ANOTHER OF THE ONE I LOVE (Sungmin Side Story) // SEQUEL 1 OF 4

 

sungminside

Title     : Another of  The One I Love  (Sungmin Side Story)

Author : Andriya

FB       : Andriya Kembali Optimis

Genre  : (?) tentukan sendiri

Rating : PG 13

Length : Oneshoot

Cast :

Lee Sungmin

Kang Sora a.k.a Lee Sora

Park Min Ah

Etc (muncul sesuai sikon)

 

Annyeong readers ^^  #tebar senyum aegyo bareng bang Umin😀

 Sequel : THE ONE I LOVE

Warning : FF ini merupakan side story dari FF paling kontroversional (??!!) “Series // The One I Love”. Karena side story, beberapa adegan di FF ini akan berhubungan dengan cerita yang ada di “Series // The One I Love”. Author sengaja cuma bikin oneshoot karena gak mau ikutan sinetron Indonesia yang critanya lama2 aneh bin ajaib setelah dibikin Season 1, season 2, dst. Jadi cukup oneshoot aja buat tahu kabar Sungmin, Ryeowook, Hyukjae dan Kyuhyun.

 

Rating usia sengaja diturunkan karena adegan aneh sudah author singkirkan agar semua orang bisa membaca ni FF (#Reader:alesan lu thor! Bilang aja author gak bisa bikin adegan romance! #author:mojok nyetrum nyamuk bareng Hae TT__TT). FF ini banyak mengandung unsur mbulet dan membuletkan, bingung dan membingungkan, dan memberikan efek pusing, mual, dan muntah karena kebingungan2 yang terjadi.

 

DISCLAIMER: This story is orriginaly MINE.

 

RULE :NO COPAST, NO BASH dan janganlupa RCL-nya chingu ^_^. Bagi para PLAGIATsaya doakan Anda gudikan, cacar air, jerawatan sampai tua. Amin.

 

 

Yesungdahlah, tanpa banyak cuap2 lagi author mengucapkan:

 

Happy Readdangkkoma ^____^

 

 

 

 

“Tak peduli siapapun yang telah membawa separuh hatimu, aku akan tetap mengabdikan cintaku padamu, karena aku yakin suatu saat hati itu akan menjadi milikku seutuhnya”

 

 

 

#Intro

“Apa kau masih mencintaiku?”

“Ah… Ye… Mianhe…”

 

“Kalau begitu, boleh aku minta sesuatu?”

“Apapun, asalkan itu bisa menebus kesalahan adikku, dan itu akan membahagiakanmu, aku akan melakukannya”

 

“Jinja?”

“Ye!”

 

“Kau mau bersumpah untuk melakukannya demi aku?”

“Ye. Tentu. Aku akan melakukan apapun permintaanmu!”

 

“Setelah ini, jangan pernah menemuiku…”

 “W-waeyo?”

 

“Anyelir putih di ruang tamumu itu untukku bukan? Gantilah dengan bunga yang lain. Bunga yang mengingatkanmu pada Sora Eonni. Cintailah Sora Eonni seperti kau mencintaiku”

“A-aku tidak bisa…”

 

“Ku mohon, Oppa. Setelah ini, jangan pernah menemuiku lagi. Dan aku juga takkan pernah menemuimu, Sora Eonni, ataupun Jinki. Aku menyayangi kalian seperti keluargaku sendiri. Tapi setiap melihat kalian, aku akan selalu mengingat Kyuhyun dan pengkhianatannya. Dan rasanya sangat sesak… dan melihatmu yang seperti ini, hatiku rasanya sakit berkali-kali lipat.  Tak hanya sakit karena pengkhianatan Kyuhyun, tapi juga sakit karena aku merasa aku telah mengkhianati istri dan anakmu..”

“…….”

 

“Bila Sora Eonni mencariku, tolong katakan padanya aku pindah ke Amerika, Jepang, atau negara manapun yang jauh hingga Eonni tak perlu mengkhawatirkanku. Tolong jaga Jinki dengan baik dan rawat ia agar tumbuh menjadi namja baik seperti appanya. Tolong berjanjilah untuk melakukan itu semua untukku…”

“……..”

 

“Tolong bantu aku melupakan adikmu dan pengkhianatannya itu, Oppa… jebal, kumohon!”

“Ye. Akan kuusahakan”

“Gomawo. Jeongmal gomawo. Tolong jaga dan bahagiakan Sora Eonni dan Jinki untukku”

 

 

 

#Sungmin Side Story Begin#

 

Seoul, 21 July 2010

@Lee Sungmin-Sora Apartment

~~Author Pov~~

Krieeet.

 

Perlahan Sora membuka pintu apartement yang telah ditinggalinya bersama Sungmin selama tiga tahun pernikahan mereka. Betapa terkejutnya ia ketika melihat kondisi ruang tamu apartement tersebut. Sangat berantakan. Bantal kursi, pigura foto, guci, hiasan almari, semua jatuh berceceran di atas karpet. Dan hampir semua barang yang berbentuk pecah belah sudah tak karuan bentuknya. Hanya ada satu benda di ruang tamu yang masih utuh. Berdiri tegak di atas meja tamu, dan sedari tadi sedang ditatap oleh suaminya. Vas bunga. Vas bunga yang berisi anyelir putih kesukaan Sungmin.

 

Sora segera meletakkan kantung belanjanya yang berisi sayur mayur yang akan dimasak malam ini di dekat pintu dan berjalan penuh kekhawatiran ke arah suaminya. Dengan lembut disentuhnya pundak Sungmin.

 

“Oppa… gwechana? Apa yang terjadi?” ucapnya lembut di depan suaminya yang masih duduk termangu dengan tatapan kosong menatap anyelir putih di depannya.

 

Sungmin tak menjawab, ia hanya mendongakkan kepalanya menatap Sora yang berdiri di depannya. Betapa terkejutnya Sora melihat raut wajah suaminya itu. Raut wajah yang menggambarkan kebingungan, kemarahan dan kesedihan yang dalam.

 

“Apa yang terjadi, Oppa? Jebal katakan padaku…” ucap Sora lagi dengan kelembutan yang sama. Berharap agar suaminya itu mau berbagi keluh kesahnya. Jujur Sora sangat menginginkan agar suaminya itu mau berbagi perasaannya dengannya. Karena selama pernikahan mereka, Sora merasa bahwa Sungmin selalu tertutup padanya, sehingga Sora hanya bisa menebak-nebak apa yang terjadi pada suaminya.

 

Grepppp.

 

Tiba-tiba Sungmin memeluk pinggang Sora, menelusupkan kepalanya dalam-dalam ke perut istrinya itu. Tadinya, namja itu hanya terlihat diam, tapi kemudian Sora melihat bahu suaminya mulai bergerak dan merasakan pakaiannya basah.

 

“Oppa… kau… menangis?” tanya Sora terbata, karena keterkejutan yang dialaminya. Ia tak pernah melihat Sungmin menangis selama ini. Namja itu selalu tersenyum setiap hari. Sungmin hanya menjawab pertanyaan istrinya itu dengan gerakan bahunya yang bergetar dan berguncang hebat, menandakan ia benar-benar sedang menangis.

 

“Apa… dan siapa yang bisa membuatmu seperti ini, Oppa?” bisik Sora pelan. Tangannya mengusap lembut rambut suaminya yang masih tergugu memeluknya. Kemudian dilepaskannya tangan Sungmin yang melingkar di pinggang rampingnya. Yeoja itu segera duduk di samping Sungmin, kemudian menarik tubuh suaminya untuk tidur di pangkuannya.

 

“Menangislah di pangkuanku, Oppa. Menangislah sepuasmu agar perasaanmu kembali ringan” ucapnya.

 

 

 

#Flashback ON

Seoul, 3 December 2006

~~Kang Sora Pov~~

“MWOOOO??? Dijodohkan??? Nan shireooo!!!” teriakku mendengar ide gila appa dan eomma-ku yang saat ini duduk bersamaku di meja makan. Beberapa bulir nasi berhamburan dari mulutku.

 

“Sora~ya! telan dulu nasimu sebelum berbicara!” tegur eommaku.

 

Huh!! Mana sempat aku menelan nasi kalau mendengar ide, ani, perintah gila appa-ku. Perintah? Tentu saja! Apapun yang keluar dari mulut appa-ku adalah perintah bagi semua orang yang harus dilaksanakan. Tidak ada kata bantah membantah di dalamnya.

 

“Eomma…!! mana mungkin aku menikah sekarang? Aku masih dua puluh dua tahun! Aku masih muda! Dan aku ingin menikah hanya dengan orang yang aku cintai!” rengekku padanya, sambil beberapa kali melirik appaku yang masih sibuk melahap makanannya tanpa menghiraukan rengekanku.

 

“Cinta itu hanya masalah kebiasaan chagi~a! Kalau sudah sering bertemu pasti kalian akan saling jatuh cinta” kilah eomma-ku.

 

“Tapi eomma!”

 

“Apa selama ini kau sudah punya orang yang kau cintai, Sora~ya?” tanya appaku menyela perdebatan kami. Beliau telah meletakkan sendok dan garpunya di atas piring tanda bahwa beliau telah selesai makan.

 

Deg!!!

 

Sebuah pertanyaan yang langsung menusuk hatiku. Aku hanya bisa menunduk. Tak berani menatap wajah appaku.

 

“Bahkan sampai di umur dua puluh dua tahun, kau belum pernah satu kalipun jatuh cinta, Sora~ya! sampai kapan kau akan bertahan dengan alasan ‘menemukan orang yang kau cintai’? sampai kapan kami harus menunggumu menikah?” tanya beliau lagi yang semakin membuat kepalaku menunduk dalam. Kulirik eommaku meminta pembelaan. Tapi eomma hanya bisa tersenyum getir.

 

Ucapan appaku tak pelak membuatku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal. Mau bagaimana lagi? Memang sejauh ini aku belum pernah merasakan apa itu yang namanya jatuh cinta! Haha. Aku harus mentertawakan diriku sendiri. Selama dua puluh dua tahun menjalani hidup, tapi tak sekalipun aku pernah merasa tertarik dengan seorang namja. Tak satupun. Tak ada seorangpun dari puluhan namja yang mendekatiku yang bisa membuatku berdebar dan membuatku hanya menatap padanya. Normalkah aku??

 

Seo Minji, Jung Airin, Hyun Minseok, dan banyak teman-teman sebayaku yang lain sudah berulang kali merasakan yang namanya ‘jatuh cinta’ itu. Mereka bilang jatuh cinta itu indah, menyenangkan, dan membuat kita merasa cantik. Tapi benarkah? Mana kutahu. Aku belum pernah mengalaminya. Dan bahkan aku mungkin takkan mengalaminya karena tanpa harus jatuh cinta-pun aku akan menikah. Sesuai dengan perintah appa. Takkan boleh ada pembantahan lagi.

 

“Appa… aku hanya ingin menikah atas dasar cinta. Bukan karena bisnis!” keluhku sambil memamerkan puppy eyes dan dimple pipiku. Tapi sepertinya jurusku tak mempan bagi appaku.

 

“Ini bukan bisnis, Sora~ya! ini appa lakukan demi kebaikanmu! Demi masa depanmu!” titah beliau dengan sorot mata tajam, tanda pembicaraan berakhir. Beliau segera bangkit dari kursinya dan berjalan menuju ruang kerja beliau. Ku hempaskan tubuhku ke sandaran kursi. Kulirik eomma-ku yang masih makan dengan begitu santai.

 

“Eomma…! kenapa tak membelaku? Apa kau sudah tak menyayangiku?” rajukku manja. Eomma segera meletakkan garpunya dan tersenyum menatapku.

 

“Kau tahu appa-mu, Sora~ya! jangan mendebatkannya lagi” ucap beliau lembut dan kemudian meneruskan makannya. Kini aku hanya bisa mempoutkan bibirku  kesal.

 

 

Seoul, 5 Desember 2006

@Kyongnam Street

~~Author Pov~~

Kang Sora berjalan perlahan di trotoar sepanjang Kyongnam Street. Gadis manis itu hendak menuju ke restoran yang ditunjuk appanya sebagai tempat pertemuannya dengan calon suami pilihan appanya. Sora sengaja meninggalkan Audi birunya di rumah dan tak mau masuk ke mobil appanya untuk berangkat ke sini. Ia ingin sengaja terlambat ke pertemuan dua keluarga itu, sebagai bentuk protesnya atas keputusan sepihak appanya.

 

Sora sengaja berjalan pelan-pelan sambil melihat-lihat pajangan di etalase toko yang dilewatinya. Dan hal itu cukup menghibur perasaannya yang sedang kesal.

 

Deg! Deg! Deg!

 

Sora  menekan keras dada kirinya yang tiba-tiba berdetak begitu kencang dan tak terkontrol karena melihat pemandangan yang ada di depannya. Di sana, di toko berpanel “Chloroflorist”, di antara puluhan bunga-bunga yang dipajang untuk dijual, muncul seorang namja yang sedang memandang lembut anyelir putih di hadapannya.

 

Siapa namja itu? Sora tak tahu. Ini pertama kali gadis itu melihatnya. Tapi mengapa jantungnya bisa berdebar sedemikian hebatnya?

 

Sora menghentikan langkahnya. Bukan karena takut, tapi karena ia sendiri tak bisa mengontrol kakinya. Pikirannya masih logis dan memerintahkannya untuk segera berjalan dan menuju ke restoran tempat appa dan calon suaminya menunggu, tapi mata dan kakinya menolak. Mata dan kakinya tak mau bergerak menjauh dari namja itu.

 

Seperti film-film drama yang sering Sora lihat, ia merasa bahwa tiba-tiba aura di sekitar namja itu bersinar terang, memberikan efek tampan berlipat-lipat kali ke wajah imut namja itu. namja itu, seperti pangeran yang selalu ada di mimpi Sora yang kini menjelma menjadi nyata.

 

Deg! Deg! Deg!

 

Sora menekan dadanya semakin keras ketika namja itu tersenyum begitu bahagia hanya dengan melihat dan mencium setangkai anyelir putih yang dipegangnya. Senyum itu, ingin sekali Sora mendapatkan senyum itu.

 

~~Sora Pov~~

Deg! Deg! Deg!

 

Omooooo… apa yang terjadi pada jantungku ini Tuhan?

 

Batinku berteriak-teriak panik ketika jantungku sudah tak mau mengikuti perintahku. Dada ini, rasanya berdebar begitu kencang ketika aku melihat namja yang sedang memandang anyelir putih di toko bunga lima meter di hadapanku. Namja itu, persis sama dengan pangeran yang sering muncul di dalam mimpiku. Pangeran idamanku. Hanya saja, pangeran dalam mimpiku adalah pangeran yang kuat dan pemberani, mampu berkelahi dengan tangan kosong mengalahkan para musuh yang ingin menculikku. Dan namja yang sedang menggenggam sekuntum anyelir putih itu, adalah namja berwajah lembut dan tak menunjukkan bahwa ia bisa berkelahi dengan baik. Tapi tetap saja, jantungku menggila melihatnya.

 

“Eomma… apa yang harus kulakukan?” bisikku lirih sambil menekan kuat dadaku yang masih saja berdetak begitu kencang melihatnya.

 

Tsssskkkk… ayolah mata! Berhentilah menatapnya! Ayolah kaki! Cepat berjalan! Appamu sudah menunggu!

Perintahku pada tubuhku. Tapi lihatlah! Tidak ada perubahan! Tubuhku tetap diam tak bergerak seincipun. Seperti orang bodoh yang hanya diam mematung di tengah jalan. Hanya tepian dress putihku yang bergerak melambai-lambai tertiup angin.

 

Ayolah, Sora~ya! mana harga dirimu sebagai wanita terhormat?

Teriakku asal pada ego dan gengsiku agar mereka bangkit dan membuat pergerakan dari kebekuan tubuhku ini.

 

BRUUKKKKK.

 

Tiba-tiba kurasakan seseorang telah menubrukku dari belakang dan membuatku jatuh tersungkur.

 

“Aaah… appo…” rintihku. Lututku rasanya sakit ketika jatuh membentur jalan tadi. Tapi setidaknya itu cukup menyadarkanku dari kebekuan yang ku alami.

 

Sreettt.

 

Sebuah tarikan keras terasa di tanganku. Tas kecil yang kubawa sedang ditarik paksa oleh seseorang, namun aku belum sepenuhnya sadar dari hipnotis jantung yang kualami karena namja berwajah ‘pangeran’ itu. Aku hanya melihat namja berjaket tebal dan memakai masker hitam itu menarik-narik tasku dengan wajah bodohku.

 

Tes. Seeet.

 

Akhirnya tali tasku putus, dan namja bermasker itu berjalan cepat membawa tasku bersamanya, membuat kesadaranku kembali pulih sepenuhnya.

 

“Copeeeet!!! Tolong tasku di copeet!!!” teriakku sambil menunjuk namja bermasker yang tadi mengambil tasku. Namja itu segera berlari ketika orang-orang mulai menatapnya. Aish… kenapa orang-orang itu hanya menatap? Kenapa tak segera menangkapnya? Aku segera berdiri dan berlari mencoba mengejar pencopet tadi. Di belakangku dapat kulihat beberapa orang berlari bersamaku mengejarnya.

 

“Copeeet!!! Copeeet!!! Tolong tangkap!!!” teriakku tanpa henti. Akan kucoba mengumpulkan massa sebanyak-banyaknya untuk menghentikan pergerakan pencopet itu. tapi pencopet itu benar-benar pandai dan mengetahui wilayah ini sepenuhnya, ia terus berlari memasuki gang-gang sempit, membuat kami para pengejarnya kewalahan. Toh, stamina tiap orang terbatas bukan?

 

Beberapa pengejar mulai berhenti karena kelelahan. Tapi aku tak mau menyerah. Enak saja! Aku sudah mengejarnya sejauh ini. Aku akan berjuang sampai akhir. Haha. Inilah sisi positif yang kumiliki. Aku tipe pejuang yang akan terus berjuang dan bertahan demi mendapatkan apa yang ku inginkan.

 

Aku mempercepat lariku. Berusaha meraih pakaian pencopet itu. Sedikit lagi, sedikit lagi aku berhasil meraihnya. Dan berhasil!

 

Gabruuukkk.

 

Sekali lagi, karena kecerobohanku yang tak melihat jalan sangking semangatnya mengejar pencopet itu, aku lupa aku berlari menggunakan high heels, aku lupa berlari menggunakan dress, mataku hanya terfokus pada si pencopet dan tak melihat jalan yang telah berubah dari mulus ke bebatuan. Dan beginilah aku akhirnya, jatuh tersungkur dengan anggunnya. Si pencopet juga jatuh di depanku.

 

“Aaakhh….” kali ini lututku benar-benar perih. Ku lihat darah mulai keluar dari lecet yang menghiasi kulit mulusku.

 

“Nona? Anda tidak apa-apa?” tanya seseorang dengan napas memburu sambil mengulurkan sebuah sapu tangan berwarna merah muda kepadaku. Orang itu berjongkok sebentar untuk melihat keadaanku, kemudian berdiri lagi.

 

“Sepertinya kaki Anda terluka. Tunggulah sebentar, saya akan mengambilkan tas Anda dari pencopet itu” ucapnya lembut sambil tersenyum. Kulihat wajah penolongku itu.

 

Deg!

Deg!

Deg!

 

Jantungku yang berdetak kencang setelah berlari, semakin kencang begitu melihat wajahnya. Pangeran anyelir putih! Pangeran anyelir putih! Teriak batinku girang.

 

Dan pangeranku itu mulai berjalan ke arah pencopet yang tersungkur di depanku. Pencopet itu sudah beranjak berdiri dan berniat berlari lagi, tapi pangeran penolongku itu telah mengunci tangannya.

 

“Maaf, Tuan. Tapi tas itu bukan milikmu. Tolong kembalikan” pinta pangeran penolongku pada si pencopet.

 

Buuggghhhh!!!

 

Sebuah tinju dari pencopet itu melayang ke perut namja penolongku, membuatnya sedikit terbungkuk karena kesakitan. Melihat namja penolongku lengah, pencopet itu segera mempersiapkan pukulan keduanya.

 

“Awaaaaasssss!!!!” teriakku ketakutan. Takut namja pangeran penolongku terluka. Namun sepertinya namja penolongku itu cukup awas. Walaupun dengan posisi tubuh agak membungkuk, ia berhasil menangkap pergelangan tangan pencopet itu dan menguncinya. Si pencopet tak menyerah, ia berusaha melawan menggunakan kakinya, berusaha menjatuhkan keseimbangan namja penolongku.

 

Adegan perkelahian, pukul memukul, kunci mengunci, semuanya terjadi di depan mataku seperti sebuah film action. Dan namja penolongku, sang pahlawanku, selalu mampu mengelak dan menangkis setiap pukulan dan tendangan dari si pencopet.

 

Akhirnya, setelah perkelahian yang berlangsung sekitar sepuluh menit itu, si pencopet kelelahan dan jatuh tersungkur ke tanah. Dengan napas terengah-engah, namja penolongku segera mengambil tasku dan berjalan kembali ke arahku yang masih duduk termangu menatapnya.

 

~~Sungmin Pov~~

Aku menatap pencopet yang kini sudah tersungkur tak berdaya di hadapanku. Aku segera berjalan mendekatinya dan mengambil tas tangan kecil berwarna hitam yang tadi direnggutnya dari gadis yang sedari tadi masih terduduk enam meter dari kami karena kakinya yang terluka. Kuhampiri ia untuk menyerahkan kembali miliknya.

 

“Nona, ini tas Anda” ucapku ramah padanya. Namun yeoja itu hanya diam dan menatapku dengan mata yang membesar seperti hampir keluar, mengingatkanku pada mata indah Min Ah~ku. Haaah. Kalau saja bukan gara-gara gadis ini aku tadi takkan melemparkan anyelir putih yang sudah kupilih dan hampir ku bayar. Semoga nona pemilik toko bunga tak marah gara-gara setangkai anyelirnya kurusak.

 

“Nona? Anda baik-baik saja?” panggilku lagi, sambil menggerak-gerakkan tanganku di depan wajahnya yang masih bengong melihatku.

 

“Pangeran…” ucapnya pelan. Membuat alisku mengernyit.

 

“Maaf?” tanyaku. Apa nona ini benar-benar shock karena habis kecopetan? Atau apa karena lukanya itu sudah terinfeksi sehingga pikirannya mulai kacau? Sungminnie~ya.. apa yang kau pikirkan? Dia cuma lecet!

 

“Nona? Anda bisa berdiri?” tanyaku lagi sambil menepuk punggung tangannya. Akhirnya yeoja itu bereaksi dan mengerjap-ngerjapkan matanya seakan baru terbangun dari sebuah mimpi.

 

“A-ah.. ne. Te-terima kasih” ucapnya sambil berusaha berdiri. Sapu tangan pink yang tadi ku berikan masih bersih di tangannya, belum ia gunakan untuk menghapus darah dari lukanya. Ku bantu ia berdiri.

 

“Anda bisa berjalan?” tanyaku lagi sedikit khawatir, “apakah perlu saya antar?”.

 

“A-ah, tidak. Tidak perlu. Terima kasih. Saya bisa sendiri. Gomawo sudah menolongku mengambil tasku dari pencopet itu. Apakah anda terluka?” ucapnya sambil menatap perutku yang tadi sempat terkena bogem mentah dari pencopet yang kini sudah ditangkap oleh orang-orang di sekitar kami.

 

“Tidak. Saya tidak terluka. Saya baik-bak saja” jawabku. Kemudian aku teringat pada janjiku dengan appaku. Tssk. Aku terlambat. Pasti beliau akan marah-marah. “Mmmm. Mianhe, Nona. Saya ada janji dengan seseorang dan sepertinya saya sudah terlambat. Saya pergi dulu, ne?” ucapku padanya. Namun yeoja itu tak menjawab dan hanya menatapku. Tanpa menghiraukan tatapan itu, aku segera membungkukkan badan dan berlari meninggalkan yeoja aneh yang hanya berdiri tertegun menggenggam sapu tangan pinkku.

 

~~Author pov~~

Sora hanya berdiri terpaku ketika Sungmin mulai berjalan cepat meninggalkannya.ia menatap punggung Sungmin yang menjauh hingga sosok itu menghilang dari jarak pandangnya.

 

“Appa… Eomma… apa yang harus ku lakukan? Sepertinya aku jatuh cinta…” rintihnya. Dilihatnya sapu tangan pink pemberian Sungmin tadi, pipinya bersemu merah sewarna dengan sapu tangan yang ada di genggaman tangannya.

 

Kemudian dengan langkah gontai dan agak tertatih karena luka di lututnya, ia mulai berjalan menuju restoran Konna Beans, tempat appa dan calon suaminya menunggu.

 

 

@Konna Beans

~~Sora Pov~~

Aku masih tertatih ketika berjalan keluar dari rest room. Tadi sewaktu memasuki restoran, aku tak langsung ke tempat appa dan calon suamiku menunggu, tapi aku langsung ke restroom untuk membersihkan luka dan lecet yang kualami akibat terjatuh tadi.

 

Perlahan, aku berjalan menuju meja yang dipesan appaku. Appaku sudah duduk disana dengan wajah berseri-seri. Aku tak bisa melihat wajah calon suamiku dan appanya karena posisi duduk mereka yang membelakangiku.

 

“Maaf, Appa. Aku terlambat” ucapku sopan dengan sedikit nada takuttakut appaku akan marah karena keterlambatanku.

 

“Hahaha, tidak apa-apa, chagi~a. Sungmin-ssi calon suamimu juga baru saja datang. Kalian belum menjadi suami istri saja sudah kompak. Apalagi nanti kalau sudah resmi. Betul kan besan? Hahahaha…” jawab appaku yang diiyakan oleh seorang ahjussi di hadapannnya.

 

“Hahahaa… betul sekali, besan…” jawab ahjussi tua yang ku yakin adalah calon mertuaku.

 

“Ayo chagi~a. Beri salam untuk calon mertuamu dan calon suamimu!” perintah appaku, yang segera kulaksanakan.

 

“Kang Sora, imnida. Senang bertemu dengan Anda berdua” sapaku sambil membungkukkan badan.

 

“Hahahaa. Dia cantik bukan, Sungmin~ah? appa benar-benar tak salah pilih, hahahaa…” ujar calon mertuaku sambil menoleh ke arah puteranya yang notabene akan menjadi suamiku. Kuikuti arah pandangan beliau dan menatap wajah calon suamiku, yang kini sama-sama tertegun menatapku.

 

“Pa-pangeran???!!!” pekikku pelan.

 

 

Seoul, 12 March 2007

Lee Family House

~~Author Pov~~

Rumah keluarga Lee terlihat begitu ramai oleh para tamu yang menghadiri pernikahan Sungmin dan Sora. Di antara hiruk pikuk pesta itu, Sora sedang sibuk membalas salaman dan ucapan selamat dari para tamu undangan. Binar-binar kebahagiaan memancar dari wajah manisnya. Bagaimana tidak? Keinginannya untuk menikah dengan orang yang ia cintai akhirnya terwujud. Dan bahkan suaminya adalah sosok yang sama dengan pangeran yang selalu ada di dalam mimpinya.

 

“Kyu, mana Sung Oppa? Bukankah upacaranya sepuluh menit lagi dimulai?” tanya Sora pada Kyuhyun, keponakan Sungmin yang saat itu ada di dekatnya.

 

“Ah, tadi ia masuk ke kamarnya, Noona. Chagi~a, coba kau panggilkan Sungmin hyung” jawab Kyuhyun sambil meminta tolong pada sosok yeoja cantik bergaun ungu yang sedari tadi berdiri di samping Kyuhyun. Park Min Ah, namjachingu Kyuhyun. Mau tak mau Sora menatap lembut yeoja cantik yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu. Sora anak tunggal, jika ia punya kesempatan untuk memiliki adik, maka Min ah lah yang ia inginkan untuk bisa menjadi adik kandungnya. Gadis yang tak hanya cantik secara fisik, tapi juga cantik dan lembut dalam hal hati dan kepribadian. Sosok yang diidam-idamkan oleh banyak pria seharusnya.

 

“Baiklah. Aku akan segera kembali” jawab Min Ah sambil segera berlalu menuju kamar Sungmin.

 

~~Sora Pov~~

Sudah lima menit berlalu sejak Min Ah pergi ke kamar Sung Oppa, calon suamiku. Tapi sampai sekarang mereka tak muncul. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa Sung Oppa sakit? Batinku khawatir.

 

“Kyu, tolong handle tamunya dulu ya? aku akan menyusul Min Ah ke kamar Sung Oppa” ujarku pada Kyuhyun. Ia hanya menjawab dengan menggerakkan telapak tangannya ke kening memberi tanda hormat seperti seorang tentara dan memamerkan senyum evilnya. Aku hanya menggeleng dan mulai berjalan ke kamar Sung Oppa.

 

Pintu kamar itu setengah terbuka. Aku segera mempercepat langkahku mendekati pintu kamar calon suamiku. Namun tepat satu langkah dari ambang pintu, langkahku terhenti ketika mendengar suara calon suamiku.

 

“Apa kau tahu, Ah~ya? Di sini, di dalam dada ini, hanya ada namamu, wajahmu, dan senyummu. Aku sudah berusaha untuk menepisnya. Aku sudah berusaha menyukai gadis yang bernama Kang Sora itu. Tapi tetap saja ia tak bisa menggantikan posisimu di sini”

 

Deg!

 

Rasanya jantungku berhenti mendengar ucapan itu. Orang yang akan menjadi suamiku, ternyata mencintai gadis lain. Dan bahkan gadis itu adalah Min Ah! gadis yang kuanggap sebagai adikku sendiri.

 

Dengan agak takut aku sedikit melongokkan kepalaku ke dalam kamar, melihat apa yang terjadi. Di sofa, kulihat Sung Oppa dan Min Ah duduk berdampingan. Tangan Sung Oppa menggenggam erat tangan Min ah dan meletakkannya di dada Sung Oppa. Pemandangan yang cukup menyakitkan. Tapi aku terlalu penasaran untuk mengetahui jawaban Min ah. kalau Min Ah juga menyukai calon suamiku, maka berakhirlah pernikahan ini. Aku tak mungkin bisa mengalahkan gadis ayu itu.

 

“Aku takkan bosan untuk mengulang kata-kata ini, Oppa. Sekarang, besok ataupun seterusnya, aku hanya mencintai Kyuhyun. Kyuhyun adalah kekasihku dan Oppa adalah Oppaku. Arratchi? “ jelas gadis itu pada Sung Oppa, membuatku tersenyum. Kau memang gadis yang sangat setia, Min ah~ya.

 

“Apakah benar-benar tak ada kesempatan untukku?” tanya Sung Oppa keukeuh.

“Tak pernah ada kesempatan untukmu ataupun untuk namja lain, Oppa”

 

“Kalau begitu, bolehkah aku meminta sesuatu darimu?” pinta Sung Oppa, membuat dadaku berdebar begitu kencang. Antara penasaran dan sakit. Apa yang akan kau minta, Oppa? Batinku.

 

“Apa?”

“Untuk pertama dan terakhir kalinya, bolehkah aku memelukmu?”

 

Deg! Plaassh!

 

Rasanya jantungku pecah mendengar permintaannya itu. Kulihat ada keraguan di wajah cantik Min ah, setelah sejenak kulihat ia berpikir, akhirnya gadis itu mengangguk. Sung Oppa langsung memeluk Min Ah dengan kalap.

 

Oppa, tahukah  kau kalau melihatmu memeluk gadis lain itu sangat menyakitkan bagiku?

 

“Maukah kau membalas pelukanku?” suara Sung Oppa terdengar begitu memelas dan menyesakkan. Oppa, apakah kau begitu terpaksa menikah denganku?

“Baiklah. Anggaplah ini sebagai kado pernikahanmu, Oppa” jawab Min ah sambil mengulurkan tangan ke punggung calon suamiku.

 

Cukup. Sudah cukup. Aku tak boleh melihatnya lagi. Aku harus segera kembali ke pesta. Aku tak boleh menyakti perasaanku sendiri.

 

Sora~ya, kalau ia memang jodohmu, ia akan tetap menikahimu. Tapi kalau bukan jodohmu, maka ikhlaskanlah! Pangeranmu berhak bahagia dengan pilihannya!

 

Aku berusaha menguatkan diriku sendiri. Tak pelak setetes air mata tetap menetes di pipiku. Aku segera menghapusnya dengan lembut agar make-upku tak rusak. Kemudian mencoba tersenyum.

 

“Ayo, Sora~ya! Ini hari pernikahanmu, kau tak boleh patah hati! Hwaiting!”

 

 

Seoul, 15 July 2010

Lee Sungmin-Sora Apartment

~~Author Pov~~

Sora sedang sibuk merangkai bunga anyelir di dalam vas di meja ruang tamu. Tak jauh darinya, Park Min Ah sedang menggendong Lee Jinki, anak Sora, sambil bersenandung kecil berharap agar bocah berusia hampir dua tahun itu segera tertidur.

 

Sora tersenyum menatap cara Min Ah yang memperlakukan Jinki bagaikan anaknya sendiri itu. Sejak lahir, Jinki memang sangat dekat dengan Min Ah. Bahkan mungkin bagi Jinki, Min Ah adalah eomma keduanya. Sering kali Jinki akan rewel bila tak bertemu Min Ah lebih dari sehari.

 

Apakah itu karena cinta appamu pada Min Ah, chagi~ya? karena itu kau juga menyukainya? Sering kali pertanyaan itu dilontarkan Sora pada Jinki ketika Jinki sedang rewel merindukan Min Ah.

 

Terus terang seharusnya Sora berterima kasih pada kebaikan hati dan kesetiaan Min Ah. Karena kesetiaannya pada Kyuhyun, Sungmin tetap menikahi Sora. Karena kebaikan hati Min Ah, sampai sekarang mereka tetap seperti keluarga, karena gadis ayu itu tak pernah menceritakan kejadian di kamar Sungmin demi tak melukai perasaan Sora. Sora sangat menyadarinya. Andai saja gadis itu tahu bahwa sebenarnya Sora melihat sendiri kejadian itu dengan kedua matanya.

 

“Jadi kau mau pakai hanbok warna apa untuk wisudamu minggu depan, saeng?’ tanya Sora memecah keheningan yang terjadi. Tadi Min Ah mengajak Sora untuk mencarikan hanbok yang bagus yang bisa dikenakannya ketika wisuda minggu depan.

“Mmmh… aku bingung, eonni. Karena itulah aku kesini. Ayo temani aku beli hanbok yang bagus”

 

“Baiklah, biar aku selesai menata rangkaian bunga ini dulu, ne? Apa Jinki sudah tidur nyenyak? Lebih baik tidurkan saja ia di kamarnya” jawab Sora.

 

 

~~Sora Pov~~

Aku masih sibuk mencoba menata rangkaian anyelir putih untuk suamiku. Bagaimanapun, mau tak mau, aku harus merangkanya dengan indah. Karena berkat anyelir putih inilah aku bisa jatuh cinta pada suamiku. Pangeran anyelir putih yang sudah menolongku dari pencopet. Berkat anyelir putih inilah, suamiku bisa tersenyum setiap pagi untukku. Karenanya, karena aku ingin melihat senyum itu setiap hari, karena aku ingin memiliki senyum lembut itu, aku melakukan rutinitas merangkai bunga ini setiap hari.

 

“Anyelir putih, cinta yang tulus. Sepertinya Sung Oppa benar-benar mencintaimu, eonni…” ujar Min Ah setelah menidurkan Jinki. Kemudian gadis itu duduk di sampingku dan membantu memotong beberapa tangkai anyelir putih. Aku tertegun mendengar ucapannya.

 

“Benarkah itu arti anyelir putih, saeng? Tssk… dugaanku benar ternyata!” ucapku, mencoba menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya.

“Dugaan apa, eonni?”

 

“Sung Oppa menyukai anyelir putih ini jauh sebelum kami menikah, saeng. Dia bilang anyelir putih selalu mengingatkannya pada seseorang. Jadi menurut intuisiku sebagai seorang istri, sampai sekarang Sung Oppa masih menyimpan perasaannya untuk orang itu” jelasku, mencoba mencari tahu perasaan Min Ah pada suamiku, dan mencoba mencari tahu pendapatnya tentang perasaan suamiku terhadapnya.

 

“Apa kau tahu siapa gadis yang disukai Sung Oppa sebelum menikah denganku, saeng? Gadis itu beruntung sekali bisa mempertahankan separuh hati suamiku bersamanya” lanjutku lagi. Kulihat ada perubahan di raut wajahnya. Tapi gadis itu terlalu baik padaku, ia berusaha menyembunyikannya.

 

“A, ani. Aku tak tahu, Eonni” jawabnya singkat sambil tersenyum, mencoba menyembunyikan perasaan bersalahnya padaku. Kau memang gadis yang sangat baik, Min Ah. Tak salah bila suamiku masih saja mencintaimu.

 

“Ya sudahlah. Ngomong-omong, dimana Kyuhyun? Beberapa bulan ini aku jarang melihatnya?” tanyaku mencoba mengalihkan perasaan bersalahnya, tapi ia kini justru tersenyum getir.

 

“Kyuhyun sedang sangat sibuk, eonni. Katanya ia sedang mengurusi proyek resort baru di Pulau Jeju. Aku juga sudah satu bulan tak bertemu dengannya” jawabnya dengan mata sendu. Pasti ia sangat merindukan namja evil itu.

 

“Aigoo… dasar evil itu! Bagaimana dengan rencana pernikahan kalian? Bukankah dulu kalian bilang akan menikah segera setelah kau wisuda, saeng? Tak baik pacaran terlalu lama!” ujarku mencoba bercanda. Tapi sepertinya ucapanku salah. Wajahnya berubah tambah sendu.

 

“Entahlah, eonni. Akhir-akhir ini ponsel Kyu tidak bisa dihubungi. Jadi kami belum tahu kepastian pernikahan kami” jawab yeoja ayu itu seadanya. Aku mencoba tersenyum untuk menguatkannya.

 

“Sudahlah, saeng. Tak perlu mengkhawatirkan evil itu. Mungkin dia sibuk bekerja untuk mengumpulkan biaya pernikahan kalian. Kajja kita segera berangkat, keburu Jinki bangun nanti!” ucapku mencoba menentramkan hati gadis baik hati itu. Dan kami pun segera melangkah keluar apartemen dengan perlahan, takut membangunkan Jinki yang sedang tertidur lelap.

#Flashback End

 

 

 

Back to Seoul, 21 July 2010

@Lee Sungmin-Sora Apartement

~Author Pov~

Sora menatap trenyuh wajah imut suaminya yang kini tertidur di pangkuannya setelah menangis cukup lama. Di sapunya sisa air mata yang masih membekas di pipi chubby suaminya itu dengan lembut. Kemudan ia mengecup kening Sungmin.

 

“Apa ini ada hubungannya dengan gadis anyelir putih itu, pangeranku?” tanyanya sendu sambil mengelus rambut Sungmin.

 

“Bisakah kau memberikan seluruh hatimu untukku, Pangeran? Bisakah aku memiliki hatimu seutuhnya?” lanjutnya sambil menatap miris vas anyelir putih yang masih berdiri tegak di atas meja tamu.

 

 

Seoul, 3 August 2010

@Seoul Hospital

~Sungmin Pov~

Aku berlari-lari di sepanjang koridor setelah mendapatkan kabar dari Sora bahwa saat ini Jinki harus dirawat di rumah sakit karena demamnya tak kunjung turun. Dokter memperkirakan bahwa anak kami terkena gejala Demam Berdarah.  Memang seminggu terakhir ini Jinki sering mengalami demam dan sangat rewel. Sora terlihat kewalahan dibuatnya. Tapi kami kira ia hanya panas biasa. Dan aku kira ia sedang merindukan seseorang. Orang yang sama dengan orang yang dirindukan appanya.

 

Berlari-lari di koridor rumah sakit ini, mengingatkanku pada kejadian dua minggu yang lalu ketika gadis itu memintaku untuk menghilang dari kehidupannya. Sebuah pukulan telak yang sangat menyakitkan bagiku. Membuatku cukup terpuruk. Namun, untungnya, ada Sora di sampingku, dan ada Jinki di hidupku, yang membuatku mengingat janjiku pada gadis bernama Park Min Ah itu. janji bahwa aku harus menjadi suami dan appa yang baik.

 

“Bagaimana keadaannya, chagi~a?” tanyaku pada Sora ketika sudah sampai di ruang perawatan anak nomor 05, ruang tempat Jinki-ku di rawat.

 

Sora yang saat ini duduk di samping ranjang Jinki menoleh ketika aku masuk. Kulihat ada lingkaran hitam di matanya, terpampang jelas di wajahnya yang terlihat begitu lelah.

 

“Demamnya sudah turun, Oppa… dan ia sudah bisa tidur tadi” jawabnya lirih.

 

Aku segera mendekatinya, menepuk bahunya, berusaha memberikan semangat untuknya. Aku tahu betapa lelahnya ia mengurus kami berdua. Jinki yang rewel dan demam tinggi, dan aku yang hanya terduduk bengong selama seminggu memikirkan ucapan Min Ah kepadaku.

 

Kutatap wajah istriku dengan lembut. Kau istri yang sangat kuat, chagi~a. Terima kasih bertahan mendampingiku sejauh ini. Batinku.

 

“Apa benar-benar tak ada kabar dari Min ah, oppa? Jinki sepertinya sangat merindukan Min Ah” tanya Sora membuat hatiku mencelos. Apa yang harus kukatakan padanya? Haruskah aku berbohong pada istriku?

 

“Min Ah… pergi ke Amerika, chagi~a. Dan ia tak ingin diganggu…” ucapku perlahan, sambil menahan rasa sesak yang ada di dadaku. Sora, dengan naluri keibuannya yang begitu tajam, segera bangkit dan memelukku.

 

“Oppa? Gwechana? Jebal katakan padaku! Jangan memendam semuanya sendirian…” pintanya. Kutatap manik mata yeoja yang telah setia mendampingiku selama ini dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kekuatan dari kasih sayang yang terpancar dari matanya itu.

 

“Min ah… sudah dicampakkan… Kyuhyun…” ucapku terbata.

 

 

~Sora Pov~

“Min Ah… sudah dicampakkan… Kyuhyun…”

 

Duarrrrrr!!!!

 

Seperti ada petir yang menyambar pendengaranku. Gadis itu? gadis sebaik itu? dicampakkan oleh namja evil itu?

 

Seakan ada yang menarikku, memoriku berputar kembali ke kejadian tiga minggu lalu di Konna Beans setelah kami membeli hanbok untuk wisuda Min Ah. Aku meminta gadis itu masuk lebih dulu ke restoran karena aku harus mengurus pembayaran hanboknya. Dan ia menurutiku. Tapi ketika aku mendatanginya, kulihat ia sedang menangis. Dan ketika ia kutanya, ia bilang hanya kelilipan, dan sedang tidak enak badan. Inikah alasannya? Omooo… Tuhan… kenapa kau begitu kejam pada gadis sebaik dia?

 

“A-apa Min Ah baik-baik saja?” tanyaku berhati-hati. Inikah sebabnya kau begitu sedih selama ini, Oppa? Ternyata benar-benar karena gadis anyelir putih itu.

 

Segera kurengkuh tubuh suamiku yang terlihat begitu rentan itu, seperti barang yang mudah pecah, dengan hati-hati ku bimbing ia duduk ke sofa. Dan suamiku hanya menurut dan menggenggam tanganku erat, seperti meminta dukungan sepenuhnya dariku.

 

“Yeoja itu, masuk rumah sakit karena berusaha menenggelamkan diri ke sungai” ucap suamiku lirih. Mataku terbelalak mendengarnya.

 

“Jinja?” tanyaku meminta kepastian.

“Ne. Untung ada seseorang yang menolongnya. Dia selamat, chagi~a. Tapi…” suara suamiku tiba-tiba lirih dan seperti tersedak. Kugenggam erat tangannya memberinya kekuatan agar ia dapat bertahan.

“…tapi ia tidak bisa menemui kita lagi. Ia terlalu terluka karena perbuatan Kyuhyun padanya. Jadi ia ingin menjauh dari kehidupan kita, karena kehadiran kita mengingatkannya pada Kyuhyun…” lanjut suamiku dengan nada mencoba untuk tetap tegar. Tapi aku sangat yakin bahwa di balik sikapnya yang tegar itu, hatinya sedang  sangat rapuh. Serapuh sikapnya ketika menangis di pangkuanku dua minggu yang lalu.

 

“Tak apa-apa, Oppa. Mungkin Min Ah butuh waktu untuk mengobati lukanya. Tenanglah. Ada aku dan Jinki di sampingmu…” ucapku lembut padanya. Seperti seorang ibu yang mencoba menenangkan anaknya yang sedang terluka.

 

“Ayo kita doakan yang terbaik untuk Min ah, agar gadis baik itu segera mendapatkan pengganti Kyuhyun di Amerika” Suamiku hanya mengangguk dan tersenyum lembut padaku.

 

“mma…. mma…. ppa…. ppa….” sebuah suara imut terdengar dari ranjang Jinki, menyadarkan kami berdua. Aku dan Sungmin Oppa segera bangkit menghampiri anak kami. Dan dengan sangat sadar, aku merasakan sorot mata yang lain dari suamiku. Tak seperti sorot mata yang biasanya setengah kosong. Di mata itu, kulihat ada cinta yang perlahan-lahan tumbuh, dan memenuhi cara pandangnya terhadapku.

 

 

Seoul, 14 February 2013

@Lee Sungmin-Sora Apartment

~Author Pov~

“Chagi~a! Apa Jinki sudah siap?” teriak Sungmin dari arah ruang tamu.

 

“Sebentar lagi, Oppa” balas Sora dari dalam kamar. Tangannya sibuk membenahi dasi kupu-kupu kecil yang menghiasi tuxedo yang dikenakan Jinki.

 

“Cja! Neomu kyeopta! Anak appa dan eomma benar-benar tampan” pujinya pada Jinki. Bocah berusia lima tahun itu hanya nyengir imut.

 

“Kata appa, kita mau ketemu bidadali, benalkah itu eomma?” ujar Jinki polos, matanya menatap penuh harap. Sora tersenyum dan mencubit gemas pipi anaknya itu.

 

“Benar, chagi. Kita akan bertemu dengan bidadari yang sangat sangaaat cantik dan baik hati. Kau pasti akan sangat senang bertemu dengannya” jawab Sora penuh kebahagiaan. Kemudian diambilnya undangan berwarna biru yang tergeletak di meja riasnya sedari tadi. Ditunjukkannya undangan itu pada Jinki.

 

“Lihat, bidadari itu mengirimi kita undangan. Bidadari kita telah bertemu dengan pangeran impiannya, seperti eomma yang bertemu appamu” ucap Sora pada Jinki yang hanya menatapnya riang.

 

“Siapa nama bidadali dan pangelan itu, eomma?” tanya Jinki penuh antusias.

“Namanya? Hmmm, coba eomma bacakan untuk Jinki dulu ne?” jawab Sora sambil membuka undangan yang dipegangnya. “Lihat, bidadari cantik itu bernama Park Min ah, dan pangerannya bernama Lee Donghae. Cja! Lihat fotonya! Bidadarinya sangat cantik, bukan?” Sora menyodorkan undangan itu ke arah putranya. Begitu melihat foto di undangan itu, mata Jinki langsung membesar.

 

“Kyaaa…!!! Neomu neomu yeppeo!!! Jinki mau punya isteli sepelti bidadali ini, eomma!” teriak Jinki membuat Sora terkekeh.

 

“Kau memang anak appa-mu, chagi!” ucap Sora sambil kembali mencubit gemas anaknya.

 

“Chagi~a. Kenapa lama sekali? Kita sudah terlambat!” kata Sungmin yang tiba-tiba muncul di pintu kamar. Raut wajahnya terlihat sangat tidak sabar. Sora hanya bisa tersenyum menatap tingkah laku suaminya itu. segera dituntunnya Jinki menuju suaminya.

 

“Apa kau juga tak sabar bertemu bidadari, Oppa?” sindirnya pada suaminya. Sungmin hanya terkekeh pelan. Terlihat raut wajah malu di pipinya yang memerah. Sora ingat betul bagaimana ekspresi Sungmin ketika menerima undangan berwarna biru itu. seperti seorang anak kecil yang mendapatkan hadiah natal pertamanya.

 

Cemburu? Tidak. Sora sama sekali tak cemburu. Ia justru ikut bahagia. Setelah tiga tahun menghilang, Min ah kembali memasuki kehidupan mereka  dengan sebuah kabar gembira. Sebuah pesta pernikahan. Sebuah kelegaan tersendiri bagi Sora karena akhirnya bisa melihat gadis baik itu menemukan cintanya kembali.

 

“Aku juga sudah tak sabar bertemu dengan bidadari itu, Oppa. Kajja kita berangkat” ujar Sora sambil menggandeng Sungmin yang kini telah menggendong Jinki, dan berjalan keluar kamar.

 

Ketika melewati ruang tamu, Sora menyempatkan melihat vas bunga yang menghiasi meja tamu mereka. Vas bunga itu, sudah tiga tahun ini tak lagi berisi anyelir putih. Vas bunga itu, sudah tiga tahun ini berisi bunga tulip kuning. Bunga yang penuh harapan dan cinta. Bunga dari Sungmin untuknya. Bukan lagi bunga dari Sungmin untuk Min ah. Sebuah senyum lebar menghiasi wajah Sora.

 

Gomawo, gadis anyelir putih. Berkatmu, aku bertemu dan jatuh cinta pada pangeran anyelirku, dan berkatmu pula, aku kini mendapatkan cinta darinya. Sepenuhnya. Bukan lagi cinta separuh hati.

 

 

#Sungmin Side Story FIN

                                                                                                                  

 

 

 

Walopun judulnya Sungmin Side Story tapi kayaknya critanya lebih mengarah ke Sora ya…  (-x-“)>  #kecewa sama sudut pandang dan karya sendiri TT_TT.

Mian kalo feel-nya gak dapet. Yang penting intinya bang Umin uda bahagia sama keluarga kecilnya (#author maksa). Buat yang nyari kabarnya Ryeowook, Hyukjae dan Kyuhyun sabar dulu yaa, sequelnya harus dibuat sesuai urutan waktunya biar pas dg timeline di seriesnya.

Jangan lupa RCL ne???? Setiap RCL anda sangat berharga bagi author.

 

Pai pai readers, sampai jumpa di side story-nya pengantar bunga kita alias side story-nya Bang Wookie ^^

 

 

Jeongmal Gomawo buat Readers yang mau RCL FF gila ini ^^

*BOW…

3 thoughts on “ANOTHER OF THE ONE I LOVE (Sungmin Side Story) // SEQUEL 1 OF 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s