The Music of Love (Part 2)

TMOL2

The Music of Love

by: Tya Siti

 

Pemain:                                                                

Shim Chang Min (TVXQ) sebagai Kang Hyun Jae

Jung Yun Ho (TVXQ) sebagai Kang Hyun Woo

Seo Jo Hyun (SNSD) sebagai Song In Hee

Member Super Junior dan SNSD

 

 

 

 

 

PART II

 

Aku tak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Berjalan dari gerbang dan menuntun sepeda menuju tempat parkir dan aku melakukannya sekarang. Berjalan bersama Kyu Hyun dan Yesung. Bukan karena mereka alasanku melakukan ini tapi karena tadi  aku melihat gadis itu berjalan di tengah kerumunan para siswi.

Mencari  perhatian. Sikap aneh yang hanya aku lakukan pada gadis itu saja. Gadis yang baru kemarin aku bertemu dengannya. Gadis yang paling cantik yang aku temui selain Eomma-ku. Gadis yang memiliki mata bening dengan pancaran ketulusannya. Gadis pertama yang memuji permainan gitarku. Gadis yang membuatku bersikap aneh seperti sekarang. Hanya gadis itu. Gadis itu.

“Hei, tak seperti biasanya. Ada apa denganmu hari ini?” Tanya Kyu Hyun padaku. Aku hanya mengangkat bahuku ringan.

“Ah, tak perlu kau tanya dia, Kyu. Jawabannya pasti hanya menggeleng, mengangguk, iya, atau tidak. Hanya itu. Kau tanya sepanjang apapun itu, jawabanya pasti begitu. Bukankah sudah ku bilang dia itu hanya boneka.” Ujar Yesung dengan pandangan yang tetap kearah depan.

            “Hei, kau.” Aku memukul lengan Yesung. Kyu Hyun tertawa melihatnya.

            “Dan mungkin ini adalah suatu kemajuan.” Ucap Yesung. Yesung melirikku dengan pandangan anehnya. “Kyu, kau tahu apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanyanya pada Kyu Hyun. Kyu Hyun mengangguk dan mereka bersiap menaiki sepeda merekamasing-masing lalu mengayuhnya dengan cepat.

            “Hei, kalian!” Aku bersiap untuk mengejar mereka memberikan pelajaran pada mereka. Tapi, gadis itu. Dia ada di hadapanku sekarang, melambaikan tangannya padaku. Hawa panas menyerangku saat itu.

            “Kau?” Satu kata itu yang keluar dari mulutku.      

            “Kau?” Dia mengulang kembali kata yang tadi kuucapkan.

“Kau mengagetkanku.”

“Kau mengagetkanku?” Dia mengulang lagi kata-kataku dengan muka yang begitu tak biasa.

“Ah, kau.” Suara dentang lonceng menggema. Aku melihat arlojiku. “Bel. Kau ikut?” Ucapku sambil menunjuk kearah boncengan di belakangku. Gadis itu duduk, tangannya melingkar di pinggangku. Ini agak sedikit menggangguku, mungkin karena tak biasa. Ini pertama kalinya bagiku. Aku mengayuh sepedaku cepat.

Gadis itu turun dan membungkukkan setengah badannya, tersenyum, melambaikan tangannya lalu pergi sesaat setelah sampai di muka pintu gedung sekolah.

“Hei, chakkamanyo.” Aku menyimpan sepedaku sembarang dan berlari mengejarnya.

“Hyun Jae, kau terlihat senang hari ini?” Ucap Ahjussi yang menjaga pintu. “Wanita memang mahluk yang sangat hebat, jika ia telah masuk dalam kehidupan seorang lelaki.” Tambahnya. Aku hanya tersenyum.

“Ahjussi, bisa bantu aku parkirkan sepeda milikku?” Ucapku. Ahjussi tersenyum, menandakan kesediaannya. “Gamsahamnida.” Aku langsung berlari mengejar gadis itu tapi ia sudah tak ada. Untuk seorang gadis kemampuan larinya terbilang sangat cepat. Aku hanya tersenyum.

Kembali berjalan menyusuri lorong-lorong menuju kelasku. Lorong itu. Aku melewatinya. Saat itu pikiranku kembali mengulang kejadian kemarin. Aku tersenyum.

“Hyun Jae!” Aku menoleh. Ryeo Wook berjalan kearahku. “Kenapa kau? Ayo cepat kita ada pelajaran Lee Teuk Seonsaengnim. Ia tidak suka jika ada yang terlambat.” Aku mengangguk. Aku lupa jika hari ini Lee Teuk Seonsaengnim mengajar di jam pertama. Aku dan Ryeo Wook berlari menuju kelas.

“Kalian? Kenapa terburu-buru?” Tanya Lee Teuk Seonsaengnim di ambang pintu saat melihat kami berlarian menuju kelas.

“Kami hanya tidak ingin terlambat untuk mengikuti pelajaran, Seonsaengnim.” Jawab Ryeo Wook sambil berusaha mengatur napasnya.

“Begitukah?” Lee Teuk Seonsaengnim melihatku dan Ryeo Wook bergantian. Kami hanya bisa tersenyum. “Baiklah, silakan masuk.” Ucap Lee Teuk Seonsaengnim.

“Terima kasih, Seonsaengnim.” Ucapku dan Ryeo Wook bersamaan. Kami masuk ke kelas dengan perasaan lega.

Kyu Hyun dan Yesung saling berpandangan melihatku. Kyu Hyun tersenyum padaku. Aku memasang ekspresi wajah yang buruk untuk membalas senyumannya itu. Konyol.

“Annyeonghaseyo. Baiklah kita mulai saja pembelajaran pagi ini.” Lee Teuk Seonsaengnim mulai menulis materi dan menjelaskan materinya.

Seperti biasa, aku tak fokus pada pembelajaran. Pikiranku kali ini bukan tentang kebencianku terhadap musik klasik tapi hari ini aku memikirkan rooftop yang aku temui setelah menjelajahi lorong kemarin. Gitar dan gadis itu. Mataku beralih pada pintu kelas yang terbuka. Gadis itu. Aku melihat gadis itu berlari terburu-buru di lorong. Ia terlamabat? Kemana dulu dia tadi? Rooftop itu? Aku tersenyum. Rambut panjangnya yang terurai tertiup angin musim gugur. Cantik.

***

“Ah, Lee Teuk Seonsaengnim memang benar-benar kejam. Tidak tahukah kita ini sudah pusing dengan ujian besok? Sekarang harus mengerjakan tugasnya juga? Ah, benar-benar kejam.” Gerutu Kyu Hyun.

            “Bukankah dia sepertimu, Kyu?” Ucap Yesung.

            “Mwo?” Ekspresi wajah Kyu Hyun yang bingung atas pernyataan Yesung sangat lucu.

            “Sama-sama memiliki wajah manis yang di dalamnya memiliki sikap menyebalkan.” Tangkas Yesung.

            “Mwo? Ya, Yesung.” Kyu Hyun langsung memberikan tinjunya di lengan Yesung yang berada di sampingnya.

            “Aigo. Kau memang benar-benar mirip dia, Kyu.” Ucap Yesung.

            “Sudahlah. Kalian berdua mirip dengannya.” Ucap Ryeo Wook. Kyu Hyun dan Yesung berhenti dengan kegiatannya bertinju lengan dan mengalihkan pandangannya pada Ryeo Wook. Tinju itu kini bersarang di lengan Ryeo Wook.

            “Sudahlah. Berhenti. Ini perpustakaan. Ingat itu!” Ucapku seraya menunjuk papan tata tertib perpustakaan.  “Kerjakan saja tugas ini! Jangan banyak bicara agar tugas ini cepat selesai.” Ucapku akhirnya.

Suasana hatiku sedang baik hari ini. Rasanya tak ingin sesuatu hal merusaknya. Mereka bertiga berhenti dan saling berpandangan. Kyu Hyun menunjukan senyuman evilnya padaku. Ryeo Wook dan Yesung mereka berdua memperlihatkan ekspresi wajah tak berdosanya. Dasar innocent namja. Dan mereka kembali pada tugasnya masing-masing.

            “Kau mau pergi kemana, Hyun Jae?” Tanya Kyu Hyun saat aku bangkit dari dudukku.

            “Aku sudah selesai mengerjakan tugasnya. Aku akan mencari buku yang bisa aku jadikan bacaan. Wae?”

            “Begitu. Baiklah, tapi kita harus kembali ke kelas bersama. Ingat itu!” Ucap Kyu Hyun. Aku mengangguk mengerti dan berjalan menuju jajaran rak buku fiksi yang berada tak jauh dari tempatku tadi. Mencari buku yang bisa aku jadikan sebagai teman disaat menunggu teman-temanku selesai mengerjakan tugasnya.

            Aku tak tahu harus memilih buku yang mana, sesungguhnya aku juga tak terlalu berminat untuk membaca sekarang. Aku hanya berjalan mengitari setiap lorong rak-rak buku dan berharap ada sesuatu yang bisa membuatku tertarik. Lorong kesatu, lorong kedua, lorong ketiga dan masih belum aku temukan hal yang menarik. Aku berjalan kembali.

            Lorong keempat. Saat berjalan di lorong ke empat aku berjalan dengan menutup mataku. Selangkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah, lima langkah. Aku membuka mataku. Gadis itu. Dia ada tepat dua langkah di depanku. Memandangi rak buku yang menyimpan banyak album kenangan siswa sekolah ini, dari mulai berdiri hingga sekarang dan mungkin akan bertambah satu lagi saat nanti aku dan teman-temanku yang lain telah lulus dari sini.

            Pandangan gadis itu saat menatap jajaran buku itu. Pandangannya sangat penuh dengan harap. Di pelupuk mata beningnya ada banyak titik-titik air yang tertahan. Apa dia menangis? Gadis itu. Gadis yang kemarin bertemu denganku di rooftop dan memuji juga menikmati permainan gitarku. Gadis yang tadi pagi membuatku merasakan hawa panas menjalar di tubuhku saat ia melambaikan tangan kearahku. Gadis yang tadi pagi duduk di boncengan sepedaku dan melingkarkan tangannya di pinggangku. Gadis yang rambutnya tertiup angin, yang membuatku terpesona saat ia lewat di depan kelas. Dan gadis yang ada di hadapanku ini, sekarang membuatku tak bisa berhenti memandanginya. Gadis. Iya, yang aku tahu hanyalah dia seorang gadis. Tanpa tahu namanya.

            Ia tersenyum tipis mendapatiku tengah memandanginya. Entahlah, kurasa matanya terlalu indah saat ia menatapku. Dia melambaikan tangannya. Aku membalas lambaian tangannya dan kini kakiku melangkah mendekat padanya.

            “Hyun Jae-ah. Ayo kita pergi. Kami sudah selesai.”

Kyu Hyun, dia memanggilku di saat yang tak tepat. Apa dia tahu itu? Aku memutar arahku. Berjalan pergi meninggalkan gadis itu. Kyu Hyun menyambutku dengan rangkulan akrabnya. Ah, sial kau bukan temanku detik tadi, Kyu. Aku meruntuk sendiri dalam hati.

            “Ternyata dia gadisnya.” Ucap Kyu Hyun dengan nada menggoda. Aku menatapnya tajam. Kyu Hyun memutarkan jempol dan telunjuknya di depan mulut. “Ini rahasia antara kita berdua. Aku berjanji.”

***

Rooftop ini. Aku kembali ke rooftop ini, berharap ketenangan darinya dan terlebih harapan untuk bertemu dengan gadis itu kembali. Aku terduduk dan memejamkan mata. Di pangkuanku gitar yang kemarin aku temukan bersandar. Gitar ini seperti sudah menjadi milikku.

            “Come on! Get WILD!! Shaking My SOUL. Let me feel what I’ve never seen. You’re gonna baby, baby be my Angel. Just take you I wanna take you.” Aku menyanyikan lagu Wild Soul milik Max ChangMin TVXQ. Rasanya sangat menyenangkan. Inilah musik yang selama ini aku impikan.

            Rasanya tak nyaman seperti ada seseorang tengah memperhatikanku. Aku menoleh kearahnya. Sebuah telunjuk kecil menyentuh pipi kiriku. Gadis itu. Jarak wajah kami menjadi sangat dekat karenanya. Dia sangat cantik.

            “Hyun Jae-ssi.” Ucapnya. Gadis itu, ia memanggil namaku. Dia duduk di samping kiriku sekarang. Ia tersenyum dan menunjuk gitar yang ada di pangkuanku.

            “Ini milikmu?” Tanyaku. Dia mengangguk. “Kau mau memainkan satu lagu untukku?”

Dia menggeleng. Dia hanya terdiam menikmati angin musim gugur sama seperti yang aku lakukan kemarin.

“Kau yakin tak ingin memainkan satu lagu untukku?” Aku memberikan gitar itu padanya. Ia masih saja menikmati angin. “Kau yakin?”  

Dia membuka matanya, menatapku dan tersenyum. Kami kembali terdiam dengan pikiran kami masing-masing. Dedaunan berguguran menyentuh kami.

“Hyun Jae-ssi.” Dia membuka pembicaraan. Dia mengambil sebuah daun di sampingnya dan memberikannya padaku. “Hadiah.” Ia bangkit dan pergi.

Aku memandangi daun yang ada di tanganku. Warnanya kuning kecokelatan. Aku tersenyum.

 

===to be continued===

                                                                                                                 

One thought on “The Music of Love (Part 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s