Ohae Hajimaseyo, Hyung! Jebal… (Part 1)

OHH1

 

Ohae Hajimaseyo, Hyung! Jebal… Part 1

Author                 : Whindalee

Cast                      :

         Leeteuk as Cho Jung Soo / Leeteuk

         Donghae as Cho Donghae

         Kyuhyun as Cho Kyuhyun

Support Cast :

         Ajusshi Lee (OC)

         Siwon as Siwon

         Ryewook as Kyuhyun’s Friend

         Han Hyu Ra & Cho Min Soo (OC) as Kyuhyun’ s eomma & appa.

Genre                   : Brothership, Tragedy, Angst, Family, Friendship, Hurt, & Sad.

Length                  : Continue

 

Annyeong, readers… ^^

Sebagai permintaan maaf, author udah buat FF ini dengan penempatan watak cast utama yang berbeda dengan ff yang udah pernah author buat sebelumnya.

Jika di blog ini ada para Angels bertebaran dimana-mana, mohon dimaafkan ya! Karna disini author membuat sifat Teukppa yang berbeda. Mianhamnida…. ^^ Tolong jangan marah ya! Karna ini hanya FF yang sekedar untuk mengisi kekosongan waktu para readers.

Arraseo, mian terlalu panjang dipembukaan…

 

Happy Reading….

 

Kyuhyun Pov

 

Selangkah demi selangkah kakiku berjalan memasuki pintu gerbang rumah dengan kepala tertunduk. Bukan karna merasa tas ransel yang kupikul ini berat, melainkan hatiku yang terasa begitu tersiksa setiap kali melihat rumah yang megah ini.

Air matapun selalu terasa bergenang dikedua mataku saat ada di rumah ini. Aku sempat terdiam ketika menutup pintu gerbang yang menjulang kokoh dan kembali berjalan menuju rumah layaknya istana tersebut. Setiap langkah yang kupijakkan ditempat ini pun selalu menyisakan rasa kesedihan didalam hatiku.

 

Tik…

 

Satu buliran bening pada akhirnya terjatuh juga mengenai tanganku yang mengenggam gagang pintu. Buru-buru kudongakkan kepala keatas agar buliran yang lainnya tidak ikut terjatuh.

 

“Aish, uljima Kyuhyun-ah!” Gumamku sambil menyeka air mata yang terlanjur membasahi pipi.

“Jangan buat yang lainnya menghawatirkanmu. Arraseo?!” Gumamku lahi sambil menepuk-nepuk pipi mencoba untuk tersenyum dan menjadi Kyuhyun yang ceria.

Kupegang kembali gagang pintu dan menarik nafas dalam-dalam sebelum membukanya.

“Aku pulang….” Ujarku disertai senyuman yang kupaksakan.

“Eoh, Tuan Muda… Bagaimana. Kuliahmu hari ini?” Sapa Ajusshi Lee ramah sambil menghampiriku dan hendak melepaskan tas ransel yang sedari tadi ada dipunggungku. Namun, dengan cepat aku menghindar dengan mundur beberapa langkah.

“Ya… Ajusshi! Sudah berapa kali kukatakan, jangan panggil aku tuan muda. Panggil saja aku, Kyuhyun.”

“Kalau hyungmu tahu aku memanggilmu dengan sebutan itu, maka habislah aku.” Sahutnya langsung sambil mengambil tas ranselku.

“Tapi hanya ada kita berdua disini, Ajusshi. Lagipula dulu memang kau menyebut namaku saja bukan? Ayolah… Jebal! Jangan panggil aku tuan muda lagi yah disaat kita berdua. Jebal, Ajusshi! Jebal…”, sebisa mungkin aku merenggek pada Ajusshi Lee dan memasang puppy eyes yang terbaik yang kubisa.

“…….” Dia hanya diam dan tak berani menatap wajahku.

“Ajusshi… Kalau kau takut hyungku memarahimu, maka aku yang akan bertanggung jawab. Ottokhe?!” Ucapku berusaha merayunya. Akan tetapi dia masih diam tak berani mengatakan apapun.

“Ya! Ajusshi.. Kenapa jadi diam saja?! Ajusshi….” Renggekku yang kali ini sudah menarik-narik lengan kanannya seperti anak kecil.

“Geurome.. Jika hanya ada kita berdua saja kan?” Kata Ajusshi Lee akhirnya.

“Ye….!” Sahutku disertai senyum yang memperlihatkan deretan gigiku yang putih ini.

“Arraseo, akan kulakukan apa yang kau mau, Kyu…” Ujar Ajusshi Lee sambil mengacak-acak rambutku yang kemudian segera berjalan menjauhiku yang masih berdiri terpaku ditempat semula.

Seketika senyum yang sempat menghiasi wajahku menghilang begitu saja dan langsung tergantikan dengan tetesan air mata kepedihan.

Kaki pun melangkah perlahan dengan kepala yang lagi-lagi tertunduk untuk membiarkan air mata terus terjatuh. Kemudian langkahku terhenti ketika tiba ditengah-tengah ruang tamu, kedua mataku kini menatap foto berukuran besar dengan berbingkai mewah yang terpajang didinding ruang tamu.

Didalam foto tersebut ada Leeteuk hyung yang berdiri tepat dibelakang eomma yang duduk dengan mengenakan dress putih kesayangannya. Donghae hyung juga berdiri dibelakang appa, dan aku duduk diantara eomma dan appa. Wajah kami sangat bahagia didalam foto itu. Hingga kurasa saat ini telah berubah dan tak akan pernah bisa seperti didalam  foto itu lagi.

 

“Apa masih bisa untuk kami tersenyum seperti itu?” rintih batinku.

Air mata ku rasanya tak mau berhenti mengalir, walaupun aku terus berusaha menahannya dengan susah payah.

“Kyuhyun-ah….” panggil Ajusshi Lee dari kejauhan dan berhasil mengagetkanku dari lamunan. Buru-buru kuseka air mata agar tidak membekas dan  segera memasang senyum palsuku.

“Oh, ne… Wae, ajusshi?”

“Kau mau kusiapkan….” ucapnya yang kemudian terputus.

“Mwo?” sambungku dengan mengangkat sebelah alis mata.

“Apa kau menangis?” tanyanya tanpa basa basi.

“Eoh, nugu? Lagipula sejak kapan aku menangis? Bukankah aku sudah pernah berjanji tak akan menangis lagi setelah kejadian itu berlalu?” elakku sambil tersenyum.

“Lalu kenapa matamu sedikit berair dan merah?”

“Ah, mata ini…. Baru saja tadi aku menguap, ajusshi. Aku mengantuk.. Irokkhe, aku kekamar dulu ya. Aku mau tidur sebentar.” Sahutku berbohong. Sesaat kulihat wajah Ajusshi Lee yang meragukan perkataanku dan sepertinya ia tahu kalau aku sedang berbohong.

“Geurrae.. Oh, ne, apa makan malam ini mau kuantarkan juga kekamarmu?” ucapnya dengan kening yang berkerut seakan masih mencurigai gerak-gerikku.

“Tidak perlu, Ajusshi. Aku akan makan  bersama mereka…” sahutku sambil berjalan menuju anak tangga yang telah terukir bebatuan mewah.

“Lalu apa yang ingin kau makan untuk malam ini? Biar kami siapkan…”

Kuhentikan langkahku dan menatap ajusshi yang ada dilantai bawah. Telunjuk kanan ku kini menyentuh dagu sekaligus berpikir tentang ucapan Ajusshi Lee.

“Buatkan makanan yang mereka suka, ajusshi.” Jawabku setelah mendapatkan jawaban yang terbaik.

“Arraseo…”

“Gamshamnida, ajusshi.”

“Cheonmaneyo, istirahatlah sekarang!”

“Ne!”

 

Kreeeekkk… Suara denyit pintu kamarku benar-benar membunuh kesunyian dirumah ini. Karena tak ada lagi orang dirumah ini selain aku, Ajusshi Lee, dan para pelayan. Terkadang rasa jenuh pun selalu menghampiriku disaat seperti ini dan hanya Ajusshi Lee lah yang mampu membuang rasa tersebut ketika mereka belum kembali dari perusahaan.

Kuhempaskan tubuhku keatas tempat tidur yang besar dan mungkin akan cukup untuk empat orang. Tanpa melepaskan sepatu dan mengganti baju yang telah kupakai selama kuliah, kucoba untuk menghilangkan rasa penat terlebih dahulu.

Langit-langit rumah yang berwarna jingga menjadi obyek tatapanku saat ini, dengan dihiasi lampu gantung yang harganya pastilah tidak murah.

“Aku tidak membutuhkan semua ini….” gumamku dengan menutup mata menggunakan lengan kananku.

“Aku hanya menginginkan mereka seperti dulu, Tuhan. Bisakah kau lakukan itu untukku?”

Kubiarkan mataku terus terpejam hingga benar-benar terpulas dalam tidur sore ku ini.

 

***

 

07.38 p.m. KST

 

Tok…. Tok…. Tok….

 

“Tuan muda…..”

Samar-samar kudengar suara Ajusshi Lee dari luar kamar. Aku mendengus kesal karna belum cukup rasanya waktuku untuk tidur, mata ku pun masih terasa sukar untuk dibuka.

“Tuan muda….”

Dengan bermalas-malasan aku berjalan menghampiri pintu, saat kubuka aku mendapatinya sedang berdiri ditengah-tengah pintu kamarku dan hendak akan mengetuk pintu kembali.

“Aish, sudah berapa kali kukatakan, ajusshi. Panggil saja namaku…” Ujarku malas sambil mengusap-usap mata.

“Mereka sudah pulang, Tuan Muda. Jadi aku tidak bisa melakukan itu.” Sahutnya dengan suara yang sangat pelan.

“Owh… Mereka sudah pulang?!” Kataku sumbringah.

“Ye.. Ah, kau belum menganti pakaianmu?” Imbuhnya yang baru tersadar dengan penampilanku.

“​He… He…. He…. Tadi aku tertidur.” Jawabku cengengesan sambil mengaruk-garuk kepala yang tak gatal.

“Ne, geurrae. Sebaiknya bersihkan dulu badanmu, setelah itu segeralah turun untuk makan malam bersama mereka.

“Ne, ajusshi. Gomawo…”

Dengan cepat akupun memeluknya dan segera kembali kekamar untuk membersihkan diri.

 

***

 

Dari kejauhan kulihat dua namja telah duduk dimeja makan panjang yang biasa kami gunakan untuk makan bersama. Saat aku hampir mendekati mereka, tiba-tiba rasa canggung kembali muncul dan membuatku menjadi salah tingkah.

Badanku membungkuk setelah berada tepat dihadapan mereka dan mungkin juga mereka sudah cukup lama menungguku. Namun, tak ada satu pun dari mereka, baik itu Leeteuk hyung ataupun Donghae hyung yang menatap kehadiranku diantara mereka.

Sedikit mendengus kesal didalam hati dengan memajukan bibirku karena sikap mereka yang sudah tidak kuanggap asing ini. Kemudian ku duduk dibangku yang membuatku dan Donghae hyung saling menghadap.

Sebelum kami memulai untuk makan, perlu kucoba kembali untuk berbicara pada mereka.

“Hyung, bagaimana keada….”, belum selesai kubicara Donghae hyung sudah memotong pembicaraanku.

“Besok pagi investor dari Paris akan tiba bukan, hyung?”

“Ne, sebaiknya kau siapkan semua berkas-berkas yang diperlukan malam ini.”

“Eoh, hyung, apa kalian…..”, lagi-lagi ucapan ku kembali dipotong dan kali ini adalah Teuki hyung.

“Sebaiknya kita makan, Hae! Masalah pekerjaan kita bicarakan diruang kerja ku saja.”

“Ye, hyung.”

 

Jeongmal…. Jeongmal appayo. Sakit sekali rasanya hatiku, ketika menerima perlakuan dari hyungdeulku yang seperti itu. Meskipun aku berada didekat mereka, akan tetapi tak satupun dari mereka yang menganggapku ada disini. Sebenarnya bukan hanya kali ini aku diperlakukan seperti itu, tapi sampai kapan aku harus menerimanya?

 

“Jangan melamun, Tuan Muda.” Ujar Ajusshi Lee sambil meletakan 3 gelas jus jeruk dan telah membuyarkan lamunanku.

Sesaat Leeteuk hyung dan Donghae hyung yang lebih dulu memulai kegiatan makannya menatap sinis kearahku. Hingga kutertunduk dan mulai menyentuh pisau makan.

Walaupun dimeja makan saat ini tersajikan susi ikan tuna, lobster, dan steak sapi. Namun, kupikir seberapapun lezatnya makanan dihadapanku ini akan terasa hambar jika tak ada kehangatan keluarga.

Baru satu potong steak sapi yang masuk kemulutku, tapi aku sudah merasa tak berselera untuk melanjutkannya dan meletakkan kembali pisau makan ketempatnya semula.

“Hyung, bisakah diantara kalian ada yang datang ke universitas? Akan ada pertemuan antar wali dalam minggu ini.” Ujarku bohong karena yang sebenarnya itu hanyalah alasan untuk bisa berbicara dengan mereka. Dan seperti yang telah kuduga, mereka tetap asik melahap makanan tanpa mengubris ucapanku.

“Hyung…..”

“……..” Mereka masih diam dan sama sekali tidak memperdulikanku.

“Hyung, sampai kapan kalian memperlakukanku seperti ini?” Tukasku memberanikan diri sambil menatap mereka secara bergantian.

 

Author Pov

 

“Hyung, sampai kapan kalian memperlakukanku seperti ini?” Ucap Kyuhyun yang sudah tak bisa lagi berdiam diri seperti sebelumnya.

Leeteuk dan Donghae langsung berhenti menyantap makanan mereka. Suasana pun berubah menjadi begitu menegangkan dan terkesan kaku.

“Bisakah kau berhenti memanggilku ‘hyung’?! Telingaku sakit setiap kali mendengar kata itu keluar dari mulutmu.”

 

DEG!!!!

 

Kyuhyun statis terdiam karena ucapan Leeteuk barusan. Matanya pun mulai memerah dengan air mata yang siap untuk tumpah.

“Apa aku salah dengar, hyung?” Ucap Kyuhyun sedih sekaligus tak percaya.

“SUDAH KUKATAKAN JANGAN PANGGIL AKU DENGAN SEBUTAN ITU!!!” Bentak Leeteuk dengan nada yang tinggi, hingga mengejutkan orang-orang disekitarnya, termasuk Ajusshi Lee yang hendak menghampiri mereka untuk mengantarkan buah.

“Hyung, kurasa kau tidak perlu marah-marah seperti itu. Cukup menganggapnya tak ada dirumah ini saja. Jangan biarkan otot-otot diwajahmu itu keluar hanya untuk berbicara pada anak itu.” Ujar Donghae disertai senyuman licik.

“Apa karna kejadian itu kalian akan terus memperlakukanku seperti ini?”

“Berhentilah menggangguku!!” Sahut Leeteuk kasar.

“Hyung, tidak bisakah kalian kembali seperti dulu? Jeongmal jebal….”

“KUBILANG BERHENTI MEMANGGILKU HYUNG!!! KAU BUKANLAH DONGSAENGKU! HANYA DONGHAE LAH DONGSAENG SATU-SATUNYA YANG KUMILIKI. APA KAU TULI, HAH?!”, kali ini emosi Leeteuk benar-benar pecah, namun tak membuat Kyuhyun takut sedikitpun.

“Apa aku hanya beban bagi kalian selama ini? Jeongmal… Aku sungguh menyesal dengan kejadian waktu itu. Ohae hajimaseyo, hyung! Jebal…” Kyuhyun berujar sambil menitikkan air matanya dari pelupuk.

“Dengan kata penyesalan tak akan bisa membuat mereka kembali. Jika bukan karena kesalahanmu, maka siapa yang harus kami salahkan? Jelas-jelas karna ego mu hal seperti itu akhirnya terjadi. Percuma untukmu mengatakan kata maaf beribu-ribu kali, sebab itu tak bisa merubah apapun.”, Donghae ikut menekan Kyuhyun.

“Tak ada yang ingin hal itu terjadi, hyung. Jebal, mianhae!”

Tangisan Kyuhyun terasa semakin deras hingga ia merasakan sakit ditengkuk karna mencoba menahannya. Usahanya untuk tidak menangispun harus berakhir disaat seperti ini.

“Tapi itu tidak akan terjadi jika kau tidak egois!!” Bentak Donghae akhirnya.

“Aku menyesal, hyung. Tidak bisakah kalian memaafkanku?”

“Maaf kau bilang?! Kau sudah membuat mereka…..”

“Geumal, Hae! Aku tidak ingin mengingat kenangan pahit itu lagi. Jangan kita teruskan pembicaraan ini.” Cegah Leeteuk seraya berdiri dari bangkunya.

“Selama ini kau masih kuizinkan untuk tetap tinggal dirumah ini. Tapi jangan pernah berharap kau bisa mendapatkan maaf dari kami, meskipun kau akan mati sekalipun. Sebaiknya kau harus tahu diri selama menginjakan kaki disini. Aku hanya menganggapmu sebagai pengemis yang kupungut dari jalanan dan gomapta… Karena telah berhasil menghilangkan selera makanku.” Ucap Leeteuk dengan tajam sambil berlalu meninggalkan ruang makan diikuti Donghae yang ada dibelakangnya dengan wajah yang sangat marah.

 

Setelah tak ada siapapun diruang makan, Kyuhyun menangis sejadi-jadinya. Suara isak tangisnya pun begitu terdengar diruang makan tersebut. Ajusshi Lee yang melihat Kyuhyun seperti itu segera menghampirinya dengan mata yang mulai ikut berair.

Dia menepuk-nepuk bahu Kyuhyun yang terasa memikul beban yang begitu berat hingga membuat tangisan Kyuhyun semakin pecah.

Upaya Kyuhyun untuk menyembunyikan kesedihannya selama ini dan selalu berusaha untuk tetap ceria didepan siapapun tampaknya memang benar-benar harus berakhir disini. Ia menumpahkan seluruh air matanya ketika mengingat kejadian saat itu dan sikap kedua hyungnya.

 

“Ajusshi, apa kau tahu bagaimana caranya mengeringkan air mata?” Ujar Kyuhyun disela tangisnya.

“Mwo?”

“Ne, jika air mataku kering maka aku tak akan bisa menangis lagi. Walaupun seberapa sedihnya kejadian yang kuhadapi nanti, ajusshi. Apa kau bisa membantuku melakukan itu? Aku tidak mau lagi menangis, ajusshi. Ini sangat melelahkan bagiku.”

Ajusshi Lee yang berusaha menahan air mata akhirnya harus ikut meneteskan buliran bening itu juga. Sambil terus menepuk-nepuk bahu Kyuhyun, ia pun berkata,

“Aku tidak bisa melakukan itu, Kyu. Mianhae…. Tapi aku yang akan selalu menyeka air matamu yang terjatuh disaat setiap kali kau menangis.”

“Anni… Bukan itu yang kumau, ajusshi. Aku hanya mau air mata ini mengering, dengan begitu aku tak akan merepotkanmu untuk menyekanya. Sekaligus tak akan ada yang tahu bahwa aku sedang bersedih. Aku ingin terus tersenyum didepan mereka, meskipun hatiku sangat terluka.”

“Mianhae, Kyuhyun-ah. Jeongmal mianhae… Aku hanya mampu menyekanya!”

Ucapan Ajusshi Lee barusan membuat tangisan Kyuhyun bertambah pecah dan berharap agar air matanya sungguh mengering jika ia terus menangis seperti itu.

 

Mereka sungguh membenciku, bahkan kurasa tak ada lagi ruang dihati mereka untuk memaafkan. Eomma… Appa… Bisakah kita bisa bertemu kelak?

 

Didalam tangisnya, Kyuhyun mengingat kejadian yang membuat keluarganya seperti saat ini.

 

 

 

 

 

Tbc

16 thoughts on “Ohae Hajimaseyo, Hyung! Jebal… (Part 1)

  1. Kesalahan apa yang kyu lakukan sampai buat hyungnya semarah itu sama dia….??? Ngebayangin teuki oppa marah2 agak susah…hihi tapi ini keren kok…lanjut yuuk

  2. kyaaaa athor tega banget bikin aku nangis …. ): jadi ngegalau deh hiks ):
    lanjut ya thor gk pkek lma #maksadikit (:

  3. Ortunya mereka meninggal karena Kyu,,, yah. ?.?

    eh saeng ini authornya sama dgn hyung jebal mianhae gak sih…

    Lanjut baca lg aaghh…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s