HABIT // Oneshoot

Habit

HABIT

Author : Tamara Andhita Putri
Cast :
– Park Ni Ra
– Yesung
– Cho kyuhyun
– And find support cash by yourself
Genre : Sad, Romance
Rating : Teenage
Length : oneshoot
Desclaimer : Fanfic ini milik author, ada beberapa kalimat ungkapan yang berasal dari teman author, karna memang author sengaja mencari referensi padanya. Yesung dan Kyuhyun adalah milik mereka sendiri. Park Ni Ra adalah milik author
Warning : Beberapa kalimat mungkin akan membingungkan. Alur mungkin terlalu cepat, tapi sangat panjang Banyak kalimat ambigu dan kurang efektif.

Anyeonghaseyo,,,, author kembali membuat FF dengan cash YeRaKyu, tapi ini seri berbeda dari FF yang pernah author buat sebelumnya. Cek ‘CRUEL LOVE’ #Promote
Reader jangan kabur dulu ya, karna ini sangat berbeda dari yang sebelumnya kok. Jika ada kesamaan tokoh, alur, tempat dsb mohon dimaklumi. Hal itu hanyalah ketidaksengajaan. fF ini murni dari pemikiran author, karna merupakan jeritan hati author #Plakk *malah curcol*

Enjoy Reading ^^

Apa kalian ingat pertanyaan klise tentang cinta seperti ini…
‘Siapa yang kau pilih ? orang yang mencintaimu atau orang yang kau cintai ??’
Sebagian orang yang mendengarnya mungkin akan menganggapnya sebuah pertanyaan yang sederhana dan hanya membutuhkan jawaban yang sederhana pula jika orang itu memiliki sekaligus mendapatkan kedua rasa itu secara bersamaan. Tapi, sebagian orang akan lebih memikitkannya secara detail. Mencari makna dari kedua rasa tersebut.

Flash back >>

Aku berlari kecil menghindari rintik hujan sore ini. Dengan tergesa aku memasuki sebuah kedai. Kedai yang sudah biasa kukunjungi.
Sambil marapikan bajuku yang sedikit basah aku langsung mengambil tempat yang biasa kutempati. Aku mengecek kembali buku yang tadi kugunakan untuk menutupi kepalaku dari rintik hujan sembari menunggu pesanan yang biasa kupesan.
“Ini pesanan anda”
Sebuah tangan terulur dengan secangkir minuman hangat. Meletakkannya pelan di samping buku-bukuku. Aku menoeh. Menatap mata itu.
“Selamat menikmati minuman anda” pria itu tersenyum pelan. Mata coklatnya yang bulat kecil menatapku tajam.
Bibirku tersenyum pelan “gamsahamnida” seraya aku mengangguk kecil.
Pria itu berbalik dan melangkah menjauh. Aku masih menatanya dalam diam. Aku baru melihatnya hari ini, mungkinkah ia pramusaji baru disini ? untuk sejenak aku berfikir, apakah pria itu sudah tau minuman yang biasa kupesan ?! akupun mengendikkan bahuku dan kembali merapikan buku-bukuku yang basah.
Aku manatap pelan teman-temanku dari balik kaca besar kedai ini yang baru pulang dari kelasnya masing-masing. Tampaknya, di luar hujan sudah mulai reda. Kau masih menatap keluar sembari mengangkat pelan secangkir minuman hangat tadi.
Belum sempat bibir cangkir ini menyentuh mulutku, aku menghentikanya. Aroma minuman ini berbeda. Iced white mocha hangat. Dengan cepat kuletakkan kembali cangkir ini dan segera mengangkat tanganku begitu kulihat seorang pramusaji yang kebetulan lewat setelah menyajikan pesanan kepada pelanggan lain.
“Maaf” teriakku tertahan.
Pria itu menoleh dan berjalan menghampiriku “ne?!” matanya kembali menatapku tajam.
“Maaf, sepertinya kau salah menganbilkan pesananku”
“Jongmalyo ?”
Aku mengangguk kecil.
“Ahh,, mianhaeyo, aku akan mengambilkan pesanan anda. Aku mengambilkan-“ kalimatnya terhnti diikuti tatapannya yang penuh tanya.
“Iced cafe mocha hangat” aku menegaskan.
Pria itu tersenyum kecil lalu segera berbalik dan melangkah pergi.
Aku kemvali menoleh, menatap keluar dari kaca kedai yang berada tepat disampingku ini. Pelan bibirku terangkat, membentuk senyuman kecil mengingat kejadian sederhana barusan.

***

Kupeluk erat beberapa buku ini dalam dekapanku. Sembari kedua bola mataku menatap focus sebuah objek di jauh sana. Seorang pria. Pria itu sedang berlatih vocal bersama teman-temannya di sebuahruang music outdoor. Samar-samar kudengar suara baritone pria itu dari kejauhan. Sangat merdu. Warna suaranya sangat indah.
Kuperhatikan tingkah lakunya dengan seksama. Caranya berinteraksi dengan orang lain. Caranya memandang mata orang lain. Caranya tersenyum, menyapa orang lain. Hingga senyum dan pandang itu beralih padaku. Ia menatapku dari kejauhan dengan senyumnya yang semakin melebar. Tangannya terangkat, malambai pelan.
Aku menyambutnya dengan senyum bahagia sembari berdiri dari sebuah kursi panjang di bawah pohon akasia ini. Kulihat ia mulai berjalan pelan menghampiriku. Langkahnya yang semakin mendekat, membuat detak jantungku semakin tak beraturan.
Mataku masih menatapnya. Jantungku berdetak semakin cepat. Tanganku dingin. Kutarik nafasku dalam-dalam, lalu kuhembuskan perlahan.
“Kau menungguku ??!”
“Anni~ aku hanya beristirahat sebentar sambil menuggu kelasku berikutnya” aku sedikit berbohong.
“Ahh~ “ kulihat ia menggaruk tengkuknya pelan.
“Ahh~ ne,,, ini bukumu” aku menyodorkan beberapa buku miliknya yang sempat berada dalam dekapanku.
“Apa sudah selesai ??!”
“Ne”
“Cepat sekali” tangannya terulur menerima buku-buku itu. Aku hanya tertawa pelan.
“Gomawo Ra-ya, kau sudah membantuku mencari referensi untuk tugasku. Tanpa kau, aku tak akan bisa mengerjakan tugas skripsiku” katanya penuh semangat.
Aku tersenyum pelan “Ne,,, sama-sama. Kanapa kau tampak canggung seperti ini ?! dari dulupun kau sdah sering meminta bantuanku. Apa kau tidak ingat itu ?”
“Itu dulu, tapi sekarang,,, aku yakin, aku lebih pintar darimu” ia mencibir pelan. Lalu tiba-tiba pandangannya lesu, ia memandang kea rah lain “Hanya saja,,, akhir-akhit ini aku sedikit menyibikkan diri pada hal lain”
“Namun, seketika itu juga tatapannya berubah, matanya berbinar-binar dn tampak bahagia. Dengan cepat ia menoleh padaku “Tapi, karna ada kau jadi aku tak perlu khawatir. Kau pasti akan selalu ada untukku. Bukankah begitu ?!”
“Jadi,,, Ra-ya. Jeongmal gomawo karna kau selalu membantuku. Kapan-kapan aku pasti akan mentraktirmu” ia berkata dengan semangat sembari tersenyum senang hingga menampakkan mata sipitnya.
“Sungguh ??” aku menahan nafasku.
“Kau bisa pegang janjiku”
Kemudian ia berbali kdan melangkah pergi, kembali ke ruang music outdoor menemui teman-temannya. Kembali berlatih menyanya. Aku hanya tersenyum menatpa punggungnya yang semakin menjauh.
Aku ingat betul, saat bersamanya di Junior High School dulu, ia tak begitu menunjukkan bakat menyanyinya. Mungkin, saat kami berpisah, ia baru menunjukkannya. Dan ia kembangkan hingga saat ini.
Tanpa sadar aku tersenyum, mengingat masa dimana dia selalu meminta bantuan padaku ketika ujian sekolah tiba. Bukannya ia tidak pandai, ia hanya berkata seperti ini “Aku tidak mengerti Ra-ya. Aku sama sekali tidak tau tentang bahasa Inggris. Kau kan salah satu murid terpandai di kelas ini. Ayolah, bantu aku” Dan akhirnya, itupun berlaku untuk mata pelajaran lain. Dan aku tidak bisa menolaknya ketika mata itu ikut memohon saat menatapku.

Hingga akhirnya, kami biasa untuk berbicara satu sama lain. Biasa untuk melakukan sesuatu bersama. Dan selalu biasa untuk bersama. Hingga aku menemukan rasa dari kebiasaan itu.
Ya, sejak saat itu aku menyimpan rasa padanya. Kebiasaan-kebiasaan yang selalu bersama membuatku semakin mengenalnya.
Sampai pada hari itu, hari dimana ketika kami berpisah, masa-masa Junior High School berakhir. Di saat hari itu pula, aku baru mengetahui semuanya. Belum sempat aku menunjukkan rasaku padanya, dia,,, pria itu telah memiliki gadis lain. Aku tersenyum pahit ketika aku menatapnya untuk pertemuan yang terakhir.
Sejak hari itu, jalan kamipun berbeda. Aku sudah tak bisa menemuinya.
Walaupun komunikasi lewat ponsel masih ada, tapi semuanya berubah.
Suatu kali ia mengatakan sendiri bahwa dirinya telah berpisah dari gadisnya. Namun, semua terlihat berbeda. Kebiasaan-kebiasaan itu sudah tak ada. Dan aku hanya bias mengenangnya.

Dan kini, aku bias menatapnya kembali. Aku melihatnya kembali untuk pertama kali saat hari terakhir pengumuman penerimaan mahasiswa baru di Perguruan Tinngi ini, Seoul Arts University.
Aku sama sekali tak mengira, aku akan melihatnya lagi dalam hidupku. Rasa yang kusimpan itu, aku ingin menunukkanya. Karna hingga saat ini aku masih menyukainya.

***

Ruang ini telah kosong sejak 10 menit yang lalu. Namun, belum ada niat sedikitpun untuk beranjak. Aku sedikit memainkan bolpoinku. Menatap beberapa buku yang terbuka lebar di atas mejaku.
‘Maaf,,, aku kembali menyusahkanmu. Sebenarnya aku memiliki waktu untuk mengerjakan sendiri, tapi akupun harus bekerja keras dalam laatihan ini. Kalaupu kau keberatan, kau bias menolaknya. Aku tak memaksamu.’
Tanpa sadar aku tersenyum mengingat pernyataannya tadi. Aku merasa tak terbebani sama sekali, aku malah merasa beruntung. Aku jadi mempunyai alasan untuk selalu bertemu dengannya. Hariku akan semakin menynangkan jika aku bisa selalu memandang wajahnya.
Seketika aku berdiri dari kursiku, menutup buku-bukuku cepat dan memasukkannya ke dalam tas. Tiba-tiba saja aku ingin bertemu lagi dengannya. Ahh,,, tidak. Aku hanya ingin memandang wajanya. Padahal baru 2 jam yang lalu aku menemuinya.
Aku memang selalu seperti ini, mudah merindukan orang kusukai, sekalipun ia baru saja kutemui. Aku hanya ingin menyimpan banyak-banyak dirinya ke dalam memory otakku.
Aku segera melesat keluar kelas dengan senyum nengembang.
“Ni Ra-ya,,,”
Langkah cepatku terhenti dan segera berbalik.
“Apa kau mau pulang ?? ayo ikut aku, temani aku sebentar. Cobalah kau rasakan minuman baru di kedai dekat rumahku”
“Tapi-,,, Yong-ah” gadis itu segera menarik tanganku.
“Apa kau ingin segera pulang dan kembali membuka buku-bukumu itu. Ayolah, nikmati sedikit waktumu”
Tanpa sempat terucap kata, ia segera menarikku melewati pintu gerbang universitas ini. Aku hanya bisa pasrah menuruti ajakan temanku yang satu ini.

___

Aku kembali mengunjungi kedai ini, kali ini barsama temanku. Dan aku memang sudah biasa mengunjungi tempat ini bersamanya.
Begitu kubuka pintu berkaca besar ini, kulihat lagi dirinya. Pria itu berdiri di samping pintu. Tersenyum , menyapaku. Aku membalas senyumnya sekilas dan segera menuju tempat biasa aku dan tamanku, Kang Yong Bin duduk.
“Pelayan” Yong Bin memanggilnya dan pria itu menghampiri kami.
“Aku ingin memesan minuman yang tercatat sebagai menu baru di sini. Ni Ra, kau harus sama ne~ ak ingin kau mencobanya”
Baiklah~” aku tersenyum menatapnya.
“Baik, 2 Iced Caramel Macchiato akan segera kami siapkan”
Sekilas kutemukan tatapan matanya yang menatap mataku intens sebelum pria itu berjalan menjauh meninggalkan kami. Aku merasa, ada sesuatu dari sikap pria itu. Dan sepertinya ia ingin menunjukkannya padaku. Tatapannya yang selalu mengarah padaku membuatku menyimpulkan sesuatu. Ahhh,,,, tidak mungkin. Mungkin saja aku hanya terlalu percaya diri. Tidak mungkin,,,, pertemuan ini baru 2 kali. Tidak mungkin pria itu memiliki rasa padaku.
“Ni Ra-ya, apa sebenarnya kau memiliki acara setelah keluar dari kelas tadi ?” suara Yong Bin menyadarkanku.
“A-ani, aku tidak memiliki acara penting”
“Lalu kau memikirkan apa ?”
Seketika aku teringat tujuanku setelah keluar kelas tadi, namun terurungkan karna Yong Bin segera menarikku. Ahh,,, sebenarnya aku sangat ingin bertemu dengannya.
“Ni Ra, neon gwaenchanae ?”
“Ne ?!!” aku tekesiap pelan “Ne~ aku baik-baik saja, Yong-ah”
“Tidak. Aku bisa melihanya dari wajahmu” Yong Bin menatapku sangsi.
Tiba-tba ia mendekat ke arahku, seakan-akan sedang mengamati ekspresiku saat ini. Seketika senyumnya mengembang, seperti menggoda.
“Bagaimana rasanya setelah melihatnya kembali ?” ia belum menghentikan senyum menggodanya.
Dan tiba-tiba aku tersenyum pelan, semakin mengembang, tak bisa kusembunyikan “Mwo ??!” lalu aku berusaha untuk bersikap datar. “Apa yang kau bicarakan, Yong-ah ??”
Sebenarnya aku tau maksud pembicaraannya.
“Hentikan. Kau tak bisa menyembunyikannya dariku. Aku sudah tau kalau kau menyukai Yesung sejak dulu. Pabbo !!”
Tepat. Aku memang tak bisa menyembunyikannya dari sahabatku sejak masa Junior High School ini. Bahkan, ia adlah orang pertama kali yang tau perasaanku pada Yesung dulu. Jadi, mana mungkin ia melupakannya. Sedangkan ia selalu bersamaku, menjadi sahabatku sejak masa Junior High School hingga saat ini.
“Pesanan 2 Iced Caramel Macchiato” pria itu meletakkan pelan sebuah cangkir di hadapan kami masing-masing.
Kali ini aku melihatnya dengan jelas, kedua matanya menatapku lekat seolah ingin berbicara sesuatu. Namun tiba-tiba aku melihat bibirnya menyungging pelan padaku.
Setelah beberapa saat, ia melangkah pergi, meninggalkan dugaan-dugaan kecil di otakku. Aku merasa sedikit terusik dengan sikapnya. Membuatku memikirkannya.

Hingga waktu menunjukkan pukul 16.30 KST. Aku dan Yong Bin pun segera beranjak meninggalkan kedai ini. Begitu aku dan Yong Bin berjalan menuju pintu keluar, pria itu tiba-tiba saja menghampiri. Membukakan pintu kedai berkaca besar ini sebelum aku menyentuh pintunya. Tangannya membukakan pintu pelan sembari memperlihatkan senyumnya yang khas.
“Kami akan sangat senang jika kau dating kembali” senyumnya. Dan matanya terus menatapku. Aku hanya membalas senyumnya sekilas sebelum beranjak pergi.
Aku terheran, begitu banyak pramusaji di kedai itu, tapi kenapa seakan-akan aku hanya melihat pria itu di mataku. Bahkan, senyumnya yang selalu ia tujukan padaku itu. Ahhh, lihatlah, aku sekarang mulai memikirkannya. Dan itu membuatku sedikit kacau.

***

Selama 5 hari berturut-turut ini aku tidak berbicara sama sekali dengannya. Bukannya ada suatu masalah atau tak ada waktu untuk berbicara. Hanya saja aku melihatnya yang tak ada waktu dan hari-harinya tampak menyibukkan.
Aku selalu melihatnya dating terlambat ketika masuk kelasnya di pagi hari. Akupun juga tak menemukannya berlatih menyanyi seperti biasa saat menunggu jam kelas. Ketika jam kelas selesaipun, aku juga selalu mendapatinya pulang dengan tergesa. Hingga aku yang sangat ingin menyapanya, segera kuurungkan.
Tidak mengapa, yang terpenting aku masih bisa menatapnya. Aku tidak tau bagaiman perasaanku jika aku tak bisa melihatnya. Ahh,,, bodoh. Kenapa aku tampak sangat menderita dalam hal seperti ini. Tapi aku juga tidak akan melakukan hal bodoh dengan terlalu mencampuri urusannya. Tampaknya akhir-akhit ini ia memiliki kesibukan lain sealin berlatih menyanyi. Akupun juga tidak mengetahui alas an ia yang begitu berambisi untuk berlatih menyanyi hinga ia meminta bantuanku untuk mengerjakan tugas-tugasnya.
Aku tidak bisa focus memperhatikan penjelasan dosenku di kelas terakhirku sore ini. Begitu jam pelajaran usai, aku segera keluar kelas. Hari ini aku berharap langkahku lebih cepat darinya. Aku ingin bertemu dan berbicara padanya sebelum aku hanya melihat dirinya dengan tergesa keluar pintu gerbang universitas lebih dulu seperti hari-hari sebelumnya.
Aku bejalan cepat kea rah kelasnya. Kulihat beberapa mahasiswa lain baru saja keluar dari kelas. Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar. Mencari sosoknya yang mungkin lebih dulu keluar kelas.
“Yesung,,,” aku memekik tertahan. Tak jauh dari tempatku berdiri aku melihatnya berbicara dengan mahasiswa lain. Bibirku tersenyum lega. Segera aku menghampirinya, sekaligus berniat ingin memberikan buku-bukunya.
Langkahku terhenti. Sesuatu dalam saku celanaku bergetar. Aku segera merogohnya dan melihatnya. Sebuah pesan masuk dari sahabatku, Kang Yong Bin.
Namun, dengan segera aku mengalihkan pandanganku pada YEsun lagi. Tidak ada. Aku sudah tidak melihatnya lagi di sana. Aku manatap kecewa.
Dengan malas aku manatap layar ponselku lagi. Membuka pesan Yong Bin.
Seketika tatapanku mengeras, membaca pesan dari Yong Bin.
‘Ni Ra, ada seseorang yang merindukanmu. Kau tau, saat aku mengunjungi kedai dekat rumahku sendirian, ia selalu menggangguku. Pramusaji waktu itu, tampaknya sedang mencarimu’
Ingatanku segera beringsut ke beberapa hari yang lalu. Pada pertemuan –pertemuan dengan pria itu. Entah kenapa akhir-akhir ini aku juga sedikit memikirkannya. Sikap dan tatapannya padaku selalu mengelilingi otakku.
Tiba-tiba saja dugaan-dugaanku mengenai sikapnya kembali menggeluti otakku. Apakah mungkin pria itu menyimpan rasa padaku ? apakah mungkin pria itu menyukaiku ? dengan pertemuan secepat itu ?!
Penasaran. Aku ingin tau. Aku ingin membuktikan, apakah dugaan-dugaanku benar atau salah. Aku ingin melihat dan mendengarnya sendiri dengan jelas. Seperti apa pria itu.

***

Kali ini aku mengunjungi tempat ini dengan sangat sengaja. Biasanya, aku berniat untuk menghabiskan waktu luang bersama temanku. Tapi, untuk saat ini, lebih dari itu.
Begitu aku membuka pintu kedai ini, aku melihatnya lagi dengan jelas. Tampaknya ada suatu komunikasi antara pria itu dengan sahabatku, Yong Bin. Aku menyadari itu. Pria itu tersenyum dan menatapku tak seperti biasanya. Aku hanya mengulum senyum sekilas.
Dengan cepat aku dan Yong Bin mengambil tempat duduk. Pria itu menghampiri kami, menanyakan pesanan. Tampaknya Yong Bin mengetahui sikap-sikap pria itu padaku. Aku hanya diam, seolah tak mengerti apa-apa.
Hingga beberapa menit, aku dan Yong Bin masih menikmati Iced Caramel Macchiato ini. Sampai akhirnya aku tampak merasa kacau. Akupun segera ke toilet, membasuh mukaku.

Aku menatap pantulan diriku dari cermin toilet ini. Aku menatapnya dengan sedikit lesu.
“Apa yang aku pikirkan, Park Ni Ra ?” aku berbicara pada pantulan diriku di cermin.
Setelah cukup membasuh wajah dan kedua tanganku, aku segera berajak dan keluar dari toilet.
Belum tiga langkah kaki ini meninggalkan pintu toilet, pria itu menghampiriku sembari tersenyum.
“Hai,,,”
“Hai,,,” aku menjawab pelan.
Aku sedikit mengerutkan keningku. Lalu aku tersenyum sekilas “Boleh”
“Park Ni Ra ??! itukah namamu ?”
Ia tau namaku ?? ahh,,, ya, mungkin dari name tag di blazer almamater universitas yang biasa kipakai “Y-ye”
Ia melihatku, dan tersenyum lagi “Bagaimana pelayanan di kadai ini ?”
“Baik. Sangat baik. Aku menikmatinya”
“Park Ni Ra, boleh aku tau nomor ponselmu ?”
“M-mwo ??” apa yang ia katakana barusan ? hei,, iapun juga memanggilku dengan tidak memakai embel-embel ‘Agassi’, cpadahal kami baru saling mengenal.
“Bagaimana ?”
Aku berfikir sejenak lalu menatapnya “untuk apa ?”
Ia tampak sedang berfikir kemudian ia menyunggingkan senyumnya pelan “Aku ingin jujur padamu, kau ingat saat kau pertama kali dating kemari ?” aku menatapnya lekat, lalu ia melanjutkan kalimatnya tanpa memberiku kesempatan untuk berbicara “saat aku pertama kali melihatmu, aku memiliki rasa aneh terhadapmu. Lalu aku menyadari, aku merasakan hal itu. Rasa yang baru kali ini aku merasakan terhadap gadis sepertimu. Aku sebenarnya sangat gugup saat menemuimu. Dan baru kali ini aku gugup pada seorang gadis”
Hening sesaat. Aku tidak tau harus berbicara apa. Sepertinya aku langsung mendapatkan apa yang membuatku penasaran pada pria ini.
“Bolehkah ? Bolehkah aku mengenalmu lebih dekat ?”
Aku menundukkan kepalaku sesaat. Aku tidak tersenyum dan aku juga tidak berpilu. Entah seperti apa ekspresiku saat ini. Dan aku tidak tau bagaimana aku harus menyikapinya. Aku hanya terheran mendengar pengakuannya yang menurutku begitu cepat.
Aku merogoh saku celanaku pelan dan segera mengangkat wajahku “Kau bisa mencatatnya sekarang”
Aku menyebutkan nomor ponselku padanya dan ia menyimpannya di ponsel miliknya. Tiba-tiba ponselku bergetar. Nomor yang tidak kukenal. Aku menatapnya dan ia tersenyum padaku.
“Itu nomor ponselku” ucapnya pelan.

Aku kembali menemui Yong Bin. Setelah merasa cukup berada di tempat ini, kami memutuskan untuk segera beranjak dan pergi.
Aku sempat berfikir dan tidak yakin dengan sikapku berusan. Jika aku menolak memberinya nomor ponselku aku tidak tau akan seperti apa penilaiannya terhadapku. Dan akhirnya, tanpa pikir panjang aku memberikannya.
Kali ini, aku membuka pintu kedai ini dengan tanganku sendiri. Tiba-tiba aku melihatnya ada di belakangku, tersenyum. Aku membalas senyumnya dengan tenang. Untuk sekilas, sebelum aku melangkah jauh meninggalkan kedai ini, aku melihat sebuah name tag di pakaiannya. Aku ingat betul nama itu. Cho Kyuhyun.

<< Flashback end

Aku pernah mendengar dari beberapa orang, jawaban atas pertanyaanku.
‘Siapa yang kau pilih ? orang yang mencintaimu atau orang yang kau cintai ??’
Aku masih mengingatnya dengan jelas jawaban itu.

‘Orang yang aku cintai. Karena, apabila kita memilih orang yang mencintai kita, sedangkan kita tidak memiliki rasa apapun terhadapnya, maka kita akan menjadi orang yang semena-mena. Tapi, jika kita memilih orang yang kita cintai, sekalipun orang itu tidak memiliki perasaan yang sama, kita akan mengetahui bagaimana rasanya mencintai orang, bagaimana suka dukanya sehingga kita bias lebih memahami arti mencintai yang sesungguhnya’

‘Orang yang mencintaiku. Karena, dengan kita memilih orang yang mencintai kita, kita akan menjadi seorang malaikat yang memberikan sebuah kebahagiaan kepada orang itu, kalaupun kita tidak memiliki perasaan yang sama kita bisa belajar untuk memulainya, selama kita melakukannya dengan perasaan tulus rasa itu akan timbul dengan sendirinya. Jika kita memilih orang yang kita cintai, dan kita tidak mendapatkan perasaan yang sama, kita hanya kan menyakiti diri kita sendiri, tanpa tau bagaimana kita harus mengakhirinya’

Aku sama sekali tidak membenarkan ataupun menyalahkan kedua pernyataan yang hingga saat ini masih dapat kuingat dengan jelas.
Aku hanya menjalani apa yang ingin aku jalani.

Hari ini, di sore yang menyambut malam gelap ini, aku terduduk di depan meja belajarku. Memandangi tumpukan bukunya yang hingga saat ini masih belum kuberikan padanya. Sudah hampir seminggu ini aku merasa sukit untuk mencarinya. Kalian tau bagaimana perasaanku sekarang ??

Tiba-tiba ponselku yang berada di samping buku-bukuku itu menyala dan bergetar. Sekilas aku menatap layarnya. Sebuah panggilan. Dengan cepat aku menolah ke sembarang arah dan melakukan kesibukan lain, menganggap seoalh tak ada apa-apa dari ponsel yang baru saja kutatap.
Setelah kurasakan getar itu menghilang, aku mengeceknya. Aku menatap lesu nama pemanggil yang tertera di layar ponselku. Cho Kyuhyun.
Dengan cepat aku menghapus catatan panggilan darinya. Akupun juga baru menyadari, ia mengirimkan beberapa pesan padaku. Aku membukanya satu persatu, membacanya sekilas, alul segera menutupnya kembali. Tanpa ada niat untuk membalasnya. Ya, aku melakukannya.
Sudah seminggu ini pula aku tidak menemuinya dan aku tidak ada niat untuk menemuinya. Aku juga sama sekali tidak ada niat untuk kembali mengunjungi kedai itu.
Seketika setelah pertemuan itu, ia menjadi rajin untuk menyapaku. Menanyakan banyak hal tentangku dan ia juga menjelaskan seluruh perasaannya padaku. Mengatakan betapa ia memiliki perasaan besar terhadapku, mengatakan batapa ia sangat ingin mengisi hariku.
Namun tiba-tiba, aku marasa terganggu dengan sikap-sikapnya. Bahkan ia mengatakan semuanya sebelum aku benar-benar mengenalnya. Aku belum menemukan kebiasaan apapun. Karna, tanpa kebiasaan aku tidak akan terbiasa.
Sejak aku merasa seperti itu, aku sadar aku telah merubah sikapku padanya. Dan sejak itu pula, ia menjadi menakutkan bagiku. Entah itu pagi, siang, sore atau malam ponselku selalu bergetar dan menyala, meninggalkan beberapa penggilan dan pesan. Dan semua itu darinya.
Ya, aku memang salah. Aku tidak memberikan penjelasan apapun padanya. Itu semua karna aku sudah terlanjur terganggu akan sikapnya. Bahkan, sahabatku, Yong Bin yang memang dari awal sudah mengetahui segalanya ketika membahas tentangnya, aku segera menghindar. Apa aku tampak semena-mena terhadapnya ? apa aku tampak sangat jahat ?
Pelan, kutatap jendela kamarku. Memandangi butiran-butiran putih itu, yang terjatuh perlahan. Salju pertama di musim dingin tahun ini. Seperti itukah sikapku padanya ?
Tiba-tiba, dari sudut mataku aku melihat layar ponselku yang menyala dan bergetar kembali. Aku langsung beranggapan bahwa itu dari pria itu , Cho Kyuhyun. Aku ingin menghiraukannya, tapi tak bisa.
Setelah beberapa saat, aku masih melihat nyala layar ponselku. Dengan lemah aku menatapnya.
Aku segera meraihnya. Seketika aku membelalak. Panggilan dari Yesung, namun sudah terlambat untuk aku mengangkat panggilannya. Aku menyesal.
Sekali lagi, ponselku bergetar. Sebuah pesan.
Saat itu juga senyumku merekah, mendapati pesan itu yang ternyata dari Yesung. Aku segera membuka dan membacanya.

‘Ra-ya,,, apa kau ada waktu ? Berhubung hari ini aku memiliki banyak waktu, aku ingin menepati janjiku padamu. Temui aku di Coffee Shop daerah Myeongdong. Aku menunggumu. Aku ingin berbicara sesuatu denganmu. Kuharap kopiku ini belum dingin saat kau tiba’

Seketika aku beranjak dari dudukku. Menyambar sebuah mantel di samping kursiku. Dan segera meledat keluar rumah menuju ke tempat dimana saat ini Yesung berada.

Tempat ini sangat ramai. Aku semakin merapatkan mantelku. Aku tak bisa menyembunyikan raut wajahku yang behagia dan aku terus mencari-cari alamat yang diberikan Yesung. Perhatianku sedikit teralihkan begitu kulihat sebuah kerumunan. Samar-samar kusengar suara seseorang bernyanyi, suara yang kukenal. Kemudian aku mencoba menghampirinya, menerobos ke kerumunan orang-orang itu. Terus menerobos, hingga aku mendapati apa yang menjadi pusat perhatian kerumunan ini.
Seketika aku mematung, mendapati mereka berdua. Mataku memanas, dadaku terasa sesak. Seketika aku terbungkam.

“Hei… kau kenal mereka berdua ?”
“Bukankah itu Yesung dan kekasihnya, Jiyeon ?”
“Apa yang mereka lakukan ??”
“Apa kau tak mendengar gosipnya ?”
“Gosip apa ? ceritakan padaku”
“Akhir-akhir ini hubungan mereka kacau. Mereka sering berpisah, setelah itu menyambung lagi, berpidah dan terus menyambungt lagi. Tapi kudengar,,,, kau tau si Yesung ? dia akan melakukan apapun demi bisa kembali dengan kekasihnya. Kudengar-dengar, gadis itu adalah kekasihnya sejak Yesung remaja. Kau tau kan kalau Yesung itu ikut organisasi vocal di universitas kita ? menurut gosip, ia telah menyiapkan ini jauh-jauh hari untuk gadisnya yang ternyata berbeda universitas dengannya. Tampaknya, Yesung benar-benar mempersembahkan lagu itu untuk gadisnya”
“Oh,, so sweet. Romantic sekali, aku jadi iri pada mereka”
“Kau iri ?!! apalagi diriku”

Aku mundur perlahan. Menjauh. Dengan cepat aku berbalik sembari menahan tetas ait mata ini. Seketika aku terhenti, merasakan getaran pada ponsel yang masih kugenggam ini.
Dari Yesung ??!
Segera aku membukanya dengan perasaan kacau dan pandangan mataku yang mulai mengabur.

‘Ra-ya,,, apa kau masih di rumjah ? kalau benar, kau tak usah keluar. Aku sudah melakukannya. Sebenarnya aku ingin curhat denganmu. Kau masih ingat Jiyeon ? kuharap kau masih ingat karna dulu aku sering membicarakannya denganmu, bukan ?! aku akan mentraktinyamu besok. Aku janji.’

Seketika tubuhku lemas. Pandanganku sudah tak jelas akibat air mata ini. Dengan cepat aku mengusapnya kasar. Dan segera aku beranjak pergi dengan segala energiku yang masih tersisa.
Tak peduli dengan langkah orang-orang yang berlalu-lalang dengan cepat. Aku hanya berusaha menjaga kesimbangan tubuhku yang sesekali tersenggol oleh mereka. Aku terus menunduk.
Ahh,,, bodoh. Seharusnya aku sudah bisa menebaknya dari awal. Kebiasaan-kebiasaan itu sudah tak ada. Seharusnya tak ada lagi yang perlu aku harapkan. Semua itu hanya menyisakan kenangan.
Tiba-tiba, aku hamper tersungkur. Seseorang menyenggolku dengan keras.

“Neon gwaenchanae ? nona ??”
Suara itu. Aku seperti mengenalnya. Lalu aku mendongakkan kepalaku.
“Ni Ra ??” ia menatapku.
“K-Kyuhyun ?!” aku meremas ujung mantelku pelan.
“A-apa yang kau lakukan disini ?” ia memegang kedua bahuku, tampaknya sedang mengkhawatirkanku.
“Kau kenapa ?” ia terus menanyaiku. Namun, aku segera melangkah, ingin meninggalkannya.
“Ni Ra” tangannya menahanku “kau kemana saja ? kenapa kau-“
“Maaf”
“Apa yang kau bicarakan ? kenapa kau minta maaf ?” ia terdiam sejenak, lalu memnadangku dalam “tunggu.. katakan,,, apa aku mempunyai salah pasamu ? kenapa kau seperti menjauhiku ? ada ap-“
“Maaf. Harusnya kau tau dari sikap-sikapku” aku mencoba melangkah lagi.
“Tunggu” ia menahan kembali tanganku.
Dengan raut wajahku yang kacau, aku manatapnya lekat “maaf Kyuhyun” ucapku tegas.
Aku langsung berlalu meninggalkannya. Melangkah pelan.
“Aku akan menunggumu” langkahku terhenti “aku akan menunggu hingga kau melihatku” tampaknya ia berucap tanpa membalikkan tubuhnya.
“Tidak” aku menjawabnya tanpa menoleh “tidak perlu. Kau tak usah menungguku, karna aku tak akan bisa melihatmu”
Seketika aku berjalan cepat, meninggalkannya. Meninggalkan semuanya. Terus melangkah, menerobos butiran putih dingin yaqng mulai melebat. Dan terus melangkah, tanpa menahan butiran bening di mata ini yang mulai menggenang kembali.

Pada akhirnya, aku manjalani apa yang ingin aku jalani.
Dan aku, tidak memiliki jawaban dari pertanyaanku sendiri yang selama ini mengeluhkanku.

The End

Ga penting, ga usah dibaca !!
Membosankankah ?? kalau benar berarti hidup author sangat membosankan
Ceritanya membingungkan yahh ?? hahahah

Kritik dan saran kalian dalam FF ini adalah kritik dan saran kalian pada hidup author *ga penting*

Gomawo sudah membaca ^^

3 thoughts on “HABIT // Oneshoot

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s