THE ONE I LOVE (PART 6) // SERIES

 

TOIL6

Title     : The One I Love (Part 6)

Author  : Andriya a.k.a Istri Sah Lee Donghae

Genre   : Romance, Sad (?)

Rating  : PG 17

Length : Series

Cast :

         Cho Kyuhyun

         Park Min Ah

         Lee Donghae

         Lee Hyukjae

         Lee Sungmin

         Etc (berkembang sesuka hati author)

 

 

 

Annyeong readers ^^  #bagi2 Pa***ol bareng Bada, Choco ples Heebum.

 

Warning : FF ini terinspirasi dari drama “Reply 1997”. Otomatis banyak flashbacknya. FF ini mengandung unsur mbulet dan membuletkan, bingung dan membingungkan, dan memberikan efek pusing, mual, dan muntah karena kebingungan2 yang terjadi.

 

Biar readers nggak bingung sama timeline-nya, author sengaja bikin urutan flashback kisah kandasnya hubungan Kyu-Min Ah di Pantai Gading (#authortambahsedeng), dengan begitu ntar kita bisa main tebak2an kemana akhirnya hati Min Ah berlari (#yang jelas bukan ke pantai, ke gunung, ato ke hutan lho yaa…).

 

Dan bagi readers yang masih saja tetep pusing membaca FF aneh ini, dipersilakan minum Pa***ol, ne?.

 

DISCLAIMER : This story is orriginaly MINE.

 

RULE : NO COPAST, NO BASH dan jangan lupa RCL-nya chingu ^_^. Bagi para PLAGIAT saya doakan Anda gudikan, cacar air, jerawatan sampai tua. Amin.

 

 

 

 

 

Yesungdahlah, tanpa banyak cuap2 lagi author mengucapkan:

 

Happy Readdangkkoma ^____^

 

 

“Terkadang, benang merah yang menghubungkan jari kelingking kita, akan tersangkut pada benang yang salah karena rumitnya jalinan benang-benang itu. Tapi, Tuhan dengan cara-Nya, akan melepaskan jalinan yang rumit itu, meluruskannya, dan mengembalikan ikatan kita pada ujung benang yang tepat”

 

 

 

#Part 6 Begin#

 

Seoul, July 2010

@Konna Beans Cafe

~~Author Pov~~

Kyuhyun berjalan memasuki Konna Beans, dan langsung menghampiri meja paling depan. Di meja itu, seorang yeoja sudah menunggunya. Yeoja yang menunggu Kyuhyun itu segera berdiri, menyambut Kyuhyun dan memeluknya dengan mesra. Kemudian kedua sejoli itu segera duduk berdampingan.

 

“Oppa… Bogoshippeoyo. Kau terlalu sibuk dengan yeoja kuno itu ya? hingga melupakanku?” ucap yeoja itu manja membuka pembicaraan. Kepalanya bersandar di dada bidang Kyuhyun.

“Aniya, chagi. Aku sudah jarang bertemu dengan Min Ah. Aku hanya banyak pekerjaan akhir-akhir ini, hingga belum sempat menemuimu. Mianhe. Kau memaafkanku?” jawab Kyuhyun sambil mengecup punggung tangan yeoja itu.

 

~~Kyuhyun Pov~~

Aku menatap yeoja cantik yang berada di dalam dekapanku saat ini. Park Min Ah? Bukan. Yeoja seksi ini bernama Jung Miri. Sekretaris direktur dari Neoplasma Department Store. Aku sudah berhubungan dengannya sekitar enam bulan.

 

Selingkuh? Bukan. Aku bukan selingkuh. Aku hanya ingin mendapatkan kebebasanku sendiri. Aku sekarang sudah sukses, aku sudah mapan, jadi aku berhak mengatur hidupku sendiri. Aku berhak menentukan apa yang boleh aku makan ataupun tidak. Aku berhak menentukan apa yang boleh aku lakukan ataupun tidak. Aku berhak bergaul dengan siapapun yang aku inginkan.

 

“Tssk… kau bilang sudah bosan dengannya, Oppa… kenapa kau tak segera memutuskannya?” ucap Miri dengan nada manja. Aku sangat senang mendengar suara yeoja ini. Seksi dan mendesah, terus menerus menggoda telingaku agar selalu mendengar setiap tutur kata yang diucapkannya. Sangat berbeda dengan cara berbicara Min Ah.

 

Selama lima tahun kami bersama, tapi gadis itu sama sekali tak berubah sedikitpun. Terlalu polos dan terlalu sederhana. Membuatku merasa jenuh bila bersamanya. Hey, lihatlah aku! Aku eksekutif muda! Harusnya aku ditemani gadis-gadis cantik berpakaian seksi. Tapi apa yang ia lakukan? Masih saja sama seperti gadis SMA, tak pernah memakai gaun seksi, tak pernah memakai make-up. Sungguh penampilan yang membosankan.

 

“Aku belum menemukan alasan yang tepat untuk memutuskannya, chagi..”

“Tssk.. untuk apa mempertahankan sesuatu yang justru memenjarakan kebebasanmu, Oppa? Apa kau tak lelah diatur-atur terus oleh yeoja seperti itu? Tak boleh merokok! Tak boleh minum alkohol! Tak boleh makan ini! Harus makan itu! Rasanya dia lebih cocok jadi ibumu dibandingkan jadi kekasihmu, Oppa!” protes Miri yang membuatku tersenyum. Benar sekali perkataannya. Park Min Ah memang lebih pantas jadi ibuku dibandingkan jadi kekasihku. Ia yang selalu mengakomodasi kebutuhanku. Perhatiannya kepadaku memang sudah melewati batas, dan benar-benar memenjarakan kebebasanku.

 

“Aku tahu, chagi… tapi aku harus mencari alasan yang tepat dulu, ne? Min Ah gadis yang polos dan baik. Aku tak mau melihatnya terluka karena tahu aku berselingkuh. Arratchi?” kataku mencoba bernegosiasi dengannya. Yeoja bernama Miri itu mempoutkan bibir merahnya, benar-benar menggemaskan, membuatku ingin segera melumatnya.

 

“Arra.. Arra… segera putuskan dia, ne? Aku sudah lelah main petak umpet seperti ini. Rasanya aku ikut-ikutan terpenjara bersamamu!” keluhnya.

“Akan segera kuusahakan, chagi. Bersabarlah sebentar lagi, ne?” pintaku. Kukecup puncak kepalanya, berharap agar emosinya menurun.

 

“Ye. Baiklah. Aku akan lebih bersabar sedikit lagi” ucapnya, “Ah, Oppa… apa kau masih sering meniduri gadis kuno itu?” tanyanya tiba-tiba. Aku berpikir sejenak, mencoba mengingat-ingat.

 

“Ani. Sudah empat bulan kami tak melakukannya. Bahkan dua bulan ini aku sama sekali tak menyentuhnya. Lagipula, untuk apa aku menyentuh yeoja membosankan seperti dia, chagi? Aku punya yeoja yang cantik dan menggoda iman disini” jawabku sambil mencoba merayunya. Kuelus lembut pipinya.

 

“Jinja? Benarkah?” teriaknya girang. Aku mengangguk pelan, dan yeoja itu segera memelukku.

“Hihihi. Oppa, kalau begitu ayo kita melakukannya… aku sudah rindu belaianmu…” bisiknya mendesah, menggetarkan jantungku. Aku segera menatapnya.

“Apa kau begitu menginginkannya?” yeoja seksi itu mengangguk.

“Sekarang? Dimana?”

“Di apartemenku saja! Kajja! Aku benar-benar ingin bersenang-senang denganmu hari ini!” jawabnya tak sabar

sambil berdiri dan menarik tanganku untuk segera keluar dari cafe. Dan aku hanya terkekeh mengikutinya.

 

~~Author Pov~~

Kyuhyun dan Miri segera berjalan keluar dari Konna Bean Caffe dan bergandengan tangan dengan mesra. Sementara itu, di meja tepat di belakang meja yang digunakan Kyuhyun dan Miri tadi, duduk seorang yeoja cantik dengan kepala tertunduk. Tangannya yang memegang mug berisikan cappuchinolatte itu bergetar hebat. Bulir bulir air mata mengalir deras di pipinya dan kemudian jatuh membasahi pangkuannya.

 

“Oppa…. waeyo? Aku percaya padamu. Aku percaya pada hatimu. Aku mempercayaimu…” bisiknya lirih disela-sela isakan tangisnya.

 

 

#Flashback in Flashback

2 hours ago

@Sungmin-Sora Apartement

~~~Min Ah pov~~~

Aku menggendong Lee Jinki, anak Sora Eonni, sambil bersenandung kecil, dan berharap agar bocah berusia hampir dua tahun itu segera tertidur. Bocah itu sedari tadi hanya tertawa-tawa dan menggeliat manja di gendonganku. Aku sangat menyayangi bocah ini. Jinki sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Aku menatapnya penuh rasa sayang.

 

Mianhe, chagi. Maafkan eomma-mu yang jahat ini, batinku lirih pada aegyku yang sudah ada di surga.

 

Andaikan dulu aku mempertahankan aegyku, pasti sekarang anak itu sudah lebih besar dari Jinki. Perasaan menyesal kembali menerpaku. Segera kupeluk erat bocah di gendonganku itu, berusaha menyalurkan rasa kasih sayang yang ingin kuberikan pada aegyku sendiri. Jinki sedikit menggeliat, menguap, dan kemudian matanya mulai terkatup rapat.

 

“Jadi kau mau pakai hanbok warna apa untuk wisudamu minggu depan, saeng?’ tanya Sora eonni yang sedari tadi sibuk menata anyelir putih ke dalam vas.

“Mmmh… aku bingung, eonni. Karena itulah aku kesini. Ayo temani aku beli hanbok yang bagus” ajakku.

 

“Baiklah, biar aku selesai menata rangkaian bunga ini dulu, ne? Apa Jinki sudah tidur nyenyak? Lebih baik tidurkan saja ia di kamarnya” jawab Sora.

 

“Anyelir putih, cinta yang tulus. Sepertinya Sung Oppa benar-benar mencintaimu, eonni…” ujarku setelah menidurkan Jinki dan kembali ke ruang tamu, mengamati Sora eonni yang sibuk berkutat dengan rangkaian bunganya.

 

“Benarkah itu arti anyelir putih, saeng? Tssk… dugaanku benar ternyata!”

“Dugaan apa, eonni?’ tanyaku sambil membantu Sora memotong beberapa bagian batang anyelirnya.

“Sung Oppa menyukai anyelir putih ini jauh sebelum kami menikah, saeng. Dia bilang anyelir putih selalu mengingatkannya pada seseorang. Jadi menurut intuisiku sebagai seorang istri, sampai sekarang Sung Oppa masih menyimpan perasaannya untuk orang itu” jelas Sora, “apa kau tahu siapa gadis yang disukai Sung Oppa sebelum menikah denganku, saeng? Gadis itu beruntung sekali bisa mempertahankan separuh hati suamiku bersamanya” lanjutnya membuat hatiku mencelos.

 

Sung Oppa? Benarkah? Waeyo? Lihatlah Sora Eonni yang setia di sampingmu!  Lepaskan aku!

 

“A, ani. Aku tak tahu, Eonni” jawabku singkat sambil tersenyum, mencoba menyembunyikan perasaan bersalahku pada yeoja cantik di depanku ini.

 

“Ya sudahlah. Ngomong-omong, dimana Kyuhyun? Beberapa bulan ini aku jarang melihatnya?” membuat senyuman tanda bersalahku berubah menjadi senyum getir.

 

“Kyuhyun sedang sangat sibuk, eonni. Katanya ia sedang mengurusi proyek resort baru di Pulau Jeju. Aku juga sudah satu bulan tak bertemu dengannya” ucapku sambil berusaha menyembunyikan perasaan rinduku. Aku merindukan Kyuhyun, sangat merindukannya.

 

“Aigoo… dasar evil itu! Bagaimana dengan rencana pernikahan kalian? Bukankah dulu kalian bilang akan menikah segera setelah kau wisuda, saeng? Tak baik pacaran terlalu lama!” perkataan Sora eonni tak urung membuat perasaanku bertambah getir. Aku mengingat dengan baik janji namjaku untuk menikahiku setelah aku lulus. Bahkan aku rela seringkali bertengkar dan menentang appaku agar bisa terus bersama Kyuhyun.

 

“Entahlah, eonni. Akhir-akhir ini ponsel Kyu tidak bisa dihubungi. Jadi kami belum tahu kepastian pernikahan kami” jawabku seadanya. Sora Eonni yang mendengarnya hanya tersenyum. Rangkaian bunga anyelirnya telah selesai dan ia segera meletakkannya di meja tamu.

 

“Sudahlah, saeng. Tak perlu mengkhawatirkan evil itu. Mungkin dia sibuk bekerja untuk mengumpulkan biaya pernikahan kalian. Kajja kita segera berangkat, keburu Jinki bangun nanti!” ucap Sora Eonni mencoba menentramkan hatiku. Dan kami pun segera melangkah keluar apartemen dengan perlahan, takut membangunkan Jinki yang sedang tertidur lelap.

 

Dengan menggunakan mobil Audi Biru milik Sora Eonni, kami meluncur menuju ke beberapa butik kenalan Sora Eonni untuk mencari hanbook yang sesuai denganku. Setelah keluar masuk beberapa butik, akhirnya kami menemukan hanbok yang sesuai dengan keinginanku.

 

“Paduan pink, putih dan ungu ini sangat cantik, saeng. Seleramu bagus sekali” puji Sora Eonni ketika aku mencoba hanbok yang kupilih. Aku hanya tersenyum mendengarnya.

 

“Biar aku yang membayarkannya untukmu, ne? Hitung-hitung sebagai hadiah kelulusanmu. Otte?”

“Tapi, Eonni…”

“Sudahlah. Aku lapar sekali. Aku akan menyelesaikan pembayaran hanbok ini dulu, kau duluanlah ke Cafe di depan butik ini, ne? Pesankan aku dua porsi seafood spagetti, ne?” perintahnya. Dengan terpaksa aku menuruti kemauannya, berjalan keluar dari butik dan memasuki Cafe bernama Konna Beans. Cafe  itu terlihat begitu penuh pengunjung.

 

Begitu memasuki cafe, pandanganku menelusuri seluruh ruangan untuk mencari meja yang kosong, dan aku menemukan sebuah meja di belakang seorang yeoja cantik berpakan minim dan menggoda. Aku segera menghampiri meja kosong itu dan duduk disana.

 

Baru lima menit aku duduk, kulihat seorang namja yang kukenal berjalan dengan gagah memasuki cafe.

 

Kyuhyun Oppa? Bukannya masih ada di Pulau Jeju? Kenapa bisa ada disini? Apa Sora Eonni yang memberitahunya?

 

Sebuah senyum mengembang lebar di wajahku. Betapa tidak? Namja yang paling kurindukan kini ada di hadapanku. Namja itu melambaikan  tangannya ke arahku. Kubalas lambaiannya dengan penuh semangat.

 

“Oppa, bogoship…” gerakanku yang akan berdiri menyambutnya terhenti ketika kulihat ia memeluk yeoja berpakaian minim yang duduk di meja depanku.

 

Oppa? Siapa yeoja itu? batinku, sambil kembali duduk dan mencoba mendengarkan pembicaraan mereka.

#Flashback in Flashback End

 

 

Back to this time

~~Author Pov~~

Air mata masih mengalir deras di pipi Park Min ah. tangannya yang bergetar hebat itu bergerak menuju dada kirinya, dan memukul-mukulkannya.

 

“Oppa… aku percaya padamu… aku selalu percaya padamu…” ucapnya berulang-ulang seperti mantera yang biasanya ia ucapkan ketika ia mengkhawatirkan hubungannya dengan Kyuhyun.

 

“Ah~ya? gwechana? Kau kenapa? Kenapa menangis?” ucap Kang Sora yang tiba-tiba sudah berdiri di samping meja Min Ah. Park Min ah segera melengoskan kepalanya dari Sora, dan menghapus jejak air mata yang ada di pipnya.

 

“Ah, ani. Tadi aku kelilipan, Eonni” jawab Min ah sambil tersenyum untuk menutupi kepedihan hatinya.

 

“Jinja?” tanya Sora tak percaya.

“Ye. Eonni… bisakah kita pulang saja? Tiba-tiba aku merasa tak enak badan” pinta Min ah.

“Ah, Nde. Ayo kuantar kau pulang. Kau kelihatan pucat, saeng” dan mereka berdua pun segera keluar dari Cafe.

 

 

A Week Later

@Han River’s Side

~~Author Pov~~

Min Ah berlari-lari dengan riang menuju tepi sungai Han. Tepi hanbok pink yang dikenakannya melambai-lambai ketika ia berlari. Ditangannya terdapat sebuah buket besar bunga anyelir pink yang diserahkan oleh seorang pengantar bunga bernama Kim Ryeowook di kampusnya tadi, tepat ketika acara wisuda telah selesai. Di buket itu terdapat kartu ucapan selamat karena Min Ah telah lulus dan menjadi dalah satu wisudawan terbaik.

 

Pemandangan sungai Han saat musim panas terlihat begitu indah. Seindah hatinya saat itu, karena ia akan segera menemui kekasihnya, Kyuhyun, di tempat mereka biasa berpiknik sambil memancing. Min ah dengan sengaja telah meninggalkan rombongan keluarganya di kampus, karena ia ingin merayakan kelulusannya terlebih dahulu dengan Kyuhyun. Ia ingin Kyuhyun menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat padanya secara langsung.

 

Gadis itu memperlambat larinya dan mulai berjalan santai ketika ia telah melihat sosok Kyuhyun yang menunggunya di tepi sungai. Segera dihampirinya pemuda itu. dengan penuh semangat Min ah segera memeluk sang namja dari belakang.

 

“Oppaaa…!!! Bogoshippeooyooo…” ucapnya dengan riang.  “Lihatlah! Aku jadi salah satu wisudawan terbaik! Ayo beri aku selamat!”, lanjut Min Ah sambil mengeratkan pelukannya. Namun tak ada balasan dari Kyuhyun. Namja itu hanya diam dan menatap arus sungai yang mengalir cukup deras.

 

“Oppa? Waeyo?” tanya Min Ah. Dilepaskannya pelukannya, sambil berjalan menuju ke hadapan Kyuhyun, mencoba menatap wajah namja itu.

 

“Ada apa kenapa hanya diam?” ucap Min ah, perlahan suaranya mulai serak. Gadis itu mulai menyadari kejanggalan pada raut wajah namjanya.

 

“Min Ah~ya, ayo kita putus!” ucap Kyuhyun singkat, membuat sang yeoja membelalakkan matanya.

 

~~Park Min Ah pov~~

“Min Ah~ya, ayo kita putus!” suara Kyuhyun, kekasihku, terasa seperti sebuah sabetan pedang yang mengiris jantungku.

 

“M-mwo? A-apa yang kau ucapkan, Oppa kau bercanda kan? Ini tak lucu…” ucapku sambil memegang tangannya, mencoba menepis ingatanku pada kejadan minggu lalu di Konna Beans, mencoba menghilangkan kekhawatiranku selama seminggu ini.

 

“Aku sudah tak bisa lagi bersamamu. Ayo kita putus!” lagi-lagi ia mengucapkan kata putus itu, bahkan tanpa beban. Aku masih tak percaya. Ku genggam tangannya erat.

 

“Wae? Apa salahku? Oppa sudah berjanji kita akan menikah kalau aku sudah wisuda. Hari ini aku wisuda, Oppa! Apa Oppa lupa pada janjimu?!” kali ini aku tak bisa menahan air mataku. Dengan cepat bulir-bulir itu turun deras mengaliri pipiku, membutakan pandanganku.

 

Sesak, rasanya begitu sesak mendengar kata putus dari orang yang paling kucintai.

 

“Orang tua kita tak akan pernah merestui hubungan kita, Min Ah~ya. Jebal, mengertilah. Percuma kita bersama lebih lama. Lebih baik akhiri semuanya sekarang!”

 

“Bohong!! Kita masih bisa berjuang, Oppa! Aku akan lebih meyakinkan appaku lagi! Jebal, jangan begini!” pintaku merengek-rengek, hingga jatuh bersimpuh di kakinya. Namjaku tetap berdiri tak bergeming.

 

“Jujur saja, Min Ah~ya. aku sudah bosan bersamamu. Aku lelah. Sudah lama aku ingin berpisah denganmu, tapi aku juga harus memperhatikan pendidikanmu. Karena itulah aku bersabar menunggumu lulus untuk bisa berpisah bak-baik denganmu” ucap Kyuhyun dengan wajah datar. Ku dongakkan kepalaku, menatap mata hazzelnya.

 

“Andwaee…!!! kau bohong, Oppa… apa kau sudah tak menyayangiku? Kenapa kau tega berkata seperti itu?” tanyaku dengan suara terisak. Rasanya jantungku begitu perih.

 

“Berhentilah merengek seperti anak kecil  Min ah! Aku menyayangimu! Tapi aku hanya menyayangimu sebagai teman!”

 

DEG!

 

Jantungku rasanya berhenti seketika mendengar ucapannya itu. Dengan wajah terperangah, aku mencoba berdiri, dan menatap langsung matanya.

 

“Te-teman? Apa maksudmu, Oppa? Lima tahun kita bersama! Lima tahun kita melakukan segalanya bersama! Bahkan kita membuang aegy kita! Dan kau hanya menganggapku sebagai teman??” teriakku mulai frustasi. Namun pemilik mata hazel itu sama sekali tak mengeluarkan ekspresi bersalah. Wajahnya tetap datar seperti sedang tak terjadi apa-apa.

 

“Ya! Bagiku kau hanya teman. Tak kurang, dan tak lebih. Mulai sekarang, lupakan aku dan hiduplah dengan baik!” ujarnya sambil berjalan meninggalkanku. Segera kuraih tangannya.

 

“Oppa!!!!” cegahku.

 

BRUUGHHH.

 

Dengan keras ia menepis tanganku dari lengannya, membuatku terdorong ke belakang dan jatuh bersimpuh. Buket bunga anyelir pink yang tadi kupegang jatuh berserakan di sekitarku.

 

“Jangan pernah mengingat aku lagi!” ucapnya terakhir kali, sambil terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun padaku.

 

“Oppaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!”

 

“Kyuhyun Oppaaaaaaaaaaaaaaa!!! Jebal, kembalilah…. kembalilah… hiks… hikss..”

 

Aku terus menerus berteriak memanggil namanya. Tapi namja kekasihku itu sama sekali tak kembali ke hadapanku. Bulir-bulir air mata semakin deras mengaliri mataku. Sakit, frustasi, marah, semua bercampur aduk dalam emosiku.

 

 

Semua memori kebersamaan kami selama lima tahun menari-nari di ingatanku. Berputar-putar seakan-akan mengejekku. Pertemuan kami, kebersamaan kami, aegy kami, perjuangan kami meyakinkan appaku, semua terasa menusuk-nusuk pikiranku.

 

Buliran-buliran air mata kini tak hanya membutakan mataku, tapi juga logikaku. Perlahan aku berdiri, dan berjalan menuju sungai. Aliran air yang begitu deras terlihat melambai-lambai ke arahku, mengajakku bergabung dengan tarian airnya. Sedikit demi sedikit, aku memasuki sungai, berjalan menuju ke tengah.

 

Air sungai mencapai batas pinggangku.

“Appa, Eomma, maafkan anak durhakamu ini…” ucapku sambil terus melangkah.

Air sungai mencapai batas dadaku.

“Eonni, saeng, teman-temanku, maafkan teman tak bergunamu ini…” ucapku lagi sambil terus melangkah menuju kedalaman sungai.

Air sungai mencapai batas leherku.

“Nae aegy, tunggu Eommamu yang penuh dosa ini. Aku akan ikut denganmu, ne? Kita akan bersama-sama disana” ucapku untuk terakhir kalinya.

 

Ku pejamkan mataku dan mulai memasukkan kepalaku ke dalam sungai. Aku membiarkan air sungai menelanku, menarikku, dan menghabiskan semua oksigen yang ada di paru-paruku.

 

Aku tersenyum menikmati sensasi rasa sesak yang kurasakan ini. Setidaknya sesak ini dapat menutupi rasa sakit hati yang kualami.

 

JDUUUKKKK!!!

 

Kepalaku terbentur batu besar di dasar sungai, kulihat darah menghiasi air disekitarku. Aku tersenyum ketika kesadaranku mulai memudar. Beberapa bayangan muncul di otakku, bayangan yang selama ini menghilang dari ingatanku, berputar seperti kilas balik sebuah film.

 

Diantara bayangan-bayangan itu, kulihat sesosok namja berenang ke arahku. Mata teduhnya menatap penuh kekhawatiran. Namja itu segera menarikku ke arah pelukkannya, dan membawaku berenang keluar dari sungai.

 

Antara sadar dan tidak sadar, masih dapat kulihat namja itu membaringkanku di tepi sungai, menekan-nekan perutku, menempelkan bibirnya ke bibirku, dan mencoba menghembuskan oksigen ke dalam paru-paruku.

 

“Minni~ya…! Jebal! Sadarlah! Minnie~ya…!!!” teriaknya memanggil-manggilku penuh kekhawatiran. Berulangkali namja itu berusaha memberikan nafas buatan untukku.

 

“Minnie~ya! Jebal! Jangan tinggalkan aku! Aku membutuhkanmu… Hiduplah untukku… kumohon…” pintanya. Kulihat samar-samar air mata membasahi wajah charmingnya. Tangannya berkali-kali mengusap keningku yang penuh darah.

 

Uhukkk.. Uhuukk….

 

Aku terbatuk dan memuntahkan banyak air, dengan cekatan namja itu merengkuhku dan membantuku memuntahkan semua isi perutku.

 

“Minnie~ya… Bertahanlah untukku… kumohon..” ucapnya berkali-kali sambil menepuk-nepuk punggungku. Badanku terasa begitu lemas. Rasa pening berkali-kali menarik-narik mataku agar terus terpejam. Namja itu memelukku yang terkulai lemah, berkali-kali mengecup kening dan bibirku, dan memanggilku, memanggil kesadaranku.

 

Antara gelap dan terang, kupusatkan kekuatan terakhirku di tanganku, mengulurkannya, menyentuh pipi namja itu, dan mencoba menghapus air matanya.

 

“….Lee…?” panggilku sebelum akhirnya kegelapan benar-benar menguasaiku dan menyuguhiku dengan adegan yang sama dengan yang kulihat di dasar sungai.

 

 

#Flashback in Flashback

(cek part 2)

Mokpo, December 1995

~~~Author Pov~~~

Donghae kecil memeluk erat Min Ah setelah mereka berdua melakukan janji kelingking.

 

“Jangan lupa sama janji kita, ne?” pinta Min Ah setelah Donghae melepaskan pelukannya.

“Ye. Aku akan selalu mengingatnya”

 

“Jangan selingkuh sama bule Amerika, ne?”

“Ye. Aku hanya akan mencintaimu. Sejak lahir, sekarang, nanti ketika aku dewasa, ataupun sampai aku tua aku akan terus mencintaimu. Hanya mencintaimu seorang” janji Donghae. Kemudian tangannya bergerak mengambil sesuatu yang sedari tadi sudah dipersiapkannya. Sebuah boneka sebesar Min Ah kecil.

 

“Ini. Prince Nemo akan memberikan Princess Nemo seekor Nemo Fish. Anggap boneka Nemo ini sebagai ganti Oppa ketika Oppa di Amerika, ne?” pinta Donghae sambil menyerahkan boneka Nemo besar itu ke pangkuan Min Ah. Gadis kecil itu segera memeluk boneka itu dengan wajah riang.

 

“Tentu! Aku akan menjaga Nemo Fish pemberian Prince Nemo Oppa dengan baik” janjinya. “Ah, bulunya lembut sekali. Aku akan memeluknya setiap aku merindukan Oppa. Aku janji!” Donghae kecil tersenyum lebar melihat Min ah yang memeluk boneka Nemonya erat.

 

“Kajja, kita pulang. Appa dan eommaku pasti sudah menunggu untuk berangkat ke bandara” ajak Donghae.  Park Min ah hanya menjawabnya dengan anggukan.

 

 

SKIP TIME

Mokpo, Januari 1997

~~~Still Author Pov~~~

Park Min Ah melirik kalender di kamarnya itu dengan kesal. Di kalender itu sudah terdapat lingkaran-lingkaran kecil di setiap tanggalnya. Tangan Min Ah meremas gemas sirip boneka Nemo yang ada di pelukannya.

 

“Yakkk!!! Prince Nemo Oppa~ya…!!! Kau bohong padaku, ne??” ucapnya pada wajah  boneka ikan Nemo-nya.

 

“Kau bilang cuma dua tahun! Ini sudah dua tahun lebih satu bulan, ne? Apa kau lupa?!” tapi tentu saja boneka itu tak bisa menjawab pertanyaannya.

 

“Tsskkk!! Menyebalkan!! Kalau kau tak segera pulang aku akan melupakanmu!!” umpatnya sambil melempar boneka itu ke lantai. Tapi tak sampai sepuluh detik boneka itu di lantai, Min ah sudah memungutnya kembali.

 

“Aish… Oppa… kapan kau pulang? Bogoshippeoyo… neomu neomu bogoshippeo…” ujarnya lirih. Kemudian, dengan memeluk boneka Nemonya, gadis yang kini berusia sembilan tahun itu keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur.

 

“Eommaa…” panggilnya manja pada seorang ahjumma ang sedang sibuk memasak dissana.

“Ne, chagi?” jawab sang eomma tanpa melihat kepada anaknya. Pandangannya terfokus pada wajan yang ada didepannya.

 

“Kita jadi pindah ke Seoul minggu depan?” tanya Min ah untuk mengkonfirmasi informasi yang didapatnya dari ayahnya tadi malam. Semalam Park Jungsoo mengabarkan kepada seluruh keluarganya bahwa ia dipindahtugaskan ke Seoul, hingga mereka semua harus menetap di sana.

 

“Iya, chagi. Waeyo?”

“Ani. Aku hanya ingin memastikan saja. Tapi kita tetap akan sering mengunjungi Mokpo, bukan?”

“Tentu saja. Rumah kakek nenekmu kan di Mokpo, sayang. Tentu kita masih akan sering kesini” jawab Nyonya Park, membuat Min Ah tesenyum lega mendengarnya.

 

“Kalau begitu aku main ke taman sebentar, Eomma… pai pai…” pamit Min Ah sambil segera berlari keluar bersama boneka Nemonya. Nyonya Park hanya menggeleng-geleng melihat tingkah anaknya itu.

 

 Dengan penuh semangat, Park Min Ah berlari kecil menuju taman. Disana, ada beberapa anak yang sedang bermain ayunan, berseluncur, bermain pasir, dan memanjat pohon. Min Ah segera berlari menghampiri ayunan yang kosong dan duduk disana sambil memangku boneka Nemonya.

 

Sreet…

 

Tiba-tiba sebuah tangan telah merampas boneka Nemo dari pangkuan Min Ah. Min Ah menatap tersangka perebut bonekanya itu. seorang namja kecil tersenyum memperlihatkan gusinya.

 

“Hyukkie~ya! Jangan ganggu aku! Kembalikan Nemo Fishku!!” teriak Min Ah padanya. Senyum namja kecil itu makin lebar.

“Ambil sendiri kaau kau bisa! Bweeee…!!” jawab namja kecil bernama Hyukjae itu sambil menjulurkan lidahnya.

 

“Yak!!! Hyukkie~ya! jangan nakal! Jebal kembalikan! Kalau tidak….” pinta Min Ah segera turun dari ayunan.

“Kalau tidak, apa? Kau akan melaporkanku pada Nemo pacarmu yang d Amerika itu?” sindirnya.

 

Jujur saja, sebetulnya ada rasa cemburu menyelimuti kata-kata Hyukjae. Sama seperti Donghae yang seumuran dengannya itu, Hyukjae juga menyukai Min Ah. Hanya saja, setiap hari Min Ah hanya mau bermain dengan Donghae, karena sosok Donghae yang lembut dan penuh perhatian. Tak seperti sosok Hyukjae yang hyperaktif dan cenderung bandel. Dan hanya dengan mengganggu Min Ah lah satu-satunya cara agar yeoja kecil itu mau memperhatikannya.

 

“Tsskk… dia takkan pernah kembali kesini, babo!” sindir Hyukjae lagi-lagi.

“Andwae!! Nemo Prince-ku pasti akan kembali! Dia sudah janji! Ayo kembalikan bonekaku!” teriak Min Ah. tangannya mencoba meraih boneka Nemo yang berada di tangan Hyukjae, namun gagal.

 

Hyukjae segera berlari menghindari Min Ah dan memanjat sebuah pohon yang cukup tinggi. Seperti julukan yang diberikan orang-orang di kompleksnya, dengan mudahnya namja itu bergelantungan di pohon sambil memegangi boneka Min Ah. kemudian, ia meletakkan boneka itu di ranting pohon yang tertinggi. Setelah itu, ia segera meluncur turun dari pohon itu dengan mudahnya.

 

“Cja! Lihatlah! Ikan yang harusnya di sungai itu sekarang sedang belajar terbang di langit! Kau mau mengambilnya? Cium pipiku maka akan ku ambilkan. Kalau tak mau ambillah sendiri” ucapnya sambil tertawa lebar. Min Ah mendelik mendengarnya.

 

“Cih! Sampai kapanpun aku tak akan pernah mau menciummu!” ucapnya, dan segera menuju pohon tempat Nemonya diletakkan. Dengan susah payah gadis kecil itu memanjat pohon. Melihat hal itu, senyum yang sedari tadi menghiasi wajah Hyukjae memudar.

 

Sedikit demi sedikit, Min ah berhasil mencapai cabang tertinggi pohon itu, namun tangannya tak cukup menggapai bonekanya yang ada di ranting terjauh. Perlahan ia menjinjitkan kakinya, dan menjulurkan tangannya lebih jauh. Berhasil. Ekor boneka ikannya terpegang. Segera ditariknya ekor boneka itu, agak sulit karena badan ikan nemonya masih tersangkut di ranting yang lain.  Tanpa putus asa Min Ah berusaha menggerak-gerakkan bonekanya agar terlepas dari ranting-ranting yang menyangkut. Segera setelah boneka itu terlepas dari jeratan ranting-ranting pohon, Min ah segera memeluk bonekanya penuh perasaan sayang.

 

Kreekkk… Kreeekkkkk… Braaaakkkkkk!

 

Karena terlalu fokus pada bonekanya, Min ah tak menyadari bahwa ia memijak cabang yang rapuh, dan cabang itu tak mampu lagi menanggung bebannya.

 

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!” Min Ah hanya bisa berteriak dan memejamkan mata ketika ia merasakan tubuhnya meluncur ke bawah. Dipeluknya boneka nemonya erat-erat.

 

BRUUUGGGHHH.

 

Tubuh mungil Min ah sukses mendarat di tanah. Kepala yeoja kecil itu mengeluarkan darah cukup banyak karena terbentur akar pohon yang keras. Orang-orang yang ada di taman segera berlarian menolong gadis itu. dan Hyukjae, hanya bisa berdiri terpaku melihat yeoja yang disukainya itu pingsan bersimbah darah dan dikerubungi banyak orang.

 

“Mianhe. Mianhe. Aku tak sengaja. Aku tak bermaksud melukaimu. Mianhe…” ucapnya ketakutan. Kemudian namja kecil itu segera berlari menuju rumahnya dengan berlinangan air mata.

 

Three Days Later

@Mokpo Hospital

Tuan dan Nyonya Park menatap khawatir putrinya yang terbaring lemas di ranjang rumah sakit. Sudah tiga hari Min Ah tak sadarkan diri. Dokter berkata bahwa Min ah akan baik-baik saja karena pendarahan di kepalanya sudah berhenti.

 

Perlahan, tangan kecil Min ah bergerak, membuat Tuan dan Nyonya Park tersenyum cemas. Mereka berdua segera mendekat dan  menghampiri tubuh Min Ah. Sedikit demi sedikit, mata Min ah terbuka dan menatap dua sosok manusia yang ada di hadapannya itu.

 

“Kalian… siapa…?” ucapnya lirih.

 

 

 

From the T to the B to the C

                                                                                                                  

 

 

aHaeHae… ternyata Bang Hyuk pernah nyempil di kehidupan Min Ah. Wah, nih FF makin hari bener2 makin aneh deh! (*ngelus dada Hyukkie :p )

 

Mian buat bang Kyupil sudah author buat menjadi namja agak br****ek di FF ini (*digampar  Sparkyu).

Mian buat Bang Umin karna harus author eliminasi di part ini (*cup..cup..cup.. #kecuppipiUmin). Jadi siapa pengirim anyelir pink?

 

Seperti kata readers setia saya (*emang ada? ngarep banget sih thor?) kalau di part sebelumnya Min Ah udah gak ada rasa sama Bang Kyupil, maka mari kita persempit tersangka (?) pencuri hati Min Ah yang sebenarnya. Cho Kyuhyun? Jelas bukan! Lee Sungmin? Kan udah dieliminasi d part ini! Lee Donghae? Lee Hyukjae? Dua-duanya? Atau malah Lee yang lain? (#Lee Taemin sih oke, tapi jangan Lee Soman, ah T___T)

 

Mian untuk tingkat keGAJEan yang akut dan typo yang berserakan.

 

Jangan lupa RCL ne???? Setiap RCL anda sangat berharga bagi author. Bikin semangat buat nambah bikin bingung readers. ^^ (#authordilempariPa***ol)

 

Pai pai readers, sampai jumpa di part selanjutnya ^^

 

*BOW…

6 thoughts on “THE ONE I LOVE (PART 6) // SERIES

  1. hahahaha, iya iya kyaknya critanya mkin g’bner nih, , , hahaha
    jd min ah tuh amnesia ya, , , apa jdoh min ah tuh donghae? hahaha
    bingung, cpetan dong thor, next, jgan lma2 ne, , ,hahahaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s