ANOTHER OF THE ONE I LOVE (Ryeowook Side Story) // SEQUEL 2 OF 4

 

ATOIL2

 

Title     : Another of The One I Love 2/4 (Ryeowook Side Story)

Author : Andriya

FB       : Andriya Kembali Optimis

Genre  : Romance

Rating : PG 13

Length : Oneshoot

Cast :

Kim Ryeowook

Jung Soon Ae

Lee Donghae

Park Min Ah

Kim Sohee

Etc (muncul sesuai sikon)

 

 

Annyeong readers ^^  #tebar kuah jajangmyeon bareng Wookie.

 

Warning : FF ini merupakan side story dari FF paling kontroversional (??!!) “Series // The One I Love”. Karena side story, beberapa adegan di FF ini akan berhubungan dengan cerita yang ada di “Series // The One I Love”. Author sengaja cuma bikin oneshoot karena gak mau ikutan sinetron Indonesia yang critanya lama2 aneh bin ajaib setelah dibikin Season 1, season 2, dst. Jadi cukup oneshoot aja buat masing2 sub cast buat tahu kabar Sungmin, Hyukjae, Ryeowook dan Kyuhyun. FF ini mengandung unsur mbulet dan membuletkan, bingung dan membingungkan, dan memberikan efek pusing, mual, dan muntah karena kebingungan2 yang terjadi.

 

DISCLAIMER: This story is orriginaly MINE.

 

RULE :NO COPAST, NO BASH dan janganlupa RCL-nya chingu ^_^. Bagi para PLAGIATsaya doakan Anda gudikan, cacar air, jerawatan sampai tua. Amin.

 

 

 

 

Yesungdahlah, tanpa banyak cuap2 lagi author mengucapkan:

 

Happy Readdangkkoma ^____^

 

“You are so close next to me, but i feel that you’re very far. To be honest I miss you every day. Even the very small trivial things, make me think of you every day. I want to take hold of even the air that you were in”

 

 

#Ryeowook Side Story Begin

 

Seoul, 14 February 2012

@Way to Incheon International Airport ; 11.00 KST

~Author Pov~

Matahari yang begitu terik tak menyurutkan aktivitas manusia di bumi. Arus lalu lintas menuju Bandara Incheon begitu padat dan penuh kemacetan. Di dalam sebuah taksi, seorang namja berwajah imut berulang kali melirik resah ke arah jam tangannya.

 

“Jangan pergi… jangan pergi…” ucapnya resah.  Diliriknya lagi jam tangan yang bertengger manis di tangan kirinya. Layarnya menunjukkan pukul 11.00 KST, berarti 15 menit lagi pesawat menuju London akan segera take off.

 

“Ahjussi… apakah kita tidak bisa melaju lebih cepat?” tanyanya pada sang sopir taksi. Sang sopir yang sedari tadi fokus mencari celah agar bisa bergerak keluar dari kemacetan menoleh pada penumpangnya.

“Maaf, Tuan. Tapi kita terjebak disini. Sepertinya di depan sedang ada kecelakaan sehingga jalan menjadi macet. Saya juga sudah berusaha, tapi sangat sulit keluar dari kemacetan ini” terang sang sopir.

 

Ryeowook, si penumpang taksi yang resah, mencoba membuka kaca taksi dan melongok keluar. Dan benar saja, antrian kendaraan sudah mengular. Tak ada satupun kendaraan yang bisa melaju dengan cepat. Mereka hanya bisa maju satu senti tiap menitnya.  Kemudian Ryeowook kembali memasukkan kepalanya ke dalam taksi. Air mata sudah hampir keluar dari pelupuk matanya. Dilihatnya buket azalea pesanan Jung Soon Ae, sahabat Ryeowook semenjak SMA sekaligus cinta tersembunyinya.

 

Cinta tersembunyi? Ya. Selama ini Ryeowook hanya bisa menyembunyikan perasaan cintanya pada gadis ceria bernama Soon Ae karena takut hanya akan bertepuk sebelah tangan dengan gadis itu. Dan sekarang ia resah, sangat resah karena sampai saat ini ia tak pernah mengungkapkan perasaannya. Sangat resah karena seperempat jam lagi gadis itu akan meninggalkannya, dan pergi ke London. Sangat resah, karena ia tak menyadari bahwa gadis itu ternyata juga mencintainya. Dan ia baru mengetahuinya pagi ini, dari bunga azalea yang dipesan Soon Ae.

 

“Ahjussi, saya berhenti di sini saja” ucapnya kepada sang sopir. Kemudian namja itu segera menyerahkan sejumlah uang kepada sang sopir, mengambil buket azalea-nya, kemudian segera keluar dari taksi. Setengah berlari ia mencoba keluar dari hiruk pikuk lalu lintas yang merambat lambat menuju ke trotoar. Dan ketika ia sampai di trotoar, Ryeowook segera mengerahkan seluruh energinya untuk berlari menuju bandara yang masih jauh jaraknya.

 

 

#Flashback ON

 

Seoul, January 2005

@Kyongnam Street

~~Donghae Pov~~

Kuhirup udara dalam-dalam. Seoul, kota kedua di Korea yang kudatangi setelah Mokpo, kota kelahiranku. Kota besar yang lebih padat dari Mokpo. Kota yang kuharap ada Minnie~ku di dalamnya.

 

“Pagi yang indah” ucapku sambil tersenyum. “Come on, Prince Nemo! Ayo bersemangat untuk hari ini!” lanjutku menyemangati diriku sendiri.

 

Hari ini adalah hari pertamaku menginjakkan kaki di kota ini. Sebenarnya perusahaan appaku, Lee Corporation juga ada di kota ini. Tapi aku belum pernah kesana. Aku belum ingin masuk ke perusahaan appaku. Aku ingin mendirikan usahaku sendiri.

 

Dan hari ini aku ingin mencari lokasi yang bagus untuk mendirikan cabang baru Restoranku. Grand Place Restaurant. Aku sudah mendirikan satu restaurant di Mokpo, dan kini aku ingin melakukan ekspansi di Seoul. Bukan karena aku tak percaya pada pegawaiku dalam hal mencari lokasi, tapi aku ingin terjun langsung mencari lokasi strategis yang akan menguntungkan bisnisku sekaligus agar aku bisa menemukan Princess Nemo-ku.

 

Aku baru saja keluar dari hotel dan mencoba berjalan-jalan di daerah Kyongnam yang kurasa lokasinya cukup strategis. Terbukti sudah banyak toko dan restoran berdiri di sana.

 

Perlahan aku berjalan di antara tumpukan salju sisa hujan tadi malam. Jalanan terlihat indah dengan kemerlapan salju yang seperti berlian. Ku arahkan pandangan ke beberapa toko yang sudah buka. Jalanan masih sepi karena udara yang cukup dingin saat ini.

 

BUAAAGHHH!!!

BRUUUAAAKKK!!!

BRAAAKKK!!!

 

Tiba-tiba terdengar suara barang-barang dibanting dari sebuah toko bunga. Aku berlari dan mendekat ke arah toko bernama “Chloroflorist” itu. Seorang namja berusia lima tahun di bawahku dan seorang ahjussi tua jatuh tersungkur. Seorang ahjumma dan seorang noona berdiri sambil membelalakkan mata dan menahan tangis mereka.

 

 

~~Ryeowook Pov~~

Aku melirik tajam ke arah preman berbadan besar yang tadi meninjuku hingga jatuh tersungkur. Tak hanya aku, appaku tadi juga mereka pukul hingga babak belur. Aku segera bangkit berdiri.

 

“Hey, Tuan! Kau tak berhak melakukan ini pada kami! Kami sudah membayar separuh hutang kami!” teriakku pada para preman berbadan besar itu.

 

Walaupun saat ini aku baru kelas 1 SMA dan berbadan kecil, tak menyurutkan keberanianku melawan orang-orang berbadan dua-tiga lipat lebih besar dariku. Toh, rasa emosi dan amarahku lebih besar dari tubuhku. Ini akibat mereka yang pagi-pagi sudah mengusik ketenangan kami, menghancurkan toko kami dan memukul appaku hanya karena kami telat membayar hutang kami yang masih belum terbayar separuhnya. Hutang untuk biaya berobat eommaku yang sakit-sakitan.

 

“YAKK!! Kau anak kecil! Masih berani melawan, hah??!!” teriak preman yang tadi memukulku. “Apa kau tahu berapa sisa hutang appamu pada kami, hah?! Seratus lima puluh juta won!! Dan kalian sudah telat membayarnya dua bulan!!”

 

“Walaupun kami telat membayar, kau tak berhak memukul orang tua!” balasku. Aku tahu 150 juta won itu jumlah yang sangat besar, dan kami belum memliki uang untuk menebus hutang itu. “Kalau kalian terus-menerus menghancurkan toko kami, kapan kami akan bisa membayar hutang pada kalian?!” tantangku tak mau kalah.

 

“Cih!! Dasar anak kecil ini, benar-benar…” ujar preman itu emosional, ia menyingsingkan lengan kemejanya dan bersiap memukulku lagi sekuat tenaga. Dan aku hanya bisa pasrah dan memejamkan kepala. Kulirik noona dan eommaku yang masih menangis dan membelalakkan matanya melihat tangan preman itu mengarah ke wajahku.

 

Kreekkk.

 

Aku mendengar suara tulang yang patah. Tapi bukan tulangku. Segera kubuka mataku. Di depanku, preman yang tadi berniat memukulku meringis kesakitan. Tangannya dipelintir ke belakang bahunya oleh seorang namja.

 

“Maaf, Tuan. Tapi tidakkah Anda malu melawan orang yang lebih kecil dan lebih lemah dari Anda?” ucap namja penolong kami itu pada si preman.

 

“Ssi-apa kau?! Berani-beraninya ikut campur urusan kami!” bentak preman itu sambil mengarahkan satu tangannya yang masih bebas ke arah perut namja penolong kami.

 

Set. Kraakkk.

 

Namja itu berhasil mengelak, menangkap pergelangan tangan si preman dan memelintirnya lagi. Membuat preman itu tersungkur kesakitan.

 

“Hyaaaahhhh!!!!” dua orang teman preman itu yang sedari tadi hanya diam tiba-tiba menyerang namja penolong kami. Namja itu dengan sigap menangkis semua serangan mereka dan berhasil membuat preman yang berbadan lebih besar itu tersungkur semua. Aku bergegas menolong appaku berdiri dan memeluknya. Noona dan Eommaku masih berteriak histeris ketika melihat perkelahian itu.

 

“Sepertinya otak kalian tak sebesar otot dan badan kalian, Tuan” ejek namja itu pada tiga preman yang kini sudah terkapar di tanah. Kemudian namja itu berbalik ke arah kami.

 

~~Author Pov~~

“Kalian tidak apa-apa? Apakah ada yang terluka parah?” tanya Donghae pada keluarga Kim yang masih menatap tak percaya adegan perkelahian yang telah terjadi beberapa menit yang lalu.

 

“aah. Kami tidak apa-apa, Tuan” jawab Tuan Kim. Ryeowook hanya bisa menatap namja itu penuh rasa kekaguman. Bagaimana mungkin tubuh sekecil itu bisa mengalahkan tiga preman yang berbadan lebih besar seorang diri?

 

“Untunglah…” ujar Donghae sambil tersenyum lega. Kemudian ia berbalik lagi kepada tiga preman yang kini sudah bangkit berdiri dan menatap marah pada Donghae.

 

“Hey, Tuan!! Siapa kau berani-berani ikut campur urusan kami?!” ucap pimpinan preman itu dengan nada penuh ancaman. Tapi Donghae hanya tersenyum padanya.

 

“Apakah ini masalah hutang?” tanyanya pada preman itu. Kemudian ia mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya dan menyerahkan kartu nama itu pada preman pertama.

 

“Datanglah ke perusahaan Lee Coorporation, tunjukkan kartu nama ini pada pegawai disana, katakan bahwa Tuan Muda Lee ingin melunasi hutang usahanya. Mereka pasti akan memberikan uang pada kalian!” perintah Donghae, yang membuat seluruh anggota keluarga Kim terkejut mendengarnya.

 

“T-tuan… jangan…” cegah Tuan Kim. Namun Donghae hanya tersenyum lembut menatap mereka. Para preman itu segera menerima kartu nama Donghae.

 

“Jangan pernah ganggu keluarga ini lagi, ne? Kalau aku tahu kalian masih menggangu keluarga ini, maka akan kupastikan para bodyguard profesional dari Lee Coorporation takkan melepaskan kalian!” ancam Donghae penuh penekanan.

 

“Arrasseo. Kami mengerti…” jawab para preman itu ketakutan, dan segera berlalu meninggalkan Donghae dan keluarga Kim.

 

“Terima kasih, Tuan Muda! Terima kasih!” ucap Nyonya Kim yang tiba tiba menghambur memeluk Donghae dan kemudan bersujud di kaki namja itu. Dengan sigap Donghae segera mengangkat tubuh ahjumma tua itu agar berdiri.

 

“Jangan begini, Bibi. Kita sebagai manusia harus saling tolong menolong, bukan?” ucapnya lembut, membuat sang ahjumma semakin terisak. Anak perempuan Keluarga Kim, Kim Sohee, segera datang mendekat dan memeluk ibunya. Air mata juga mengalir dari pipi gadis yang duduk di kelas 3 SMA itu.

 

“Dengan apa kami harus membayar hutang kepada Anda, Tuan?” tanya Tuan Kim yang berjalan tertatih ditopang oleh Ryeowook. Namja imut itu masih diam dan menatap kagum pada Donghae.

 

“Tak perlu memikirkan itu, Ahjussi. Yang penting Anda dan keluarga Anda baik-baik saja” jawab Donghae.

 

“Gomawo. Gomawo Tuan Muda yang baik hati. Kami sangat berhutang budi pada Anda. Keluarga Kim akan mengabdikan seluruh hidupnya untuk Anda” ucap Tuan Kim penuh rasa terima kasih.

 

“Ah, andwae. Jangan berkata seperti itu, Paman. Sepertinya kalian menjad keluarga saya saja sudah cukup. Kebetulan keluarga saya semua di luar negeri. Jadi kalian menjadi keluarga saya itu sudah lebih dari cukup” pinta Donghae berusaha merendahkan diri.

 

“Tentu! Tentu! Tentu kami dengan senang hati menerima Anda sebagai keluarga kami, Tuan Muda!” jawab Tuan dan Nyonya Kim berbarengan penuh semangat.

 

“Ah, jangan panggil saya Tuan Muda, ne? Panggil saja Donghae. Aigo, saya lupa memperkenalkan diri tadi. Lee Donghae imnida” ucap Donghae sambil menepuk kepalanya sendiri, kemudan tersenyum lembut menatap dua orang tua di hadapannya.

 

“Ah, saya Kim Wo Young. Ini istri saya Kim Seon Bak. Ini anak pertama saya Kim Sohee dan ini adiknya Kim Ryeowook” papar Tuan Kim sambil menunjuk masing-masing anggota keluarganya. Dan masing-masing nama yang disebut oleh Tuan Kim tadi segera membungkukkan badannya.

 

“Kami akan melakukan apapun keinginan anda sebagai bentuk balas budi kami” lanjut sang ahjussi, membuat Donghae tersenyum. Keluarga baru. Batinnya.

 

 

Seoul, September 2005

@Chloroflorist Shop

~~Ryeowook Pov~~

Tanganku sibuk menata kumpulan bunga-bunga segar yang siap kami jual di toko bunga keluarga kami. Toko ini sudah berkembang menjadi lebih besar berkat bantuan dari Donghae hyung. Namja malaikat yang baik hati, yang menolong kami dari lilitan hutang lintah darat. Tak hanya itu, ia memberi kami modal lebih untuk mengembangkan toko dan juga membantu biaya kuliah Sohee Eonni. Sohee Eonni diterima di Seoul University. Sebuah kebanggaan bagi kami. Dan namja berhati malaikat itu, bersedia menanggung semua biaya pendidikan Sohee Eonni dan biaya pendidikanku karena menganggap kami sebagai bagian keluarganya.

 

“Jadi, apa arti bunga dandellion?” celetuk Soon Ae, sahabatku di sekolah yang sedang ikut membantuku menata bunga-bunga yang baru datang stoknya tadi pagi. Kebetulan hari ini adalah hari Minggu.

 

“Kejujuran dan kebahagiaan” jawabku tangkas. Aku cukup tahu banyak tentang arti dari setangkai bunga. Appaku yang mengajarinya.

 

“Ohh…” Soon Ae hanya manggut-manggut tanda mengerti. “Lalu, bunga azalea? Apa artinya?” tanyanya lagi. Ia emang gadis yang suka bertanya. Periang dan agak cerewet. Tapi aku suka dengan karakternya. Begitu hidup dan seolah tanpa beban. Dan ia juga sangat jujur. Mengatakan apapun yang ia rasakan dengan lantang tanpa takut menyesal. Hanya saja, sering kali lidahnya lebih cepat bertindak daripada otaknya. Kekekekk.

 

“Cinta pertama, kepolosan” jawabku lagi. Tanganku kini sibuk merapikan barisan lily putih di dalam ember berisi air.

 

Brakkk.

 

Pintu toko terbanting agak keras. Kulihat Donghae Hyung muncul disana, membungkuk terengah-engah seperti habis berlari di kejar setan. Kemudian ia mendongak dan tersenyum lebar memamerkan gigi taringnya yang menggemaskan.

 

“Aku menemukannya!” ucapnya. Kemudian tiba-tiba ia menghambur dan memelukku. “Aku menemukannya! Aku menemukan Minnie~ku! Hahahaaha!” teriaknya girang. Ia meloncat-loncat girang seperti anak kecil. Aku hanya bisa ikut tertawa dan meloncat-loncat bersamanya. Aku ikut bahagia untuknya tentu saja. Dulu ia pernah bercerita bahwa ia sudah lama mencari cinta pertamanya yang hilang. Dan kini ia menemukannya. Aku tahu benar perasaan bahagianya saat ini.

 

“Dimana kau menemukannya, hyung?” tanyaku dengan napas terengah karena lelah meloncat-loncat bersamanya.

 

“Di restoranku, Wookie-ya! Akhirnya dia benar-benar muncul di restoranku!” jawabnya dengan senyum penuh kebahagiaan.

 

“Akhirnya kau menemukannya, Hyung. Chukkae! Aku akan memasakkan makanan enak untuk merayakannya!” ucapku. Tapi tiba-tiba raut wajahnya menjadi suram.

 

“Waeyo, hyung? Gwechana? Apa kau tak suka aku memasak untukmu?” tanyaku khawatir. Donghae hyung hanya diam kemudian ia duduk dan termangu.

 

“Dia tak mengenalku, Wookie-ya. Dia tak ingat denganku” ujarnya sedih. Aku mendekat padanya dan menepuk bahunya.

 

“kalau begitu kita ingatkan dia! Berikan dia bunga, hyung!” usulku.

“Tapi aku orang asing baginya, Wookie-ya. Tak mungkin aku tiba-tiba muncul di hadapannya dan memberinya bunga”

“Tak apa-apa, hyung. Kita berusaha mengingatkannya perlahan-lahan. Kita kirimi noona itu bunga tiap hari agar dia bisa mengingatmu!”

“Bunga apa yang harus ku berikan padanya?” tanya Donghae Hyung membuatku berpikir sejenak. Kemudian sebuah senyum langsung berkembang di wajahku.

“Anyelir! Kita beri dia anyelir pink!” teriakku bersemangat.

 

~~Soon Ae Pov~~

“Dasar babo!” ejekku pada namja imut yang sedang bersiul-siul senang di hadapanku. Tangannya masih sibuk merangkai sebuah buket mawar pesanan seorang pembeli. Donghae Oppa sudah pergi setengah jam yang lalu, dan sejak itulah Wookie hanya sibuk menata bunga sambil bersiul-siul seperti seorang namja yang baru saja jatuh cinta.

 

“Nugu?” tanyanya polos, dan dengan wajah yang begitu polos pula. Aiiisshh…. kenapa kau bisa menciptakan makhluk sepolos ini, Tuhan?

 

“Tentu saja kau, Babo! Hanya mengantarkan bunga kenapa bisa sesenang itu ekspresimu?” teriakku. Wajahnya kembali cerah mendengar kata mengantar bunga.

 

“Tentu aku senang! Akhirnya aku bisa membalas budi Donghae hyung!” katanya dengan senyum lebar.

 

“Memangnya apa yang sudah dilakukan namja itu?” tanyaku penasaran.

 

“Banyak! Banyaaaak sekali! Dia itu malaikat penolong keluarga kami! Tanpa bantuan Donghae hyung, pasti kami sudah tak punya tempat tinggal, aku dan Sohee Noona takkan bisa melanjutkan sekolah, dan Eommaku takkan bisa mendapatkan perawatan kesehatan yang bagus!” ceritanya dengan penuh rasa kekaguman. “Kau tahu Soon Ae-ya? aku ingin sekali bisa membalas kebaikan Donghae hyung. Karena itu, hal sekecil apapun yang diinginkannya, akan kuusahakan! Aku akan melakukan apapun permintaannya!”

 

“Paboya…” tanggapku cuek atas keinginannya.

 

 

Seoul, March 2007

@Side of School Yard

~~Author Pov~~

Ryowook dan Soon Ae sedang menikmati bekal makan siang mereka di bawah pohon rindang di halaman sekolah mereka. beberapa kali Ryeowook berteriak senang, dan Soon Ae hanya melirik tajam ke arah namja yang sibuk memamerkan kamera digital yang sedang dipegangnya.

 

“Soon Ae-ya! Lihat! Min Ah noona cantik sekali mengenakan dress warna ungu ini!” pekik Ryeowook memamerkan foto seorang yeoja cantik yang terpampang di layar kamera. Soon Ae hanya mendelik menatap wajah Ryeowook yang bersemu merah.

 

“Yaak!! Babo! Kau sudah menemuinya setiap pagi dan membuntutinya setiap sore hingga malam hari! Kenapa masih tetap saja kagum melihat fotonya!” teriak Soon Ae kesal. Dalam hatinya, yeoja itu cemburu melihat Ryeowook yang begitu mengagumi sosok yeoja bernama Park Min Ah. Yeoja yang ada di dalam kamera digital itu.

 

Bagaimana ia tak cemburu? Waktu senggang Wookie selalu digunakan untuk membuntuti Min Ah. pagi-pagi sebelum berangkat ke sekolah, namja itu pasti akan berusaha menyempatkan dirinya untuk mengirim setangkai anyelir pink ke depan pintu rumah Min Ah. kemudian, ketika pulang sekolah, ia dan kakaknya, Kim Sohee, bergantian membuntuti gadis itu. Memotretnya dan memberikan hasil foto itu kepada Donghae. Sungguh perbuatan yang membuat Soon Ae tak habis pikir. Dan kini, ketika Soon Ae dan Wookie hanya berdua, Wookie masih saja sibuk bercerita tentang Park Min Ah, dan kegiatan yang dilakukan  gadis itu kemarin. Sungguh menyebalkan!

 

“Apa kau suka pada yeoja bernama Min Ah-ssi, Wookie-ya?” tanya Soon Ae kesal.

“Tentu! Tentu aku suka! Min Ah noona adalah tipe wanita yang mudah disukai oleh semua orang” jawab Ryeowook tangkas.

 

Deg!!

 

Sebuah jawaban yang membuat jantung Soon Ae serasa berhenti. Gadis itu kini hanya terdiam.

 

“Waeyo? Kenapa?” tanya Ryeowook polos, dimasukkannya kamera digital itu ke dalam tas ranselnya kemudian ia memeluk kedua lututnya dan menatap lembut ke arah Soon Ae.

 

“Apa kau cemburu?” goda Ryeowook, membuat wajah Soon Ae memerah.

“A-aniya! Mana mungkin aku cemburu padamu! Dan, dan kenapa aku harus cemburu padamu? Kau Cuma temanku! Bukan pacarku!” elak Soon Ae.

 

~~Ryeowook Pov~~

Aku menunduk sedih mendengar jawaban Soon Ae. Teman. Hanya teman. Gadis itu hanya menganggapku sebagai teman. Hahaha. Ayolah Wokiee, apa yang kau harapkan?

 

“Soon Ae-ya… tadi Jaejoong-sunbae mencarimu. Dia masih menunggu jawabanmu atas pertanyaan cintanya kemarin. Katanya kau sama sekali tak membalas smsnya. Ia sangat khawatir” ujarku mengalihkan pembicaraan. Sebuah pengalihan yang membuat hatiku bertambah sedih.

 

Dasar babo! Babo! Babo! Bentakku pada diriku sendiri. Bagaimana kau bisa menyampaikan perasaan orang lain tapi kau tak bisa menyampaikan perasaanmu sendiri?.

 

“Jinja?” Soon Ae melebarkan matanya, menatapku sejenak, kemudian menatap langit biru yang luas. “Aigoo… aku harus bagaimana Wookie-ya?” ucapnya, terlihat raut bingung di wajah manisnya.

 

“Ka-kalau kau suka pada Sunbae, katakan saja kau mau menjadi pacarnya!” usulku yang langsung membuatku merutuki diriku sendiri. Bagus Wookie! Kau menggali lubang kuburanmu sendiri!

 

“Aku suka pada Jaejoong oppa, tapi sebatas sebagai Oppa. Tak ada perasaan lebih” terang Soon Ae membuatku bernapas lega untuk sejenak. Kemudian tiba-tiba gadis itu berbalik menatapku.

 

“Kau tahu, Wookie-ya? ada seseorang yang kusukai!” katanya sambil tersenyum lebar.

“Eh? Nuguya?” tanyaku, dengan perasaan berdebar-debar. Berharap bahwa orang yang Soon Ae suka adalah aku.

 

“Seseorang yang sangat jago dan keren!” sebuah pernyataan yang membuat bahuku terasa lemas. Tentu bukan aku. Aku sama sekali tak jago da juga tak keren.

“Jinja?”

“Nde. Hanya saja, aku tak tahu apa dia suka aku atau tidak. Apa yang harus kulakukan Wookie-ya? apa yang harus kulakukan agar aku tahu apa dia suka aku atau tidak?” tanyanya sambil mendekatkan wajah penasarannnya lagi padaku, membuat jantungku berdegup tak karuan. Duduk di dampingnya saja sudah membuatku deg-degan, apalagi kalau harus menatap wajahnya yang hanya berjarak sepuluh centi dariku.

 

“A-aku tak tahu. A-aku kan belum pernah jatuh cinta” elakku sambil berusaha menetralkan perasaan gugupku. Gadis itu segera menarik kepalanya menjauh dan mempoutkan bibirnya penuh kekecewaan.

“Ah, geurae. Tentu saja. Percuma bertanya padamu” keluhnya. Tangannya kini bermain-main dengan rumput hijau, memelintir-lintir ujungnya, kemudian mencabutnya.

 

“Sudahlah, Soon Ae-ya. lagipula kita masih SMA. Belum cukup dewasa untuk memikirkan masalah cinta” hiburku, “apa kau jadi mendaftar ke Seoul University?” tanyaku kemudian. Gadis itu hanya mengangguk lemah. Segera kuacak gemas rambutnya.

 

“Aigoo. Kenapa kau jadi lesu seperti ini? Ayo bersemangat! Mana Soon Ae-ku yang biasanya ceria?” gadis itu kembali menolehkan wajahnya padaku dengan raut sedih.

“Tapi kau tidak ada disana, aku nanti berteman dengan siapa? Aku nanti makan siang dengan siapa? aku nanti belajar dengan siapa?” tanyanya polos membuatku terkekeh.

 

“Omoo. Universitas itu besar Soon Ae-ya! akan ada banyak teman baru untukmu disana. Jadi kau tak perlu khawatir” hiburku sambil mencolek hidung mancungnya.

 

“Apa kau benar-benar tak ingin kuliah bersamaku?”

“Ani. Aku ingin bekerja, Soon Ae-ya! aku tak mau merepotkan Donghae hyung jika harus membiayai kuliah Sohee Noona dan biaya kuliahku. Lagipula, aku ingin mengabdi pada Donghae Hyung sepenuhnya” jawabku.

 

Pikiranku menerawang pada namja malaikat kami itu. Donghae hyung sebenarnya memintaku untuk melanjutkan kuliah. Ia sama sekali tak mempermasalahkan biayanya. Tapi akulah yang menolak. Aku tak mau terus-terusan merepotkannya. Aku ingin membalas seluruh kebaikannya, sekaligus belajar menjadi namja yang hebat sepertinya. Dan akhirnya Donghae hyung meluluskan permintaanku, dan aku akan menjadi asisten pribadinya selepas lulus SMA nanti.

 

“Apa kau masih begitu mengagumi Donghae Oppa?” selidik Soon Ae dengan wajah cemberut.

“Nde! Tentu saja! Bahkan semakin hari aku selalu bertambah mengaguminya!”

“Kau tahu, Wookie-ya? itulah sebabnya kau sampai sekarang tak bisa melihat wanita di sekitarmu! Itulah sebabnya kau belum pernah jatuh cinta!” putusnya sambil segera berdiri dan menepuk-nepuk roknya, membersihkannya dari rumput dan tanah yang menempel, kemudian mengulurkan tangannya padaku. “Lima menit lagi bel masuk. Kajja kita kembali ke kelas!” lanjutnya.

 

Tapi aku jatuh cinta padamu, Soon Ae-ya. aku mencintaimu. Apa kau tak merasakannya? Jantungku tak pernah berdetak normal bila bersamamu. Bila ini bukan perasaan cinta, lalu apa? Batinku. Segera kuraih tangannya dan kami berlari bergandengan menuju kelas.

 

Seoul, 2 February 2012

@Chloroflorist Shop

~~Author Pov~~

“Eonni, apa kau pernah jatuh cinta?” tanya Soon Ae tiba-tiba pada Sohee yang sedang mengisi air ke beberapa ember bunga daffodil. Sohee tersenyum dan menatap yeoja cantik itu.

 

“Tentu. Waktu aku kuliah aku jatuh cinta pada seseorang, tapi sayangnya aku masih bertepuk sebelah tangan. Hehehe…” jawab Sohee.

“Apa sampai sekarang eonni masih menyukai orang itu?” tanya Soon Ae penuh minat. Ia segera menarik kursi dan duduk mendekati Sohee.

 

“Masih. Tentu saja masih. Kau tahu, dulu Eonni hanya bisa melihatnya dari jauh. Tapi semenjak Eonni lulus dan bekerja, Eonni bisa melihatnya setiap hari dari dekat. Hanya saja, walaupun aku bisa melihatnya dari dekat, aku masih merasa ia jauh. Sangat jauh dari jangkauan Eonni” tutur Sohee. Soon Ae mendengarkannya penuh minat.

 

“Apa orang itu bekerja di tempat Eonni juga bekerja? Bukannya sekarang Eonni bekerja di Lee Coorporation?” tanya Soon Ae bersemangat.

“Ye. Orang itu juga bekerja disana” ucap Sohee malu-malu.

“Orang yang eonni suka itu, orang yang seperti apa?” Sohee diam dan berpikir sejenak.

“Orang yang sangat baik dan ramah, saeng. Dia seperti kaktus. Terlihat kuat diluar, tapi sebenarnya ia sangat mudah mengeluarkan air mata ketika dipatahkan. Orang yang penuh perhatian dan sangat menyenangkan. Ia sangat melindungi orang yang ia sayangi” ucap Sohe dengan wajah yang memerah.

 

“Eonni sudah pernah mengungkapkan perasaan eonni padanya?”

“Belum. Orang itu menyukai orang lain, saeng” ucap Sohee sambil menatap sendu kepada Soon Ae. Soon Ae hanya mengangguk-angguk paham.

 

“Tapi setidaknya Eonni sudah tahu perasaan orang yang eonni sukai. Aku juga sama seperti Eonni. Menyukai orang yang sangat dekat, tapi rasanya orang itu sangat jauh dan tak terjangkau. Aku ingin sekali bersamanya setiap hari, tapi ia sering tak ada waktu untuk bersamaku. Aku ingin sekali mengetahui perasaannya padaku, tapi aku takut…aku takut patah hati..” keluh Soon Ae sambil meletakkan kepalanya ke sandaran kursi. Tangannya memainkan helai-helai bunga krisan di sampingnya.

 

“Apa orang itu Wookie?” tebak Sohee yang membuat Soon Ae mendongak kaget dan langsung merona.

“Eonni tahu?”

“Hahaha. Tentu saja. Setiap orang yang melihat caramu memandang Wookie pasti mengetahui perasaanmu pada adikku yang polos itu!” terang Sohee yang membuat Soon Ae menunduk malu.

“Apa Wookie juga tahu perasaanku, eonni?” tanyanya penuh kekhawatiran.

“Tskkk, aku berani taruhan seratus ribu won denganmu untuk mengatakan bahwa ia terlalu bodoh untuk menyadari perasaanmu itu!”cetus Sohee membuat Soon Ae menggigit bibir bawahnya. Benar. Ryeowook terlalu polos untuk menyadari perasaan Soon Ae pada namja itu.

 

“Kira-kira, apa Wookie juga menyukaiku, Eonni?” mendengar pertanyaan itu, Sohee segera menghentikan aktivitasnya, dan berjalan mendekati Soon Ae, mengusap lembut puncak kepala gadis itu.

“Eonni tidak tahu, saeng. Wookie terlalu pintar menyembunyikan perasaannya sejak kecil. Kita takkan pernah tahu apa yang dipikirkannya bila ia tak mengatakannya” ujarnya, kemudian ia kembali berdiri tegak dan menuju ke kumpulan bunga mawar.

“Lalu apa yang harus kulakukan, Eonni?” tanya Sonn Ae setengah merengek.

“Say it with flower. Katakan saja perasaanmu melalui bunga!” usul Sohee membuat Soon Ae diam dan berpikir.

 

“Soon Ae-ah, kau ada disini?” tegur Wookie yang tiba-tiba masuk ke toko. Setelan kerja dan jas hitam tampak pas di badannya. Raut wajah namja itu terlihat agak lelah.

 

~~Ryeowook Pov~~

Hatiku meonjak-lonjak girang melihat Soon Ae yang ada di dalam toko bunga kami. Rasa letih yang kurasakan setelah seharian diam-diam mengikuti Min Ah noona segera menghilang. Beberapa tahun belakangan, karena Donghae hyung harus keluar negeri mengurusi bisnis appanya yang ada di Amerika, aku harus bekerja lebih keras untuk mengikuti Min Ah noona seharian.

 

Karena diperintah Donghae hyung? Bukan. Tentu saja bukan. Donghae hyung tak pernah memintanya. Tapi ini murni keinginanku sendiri. Donghae hyung hanya memintaku untuk mengantarkan anyelir pink dan botol berisi gulungan kertas berisi pesan cintanya pada yeoja itu. Sedangkan membuntuti Min ah noona dan memfoto setiap aktivitasnya sepenuhnya adalah pemikiranku sendiri. Aku yakin Donghae Hyung sangat merindukan yeoja itu disana. Jadi aku ingin mengobati rasa rindu hyung-ku yang baik itu dengan mengiriminya foto-foto Min Ah noona setiap hari.

 

Dan aktivitasku membuntuti Min Ah noona itulah yang membuat intensitasku untuk bertemu dengan Soon Ae berkurang. Aku sibuk membuntuti Min Ah noona dan Soon Ae sibuk kuliah. Jadi kami jarang memiliki waktu luang untuk bertemu. Dan sekarang begitu melihatnya ada di hadapanku, rasanya begitu membahagiakan. Sangking bahagianya membuatku ingin berlari menghambur dan memeluknya. Tapi aku menahan perasaanku itu kuat-kuat.

 

“Kami sedang membicarakan masalah cinta, Wookie” jawab Sohee noona yang membuat senyumku agak memudar.

“Mwo?”

“Kami tadi sedang membicarakan orang-orang yang kami sukai, betul kan Soon Ae?” tanya Sohee noona pada Soon Ae yang dibalas yeoja itu dengan anggukan, membuat hatiku mencelos. Segera kupaksakan wajahku untuk tersenyum.

 

“Soon Ae sudah menemukan orang yang dicintai? Chukkae!!!” teriakku dengan nada girang. Segera ku hampiri Soon Ae dan mengacak lembut kepalanya. “Kau sudah mengungkapkan perasaanmu padanya, Soon Ae-ah?” gadis itu menatapku tanpa minat.

 

“Belum. Tapi aku akan mengungkapkan perasaanku padanya tanggal 14 nanti” jawab Soon Ae. Tangannya menyingkirkan tanganku yang masih bertengger di kepalanya. “Eonni, Aku pesan bunga untuk tanggal 14 nanti, ne?” pintanya sambil menoleh ke arah noona-ku.

 

“jinja? Biar nanti Wookie yang merangkai dan mengantarkannya untukmu, benar  kan Wookie?” jawab noona-ku membuat hatiku terasa sakit. Bagaimana mungkin aku harus merangkaikan bunga untuk orang yang disukai oleh orang yang kucintai?

 

“Ye. Aku akan merangkaikannya untukmu. Kau ingin bunga apa?” tanyaku setengah tak rela.

“Azalea! Aku mau rangkaian bunga azalea untuknya!” aku tertegun mendengar nama bunga yang disebutkannya itu.

“Apa dia cinta pertamamu?” tanyaku sambil menatapnya lembut. Otakku kembali mengingat ucapannya dulu di halaman sekolah. Tentang namja jago dan keren yang disukainya. Pasti namja itu. Jadi, kau belum pernah mengubah perasaanmu padanya, Soon Ae-ah? siapa namja itu? apa aku bisa mengalahkannya? Pikirku sedih.

 

“Ye!  Aku sudah bosan hanya memendam perasaanku sendirian! Aku ingin mengungkapkan perasaanku agar hatiku jadi lebih ringan! Benarkan eonni?” tanyanya kembali kepada noonaku untuk meminta persetujuan. Noonaku hanya membalas dengan senyuman penuh arti dan mengangguk.

 

“Baiklah. Akan kurangkaikan azalea untukmu nanti. Aku masuk ke dalam dulu, ne? Aku harus mengirim email ke Donghae hyung” ucapku pada mereka dan segera berjalan masuk tanpa menunggu persetujuan mereka. Aku harus segera menghindar agar mereka tak tahu aku sedang terluka.

 

“Wookie-ya!” panggil Soon Ae menghentikan langkahku. Segera kutolehkan wajahku padanya dan pura-pura tersenyum.

“Nde?”

“Kau ingat tanggal 6 hari apa?” tanyanya.

“Hari Minggu, bukan?” jawabku sekenanya, membuat yeoja itu merengut.

“Selain hari minggu?” tanyanya penuh harap. Aku ingin mnegerjainya, tapi menatapnya membuatku terluka karena aku ingat harus merangkaikan bunga untuk orang yang ia cintai.

“Hari ulang tahunmu. Tentu aku ingat!” jawabku membuat Soon Ae tersenyum lebar. Senyum yang sangat kusukai.

 

“Jangan lupa ke Lotte World jam 7 pagi, ne? Aku menunggumu!” ajaknya. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan kemudian segera menuju tangga dan masuk ke ke rumah kami yang ada di lantai atas.

 

Seoul, 6 February 2012

@Mouse & Rabbit Cafe

~~Ryeowook Pov~~

Mati aku!

Mati aku!

Mati aku!

Wookie, tamatlah riwayatmu!

 

Berkali-kali kalimat itu melintas di kepalaku. Aku yakin wajahku sekarang sudah sangat pucat. Kucoba menyesap sedikit kopi hangat yang ada di hadapanku. Tanganku bergetar hebat ketika memegang gagang cangkirnya. Hampir saja air kopi itu tumpah ke meja. Dengan takut-takut kutatap yeoja yang duduk bersedekap di hadapanku. Ditengah meja yang memisahkan jarak kami, tergeletak sebuah kamera digital, sebatang anyelir pink, dan sebuah botol berisi lintingan kertas.

 

“Jujurlah padaku, Ryeowook-ssi. Aku yakin Anda bukan pengantar bunga biasa”, ucapnya mengawali pembicaraan kami di Cafe ini.

“M-min Ah-ssi. Saya benar-benar seorang pengantar bunga…” ucapku ketakutan.

“Aku bisa melihat kebohongan di matamu, Ryeowook-ssi. Aku pernah melihatmu memakai jas setelan kerja. Siapa yang memintamu memata-mataiku selama ini?” ujar gadis bernama Park Min ah itu menatapku tajam.

 

Omoooo…. apa yang harus ku lakukan? Aiiissshhhh…

 

Aku merutuki kesalahanku sendiri. Bisa-bisanya aku ketahuan meletakkan bunga anyelir pink di depan rumahnya. Aku tak berhati-hati ketika berjalan hingga tak menyadari ada genangan air di belakangku, yang membuatku terpeleset dan jatuh menubruk pot-pot bunga yang ada di pekarangan itu.  Dan suara berisik yang kutimbulkan itu tentunya membuat para penghuni rumah segera keluar menghampiriku. Dan disinilah aku sekarang, seperti seorang pencuri yang tertangkap basah sebelum melakukan aksinya.

 

“Tujuh tahun kau mengikutiku, Ryeowook-ssi… tidakkah itu sangat lama dan sangat membosankan?” tanyanya lagi. Aku tetap tak menjawab. Kemudian gadis itu memungut kamera yang disitanya dariku tadi. Dibuka-bukanya isi file kamera itu.

 

“Lihatlah! Dari pagi hingga malam kau memantau aktifitasku. Kau pasti bekerja sangat keras, Ryeowook-ssi” ucap gadis itu sambil tersenyum. Sangat manis. Aku mencoba menelan ludahku. Gugup. Sangat gugup.

 

“A-aniya… a-aku senang mengikuti Anda, nona…” ucapku dengan suara bergetar.

Hyung, apa yang harus kulakukan? Maafkan aku sudah tertangkap basah dan tak bisa menjalankan permintaanmu dengan baik. Keluhku dalam hati.

 

~~Author Pov~~

Park Min Ah tersenyum dalam hati menatap ekspresi namja yang duduk menunduk di depannya itu. Wajah imut namja itu terlihat sangat lucu. Kegugupannya terlihat sangat menggemaskan. Ingin rasanya gadis itu mencubit namja itu kalau ia tak mengingat bahwa ia harus menginterogasinya.

 

Tadi pagi, ia menemukan namja itu terkapar di pekarangan rumahnya. Di tangan namja itu, membawa setangkai anyelir pink dan sebuah botol berisi gulungan kertas. Anyelir dan botol yang sama seperti yang selalu diterimanya selama tujuh tahun ini.

 

“Ryeowook-ssi… apa kau benar-benar tak mau memberitahuku, kepada siapa kau mengirimkan foto-foto ini selama tujuh tahun ini? Aku ingin berterima kasih padanya karena telah memberikanku bunga yang cantik setiap hari. Juga untuk kata-kata indahnya. Apakah aku benar-benar tak boleh mengetahuinya?” tanya gadis itu dengan mengandalkan puppy eyesnya. Ryeowook memandang gadis itu sejenak kemudian kembali menunduk.

 

“M-mianhe, Nona. A-aku tak berani. A-ku belum minta ijin atasanku untuk memberitahu Nona” jawab Ryeowook. Tangan namja itu bergerak-gerak resah memelintir ujung taplak meja.

 

“Hmmm… baiklah. Kalau begitu aku akan melaporkanmu ke polisi karena telah menguntitku. Aku akan menuntutmu karena tindakan tak menyenangkan dan meresahkan masyarakat” sahut Min Ah tegas. Kemudian gadis itu segera mengeluarkan ponselnya, berpura-pura akan menghubungi seseorang.

 

“Aaaah! Andwae. Jebal, Nona. Jangan laporkan aku…” rengek Ryeowook ketakutan, “Aku akan memberitahukannya padamu. Kumohon jangan penjarakan aku, kasihan Appa dan Eommaku. Tak ada yang bisa memasakkan makanan untuk mereka lagi jika aku dipenjara…”

 

Park Min Ah tersenyum senang menatap namja itu. Taktiknya mengancam namja itu ternyata berhasil.

 

“Baiklah. Kalau begitu katakan padaku siapa yang mengirimi bunga-bunga ini, dan kepada siapa kau mengirim foto-foto ini?” ucapnya sambil meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.

 

“T-tuan Lee… Atasanku bernama Tuan Lee…” jawab Ryeowook lirih sambil menundukkan kepalanya.

 

“Lee? Lee siapa?” tanya Min Ah penasarran. Ditatapnya Ryeowook dengan intens. Namja itu masih saja terdiam. Donghae-hyung… apa yang harus kulakukan? Keluhnya dalam hati.

 

“Ryeowook-ssi, apa kau tak mau menjawab pertanyaanku?” ulang Min Ah yang membuat Ryeowook semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Baiklah, kalau begitu aku ingin bertanya. Kau cukup menjawabnya dengan ya atau tidak. Eottokhe?” Ryeowook hanya menganggukkan kepalanya.

 

“Aku pernah melihatmu keluar dari kantor Lee Coorporation. Kau bekerja disana?” Ryeowook mengangguk lemah menjawab pertanyaan itu.

“Atasanmu, ani, orang yang mengirimkan ini, berasal dari Mokpo?” lagi-lagi Ryeowook hanya mengangguk. Min Ah tersenyum lembut dan mendekatkan kepalanya ke arah namja itu.

“Orang ini, bernama Lee Donghae?” dengan tatapan mata tak percaya, Ryeowook segera mendongak dan menatap  takjub pada Min Ah.Yeoja itu kini tersenyum lebar.

 

“Ba-bagaimana Anda tahu, Min Ah-ssi?” tanya Ryeowook ketakutan.

“Aigoo… bagaimana aku harus menjelaskan padamu, Ryeowook-ssi. Tapi si ikan Mokpo itu betul-betul membuatku gemas dan penasaran setengah mati. Ah, ini rahasia kita ya? jangan katakan pada namja itu kalau aku sudah mengetahui rahasianya! Otte?” kemudian Min Ah menyorongkan tubuhnya mendekat ke arah Ryeowook, dan menceritakan detail kisahnya pada namja itu.

 

SKIP TIME

 

Ryeowook berjalan perlahan setelah meninggalkan Mouse & Rabbit Caffe. Otaknya penuh dengan kisah Min Ah dan Donghae. Bagaimanapun, ia merasa bertambah kagum pada sosok hyung angkatnya itu, karena Donghae ternyata benar-benar namja yang setia dan bertanggung jawab pada janji yang dibuatnya pada Park Min Ah.

 

Mendengar cerita Min Ah, Ryeowook jadi memikirkan Soon Ae dan perasaan terpendamnya pada gadis itu. Apa nanti kisahnya akan berakhir seperti Donghae? Yang hanya diam melihat orang yang dicintainya bersama orang lain? Tapi ia tak sesabar Donghae! Ia tak setegar Donghae! Apa nanti ia bisa tersenyum melihat Soon Ae bersama dengan orang lain?

 

Ryeowook menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Tanpa sadar ia sudah sampai di toko bunga sekaligus kediaman keluarganya. Ia segera masuk, dan melihat Sohee sedang memotongi batang lily.

 

“Kau sudah pulang? cepat sekali? Kalian bermain apa saja?” tegur Sohee ketika melihatnya datang.

“Eh? Mwo?” ucap Ryeowook membuat Sohee menghentikan aktivitasnya. Yeoja itu segera meletakkan bunga lily yang dipegangnya kembali ke ember, kemudian berjalan ke arah Ryeowook.

 

“Bukankah kau ada janji dengan Soon Ae hari ini? Jangan bilang kau lupa!” ucap Sohee mengernyitkan dahinya.

 

~~Ryeowook Pov~~

Aku masih bingung mencerna ucapan noonaku yang masih menatapku penuh selidik sambil bersedekap.

 

Janji dengan Soon Ae? Janji? Astaga!!!! Apa yang kulakukan????

 

Dengan wajah pucat pasi aku segera melirik jam yang bertengger manis di dinding. Jarum jamnya menunjukkan pukul 10.00 KST.

 

Omoooo… Wookie-ya! kau benar-benar mati hari ini! Umpatku pada diri sendiri. Tanpa pamit pada Sohee noona aku langsung menghambur lari keluar menuju jalan raya dan menyetop sebuah taksi.

 

“Ahjussi, ke Lotte World!” ucapku panik. Dan sang sopir langsung menancapkan gasnya, mengebut ke tempat yang kukehendaki. Begitu sampa di Lotte World, aku segera turun dari taksi dan berlari menuju pintu gerbang tempat wisata itu. Dan kulihat yeoja itu ada disana. Berdiri menunduk di dekat gerbang dengan setelan casualnya. Raut wajah Soon Ae terlihat begitu terluka. Dengan perasaan takut aku mencoba mendekat.

 

“Soon Ae-ya…” tegurku lirih begitu sampai di depannya. Gadis itu mendongakkan kepalanya menatapku. Kulihat matanya berkaca-kaca. “Mianhae… aku terlambat…” ucapku. Gadis itu hanya diam dan menatapku tajam.

 

“A-aku lupa… tadi aku tertangkap oleh Min Ah noona, jadi… jadi aku tak bisa segera kesini…” lanjutku mencoba menerangkan apa yang tadi terjadi.

 

Plaaakkkk.

 

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kananku. Aku menatap tak percaya pada Soon Ae. Untuk pertama kalinya aku melihat gadis itu marah. Dan gadis itupun terkejut dengan kelakuannya yang menamparku. Ia langsung menarik tangannya dan menggenggamnya erat-erat. Bulir-bulir bening mengalir deras di pipinya.

 

“S-soon Ae-ya?” panggilku hati-hati.

“Wae? Waeyo? Lagi-lagi Park Min Ah! setiap hari alasanmu adalah Park Min Ah! apa yang ada di pikiranmu hanya orang yang bernama Park Min Ah? lalu aku siapamu, Wookie-ya? Aku siapamu???” tanyanya histeris. Tanganku terulr mencoba menghapus air mata yang mengalir di pipinya, namun Soon Ae segera menepis tanganku.

 

“Wookie-ya, aku tahu kau sangat mengagumi Donghae oppa. Aku tahu kau sangat ingin membalas budi padanya. Tapi aku tak tahu kenapa hanya ada Donghae Oppa dan Park Min ah di pikiranmu! Kenapa disana tidak ada aku? Padahal aku selalu disampingmu!” lanjutnya. Aku hanya bisa terdiam. Bingung. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan.

 

“Sekali saja… sekali saja, Wookie-ya! apakah kau pernah memikirkanku sekali saja?” tanya gadis terisak. Kemudian ia dengan cepat mengahpus air matanya.

 

Soon Ae-ya! aku selalu memikirkanmu! Tak ada yang kupikirkan setiap hari selain dirimu! Ingin rasanya aku berteriak seperti itu. Tapi tubuhku mengkhianatiku. Tenggorokanku rasanya begitu serak dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

 

“Kau tahu, Wookie-ya, ini kado terindah yang ku dapat seumur hidupku!” pungkasnya, kemudian gadis itu segera berlari meninggalkanku yang masih berdiri mematung dengan perasaan bersalah.

 

 

Seoul, 14 February 2012

@Chloroflorist Shop

~~Sohee Pov~~

“Haaaahhhh….” lagi-lagi aku mendengar desahan panjang itu keluar dari bibir mungil dongsaengku yang saat ini sedang duduk merenung menatap keluar jendela. Sudah seminggu sejak ia bertengkar dengan Soon Ae, dan sejak saat itu ia terlihat muram.

 

“Kau tidak mengikuti Min Ah hari ini, Wookie?” tanyaku padanya. Aku segera mengambil kursi dan duduk di depannya.

 

“Aniya. Hari ini Donghae hyung akan bertemu dengannya. Lagipula, aku sudah ketahuan, noona.. Min ah noona sudah tahu kalau aku dan Donghae hyung mengiriminya bunga setiap hari” keluhnya sambil menerawang ke arah luar jendela. Di jalan terlihat para kekasih berjalan bergandengan tangan dengan mesra.

 

“Apa Soon Ae belum menghubungimu?” tanyaku perlahan padanya. Adikku yang polos itu menggelengkan kepala.

“Sepertinya ia sangat marah padaku, noona. Apa yang harus kulakukan?” tanyanya resah. Ku sentuh tangannya.

“Wookie-ya, jujurlah pada Noona-mu ini. Apa kau menyukai Soon Ae?” tanyaku lembut sambil menatap wajah polosnya. Ryeowook segera mengalihkan pandangannya dari jalanan ke wajahku. Wajahnya terlihat memerah.

“Aku menyukainya, noona. Sangat menyukainya. Aku menyukainya sejak awal masuk SMA” jawabnya sambil menunduk malu. Segera ku raih dagu adikku dan mengangkatnya agar ia tak emnundukkan wajahnya lagi.

 

“Kau tahu, Wookie-ya. Hari ini, noona juga akan menyampaikan perasaan noona pada orang yang noona sukai. Karena itu, ungkapakan perasaanmu pada Soon Ae. Ayo kita berjuang bersama-sama mengungkapkan cinta kita!” ajakku berusaha menyemangatinya.

 

“Aku takut dia akan menjauhiku, noona. Aku takut ia tak memiliki perasaan apapu padaku. Aku takut jika aku mengungkapkan perasaanku padanya, ia akan pergi karena terbebani dengan perasaanku padanya. Aku tak mau jauh-jauh darinya” keluhnya polos. Aku tersenyum dan mengelus rambutnya penuh kasih sayang.

 

“Apa kau sudah menyelesaikan rangkaian azalea-mu?” tanyaku padanya. Kemudian sebuah ide terbersit di otakku.

“Ne. Tinggal memasang kartu ucapannya dan mengantarkannya pada namja beruntung itu”

“Apa kau sudah membaca siapa nama namja beruntung itu?”

“Aniya. Aku tak berani melihatnya, noona. Aku takut patah hati” lagi-lagi aku tersenyum mendengar penuturan polos adikku. Segera kuambil sebuah kartu ucapan kecil dari laci meja pemesanan. Kuserahkan padanya.

 

~~Ryeowook Pov~~

Mataku hampir keluar menatap nama tujuan dari kartu ucapan Soon Ae. Berkali-kali kubaca tulisan itu.

 

To: Kim Ryeowook

Kau tahu arti bunga ini? Bunga ini mewakili perasaanku padamu

 

Benarkah tulisan ini? Apakah aku salah membaca? Ataukah Soon Ae salah menulis nama?

 

“Jadi, siapa namja beruntung itu, Wookie-ya?” tegur noonaku, menyadarkanku untuk kembali ke dunia nyata.

“I-ini, bukan salah tulis, noona?” tanyaku mencoba memastikan kebenaran tulisan yang kubaca. Sohee noona tersenyum lembut padaku.

 

“Apa kau masih takut untuk ditolak, Wookie?” tanya noonaku lembut. Aku tersenyum bahagia menatapnya.

“Apa noona tahu dimana Soon Ae sekarang?” tanyaku. Sohee noona terlihat berpikir, tiba-tiba ia menepuk dahinya.

 

“Aigooo… aku lupa hari ini ia berangkat ke London!” teriaknya.

“MWO????”

“Kemarin Soon Ae telepon kalau Appa-nya akan pindah tugas ke London. Dia bilang kemungkinan besar ia akan ikut appa-nya ke London” ujar Sohee noona membuatku panik. Kenapa tidak bilang dari tadi sih????

 

“Jam berapa pesawatnya berangkat?” ucapku panik.

“Jam 11.15, Wookie-ah! astaga! Itu setengah jam lagi! Cepat susul Soon Ae!” perintah Sohee noona membuatku bertambah panik. Tanpa ba-bi-bu lagi aku segera meraih buket azalea Soon Ae, bergegas berlari keluar, dan menyetop taksi.

 

“Incheon International Airport, ahjussi. Tolong ngebut” pintaku pada sopir taksi dengan gugup.

 

#Flashback END

 

Back to Seoul, 14 February 2012

@Incheon International Airport; 11.30 KST

~Author Pov~

Dengan napas terengah-engah Ryeowook berlari memasuki pintu keberangkatan bandara. Keringat mengalir eras membasahi bajunya. Buket bunga azalea yang sedari tadi digenggamnya sudah tak beraturan lagi bentuknya.

 

“Soon Ae-ya… jangan pegi dulu… jebal… kumohon…” bisiknya berkali-kali. Matanya bergerak kesana kemari menelusuri setiap sudut bandara, mencari sosok gadis yang dicintainya. Namun hasilnya nihil.  Akhirnya, dengan langkah gontai ia berjalan menuju petugas informasi.

 

“Maaf, Nona. Apa pesawat menuju London sudah berangkat?” tanyanya ketika sudah sampai di meja informasi. Seorang wanita cantik yang bertugas disana segera tersenyum dan mencarikan data di komputer yang ada di hadapannya.

 

“Maaf, Tuan. Pesawat menuju London sudah take off 15 menit yang lalu” jawab sang petugas.

“Ah, nde. Gomawo” balas Ryeowok, berbalik arah dan berjalan gontai menuju kursi tunggu.

 

Brukkk.

 

Begitu sampai kursi, Ryeowook segera menjatuhkan pantatnya dengan keras disana. Kemudian ia duduk membungkuk, menatap buket azaleanya yang sudah hancur tak berbentuk dan membiarkan air mata yang sedari tadi ditahannya mengalir.

 

Tesss…

 

“Soon Ae-ya… maafkan aku yang begitu bodoh ini…”

 

Tess…

 

“… maafkan aku yang tak menyadari perasaanmu…”

 

Tesss…

 

“….maafkan aku yang pengecut dan tak berani mengungkapkan perasaan ini padamu…”

 

Tesss…

 

“…saranghae, Soon Ae-ya… jeongmal saranghae…” ucap Ryeowook lirih ditengah-tengah aliran airmatanya. Badannya terasa begitu lemas.

 

“Wookie-ya! kenapa kau ada di sisni?” seakan berhalusinasi, Ryeowook merasa mendengar suara Soon Ae memanggilnya, membuat aliran air mata namja itu semakin deras.

 

“Soon Ae-ya, bahkan suaramu masih menghiasi pendengaranku…” bisiknya. Kemudian ia merasa seseorang berdiri di hadapannya dan menepuk bahunya.

 

“Wookie-ya, gwechana? Kenapa kau menangis?” ucap orang itu. Ryeowook mendongakkan kepala. Diantara penglihatannya yang buram karena air mata, ia melihat wajah Soon Ae muncul disana.

 

“Soon Ae-ya, bahkan sekarang bayanganmu masih muncul di pelupuk mataku…” bisiknya lagi.

 

Ngeeekkkkk.

 

Sebuah sengatan rasa dingin menyadarkan Ryeowook dari tangisannya.

 

“Wookie-ya! apa yang terjadi? Sadarlah!!” teriak orang yang ada di depannya itu. Ryeowook segera menghapus air matanya dan menatap sosok yang ada di depannya. Soon Ae benar-benar berdiri disana dan memegang segelas Chocolate Bubble dingin.

 

“S-son Ae? I-ini bukan khayalanku?” tanya Ryeowook dengan wajah melongo.

 

Ngeeekkk.

 

Lagi-lagi Soon Ae menempelkan gelas dingin Chocolate Bubble-nya ke pipi Ryeowook.

“Dingin tidak?” tanya gadis itu sinis.

 

Greppp.

 

Dengan cepat dan tanpa aba-aba, Ryeowook langsung berdri dan memeluk erat Soon Ae, membuat gelas Chocolate Bubblenya terjatuh dan tumpah ke lantai. Pipi gadis itu merona merah karena salah tingkah. Beberapa orang memandang mereka dengan tatapan aneh.

 

“Wookie-ya! ada apa? Kenapa memelukku seperti ini? Aku malu…” tegur Soon Ae, namun Ryeowook justru semakin erat memeluknya.

 

“Jangan pergi… jangan pergi ke London! Jangan pergi ke tempat dimana aku tak bisa melihatmu! Tetaplah disini! Tetaplah di sampingku! Saranghae, jeongmal saranghae!” ucap Ryeowook keras-keras. Tangannya mesih mendekap erat tubuh Soon Ae.

 

“Eh?”

“Mianhae, Soon Ae-ya! Mianhae karena aku begitu bodoh dan pengecut! Tapi aku mencintaimu. Aku selalu memikirkanmu! Aku tak bisa hidup bila kau jauh dariku! Jangan pergi, jebal, kumohon…” mendengar ucapan namja itu, sebutir kristal bening mendarat mulus di pipi Soon Ae. Segera dilepaskannya pelukan Ryeowook, dipegangnya wajah namja itu.

 

“Wookie-ya, siapa yang mau pergi jauh?” tanyanya.  Air mata masih mengalirdipipinya.

“Sohee noona bilang kau mau pindah ke London… jangan pergi, jangan tinggalkan aku…” rengek Ryeowook, membuat Soon Ae tertawa di sela-sela tangisannya. Tangannya mencubit gemas pipi Ryeowook.

 

“Jinja? Tapi kemarin aku bilang pada Eonni kalau cuma appaku yang pergi. Aku masih tetap disini karena aku harus mengejar cinta seorang namja babo!”

 

“Jinja? Tssk… Sohee noona! Awas kalau nanti ketemu…” rutuk Ryeowook menyadari kepolosannya yang dimanfaatkan kakaknya itu.

 

“Sudahlah, Wookie-ya! tapi apa benar kau mencintaiku, hmmm?” Tanya Soon Ae dengan pandangan menyelidk membuat Ryeowook menunduk malu.

 

“Nde. Saranghae. Jeongmal saranghae…” ucap Ryeowook malu-malu, membuat Soon Ae gemas, dan bergerak maju mendekatkan wajahnya ke wajah Ryeowook.

 

Cuppp.

 

Sebuah kecupan ringan mendarat ke bibir mungil namja itu, membuat Ryeowook tertegun dan melotot.

 

“Nado. Saranghae!” ucap Soon Ae sambil nyengir lebar melihat ekspresi terkejut Ryeowook. “Kajja kita pulang!” ajaknya sambil meraih tangan Ryeowook yang masih berdiri termangu.

 

Seet. Greep.

 

Tiba-tiba Ryeowook menarik tubuh Soon Ae, membuat gadis itu jatuh ke pelukannya.

“Soon Ae-ya, apa kau tahu apa yang selalu ingin kulakukan padamu tujuh tahun ini?” tanyanya sambil menatap gadis itu lekat-lekat.

“Eh? M-mwo?” Soon ae menatap takut-takut ke arah Ryeowook yang semakin mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu dengan tatapan begitu intens.

 

“Wookie-ya! apa yang akan kau lakukan? Ini tempat umum, orang –orang mmmppph……” ucapan Soon Ae terhenti karena bibir Ryeowook sudah melumat bibirnya dengan lembut. Tangan Soon Ae bergerak berusaha melepaskan tautan Ryeowook padanya, tapi tangan namja itu mencegahnya, menarik tubuh Soon Ae lebih mendekat ke arahnya, dan memperdalam ciumannya.

 

“Aku tak peduli dengan pikiran orang-orang itu, yang kepedulikan hanyalah dirimu” ucap Ryeowook di sela-sela ciumannya. Kemudian namja itu kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Soon Ae, membuat yeoja itu hanya menatap pasrah.

 

“Baiklah, tuan sok keren” ucapnya sambil membalas ciuman Ryeowook padanya. Tangannya kini merengkuh leher Ryeowook, memusatkan pikirannya hanya pada namja itu, dan tak lagi mempedulikan tatapan jijik orang-orang di bandara yang melihat perbuatan mereka.

 

Ryeowook Side Story FIN

                                                                                                                  

 

 

Mian kalau kepanjangan, mian untuk feel yang tak didapatkan, mian untuk typo yang berserakan.

 

Pai pai readers, sampai jumpa di side story-nya Hyuk ^^

Jangan lupa RCL ne???? Setiap RCL anda sangat berharga bagi author.

 

Jeongmal Gomawo buat Readers yang mau RCL FF gila ini ^^

*BOW…

3 thoughts on “ANOTHER OF THE ONE I LOVE (Ryeowook Side Story) // SEQUEL 2 OF 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s