THE ONE I LOVE (PART 4) // SERIES

 

TOIL4

Title     : The One I Love (Part 4)

Author : Andriya ( www.facebook.com /andriya.optimis )

Genre  : Romance, Sad (?)

Rating : PG 17

Length : Series

Cast :

    Cho Kyuhyun

    Park Min Ah

    Lee Donghae

    Lee Hyukjae

    Lee Sungmin

    Etc (berkembang sesuka hati author)

 

 

 

Annyeong readers ^^  #gelar Red Karpet bareng yang punya Bada.

 

Warning : FF ini terinspirasi dari drama “Reply 1997”. Otomatis banyak alur flashbacknya. Tapi secara keseluruhan flashbacknya author bikin maju kok, jadi yang masih bingung boleh gulung2 di red karpet yang telah tersedia (#lho?)

Untuk membedakan masa sekarang dan masa lalu adalah jumlah “~”. Kalau masa sekarang “~” kalau masa lalu “~~” atau “~~~”, paham? (Readers: enggaaaakkkk!!! #Author:kawinlarisamaHaeppa)

 

Buat readers yang masih belum paham sama cast-nya, kajja kita perjelas dulu. Yuk mari para cast, baris yang rapi, kita konferensi pers dulu dan perkenalkan diri kalian… (#manggilpaketoa) ^^ Here they are :

 

~ Park Min Ah : “Annyeong, Park Min Ah imnida. Tanpa saya menjelaskan saya tahu readers sudah mengenal saya ^_^ disini saya memiliki bebeapa nama panggilan kecil. Minnie, Min ah, dan Ah~ya  adalah saya. Jangan bingung ne?”

 

~ Cho Kyuhyun : “Hmmm… Cho Kyuhyun, imnida. Namja paling tampan sedunia. Cast yang jadi korban kekejaman author di ff ini. Kekasih Park Min ah selamanya! Ingat! S-e-l-a-m-a-n-y-a!” (#pasangevilsmirksambilnyekikauthor)

 

~Lee Donghae : “Lee Donghae, imnida ^_^. Cinta pertama Park Min Ah yang terlupakan T_T” (#nangismelukauthoryangsekaratkarenadicekikKyuhyun)

 

~Lee  Sungmin : “Annyeoong… Lee Sungmin, imnida! Keponakan Cho Kyuhyun, yang mencintai Park Min ah ^^. Kenapa nama marga kami beda? Karena Lee adalah marga dari pihak ibu Kyuhyun”

 

~Lee Hyukjae : “Annyeong, Lee Hyukjae imnida. Penasaran siapa saya? Temukan di part ini saja…” (#pasanggummysmilesambilmakanpisang)

 

 

DISCLAIMER : This story is orriginaly MINE.

RULE : NO COPAST, NO BASH dan jangan lupa RCL-nya chingu ^_^. Bagi para PLAGIAT saya doakan Anda gudikan, cacar air, jerawatan sampai tua. Amin.

 

Yesungdahlah, tanpa banyak cuap2 lagi author mengucapkan:

 

Happy Readdangkkoma ^____^

 

 

 

 

 

“Kebahagiaanku bukanlah pada saat aku memilikimu, melainkan pada saat aku melihat senyum dan tawamu”

 

 

 

#Part 4 Begin

 

Seoul, 29 Maret 2013

@Ballroom Starking Luxury Hotel

~Author Pov~

“Omoo. Oppa, lihat! Tuan Lee akan memankan piano untuk istrinya. Aiissh… romantis sekali!” pekik Hye In ketika  namja bertuxedo putih bernama Lee Donghae itu berjalan gagah menuju piano hitam yang berada di tengah ballroom.

 

Dan di belakang Lee Donghae, seorang namja bersetelan hitam dengan postur badan agak kurus tapi tegap dan berotot beberapa kali bersalaman dan menunjukkan gummy smilenya kepada tamu-tamu yang menghadiri pesta atasannya. Namja itu bernama Lee Hyukjae, sekretaris sekaligus orang kepercayaan Lee Donghae. Walaupun di depan para tamu yang sedari tadi ia salami ia menunjukkan ekpresi senang, tapi sejatinya ia sedang resah. Sangat resah. Berkali-kali sudut matanya melirik sudut terbelakang Ballroom. Ya, di sudut terbelakang Ballroom terlihat seorang yeoja bergaun putih selutut dengan make up minimalis sedang berdiri menghadap seorang namja yang bertubuh tinggi tegap yang tadi dilihatnya menggenggam pergelangan tangan gadisnya, bahkan memeluknya. Gadis itu, gadis yang sangat dicintainya, gadis yang selalu ingin dijaganya, disentuh oleh seorang namja yang sangat ia kenal.

 

DRRRTTTTT….

 

Ponsel Hyukjae bergetar. Namja itu segera menatap layarnya, penasaran dengan pesan balasan gadis yang saat ini sedang dikhawatirkannya.

 

From : nae Ah~ya

Aku baik2 saja, Oppa. Aku takkan terjatuh lagi.

Aku sudah janji padamu kan? Jangan khawatir.

 

Hyukjae menghembuskan nafasnya keras, berusaha membuang perasaan khawatir yang mengisi relung-relung hatinya. Ditatapnya lagi sosok-sosok yang berada di sudut belakang itu.

 

‘Cho Kyuhyun brengsek!! Kenapa kau kembali?! Seujung kukupun kau tak berhak menyentuhnya lagi!!’ teriak batinnya.

 

 

~Donghae pov~

Tepuk tangan menggema ketika kulangkahkan kakiku menuju piano besar yang ada di tengah ruangan ini. Sambil berjalan, ku edarkan mataku mencari sosok anaeku tercinta. Aish… dimanakah kau bersembunyi, chagi-a? Kenapa kau berdiri di tempat yang tak terlihat olehku?. Mataku berkeliling menelusuri seluruh ruangan ballroom.

 

Dan itu dia! Aku menemukannya. Berdiri anggun disana. Terlihat begitu cantik. Wanita tercantik yang ada di hidupku. Dewiku. Bidadariku. Nyawaku. Nafasku. Hidupku. Gadis itu segalanya bagiku. Kulihat ia memandangku dan tersenyum lembut. Senyum yang mampu menggetarkan jiwaku. Senyum yang mampu membuatku menyerahkan segalanya demi memiliki senyum lembut itu.

 

Dengan wajah sumringah ku dekatkan microphone ke arahku.

“Lagu ini kupersembahkan untuk istriku tercinta. Kau adalah segalanya bagiku…” ucapku mengawali persembahanku. Semoga kau menyukainya, chagi-a. Dan segera kutekan tuts-tuts piano di depanku dengan penuh cinta. Nada-nada indah itu mulai mengalun lembut, membuat para hadirin yang tadinya bertepuk tangan segera terdiam terbius oleh penampilanku.

 

The loneliness of nights alone

the search for strength to carry on

my every hope has seemed to die

my eyes had no more tears to cry

then like the sun shining up above

you surrounded me with your endless love

Coz all the things I couldn’t see are now so clear to me

You are my everything

Nothing your love won’t bring

My life is yours alone

The only love I’ve ever known

Your spirit pulls me through

When nothing else will do

Every night I pray

On bended knee

That you will always be

My everything

Now all my hopes and all my dreams

are suddenly reality

you’ve opened up my heart to feel

a kind of love that’s truly real

a guiding light that’ll never fade

there’s not a thing in life that I would ever trade

for the love you give it won’t let go

I hope you’ll always know

You’re the breath of life in me

the only one that sets me free

and you have made my soul complete

for all time (for all time)

You are my everything (you are my everything)

Nothing your love won’t bring (nothing your love won’t bring)

My life is yours alone (alone)

The only love I’ve ever known

Your spirit pulls me through (your spirit pulls me through)

When nothing else will do (when nothing else will do)

Every night I pray (I pray)

On bended knee (on my knee)

That you will always be my everything

 

Tepuk tangan kembali riuh terdengar di telingaku ketika laguku berakhir. Banyak yeoja-yeoja cantik nan seksi yang merupakan tamu pesta ini menatapku penuh kagum dan saling berbisik memujiku. Tapi yang tampak dimataku hanya gadis itu. Anae-ku tercinta. Gadis yang bersinar, ah ani, satu-satunya yang paling bersinar di mataku. Kulihat matanya yang berkaca-kaca dan sendu menatapku. Ha-haaa. Sungguh ajaib, bukan? Bahkan dari tempat yang sejauh ini aku bisa melihat mata indahnya yang sedang berkaca-kaca itu. Itulah keahlian yang kudapatkan selama mengejar-ngejar cintanya.

 

Aku segera berdiri meninggalkan piano besar ini dan mulai berjalan ke arahnya, sambil beberapa kali membalas jabatan tangan dari rekan-rekan bisnisku. Di belakangku, Lee Hyukjae orang yang paling kupercayai setelah istriku, berjalan mengikutiku. Namja tangan kananku ini adalah namja yang sangat sigap dalam menghadapi segala sesuatu. Walaupun ia tampan dan baik hati, tapi aku belum pernah melihatnya bersama dengan seorang yeoja pun. Tapi kudengar ia sudah menyukai seorang teman kuliahnya. Dan itu telah berlangsung 4 tahun. Kuharap bila Hyukjae itu mengungkapkan perasaannya pada gadis itu, maka gadis itu akan menerimanya. Aku ingin sekretarisku itu segera bahagia. Sebahagia diriku. Seperti yang dikatakan para rekan bisnisku, kami adalah Duo Lee, satu tubuh tapi tak sedarah. Sama-sama bermarga Lee tapi tak ada ikatan keluarga. Tapi namja itu sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri. Karenanya, aku juga ingin melihat namja yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri itu juga bahagia. Mataku kembali beralih ke arah anae-ku.

 

Chagi~a… tunggu aku disana dan jangan menghilang lagi. Akan kujemput kau dan akan ku umumkan pada dunia bahwa kau seutuhnya adalah milikku seorang. Milikku yang paling berharga.

 

 

 

#Flashback

Seoul, Februari 2007

@Kyuhyun House

~~Author Pov~~

Park Min Ah mengusap lembut rambut  Kyuhyun yang saat ini berbaring di pangkuannya. Masker yang tadi dioleskannya di wajah Kyuhyun sudah mengering. Dan gadis itu mulai mengambil air hangat yang sudah disiapkannya di baskom yang diletakkannya di atas meja, kemudian ia mengambil washlap dan mengusapkannya lembut ke wajah Kyuhyun untuk membasuh masker itu.

 

“Oppa…” ucapnya lembut memanggil namja yang setengah tertidur itu. Sudah setengah jam sejak Lee Sungmin pulang dan meninggalkan mereka berdua. Kyuhyun membuka matanya.

“Nde?”

“Kenapa Oppa selalu memberiku bunga mawar putih?” tanya Min ah sambil tetap membasuh masker yang melekat di wajah Kyuhyun.

“Kau ingin tahu?” gadis itu membalas dengan anggukan kecil. Tangan Kyuhyun yang sedari tadi bersedekap terangkat menyentuh wajah Min ah yang berada tepat di atasnya. Ditepuknya pipi chubby gadis itu dengan lembut.

 

“Karena mawar putih itu kata orang-orang artinya cinta yang tulus, chagi~a…” jawabnya.

“Oppa pernah memberiku bunga yang lain? Anyelir pink misalnya?” dahi Kyuhyun berkrenyit mendengar pertanyaan yeojanya itu.

“Anyelir pink? Untuk apa? Bunga itu terlalu murah dan sederhana. Tak pantas diberikan pada seorang yeoja. Kenapa kau bertanya tentang bunga?”

“Molla. Aku hanya ingin tanya saja, Oppa…” jawab Min ah sambil terus membersihkan sisa-sisa masker yang menempel di wajah namjanya itu. Tapi sebenarnya jauh di dalam dirinya ia sedang memikirkan sesuatu. Tentang bunga anyelir pink yang diterimanya lagi pagi ini.

 

Gadis itu merasakan sesuatu yang aneh. Hampir setiap hari dalam satu tahun ini ia selalu menerima kiriman bunga anyelir pink yang diletakkan entah itu di depan pintu rumahnya, ataupun di atas bangku kuliahnya. Tak hanya itu, setiap sebulan sekali bersama setangkai bunga anyelir itu akan disertakan sebuah botol berisi 30 gulungan kertas kecil yang berisi kata-kata cinta yang indah untuknya.

 

‘[250107] dibalik tetes hujan pagi ini, aku melihat senyummu yang langsung membekukan lidahku. Aku harap aku bisa berteriak memanggil namamu.’

‘[300107] sorot mata indahmu selalu menghipnotisku untuk terus menerus menatapmu’

 

Dan masih banyak kata-kata lainnya. Setiap gulungan kertas itu bahkan bertanggal. Dan pasti tanggal itu adalah tanggal pada bulan sebelumnya. Seakan-akan botol berisi gulungan kertas itu adalah sebuah diary. Tadinya ia menyangka bahwa Kyuhyunlah yang mengiriminya bunga itu. Karena ia tahu bahwa Kyuhyun adalah namja yang tak bisa ditebak dan selalu penuh kejutan. Tapi seiring berjalannya waktu, ia menyadari sebuah kejanggalan. Kyuhyun tak pernah memberinya anyelir. Namja itu selalu memberinya mawar putih. Jadi, siapa yang selama ini mengiriminya anyelir dan botol berisi gulungan kertas itu?

 

“Oppa….” panggil Min ah lagi, sambil mengusap wajah Kyuhyun dengan handuk bersih guna mengeringkan kulit yang tadi basah oleh washlap.

“Wae?”

“Aku hamil… dua minggu…” ucap gadis itu lirih.

“MWO??”

 

 

@ Park Min Ah Bedroom

Still same day

~~Min Ah pov~~

Aku memeluk boneka ikan nemoku erat-erat. Mencari kenyamanan di dalamnya. Seperti yang biasanya kulakukan bila hatiku sedang gundah. Kubenamkan wajahku dalam-dalam di perut boneka ikan yang lembut itu. Aku tak tahu mengapa aku begitu menyukai boneka ikan ini. Bahkan aku sendiri lupa sejak kapan aku memilikinya. Yang kuingat hanyalah sejak kecil aku sudah memiliki boneka ini, kemana-mana membawa boneka ini, dan aku takkan bisa tidur tanpa memeluk boneka ini. Entah mengapa bila aku memeluk boneka ini aku akan selalu merasa tenang dan terlindungi. Hangat dan nyaman.

 

Tapi sepertinya saat ini ikan nemoku tak cukup berkhasiat fungsinya. Rasa penyesalan, sesak, dan pedih masih terus saja menghantuiku. Beberapa tetes air mata mulai menitik jatuh membasahi serat-serat lembut perut ikan nemoku.

 

“Mianhe, Appa… Eomma… aku benar-benar anak yang tak berguna. Hiks…”

 

#Flashback in Flashback

@Park Min Ah House, One hour ago

(Still Min Ah Pov)

Aku duduk berhadapan dengan Park Jung So, appaku, di ruang tamu. Mata beliau terlihat begitu letih setelah seharian bekerja di kantornya. Ingin rasanya aku menangis dalam pelukannya, dan tidur meringkuk di pangkuannya seperti yang dulu kulakukan waktu kecil. Tapi aku harus menahan gumpalan perasaan yang membuncah di dadaku ini. Aku tak boleh menambah beban beliau. Keluargaku tak boleh tahu tentang kehamilanku. Aku tak boleh mengecewakan Appa, eomma, Eonni dan dongsaeng-dongsaengku yang selalu menggantungkan harapan mereka padaku.

 

“Minnie…” panggil beliau. Segera kudongakkan kepalaku dan mencoba tersenyum kepada beliau.

 

“Nde, Appa?”

 

“Kenapa kau masih menemui namja bernama Cho Kyuhyun itu?” tanya beliau, membuatku tersentak. Bagaimana beliau bisa tahu? Siapa yang berani melaporkan aku lagi pada beliau? Aku menghirup nafas dalam-dalam menahan amarah kepada orang-orang yang mengenalku. Aku memang bukan berasal dari keluarga yang kaya. Tapi nama Appaku cukup terpandang di mata masyarakat. Beliau adalah sosok bijaksana yang selalu dimintai pendapat dan pertimbangannya oleh orang-orang.

 

“Minnie~ya… berapa kali Appa harus berkata padamu? Jauhi namja itu! Dia bukan namja yang baik!” perintah ayahnya tegas.

 

“tapi, Appa? Berapa kali kita sudah membahas ini? Berapa kali pula aku harus mengatakan bahwa aku tak bisa jauh dari Kyuhyun! Aku mencintainya, Appa!” jawabku tak kalah tegas.

“Minnie~ya… Appa sudah memilihkan jodohmu. Namja yang lebih baik daripada Cho Kyuhyun. Appa punya firasat kalau namja itu hanya akan menyakitimu. Appa tak mau melihat anak Appa disakiti oleh orang lain” pinta beliau.

 

“Darimana Appa bisa mengambil kesimpulan kalau Kyuhyun bukan namja yang baik? Appa bahkan tak pernah mau menemuinya. Appa sama sekali tak mengenalnya!” suaraku mulai meninggi karena emosi yang mulai naik. Jujur saja, selama ini statusku bersama Kyuhyun masih belum bisa diterima orang tuaku. Terutama Appaku. Aku tak tahu apa yang beliau pikirkan, tapi beliau menolak mentah-mentah hubunganku dengan Kyuhyun. Karena itulah aku selalu bertemu diam-diam dengan Kyuhyun. Kami menjalin hubungan secara backstreet dari Appaku. Tapi tetap saja, kenalan Appaku terlalu banyak. Mereka adalah mata-mata tanpa bayaran milik Appaku. Serapat apapun aku menyembunyikan pertemuan rahasiaku dengan Kyuhyun, pasti ada saja seseorang yang melaporkannya pada Appaku.

 

“Firasat orang tua selalu benar, Minnie~ya”  ucap beliau melembut. Tangannya merengkuh jemariku dan menggenggamnya penuh kasih sayang. “Appa menyayangimu, Minnie~ya. Appa mengkhawatirkan kebahagiaanmu”

 

“Kalau begitu biarkan aku tetap bersama Kyuhyun, appa. Aku hanya bisa bahagia bersamanya. Aku tak bisa hidup tanpa namja itu” ucapku lirih. Beberapa bulir bening lolos dari pelupuk mataku, mengaliri pipiku dengan begitu bebasnya. Tangan kekar Appa segera terulur menghapus aliran bening itu.

 

“Minnie~ya… pertimbangkanlah permintaan appamu ini. Jauhi namja itu. Masih banyak namja lain yang ingin membahagiakan puteriku yang cantik ini. Dan Appamu ini sudah memilihkanmu seorang namja terbaik yang akan melindungi dan memberikanmu banyak kebahagiaan” tangan appa yang lembut mengusap pipiku itu segera ku tarik dan ku genggam. Kutatap mata tua beliau dengan pandangan penuh permohonan maaf.

 

“Mianhe, Appa. Jeongmal mianhe. Aku tak bisa. Aku tak bisa menjauh dari Kyuhyun. Di hatiku, tak ada dan takkan ada tempat sedikitpun untuk namja lain. Terutama untuk namja pilihan Appa. Aku hanya ingin hidup bersama Kyuhyun, appa. Aku tak mau bersama namja lain. Jebal, kumohon ijinkan aku bersama orang yang kucintai..”

 

#Flashback in Flashback End

 

Back to Park Min Ah Room

~~Author Pov~~

Perut boneka ikan nemo yang dipeluk Park Min ah itu semakin basah oleh air mata sang gadis. Dan sang empu  boneka masih setia mendekap boneka itu dan berusaha membuang seluruh emosinya di setiap tetes air mata yang ia keluarkan.

 

“Appa… Eomma… maafkan aku. Aku takkan pernah bisa meninggalkan Kyuhyun. Aku bukan lagi malaikat kalian. Aku sudah setengah setan. Aku sudah tak bisa berjalan mundur, Appa. Aku dan Kyuhyun sudah berjalan terlalu jauh… Mianhe, jeongmal mianhe… huhuhu…” bisik gadis itu lirih sambil memeluk boneka ikan nemonya. Kemudian, perlahan tangannya turun menuju perutnya yang masih terlihat datar itu. Dielusnya perut itu dengan lembut.

 

“Mianhe, chagi~ya. Eomma tak bisa menjagamu” ucapnya. Kemudian gadis itu segera bangkit dari tempat tidurnya dan menuju ke lemari pakaiannya. Dengan sigap Min ah segera memasukkan beberapa setel pakaian ke dalam tasnya.  Setelah semuanya dirasa telah cukup, gadis itu segera mencuci mukanya dan berganti pakaian.

 

Perlahan, gadis itu keluar dari kamar dan menuju ruang keluarga. Disana appa dan eommanya sedang duduk sambil menonton televisi.

 

“Appa… Eomma…” panggilnya. Kedua orang tua itu menoleh dan tersenyum.

“Nde, Minnie~ya? Kau mau kemana? Bukannya kamu baru saja pulang?” tegur sang eomma.

“Aku akan ke Mokpo selama seminggu, Eomma. Ada beberapa laporan kuliah yang harus segera ku selesaikan. Aku ingin berkonsentrasi mengerjakan laporan itu. Sekalian aku ingin menengok makam kakek. Aku sudah lama tak mengunjungi beliau” jawabnya.

“Baiklah. Hati-hati di jalan, chagi…”

 

Segera setelah berpamitan pada orang tuanya itu, Park Min Ah segera keluar dari rumahnya. Perlahania mengambil ponselnya. Dilihatnya sebuah pesan yang sedari tadi belum dibalasnya.

 

From : My Sweetheart

Apa kau sudah siap, chagi~a?

 

Gadis itu segera mengetik balasannya dan menekan tombol “Send”.

 

To : My Sweetheart

Aku sudah siap. Ayo kita berangkat. Aku menunggumu di halte biasanya.

 

#Flashback End

 

 

 

 

Back to 29 Maret 2013

@Ballroom Starking Luxury Hotel

~Hyukjae Pov~

Tepuk tangan riuh terdengar ketika Donghae-ssi, atasanku yang sangat tampan itu menyelesaikan lagunya. Ia benar-benar pria yang romantis. Dan aku sangat mengagumi sosoknya yang “manly” itu.  Dari puluhan yeoja yang mengejarnya, tak ada satupun yang ia lihat. Karena dalam hidupnya hanya ada dua orang yeoja. Ibunya dan istrinya. Sungguh aku sangat iri dengan kesetiaannya itu. Tak pernah menyerah mencintai gadis yang sama. Tak pernah mengubah perasaan. Hanya melihat gadis itu sebagai satu-satunya. Dan aku, kalah dengan keteguhan hatinya itu.

 

Donghae-ssi bergerak meninggalkan pianonya, berjalan ke arah belakang ballroom. Aku yakin ia akan menemui istri cantiknya. Dan aku berjalan mengikutinya. Beberapa kali kami harus berhenti untuk menyalami kolega kami. Dan dari sudut mataku, aku terus mengawasi keberadaan yeoja yang kucintai. Park Min Ah. Yeoja itu masih berdiri di dekat namja brengsek bernama Cho kyuhyun itu. Diam-diam tanganku mengepal bila mengingat kesedihan Min Ah karenanya.

 

 

 

 

#Flashback

Seoul,  March 2007

@Seoul University Park

~~Hyukjae Pov~~

 

“MWOO??!!”

 

Aku menatap yeoja disampingku ini dengan tatapan tak percaya. Aku benar-benar shock mendengar apa yang tadi ia bicarakan. Nafasku yang tadinya tak beraturan karena berlari-lari menuju tempat ini setelah membaca pesannya seakan berhenti. Sesak.

 

Taman belakang kampus masih agak sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa disini yang sedang sibuk berkutat dengan laptop dan tugas-tugas mereka. Dan disinilah kami, duduk di bangku taman. Di hadapan kami bunga-bunga sedang bermekaran dengan indahnya, tapi bagiku semua tampak absurd saat ini.

 

“Ha-hamil? Menggugurkan kandungan?!” tanyaku tergagap untuk mengkonfirmasi apa yang tadi telah aku dengar.

 

“Ye. Aku tadinya hamil, Oppa. Tapi aku sudah menggugurkannya minggu lalu. Dua minggu, Oppa. Aegy itu berumur dua minggu.. hikss… aku benar-benar jahat, ya?” jelasnya lirih. Kepala gadis itu sedari tadi menunduk. Lalu kulihat bahunya mulai bergetar dan air mata mulai menetes membasahi pangkuannya. Segera kurengkuh ia ke pelukanku. Park Min Ah, kenapa kau tak pernah menyadari perasaanku?

 

“Apa Kyuhyun yang memintanya?” tanyaku sambil mengelus lembut bahunya.

 

“Ye. Kami masing-masing harus fokus dengan masa depan, Oppa. Aku harus lulus dengan kuliahku, dan Kyu dengan karirnya. Bila kami menikah sekarang, karir Kyu akan terhambat. Ini demi kebaikan masa depan kami…hikss” gadis itu semakin terisak. Kueratkan pelukanku padanya.

 

“Jadi itu alasanmu tak masuk kuliah seminggu ini?”

 

“Nde. Aku di rumah sakit untuk penyembuhan dan baru keluar kemarin sore”

“Apa orang tuamu tahu?”

“Tidak. Aku berbohong kalau aku sedang ke Mokpo mengunjungi makam kakek kepada mereka” jawabnya lirih. “apakah dosaku bisa termaafkan, Oppa? Aku sudah membohongi keluargaku. Selain itu, aku Eomma yang sangat jahat, kan? Aku sudah membunuh aegy-ku sendiri dengan tanganku. Aku takut aegy-ku takkan pernah memaafkanku disana.. huhuhuhu…”

 

“Sssshhh…. sudahlah, jangan menangis. Mana Min ah yang ku kenal? Min Ah-ku adalah gadis yang tegar dan kuat. Bukan gadis yang cengeng”, hiburku, “kita berdoa bersama-sama agar aegy-mu bahagia di sisi Tuhan. Min ah ku gadis yang sangat jujur dan baik hati, jadi aegy-mu pasti akan mengerti keputusanmu untuk mengembalikannya pada Tuhan. Dan Tuhan pasti mau memaafkanmu. Jadi jangan sedih. Tuhan pasti akan mengganti aegy-mu dengan aegy yang lain kelak jika kau telah resmi menikah, arratchi?” gadis itu mulai mengangkat wajahnya dan menatapku.

 

“Nde… Arrasseo… apa kau sudah tobat, Oppa? Rasanya aku melihat Siwon di sosokmu hari ini..” ujarnya polos. Aish… aku sudah ketularan keponakanku itu rupanya.

 

“Mungkin, chagi~ya. Kau masih sedih?”

 

“Nde… harusnya kami tak melakukan ‘itu’, jadi aegy itu takkan perlu tersakiti, dan aku tak perlu mendustai orangtua ku” ucapnya penuh penyesalan sambil menatap langit yang agak mendung.

 

“Sepertinya mau hujan, Oppa. Kajja, kita segera pergi” ajaknya sambil berdiri.

“Mwo? Apa kau tidak mau masuk kelas?”

“Ani. Aku ke kampus cuma mau bertemu denganmu. Aku mau membolos lagi hari ini. Hehehee. Ayo kita ke Lotteworld? Kajja?” pintanya sambil menunjukkan puppy eyes andalannya. Tangannya terulur kepadaku.

“Haaah… sudahlah. Tanpa masuk kelaspun kau pasti selalu dapat nilai A”, jawabku pasrah sambil menerima uluran tangannya dan menggandeng tangan rapuh itu. Tangan yang ingin selalu ku genggam. Tangan yang tak pernah ingin kulepaskan.

 

SKIP TIME

STILL ON MARCH

@Lee Family’s House

~~Lee Sungmin Pov~~

Aku menatap bayanganku di kaca. Tuxedo berwarna hitam ini melekat pas di tubuhku. Aku mencoba tersenyum dengan bayanganku. Senyummu itu terlihat seperti senyuman yang bahagia, Sungminnie. Tapi tidak dengan matamu.

 

“Kau menipu dirimu sendiri, Sungminnie” keluhku.

 

Aku segera menghempaskan badanku ke sofa. Kupejamkan mataku sambil merutuki perasaanku sendiri. Mengapa sulit sekali bagimu mencintai Kang Sora? Apa kurangnya ia dari gadis bernama Park Min ah itu? Molla. Aku sudah berusaha mengalihkan perasaanku. Aku sudah belajar untuk menyukai Kang Sora. Dan aku berhasil melakukannya. Tapi mencintainya? Rasanya itu hal yang mustahil.

 

KRIEET…

 

Suara pintu membuat mataku membuka. Aku melirik sosok yang muncul dari pintu yang terbuka itu. Seorang yeoja dengan long dress berwarna ungu muda. Park Min Ah. Muncul disana seperti seorang bidadari yang baru saja turun dari langit. Kalung berhiaskan liontin kecil berwarna putih yang menggantung di lehernya itu menambah aura ayunya.

 

“Oppa?  Pesta pemberkatan akan segera dimulai. Semua orang sudah menunggumu di bawah” panggilnya. Aku hanya meresponnya dengan melambaikan tanganku  kepadanya dan menepuk-nepuk sofa, tanda bahwa aku memintanya untuk mendekat dan duduk di sampingku. Dan gadis berparas ayu itupun mendekat.

 

“Oppa, gwechana? Apa kau sakit?” ucapnya khawatir. Tangan halusnya meraba keningku. Segera kutarik tangan itu dan ku genggam erat-erat dengan tanganku yang terasa begitu dingin.

 

“Tanganmu dingin sekali, Oppa. Apa kau begitu gugup dengan pernikahan ini?” Tanyanya. Aku menatap manik mata indah gadis yang kini duduk di sampingku itu.

 

“Boleh aku bertanya padamu, Ah~ya?” tanyaku. Gadis itu mengangguk.

“apa kau benar-benar tak mau menjadi yeojachinguku? Untuk terakhir kalinya, aku tanyakan ini padamu. Jawablah iya, maka aku akan membatalkan pernikahan ini” ucapku sedikit memohon, ani, sedikit memaksa. Ah~ya menatapku dengan ekspresi terkejut. Namun ia segera tersenyum.

 

“Sora eonni dan keluargamu sudah menunggumu di bawah, Oppa. Kajja, kita ke bawah. Mereka sudah tak sabar untuk memulai pernikahan ini” ucapnya sambil berdiri. Segera kutarik tangan kanannya yang masih ku genggam hingga ia terduduk kembali. Kutarik tangan lembut itu dan letakkan di dadaku.

 

“Apa kau tahu, Ah~ya? Di sini, di dalam dada ini, hanya ada namamu, wajahmu, dan senyummu. Aku sudah berusaha untuk menepisnya. Aku sudah berusaha menyukai gadis yang bernama Kang Sora itu. Tapi tetap saja ia tak bisa menggantikan posisimu di sini” ucapku sambil mengetuk-ngetukkan tangannya di dada bidangku. Tangan kiri Ah~ya segera meraih tanganku dan melepaskan genggamanku pada tangan kanannya.

 

“Aku takkan bosan untuk mengulang kata-kata ini, Oppa. Sekarang, besok ataupun seterusnya, aku hanya mencintai Kyuhyun. Kyuhyun adalah kekasihku dan Oppa adalah Oppaku. Arratchi? “ jelasnya.

 

“Apakah benar-benar tak ada kesempatan untukku?” tanyaku keukeuh.

 

“Tak pernah ada kesempatan untukmu ataupun untuk namja lain, Oppa” aku menghela nafasku dengan keras.

 

“Kalau begitu, bolehkah aku meminta sesuatu darimu?” pintaku.

“Apa?”

“Untuk pertama dan terakhir kalinya, bolehkah aku memelukmu?” gadis itu berpikir sejenak. Kemudian mengangguk. Segera kutarik tubuh mungilnya dan kurengkuh dalam pelukanku. Rambut panjangnya yang terurai itu mengeluarkan harum lavender yang lembut dan menenangkan. Kuhirup aroma itu dengan kalap. Gadis itu hanya terduduk kaku.

 

“Maukah kau membalas pelukanku?” Pintaku dengan nada memelas.

“Baiklah. Anggaplah ini sebagai kado pernikahanmu, Oppa” jawabnya pasrah. Kemudian tangannya terulur ke punggungku dan membalas pelukanku. Hangat. Sangat hangat. Beginikah rasanya berada dalam pelukanmu Ah~ya? Pantas saja adikku terlihat begitu nyaman berada di sampingmu.

 

Park Min Ah segera melepaskan pelukannya dariku dan berdiri.

“Sudah cukup, Oppa. Kajja kita segera turun. Sora Eonni dan keluargamu sudah menunggumu terlalu lama” ajaknya. Ia segera berbalik menuju pintu, namun dengan sigap aku berdiri dan menariknya ke pelukanku lagi. Tanganku merengkuh wajahnya.

 

CHUU~~

 

Aku mengecup bibir gadis itu singkat. Merasakan bibir itu untuk pertama dan mungkin terakhir kalinya. Mungkin.

 

Bibir yang lembut dan manis. Rasa yang takkan pernah kulupakan. Segera kulepaskan bibirku yang menempel di bibir lembutnya itu. Kutatap manik matanya dalam-dalam.

 

“Anggaplah ini sebagai kado pernikahanku. Setelah ini, aku akan belajar menjadi Oppa yang baik bagimu dan bagi Kyuhyun”. Ucapku sambil melepaskan tanganku dari tubuhnya. Aku segera keluar dari ruangan ini. Namun gadis itu masih berdiri mematung disana. Matanya msih menyiratkan keterkejutan yang teramat sangat atas perlakuanku tadi padanya.

 

 

~~Author Pov~~

Lee Sungmin berdiri berdampingan dengan seorang gadis cantik bergaun pengantin putih selutut. Seorang pendeta berdiri tegap di hadapan mereka.

“Lee Sungmin, apakah kau bersedia menerima Kang Sora sebagai istrimu, dan mendampinginya dalam suka dan duka?”

“Ne, saya bersedia!”

“Dan Kang Sora, apakah kau bersedia menerima Lee Sungmin sebagai suamimu, dan mendampinginya dalam suka dan duka?”

“Ne, saya bersedia!”

“Baiklah. Sekarang kalian telah resmi sebagai suami dan istri di mata Tuhan. Sekarang pengantin boleh berciuman” sorak sorai tamu membahana mendengar ucapan sang pendeta.

 

Lee Sungmin dan Kang Sora kini berdiri berhadapan. Sungmin segera mendekatkan wajahnya ke wajah yeoja yang kini resmi jadi istrinya itu. Dikecupnya bibir Kang Sora singkat, membuat para tamu makin bersorak.

 

Namja itu tersenyum sambil melirik ke bangku terdepan. Tepatnya pada Park Min Ah. Mungkin orang lain akan melihat bahwa ketika ia mencium istrinya itu, itu adalah ciuman atas nama cinta. Benar, ia memberikan ciuman sepenuhnya dengan perasaan cinta. Tapi bukan cinta pada istrinya. Melainkan cinta pada gadis yang sedang dilihatnya melalui sudut matanya itu. Jujur saja, ketika ia mencium istrinya itu, yang dibayangkannya adalah wajah Park Min Ah, dan yang dirasakannya adalah bibir gadis yang tadi diciumnya di ruang tunggu. Senyum lebar kini menghiasi wajahnya. Setidaknya, selama lima detik, ia sempat memiliki gadis itu.

 

 

 

Seoul, Mei 2007

@Grand Place Restaurant

~~Donghae Pov~~

Aku melirik empat orang yang sedang bercengkrama di meja nomor 13. Meja yang selalu kuberikan pada Minnie~ku bila ia berkunjung ke restauranku ini. Dan disanalah ia sekarang. Bersama dengan kekasihnya dan sepasang sejoli yang lain. Sejoli itu sepertinya pengantin baru. Kuaduk-aduk Chocolatte Mint pesanan Minnie~ku dengan perlahan.

Minnie~ya.. sudah hampir satu tahun sejak kau jadi pelanggan tetapku. Tapi kenapa kau sama sekali tak mengenaliku? Ini aku, Nemo Prince Oppa-mu. Apa kau lupa?

 

I can’t live without you, my all is in you…

I can’t live without you, my all is in you…

 

Suara dering ponselku menyadarkanku dari lamunan.  Di layar tertera ‘Appa calling’. Jarang-jarang appaku menelepon. Biasanya eomma yang tak pernah absen meneleponku setiap hari. Bukankah sekarang Appa sedang di Amerika? Mengapa beliau menelepon? Segera kuangkat panggilan beliau.

 

“Anneyong, appa..”

“……”

“Nado, bogoshippoyo, Appa. Ada apa? Tumben Appa menelepon?”

“……”

“Tapi, appa. Aku masih menjalankan bisnis restoran disini. Aku masih ingin membuka beberapa cabang lagi”

“……”

“Aah… nde., nde. Baiklah. Besok aku akan segera berangkat kesana. Nde. Appa jaga kesehatan dengan bak. Nde.. nde..”

 

Percakapan berakhir. Kutatap lagi Minnie~ku yang sedang bercengkrama dengan kekasihnya disana.

 

“Minnie~ya. Aku harus kembali ke Amerika. Sepertinya tanpa kehadiranku kau akan tetap bahagia” ucapku lirih sambil segera menyelesaikan pesanan meja nomor 13 itu.

 

 

~~Author Pov~~

Park Min Ah menatap bahagia pada pasangan yang duduk di hadapannya. Setidaknya, Sungmin telah menepati janjinya untuk mencoba belajar mencintai istrinya. Masalah pelukan dan ciuman yang terjadi sebelum pernikahan itu, akan disimpannya baik-baik. Ia takkan pernah memberitahukannya pada siapapun. Ia tak mau membuat Kyuhyun dan Sora terluka.

 

“Oppa, aku ke meja pelayan dulu, ne? Aku harus menanyakan kenapa pesanan kita lama sekali datangnya” ucap gadis itu meminta ijin pada Kyuhyun yang duduk di sebelahnya. Tangannya yang sedari tadi menggenggam mesra tangan kekar namja itu segera terlepas.

“Aah. Nde. Sekalian tolong pesankan French Fries ya chagi~a…” balas Kyuhyun.

“Aku tambah Strawberry shake, saeng!” timpal Sora, “Oppa, kau mau tambah pesan apa?” ucapnya sambil menengok suaminya yang hanya diam.

“Ah, ani. Aku tak menambah apapun” jawab Sungmin.

“Oke, tambah french fries dan Strawberry shake” ucap Min ah riang sambil segera beranjak dari kursinya menuju meja pelayan.

 

“Permisi, Mr. Lee” panggil Min ah ramah pada namja berpakaian pelayan yang sedang mengaduk-aduk gelas berisikan Chocolatte Mint pesanannya. Donghae, yang dipanggil ‘Mr. Lee’ oleh Min ah segera menoleh ke arah gadis itu dan menatapnya dengan lembut.

 

“Ya, Nona? Ada yang bisa saya bantu?” ucapnya ramah. Namja itu berusaha menetralkan jantungnya yang berdegup kencang setiap berbicara dengan gadis itu. Terkadang ia merasa miris dengan kenyataan bahwa gadis itu tak mengenalinya. Min ah hanya mengenalnya sebagai ‘Mr. Lee’, pelayan restoran Grand Place yang berasal dari Amerika. Beberapa kali mereka berbicara dan berinteraksi setiap Min ah berkunjung ke restoran itu. Namun tetap saja, gadis itu tak pernah menyadari perasaannya yang sesungguhnya.

 

“Apakah pesanan kami belum jadi, Mr. Lee? Kenapa lama sekali?” tanya gadis itu.

“Mianhe, Nona Park. Pesanan Anda sebentar lagi jadi. Tadi mesin pembuat kopi kami agak bermasalah, jadi kami harus memperbakinya sebentar” jawab Donghae.

 

Min ah menatap lekat namja itu. Jujur saja, ia sangat suka menatap mata namja bernama ‘Mr. Lee’ itu. Ia tahu nama namja itu dari nametag yang melekat di seragam pelayannya. Ia tak tahu mengapa ia suka menatap mata teduh namja itu. Setiap menatapnya, ia merasa pernah mengenal mata teduh itu, dan ia merasa tenang setenang ia memeluk boneka nemo kesayangannya. Hanya saja, kapan ia pernah melihat mata teduh itu dan dimana ia sama sekali tak mengingatnya.

 

“Kalau begitu tolong tambah pesanan kami dengan french fries dan Strawberry Shake” pinta Min ah sambil mengalihkan pandangannya ke arah rangkaian bunga yang menghiasi meja pelayan itu. Rangkaian bunga anyelir dan daisy yang sederhana, namun indah.

 

“Bunga ini cantik sekali, Mr. Lee” celetuknya.

“Ya, mereka sederhana tapi cantik, Nona. Seperti Anda” jawab Donghae sambil tersenyum. Ia bukan sedang merayu. Tapi memang seperti itulah gadis itu nampak di matanya.

 

“Apakah anda tahu kalau setiap bunga itu memiliki arti, Nona?”  lanjutnya.

“Ah, Ne.  Seperti mawar putih yang artinya cinta yang tulus, bukan?” jawab Min ah bersemangat.

 

“Benar. Tapi mawar putih itu mengandung perasaan yang kompleks, Nona. Bunga daisy yang anda lihat itu juga berarti cinta yang tulus, suci dan setia. Tapi ia lebih sederhana dan polos” terang namja itu.

“Waah… anda hebat sekali, Mr. Lee!” puji Min ah, pipi gadis itu memerah karena senang mendengar penjelasan namja di balik meja pelayan itu. Tangannya menyentuh bunga-bunga yang ada di dalam rangkaian itu. Donghae tersenyum melihat ekspresi Min ah yang tak pernah berubah sejak kecil itu. Cerdas, aktif, dan selalu ingin tahu.

 

“Aku tak pernah melupakanmu” ucapnya.

 

Min ah yang mendengar itu segera menelengkan kepalanya demi mendengar ucapan Donghae.

“Maaf? Apa maksud Anda?” tanyanya.

 

“Aku tak pernah melupakanmu. Itu adalah arti dari bunga anyelir pink atau carnation yang sedang Anda pegang saat ini, Nona. Jadi rangkaian bunga itu berarti cinta yang polos, suci dan takkan pernah terlupakan Nona”

“Waah, indah sekali artinya Mr. Lee, seindah bunganya” ujar Min ah kagum. Matanya tak henti menatap takjub rangkaian bunga itu.

 

“Kalau anda menyukai bunga itu, Anda boleh membawanya pulang, Nona. Anggaplah sebagai kenang-kenangan dari saya karena saya harus kembali ke Amerika” terang Donghae, membuat Min ah yang mendengarnya mengernyitkan dahi.

“Mwo?”

 

 

 

 

 

 

 

From the T to the B to the C

 

 

 

 

 

 

Satu Cho dan Tiga Lee  yang mencintai satu Park. Segi empat yang terfokus pada satu titik tengah bila garis diagonal persegi itu dihubungkan (#apaan sih thor? Wkwkwkwk)

Beberapa  tabir sudah terbuka di part ini. Apa coba? Adakah readers yang bisa menebak dan menyimpulkannya?

Yang jawabannya benar boleh mandiin Ddangko bersodara  deh ^^ (#author digebuk Bang Yeye)

 

Mian untuk tingkat keGAJEan yang akut dan typo yang berserakan.

Jangan lupa RCL ne????

*BOW…

5 thoughts on “THE ONE I LOVE (PART 4) // SERIES

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s