The Music of Love (Part 1)

TMOL1

 

The Music of Love

by: Tya Siti

 

Pemain:                                                                

Shim Chang Min (TVXQ) sebagai Kang Hyun Jae

Jung Yun Ho (TVXQ) sebagai Kang Hyun Woo

Seo Jo Hyun (SNSD) sebagai Song In Hee

Member Super Junior dan SNSD

 

 

 

 

PART I

 

Meraka para pelukis berkata, aku ini pelukis dan aku mencintai lukisan. Mereka para pemahat patung pun berkata, aku ini pemahat patung dan aku mencintai patung. Lalu, mereka para penyanyi berkata, aku ini penyanyi dan aku mencintai lagu. Dan mereka para pemusik berkata, aku ini pemusik dan aku mencintai musik. Iya, semua orang yang menggeluti suatu bidang dan ia mencintainya, mereka itu pasti akan mengatakan dengan bangga hal itu, sama halnya dengan yang disebutkan tadi.

Aku. Aku adalah seorang pemusik dan aku, aku tidak mencintai musikku. Musik yang terpaksa aku geluti demi dia. Untuk membuatnya bangga memperkenalkanku pada rekan-rekannya atau setidaknya bisa membandingkanku dengan Hyun Woo. Busuk. Aku muak. Aku muak dengan hidupku. Aku muak dengan musik ini. Aku muak dengannya. Dan terutama dia. Kang Hyun Woo.

Tiga tahun hampir aku lalui. Di tempat ini, dengan musik, orang-orang, dan segala kebohongan dan kemuakkanku atas segalanya. Iya, dengan akan berakhirnya sekolahku disini, maka aku tak perlu lagi belajar, memainkan dan mendengarkan lagi musik klasik. Aku pemusik yang tak mencintai musiknya. Bukan, aku bukan tak mencintai musik, aku hanya tak mencintai musik klasik. Itu bukan musikku.

Tiga tahun aku harus bertahan dengan musik ini tapi selama itu pula aku tetap membenci musik ini. Kalau saja, Hyun Woo tak memilih musik klasik sebagai musiknya mungkin saja aku tak perlu belajar musik klasik ini. Kalau saja Hyun Woo tak meraih popularitas dari musik klasiknya mungkin saja aku tak perlu di paksa untuk dapat menjadi seperti dia. Atau bahkan akan lebih baik jika ia tak berada di dunia musik atau mungkin lebih baik lagi jika aku tak terlahir menjadi seorang Kang Hyun Jae. Setiap kali mendengar musik klasik selalu saja pikiran ini menghampiri. Aku telah begitu muak.

“Hyun Jae-ah. Ya, Hyun Jae-ah?” Kyu Hyun memukul ringan pundakku. Aku menoleh kearahnya.

“Oh?” Ucapku.

Kyu Hyun mengarahkan wajahnya kedepan memberiku perintah untuk menoleh. Yuri  Seonsaengnim sudah berada tepat disamping mejaku.

“Hyun Jae-ssi, bisa kau mainkan satu lagu untuk kami sebelum mengakhiri pelajaran hari ini?” Ucapnya padaku. Ternyata sedari tadi aku diperhatikan olehnya. Seperti biasa aku tak pernah fokus dalam belajar tapi tetaplah semua guru tak menegurku keras karena nilaiku selalu saja menjadi yang terbaik di antara teman-temanku. Itu salah satu tuntutan dari Appa yang harus aku penuhi. Muak.

“Mwo?” Ucapku.

Yuri Seonsaengnim tersenyum mengisyaratkan agar aku tak menolak. Aku berjalan santai menuju piano yang berada di depan kelas. Duduk dan jemariku mulai memainkan sebuah lagu karya Mozart.

“Terimakasih untuk lagunya, Hyun Jae-ssi.” Ucap Yuri Seonsaengnim saat aku selesai, di iringi dengan tepuk tangan dan senyumannya. Aku hanya menganggukkan kepala dan berjalan kembali ke bangku. “Baiklah, kelas telah berakhir untuk hari ini. Terimakasih atas perhatiannya.” Lanjutnya.

“Ah, kau Hyun Jae. Kenapa kau?” Ucap Kyu Hyun. Aku hanya menggelengkan kepala dan tersenyum kepadanya.

“Ah, Kyu, kau tak perlu bertanya. Dia memang seperti itu.” Ucap Yesung.

“Sudahlah. Jangan membahas hal yang tidak akan kau temukan jawabannya.” Ucap Ryeo Wook. Dia memandang kearahku. “Hyun Jae, kau mau ikut dengan kami? Kami akan berlatih di ruang musik untuk ujian lusa nanti.” Ryeo Wook mengenakan tas punggungnya siap untuk pergi.

“Tidak.” Jawabku singkat namun di iringi sebuah senyuman simpul.

“Baiklah. Kalau begitu kami pergi.” Ucap Ryeo Wook. Mereka bertigapun pergi dari kelas.

Berlatih untuk ujian? Ah, karena aku sudah muak maka aku tak peduli lagi. Berlatih?  Musik klasik? Ah, hal bodoh jika aku lakukan itu. Aku hanya tersenyum masam. Di dalam kelas hanya tinggal aku sendiri, aku merapikan buku-bukuku dan langsung pergi meninggalkan kelas.

Sekolahku ini adalah sekolah musik yang telah lama berdiri. Bangunannya sangat kuno. Sangat klasik. Seperti halnya aliran musik yang diajarkan sekolah ini. Musik klasik. Bangunan yang tinggi dengan banyak lorong di dalamnya. Tiga tahun berada di sekolah ini dan aku yakin belum semua lorong aku jelajahi. Seperti lorong yang tak jauh dari kelasku ini, setiap hari aku melewatinya tapi tak pernah menjelajahinya. Aku berhenti di muka lorong itu, melihat arloji.

“Ini masih terlalu sore jika aku harus pulang sekarang. Lagi pula pagi tadi ada masalah terjadi dengan Appa.” Batinku.

Berdiri lama di muka lorong. Terdiam. Hatiku tertarik untuk menjelajahi lorong ini. Mungkin ini adalah kesempatan terakhir yang aku miliki sebelum nanti akhirnya mengucapkan selamat tinggal pada sekolah ini. Aku berjalan menjelajahi lorong ini. Gelap. Tapi pada akhirnya, lorong ini sungguh membuatku terkagum-kagum.

“Tiga tahun yang sia-sia.” Gumamku.

Lorong ini bagaikan lorong surga. Duapuluh lima langkah dari wajah lorong yang gelap itu aku bisa menemukan taman yang di penuhi jajaran pohon yang rimbun dan ada sebuah tangga yang mengantarkanku pada tempatku berdiri sekarang. Sebuah rooftop. Dari sini aku bisa melihat segalanya. Keindahan alam yang melindungi banyak manusia disana. Aku tersenyum, aku merasa hidup kembali.

Setidaknya ada satu hal yang aku sukai selama tiga tahun berada di sekolah ini. Tempat ini. Aku bukan orang yang percaya akan ungkapan cinta pada pandangan pertama tapi pada tempat ini aku memberikan sebuah pengecualian. Aku duduk di sebuah bangku yang terbuat dari semen, agak kotor namun aku menyukainya. Menengadahkan wajah menikmati angin musim gugur mebiarkan tanganku menjadi tumpuan bagi tubuhku, caraku untuk menikmati tempat ini. Lama sekali. Aku membuang napas dalam dan bangkit dari dudukku.

“Ah, sungguh tiga tahun yang sia-sia. Sepertinya akan menyenangkan jika saja aku telah lama menemukan tempat ini. Sial.” Kutukku.

Aku mengayunkan kakiku kearah belakang dan sukses membuat rusak sesuatu. Terdengar suara benda yang patah dari sana. Seperti sebuah kayu tipis. Aku langsung melihat kearah benda itu. Benar saja sebuah kayu triplek yang ada di bawah samping tempat yang tadi aku gunakan untuk duduk kini sudah menjadi dua belah triplek yang tak beraturan bentuknya.        Mataku terbelalak. Bukan karena apa yang telah aku lakukan tapi terkejut dengan benda  yang aku lihat di balik triplek yang menutupinya. Sebuah gitar. Benda yang sudah lama tak ku pegang atau ku mainkan, atau malah aku telah lupa cara memainkannya. Agak ragu aku mengambil gitar itu, membersihkannya, menyimpannya di pangkuanku saat aku telah menemukan posisi yang nyaman untuk memainkan gitar. Jemariku memetik senar gitar dan nada-nada yang dikeluarkannya. Itulah nada yang ingin aku dengar sejak lama. Gitar bukan piano.

 

====flashback====

(3 tahun yang lalu)

“Kau harus contoh Hyung-mu. Dia siswa terbaik di sekolahnya. Musik klasik. Jika kau ingin masuk ke sekolah musik, maka kau harus masuk kelas klasik tapi bukan gitar. Terserah kau ingin memilih alat musik apa tapi jangan gitar.” Ucap Appa dengan tegas.

“Tapi Appa, kau tahu aku sangat menyukai gitar, bukan? Lagi pula aku tak suka musik klasik. Kenapa aku harus seperti Hyung? Aku bukan Hyung, aku Hyun Jae. Aku juga anakmu, bukan? Bukankah kau juga seorang gitaris?” Sanggahku.

“Tidak. Appa beri dua pilihan untukmu. Sekolah musik klasik, tapi bukan gitar atau kau sekolah bisnis. Musik klasik tanpa gitar atau sekolah bisnis? Hanya itu pilihanmu.” Ucapnya lalu pergi.

Aku hanya terdiam. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupku beradu pendapat dengannya. Aku tak pernah ingin berselisih paham dengannya. Aku selalu mencoba menjadi anak yang baik untuknya. Aku selalu menuruti apa yang diinginkannya. Appa, tahukan dia, aku sangat menyayanginya. Tapi entahlah, sepertinya dia tak begitu padaku.

====end====

 

Aku hanya tersenyum masam mengingat hal itu. Jemariku agak kaku memainkan gitar ini. Memang benar-benar sudah lama aku tak memegang gitar. Appa membuang gitar yang aku beli dengan susah payah dari hasil tabunganku selama 3 tahun di SMP.

Aku memainkanya, memainkan lagu yang aku kuasai pertama kali saat belajar bermain gitar. Twinkle-twinkle. Itupun masih terasa  kaku terdengar. Aku mulai terhanyut dengan permainanku sendiri. Memejamkan mataku. Dan saat aku membuka mataku. Ada seorang gadis duduk di sampingku sedang memejamkan matanya.

Ia menikmati permainan gitarku?” Tanyaku dalam hati.

Aku memerhatikan wajahnya sejenak. Dan gadis itu mulai membuka matanya, aku memalingkan wajahku kearah lain. Salah tingkah.

Gadis itu tersenyum tipis mendapati tingkah anehku. Tangannya menyentuh pundakku lembut, aku menoleh. Ia menatapku dalam dengan matanya yang bening dan terpancar ketulusan dari sana. Senyumnya semakin melebar dan ia mengangkat kedua tangannya dan hanya jempolnya saja yang terangkat.

“Dia menyukai permainan gitarku?” Hatiku kembali berbicara. Ia adalah orang pertama yang melakukan hal itu padaku. Untuk permainan gitarku. Gadis ini. Dia. Aku baru pertama kali ini melihatnya ada di sekolah ini. Ataukah, aku yang tak terlalu banyak bergaul? Untuk waktu yang agak lama kami hanya saling berpandangan. Senyuman masih menghiasi bibirnya. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulut kami masing-masing. Mungkin angin sajalah yang mewakili.

 

=== to be continued===

One thought on “The Music of Love (Part 1)

  1. kenapa ya appa hyun jae melarang hyun jae mengambil musik yg bersangkutan dengan gitar ya???? penasaran… sedih rasanya menjalankan sesuatu yang ternyata hal tersebut terpaksa kita lakukan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s