The Music of Love (Part 7)

TMOL7

The Music of Love

by: Tya Siti

 

Pemain:                                                                

Shim Chang Min (TVXQ) sebagai Kang Hyun Jae

Jung Yun Ho (TVXQ) sebagai Kang Hyun Woo

Seo Jo Hyun (SNSD) sebagai Song In Hee

Member Super Junior dan SNSD

 

 

 

 

 

PART VII (Hyun Woo pov)

           

Aku sangat senang menjadi seorang guru. Aku bisa mengajarkan murid-muridku berbagai teori musik yang menyenangkan. Ini tahun ketiga aku menjadi guru disini. Guru memang bukan impianku tapi ini impiannya. Aku menjadi guru, karena ini impiannya.

“Tae Yeon-ssi, saat ujian kau menampilkan penampilan yang baik. Jadi, apa kau bisa mainkan lagu untuk kami?”

“Ne, Seonsaengnim.”

“Gitar. Apa kau bisa mainkan gitar hari ini?” Tanyaku. Aku sedang merindukannya hari ini. Gitar. Dia sangat menyukai gitar.

“Ne, Seonsaengnim.”

Kim Tae Yeon, bakatnya mengingatkanku padanya. Permainan gitarnya. Ia sangat mirip dengannya. Permainan gitarnya sangat indah. Aku sangat mengagumi permainan gitarnya dan bukan hanya aku tapi juga semua yang melihat dan mendengarkan. Bahkan, Hyun Jae. Dia berdiri dan menikmati permainan gitarnya. Wajahnya, ekspresi wajah Hyun Jae sangat penuh cinta. Apa dia tengah jatuh cinta? Aku tahu kami tak dekat sebagai saudara tapi sepertinya tipe wanita kami sama. Kang Hyun Jae. Aku tersenyum kearahnya.

“Ah, Terimakasih atas permainan gitarmu hari ini, Tae Yeon-ssi.”

                                                                     ***                      

Ini sudah waktunya. Wanita paruh baya itu. Dia pasti tengah menanti anaknya pulang sekolah di sebrang jalan. Aku menghampirinya. Wajahnya memandang lurus kearah gerbang.

Eommanim, kau masih saja melakukan ini? Eommanim, maafkan aku. Aku tak bisa menjaga anakmu dengan baik. Eommanim, maafkan aku. Kalau saja aku tahu saat itu adalah terakhir kali aku bersamanya. Aku pasti akan menahannya tetap berada dirumahku. Eommanim, maafkan aku. Aku tak tahu mengapa ia sampai melakukan hal itu untuk mengakhiri hidupnya. Eommanim, maafkan aku.” Ucapku dalam hati. Aku berjalan menghampirinya. Memberi hormat padanya.

“Eommanim, aku antar menyebrang. In Hee sudah pulang baru saja.” Ucapku. Selama tiga tahun ini aku selalu melakukannya. Mengatakan padanya hal yang sama setiap kali dia kemari. Aku menelpon seseorang.

“Hyo Yeon-ssi, bisa jemput In Hee Eomma?” Aku mengajaknya duduk di halte bus menanti yang akan menjemputnya.

“Hyun Woo-ssi.” Hyo Yeon sudah sampai. Aku tersenyum kearahnya. Dia membawa Eommanim masuk kedalam mobil.  “Terimakasih. Seperti biasa dia pasti menyusahkanmu. Dia pasti sangat merindukan  In Hee. Tekanan jiwa yang dialaminya semakin berat karena kehilangan In Hee.” Ucap Suster Hyo Yeon. Dia adalah orang yang dibayar Appa untuk menjaga Eommonim. Ibu seorang gadis yang ia sayangi. Istri dari sahabat dekatnya. Song Si Won.

“Terimakasih, Hyo Yeon-ssi. Tolong jaga Eommanim baik-baik.” Ucapku.

 Ia tersenyum dan pamit. Ia pergi membawa Eommanim kembali ke rumah sakit.

***

Darimana dia? Dia keluar dari lorong rahasia itu? Hyun Jae? Apa dia juga tahu tentang tempat itu? Tea Yeon-ssi? Dia bersama Tae Yeon-ssi? Adikku benar-benar tengah jatuh cinta?

“Neonuideureun eodieseo wanni? Darimana kalian berdua?” Tanyaku. Wajahnya terlihat sangat kaget. Bukankah, jatuh cinta itu perasaan yang wajar. Dia memang sangat lugu.

“Ah, Hyung. Aku hanya pergi mencari udara segar saja.” Jawabnya.

            “Begitukah? Sudahlah cepat kembali ke kelasmu!” Ucapku. Aku tak ingin membuatnya lebih tak menyukaiku.

“Ne, algesseoyo.” Dia berbalik badan berjalan kembali ke kelas. “Oh, annyeonghaseyo.” Dia menyapa Tae Yeon-ssi. Ah, apa perlu seperti itu? Kenapa harus seperti tak mengenalnya. Dia benar-benar lugu. Bukankah jelas-jelas mereka baru saja pergi bersama?

“Permisi, Seonsaengnim.” Tea Yeon memberi hormat dan pergi kembali ke kelas. Aku tersenyum melihat tingkah dua remaja itu.

***

Tempat ini memang benar-benar memiliki daya magis yang kuat. Siapapun orang yang datang ketempat ini pasti langsung merasakan ketenangan dan jatuh cinta pada tempat ini. Rooftop ini. Dia yang memberitahukannya padaku. Song In Hee. Ini hari ulang tahunnya.

“Saengil chukha hamnida, In Hee-ah.” Aku menyimpan sebuah cupcake cokelat kesukaannya diatas tempat semedinya. Ia selalu mengatakan itu padaku dulu. Sebuah tempat duduk yang terbuat dari semen.

“Saengil chukha hamnida.” Aku berjalan kembali meninggalkan tempat ini.

***

Di dalam sana. Di dalam pusara itu. Di dalamnya ada tubuh seseorang yang sangat aku cintai. Apa dia tenang disana? Apa dia bahagia disana? Apa dia telah menemukan kehidupan yang selama ini di impikannya? Ini adalah hari ulang tahunnya. Tak seperti tahun-tahun yang lalu, kini aku datang ketempat ini dengan orang-orang yang mengisi kehidupannya dulu. Lihatlah, meraka juga sangat peduli padanya. Mereka juga pasti sangat merindukannya sama sepertiku. Aku duduk berlutut di depan pusaranya.

Chagi-ah, saengil chukha hamnida. Berapa umurmu kini? 25? Bukankah kau bilang ingin menikah di saat umurmu menginjak umur itu? Chagi-ah, apa disana kau sudah menemukan lagi lelaki yang lebih tampan dariku? Aku harap hanya Appa mu yang paling tampan disana. Chagi-ah, kau masih tetap Chagi-ku, kan? Kau masih seorang yeojachingu dari namja tampan ini, bukan? Aku sangat merindukanmu. Kau tahu itu? Sangat merindukanmu hingga aku tak berani pergi ke tempat kenangan kita terlalu lama tapi aku telah menyimpan cupcake cokelat untukmu disana. Aku hanya membawa setangkai bunga matahari untukmu sekarang. Kau sangat menyukai bunga ini, bukan? Tolong rawat baik-baik. Ok? Chagi-ah, kau lihat? Semua teman-teman mengunjungimu hari ini. Mereka juga pasti ingin mengucapkan selamat untukmu. Chagi-ah, kau tahu aku sekarang sedang sibuk membuat pertunjukan akhir tahun di sekolah dan kau tahu siapa yang menjadi pemeran utamanya? Kang Hyun Jae. Dongsaengku yang sangat kau sayang itu. Muridmu yang paling tak tahu cara berterimakasih itu. Dia tumbuh menjadi lelaki yang tampan sekarang. Dan sepertinya sekarang dia sedang jatuh cinta pada seorang gadis, dia gadis dari kelas akustik sama seperti kau. Chagi-ah, apa Appa sudah mengunjungi? Dia pasti sangat merindukan anak gadisnya ini. Chagi-ah, Ibumu dia pasti sangat merindukanmu? Aku pun. Chagi-ah, saranghae. Song In Hee.” Aku menghapus air mataku sebelum bangkit dari dudukku. Rasanya sangat menyakitkan. Aku benar-benar tak kuat untuk berdiri.

Yuri memberi penghormatannya dan mulai berdoa. “Eonni, apa kabarmu? Saengil chukha hamnida. Eonni, kau telah bertemu Yoona Eonni disana? Apa sekarang kalian sudah kembali berteman baik? Eonni, aku mohon maafkan dia! Aku yakin dia mengakhiri hidupnya sama sepertimu, itu karena dia juga tersiksa dan merasa berdosa padamu. Eonni, kau sudah memaafkannya, kan? Aku mohon.” Dia menyimpan setangkai bunga matahari kesukaan In Hee sebelum bangkit.

Maafkan aku, In Hee. Aku baru berani menemui disini sekarang. Maafkan aku. Aku memang pecundang. Tapi, kau tahu? Sekarang aku tahu dimana duniaku karenamu. Kau benar aku memang berbakat menjadi penulis skenario. Aku tak pernah lagi mengeluarkan kekesalanku dengan kekerasan dan penindasan, aku bisa menyampaikannya dengan cara yang lebih indah dari itu. Gomawo. Kau baik-baiklah, karena akupun akan baik-baik disini. Tolong temani Yoona disana. In Hee-ah, maafkan aku.”

Aku tahu kami semua yang ada disini sangat menyayanginya. Song In Hee.

***

Aku tersenyum mendengar pernyataan Yuri. Dia mengatakan, adikku orang yang tepat untuk menjadi pemeran utama dalam pertunjukan sekolah tahun ini. Aku tahu dia berbakat tapi aku lebih tahu lagi dia orang yang paling tidak tertarik dengan hal seperti itu. Sekolah disinipun dia hanya melakukan apa yang Appa minta bukan karena keinginan hatinya. Appa. Jika saja In Hee masih hidup, Appa pasti tak akan menuntut Hyun Jae untuk sekolah musik klasik. Tak akan melarangnya bermain gitar lagi. Hatinya selalu terluka saat ia mendengar petikan gitar. Mengingatkannya pada rasa kehilangan sahabatnya dan juga anaknya. Song Si Won dan Song In Hee. Kang Hyun Jae, dia terlalu istimewa bagi Appa. Ia terlalu mirip dengan dua orang itu.

Lagi pula, tadi saat aku menanyakan keberadaannya pada teman-temannya yang sedang berlatih musik saja dia tak ada. Bukankah, itu benar-benar terlihat bahwa dia tak ingin melakukan hal lain kecuali tugas sekolah. Dan akhirnya memberi nilai yang baik pada Appa seperti yang Appa inginkan.

“Sunbae, aku serius. Kenapa kau malah seperti ini?” Ucap Yuri. “Kau mau membujuknya, kan?”

“Aku tak janji, Yuri-ssi.” Ucapku.

“Kau harus bisa. Dia kan adikmu.” Aku hanya tersenyum.

“Hyung?” Aku menoleh. Hyun Jae, dia datang mencariku? “Ah, maaf. Seonsaengnim maksudku. Hyun Woo Seonsaengnim.” Dia berjalan mendekat.

“Ah, baiklah. Sebaiknya aku pergi. Kalian silakan bicaralah.” Yuri pergi meninggalkan kami. Aku memperhatikan Yuri pergi.

“Duduklah. Sepertinya kau sangat lelah.” Ucapku. Dia duduk. Aku menawarinya minuman.

“Tidak usah.” Dia terdiam sejenak sebelum mulai berbicara. “Untuk apa kau mencariku?” Tanyanya.

Aku melihatnya bingung. “Kau berlari hingga kelelahan seperti ini hanya untuk menanyakan hal itu padaku?” Dia mengangguk pasti.

“Biasanya kau akan menanyakannya nanti di rumah.” Ucapku. Dia terdiam.

 “Sudahlah, Hyung. Ayo cepat katakan. Kenapa kau mencariku?”

“Ternyata seorang gadis yang bisa membuatmu berubah, Hyun Jae.” Jawabku. Aku menggodanya sedikit.

“Ayolah, cepat katakan!” Ucapnya dengan sedikit kesal.

Aku tersenyum melihat tingkahnya. “Baiklah.” Aku memberi jeda. “Kau? Apa kau tertarik untuk menjadi pemeran utama di pertunjukan akhir sekolah nanti.

 “Mwo? Pertunjukan akhir sekolah?”

“Ne. Wae? Apa kau mau? Sebenarnya ada tiga calon, dan tempat pertama itu kau.”

“Ini bukan sebuah nepotisme, bukan?”

“Bukan, lagi pula kami akan memutuskan nanti ketika teman-teman yang akan membantu pertunjukan ini datang. Bagaimana? Kau pikirkanlah baik-baik. Lagi pula mungkin kau berkesempatan berpasangan dengannya. Dia masuk daftar untuk pemeran utama wanitanya.” Dia terdiam.

***

Dia datang? Dia bahkan duduk di tempat yang paling mencolok dan sendirian. Sepertinya, gadis itu telah merubah hidupnya. Seperti apa reaksinya saat tahu nanti dia akan berpasangan dengan gadis yang di sukainya? Aku bahkan tak bisa membayangkannya. Tiffany benar-benar sangat mengerti. Dia merubah pemeran utama yang harusnya milik Song Sunny. Sikap seenaknya sendiri masih tetap ada dari sejak dulu. Dia belum berubah.

“Aku mengganti pemeran utama wanita karena aku pikir wajah mereka tak serasi dan lagi pula pemeran utama wanita yang seharusnya sedang sakit. Jadi, aku harap kalian bisa menerima keputusanku ini. Maafkan aku, nona Song. Pertunjukan kita kali ini akan mengangkat tema tentang ‘Dream High’. Aku berharap kerja sama kalian. Dan, bisakah pemeran utama naik keatas panggung?”

Tae Yeon dan Hyun Jae naik keatas panggung dan menjawab perayaan dari Tiffany. Aku hanya tersenyum melihat tingkah adikku. Dia bahkan tidak berani memandang Tae Yeon, dia tetap saja memandang lurus ketempatnya duduknya tadi. Dia sangat manis. Sangat lugu.

***

Aku dan Yuri tertawa tanpa henti. Tingkah dongsaengku yang satu ini sangat lucu. Hampir tiga jam kami latihan dan hanya untuk satu scene ini saja. Kissing scene. Apa dia benar-benar belum pernah melakukannya? Wajahnya benar-benar lucu. Atau karena pasangannya ini adalah gadis yang ia sukai? Berkali-kali ia minta maaf pada Tiffany atas kesalahannya. Wajahnya benar-benar pucat sekarang.

“Iya, baiklah. Latihan kali ini kita sudahi saja.” Ucap Tiffany akhirnya. Ucapannya itu membuat lega Hyun Jae. “Ayo kita pergi!” Tiffany mengajak kami pergi. Meninggalkan mereka berdua.

“Hei, apa kalian belum pernah muda?” Ucap Tiffany. “Jangan pergi. Tunggu sebentar. Aku yakin akan terjadi sesuatu setelah ini.” Kami mengawasi dua anak muda itu dari luar.

Tae Yeon bergegas pergi. Dasar bodoh. Apa dia benar-benar malu? Dia malah menghela napas dalam dan menutup matanya. Dia benar-benar merasa canggung dan lelah saat ini? Hyun Jae-ah. Tae Yeon kembali dan memeluknya. Dan akhirnya melakukannya. Ciuman itu. Dasar lugu. Aku hanya tersenyum melihat adegan itu.

“Apa aku bilang? Akan terjadi sesuatu.” Tiffany berjalan menuju ruang latihan kembali. “Ya, Hyun Jae, kau memang nakal. Tadi kau menciumnya lebih dari yang ada di skenario.” Ucap Tiffany saat masuk ke dalam ruangan.

Wajah Hyun Jae benar-benar buruk saat itu. Dia bahkan langsung pergi begitu saja.

***

Setelah kejadian itu. Hyun Jae benar-benar mulai menjadi seorang Hyun Jae yang dulu. Dia malah jarang mengikuti latihan dengan serius. Aku benar-benar mencemaskannya. Dan sekarang aku melihatnya masuk ke lorong itu. Dia juga tahu tentang rooftop itu? Dia memang tak menyukaiku tapi tetap saja dia adikku. Aku pergi menemuinya disana.

Dia sedang memainkan sebuah gitar dengan nada yang sembarangan dimainkannya. Gitar itu. Aku sangat familiar dengan gitar yang ada dipangkuannya itu.

“Hyun Jae-ah.”

“Hyung?”

“Kau disini?” Aku duduk disampingnya. “Kau juga mengetahui tempat ini?” Tanyaku. Dia terdiam.

“Dulu temanku yang memberitahukan tempat ini padaku. Bukankah tempat ini sangat indah? Dan kita bisa menikmati angin dari sini. Temanku itu sangat menyukai angin disini dan apa kau tahu tempat lain yang lebih indah dari ini?”

“Danau? Temanku yang memberitahukannya padaku.”

“Temanku juga selalu bermain gitar disini. Sama seperti kau. Berbuat baiklah selalu pada temanmu itu, sebelum kau kehilangannya. Cukup hanya aku saja yang harus kehilangan satu teman berhargaku di tempat yang indah ini.” Aku memegang bahunya. Hyun Jae, dia benar-benar mirip dengannya.

“Aku sedang terancam dengan hal yang sama sekarang.” Jawabnya. Aku harap dia tak memiliki kisah sepertiku.

“Benarkah?”                        

“Gadis itu melihat kejadian waktu itu, dan sampai sekarang aku tak bisa menemukannya.”

“Gadis itu? Aku pikir selama ini gadis itu adalah Tae Yeon. Dia gadis yang berbeda ternyata.” Aku terhenyak mendengar pernyataannya. Ternyata bukan Tae Yeon gadisnya. Aku merasa benar-benar bukan seorang Hyung yang baik.

“Ah, sudahlah. Kenapa kau mencariku? Latihan?” Aku mengangguk. “Baiklah, ayo kita pergi.”

***

Aku sangat lega hari ini. Untunglah Eommanim ditemukan. Tadi, dia menghilang tapi dia tak ada ditempat biasa ia menunggu In Hee di sebrang jalan. Appa pasti akan sangat marah jika Eommanim tidak ditemukan. Dia pergi ke rumahnya. Terduduk di tempat In Hee ditemukan dengan lumuran darah dikamarnya. Eommanim. Dia sangat merindukan In Hee. Aku masuk ke kamarku.

Dia ada di kamarku. Hyun Jae. Terduduk di tepi tempat tidur dan memandangi potoku dan In Hee saat SMA. Itu pasti pertama kalinya dia melihat wajah guru gitarnya. Malaikat penghiburnya dulu.

“Hyun Jae-ah. Kau disini? Ada apa?” Aku duduk disebelahnya. Dia tak menjawab. “Ah, kau sudah melihatnya? Dia temanku yang aku ceritakan. Song In Hee. Kau pasti mengenalnya hanya saja kau tak pernah tahu wajahnya. Dia adalah gadis yang selalu memainkan gitar untukmu. Gadis yang membuatmu menyukai gitar. Dia gurumu, yang mengajarkanmu lagu Twinkle-twikle. Ingat? Dialah orangnya. Yeojachingu, Hyung-mu ini.” Ucapku.

Wajahnya benar-benar sangat terlihat tak percaya padaku. Benar-benar membentuk sebuah gulungan kertas yang penuh dengan pertanyaan.

“Tapi itu dulu, saat dia masih hidup.” Sambungku. Wajahnya kini lebih buruk lagi.

 

==== to be continued ====

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s