Stupid Love // Oneshoot

stupidlove
Title : Stupid Love
Author : butterfly agashi & ms. Lie ang ang (fb: indah fitria & lie ang ang)Genre : friendship, hurt
Cast :
Han Min ah
yoon hye na
Jung Yong jaeannyeong~
i’m comeback!disclaimer, this story is originally of mine. the cast is belong to them self and don’t bash me. please leave a critics.

—–
“Hye na-ya, kau sudah lama disini? Maaf aku terlambat,” Min ah itu terburu-buru membuka mantel coklatnya.

“Tidak Min ah-ya aku baru saja tiba, beberapa menit lebih dulu darimu.”

“Jadi,apa yang ingin kau bicarakan denganku? Kukira kau tidak ingin melihatku lagi,” Min ah menarik kursi untuk duduk.

“Kita ini masih berteman kan? Aku meminta maaf padamu karena kelalaian mulut bodohku ini kau tak mau mengangkat telponku,” Hye na menjelaskan dengan terbata-bata.

“Kau tidak menyesal menjadi temanku?” kata Min ah.

“Baiklah aku memaafkanmu,” kata Min ah ringan. Tapi raut keseriusan tergambar jelas dimatanya.

“Benarkah? Kau memaafkanku? Chingu yeongwonhi,” Hye na memajukan tubuhnya, menggapai tangan Min ah dan menggenggamnya hangat.

“Ya, aku menerimamu sebagai teman.”

Stupid love begin_

“cinta itu bodoh. Sebodoh aku yang tertipu olehnya, sebodoh hatiku yang dicuri olehnya, sebodoh dia yang tak pernah berubah, sebodoh temanku yang merelakannya. Dan aku benar-benar terjebak di dalam cinta bodoh ini”

Seberkas cahaya menembus masuk ke dapur kecil itu. Suara cicitan burung-burung dari balkon dapat terdengar degan nyaring. Bunga-bunga yang ditanam pada pot-pot yang diletakkan di kaca menuju balkon sudah mekar sempurna, berwarna-warni, memanjakan pandangan mata. Hye na tengah menikmati coklat panas yang baru saja ia seduh. Kaki panjangnya dilipat kedepan dada dan pundak mungilnya tersandar pada kursi meja makan di apartemennya. Ia menegadah berusaha melihat kondisi langit yang ada diluar jendela.

“Yaa, apa yang kau lakukan dipagi musim semi dengan seperti itu?” Min ah baru saja keluar dari kamarnya. Gadis itu mengikat rambut coklatnya dan berdiri di meja di depan Hye na, terlihat ingin membuka pintu kaca menuju balkon.

“Ani, aku hanya merasa sedikit malas pagi ini,” kata Hye na. Ia Hye na tetap dengan posisinya sebelumnya. Tidak berubah sedikitpun.

“Kau bercanda? Merasa malas di cuaca secerah ini?” Min ah menggeser pintu kaca yang ada dihadapannya. Seketika udara pagi musim semi yang segar menerobos masuk, membuat paru-paru kedua gadis itu terasa segar.

“Min ah-ya, othokae? Othokae? Othokae? Eoh? Yong jae bilang dia akan mengajak ku kencan hari ini,” Hye na mengacak-acak rambutnya sendiri dengan ringan.

“Mwo? Bukankah itu hal bagus?” kata Min ah ringan. Kini ia menyirami pot-pot kecil bunga di depan jendela itu dengan air.

“Ya, tentu saja. Tapi kau bisa lihat ini,” Hye na menunjuk kelopak matanya dengan telunjuk. Ada sesuatu yang berbeda dengan kulit Hye na hari itu. Sesuatu yang berwarna gelap seperti kelopak mata panda.

“Lalu apa masalahnya? Itu cuma kantong mata,” kata Min ah sambil menoleh sekilas lalu melanjutkan kegiatannya.

“Yaa, kau menganggap remeh kantong mata eoh? Aku mana bisa menemui Yong jae dengan kondisi seperti ini. bukankah kita teman? Kau harus membantuku eoh?” Hye na bangkit dari dudukannya. Ia keluar menuju balkon, tempat Min ah yang sedang merawat tanamannya.

“Kau itu selalu saja, aku sudah menaruh sendok kedalam freezer kemarin. Gunakan saja untuk matamu.”

“Ah, jinjja?? Kau baik sekali, benar-benar baik sekali. Nae saranghan chingu-ya,” Hye na memeluk Min ah yang tengah menggenggam pot bunga tulip nya dari belakang. Min ah tidak merasa keberatan dengan hal itu. Ia berhenti sejenak, menaruh pot bunganya dan membalas pelukan hangat temannya itu. Dia dan Hye na, mereka sudah seperti saudara yang tak terpisahkan. Walaupun Min ah menyimpan luka yang cukup dalam karena Yoon Hye na

—–

“berpura-pura tegar dan memasang topeng. Berpura-pura bahagia dalam duka. Memamerkan senyum dan tawa palsu. Seperti orang bodoh.”

Kantung-kantung kertas itu terisi penuh dengan bahan makanan. Bahan makanan yang akan bertahan di dalam lemari pendingin untuk empat hari kedepan. Min ah membenarkan letak scarf yang bertengger di lehernya sebelum kembali mengangkat kantung-kantung belajaan yang ia letakkan di meja salah satu coffeshop. Ia singgah di kedai kopi itu bukan untuk menikmati secangkir caffe latte ataupun capucino, tapi ia ingin meminta izin pada bos nya yang tengah makan di café itu untuk tidak bekerja esok hari. Min ah bekerja paruh waktu di Seoul National Library. Dia bekerja disana sejak tiga bulan lalu, tepatnya sejak ia mulai mengerjakan skripsi untuk studynya.

Besok adalah hari peringatan kakak tertua Min ah. Kakak laki-lakinya yang meninggal dua tahun lalu. Ia harus kembali kerumah orang tuanya- walaupun sebenarnya ia tidak ingin- untuk memberi penghormatan seperti yang ia lakukan tahun lalu. Berbeda dengan tahun lalu, tahun ini akan sedikit sulit untuk Min ah. Orang tuanya, ia merasa sulit jika harus bertemu dengan orang tuanya saat seperti ini. Hye na, orang tuanya mungkin akan menyebut-nyebut Hye na lagi dan itu membuat Min ah tidak nyaman, sangat tidak nyaman.

Tak berapa lama Min ah melanjutkan langkah kakinya. Kantung-kantung tadi memang membuatnya tidak nyaman. Hal itu terlihat jelas dari ekspresi yang terlihat diwajahnya.

“Min ah-ya,” suara seorang laki-laki memutuskan kefokusan Min ah pada kantung-kantungnya.

Min ah menoleh kearah suara itu. Seorang lelaki yang sebenarnya adalah manusia terakhir yang ingin ia temui. ia tersenyum hambar, berusaha bersikap ramah.

“Ye, Yong jae-ya.”

“Kau ingin ke apartemen? Aku juga ingin menjemput Hye na. Naiklah,” kata Yong jae ramah.

“Hum, tidak usah. Aku bias berjalan kaki saja,” lagi-lagi Min ah menampilkan senyum hambarnya.

“Naiklah,” Yong jae turun dari mobilnya, membukakan pintu untuk Min ah.

“Tidak usah. Maaf,” Min ah berlari pelan meninggalkan youngjae. Ia merasa sangat-sangat tidak nyaman dengan youngjae. Walaupun ia selalu berkata ‘tidak apa-apa’, ‘semuanya sudah berubah’ dan ‘aku baik-baik saja’, sebenarnya Min ah masih belum setangguh itu. Ia selalu berusaha menipu dirinya sendiri untuk terlihat kuat dan ceria. Hal itu lebih baik daripada ia memperlihatkan isi hatinya, karena akan banyak orang yang merasa terluka.

—-

“ ‘dia telah menghianatimu’ kata-kata yang paling kubenci di dunia yang tak kenal ampun ini. aku tahu dengan pasti situasi itu. Aku tahu seperti apa kondisiku saat itu. Jadi jangan ingatkan aku, seakan aku sedang terlupa. Karena hal itu terekam jelas oleh memoriku, terasa mendalam oleh hatiku dan terlukis nyata pada hari-hari masa depanku.”

Udara musim semi terasa sangat segar. Oksigen bersih berlimpahan di daerah Cuncheon yang dipenuhi rumah-rumah mewah yang cukup tua. Atap-atap rumah memang termasuk pemandangan langka di Seoul, ya kebanyakan yang selalu dengan mudah dapat dilihat adalah gedung-gedung apartemen yang kokoh. Mewah atau tidak? Layak atau tidak? Kebanyakan orang-orang muda memilih unit-unit itu.

Min ah berdiri di depan pintu gerbang yang lebih tinggi dari pada dirinya. Ia membawa berapa kantung makanan yang tadi sengaja ia beli. Tangan gadis itu menekan tombol interkom sekilas. Tidak terdengar ada suara apa-apa dari interkom itu, hanya sebuah suara ringan dari gerbang yang terbuka. Min ah merasa ragu, namun dengan langkah berat ia masuk kedalam. Matanya menangkap pohon peach yang tengah berbunga di halaman rumahnya. Ya, ia tengah berada dirumah ibunya, datang untuk memberi penghormatan sekali dalam setahun pada almarhum kakak tertuanya.

“Noona, oraenmanida,” suara adik laki-laki Min ah menyambut kedatangannya. Laki-laki yang berusia sekitar dua puluh dua tahun itu berdiri dari kursi tamu dimana ia duduk sebelumnya dan melingkarkan tangan pada kakaknya itu.

“Ne, hyunnie-ya,” Min ah membalas pelukan itu.

“Sudah pukul berapa ini? mengapa kau baru datang. Kau selalu saja terlambat setiap tahun,” kata wanita paruh baya yang datang dari ruang duduk rumah itu.

“Ne eomoni, jeosonghaeyo,” Min ah menundukkan kepala.

“Sudahlah, ayo kita kedapur, masih banyak yang belum selesai ibu kerjakan,” ibu Min ah kembali kedalam, diikuti oleh putri satu-satunya itu.

Aroma makanan peringatan terasa sangat khas. makanan dan buah-buah yang hanya disajikan pada hari peringatan tersusun rapi di meja dapur walaupun baru separuh yang terselesaikan. Dapur itu sedang sangat sibuk.Min ah memangdang sekeliling sekilas, kemudian memasangkan celemek pada ibunya dan begitu sebaliknya.

“Kau masih tinggal dengan gadis itu bukan,” Tanya ibu saat ia menrekatkan tali pada celemek Min ah.

“…” tidak ada jawaban. Min ah menutup mulutnya rapat.

“Dan apa kau juga bertemu dengan si breksek itu sesekali?” Tanya ibu lagi.

“ Tinggal dengan seorang penghianat saja sudah sangat berat. Tapi kau harus mengahadapi keduanya. Putriku yang malang,” ibu mengusap-usap pundak putrinya itu.

“Eomoni,” suara Min ah terdengar membantah.

“Mworago? Kau tidak bisa menghindarinya. Kau tahu itu. Temanmu sendiri merebut kekasihmu. Kau harus pindah dari apartemen itu, secepatnya,” ibu memeluk Min ah sekilas.

“Eomoni… ” Min ah memenggang tangan ibu yang memeluknya dan kemudian cairan bening yang sejak tadi ia tahan menetes begitu saja.

—-

“kata-kata munafik itu keluar dengan mulusnya. Bahkan senyumanpun tak henti menyungging dibibir yang tak beriba ini. kala rongga tubuh lain sedang berduka, ia bisa menyembunyikan kata-kata tak layak lontar dan menahannya didalam rongga.”

‘Perasaan sakit yang terasa di dalam hati dapat membuatku menjadi kuat’

Min ah menuliskan kalimat itu pada halaman kelima belas diarinya. Ia sudah melakukan hal itu sejak dua jam lalu. Tepatnya sejak yoon Hye na meninggalkan apartemen mereka. Min ah menunduk sekali dan mengehmbuskan nafas kasar, ia merasa muak. Muak akan topeng pelindung yang ia kenakan saat itu. Topeng yang menyembunyikan kesedihannya.

Gelas kopi yang ukurannya lumayan besar milik Min ah telah kosong. Hal itu membuat gadis itu bangkit dari kursinya dan beranjak menuju dapur. Hari ini ia membutuhkan banyak caffeine. Walaupun buruk untuk kesehatannya, Min ah lebih memilih caffeine daripada merasa sesak karena masa lalu dan masa yang sedang terjadi saat itu.

“Apa kopinya sudah habis?” gumam Min ah saat ia berada di dapur unit nya.

Gadis itu membongkar laci-laci kitchen set-nya juga cabinet yang ada di dapur minimalis itu. Tapi ia tak menemukan satu sendok kopi pun disana. Merasa cukup kesal Min ah membanting cabinet terakhir yang ia buka, lalu ia menyipitkan mata kearah kulkas. Disana tertempel memo. Min ah berjalan kearah lemari pendingin itu. Baru saja ia hendak mengambil kertas itu, kemudian ia mengurungkan niatnya. Hye na, meninggalkan memo dan Min ah tidak senang dengan yang tertulis pada memo itu.

maaf aku mencuri kopimu. Yong jae minta dibawakan kopi untuk piknik.
– Hye na

Min ah terduduk lemas di lantai marmer dapur itu. Buliran bening air mata menetes begitu saja di pipinya. Ia sudah berusaha menyembunyikan perasaannya. Perasaan dikhiananti oleh kekasih dan sahabatnya. Tapi kini ia telah sampai pada batas yang bisa diberikannya. Nafasnya tersengal saat ia menahan suara isakan. Han Min ah teringat pada hari dimana ia meminta bumi dan langit untuk melenyapkannya saat itu juga.

—-

“tidak ada canda, tawa dan kebersamaan lagi. Hanya hening tanpa sepatah katapun. Seolah perang dingin yang terjadi tak dapat terelakan lagi. Mampukah bertahan hidup dalam dunia yang kini tampak asing?”

@akhir musim gugur sebelumnya (flash back)

“Min ah-ya, maafkan aku,” kata Hye na pelan. Sangat pelan hingga terdengar seperti bisikan.

Min ah tidak memandang Hye na. Ia tetap menunduk pada meja restoran itu. Min ah mengalami sangat banyak hal mengerikan hari itu. Ia tak pernah menyangka jika mimpi buruk bias terjadi dua kali dalam satu waktu. Kekasihnya jung Yong jae. Pria yang menemaninya selama empat tahun belakangan mengakhiri hubungan mereka. Awalnya Min ah merasa putusnya hubungan tanpa alas an itu konyol. Tapi sepertinya kini ia berubah pikiran. Setelah Yong jae mengakhiri semuanya dengan alasan ia mencintai yoon Hye na. Seketika Min ah beputar arah dan menyatakan sebaiknya hubungan selalu di akhiri tanpa alasan.

Disanalah mereka sekarang. Di restoran ayam goreng yang biasa Min ah datangi bersama Yong jae. Mereka bertiga berada pada satu meja setelah yoon Hye na muncul begitu saja entah dari mana. Gadis itu datang dengan senyuman. Padahal ia tahu saat itu Min ah tengah sangat terluka. Walaupun belati tajam belum tentu dapat memutus tulang rusuk Min ah agar jantungnya dapat dikoyak tanpa ampun. Tapi kata-kata Yong jae dan kehadiran Hye na di tempat itu berhasil memusnahkan seluruh jiwa dan raganya. Ia mematung, diam ditempatnya dengan sayup-sayup air mata yang berusaha ia hentikan.

“Kuharap kau bias mengerti,” kata Yong jae kemudian.

“Mengerti?” kata Min ah nanar.

“Kumohon, kita bukan kanak-kanak lagi. Aku mencintai Hye na.”

“Aku mengerti. Kalian berdua memang serasi,” kata Min ah dengan senyuman sangat kecut.

Gadis itu bangkit dari kursinya, menarik paksa tas tangan yang ia bawa dan berlari cepat menuju pintu restoran itu. Hari ini Min ah mendapat sebuah pangalaman baru. Pengalaman dimana jika ia berada di ruangan yang sama dengan kedua orang itu, ia akan merasa sesak. Seolah seluruh oksigen telah digunakan secara boros oleh kedua orang itu.

Di depan restoran langkah Min ah terhenti. Ia merasa bumi berguncang hingga keseimbangannya leyap. lutut gadis itu tergeletak di atas tanah begitu Min ah tumbang. Ia tidak pingsan, hanya saja sedikit terkejut. Dan saraf-saraf anggota gerak bawahnya tiba-tiba mati bekerja. Di bawah pohon maple di depan restoran ayam goreng itu, walaupun mungkin yoon Hye na dan Jung Yong jae bisa melihatnya dari dari dalam restoran, han Min ah melepas selusuruh sesaknya layaknya orang gila yang telah kehilangan kewarasan. Ia menangis dengan seluruh tenaganya yang tersisa. Musim gugur itu, ia dicampakkan dan dikhianati dalam satu waktu layaknya sebuah kotoran yang tak berguna.

—-

“bolehkah aku bersorak ketika kata-kata itu meluncur dari belahan bibirnya? Ataukah aku harus berlutut pada dunia yang mengatakan ini khianat?”

@akhir musim gugur sebelumnya (flash back)

Hari itu di akhir musim gugur, udara terasa dingin dan yoon hye na memasang syal rajutnya cepat saat taksi pesanannya di depan mata. Suara hentakan ringan sepatu bootnya terdengar dengan jelas. Sebentar lagi yoon Hye na akan mengakhiri seluruh kesetiaan yang ia miliki untuk sahabatnya han Min ah. Gadis itu tergoda akan indahnya rayuan manis mulut seorang adam. Ia tak kuasa menahan diri akan godaan yang menggiurkan itu. Harga diri. Untuk sesaat yoon Hye na melepaskan harga dirinya dan berjalan di muka umum layaknya seorang tak bermoral. Ia memilih menjadi penghianat, walaupun harus kehilangan semuannya.

“Min ah-ya, maafkan aku,” katanya dengan sangat pelan ketika sampai di tempat bermulanya pengakuan akan penghianatan yang telah ia lakukan.

Setelah itu hanturan kata-kata biasa terdengar dari arah Min ah dan Yong jae. Min ah bangkit dari kursinya dan meninggalkan Hye na dengan prianya. Setidaknya sekarang Yong jae adalah prianya. Min ah bahkan tak menyentuh kulit Hye na barang secuil pun. Hal itu membuat Hye na takut. Akan lebih baik jika Min ah menghabisinya begitu mendengar kebenaran yang sebelumnya terselubung. Tapi temannya itu lebih memilih pergi menjauh dari mereka.

“Chagi-ya, apa ini tidak apa-apa? Min ah adalah sahabatku,” kata Hye na ragu.

“Apa kau tidak senang? Akhirnya kita bisa mengahiri semuanya dengan gadis itu. Sekarang aku adalah milikmu seorang. Apa kau tidak merasa cukup?” kata Yong jae ringan.

“Tidak. Bukan begitu. Tapi aku merasa tidak sanggup melihat Min ah sangat kacau seperti tadi,” Hye na berusaha melirik keluar restoran.

“Aku sudah menanyakan padamu sebelumnya, ‘apa kau siap memiliki ku walaupun seluruh dunia mencaci makimu?’ Dan kau mengatakan ‘ya’. Ayolah chagi-ya kita baru saja mendapatkan kebebasan yang sebenarnya. Kau tidak akan menghancurkan suasana kemenangan ini kan?” kata Yong jae sembari menyentuh tangan Hye na hangat. Kemudian di restoran itu hanya sepersekian menit setelah laki-laki itu mencampakkan Min ah, ia mengecup pipi Hye na ringan.

—-

“Mimpi buruk tidak hanya bisa datang dua kali, tapi bahkan hal itu dapat hadir untuk yang ketiga kali hingga keseribu kalinya. Aku tidak mau menunggu kali keseribu dan baru menghindar. Aku ingin menghindar secepat aku bisa, sebanyak tenagaku yang masih tersisa. Aku tak tahan lagi berpura-pura tersenyum padahal aku merana. Aku tak tahan lagi berpura-pura tak apa-apa padahal aku tersiksa” –han Min ah

@min ah & hyena appaertement

Seluruh isi dari lemari persegi dengan tinggi tujuh puluh lima senti itu telah dikeluarkan. Separuhnya telah tertutup rapat berada dalam travel bag dan yang lainnya berada pada kardus polimer bersama buku-buku dan frame foto. Sprei dan bad cover tebal ranjang itu telah diganti dengan yang berwarna putih polos. Seluruh meja telah kosong dan beralih ke kardus polimer. Setiap detil yang ada diruangan itu telah ditanggalkan, sehingga ruangan itu terlihat tak bertuan.

Han Min ah, baru saja berganti pakaian setelah ia menghabiskan setengah jam waktunya di dalam bathup. Untuk berendam busa-busa sabun, juga untuk mengalirkan seluruh air mata yang tersisa. Matanya terlihat sedikit sembab tapi hal itu tersamar seketika setelah ia memoleskan eyeliner dengan rapi. Riasan wajahnya yang biasanya natural hari ini terasa lebih manis. Min ah mendandani dirinya sendiri seperti seorang putri. Ia berputar sekali di depan cermin setelah gaun casual selutut yang biasanya jarang ia gunakan, pas ditubuhnya. Kemudian ia kembali memoles lipstick merah muda pada bibir tipisnya. Dan sentuhan akhir, Min ah menata cantik rambut panjangnya. Lalu, gadis itu mengambil coat abu-abunya dan membawa travel bag serta kardus polimer keluar dari tempat yang biasanya selalu menjadi peristirahatannya.

“Min ah-ya? Kau cantik sekali. Tapi akan kau apakan barang-barang itu?” Tanya Hye na dengan ekspresi sangat terkejut.

“Aku akan ke Prancis. Kau tahu kan kakak laki-lakiku yang kedua kemarin kembali untuk memberi penghormatan pada almarhum kakak pertamaku? Dia mengajakku ke Paris. Dia bilang sepertinya karir menulisku artikelku akan lebih berkembang disana. Tentu saja dengan kemampuan bahasa yang kumiliki,” kata Min ah dengan seulas senyum hambar.

“Paris, mengapa kau tidak mengakan padaku sebelumnya? Ku rasa ini sangat terburu-buru.”

“Kau benar, ini memang terburu-buru. Aku bahkan belum menulis surat pengunduran diri untuk Seoul National Library. Tuan ahn, dia mungkin akan mengerti walaupun aku tak menyerahkan surat pengunduran diri. Aku kan hanya pekerja paruh waktu,” lagi-lagi Min ah menggunakan senyuman palsu andalannya.

“Kau tidak menghindariku kan?” kata Hye na dengan nada tak bersemangat.

“Tentu tidak, untuk apa aku menghindarimu? Ah, benar juga. Kau mau membantuku kan? tolong Katakan pada Yong jae perihal kepindahan ku ini. aku akan merindukanmu,” akhirnya senyuman palsu itu menghilang. Min ah mendekap Hye na sekilas dan kemudian ia mengenakan heels yang telah ia persiapkan di depan pintu.

‘Sepatu yang cantik akan membawamu ke tempat yang indah’ gumamnya setelah mengenakan sepatu itu, tapi sekilas Min ah merasa sangat lega. Akhirnya ia bisa keluar dari penjara penyiksaan itu.

—-

“waktu mungkin bisa mengubah semuanya. Seperti waktu bisa mengubah seorang yang dulu muda menjadi tua. Seorang yang dulu hidup menjadi tak bernyawa. Seorang yang dulu mencintai menjadi terpisah. Tapi waktu tetap tak bisa mengubah kenangan masa lalu yang kau miliki. Sebanyak apapun waktu yang telah terlewatkan. Aku masih dengan jelas bisa mengingat hari dimana hidupku tak lebih penting dari sebuah percintaan dari para penghianat”

@empat tahun kemudian

Langit seoul terasa asing bagi gadis itu. Ia menghirup udara dalam, seolah berusaha mengenali udara yang dulu ia hirup setiap harinya. Sudah seminggu sejak kepulangan han Min ah dari paris. Ia sudah mendapat banyak pengalaman menulis yang bisa menjadikannya seorang publisher. Artikel seni, olahraga, ekonomi, politik dan fashion. Min ah sudah pernah menulis semua artikel-artikel untuk tersebut. Bahkan ia pernah menulis tiga halaman penuh untuk majalah Vogue. Suatu kehormatan besar untuk seorang asia sepertinya.

Sudah empat tahun sejak terakhir kali Min ah bertemu dengan Hye na. Setelah pertemuan terkahir mereka di apartemen, Hye na pernah menelpon Min ah sekali, setelah satu tahun Min ah tinggal di paris. Saat itu Hye na mengumpat kasar tentang Yong jae pada Min ah. Mian ah yang telah meninggalkan masa lalunya itu hanya menenangkan Hye na sekenanya. Ia tak mau terlalu ikut campur hubungan orang yang menghianatinya. Tapi, dia akhir umpatan-umpatan yang disampaikan Hye na, gadis itu mengatakan Min ah adalah teman terburuk seumur hidupnya karena telah mempertemukannya deng si bresngsek Yong jae. Saat itu dengan reflek seketika Min ah memutuskan sambungan telepon dan tak pernah mau mengangkat telepon dari Hye na lagi.

Setelah empat tahun, apa semuanya telah berubah? Mungkin sebagian ia, tapi sebagian lagi tidak. Kekerasan hati Min ah dan semua rasa sakit yang ia rasakan di tiga musim terakhir ia tinggal bersama Hye na, membuatnya tidak bisa menerima gadis itu sebagai sahabatnya lagi. Masih ada ruang untuk seorang teman. Tapi tidak untuk seorang sahabat.

“Hye na-ya, kau sudah lama disini? Maaf aku terlambat,” Min ah itu terburu-buru membuka mantel coklatnya.

“Tidak Min ah-ya aku baru saja tiba, beberapa menit lebih dulu darimu.”

“Jadi,apa yang ingin kau bicarakan denganku? Kukira kau tidak ingin melihatku lagi,” Min ah menarik kursi untuk duduk.

“Aku harap kau memaafkanku dan melupakan semuanya,” kata Hye na dengan perasaan berdebar.

“Semuanya? Apa maksudmu,” Tanya Min ah bingung.

“Kita ini masih berteman kan? Aku meminta maaf padamu karena kelalaian mulut bodohku ini kau tak mau mengangkat telponku,” Hye na menjelaskan dengan terbata-bata.

“Kau tidak menyesal menjadi temanku?” kata Min ah.

“Min ah-ya, kau pasti tahu hari itu aku sedang sangat kacau dan kuharap sekali lagi kau bisa memaafkanku,” Hye na menunduk.

“Kau menunduk. Sama seperti saat aku di restoran ayam goreng. Aku tahu bagaimana rasanya menunduk dihadapan seseorang seperti itu. Baiklah aku memaafkanmu,” kata Min ah ringan. Tapi raut keseriusan tergambar jelas dimatanya.

“Benarkah? Kau memaafkanku? Chingu yeongwonhi,” Hye na memajukan tubuhnya, menggapai tangan Min ah dan menggenggamnya hangat.

“Ya, aku menerimamu sebagai teman. Hanya itu,” Min ah membalas genggaman Hye na. Ia harus membuka hatinya sedikit untuk menerima Hye na kembali.

End_

4 thoughts on “Stupid Love // Oneshoot

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s