Don’t say Good Bye (1 Shoot)

dONT sAY

Author :

Gesti Resita GR

judul : Don’t say Good Bye

Cast :

Hwang Minhyun a.k.a Minhyun

Choi Minki a.k.a Ren

Aron Kwak a.k.a Aron

Kim Jonghyun a.k.a JR

Kang dong Ho a.k.a Baekho

Genre : Romance+sad

A/N : seperti judulnya sebenernya FF ini terinspirasi dari lagu Davichi yg don’t Say good bye tapi agak beda jalur hahahahahsemoga suka ya ^^ 

Author Pov

Dimalam menjelang pagi yang gelap dan sunyi, terlihatlah sosok yeoja yg sedang berjalan menyusuri gang gelap untuk pulang kerumahnya setelah bekerja di club malam terdekat, baju seksinya tertutup mantel abu-abu tebal yang hanya menampakan betis putihnya.

Kreeseekk kreseekk

Yeoja itu menoleh ke arah suara itu, dia melihat sebuah plastik hitam besar sedikit bergerak.

“apa itu..” gumamnya, dia ingin segera pergi meninggalkan tempat itu namun dia juga penasaran dengan isi kantong hitam besar itu. Dengan langkah pelan yeoja itu mendekat, dengan sejurus keberanian yg dia kumpulkan tangannya membuka ikatan diatas kantung itu.

Betapa terkejutnya dia dan hampir saja berteriak jika tidak cepat2 syaraf otaknya memerintahkan tangannya untuk menutup mulutnya sendiri.

“kau..” gumam yeoja itu ditengah kesibukannya mengamati wajah yang dipenuhi luka lebam dan darah dibeberapa bagian.

“ya.. gwencahayo?” tanya yeoja itu, yg ditanya hanya menerjapkan matanya lemah sambil meringis sesekali menahan sakit.

“aduh bagaimana ini, apa mungkin kau korban pembunuhan.. apa harus aku menolongnya..” gumam yeoja itu, tiba-tiba tangannya merasakan genggaman tangan lain.

“to..long..” pinta orang itu.

“okay, hanya untuk kali ini mungkin aku harus menolongnya..” akhirnya yeoja itu membopong badan tinggi yg sedang terkulai itu menuju rumahnya yg tidak berada jauh dari tempat tadi.

>>>>

Hani pov

Ah tulangku terasa retak, bagaimana bisa tidak, semalam aku mempobong seorang namja yg kutemukan di gang dengan keadaan mengenaskan, badannya itu benar-benar tinggi walaupun masih terbilang cukup kurus tapi tetap saja dia namja yg berat.

“nggghhh…” kurentankan otot-otot badanku yang pegal setelah hampir semalaman aku mengurus namja itu, mudah-mudahan tidak akan terjadi masalah setelah aku menolongnya, siapa tau orang jahat yang melukainya itu dendam padaku karna telah menyelamatkannya, eh tunggu, aku bahkan tidak tau siapa yang jahat sebenarnya.

Masa bodoh..

Kupijakkan kakiku kelantai dingin kamarku dan kupaksa tubuhku yang terasa berat ke arah kamar mandi, setelah sampai dikamar mandi aku berkaca dicermin, beginilah aku. Hanya yeoja biasa bernama Kim Hani yang sudah tidak punya orang tua dari umur lima belas tahun karna kecelakaan mengenaskan, lalu bertemu dengan namja yang berumur enambelas tahun, namja yg hidup dalam kesendirian sepertiku, hanya saja dia sudah mendapatkan warisan dari kakeknya, ini juga rumahnya, dia menolongku saat aku tengah diganggu para berandalan dekat sini. Dan begitulah akhirnya dia menawarkanku tinggal disini bersama satu pembantunya yang sekarang sudah berhenti bekerja setelah dia hilang, namja itu hilang entah kemana satu tahun belakangan ini setelah dua tahun hidup bersama.

Tak terasa air mataku menetes mengingatnya, dia adalah penolongku, cinta pertamaku. Aku bahagia hidup bersamanya, tak sekalipun dia menyakitiku lahir dan batin, dia memperlakukanku bagai seorang putri yang rapuh, ya aku memang rapuh didekatnya. Aku sangat merindukan semua kasih sayangnya, aku mencintainya…

Pertamaku melihatmu ,senyummu mengembang

firasatku kini perih seperti lirik lagu

itu tidak mungkinkan terjadi… itu tidak mungkin

 kau meninggalkan diriku ,kau tinggalkan hatiku, kau tinggalkan tubuhmu

ku tak tahu ,mempertahanlkan dirimu ,tolonglah jawab aku…

 

Author Pov

Hani menangis tanpa suara didepan cermin kamar mandinya mengingat sebuah nama yang terukir lekat dihidupnya….

Namja yang telah mengisi kesedihannya dengan sayang dan tumbuh menjadi cinta murni, keduanya hidup damai, tak perduli sekitar. Bagi Dia dan Hani kehidupan mereka adalah milik mereka sendiri. Dia sangat menyayangi Hani, tidak pernah sekalipun Dia bertindak gegabah yang melecehkan Hani, Hani terlalu berharga baginya.

Namun apa daya ketika Hani sudah menyiapkan begitu banyak masakan untuk Dia yang tengah pergi entah kemana, kenyataan yg harus Hani hadapi adalah Dia tidak pernah kembali, setiap hari Hani duduk didepan halaman untuk menunggu Dia, namun Dia tidak pernah pulang, Hani memilih untuk hidup menyendiri dan tertutup dari lingkungan luar, pembantu mereka satu2nya pun sudah Hani berikan pesangon untuk berhenti, Hani menghidupi dirinya dengan bekerja diclub malam. Dia tidak mau menjual sebutirpun barang2 Dia. Hani akan tinggal dirumah itu untuk menunggu Dia pulang.

>>>

Hani duduk disofa ruang tengah sambil mengamati cameranya, Hani hobi sekali menjadi photografer untuk dirinya sendiri, walau tidak sesemangat dulu ketika bersama Dia.

Clekk

“kau sudah bangun..” ujar Hani tanpa menoleh ke arah suara pintu kamar yg terbuka itu.

“ne.. bagaimana..” ujar namja itu terputus melihat tatapan tajam Hani.

“duduklah dulu, badanmu masih lemah..” perintah Hani, namja itu menurut tanpa menjawab.

“sebenarnya siapa kau.. kenapa kau dibuang dengan keadaan begini..” tanya Hani sambil menyilangkan tangannya.

“aku.. tidak bisa aku beritahu” jawab namja itu, Hani menghela nafasnya pelan, terlalu privat kah?.

“okay… siapa namamu..” tanya Hani lagi, namja itu menatapnya dan menjawab.

“Hwang Minhyun imnida..” Hani tersenyum simpul mendengar jawabannya.

“aku Kim Hani, panggil saja Hani..” Minhyun ikut tersenyum melihat keramahan Hani.

“Minhyun.. panggil saja Minhyun.. dan terima kasih karna telah menolongku” ujar Minhyun.

“sebenarnya aku tidak berniat menolong..” ujar Hani datar, minhyun menatap tidak percaya.

“hahahaha dengarkan perkataanku barusan..kau tinggal dimana..” tanya Hani.

“di Busan, tapi tidak lagi sekarang..” ujar Minhyun, gurat senyumnya menghilang, Hani menangkap kegelisahan minhyun.

“mm baiklah, tinggal disini…” ujar Hani cepat, Minhyun kembali menatapnya tak percaya.

“tapi kita baru kenal, dan kau juga tidak tau siapa aku..”

“tidak masalah, anggap kita teman mulai sekarang… lagi pula mau kemana kau dengan keadaan begini..” ujar Hani santai, Minhyun berfikir sejenak, mungkin ada benarnya, mau kemana lagi dia, di Seoul tidak ada satu kerabat pun yg dia punya.

“memang kau tinggal dengan siapa..” tanya Minhyun.

“tidak ada..” jawan Hani singkat, lalu beranjak ke dapur.

“kalau mau tinggal disini jangan malas, aku benci rumah kotor..” teriak Hani dari dapur, Minhyun tersenyum mendengarnya.

“ne!” balas Minhyun.

Minhyun mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.

“apa benar dia hanya sendiri..” gumam Minhyun, kepalanya masih terasa pusing akibat pukulan yg dia terima kemarin, pukulan dari para berandalan yg mengejarnya karna Minhyun melihat para berandalan itu membunuh seorang pria di dekat gang semalam dia dibuang.

Niatnya untuk ke Seoul untuk merantau karna kehidupannya di Busan sangatlah sederhana, jadi dia memutuskan untuk mencari pekerjaan begitu lulus sekolah, karna sejujurnya Minhyun baru menginjak delapan belas tahun.

“sampai kapan mau melamun, ayo makan..” tegur Hani, Minhyun sadar dari lamunannya dan melihat ke arah dua mangkok berisi ramen yang Hani bawa.

“persediaan makanan habis, hanya ada ini.” Ujar Hani sambil mengodorkan satu mangkok kearah minhyun.

“tidak apa-apa..” ujar Minhyun tersenyum.

“dimana orang tuamu..” tanya minhyun, Hani berhenti melahap makanannya.

“sudah meninggal..” jawabnya lalu kembali memakan ramennya.

“maaf..” sesal Minhyun, Minhyun memilih diam, tidak mau bertanya macam-macam mengenai Hani seperti tadi, tidak sopan rasanya jika dia terlalu banyak bertanya pada yeoja penolongnya.

>>>

“kau mau kemana..” tanya Minhyun melihat Hani bersiap-siap pergi.

“aku harus bekerja” ujar Hani sambil memasang sepatunya. Awalnya Minhyun ingin bertanya dimana Hani bekerja namun dia tidak ingin mencampuri kepribadian Hani lagi.

“aku titip rumah ya..” ujar Hani tersenyum lalu menghilang dari balik pintu.

“malam-malam begini dia bekerja dimana..” gumam Minhyun penasaran.

Karna badannya masih kurang stabil Minhyun memilih untuk berbaring di sofa sambil menonton TV.

Setelah lewat tengah malam, mata Minhyun terasa berat, dia mengantuk.

Ditempat lain Hani sedang berdiri dipojok bartender tempatnya bekerja, mendengar lantunkan gemuruh lagu yang menggema ditempat itu.

“ini..” ujar pria penjaga Bartender itu pada Hani.

“apa ini..” tanya Hani pada temannya yg bernama Baekho.

“vodca.. kau pikir apa..” jawab Baekho.

“ck.. aku tau itu, maksudku kenapa kau memberi vodca, aku tidak memesannya..”

“pria disana yg memberikannya untukmu” tunjuk Baekho pada salah seorang tamu yg duduk disofa dekat dance floor, saat Hani menatapnya namja itu juga menatap hani sambil tersenyum dan mengangkat pelan gelasnya, Hani ikut mengangkat gelasnya seolah mereka melakukan ‘cheers’.

“dia lagi..” ujar Hani, Baekho tersenyum pada Hani.

“sepertinya dia menyukaimu”

“ayolah.. dia hanyalah namja iseng, setelah setengah tahun dia jadi pelanggan club kita kau masih tidak mengetahui sifatnya” kilah Hani.

“ne.. ne.. JR memang terkenal dengan sindikat playboynya..” kekeh Baekho menyebut nama namja tadi, JR.

>>>>

“aku pulang…” sapa Hani setelah masuk pintu rumahnya, tidak ada jawaban.

“mungkin dia masih tidur” gumam Hani, mengingat ini masih jam 4 pagi. Hani menghentikan langkahnya ketika melihat Minhyun tertidur disofa, dan tv masih menyala.

“dia tidur disini.. ck” Hani masuk kekamarnya, lalu kembali lagi membawa selimut. Dengan pelan Hni menutup tubuh Minhyun dengan selimut yg dia bawa, Minhyun menggeliat kecil lalu terlelap lagi, Hani tersenyum sedikit lalu masuk kekamarnya kembali.

Setelah membersihkan diri Hani memutuskan untuk tidur karna lelah semalaman harus mondar-mandir mengantarkan minuman untuk pengunjung club.

“kau sedang apa hah..” tanya namja yg membuka matanya tiba-tiba.

“kau sudah bangun..” tanya Hani terkejut, karna dari tadi Hani memperhatikan wajah tidur namja itu sambil sesekali memotret wajah tidur namja itu.

“kau mengambil gambarku tanpa ijin daritadi ya..” ujar namja itu tersenyum setengah menggoda.

“aisshh menyebalkan..” Hani berdiri dari sisi sofa tempat namja itu tertidur tadinya. Namja itu merubah posisinya duduk dan menarik tangan Hani agar duduk disampingnya.

“ kau tidak ada puasnya mengambil gambar namja keren ini ternyata..” ujar namja itu sambil mengelus kepala Hani, Hani tersenyum dan memeluk manja lengan namja itu.

“salahmu sendiri kenapa bisa sekeren ini..” ujar Hani, namja itu tersenyum lembut dan mengecup kening Hani lalu merangkuih tubuh Hani dipelukannya.

“saranghaeyo..” gumam Namja itu.

“nado..” jawab Hani dan menenggelamkan kepalanya dileher namja itu, menghirup wangi namjanya.

Hani terbangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah, mimpi itu lagi.

Hampir setiap malam Hani mempikan kenangannya bersama namja itu, membuatnya tersiksa.

“dimana kau sebenarnya..” lirih Hani dan menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan dinginnya.

Tok tok tok

“Hani, kau sudah bangun..” Hani mendongakkan kepalanya kearah pintu.

“Hani..?” panggil Minhyun lagi.

“ne..” jawab Hani.

“ayo makan, aku sudah memasak ramen..”

“ne.. aku menyusul..” lalu tidak terdengar suara Minhyun lagi dari balik pintu, Hani mendesah berat nafasnya lalu beranjak dari kasurnya.

“sudah jam sebelas..” gumam Hani saat melirik jam dindingnya.

Kakinya melangkah ke arah kamar mandi, dilepaskan semua pakaian yg menutup tubuhnya, lalu mengikat rambutnya keatas, berjalan menuju shower. Hani menutup matanya ketika butiran air mendarat halus diwajahnya.

Minhyun sudah terlihat sedikit membaik walaupun masih banyak bekas lebam ditubuhnya, Minhyun bangun dari jam tujuh pagi dan menemukan dirinya sudah ditutup selimut tebal, akhirnya Mnhyun memutuskan untuk membereskan rumah, walaupun sebenarnya dia tidak suka merapihkan ruangan namun demi Hani yg berbaik hati menerimanya mau tidak mau Minhyun harus menunjukan sikap terima kasihnya.

Setelah merapihkan semua ruangan, perutnya menjerit (?) lapar, dikulkas hanya ada Ramen bungkus.

“dia bilang persediaan habis..” gumam Minhyun lalu mengambil dua bungkus Ramen dan memasaknya.

“mungkin dia sudah bangun..” ujar Minhyun lalu berjalan kearah kamar Hani.

Tok tok tok

“Hani, kau sudah bangun..”

“Hani..?”

“ne..”

“ayo makan, aku sudah memasak ramen..”

“ne.. aku menyusul..”

Setelah menunggu hampir lima belas menit Hani keluar dari kamarnya.

“ramen..” tanya Hani.

“ne.. maaf agak lembek, aku memasaknya terlalu lama..” ujar Minhyun sambil menggaruk kepalanya.

“hmmm tidak pandai memasak rupanya..” sindir Hani sambil terkekeh, akhirnya mereka makan bersama sambil mengobrol lebih banyak sesekali tertawa karna Minhyun membuat lelucon aneh.

Tidak terasa sudah sebulan lebih Minhyun tinggal dirumah Hani, walaupun begitu Hani masih belum memberitahu semua tentang kehidupan pribadinya, termasuk tempatnya bekerja, padahal minhyun sudah menceritakan semua kisah hidupnya dari busan dan sampai akhirnya bertemu berandalan itu yg pada akhirnya tinggal dirumah Hani.

“aku boleh bertanya sesuatu..”

“apa..” kau bekerja dimana..”

Hani terdiam, lalu tersenyum dan memakai mantelnya.

“tidak penting..” jawab Hani.

“aku juga ingin mencari pekerjaan besok.. aku tidak bisa diam saja disini, dan melihat mu bekerja, posisi kita terbalik..” ujar Minhyun, Hani menatapnya sejenak.

“dan membiarkan kau ditangkap lagi para berandalan itu.” Tanya Hani sakarstic.

“tidak mungkin, sudah lama sekali kejadian itu..”

“mungkin saja, tidak ada kabar kematian namja dari busan dikoran, lagipula para berandalan itu pasti tau kalau kau telah diselamatkan orang.. mereka akan terus mencarimu, ingat kan kau itu satu-satunya saksi pembunuhan hari itu.” Ujar Hani panjang, minhyun menunduk sedih.

“maaf.. sebagai namja aku merasa tidak berguna” Hani tersenyum dan menyentuh pipi Minhyun.

“siapa bilang, aku senang kau disini, aku jadi tidak kesepian lagi..” ujar Hani jujur, minhyu tersenyum dan reflek memeluk Hani.

“gomawo..” ujar Minhyun terharu.

“cheonma.. aku harus pergi sekarang” ujar Hani.

“ne..” Minhyun melepas pelukannya dan menetap punggung Hani yg menjauh.

Hatinya seperti tergerak, sesuatu yg menyuruhnya mengikuti Hani, Minhyun semakin penasaran dengan pekerjaan Hani yg selalu pergi malam dan pulang pagi, semoga apa yg dipikirkannya tidak benar, batin Minhyun.

Dengan cepat Minhyun mengambil sweatr dan mengunci rumah, dia mengikuti Hani sampai ke sebuah club, hatinya mencelos sambil meyakinkan dirinya jika apa yg dikhawatirkannya tidak nyata.

“selamat datang tuan..” ujar pelayan yeoja ketika Minhyun masuk ke club itu, matanya mencari Hani, akhirnya setelah mencari dalam keadaan remang, Minhyun melihat Hani berdiri dibartender lalu mengantar pesanan salah satu tamu.

“benar dugaanku, kau bekerja ditempat ini seperti ini..” lirih Minhyun, hatinya sedih melihat Hani yg berpakaian terbuka dan kadang tersebnyum menggoda kepada beberapa tamu, Minhyun masih terpaku ditempatnya berdiri.

“tuan ingin minum apa..” tanya seorang pelayan.

“ah aku mencari teman, dia bekerja disini” jawab minhyun, pelayan itu pergi dan Minhyun memutuskan untuk pergi juga dari sana, dia lebih memilih pergi daripada melihat Hani seperti tadi.

>>>

“lala..hmmm..~” Hani bernyanyi asal, keadaannya mabuk berat, jalannya pun tidak seimbang.

“ck… dimana rumahku, kenapa tidak sampai-sampai..” kesal Hani sambil menendang batu kerikil.

“kau sudah pulang” ujar minhyun yg sedang duduk didepan pintu brumah, dia menunggu Hani semalaman.

“hmm… kau Minhyun ya, kenapa tidak tidur eoh..” ujar Hani melantur.

“Hani-ah..”

“ayo kita masuk…” ujar Hani namun sayang kakinya terkilir dan hampir terjatuh kalau saja Minhyun tidak segera berdiri dan menahan tubuh Hani. Minhyun membawa Hani masuk kerumah, dan menidurkan Hani dikasurnya.

“kenapa kau mabuk begini.. aku tidak perduli, besok aku akan mencari kerja.. jadi kau tidak perlu bekerja ditempat kotor itu.” Minhyun membelai lembut rambut Hani, menatap yeoja itu miris, baginya Hani penuh dengan misteri.

“apa artinya kau akan pergi..” tanya Hani sekenanya, airmatanya mengalir.

“kenapa semua meninggalkanku.. apa salahku” Minhyun tersentak dengan kata-kata Hani, apa maksudnya.

“aku Cuma mencari kerja, aku tidak pergi kemana-mana..” bujuk Minhyun.

“bohong… kau pasti tidak akan kembali kesini lagi..” Hani tidak tau apa yg dia katakan, semua sudah diluar kendali otaknya.

“hei ada apa denganmu… tenanglah..” ujar Minhyun dan memeluk tubuh Hani yang terbangun.

“jangan pergi lagi..” Hani menangis dipundak lebar Minhyun, walaupun tidak mengerti Maksud Hani, namun Minhyun tau betul jika yeoja ini sedang terluka dan takut. Minhyun terus mendekap tubuh Hani yg bergetar.

>>>>

Hani melenguh saat sinar-sinar kecil memasuki rongga matanya.

“nghhh…” kepalanya terasa pusing akibat pengaruh alkohol. Hani menyadari jika ada sebuah tangan yg memeluknya dari belakang, saat Hani menoleh dia dapat melihat jelas wajah minhyun yg hanya berjarak beberapa centi. Hani tidak beranjak maupun menghidar, Hani justru menaqtap lekat wajah namja yg sudah tinggal serumah dengannya lebih dari sebulan, namja ini tau cara membuatnya merasa nyaman, perlahan jari Hani menelusuri garis wajah Minhyun tanpa menyentuh kulitnya.

Dari mata, hidung hingga bibir, sebenernya Minhyun namja yg sangat tampan, namun Hani baru menyadarinya.

“aku pasti merepotkanmu semalam.. maaf, aku pasti berkata yg tidak-tidak..” gumam Hani, Minhyun mendengar suara Hani dan mulai tersadar dari tidurnya namun msaih menutup mata.

“aku rasa aku mulai menerimamu.. tapi, aku masih mencintai namja lain.. seandainya kau tau posisiku..” gumam Hani lagi pelan, Minhyun mendengar semua itu, hatinya terasa sesak, Minhyun mulai menyayangi Hani, namun pengakuan Hani membuatnya hancur berkeping-keping.

“mungkin aku harus membiarkanmu pergi..” ujar Hani sambil menarik tangannya dari wajah minhyun, tiba-tiba Minhyun merangkuhnya lebih erat.

“jika aku yg tidak mau pergi bagaimana..” ucap Minhyun ditelingta Hani, Hani tersentak kaget.

“Minhyun…”

“aku tidak peduli siapa namja itu, yg pasti dia sudah tidak bersamamu sekarang bukan… biarkan aku yg mengganti posisinya..” ujar minhyun jujur.

“tapi..”

“sarangahe…”

“………”

“Hani-ah…”

“…………”

“aku tau ini terlalu cepat, tapi itulah yg aku rasakan.” Minhyun merenggangkan pelukannya dan melihat wajah Hani yg menangis.

“jangan bekerja disana lagi, aku akan yg akan bekerja untuk kehidupan kita.”

“tapi kau masih dalam baha..”

“aku tidak perduli.. kau yg terpenting bagiku..” ujar Minhyun tulus, Hani kembali menangis, bagaimanabisa Minhyun begini, ini tidak boleh, tidak pantas untuk Hani, batin Hani.

“percaya padaku..” Minhyun mencium kening Hani lembut, turun kehidung Hani dan perlahan menempelkan bibirnya di bibir Hani, begitu pelan seolah takut hani akan pecah.

“Hani… saranghae..” ujar minhyun lagi, Hani diam tak menjawab, bukan karna dia tidak suka melainkan karna dia bingung.

***

Seminggu setelah Minhyun menyatakan perasaannya, Minhyun benar-benar nekad untuk bekerja dan memaksa Hani berhenti dari club itu, Hani menghabiskan waktunya dirumah dengan memotret beberapa gambar disekitarnya, kadang dia juga keluar rumah untuk kegiatan memotret lainnya dialam bebas, Hani kembali bersemangant memotret karna Minhyun.

“dasar..” umpat Hani pelan sambil tersenyum memandang foto Minhyun yg sedang membaca buku dialbum cameranya. Hati Hani mulai terbuka sedikit untuk Minhyun, belum sepenuhnya.

“aku pulang…” sapa Minhyun begitu sampai dirumah, Hani menaruh cameranya dan menghampiri Minhyun.

“tumben pulang cepat..”

“ne, aku sengaja menyelesaikan pekerjaanku lebih awal.. ini aku bawakan daging sapi.” Ujar Minhyun ceria sambil menunjukan kantung yg dibawanya.

“ayo kita masak dihalaman belakang, aku ganti baju dulu, kau siapkan panggangannya ya..” perintah Minhyun halus.

“okay..” jawab Hani sambil membawa kantung itu.

Setelah Minhyun selesai mengganti pakaian, dia langsung ke halaman belakang.

“wah sepertinya kita bisa kenyang selama tiga malam jika dagingnya sebanyak ini..” canda Hani.

“hahahaha… hemat kan..” tambah minhyun,

Kriinggg Kriingg

ketika keduanya asik memanggang daging, telepon rumah berbunyi.

“biar aku yg angkat” ujar Hani dan masuk kedalam rumah, Minhyun mengangguk pelan.

“yeobuseo..”

“Hani…”

“siapa ini..”

“aku.. aku Cuma seorang namja yg akan mengembalikan kebahagiaanmu..”

“apa maksudmu..” Hani mengekerutkan keningnya.

“sabar sayang… dunia ini ternyata begitu sempit ya, tebak aku bersama siapa disini..” ujar namja itu, Hani semakin bingung.

“cepat bicara padanya!” teriak namja ditelepon itu.

“akh.. Hani..” tiba-tiba terdengar suara namja yg tidak asing baginya, itu suara… Ren yg seperti kesakitan.

“Ren..” ujar Hani.

“cukup… bawa namja ini..” perintah namja misterius ini pada anak buahnya.

“apa yg kau..” ujar Hani terpotong

sstttt pean-pelan saja bicaramu, kalian ini bagaikan pasangan sejati ya.. hahahaha dengar, aku tau kau menyembunyikan namja yg bernama Minhyun, dia harusnya sudah mati jika saja kau tidak menyelamatkannya…”

“……………” lidah Hani kelu, kakinya bergetar seketika.

“kenapa diam? Kau bingung?? Hahah kebetulan sekali bukan, Ren… dia disini karna menyelamatkanmu juga… yg jelas, aku ingin mengajukan pertukaran…”

“ma…maksudmu..”

>>>>>>>

“wah indah sekali pemandangannya, darimana kau tau tempat ini..” tanya Minhyun pada Hani, mereka berada dipadang bunga yg cukup luas.

“ada apa kau mengajakku kesini..” tanya Minhyun namun tetap memandang padang bunga.

Hani tersenyum pada Minhyun, senyum yg mengandung seribu arti, antara senang, sedih, hancur, sakit dan lainnya.

Malam itu, setelah penelpon itu pengajukan tawaran yg sulit diterima Hani, namja itu ingin Minhyun, dan sebagai gantinya Ren akan kembali pada Hani.

Ren adalah namja yg selama ini mengisi hidup Hani, namja yg selalu ditunggu Hani setiap hari dirumah, namja yg begitu dicintainya.

Hani Pov

Ren akan kembali, harusnya aku senang, tapi menatap Minhyun membuatku merasa bersalah dan perih..

Ren berada ditangan mafia selama ini karna aku, mafia itu adalah pesaing bisnis kakek Ren, mereka dendam karna kakek Ren telah membuat mafia itu bangkrut, sebagai balas dendam mereka mengancam Ren dengan menggunakan namaku, Ren menyerahan dirinya menjadi budak mafiaq itu untuk menyelamatkanku.

Air mataku kembali menetes, rasanya lebih sakit berkali-kali lipat jika melihat kehidupanku sekarang.

“Hani ah… buatmu..” ujar Minhyun yg ada dibelakangku, segera kuhapus airmataku dan berbalik tersenyum padanya, dia memberiku seikat bunga yg dipetiknya daritadi.

“gomawo..” ujarku memaksakan senyumku. Tak lama sebuah mobil berhenti tak jauh dari tempatku dan Minhyun berdiri, lalu keluarlah seorang namja yg berparas cukup tampan namun siapa menyangka dialah gembong mafia yg menelponku waktu itu. Dia bernama Aron.

“siapa mereka…” tanya minhyun bingung, aku menunduk dan menangis, sudah saatnya.

“Hani-ah kau kenapa..” tanya Minhyun resah, tak lama keluarlah beberapa namja dari mobil lainnya dan mendekati Minhyun, Minhyun sadar mereka adalah berandalan yg hampir membunuhnya dulu.

“gawat..” Minhyun berusaha membawaku lari dengan menggandengku, namun aku menghempaskan genggaman tangan minhyun, Minhyun menoleh bingung padaku.

“Hani ayo pergi…” gusar Minhyun, aku menatapnya nanar. Dia menatapku terkejut.

“kenapa kau menangis..” tanyanya.

“mianhae..” ujarku terus terisak, Minhyun masih terlihat bingung.

“mianhae…” tangisku pecah, aku tersungkur dihadapannya, Minhyun terdiam kaku tak beranjak, kurasa dia mengerti maksudku.

“kenapa Hani-ah… apa salahku..” tanyanya ikut tersungkur didepanku, menyingkirkan tangan diwajahku dengan tanganya.

“mianhae..” hanya kata itu yg mampu ku ucapkan, aku jahat, sangat jahat.

“kenapa…” dia menangis dihadapanku, hatiku sangat terluka.

“aku… aku mencintainya..” ujarku mengepalkan kuat tanganku, Minhyun menundukan kepalanya dalam hingga menyentuh pahaku.

“kenapa Hani-ah…” dia terus bertanya, aku makin larut dalam tangisku, ya tuhan.

“aku tidak mencintaimu…” ujarku dingin. Dan menghapus airmataku, aku bohong, ya aku berbohong padanya, hatiku menangis.

“Hani..” sapa seorang namja disamping kami.

“lakukan dengan cepat, aku tak banyak waktu.” Namja itu Aron, dia menatapku tajam dan memberi isyarat ke arah mobilnya, dapat kulihat Ren.. sedang duduk dimobil yg pintunya terbuka lebar, dia terlihat lemah.

“Ren..” ujarku lalu bangkit berdiri.

“Hani jangan pergi…” mohon Minhun.

“selamat tinggal, Minhyun-ssi” ucapku dingin dan formal, bencilah kau Minhyun.

“jemput kekasihmu itu… kita sudah sepakat.” Ujar Aron, Minhyun mendongakan kepalanya dan menatapku nanar, kumohon jangan tatap aku begitu.

Tanpa aku pedulikan tatapan Minhyun aku berlari ke arah mobil sekencang mungkin.

“Ren!” panggilku, Ren memandangku lemah, aku segera menarik lengannya dan membopongnya keluar dari mobil, Ren mendekapku dan menangis.

“Hani-ah..”

“jangan bicara lagi…” aku menuntunnya pergi, melewati Minhyun yg masih terpuruk.

“Hani!” panggil Minhyun membuat langkahku terhenti. Saat aku menoleh para anak buah Aron sudah membawanya paksa.

“Hani!! Jangan pergi.. kumohon.. saranghae..!!” teriaknya, aku kembali menangis, hatiku pedih, dia terus memanggil namaku, aku menatap Ren dan tersenyum padanya yg masih setengah sadar. Ren yg aku butuhkan, bukan yg lain.. yakinku dalam hati.

“Hani-ahh!!!!” Minhyun memanggilku lagi, aku kembali berjalan meninggalkannya, berusaha menutup telingaku dari suaranya.

kumohon jangan katakan itu ,mengapa kau tinggalkna ku

hatiku menangis ,dadaku menangis , akupun menangis

tak akan ada kata perpisahan , jangan buka kata itu lagi

jangan katakan selamat tinggal untukku

  

satu kata dingin yang kau ucap ,meresap dihatiku

dunia pun runtuh ,seperti runtuh,hidupkup[un runtuh

jika ini kan berakhir ,kenanganpun berakhir ,kita pun juga berakhir

Saranghae ,demi dirinya kau tega meninggalkan aku

“Hannii!!” itu suara terakhir yg aku dengar darinya, maaf Minhyun. Aku mungkin mencintaimu, Tapi sungguh aku tidak bisa melepas Ren.

“Hani..” Ren memanggilku dengan suara parau.

“saranghae..” ucapnya.

“nado..”

The End

gimana??????? RCL ya

4 thoughts on “Don’t say Good Bye (1 Shoot)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s