertemu dalam kurun waktu yang cukup lama membuat mereka harus merasakan rindu satu sama lain. Sudah begitu banyak perpisahan yang mereka alami, mulai dari terbentuknya SuJu M yang dikhususkan untuk pasar China. Hengkangnya Hankyung yang membuat sang magnae jatuh sakit dan Heechul yang menolak menyanyi, Kibum yang memutuskan hiatus yang bahkan sampai sekarang belum kembali, sampai member yang pergi menjalankan kewajiban negara. Semua kepergian itu tentu saja berpengaruh besar untuk keberlangsungan SuJu, apalagi kasus hengkangnya Hankyung. Membuat mereka kerepotan dengan antis yang semakin memojokkan mereka dan tentu saja member yang masih belum menerima keputusan Hankyung membuat aktifitas terhambat belum lagi terpisah jarak dan harus menahan rindu satu sama lain. SuJu adalah kumpulan orang-orang yang kuat, mereka bertahan apapun cobaan yang menghalangi mereka. Tangisan sudah bukan hal yang asing lagi bagi mereka, tahun 2007 adalah hal yang paling menyedihkan. Tidak ada yang mau mengenang hari itu, hari saat mereka hampir saja kehilangan sang magnae. Tapi dengan begitu banyak pukulan-pukulan yang dialami mereka membuat mereka sanggup berdiri tegak menggunakan kedua kaki mereka, membuat mereka semakin kuat. Tangisan bukan sesuatu yang menunjukkan SuJu itu lemah tapi sebaliknya semua tangisan mereka sudah menunjukkan bahwa mereka kuat. Mereka juga harus bersyukur tentu saja, karna mereka mempunyai fans yang begitu kuat seperti ELF yang bahkan bisa membeli saham management untuk melindungi mereka. ELF yang begitu kuat membuat SuJu menjuluki mereka THE POWER OF ELF. Ya, teman selamanya bukan fans selamanya.

Ryeowook berdiri dari duduknya berjalan menuju meja dapur, mengambil sepiring sandwich dan meletakkannya keatas meja. Bunyi piring dan meja yang beradu mengalihkan perhatian Yesung. Dia melirik Ryeowook dan tersenyum sekilas.

“Ryeowook-ah, bisakah hari ini kita tidak membicarakan wamil? Aku hanya ingin menikmati hari bersama adik-adikku tanpa menjurus pada takutnya perpisahan,” Ya, tentu saja Yesung jengah. Dia hanya ingin berpisah dengan senyuman bukan isakan. Mengerti keadaan Ryeowook menggangguk dan mendudukkan dirinya dikursi samping Yesung.

“Arraseo, Hyung.”

“Sungmin-ah, Kyuhyunie dan Eunhyuk masih tidur?”

“Nde, Eunhyuk Hyung tidur dilantai atas menemani Donghae Hyung. Mereka masih membahas single terbaru mereka. Makanya aku tidur disini, Hyung.”

“Kangin-ah dan Siwonie tidak kemari?”

“Kenapa tidak Hyung telfon? Suruh mereka kesini.”

“Siwonie pasti kelelahan dia sudah meminta maaf pada Hyung bahwa dia tidak bisa menemui Hyung. Kangin mungkin aku akan menelponnya nanti.”

“Apa perlu aku menyuruh Hyung dilantai atas kesini? Shindong Hyung pulang larut malam, biasa shimsimtapa dan langsung ikut latihan SS5. Aigoo, aku tidak bisa membayangkan bagaimana lelahnya dia.”

“Kau sendiri juga jaga kesehatanmu Ryeowook-ah, kau tidak kalah sibuk dengan mereka. Sukira dan SuJu M. Belum latihan untuk SS5 dan memasak seperti ini.”

“Aku tidak masalah, Hyung. Semalam Sungmin Hyung juga berlatih bernyanyi untuk musicalnya. Aku sampai pusing mendengarnya, dia selalu perfectsionis. Belum Kyuhyunie yang berisik dengan gamenya. Aku hampir tidak bisa tidur,” Ryeowook mengomel, seperti sedang mengadu pada ayahnya bahwa dia diganggu temannya membuat Yesung terkekeh geli. Sebagai member tertua saat ini dia tentu tahu bahwa adik-adiknya butuh sandaran. Apalagi Yesung adalah pendengar yang baik, semua rahasia yang berada ditangan Yesung tidak akan pernah bocor tidak seperti Leeteuk atau Kangin. Karna Yesung selalu mendengar rahasia mereka setelah itu dia akan melupakan apa yang baru saja mereka katakan, itulah cara menjaga rahasia yang baik mendengar lalu melupakan.

Pintu salah satu kamar terbuka, Sungmin keluar dari sana dengan maja terpejam sebelah. Dulu kamar itu adalah kamar Yesung dan Ryeowook. Setelah Yesung memutuskan untuk membeli apartment baru bersama keluarganya dan Ryeowook yang pindah lantai 12 menemani Donghae yang ditinggal Leeteuk wamil kamar itu ditempati Sungmin. Sedangkan kamar Sungmin yang dulu sekarang dimonopoli oleh sang magnae, Kyuhyun merengek meminta kamar sendiri yang akhirnya dengan terpaksa Sungminlah yang harus mengungsi kekamar Yesung. Eunhyuk memang dari dulu sudah memonopoli kamarnya sendiri.

Sungmin menyeret kakinya kearah dapur saat menyadari Yesung datang dan Ryeowook yang duduk disana. Dengan semena-mena Sungmin mendorong Ryeowook dan mendudukkan dirinya disamping Yesung, menyamankan kepalanya dibahu Yesung membuat Ryeowook yang terdorong mencibir. Tangan Sungmin merambat kearah meja hendak mencomot sandwich namun ditampik oleh Yesung.

“Aigoo, jorok sekali. Cuci mukamu Sungmin-ah,” Sungmin memberenggut dan bergeming. Yesung menggerakkan bahunya keatas dan kebawah membuat kepala Sungmin bergerak mengikuti gerakan Yesung.

“Ya! Ireona, cuci mukamu biar segar nanti tinggal makan,” Sungmin memanyunkan bibirnya dan berdiri dengan kaki menghentak membuat Ryeowook terbahak dan menjulurkan lidahnya.

“Cuci muka dulu sana,” Ryeowook menirukan cara bicara Yesung membuat Yesung mendelik dan Sungmin melotot. Sungmin berjalan kearah kitchen sink dan mencuci mukanya disana.

“Omo! Kenapa mencuci muka di tempat cuci piring seperti itu?” Ryeowook menggelengkan kepalanya.

“Cerewet,” Gumam Sungmin membuat Ryeowook mendelik dan dibalas juluran lidah oleh Sungmin. Yesung terkekeh melihat kelakuan adik-adiknya yang tidak tau umur tapi anehnya mereka masih saja terlihat menggemaskan.

Sungmin berjalan keruang santai dan mendudukkan dirinya disofa diikuti oleh Yesung dan Ryeowook sambil membawa sandwich yang langsung dicomot oleh Sungmin.

“Kyuhyunie belum bangun?” Sungmin dan Ryeowook mengendikkan bahunya.

“Mungkin dia satu-satunya member yang cepat lelah sekarang, Hyung,” Ryeowook menimpali sambil menawarkan sandwich pada Yesung yang dijawab dengan gelengan lalu dia memakannya sendiri.

“Memang seharusnya dia tidak boleh terlalu banyak kegiatan. Imunnya sangat rendah apalagi sekarang dia semakin tua,” Sungmin langsung terbahak mendengarnya.

“Hyung, kau akan menyesal mengatakan hal itu didepan Kyuhyunie. Dulu aku pernah mengatakan padanya dan berakhir dengan dia yang menjambak rambutku,” Sungmin berujar antusias dengan pipi yang menggembung membuat Yesung khawatir dia akan tersedak dan menyorongkan segelas air padanya.

“Dia itu memang selalu seenaknya, dia selalu membela dirinya sebagai magnae dan selalu bilang tetap saja Hyungdeul lebih tua dariku. Kalau dia membicarakan umur didepan Leeteuk Hyung aku yakin seluruh peralatan gamenya berakhir diaquarium nemo Donghae Hyung.”

“Ya! Wook-ah, apa yang berakhir di aquarium?” Kyuhyun muncul dengan tampang bangun tidurnya serta tangannya yang memijat hidungnya. Sungmin, Yesung dan Ryeowook terdiam sebentar, mengernyit memperhatikan sesuatu dan kemudian tertawa terbahak membuat Sungmin tersedak-sedak, Yesung menghapus air matanya dan Ryeowook yang memukul-mukul bantal sofa. Melihat itu Kyuhyun melemparkan sandal rumahnnya kearah mereka.

“Ya! Tidak lucu, Hyung.”

“Ada apa dengan hidungmu?” Yesung bertanya disela-sela tawanya. Sungmin memberenggut karna dia yang terkena lemparan sandal Kyuhyun sedangkan Ryeowook semakin mengeraskan tawanya.

“Kejatuhan PSP,” Gerutu Kyuhyun sambil mengernyit saat hidungnya yang membiru tepat ditengahnya terasa ngilu.

“Bagaimana ceritanya PSP bisa nangsang diatas hidungmu?” Yesung bertanya sangsi.

“Aku bosan, saat aku bermain sambil miring kekanan tanganku sakit lalu pindah kekiri dan itu justru cepat lelah lalu aku bermain dengan PSP diatas wajahku tidak tahunya PSP itu malah jatuh diatas hidungku. Mana PSP itu berat lagi,” Kyuhyun mengerutu dan duduk disalah satu sofa sebelah sofa yang diduduki Hyungdeul.

“Cepat obati sebelum hidungmu membengkak,” Ryeowook berujar ngeri.

“Minimie, ambilkan obat.”

“Minimie, Minimie saja sendiri,” Sungmin memberenggut namun tetap berdiri dan mengambil obat, dia kembali bersama kotak putih P3K dan kertas scriptnya. Setelah melempar kotak tersebut pada Kyuhyun Sungmin berjalan kearah dapur dan mulai berlatih musical.

Ryeowook mengambil kompres dan air es, memberikan pada Kyuhyun dan membantu Kyuhyun mengompres hidungnya. Kyuhyun berulang kali menepis tangan Ryeowook saat merasakan Ryeowook terlalu keras menekan hidungnya. Yesung mengambil plester dan menyerahkannya pada Kyuhyun.

“Pakaikan,” Kyuhyun kembali menyerahkan plesternya pada Yesung menyuruhnya untuk memasangkan pada hidungnya. Ryeowook menempeleng kepala Kyuhyun sambil bergumam, “Ya! Begitu caramu minta tolong?” yang dibalas gelengan oleh Yesung bahwa dia tidak apa-apa. Dengan pelan-pelan Yesung memasangkan plester pada hidung Kyuhyun.

“Kyuhyunie, aku rasa kau perlu menambah operasi plastik untuk hidungmu,” Perkataan Yesung bersahutan dengan tawa Ryeowook dan Sungmin yang masih mendengar pembicaraan mereka.

“Ya dan kau perlu operasi untuk menyusutkan kepalamu, Hyung,” Dengan sadis Kyuhyun membalas perkataan Yesung dan melotot kearah Ryeowook yang masih terkikik.

“Hyung, lihat dia melotot padaku,” Ryeowook merajuk pada Yesung yang dibalas cibiran Kyuhyun.

“Manja.”

“Seperti kau tidak saja,” Yesung sekali lagi terkekeh.

Pintu apartment terbuka yang menimbulkan bunyi gedebukan akibat kaki yang beradu dengan lantai. Donghae, Eunhyuk dan Shindong masuk dengan Heboh.

“Yesuuuuuung Hyuuuuung,” Donghae menerjang Yesung yang masih terduduk disofa, membuatnya sesak nafas apalagi ditambah Eunhyuk yang ikut memeluk di belakang Donghae. Sedangkan Shindong langsung menyomot sandwich diatas meja dan makan dengan tentram.

“Hyuuuung, bogoshipoooo,” Donghae berujar heboh dan mengeratkan pelukannya diikuti Eunhyuk dibelakangnya yang hanya ikut-ikutan sedangkan Yesung sudah megap-megap.

“Ya, kalian ingin membuat Yesung Hyung mati dan gagal wamil?” Teriak Kyuhyun yang penuh ambigu. Satu kalimat mengandung dua arti, membela Yesung sekaligus menyakiti Yesung. Eunhyuk dan Donghae melepaskan pelukannya dan Donghae duduk disamping Yesung yang tadi diduduki Sungmin.

“Hyukhyuk ambilkan aku minum,” Dengan kurang ajar Kyuhyun berteriak saat menyadari Eunhyuk berjalan menuju dapur.

“Ya! Magnae,” Lagi-lagi Ryeowook berteriak dengan tingkah semena-mena Kyuhyun.

“Ambil saja sendiri,” Eunhyuk berteriak lancang, Kyuhyun memberenggut yang dibalas kekehan Shindong, Yesung dan Ryeowook. Kyuhyun berdiri menyusul Eunhyuk kedapur dan dengan sengaja menoyor kepala Ryeowook saat melewatinya membuat Ryeowook terhuyung kebelakang.

“Hyuuuuung,” Lagi-lagi Ryeowook merajuk, Kyuhyun berlalu dan mehrong seenaknya. Bisa dibayangkan bagaimana ramainya Dorm suju saat ini? Ini baru beberapa member belum semuanya berkumpul.

Donghae menyentuh rambut Yesung dan menyandarkan badannya pada Yesung.

“Kenapa belum memotong rambut, Hyung?”

“Aku bisa memotongnya nanti malam.”

“Bagaimana kalau nanti bersamaku, Hyung? Saat aku akan siaran Sukira.”

“Boleh, nanti kita pergi bersama,” Yesung mengangguk membuat Ryeowook berseru senang.

“Hyung nanti menginap kan?” Donghae bertanya penuh harap.

“Ya, aku ingin bersama kalian,”

“Nanti tidur denganku ya, Hyung,” Donghae merengek lagi.

“Yesung akan tidur denganku nanti,” Kyuhyun berteriak dari arah dapur dan juga terdengar sandal melayang yang dicurigai sepertinya itu milik Sungmin disertai suara mengaduh Eunhyuk dan tawa membahana Kyuhyun.

“Meleseet Minimie😛,” Kyuhyun berseru girang.

Yesung senang, adik-adiknya tidak terlalu membahas tentang kepergiannya untuk tugas negara. Adiknya tau betul bagaimana Yesung yang tidak suka berlebihan. Walaupun Yesung juga tahu bahwa mereka sangat sulit melepasnya seperti Hyungdeul terdahulu. Dari cara mereka merajuk, bermanja dan haus perhatiaan seperti ini sudah membuktikan bahwa mereka menyayangi Yesung. Mereka hanya ingin menikmati kebersamaan tanpa harus dibayangi perpisahan.

“Hyung semua sudah siap? Apa masih perlu bantuan?”

“Semua siap, Shindong-ah. Tinggal berangkat saja besok, setelah berpamitan dengan kalian nanti dan pergi kerumah Orang tuaku maka semua beres.”

“Kau yakin tidak ingin kami antar, Hyung? Kami bisa menangguhkan semua jadwal kami,” Shindong berujar khawatir dan diamini oleh Donghae yang betah bersandar pada Yesung dan Ryeowook yang menyandarkan dirinya dikepala sofa.

“Tidak apa-apa, kita berpisah disini saja. Aku akan semakin berat saat melihat kalian nanti,”

“Arraseo, Hyung,” Mereka menjawab serempak membuat Yesung tersenyum.

***

Yesung sudah kembali dari memangkas rambutnya, kini kepalanya hanya tersisa sedikit rambut. Yesung mengenakan topinya saat keluar dari mobil dan berjalan kembali ke tower C di Sharp Star City Apartment. Yesung berjalan menunduk menghindari tatapan orang-orang. Dia memasuki lift namun ada tangan yang menyeretnya keluar kembali. Yesung terkejut, dia hendak memukulnya dengan tasnya tapi diurungkan saat menyadari siapa yang menyeretnya. Dia hanya menurut saat orang itu menyeretnya kearah cafe. Mereka menuju cafe dengan fasilitas yang tertutup, menjamin privasi pengunjungnya.

“Sekarang Hyung habiskan waktunya denganku,” Orang itu bergumam dengan wajah cengengesan.

“Aigoo, Kangin-ah kau mengejutkanku tadi,” Kangin hanya terkekeh dan bergumam, “Mian.”

“Hyung, kau sudah memotong rambutmu? Sudah siap rupanya,” Yesung mengangkat bahunya dan melepas topinya. Mereka memesan minuman biasa dan berbincang ringan.

“Jidatmu lebar sekali, Hyung,” Kangin berseru sambil terkekeh yang dihadiahi timpukan topi oleh Yesung.

“Tidak perlu diperjelas,” Yesung mendesis marah.

“Kau khawatir, Hyung?”

“Begitulah.”

“Wamil tidak semenyeramkan yang kau bayangkan, Hyung. Justru menyenangkan menurutku. Bisa melatih kepribadian kita,” Kangin memberi semangat pada Hyungnya, dan memang benar sekarang Kangin sudah banyak berubah. Tidak termperamen seperti dulu, bisa menguasai emosinya. Yesung hanya terdiam.

“Bila yang kau khawatirkan adalah kami, itu jangan kau fikirkan, Hyung. Kami bisa menunggu selama apapun Hyung pergi. Buktinya kami masih sanggup menunggu Kibumie dan Hankyung Hyung kalau masih ada kesempatan,” Suara Kangin melirih, jujur dia merindukan adik dan Hyungnya yang entah kapan akan kembali.

“Aku tahu itu,”

“Jangan khawatir tentang fans juga. Mereka jauh lebih kuat dari apa yang bisa kita bayangkan. Bahkan mereka masih menerimaku dengan baik setelah kasus pemukulan dan tabrak lari waktu itu.”

“Itu bukan sepenuhnya salahmu.”

“Ya, hanya kalian yang percaya padaku ‘kan? Itulah yang harus Hyung lakukan. Percaya pada kami juga.”

“Kangin-ah, jaga mereka dengan baik,”

“Tentu saja, sebentar lagi Heechul Hyung juga akan kembali. Jangan khawatir, setelah Leeteuk Hyung pergi mereka jauh lebih mandiri.”

“Gomawo, kangin-ah,” Kangin mengangguk dan mengajak Yesung Cheers.

“Jaga kesehatanmu, Hyung. Kembalilah dengan selamat, aku pasti sangat merindukanmu.”

“Aku juga pasti merindukanmu, merindukan kalian.”

“Saat kau pergi besok, aku tahu mereka pasti menangis. Saat ini mereka hanya pura-pura tegar, Hyung. Jadi sekarang siapkan diri Hyung saat melihat mereka menangis. Dulu aku sangat sulit menahan airmataku, aku berharap kau bisa kuat dan meyakinkan mereka, Hyung,” Yesung mengangguk, dia trenyuh mendengar perkataan Kangin. Kanginnya kini sudah sangat dewasa, banyak berubah. Tak ayal matanya memerah dan menahan tangis.

“Aku pasti bisa menahannya.”

Mereka tersenyum bersama, saling mengungkapkan isi hati. Ini memang aneh, mereka dilahirkan oleh rahim yang berbeda bahkan kenal bukan sejak lahir tapi ikatan batin mereka bahkan jauh lebih kuat dari seorang saudara. Mereka saling mendukung, saling menyayangi dan saling mencintai. Itulah kenapa member SuJu tidak ada yang rela untuk meninggalkan SuJu meski diiming-iming kepopularitasan seperti apapapun. Karna mereka selamanya tetap SuJu, saling menompang, saling bergandengan bersama membangun dan mempertahankan SuJu. Tidak ada yang bisa memecah belah mereka, karna hati mereka sudah terikat.

Mereka tidak peduli dengan komentar-komentar antis yang selalu memojokkan mereka, yang perlu mereka lakukan hanya saling merangkul satu sama lain sehingga tidak ada yang tertinggal jauh ataupun terlampau naik. Mereka selalu bersama, ELF adalah orang-orang yang kuat yang mencintai orang-orang kuat seperti SuJu. Salah bila antis berkomentar SuJu adalah BoyBand yang ada tanpa perjuangan, mereka hanya tidak pernah merasakan bagaimana mereka bersaing saat mereka hanya sebuah project grub, mereka merasa tertekan bersaing dengan orang-orang yang begitu mereka sayangi. Antis tidak pernah merasakan bagaimana rasanya menyanyi saat jahitan di paru-paru belum kering, Cho Kyuhyun mampu tersenyum saat rasa sakit mencekiknya. Antis tidak pernah tahu bagaimana rasa sakitnya menari dengan besi yang selalu bertengger di kakinya, menggit lidah hingga berdarah menahan sakit, Kim Heechullah yang mampu melakukan itu. Antis tidak pernah tau bagaimana melelahkannya saat kita tidak pernah tidur dan rela tidur bersandar tempat sampah di kamar mandi, hanya Kim Young Woon yang bisa. Antis tidak pernah merasakan bagaimana sesaknya hati kita saat kita kehilangan Ayah dan harus kembali tersenyum didepan kamera setelah dua hari beliau pergi, Lee Donghae orang kuat itu. Antis tidak pernah tau bagaimana rasanya diancam dibunuh bahkan dikirimi roti beracun sampai ke Cina, Tan Hankyung bahkan tidak menangis. Antis tidak pernah tau bagaimana perjuangan seorang Park Jung Soo yang harus meninggalkan kepribadian aslinya demi menyenangkan ELF, mahanan kesakitan dari hinaan yang bahkan mendoakan dia mati karna kepribadiannya. Apakah ada yang lebih kuat dari mereka?

***

Yesung tidur disamping Kyuhyun sekarang, setelah mengobrol banyak dengan Kangin Yesung kembali ke Dorm yang langsung ditawan Kyuhyun dikamarnya. Mengajaknya bermain game sampai tengah malam, mengobrol yang entah nyambung atau tidak dan cerita-cerita garing yang terkesan dipaksakan oleh Kyuhyun. Magnae itu hanya ingin bersama sang Hyung, tidak dipungkiri Kyuhyun memang yang paling manja bila sudah di Dorm bersama Hyungdeulnya berbeda sekali saat dia berada didepan kamera. Dia suka memonopoli salah satu Hyung seenak yang dia mau. Sekarang Yesung tidak bisa tidur, menatap langit-langit kamar Kyuhyun, membayangkan bentuk-bentuk abstrak. Suara kemeresak terdengar dari sampingnya, kelihatan sekali Kyuhyun juga tidak bisa Tidur.

“Hyung.”

“Hmm?”

“Belum tidur?”

“Tidak bisa tidur Kyuhyun-ah.”

“Hyung, tadi Donghae menangis.”

“Wae?”

“Dia merindukan Leeteuk Hyung, dia juga tidak ingin berpisah denganmu.”

“Aku juga rindu Leeteuk Hyung.”

“Hyung, aku kangen Hyung.”

“Aku kan ada disini, Kyuhyun-ah,”

“Nanti kalau Hyung sudah pergi tentu saja,”

“Aigoo.”

“Hyung.”

“Hmm?”

“Nanti kangen aku tidak?”

“Tentu saja, magnae nakal.”

“Hyung.”

“Apa?”

“Tidak jadi.”

“Kau ini.”

“Kalau Hyung pergi nanti siapa yang bisa kujahili tanpa marah-marah? Hyungdeul yang lain pasti akan marah kalau aku sudah mulai jahil.”

“Ya! Kalau begitu berhenti bertingkah seenaknya.”

“Ah, Hyung tidak asik.”

“Cepat tidur,” Yesung sedikit memejamkan matanya, mengatur nafasnya. Sejujurnya dia sedih, adiknya ini memang suka sekali mencari perhatian. Tidak tega kalau harus meninggalkan Kyuhyunnya sendirian, meskipun sebenarnya masih banyak yang bisa menjaga sang magnae. Sunyi, mereka berdua sama-sama terdiam.

“Hyung.”

“Ya! Kyuhyun-ah apalagi?”

“Peluk aku, Hyung.”

“Tidak mau.”

“Hyuung.”

“Arraseo.”

Dan seperti itulah, mereka akhirnya terlelap. Menunggu hari esok, bukankah hidup itu dijalani karna menunggu? Menunggu jam berdetak, hari berlalu dan menunggu kematian tentu saja. Asal kita bisa menikmati waktu dan memanfaatkan dengan baik semuanya tidak akan sia-sia.

Pagi beranjak, matahari sudah seenaknya memamerkan teriknya, musim panas seperti ini adalah saat-saat matahari untuk berlaku sombong. Member Suju kecuali yang ada kepentingan berkumpul di depan pintu apartment. Mengantarkan sang Hyung untuk menjalani tugas negara. Muka mereka murung, tentu saja siapa yang ingin berpisah? Tidak ada. Yesung memeluk mereka satu-persatu. Dugaan kangin benar, kemaren mereka hanya pura-pura tegar. Hari ini mereka terisak, menguap sudah ketegaran mereka. Tidak ada yang tidak menangis. Sungmin yang jarang menangis pun ikut menitikkan air mata apalagi saat Yesung memeluknya.

Ryeowook membalikkan tubuhnya membelakangi Yesung saat Yesung hendak memeluknya. Dia terisak, biar bagaimanapun juga Yesung adalah Hyung kesayangannya. Yesung memeluknya dari belakang yang membuat isakan Ryeowook semakin keras.

“Ryeowook-ah, Hyung pergi,” Ryeowook menggeleng. Suju semakin terisak melihat Ryeowook.

“Ryeowook-ah, hanya 2 tahun.”

“Anio,” Yesung melepaskan pelukannya membuat Ryeowook semakin terisak sesak.

“Jaga diri kalian baik-baik. Hyung pergi,” Yesung berjalan meninggalkan mereka, baru beberapa langkah Eunhyuk berteriak memanggilnya.

“Hyuung,” Yesung berhenti dan menoleh. Saat itulah mereka langsung berhamburan memeluk Yesung. Membentuk lingkaran dengan Yesung berada ditengah, bersamaan dengan itu pertahanan Yesung runtuh, dia menangis. Bagaimana mungkin dia bisa berpisah dengan mudah kalau mereka seperti ini.

“Hyung harus pergi,” Mereka mengangguk dan melepaskan rengkuhannya.

“Jaga dirimu baik-baik, Hyung,” Mereka berujar serempak. Yesung mengangguk dan menepuk pundak Ryeowook dan Kyuhyun yang masih terisak. Sampai akhirnya dia melangkah pergi, benar-benar pergi.

The end

Sekarang aku ada di pintu militer, selangkah lagi aku akan menjalani kewajibanku. Sekarang aku adalah Kim Jong Woon bukan Super Junior Yesung, aku adalah rakyat korea biasa yang akan menunjukkan kedewasaanku. Jangan menangis, itu tidak akan membawaku kembali. Doakan aku, jaga kesehatan kalian dan tetaplah dukung Super Junior. Dua tahun, maukah kalian menunggu? Sanggupkah kalian menantiku? Aku mencintai kalian. Jong Jin, Appa dan Eomma, Hyungdeul dan saengdeul, serta kalian ELF. Tunggulah aku, 2 tahun.

Beneran The End -_____-

Au ah, apaan sih ini -___-. Lebaaayy poool, feel amburadol pasti. Aku ga tau orang yang uda terlanjur deket kayak githu kalau mau pisah gimana. Yang jelas berdasarkan pengalaman aku rasanya itu pengeen bareeng terus sampe2 aku ama kakakku beli cincin couple -.-. makanya saya mikirnya mereka juga githu pengennya manja2an terus, ga tau dah ini absurd bin berlebihan beud *disepak

Mereka aku gambarin kayak githu soalnya denger-denger duo magnae suju itu aslinya emang manja banget kalo didorm apalagi si dongek. Dia itu kekanakan banget, katanya kalo di dorm dia itu suka gambar2 aneh githu dilantai ama jingkrak2 sendiri disofa. Ga nyangka banget ye -__- dan buat porsi member suju ane ga tau uda rata apa belum -__- salahin aja suju kenapa banyak banget membernya jadi susah bagi rata. Haduuh salut banget sama author2 yang mampu bikin FF suju lengkap 13+2 orang.

Nah aku ga maksa buat kalian komen, dibaca aja uda bersyukur ane. Soalnya aku nyadar diri ini jauuuh dari kata baguuus. Kalo memang banyak yang harus dikritik kritik aja gpp, ikhlas ane dan juga pasrah karna ini panjaaang bangeet.

Sekiaaan dan kecuup basaaah :*****

Typo eperywhere wkwkwkw

 

 

5 thoughts on “Missing?!? Again?

  1. Nggak tau mau ngetik apa,,, tapi yang penting ffnya bagus banget!!! SUMPAH!!!*lebayya?-,-*. Untuk author, ini bukan jauh dari kata bagus lagi,, tapi bukan dalam hal ngejelekin tapi ini FANTASTIC!! Terus berkarya author, aku kan selalu membaca ffmu, rajin-rajin ya kirim FF ke KPDK, and mianhae kalo komennya kepanjangan. Bye bye autho, kecup basah balik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s