Ohae Hajimaseyo, Hyung! Jebal… (Part 2)

OHH2

 

 

Ohae Hajimaseyo, Hyung! Jebal… Part 2

Author             : Whindalee

Cast                             :

          Leeteuk as Cho Jung Soo / Leeteuk

          Donghae as Cho Donghae

          Kyuhyun as Cho Kyuhyun

Support Cast :

          Ajusshi Lee (OC)

          Siwon as Uisa Siwon

          Ryewook as Kyuhyun’s Friend

          Han Hyu Ra & Cho Min Soo (OC) as Kyuhyun’ s eomma & appa.

Genre              : Brothership, Tragedy, Angst, Family, Friendship, Hurt, & Sad.

Length             : Continue

 

Sebelumnya…

 

“Aku tidak bisa melakukan itu, Kyu. Mianhae…. Tapi aku yang akan selalu menyeka air matamu yang terjatuh disaat setiap kali kau menangis.”

“Anni… Bukan itu yang kumau, ajusshi. Aku hanya mau air mata ini mengering, dengan begitu aku tak akan merepotkanmu untuk menyekanya. Sekaligus tak akan ada yang tahu bahwa aku sedang bersedih. Aku ingin terus tersenyum didepan mereka, meskipun hatiku sangat terluka.”

“Mianhae, Kyuhyun-ah. Jeongmal mianhae… Aku hanya mampu menyekanya!”

Ucapan Ajusshi Lee barusan membuat tangisan Kyuhyun bertambah pecah dan berharap agar air matanya sungguh mengering jika ia terus menangis seperti itu.

 

Mereka sungguh membenciku, bahkan kurasa tak ada lagi ruang dihati mereka untuk memaafkan. Eomma… Appa… Bisakah kita bisa bertemu kelak?

 

Didalam tangisnya, Kyuhyun mengingat kejadian yang membuat keluarganya seperti saat ini.

 

Selanjutnya…

 

Flashback

3 tahun yang lalu

 

“Eomma…. Eomma…. Eomma….” ujar Kyuhyun penuh semangat saat mereka saling terhubung lewat video call.

Leeteuk dan Donghae yang awalnya sibuk dengan urusan masing-masing langsung menghampiri Kyuhyun dengan tergesa-gesa.

“KYAA!! Eomma… Bagaimana Kota Paris tahun ini?” ucap Donghae sambil merampas ponsel touchscreen milik Kyuhyun itu.

“HYA! KEMBALIKAN PONSELKU, HYUNG!!” kata Kyuhyun marah seraya merebut kembali ponselnya.

“Hae, Kyunnie… Berhentilah bertengkar..”  nasehat Hyu Ra dari kota Paris sana sambil tersenyum.

“Eoh, eomma… Bogoshippoyo..” Leeteuk pun ikut mengungkapkan kebahagiannya.

Mereka bertiga kini menatap ponsel bersamaan dengan raut wajah yang berseri-seri karena senang bukan kepalang.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, eomma. Bagaimana Kota Paris tahun ini?” Ulang Donghae.

“Disini menyenangkan. Eomma berjanji jika kalian libur eomma akan mengajak kalian kesini!”

“Ah, jinjja?” Sahut Kyuhyun senang.

“Ne.. Oh ya, Kyunnie, tiga hari lagi kau akan berulang tahun. Apa yang kau inginkan?”

“Akan kujawab setelah aku melihat appa, eomma.”

“Arraseo, biar eomma panggil dulu. Chankhammaneyo….”

 

Sesaat Hyu Ra menghilang dari video call tersebut dan tak lama kemudian ia kembali dengan menggandeng lengan namphyeonnya, Cho Min Soo.

“Aappppaaaaaa…!!!!” Teriak mereka bersamaan.

Terlihat Min Soo melambaikan tangannya kearah mereka disertai senyuman hangat.

“Appa sudah disini, Kyunnie. Jadi katakan pada kami apa yang kau mau?” Tanya Hyu Ra bermaksud menagih janji.

“Aku ingin kalian ke Seoul.” Sahut Kyuhyun penuh harapan.

“MWO?!” Semuapun terkejut dengan ucapan Kyuhyun.

“Hanya kali ini saja, eomma, appa… Ditahun-tahun sebelumnya kan kalian tak pernah ada saat hari ulang tahunku. Kalian selalu disibukkan dengan banyak pekerjaan, tapi aku tidak pernah marah pada kalian bukan? Jebal… Kali ini saja!! Kalian mau kan?!”

“Kyu.. Mereka pasti sangat sibuk disana. Lagi pula masih ada aku, Donghae, dan Ryewook yang bisa merayakan ulang tahunmu bersama.” Sambung Leeteuk yang sebenarnya agak keberatan dengan permintaan dongsaengnya yang satu itu.

“Ne, Kyu. Masih ada kami! Kajja kita rayakan ulang tahunmu yang ke-18. Kau tak perlu meminta mereka untuk kembali ke Seoul.” Tambah Donghae sambil memegang pundak kiri Kyuhyun.

“Ah, shireo! Aku mau tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Eomma, appa, kalian mau ya? Jebal… Untuk tahun ini saja? Kalian tak perlu memberi hadiah apapun padaku tahun ini, yang terpenting kalian hadir dihari ulang tahunku. Ottokhe!?”

Kyuhyun benar-benar merengek sampai-sampai merapatkan kedua tangannya didepan wajah dan memasang puppy eyes terbaik yang ia pernah pelajari dari Donghae.

“Namphyeon, ottokhe?” Tanya Hyu Ra pada Min Soo seakan meminta pendapat.

“Hmm.. Geurrae, tapi kita tak bisa berlama-lama disana.” Jawab Min Soo sambil mengangguk.

“Eoh, jinjja? Jinjjanayo?!”

“Ne….”

“KYA! Gomawo, eomma, appa! Oh ya, satu lagi permintaanku, bisakah kalian ucapkan ‘Saranghae’ sambil membentuk lambang hati dengan tangan kalian.”

“Seperti apa?”

“Seperti ini….”

 

Kyuhyun pun mengangkat tangan kananya menyentuh kepala dan menyuruh Donghae untuk melakukan hal yang sama, namun dengan tangan kirinya.

“URI SARANGHAMNIDA!” Teriak Kyuhyun penuh keceriaan.

“NA DO SARANGHANDA..!” Hyu Ra dan Min Soo pun meniru gerakan Kyuhyun-Donghae.

“Jung Soo-ah….” Panggil Min Soo.

“Ne, appa.”

“Tolong jaga dongsaengdeulmu itu! Karena kau yang paling tua disana kau harus menjaga mereka baik-baik. Jangan buat mereka menangis. Arraseo?”

“Ye, arrayo, appa. Tanpa perlu kau katakan itu aku akan melakukannya.”

“Geurome, kalau begitu jaga diri kalian baik-baik. Kyunnie, sampai jumpa dihari ulang tahunmu. Oh ne, sampaikan juga salam kami pada Lee-ssi. Annyeong….”

“SARANGHAE….” Hyu Ra dan Min Soo kembali melakukan gerakan yang Kyuhyun inginkan. Kemudian Hyu Ra beranjak dari duduknya dan layar ponsel Kyuhyun seketika menjadi gelap.

 

***

 

2 hari kemudian

 

Kyuhyun Pov

 

Donghae hyung mengendarai mobilnya begitu cepat. Aku yang duduk tepat disampingnya hanya diam ketakutan dan menuruti semua ucapannya, seusai menjemputku disekolah. Padahal pelajaran belum selesai, tapi aku harus terpaksa pulang karena hal yang tidak kuketahui seperti saat ini. Setiap kali kutanya kemana kita akan pergi, dia hanya diam dan tak menatapku.

Akan tetapi, sungguh tak dapat kupercaya ketika melihat tujuan kami ternyata adalah Seoul International Hospital.

“Kenapa kita kesini, hyung? Apa ada yang sakit? Bukan Teuki hyung kan yang ada disini?”

Tapi ia masih saja diam dan justru meninggalkanku. Aku pun segera berlari untuk menyusul dan mengikuti irama langkah kakinya yang begitu tergesa-gesa.

 

Saat memasuki area RS, menaiki lift untuk naik ke lantai 4. Donghae hyung masih terus mendiamkanku dan mulai membuatku khawatir ketika pintu lift telah terbuka. Ia memilih jalan sebelah kanan dari pertigaan, tak lama setelah menelusuri koridor rumah sakit tersebut. Donghae hyung masuk kedalam ruangan yang terdapat papan bertuliskan ‘RUANG MAYAT’.

Spontan langkah kakiku terhenti, rasa ragu untuk memasuki ruangan itu pun terbesit dalam benakku dan entah mengapa air mataku jatuh berlombaan dengan mudahnya.

Kakiku terasa sangat lemas ketika berada didalam ruangan itu. Kulihat juga Teuki hyung yang sudah menangis didepan dua tempat tidur yang telah terisi seseorang dengan ditutupi kain putih hingga terurai kelantai. Perasaan cemas kini memuncak dipikiranku ketika melihat sedikit wajahnya dari kejauhan dan matanya yang nampak membengkak tersebut.

Perlahan demi perlahan ku hampiri mereka meskipun rasa takut semakin menggangguku.

 

“Hyung….” Panggilku ragu.

 

Kemudian Teuki hyung menatap kearahku, tapi itu bukanlah tatapan yang biasa kulihat. Melainkan tatapan yang dipenuhi rasa kebencian dan kemarahan yang besar.

 

BRUKK…!!!

 

Betapa terkejutnya aku, saat Teuki hyung mendorong tubuhku hingga membentur dinding rumah sakit. Ia mendekatkan wajahnya dengan wajahku dan terlihat begitu kacau karena air mata yang sudah merusak penampilannya selama ini. Membuatku merasa begitu takut setengah mati karna belum pernah sebelumnya kudapati ia seperti ini.

 

“Apa ini yang kau mau?” Tanyanya pelan. Donghae hyung yang juga menatapku tak berkutik sedikitpun dari tempatnya berdiri. Satu hal yang membuat benar-benar khawatir adalah mimik wajah mereka yang sama.

“Kau bisa buat mereka hidup kembali?” Tanyanya yang masih terdengar pelan namun menakutkan sambil menunjuk kearah dua mayat tersebut.

“…….” Aku hanya terdiam sambil mulai menitikkan air mata.

“AKU TIDAK MENYURUHMU MENANGIS! AKU MENYURUHMU UNTUK MEMBUAT MEREKA HIDUP KEMBALI!!!”

“Apa itu eomma dan appa?”

Jeongmal… Aku sungguh berharap dugaanku salah dan pikiranku ini tidaklah benar.

“KAU PIKIR SIAPA, HAH?! INI SEMUA KARENA KEEGOISANMU… ANDAI SAJA KAU TAK PERNAH MEMINTA MEREKA UNTUK DATANG KE SEOUL, MAKA MOBIL YANG MEREKA TUMPANGI TAK AKAN PERNAH MENEROBOS PEMBATAS JEMBATAN HINGGA MOBIL MEREKA TENGGELAM DI SUNGAI. KAU TAHU ITU TERJADI KETIKA APA?!”

“…….” Belum bisa rasanya kukeluarkan kata-kata untuk menyahut ucapan Teuki hyung.

“ITU TERJADI KETIKA MEREKA MENUJU BANDARA DI PARIS!!!” Bentaknya kembali hingga membuatku meringgis sedih.

“Andwe…. Itu tidak mungkin!” Ucapku sambil terus menangis dan menggelengkan kepala.

“Kau pasti bohong kan, hyung? Jebal.. Biarkan aku melihat mereka.” Sambungku lagi.

“ANDWE! SAMPAI KAPANPUN AKU TAK AKAN MENGIZINKAN KAU MELIHAT MEREKA, MESKIPUN INI UNTUK YANG TERAKHIR KALINYA! AKU MAU KAU TERUS MERASA MENYESAL SEUMUR HIDUP!”

“Tapi hyung…..”

“KELUAR DARI SINI!!!”

 

Berkali-kali Teuki hyung telah membentakku sampai kuberanggap bahwa ia bukanlah Teuki hyung yang kukenal sebagai hyung tertua yang kumiliki selama ini.

Aku menangis sejadi-jadinya dikoridor rumah sakit yang sepi ini seorang diri dengan rasa sesal yang sepertinya tak akan hilang dalam hidupku sampai kapanpun.

 

Kyuhyun Pov End

 

Flashback End

 

Ajusshi Lee Pov

 

Sudah lebih dari tiga kali aku berniat mengetuk pintu kamar Kyuhyun. Akan tetapi, selalu kuurungkan niat itu ketika teringat dengan kejadian semalam. Kupikir ia membutuhkan waktu istirahat yang lebih setelah menangis seperti itu tadi malam.

Aku terus berjalan mondar-mandir didepan pintu kamarnya karena menghawatirkan keadaan Kyuhyun sejak semalam. Kutakut ia terus menangis dari semalam..

 

“YA! Apa yang kau lakukan, ajusshi?!”

“EOH, OMO!” Ucapku kaget ketika Kyuhyun tiba-tiba muncul didepanku.

“Aahh.. Mianhae. Aku tak bermaksud mengagetkanmu!” Kyuhyun merasa menyesal lalu membungkuk padaku.

“Gwaenchanna…. Gwaenchanna…. Hanya saja aku yang terlalu tua. Jadi sedikit-sedikit aku mudah terkejut.”

“Oh… Jadi apa yang kau lakukan disini, ajusshi?”

“Sebenarnya aku mau membangunkanmu, tapi karena kupikir kau sangat lelah aku jadi ragu untuk membangunkanmu.”

“Owh, aku baik-baik saja, ajusshi. Lagipula kau tidak perlu repot membangunkanku setiap pagi, karena aku selalu memasang alarm agar tidak terlambat.”

Kulihat ia tersenyum. Namun, kutahu itu adalah senyum yang ia paksakan diwajahnya saat ini.

 

“Geurrae… Irokkhe, turunlah segera karena aku sudah menyiapkan sarapan untukmu, Kyuhyun-ah.”, Kyuhyun terdiam seakan memikirkan sesuatu yang telah mengganggunya.

“Tenang saja. Mereka sudah sarapan lebih dulu.” Ungkapku sok tahu.

“HYA! AKU MENYURUHMU MEMBUAT KOPI TANPA GULA, BUKAN KOPI DENGAN GULA!” Terdengar suara Leeteuk dari lantai dasar dan langsung membuatku perlu untuk menghampirinya.

“Jeongsonghamnida… Jeongsonghamnida…”

Dari kejauhan kulihat pelayan muda Eun sedang membungkuk-bungkuk.

“Eoh, Ajusshi Lee. Kebetulan sekali kau ada disini.”

“Ne, ada yang bisa kubantu, Tuan Muda.”

“Pecat dia!!”

“Ne?!”

“KUBILANG PECAT DIA!!!”

“Arraseo. Mianhamnida, Eun. Bisakah kau kembalikan seragammu kedalam loker?”

“Ne, Lee-ssi. Mianhae, karna aku tak sengaja melakukan itu.”

Aku merasa sangat bersalah pada pelayan Eun yang sudah hampir 2 tahun bekerja dikediaman Cho ini. Demi menuruti sikap Leeteuk yang angkuh, maka orang lain jadi harus ikut menderita.

Suara langkah kaki yang lainpun terdengar mendekati kami, saat sosok itu menampakkan wajahnya ternyata Kyuhyunlah orangnya.

Ia tampak membungkuk pada Leeteuk dan Donghae yang sedari tadi duduk sambil asik memainkan ponselnya. Namun tak ada satu pun dari mereka yang melihat kearah Kyuhyun.

Kutatap Kyuhyun dengan pandangan simpati, akan tetapi ia membalasku dengan senyuman yang merekah diwajah hingga aku merasa heran, kemana sisa kejadian semalam? Apa sebegitu mudahnya ia mampu melupakan sesuatu?

Padahal sembab dimatanya itu saja masih begitu terlihat dan satu hal yang tak kusangka, sikap keras, angkuh, dan egois yang Leeteuk dan Donghae miliki semakin menjadi semenjak kepergian kedua orang tua mereka.

Dulu sikap mereka sama seperti Kyuhyun, sama persis. Bahkan mereka tak pernah berbicara dengan nada yang tinggi seperti pagi ini. Mereka memang telah berubah perlahan ketika kehilangan seseorang dan jadi membenci dongsaengnya sendiri karena kesalahan yang tak pernah ia lakukan.

 

Kyuhyun Pov

 

Entah monster apa yang kini merasuki kedua hyungdeulku itu. Dalam waktu beberapa minggu ini saja, mungkin Leeteuk hyung sudah memecat lebih dari 15 orang karena kesalahan yang menurutku sepele. Entah itu ada pelayan yang salah menyiapkan baju, makanan tidak enak, atau bisa juga seperti pelayan yang baru dipecat pagi ini olehnya.

Ruang makan juga kini tampak sepi karena hanya ada aku seorang diri dan kupikir bahwa seperti ini mungkin lebih baik. Dengan tidak melihat wajah pembunuh ini, maka tak akan membuat mereka semakin terbebani dengan adanya diriku. Kejadian semalam juga sudah membulatkan tekadku untuk tidak mengganggu mereka kelak dan tidak akan menangis lagi meskipun seberapa sedihnya kejadian yang akan kuhadapi dengan air mataku belum mengering.

Hal ini kulakukan sebab aku masih ingin tinggal disini untuk melihat keadaan mereka, walau aku tak dianggap sedikitpun dan terasa bagai orang asing dalam rumah bak istana ini.

 

 

Selesai sarapan ku bersiap untuk ke univeritas di pagi hari dan langkahku harus tertahan ketika berada diujung ruang keluarga. Kulihat Teuki hyung dan Donghae hyung juga hendak pergi ke perusahaan dengan jas yang baru mereka kenakan dibantu para pelayan.

“Ajusshi, mungkin malam ini kami akan pulang larut malam.” Ucap Teuki hyung tanpa memandang ajusshi.

“Ne, Tuan Muda. Arraseo….”

“Geurraeso…!”

Mereka berduapun bergegas keluar rumah dengan memegang kuncil mobil masing-masing, hingga aku tak lagi melihat mereka ketika pintu utama rumah itu ditutup oleh pelayan.

 

Hati-hati, hyung….

 

Itulah kata-kata yang sangat ingin kukatakan pada mereka dan terasa sedih rasanya ketika ku mengingat harus menjaga jarak dengan kedua hyungdeulku sendiri. Senyumku miris karena harus kah ini akan terjadi padaku hingga akhir?

 

“Ya…! Belakangan hari ini aku sering mendapatimu melamun. Wae yo?!” Ucap Ajusshi Lee yang telah menghampiriku selepas ia mengantar kedua hyungku sambil menepuk bahu kiriku.

“Ah, aniyo….”

“Kau sudah mau berangkat, Tuan Muda?!”

“Aish, CHO KYUHYUN, ajusshi! Mereka berduakan sudah pergi…”

“Ah, arraseo… Arraseo… Oh Kyu, pergilah menggunakan mobilmu, sayang bukan jika tidak kau pakai?”

“Shireo! Aku sudah tak pandai mengendarai mobil lagi, ajusshi. Lagipula aku akan merasa lebih senang jika harus naik bus.” Sahtku terpaksa berbohong.

Sebenarnya itu bukanlah alasan ku menolak permintaan ajusshi, melainkan aku merasa sungguh tak pantas menerima dan menggunakan fasilitas-fasilitas mewah dari rumah ini. Masih bisa tinggal disini saja sudah sangat beruntung untukku, maka dari itu setidaknya aku perlu tahu diri dengan kondisiku saat ini.

Seberapa dalam mereka membenciku, tapi aku tak bisa membalas sikap mereka dengan acuh atau dingin. Terlahirkan  dalam keluarga ini, memiliki dua hyung, hingga mereka membenciku adalah sebuah takdir yang harus kuhadapi dalam hidup ini.

“Geurome, aku pergi, ajusshi.”

“Ponsel selalu kau bawa kan, Kyuhyun-ah?”

“Ne, isseoyo… Bye, ajusshi!”

 

Aku berlari keluar rumah melewati gerbang yang besar dengan penjaga pintu yang baru kulihat pagi ini. Dia membungkuk padaku yang kemudian kubalas dengan anggukan kecil.

“Jika kau ingin bekerja disini lebih lama, berhati-hatilah dengan kedua hyungdeulku. Karena mereka lebih menakutkan dari hantu atau monster manapun.” Ucapku dengan menepuk bahu penjaga pintu itu bermaksud mengingatkannya sambil menyipitkan kedua mataku. Lalu setelah itu, kukembali berlari penuh semangat menyusuri jalan perumahan yang terbilang sepi dengan matahari yang masih tampak malu menunjukkan cahayanya.

 

***

 

Sejauh ini aku terus berlari menuju halte bus di Jalan Chongsam. Saat mendapati gedung tertinggi didepan mataku, langkah kaki terhenti. Kemudian kuangkat kedua tanganku menyentuh kepala hingga membentuk lambing hati, lalu meneriakkan,

“SARANGHAE!!!”

Pengguna jalan yang lainpun menatapku aneh karena sikap ini. Tapi tidak sedikitpun aku memperdulikan mereka, toh aku juga tak mengenal salah satu pengguna jalan disekitar sini. Jadi aku bisa bebas melakukan apapun yang kumau. Sebenarnya ingin sekali aku melakukan hal yang lebih dari ini, aku benar-benar merindukan mereka…. Terakhir kali menginjakkan kaki digedung itu saja sudah terasa begitu lama terlewati.

 

Berlari dan kembali berlari meninggalkan gedung tinggi yang merupakan perusahaan kedua hyungdeulku itu, karna hanya itulah yang bisa kulakukan setiap paginya ketika melewati gedung tersebut. Ada juga sedikit sisa rasa sedih yang mengiringi langkah kakiku, apakah sungguh aku harus melakukan ini seumur hidupku?

Ketika tiba dihalte, tak lama kemudian bus yang hendak kutumpangipun datang. Dengan sigap dan nafas yang sedikit tersengal-sengal akupun masuk kedalam bus tersebut, memasukkan uang dan seperti biasa menyapa seseorang didalam sana.

“Annyeong, ajusshi… Huss.. huhh.. Semoga hari ini…. Menyenangkan!” sapaku dengan terputus-putus sambil membungkuk dan tersenyum pada ajusshi pembawa bus.

“Kau juga, Cho. Eoh, apa kau berlari lagi?”

“Aku takut tertinggal bus yang kau kendarai, ajusshi.” Sahutku yang masih berdiri didekatnya.

“Aish, bukankah masih banyak bus yang lainnya?”

“Bus yang lain tak memiliki ajusshi seramah dirimu..”

“Itu alasan yang selalu kau berikan, Cho. Arraseo, pililah tempat dudukmu.”

“Ye….”

 

Ha… ha… ha…. Itulah aku, Cho Kyuhyun. Yang mengenal banyak orang dan selalu berusaha untuk dekat dengan siapa saja yang kumau. Tempat duduk yang kini kupilih pun terletak dibagian belakang bus yang sedikit akan penumpang dan terasa tak seramai seperti hari biasanya, hingga dengan leluasa aku bisa memilih tempat duduk dimana saja.

Dari halte bus menuju universitas Kyunghee, kira-kira membutuhkan waktu 45 menit. Dalam waktu sebanyak itu aku bisa beristirahat ataupun melihat pemandangan sepanjang jalan yang kulalui.

 

___

 

“Gamshamnida, ajusshi! Hati-hati membawa busnya..!” ujarku sambil bergegas keluar bus setelah tiba dihalte depan universitas.

“Kau juga hati-hati….” Teriak ajusshi itu sebelum menjalankan kembali busnya. Tangan kananku juga sempat melambai kearahnya dan tak lagi melihat bus itu saat menikung diperempatan jalan depan.

“Eoh, sebaiknya aku segera ke…..”

Ucapan ku terputus, mataku juga terbelalak ketika ada seseorang yang langsung membekap mulutku dari belakang.

“Hmmmppptt….” Deruku memberikan perlawanan.

“HYA!!” teriak orang itu didekat telingaku hingga aku memeking kesakitan dan terus melawannya.

 

 

 

Tbc

 

Ohae hajimaseyo, Hyung! Jebal….

Nah, banyak yang tanya ya itu artinya apa? FF ini artinya ‘Jangan salahkan aku, hyung! Kumohon…’

Seharusnya author kasih tahu ini lebih awal ya? Cuma author lupa. Hahahaha… Oke, part selanjutnya akan segera dishare…

 

15 thoughts on “Ohae Hajimaseyo, Hyung! Jebal… (Part 2)

  1. Apa segitu bencinya hyungdul kepada kyuhyun??? wajar sajakan kalo kyu meminta hadiah seperti itu. dan itu emang sudah dari takdir ortu mereka, jd kyu tidak boleh disalahkan…
    sabar ya baby kyu….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s