Your Eyes, My Heart

 

youreyesmyheart

Tittle     : Your Eyes, My Heart 

Author  : Midnight Fairy ( Weny Zumariiya )

Length  : OneShoot

Genre    : Romance

Rating   : General

Cast (s) :

 

 

 

·        Lee Sungmin

·        Cha Rye Na

 

 

 

This fanfiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. No bash!

Don’t Like Don’t Read ^^

 

Backsong : I’m A Foolish person by FT. Island

 

Happy Reading !

 

 

 

Tik… tik… tik… Dentingan jarum menggaung  lamat. Berputar mengitari  deratan angka-angka Romawi yang terpasung di dinding. Dan benar racauan orang-orang tentang arti menunggu. Menunggu sama halnya dengan membongkar, serta mengeluarkan seambrek fikiran konyol hingga jatuh ke titik jenuh. Tubuhku merebah dengan rasa tak nyaman; menanti hitungan mundur jam dan merubahnya menjadi hari berbeda.

 

Seperti orang dungu, aku menunggu waktu beralih hari. Sesekali bola mataku berpacu pada jam etnik ukiran dari kayu mahoni di dinding kamar. Mendelik dan mendengus. Memantau kalau-kalau jarum jam telah menetap di angka 12. Lagi-lagi seperti gadis bodoh, aku terus memandangi ponsel setelah menatap kesal jam dinding itu. Gila! Untuk apa waktu ditunggu jika pada akhirnya ia akan bergulir? Aku memang sudah gila karna pria itu!

Jam 12 Teng! Cepat-cepat kusambung hubungan ponsel padanya. Masih terasa nafasku tertumpah memenuhi sela-sela geraham hanya karna jengkel pada angka 12. Angka tertinggi dalam hitungan jam, angka yang entah kenapa bisa berubah pengertiannya menjadi 00.00.

 

“Heem…” Sedemikian rupa kuatur nada, nafas dan cara berbicaraku sebelum telfon tersambung.

 

Yeoboseyo.” Suara tak bergairahnya terdengar jelas. Aku seratus ribu yakin pria ini telah tertidur bak bayi dalam gendongan ibunya.

 

Sebelum mengeluarkan bakat terpendamku, terlebih dulu melakukan pemanasan dengan helaan nafas berkali-kali. It’s Show Time Lee Sungmin! “Saengil cukkae hamnida… Saengil cukkae hamnida… Oh, saengil cukkaehamnida. Happy birthday to you!”

 

Entah itu lagu terburuk atau terdahsyat yang pernah ia dengar. Aku berharap telinga mungilnya tak akan berdarah karna mendengar suara ‘indahku’. Dan Itu adalah hadiah yang telah aku persiapkan khusus untuk pria di sana.

 

Tak ada tanggapan. Diam, bisu, senyap. Apa orang itu pingsan?!

 

“Hei! Kau mendengarnya tidak?” Aku memekik mencoba menyadarkan.

 

“Ah ya… Jadi, karena hal ini kau membangunkan aku Cha Rye Na?” Pertanyaan polos dan basa-basi. Tanpa ekspressi menggebu darinya.

 

Ne, apa itu aneh ohk?”

 

Anniyo. Hanya saja siapa yang berulang tahun?”

 

Sial! Dia pria manis tetapi perkataannya menggemaskanku. Tanpa ba bi bu kuraih kalender di meja samping. Masih jelas lingkaran merah tanggal hari ini. Tidak ada yang salah. Jangan-jangan orang itu amnesia?!  Dan sekarang dahiku sukses berkerut karena tingkahnya.

 

“Akh! Anggap saja aku salah orang tuan Lee. Aku tutup. Kau tidurlah lagi.” Boneka panda pemberiannya di genggamanku menjadi satu-satunya pelampiasan rasa malu. Kugigit seperti pizza yang masih panas. Ingin sekali kulempar ke wajah pria berona bayi itu!

 

“Sebentar! Besok siang datanglah ke Sejong Center. Aku menunggu, ne?”

 

“Ya, terserah kau saja.” Dia menjawab telfonku dengan malas, dan balasannya aku yang menjawab ajakannya juga dengan malas. Satu sama tuan Lee!

 

****

 

Terpaan mentari musim panas menyengat kulit putihku. Menggerayangi tubuh, hingga berhasil membuat pori-porinya meneteskan peluh. Dress merah muda dan hot pants menjadi busana andalanku. Berlari seperti seorang pencuri untuk sampai ke gedung tempat pertemuan dengan Lee Sungmin, Priaku.

 

Menapak jalanan lurus, dan tikungan setelah keluar dari bis. Melewati barisan gedung pembelanjaan dan butik-butik yang bisa membuat gadis sepertiku mengeluarkan liur sampai merogoh dompet teramat dalam, saat mendapati busana impian yang terpampang lewat kaca. Dan yang terjadi, aku hanya bisa memberikan pandangan pengemis pada barang impian itu.  Jangankan busana seperti itu, bahkan untuk membelikan Sungmin hadiah sebuah jam pun aku harus memandang sendu dompet terlebih dahulu.

 

Drrtt…drtt…

 

Masih dengan terus menatap ‘nafsu’ pakaian yang di sekat kaca toko, tanganku meraih malas ponsel di saku. Lupa akan tujuan utama melewati tempat ini. Tapi, tiba-tiba mulutku menganga tatkala nama si Tuan Lee terpampang jelas. Tanpa berusaha menjawab ataupun membalas telfonnya aku berlari seolah kelinci yang sebentar lagi akan masuk kecengkraman elang. Sungmin memang bukan elang, tetapi senyumnya seperti cakar elang. Segaris saja bibir itu merekah kecut, tubuhku akan bergidik ngeri. Dia memang bukan tipikal pria yang bermulut panjang saat wanitanya terlambat waktu kencan, tapi lelaki berona boneka itu akan meluncurkan jurus aegyo setan. Kelakuan yang membuatku menenggak ludah was-was. Aku membenci wajah anak kucing kehausan susu induknya seperti itu. Bener-benar–sangat–membencinya. Dan anehnya aku tak bisa membenci pemilik muka itu!

 

Kali ini berlari melesat dengan sengalan nafas yang bertarung dengan laju waktu. Tak peduli lagi tatanan rambut atau make up yang mati-matian kupersiapkan untuknya. Harapanku hanya secepat kilat bisa bertemu dengan si pria baby doll itu. Jangan sampai senyumnya memakanku.

 

            @Sejong Center, South Korea

 

            Aku memincing aneh saat menginjakkan kaki di gedung kesenian ini. Tak ada makhluk hidup yang meracau di sekitarku. Tak ada suara gemuruh dari dalam sana.  Penasaran, dengan cepat kubuka handle pintu ruangan mewah nan megah ini. “Sungmin-ah! Dimana kau?!”

Dan demi Tuhan mataku terbelalak, mulutku menganga luas tatkala mendapati priaku duduk tenang di atas panggung maha lebar. Tubuhnya nampak bercahaya disorot lampu dengan kerlap-kerlip berputar. Ia masih merunduk sembari memangku gitar Accoustic.

 

“Lee Sungmin, apa yang kau lakukan di sana?” Mendekatinya masih dengan tampang bodoh dan tak mengerti. Mendongak panggung kosong yang hanya ada Sungmin dan sebuah gitar.

 

Sungmin tersenyum; menegakkan wajah melihat satu titik. Dan perlahan petikan gitar mengalun lembut meresap ketelingaku. Menggema syahdu akan suaranya.

 

             “Nanmonnan saramimnida. Nan motdwen saramimnida.”
              (Aku orang yang bodoh. Aku orang yang payah)

            “Utge hal jasindo eobneunde geudaereul gatgil wonhaneun geureon saramnanikka.”
               (Karena aku orang yang menginginkanmu, walau aku tidak tahu apa aku bisa membuatmu tersenyum)

             “Mupyojeonghaettdeon na-ege baram cheoreom seumyeo deureowa.”

(Meski aku tak pernah berekspresi, bagiku, kau bagai angin meresap masuk ke dalam diriku)

              “Sathang hyanggi cheoreom ne maeumeul ganjireobhyeo utge mandeuljyo.”
               (Seperti aroma permen, kaumenggelitik hatiku dan membuatku tersenyum)

              “Onjongil sae cheoreom jaejaldae (onjongil neon).”
               (Sepanjang hari kau mengoceh seperti burung (sepanjang hari, kau))

              “Amuil anin ire simgakhaejyeo eorin ae cheoreom.”
               (Menjadi serius atas sesuatu yang tidak penting seperti anak kecil)

               “Cham chakhan saramimnida chamyeppeun saramimnida.”
               (Kau orang yang cukup baik. Kauorang yang cukup cantik)

              “Geureon geudaereul saranghaneunde bojalgeotobneun naraseo mianhaejilpunijyeo.”
               (Tapi karena aku tidak pantas mencintai seseorang sepertimu, jadi maafkan aku

              “Nega malhan jeok isseosseulkkayo.”
               (Apa aku pernah bilang padamu?)

              “Na-e sumi dwego ne jeonbuga dwae jun geudaeyeyo saranghaeyo.”
               (Kamu menjadi nafasku, menjadi segalanyabagiku, aku mencintaimu)

 

 

Tuhan! Ini bukan mimpi kan? Lee Sungmin bersenandung untukku! Aku terperangah, seolah rakyat jelata yang ditabrak oleh kuda sang pangeran, dan aku sekarat karena ukuran tangan dan senyumnya. Bahkan jika benar ini alam mimpipun aku merelakan ruh untuk hidup di dunia itu bersamanya. Si Pria boneka kini berubah menjadi musisi yang membajiri hatiku dengan not-not syair kasihnya.

 

Kutatap lekat rona berbinarya. Dia tidak melihat, tidak mendengar gebukan drum jantungku. Tersenyum merekah saat lagu telah sampai di klimaks teriakan merdunya. Dia priaku, si baby doll, sang anak kucing, pemilik aegyo setan. Dia priaku, lelaki yang berhasil membuat mataku hanya memilih memadangnya.

 

“Bagaimana? Lebih indah dari suara cemprengmu semalam, kan?”

 

Aku mendengus malu mengingat kejadian gila semalam. Meremas gemas tepi dress yang terjuntai. Jangan sampai baju yang kukenakan tercabik karena selorohnya.

 

            BRAK!

           

            Belum sempat membalas ejekannya, aku tersentak mendengar dentuman keras dari panggung.

 

“Berhenti! Biar aku yang kesana!” Berlari terburu menghampiri priaku.

____

 

–         Pertama kali kaukatakan ingin bersamaku, jantung ini histeris meletup aneh…

            Pertama kali kauingin menggengam tanganku, menyelimuti telapak mungilku dengan jari lebar itu,  jantungku untuk yang kedua masih mendegub berirama…

            Pertama kali memandang matamu yang tertutup kegelapan, saat itu pula aku putuskan untuk menjadi lilin kecil di penglihatanmu…

            Dan hari ini, entah keseribu atau seratus ribu kali aku masih merasakan lonjakan jantungku, kala menyusur cahaya kecil di bola mata kehitamanmu … –

 

            ___

 

Gwaenchanayo?” Rasa cemas masih menarikku meskipun bahu Sungmin telah ada dalam dekapan. Melihat dia meraba-raba sekitar mencoba menegak, tak pelak nyeri hatiku seketika tertohok. Dan aku teramat mengenal sikap Sungmin yang tak ingin dikasihani dan dianggap lemah.

 

Gwaenchana. Sudahlah aku bisa.” Ia tersenyum. Senyum menenangkan gejolak rasa cemasku.

 

“Kau ini… Untuk apa ketempat ini?!”

 

“Untuk apa? Merayakan hari ulang tahunku.”

 

Setan kucing! Pria ini bodoh? Tak peka? Aneh? Berkepribadian ganda? Atau apa?! Kali ini kepalan tanganku menggantung ke arahnya. Nafsu mencabik bibir sexy itu dan mengawetkannya seperti mumi.

 

“Lee Sungmin! Kau mempermainkanku, ohk?!”

“Hahaha! Siapa yang mempermainkanmu Cha Rye Na? Bukankah semalam, ah ! Maksudku dini hari tadi aku hanya bertanya siapa yang berulang tahun? Dan kau malah menjawab, anggap salah orang. Ckckckc! Aku sungguh kecewa padamu. Kau lupa pada ulang tahun Namjachingumu sendiri.”

 

Sial! Dia benar-benar mempermainkanku! Aku diam; tertunduk teramat malu sekarang. Bisakah kabur dari situasi ini?

 

“Sudahlah aku hanya ingin merayakan bersamamu.” Ia memeluk dan merengkuh lembut kepalaku. Kini aroma mint menyeruak masuk ke rongga pernapasanku.

 

Sungmin menjentikkan jari entah kemana. Dan untuk kedua kali aku terkesiap kagum. Gelembung-gelembung kecil kesukaanku kini terbang berputar di sekitar kami. Aku melihat di sela bahu kokoh Sungmin, gelembung itu berkilap-kilap mengayun riang. Perlahan alunan violin menemani kekhusukanku pada buliran sabun yang melayang. Aku seperti disebuah negeri dongeng sekarang.

 

Sungmin melepas pelukannya sebelum aku tertidur dalam dekapan hangat itu. Tersenyum tanpa tau pemandangan indah yang ia buat sendiri.

“Dansa?”

 

“Jangan gila Lee Sungmin.” Ia mengulurkan tangan dan aku hanya berdecak tak percaya. Aku lupa jika tuan ini tak menerima penolakan. Ia menarikku dalam dekapannya lagi. Melingkarkan lengan pada pinggul kecilku. Menghentak satu-satu mengikuti irama lembut violin.

 

“Inikah pesta perayaan itu? Kenapa aku yang merasa  berulang tahun, eoh?”

 

“Apa kau senang? Ini kupersiapkan benar-benar untukmu.”

 

“Untukku? Bagaimana bisa?!”

 

“Memangnya kenapa? Orang buta, tidak bisa memberi kejutan?”

 

Aku sentak melepas eratannya dan sedikit menjauh. “Iss! Bodoh! Sejak kapan kau mengungkit itu?!”

 

“Apa kau tidak lelah menjadi mataku Rye Na? Aku tau, kau di sisiku hanya kasihan, kan?”

 

“Lee Sungmin! Apa maksudmu?! Jangan berbicara omong-kosong. Jika tidak ada hal penting lagi, lebih baik kita pulang.” Berbalik membelakanginya dengan mata yang telah memerah.

 

“Apa kau pernah mengatakan mencintaiku?” Suara Sungmin terdengar lirih. Teramat lirih namun mencecar gendang telingaku. Hanya karena itu ia beranggapan konyol meragukan hatiku.

 

“Cinta tak perlu diumbar, Lee Sungmin. Bukankah kau sejak dulu mengenalku? Aku bukan wanita yang setiap hari bermulut manis pada kekasihnya.”

 

“Kalau begitu katakan kali ini. Cukup kali ini…” Aku balik berpaling pada Sungmin. Pada mata yang selalu menatap kosong satu titik. Menatap ngilu wajah itu. Andaikan ia tau seperti apa aku memandang penuh kasih padanya. Andaikan ia tau seperti apa aku mengemis cahaya pada mata itu.

 

“Aku mencintaimu dalam gelap Sungmin-ssi. Mencintaimu meski tanpa cahaya satu titikpun. Mencintai seperti angin yang bertiup menembus sisi-sisi terkecil partikel. Mencintai dalam diamku dan kesederhanaanku.”

 

Puas dengan perkataanku, ia menggaris senyum lebar. Gigi-gigi kecil itu nampak mengkilap ketika satu gelembung melewati wajah tampannya. Aku terpesona.

 

“Jika kau sudah puas, kita pulang.”

 

“Jadi seperti itu cintamu. Kalau begitu lebih baik kita hentikan saat ini juga.”

 

Aku terhenyak mati mendengar lantunan bicaranya. Sisi kelopak mataku beralih menjadi penampung air mata.

 

“Kau–” Entah jawaban apalagi yang bisa keluar. Aku tak bisa bernafas sekarang.

 

Sungmin mendekat, berjalan ringan menggunakan indera perasanya. Satu meter jarak kami. Jembatan jarak pemandangan sempurna lukisan wajah. Dan aku tetep terpesona.

 

Masih ketika detik-detik desisan perih akan pernyataannya, sebuah balon turun menghalangiku memandangi rakus wajah Sungmin.

 

“Apa balonnya sudah turun?”

 

“Eoh?!”

 

“Ambillah.”

 

Hari ini aku tak bisa menghitung berapa kali dahi lebarku berkerut. Sebuah benda kecil terkait di tali balon merah ini. Cincin!

 

“Apa maksudnya ini?!”

 

“Aku kan sudah bilang, kita hentikan ini. Hentikan menjadi kekasihku dan berubahlah menjadi Nyonya di kediamanku, Cha Rye na.”

 

Astaga! Aku hampir melupakan latar belakang pria ini. Si Tuan muda. Millioner tersembunyi.

 

“Terima kasih telah menjadi mataku selama ini. Terima kasih selalu memandangku penuh cinta selama ini.” Sungmin merengkuh perlahan tubuhku. Mendekapnya tanpa jarak di antara kami. Meresap lembut bibirku yang masih terkatup karena keajaiban yang ia berikan padaku. Manis. Terasa amat manis.

 

Dia priaku, bukan tak bisa melihat. Dia lelakiku bukan tak bisa menikmati lukisan nyata di depan matanya. Tapi, dia hanya manusia yang memiliki indera perasa melebihi orang lain. Mempunyai dunia indahnya sendiri tanpa polusi busuk dalam pandangan yang tertutup gulita itu. Dia, hanya mengizinkan aku yang melihat dunianya.

 

 

            *END*

 
ROMANCE GAGAL!
ANE BENER” gak bisa bikin ROMANCE -__________________- *balik lagi ke hurt*
OH ye, terima kasih buat nona SJSG LIENG yang sudah berbagi kisah aneh ama ane dan akhirnya jadi seperti ini wkwkwkwkwk
Silakan kasih kritik kalian😦

Yang mau melihat – lihat silahkan kunjungi http://wenyzumariiya.wordpress.com

5 thoughts on “Your Eyes, My Heart

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s