The Music of Love (Part 6)

TMOL6

The Music of Love

by: Tya Siti

 

Pemain:                                                                

Shim Chang Min (TVXQ) sebagai Kang Hyun Jae

Jung Yun Ho (TVXQ) sebagai Kang Hyun Woo

Seo Jo Hyun (SNSD) sebagai Song In Hee

Member Super Junior dan SNSD

 

 

 

 

PART VI

           

“Ya, Hyun Jae-ssi, seriuslah. Disini hanya ada kita bertiga. Kau harus benar-benar melakukannya. Apa kau tak pernah berciuman sebelumnya?” Tiffany Seonsaengnim benar-benar terlihat kesal.

Kami sedang latihan untuk adegan ciuman sekarang. Dan ini sangat berat bagiku. Jika saja adegan ciuman ini tak ada. Ah, setidaknya jangan adegan ciuman bibir. Kenapa di acara pertunjukan sekolah harus ada adegan seperti itu? Bukankah itu tak mendidik? Kenapa Tiffany Seonsaengnim harus menyamakan pertunjukan sekolah ini dengan drama tv yang biasa di buatnya. Ah, dia benar-benar.

Dan dia bilang disini hanya ada kami bertiga? Aku, dia, dan Tae Yeon-ssi? Lalu dia anggap apa Yuri Seonsaengnim dan Hyung-ku yang dari tadi tak hentinya tertawa melihatku melakukan hal-hal bodoh dan terus menerus melakukan kesalahan?

Aku tak habis pikir. Aku harus memberikan ciuman pertamaku pada gadis yang tak aku cintai? Oh, tidak. Dalam bayangku tak pernah sekalipun terlintas hal itu. Mungkin akan lebih gampang jadinya jika saja pasanganku bukan Tae Yeon-ssi. Jika saja ia adalah ‘Gadis’ mungkin saja tak akan sesulit ini.

“Iya, baiklah. Latihan kali ini kita sudahi saja.” Ucap Tiffany Seonsaengnim akhirnya. Ucapannya itu membuatku menghela napas lega. “Ayo kita pergi!” Para Seonsaengnim pergi meninggalkan ruang latihan.

“Ah, Tae Yeon-ssi, mianhae.” Ucapku pada Tae Yeon-ssi.

Aku yakin disini yang paling tersiksa adalah dia. Kau gadis yang cantik Tae Yeon-ssi hanya saja bukan kau gadis yang aku cintai. Aku tak akan memberikan ciumanku ini pada gadis lain kecuali gadis yang aku cintai.

“Ne.” Ucapnya. Ia melangkah pergi meninggalkan ruang latihan. Terdengar suara pintu ditutup.

Aku menutup mataku menghela napas panjang. Gadis, bisa kau temui aku? Aku sangat lelah.

Seseorang memelukku dari belakang. “Kau datang? Kau tahu aku baru saja memintamu datang kembali. Kau tahu aku sangat lelah.” Ucapku. Ini sama seperti adegan yang harus aku lakukan dengan Tae Yeon-ssi di pertunjukan. “Kau tahu, aku butuh sumbangan tenaga sekarang.” Aku membalikkan badanku. Menunjuk bibirku. Sebuah bibir mendarat dibibirku. Dia menciumku? Aku sangat menikmati ciuman itu. Aku menekan tekaknya lebih dalam. Dia melingkarkan tangannya dipinggangku. Ini ciuman pertamaku dan ini untuk kau. ‘Gadis’. Aku membuka mataku.

“Tae Yeon-ssi?” Aku terkesiap melihat siapa yang ada dihadapanku sekarang. Gadis yang tadi aku cium. Dia bukan ‘Gadis’, dia Tae Yeon. Bukankah tadi dia sudah pergi? Aroma tubuhnya, aromanya sama dengan ‘Gadis’.

“Ya, Hyun Jae, kau memang nakal. Tadi kau menciumnya lebih dari yang ada di skenario.” Ucap Tiffany Seonsaengnim yang datang tiba-tiba.

Dia melihatnya? Bersama Yuri Seonsaengnim dan Hyung? Ah, entahlah perasaanku buruk jadinya. Aku memencarkan pandanganku. Aku melihatnya. ‘Gadis’? Dia melihatnya? ‘Gadis’ berlari pergi. Walaupun tak terlihat jelas tapi aku tahu matanya penuh dengan air mata yang tertahan. Aku berlari mengejarnya meninggalkan semua orang yang ada di ruang latihan tapi ia sudah tak ada. Dia pelari yang handal. Bodoh. Tapi dia bukan ahlinya dalam bersembunyi. Aku berlari kearah lorong menuju rooftop. Takku dapati dia disana. Danau? Disanapun aku tak mendapati keberadaannya. Di ruang musik pun tak ada.

“Gadis, dimana kau?” Aku meruntuk kesal pada diriku sendiri. “Gadis, mianhae.”

***

Ini sudah hari ketiga dan aku belum juga bertemu dengannya. ‘Gadis’ pergi kemana dia? Jika saja kejadian waktu itu tak terjadi mungkin dia sudah meloncat kegirangan dan memelukku erat karena aku telah menyelesaikan lagunya. Menepati janjiku padanya. ‘Gadis’ datanglah!

Rooftop ini pun tak bisa memberikan ketenangannya padaku. ‘Gadis’ hanya dia yang bisa memberikan ketenangan padaku sekarang. Aku memainkan gitarnya dengan nada sembarangan. ‘Gadis’, aku sangat membutuhkanmu. Datanglah.

“Hyun Jae-ah.”                                 

“Hyung?”                                         

“Kau disini?” Dia duduk disampingku. Disamping kiriku. Tempat yang biasanya ditempati oleh ‘Gadis’. “Kau juga mengetahui tempat ini?” Tanyanya. Aku terdiam.

“Dulu temanku yang memberitahukan tempat ini padaku. Bukankah tempat ini sangat indah? Dan kita bisa menikmati angin dari sini. Temanku itu sangat menyukai angin disini.” Aku masih saja membisu. “Dan, apa kau tahu tempat lain yang lebih indah dari ini?”

“Danau? Temanku yang memberitahukannya padaku.”

“Temanku juga selalu bermain gitar disini. Sama seperti kau. Berbuat baiklah selalu pada temanmu itu, sebelum kau kehilangannya. Cukup hanya aku saja yang harus kehilangan satu teman berhargaku di tempat yang indah ini.” Hyung memegang bahuku.

“Aku sedang terancam dengan hal yang sama sekarang.” Jawabku. Entahlah, aku sedang butuh teman bicara sekarang. Sebenci apapun aku padanya tetaplah hanya dia orang yang selalu bisa menjadi teman bicaraku.

“Benarkah?”                        

“Gadis itu melihat kejadian waktu itu, dan sampai sekarang aku tak bisa menemukannya.”

“Gadis itu? Aku pikir selama ini gadis itu adalah Tae Yeon. Dia gadis yang berbeda ternyata.”

Aku menoleh padanya. Tae Yeon? Kenapa dia berpikir begitu? Apa karena kejadian waktu itu?

“Ah, sudahlah. Kenapa kau mencariku? Latihan?” Dia menganggukan kepalanya. “Baiklah, ayo kita pergi.”

***

Aku menghela napas panjang. Mendengus kesal pada teman-temanku. Dari tadi mereka terus saja bergantian menyanyikan lagu yang bertemakan cinta, penantian dan kesakitan. Bukankah itu terlalu mengejekku? Itu pas sekali dengan suasana hatiku sekarang ini. Ah, benar-benar teman-teman yang sangat tidak memiliki kepedulian.

            “Hei, bisa kau hentikan permainan pianomu itu, Ryeo Wook? Aku benar-benar pusing mendengarnya.” Ucapku. Ryeo Wook menghentikan permainannya.

            “Ada apa denganmu? Sepertinya buruk sekali?” Tanyanya. Aku hanya terdiam.

            “Lagi pula, bukankah harusnya kau berbahagia sekarang? Berita itu. Semua orang sudah tahu.” Aku mengerutkan dahi tak mengerti. Yesung menatapku tajam. “Kejadian ciuman dengan Tae Yeon dan cerita lengkapnya.” Jelasnya.

Bahagia? Apa dia gila? Tidak tahukah dia, aku malah tersiksa karena kejadian itu.

            “Iya. Bukankah ini baik untukmu. Ini jalan yang lebih dari baik untuk memulai hubungan denganya. Bukankah selama ini kau menyukainya?” Ucapan Kyu membuatku tambah bingung.

            “Kyu, bukankah kau tahu gadis yang aku sukai? Dia bukan Tae Yeon. Kenapa malah jadi Tae Yeon?” Aku tak mengerti mengapa Kyu Hyun bisa salah menebak. Aku pikir dia tahu aku menyukai gadis yang mana.

            “Bukankah benar kau menyukainya?” Kyu Hyun lebih bingung lagi.

“Gadis di perpustakaan? Gadis yang di hukum saat Tae Yeon bermain gitar di kelasnya? Gadis yang berduet bermain piano dengan Tae Yeon saat ujian musik?” Aku mencoba mengingatkan Kyu Hyun dengan setiap tempat ia bertemu dengan gadis.

“Soo Young?” Ucapnya. Aku menggeleng.

Kenapa Soo Young? Aku memang tak banyak tahu siswi disini tapi Soo Young aku tahu, dia teman sekelasku di SD dan aku tahu dia bermain biola saat itu.

“Tapi dia bermain biola saat itu. Diatas panggung hanya ada Tae Yeon yang bermain piano. Dan di perpustakaan hanya ada Tae Yeon saat itu dan dikelas pun hanya ada dia juga Hyun Woo Hyung. Tak ada yang lain.” Lanjut Kyu Hyun.

Kenapa semua orang mengira aku menyukai Tae Yeon dan kenapa semua orang tak mengetahui ‘Gadis’? Apa benar Kyu Hyun tak tahu ‘Gadis’. Selama ini dia mengira aku menyukai Tae Yeon. Tapi aku melihat ‘Gadis’ dan dia begitu nyata. Ah, Yesung. Bukankah dia juga pernah bertemu dengannya?

“Ya, Yesung. Kau pernah melihatnya, kan? Dia yang bersamaku di ruang musik saat kau mencariku untuk latihan. Benarkan?”

“Ish, apa kau sudah gila? Hanya ada kau disana. Hyun Jae, kau masih waras, kan?”

“Sebenarnya kalian sedang membicarakan siapa?” Tanya Ryeo Wook yang kebingungan.

Aku pergi meninggalkan teman-temanku. Berjalan mencari saksi lain yang melihat ‘Gadis’. Ahjjussi. Iya, dia pernah melihatnya. Aku tahu pasti ‘Gadis’ itu nyata.

“Ahjjussi?”

“Hyun Jae-ssi? Waeyo?”

“Ahjjussi, apa kau melihat gadis yang sering bersamaku?”

Dia berpikir sejenak. “Ah, Tae Yeon-ssi? Dia baru saja pulang.”

“Tae Yeon-ssi?” Jawaban Ahjjussi semakin membuatku tak mengerti. Apa ada sesuatu yang tak beres disini? Tapi apa? “Ah, begitu. Gamsahamnida, Ahjjussi.”

Sepertinya ada hal yang tak beres. Aku berpikir keras namun tetap tak bisa menemukan jawaban atas hal ini. Hyun Woo. Iya, hanya dia yang belum aku tanyai tentang ‘Gadis’.

***

Untunglah, ini hari Sabtu. Aku bisa pulang lebih cepat dan lagi latihan libur. Aku benar-benar harus cepat sampai rumah dan menanyakan banyak hal pada Hyung. Dia tidak mengajar hari ini. Aku mengayuh sepedaku cepat. Tapi saat di sebrang jalan, aku terhenti.

Ahjjumma itu. Bukankah dia Ibunya. “Ahjjussi, aku titip sepedaku. Ne?”

“Oh, simpanlah disitu. Biar nanti aku simpan kedalam.”

“Gamsahamnida, Ahjjussi.” Aku berlari menyebrangi jalan mengejar Ahjjumma. Aku harap Ahjjumma bukan pelari yang handal seperti anaknya.

“Permisi, Ahjjumma.” Ucapku. Ahjjumma tersenyum manis padaku. Sekarang aku tahu darimana ‘Gadis’ mendapatkan senyuman manisnya itu.

“Apakah Ahjjumma adalah Eommanya nona Song?” Ucapku sejadinya. Lagipula Tiffany Seonsaengnim pernah menyebut nama itu. Ahjjumma menjawabnya dengan senyuman yang di ikuti dengan anggukannya.

“Apa aku boleh bertemu dengannya?”

Ahjjumma mengangguk dan merangkulku untuk berjalan bersama. Hei, ‘Gadis’ lihat nanti saat kita bertemu dirumahmu? Kau tak bisa menolak, aku memiliki Ibumu untuk menjadi tameng. Ada sedikit cahaya untukku saat ini.

***

Rumah ini sangat klasik. Iya, rumah yang saat ini ada didepanku bergaya sangat klasik. Apa dia memang benar-benar terlahir dari keluarga yang sangat klasik? Aku dipersilakannya masuk. Dia membawaku kesebuah kamar. Song In Hee. Tertulis nama itu dipintunya.

Song In Hee? Itukah namanya? Song In Hee. Kamarnya sangat rapi. Aroma tubuhnya tercium saat aku masuk kamarnya. Tempat tidur, meja rias kecil dengan beberapa make-up diatasnya, sebuah lemari, rak buku, dan meja belajar. Banyak kertas dengan coretan not balok bertumpuk disana. Sebuah gitar. Aku tersenyum memperhatikan kamarnya. Tapi kemana dia? Dia tak ada di rumahnya sekarang? Meja kecil disamping tempat tidur menarik perhatianku. Ada dua buah pigura diatasnya. Aku menghampirinya dan melihat satu pigura dan melihat poto yang ada didalamnya. Potonya bersama Appa dan Eommanya. Saat kecil, dia sangat manis. Aku menyimpan piguranya kembali dan mengambil pigura yang lain.

“Hyung?” Aku terdiam.

***

Kamar ini sangat bersih. Semua barang-barang didalamnya tertata begitu rapi. Hyung-ku memang seorang yang sempurna. Tampan, berbakat, pintar, ramah, dan anak emas Appa. Kamarku dan kamarnya hanya dipisahkan oleh sebuah tembok tapi Appa selalu mengunjungi kamar ini. Sedang aku? Aku saja lupa kapan terakhir Appa masuk kamarku. Sungguh tak adil. Tembok itu, tembok yang menyimpan segala amarah dan kebencianku. Sudah lama aku tak masuk ke kamar ini. Aku ingat dulu sering masuk kamar ini untuk diam-diam meminjam gitar agar aku bisa belajar memainkannya.

Aku duduk ditepi tempat tidur. Memandangi sekitar kamar. Tak ada yang berubah disini. Tangan kananku menyentuh sesuatu. Sebuah pigura. Aku melihatnya dan terdiam. Poto yang sama yang aku lihat dikamar ‘Gadis’ tadi. Semakin banyak pertanyaan muncul di kepalaku.

“Hyun Jae-ah. Kau disini? Ada apa?” Hyung masuk ke kamar dan duduk disebelahku. Aku tak menjawab. “Ah, kau sudah melihatnya? Dia temanku yang aku ceritakan. Song In Hee. Kau pasti mengenalnya hanya saja kau tak pernah tahu wajahnya. Dia adalah gadis yang selalu memainkan gitar untukmu. Gadis yang membuatmu menyukai gitar. Dia gurumu, yang mengajarkanmu lagu Twinkle-twikle. Ingat? Dialah orangnya. Yeojachingu, Hyung-mu ini.”

 Aku tak dapat memercayai apa yang Hyung-ku katakan. Lagipula aku tak pernah tahu dia memiliki seorang Yeojachingu dan untuk guru yang mengajariku bermain gitar. Benarkah itu dia? Aku memang tak pernah tahu siapa guruku? Perempuan atau lelaki? Yang aku tahu orang itu telah membuatku mencintai gitar. Tapi apakah teman Hyung dan ‘Gadis’ adalah orang yang sama. Apa mereka mirip? Aku yakin mereka bukan orang yang sama.

“Tapi itu dulu, saat dia masih hidup.” Kata-kata terakhir Hyung benar-benar seperti hunusan sebuah pedang di telingaku. Sangat sakit mendengarnya. Gadis? Song In Hee? Siapa mereka sebenarnya? ‘Gadis’ terlalu nyata untuk menjadi seorang mahluk yang semu. Semua tidak menjadi lebih jelas sekarang di pikiranku. ‘Gadis’ hanya kau yang dapat aku percaya sekarang. Bisa kau jelaskan semua ini padaku? Apa arti semua ini?

 

 

==== to be continued ====

 

 

 

2 thoughts on “The Music of Love (Part 6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s