— FanFict || Three Days With Handsome Ghost || Chapter || 3 of 3 || End —

 

TD HG

 

Author : Miss Wu a.k.a Park Soo Kyung

 

Fb : Henecia Hyunjoong Elfmagnae

 

Main Cast :

  • Park Soo Kyung
  • Wu Yi Fan/Kris Wu
  • Other Cast

Length : Chap3 of 3/end

 

Genre : Romantic, Horror (?) gagal, Fantasy maybe (?)

 

Rating : PG 17 +

 

Disclaimer :   

Segaje-gajenya neh fanfict, tetap saja ini murni dari hasil pemikiran keras saya, jadi mohon untuk mencintai produk orisinil ^___^v no copas, no plagiat `n no bashing. Mian kalau ada kata-kata yang nantinya kurang berkenan dihati para readers tersayang,  khamsahamnida ^____^

 

Words : 4.985

 

 

 

Happy Reading ^____^

 

 

 

Summary

 

Percayalah …

Bukan kau, bukan dia dan juga bukan aku …

Hati ini, hatiku yang memilihmu …

Apapun kondisiku nanti, tak pernah aku perduli itu …

Aku akan tetap datang …

Datang padamu, itu janjiku :)

 

 

 

 

—Story Begin—

 

 

 

 

Omo, ada apa dengan wajahmu? Kau menangis semalaman ini, eoh? Wae? Ada yang menyakitimu?” Sang Kyu bertanya dengan nada histeris setelah melihat perubahan pada wajah gadis dihadapannya. Tapi yang ditanya hanya menggeleng tak bertenaga. Kedua mata gadis itu memang tertuju padanya tapi kosong. Kosong sekali tatapan itu. Tak menyiratkan apapun.

Hah, kau ini selalu saja begini. Kalau ada apa-apa jangan dipendam sendiri. Aku sudah bilang, kau akan gila kalau terus seperti ini, Soo Kyung-ah.” Sang Kyu benar-benar sudah kehabisan akal menghadapi sikap tertutup sahabatnya itu. Menangis, selalu saja menangis. Tak ada salahnya kan sedikit membagi kegundahan pada orang lain. Apa lagi itu orang yang telah dekat denganmu tapi gadis ini sulit, sulit sekali untuk melakukan itu.

 

“Aku ingin sendiri, Sang Kyu-ah.” Sang Kyu menyerah. Kata pamungkas itu sudah terlontar dari mulutnya. Kata yang tidak bisa dibantah. Gadis itu cepat merapikan diktat-diktatnya dan bergegas berdiri dari duduknya.

 

“Kalau kau sudah merasa membutuhkanku, bilang. Aku pasti akan datang. Tidak baik memendam masalah sendirian. Aku kuliah dulu. Aku akan membuatkan surat izin untukmu.”

 

Chu~

 

Sang Kyu mengecup lembut pipi mulus gadis itu sebelum melangkahkan kakinya. Entah kenapa berat sekali meninggalkan Soo Kyung dalam kondisi seperti itu. Baru kemarin dia melihat senyuman ceria dan tawa renyah Soo Kyung tapi sekarang, gadis itu tak ubahnya mayat hidup. Wajahnya pucat pasi. Sorot kedua mata indah itu benar-benar hampa. Seperti tak ada gairah untuk hidup.

 

Sang Kyu menghela nafas panjang sebelum akhirnya membuka pintu dan keluar dari kamar gadis itu.

 

Angry Bird? Kenapa Soo Kyung terus saja mengucapkan nama boneka kesayangannya itu?” Sang Kyu mendesah lirih. Dua hari terakhir ini sikap Soo Kyung memang aneh. Gadis itu terlihat berbeda dari biasanya. Sang Kyu sangat tahu akan hal itu. Dia berteman dengan gadis itu tak sebentar, sembilan tahun. Baru kali ini dia melihat gadis itu sedikit bersikap tak wajar, berbicara sendiri, marah-marah tanpa sebab dan selalu menganggap kalau ada orang lain berada didekatnya. Dan apa hubungannya dengan boneka berwarna merah yang namanya terus saja diucapkannya tanpa henti? Bahkan dengan airmata berlinang? Apa sebenarnya yang membuat gadis itu sebegitu terluka?

 

 

 

~oOo~

 

 

 

“Kau menangis lagi, eoh?”

 

Soo Kyung baru saja akan merebahkan tubuh lunglainya diatas tempat tidur ketika suara itu terdengar begitu nyata ditelingannya.

 

Tak butuh waktu untuk berpikir, gadis itu cepat menolehkan kepalanya kesumber suara. Ada semacam kekuatan yang merasukinya melalui gelombang suara yang baru saja ditangkap oleh kedua panca indera pendengarannya itu. Kedua mata indah itu membulat tak percaya, sosok yang terus ditangisinya kini sudah berdiri begitu gagah. Blazer biru dongker dengan kaos v-neck putih dipadu jeans hitam, membalut sangat sempurna ditubuh proposionalnya. Tatanan rambutnya memang masih sedikit berantakkan tapi tidak sedikitpun mengurangi ketampanan pemilik wajah yang sedang memamerkan senyuman manis dengan deretan gigi putihnya yang begitu rapi. Gadis itu berdiri perlahan dari duduknya dan mulai berjalan terseok kearah dimana sosok itu sekarang berdiri. Kedua matanya sama sekali tak berkedip. Berkaca-kaca. Setelah jarak mereka hanya dipisahkan oleh ukuran yang dinamakan senti, gadis itu dengan bergetar mengangkat tangan kanannya dan menyentuhkan jemari-jemari lentiknya pada pipi kiri milik sosok tinggi besar dihadapannya.

 

“Kau nyata, angry bird?” Bisik Soo Kyung lirih, satu-satu butiran bening itu melesat cepat melewati kedua pipinya. Sosok yang tak lain pria hantu itu tertawa kecil lalu menarik dengan cepat tubuh mungil didepannya itu kedalam pelukannya. Tak sedikitpun memberikan ruang yang tersisa. Erat.

 

“Kau ini benar-benar membuatku bingung, aku pergi kau menangis. Sekarang aku ada disini, kau menangis juga. Ahh, jinja.” Pria itu berpura-pura mengomel ketika dirasakannya airmata gadis itu mulai membasahi dada bidangnya menembus kaos yang dikenakannya.

 

“Kenapa kau pergi? Kau tahu, aku sangat merindukanmu. Kau tega melakukan itu padaku, bukankah aku sudah memintamu untuk tidak meninggalkanku. Kau jahat.” Soo Kyung balas mengomel disela isak tangisnya. Pria itu melepas pelukan eratnya, mengangkat wajah gadis itu dan mendekatkan wajahnya. Memperhatikan detail wajah cantik yang kini terlihat tulus menangis untuknya.

 

“Rupanya kau benar-benar telah jatuh cinta padaku, nona manis.” Pria itu mengodanya, mengecup lembut pucuk hidung mancung milik Soo Kyung yang masih tak henti-hentinya terisak lirih.

 

“Aku sedang tidak ingin bercanda.” Gerutu Soo Kyung gusar. Semalaman dia tak sedetikpun bisa memejamkan matanya karena terlalu memikirkan pria ini. Menyebalkan. Membuatnya khawatir setengah mati. Bahkan Sang Kyu pun tega menyebutnya mayat hidup.

 

“Emmh, arraseo. Mianhae, tapi aku tak berbohong kan? Lihat, aku kembali datang untukmu. Aku ada disini, didepanmu nona.” Pria itu mengusap lembut kedua pipi Soo Kyung, menghapus sisa-sisa airmatanya. Soo Kyung tersenyum kecil lalu mengangguk cepat.

 

“Kau pasti tidak tidur semalaman kan, kajja. Kau harus memulihkan tenagamu.” Huupp, dengan sigap pria itu mengangkat tubuh mungil Soo Kyung dengan kedua tangannya kekarnya. Gadis itu sedikit terlonjak.

 

Yaa, yaa!! Cepat turunkan aku angry bird. Aku masih punya tenaga untuk berjalan sendiri.” Soo Kyung sedikit shock dengan perlakuan mengejutkan pria itu padanya. Tubuhnya sedikit meronta.

 

Jeongmal? Aku butuh buktinya.” Pria itu mengedipkan sebelah matanya nakal, tak mengidahkan perintah Soo Kyung. Kening gadis itu mengkerut tak mengerti.

 

“Maksudmu? Pembuktian ap—- eummmphh.” Perkataan Soo Kyung terpotong dengan sesuatu yang hangat menempel pada bibirnya. Mendesak dengan halus. Gigitan kecil sedikit nakal pada bibirnya itu segera menyadarkannya. Dengan jutaan rasa yang telah memporak porandakan seluruh perasaannya, Soo Kyung pun tanpa ragu membalas dengan sangat lembut lumatan-lumatan memabukkan itu. Hening. Hanya suara detak jarum jam yang terdengar begitu keras didalam kamar bercat pink soft itu. Kedua tangan mungil Soo Kyung bergerak pelan, melingkar erat pada leher pria yang sedang membuatnya kehilangan kesadaran. Dengan jemari lentiknya, Soo Kyung menekan sedikit kepala pria itu agar dapat merengkuh rasa yang jauh lebih indah.

 

Ciuman hangat itu pun terlepas. Mereka saling berpadangan lama lalu sama-sama tersenyum penuh arti. Dengan gerakan cepat, pria itu kembali menyambar bibir basah milik Soo Kyung. Soo Kyung tak ingin melewatkan kesempatan manis itu. Bibir mungilnya dengan cepat melanjutkan kembali ciuman lembut yang semakin dalam dan kuat itu. Menyambut dengan segenap perasaan semua yang telah pria itu berikan untuknya. Lama kedua anak manusia berlawanan jenis itu menuntaskan kerinduan mereka. Menghapus segala keraguan pada hati gadis itu.

 

“Ternyata kau benar. Tenagamu masih ada, nona. Kita baru berpisah semalam, bagaimana kalau aku meninggalkanmu seminggu. Sesange, aku tidak dapat membayangkannya. Lain waktu aku akan membalasmu lebih dari ini, nona.” Bisik jahil pria itu. Soo Kyung mendelik, wajah cantiknya seketika memerah. Dengan jengah dia mengalihkan wajah tomatnya dari hadapan pria itu. Malu sekali.

 

“Kau yang memulai.” Sergah Soo Kyung gugup. Matanya kembali menatap wajah tampan yang juga sedang memandangnya sayu. Dia benar-benar telah jatuh cinta pada sosok asing yang bahkan baru dikenalnya tiga hari yang lalu. Tak ingin sedetik pun matanya lepas dari wajah tampan angry bird ini.

 

Cha, sekarang kau beristirahatlah.” Soo Kyung tak lagi menyadari kalau tubuhnya kini telah terbaring diatas tempat tidur. Pria itu mengikutinya naik ketempat tidur dan membaringkan tubuhnya tepat disebelah Soo Kyung.

 

“Ahh, aku pun lelah sekali, semalaman aku juga tidak tidur karena memikirkanmu, memikirkanmu dan memikirkanmu.” Pria itu berucap sambil memandang langit-langit kamar gadis yang sekarang sudah membalikkan tubuhnya kearah pria tersebut. Menatapnya penuh kasih sayang.

 

“Memangnya hantu sepertimu juga butuh tidur?” Tanya Soo Kyung polos. Pria itu tak langsung menjawab. Tubuhnya cepat berbalik kearah sang pemberi pertanyaan, kini mereka tepat berhadapan. Pria itu melipat lengannya dan menggunakannya sebagai alas kepalanya.

 

“Tentu saja. Aku juga tidak lupa untuk meminum vitamin dan menggunakan penyegar pada wajahku sebelum tidur. Ketampananku harus benar-benar terjaga dengan baik. Ahh, reputasiku pasti akan hancur kalau gadis-gadis hantu itu tahu aku berkencan dengan gadis pendek dan sama sekali tidak memiliki aura sexy sepertimu. Hyuna 4Minute benar-benar tipe idealku.”

 

Pleetaaakk.

 

Appoya Soo Kyung-ah.” Pria itu meringis menahan sakit pada keningnya.

 

“Dasar hantu maniak!!”

 

“Tapi kau suka kan?” Pria itu mencowel dagu lancip milik Soo Kyung. Membuat wajah gadis itu semakin manyun. Hyuna 4Minute? Omoo? Jelas aku kalah telak, pikir Soo Kyung lesu.

 

Ani, kau memang tidak sesexy Hyuna atau secantik Suzy tapi kau terbaik yang ada disini.” Pria itu menarik tangan gadis itu dan meletakkannya tepat didada bidangnya. Gadis itu tersipu.

 

“Benarkah? Tapi kau tahu, angry bird.  Appa, eomma dan Sang Kyu bisa mati berdiri kalau tahu aku memilih jatuh cinta pada hantu jelek sepertimu.”

 

“Kau menyesal, Soo Kyung-ah?”

 

Ani, aku justru berterimakasih padamu. Meskipun kau bukanlah sosok yang nyata tapi kau telah mengenalkanku pada rasa yang nyata. Aku merasakan itu jauh lebih indah bukan seperti yang telah kulakukan selama ini. Hanya bisa memimpikan sosok semu. Mencintai sosok yang tak bisa kugapai. Menyakitkan.”

 

“Kau tidak salah. Banyak hal yang tak kau tahu. Ada rahasia yang tak bisa dalam sekejap harus terungkap. Semua kemungkinan itu ada, Soo Kyung-ah.

 

“Aku tak mengerti.” Soo Kyung menatap lekat-lekat pria itu. Mencoba memahami ekspresi sendu didepannya itu.

 

“Kau akan tahu nanti.” Bisik pria itu lirih. Menggetarkan.

 

“Ta—-“

 

“Tidurlah. Aku tidak mau melihat lingkaran hitam itu lagi dikedua matamu. Kau terlihat semakin jelek.”

 

Shireo, kau akan meninggalkanku kalau aku memejamkan mataku.” Soo Kyung tak ingin kejadian yang menyiksanya itu terulang lagi. Cukup sekali dia membiarkan pria itu pergi. Kali ini tidak akan.

 

“Kau ini. Bukannya aku sudah menepati janjiku. Tidurlah. Aku akan pergi kalau kau tetap saja bandel. Dan jangan menyesal, kalau aku tidak akan kem—-“

 

Chu~

 

Soo Kyung mengecup cepat bibir pria dihadapannya. Soo Kyung benar-benar tak tahan melihat bibir yang memerah itu, membuatnya semakin tersihir untuk terus mengecupnya. Sekilas namun mampu membungkam seketika mulut yang sedang berbicara banyak itu. Kedua mata pria itu membelalak kaget. Tak menyangka kalau gadisnya yang akan memulai terlebih dahulu.

 

“Kau cerewet sekali. Kajja. Kita tidur.” Gadis itu memejamkan kedua matanya setelah puas menyaksikan ekspresi cengo hantu tampan dihadapannya.

 

“Kau benar-benar nakal sekarang, nona Park Soo Kyung.” Pria itu memeluk gemas tubuh gadis itu. Merengkuhnya dalam dekapan hangat.

 

“Kau yang mengajariku, Tuan angry bird.” Bisik lirih Soo Kyung disela-sela kenikmatannya menghirup aroma tubuh yang begitu disukainya itu.

 

Ne, ne semuanya memang salahku. Tidurlah. Saranghae, gadisku.” Pria itu mengecup lembut pucuk kepala Soo Kyung seiring dengan mengeratnya pelukannya pada tubuh mungil itu.

 

Nado, nado saranghae hantu tampanku.” Suara Soo Kyung melemah. Tampaknya kantuk sudah menyerangnya. Lamat-lamat tubuhnya sudah tak bergerak lagi. Nafas gadis itu pun mengalun dengan irama yang teratur. Halus. Menenangkan.

 

Hening. Pria itu memejamkan kedua matanya erat hingga menciptakan lipatan-lipatan kecil pada keningnya. Berusaha keras agar cairan-cairan hangat itu tidak jatuh tapi pertahannya tak sekuat itu. Butiran-butiran bening itu tetap berebut merembes melalui katupan kedua kelopak matanya. Membasahi bulu mata lentiknya. Sesak sekali rasa ini.

 

Andai saja waktu itu dia tak bersikeras meminta untuk diizinkan menemui cintanya dan merelakan saja saat takdir menjemputnya. Mungkin tak akan sesakit ini. Belasan tahun yang telah dinantinya hanya dibayar dengan tiga hari, rasanya itu benar-benar tak adil. Sepanjang malam selama belasan tahun itu, dia tak pernah tidur sebelum membayangkan dulu sosok cintanya itu. Hari-hari dapat dilewatinya dengan begitu ringan, itu karena bayangan gadis itu selalu melekat disisinya. Saat hari bahagia itu akan datang, semudah itu takdir memporak-porandakan rencana indahnya. Menghacurkan segala asa yang ingin diperjuangkannya untuk cintanya. Ini sangat tak adil untuk hatinya. Bahkan rasa itu belum bisa tersampaikan.

 

Pria itu terisak dalam perih. Tubuhnya berguncang hebat. Waktunya tak lama lagi, kesempatan itu akan segera berakhir. Menjemputnya dengan paksa. Menjadikannya debu-debu kecil yang akan menghilang tak berarti dihempaskan sang angin. Meninggalkan segenap rasa yang tak pernah sempat untuk disampaikan.

 

“Selamat tinggal, chagi. Aku akan pergi jauh, jauh sekali. Jagalah hidupmu. Cinta tulus itu tak pantas kudapatkan. Aku hanya seonggok daging yang tak berarti. Berhentilah menanti cinta yang tak pasti. Kau bidadari yang teramat berharga dihidupku. Aku tak akan pernah lelah berdoa untuk kebahagianmu. Siapapun nanti yang akan menjadi pendampingmu. Dia lelaki paling beruntung didunia itu. Saranghae, Park Soo Kyung.”

 

Setelah mengecup lembut pipi gadisnya. Tubuh pria itu lamat-lamat menghilang, membentuk kumpulan asap putih yang menghilang dalam sekejap. Tanpa bekas. Tanpa rasa.

 

 

 

~oOo~

 

 

 

Chagi, bangunlah.”

 

Gadis itu bergerak sedikit. Matanya masih terpejam hanya erangan malas yang keluar dari mulutnya.

 

Chagi-ya, kajja bangunlah.”

 

Dengan terpaksa gadis manis itu membuka matanya. Panggilan itu sudah mengusiknya sejak tadi. Setelah beberapa detik menyesuaikan diri. Mata gadis itu akhirnya dapat membuka dengan sempurna. Degg, jantungnya memberi reaksi yang sangat tak lazim ketika matanya menangkap dua sosok asing yang berdiri tepat disamping eommanya. Gadis itu langsung terduduk dari tidurnya. Menatap eommanya kebingungan. Kenapa ada orang lain didalam kamarnya? Siapa mereka? Matanya sempat melirik sedikit kearah jam dinding, sudah pukul 18.00 KST. Tidurnya lumayan lama. Dan kemana pria hantu itu? Ahh, pasti dia sedang keluar sebentar. Keluyuran lagi.

 

Eomma, nugushimnika?.”

 

“Kau tidak mengenalnya, chagi? Kau lupa padanya, eoh?” Ada pancaran kebahagiaan pada raut wajah wanita cantik itu ketika balik bertanya pada anak gadisnya. Sosok pria bertubuh tinggi besar yang berdiri tepat disamping Ny. Park itu tanpa berbasa basi langsung bersimpuh ditempat tidur dan memeluk gadis yang masih bingung dengan keadaan disekitarnya. Pria itu memeluknya sangat erat seperti sahabat yang lama tak bersua. Tak menghiraukan kebingungan yang melanda gadis dalam pelukan hangatnya itu.

 

“Soo Kyung-ah, kau sudah besar sekarang. Kau cantik. Cantik sekali. Dimana gadis pendek dan jelek itu, eoh?” Tanyanya parau disela isak tangisnya. Ya, pria itu menangis. Gadis itu terhenyak mendengar suara itu. Meskipun sedikit berubah tapi dia masih sangat mengingatnya. Sangat. Dia tak pernah sedikitpun melupakan suara berat itu.

 

“Ke…ke…kevin oppa.” Panggil Soo Kyung terbata-bata. Tubuhnya bergetar hebat. Kejutan apa ini? Apakah aku sedang bermimpi? Tapi aku benar-benar dapat merasakan kehangatan tubuh orang yang sudah membuatku menanti ribuan hari tanpa lelah. Apa benar ini pria itu? Nyatakah ini? Pria itu perlahan-lahan melepaskan pelukannya, duduk dihadapan gadis yang masih terlihat shock itu. Senyuman manis mengembang diwajah tampannya.

 

“Kaukah itu Kevin oppa?” Soo Kyung menyentuhkan jemari lentiknya pada wajah milik pria dihadapannya. Pria itu cepat mengangguk dan menggengam kuat jemari itu. Erat. Mata Soo Kyung sudah mulai berkaca-kaca, menampung krystal-krystal bening yang siap kapan pun tumpah dikedua pipinya.

 

“Benar, chagi. Kevin baru tiba di Seoul pagi ini, mereka langsung datang kesini.” Ny. Park cepat menjelaskan, ada nada haru dari suara wanita tua itu.

 

Mianhae, aku sudah meninggalkanmu begitu lama. Aku tak pernah menghubungimu. Mianhae, aku sudah menjadi oppa yang sangat buruk untukmu. Jeongmal mianhae, Soo Kyung-ah.” Suara pria itu terdengar serak dan bergetar. Airmata mereka jatuh bersamaan, menandakan rasa yang teramat dalam sedang menyiksa keduanya. Soo Kyung balik menggenggam erat tangan yang sudah terlebih dahulu menggenggam jemarinya itu. Masih menatap tak percaya sosok nyata didepannya itu.

 

“Aku masih menunggumu hingga detik ini. Aku tak pernah lelah melakukan itu, oppa.” Bisik Soo Kyung ditengah derai airmata yang sudah membanjiri wajahnya.

 

“Aku sangat berdosa padamu. Park ahjumma tadi sudah bercerita banyak tentang hidupmu selama ini. Aku tak pernah menyangka kalau hatimu akan setulus itu menungguku.”

 

“Aku bersalah telah memberikanmu harapan palsu. Membiarkanmu memegang erat janjiku. Waktu itu aku hanya menganggap itu cinta monyet, cinta masa kecil kita. Mianhae, mianhae.” Kata maaf tak hentinya terucap dari mulut pria itu. Raut penyesalan tergambar sangat jelas diwajahnya.  Soo Kyung cepat menggelengkan kepalanya. Rasa itu telah memudar. Rasa itu sudah terkikis.

 

Ani, ani-ya. Aku sudah berkhianat oppa. Aku pun tak bisa menjaga kesetiaanku. Aku sudah mengijinkan seseorang memasuki hatiku. Aku mencintanya, oppa.” Suara Soo Kyung terdengar tegar. Cinta baru yang begitu dahsyat itu benar-benar memberinya kekuatan yang sangat luar biasa. Seluruh ruang hatinya telah penuh oleh cinta yang membuatnya kini dapat tegar melihat sosok pria yang ternyata telah melupakannya itu. Pernyataan gadis itu sontak membuat Ny. Park dan pria dihadapannya tercenung.

 

Nu…nugu…nuguya, Soo Kyung-ah?” Tanya Ny. Park menatap tak percaya pada Soo Kyung. Hingga detik ini yang dia tahu anak gadisnya itu begitu mencintai pria dari masa kecilnya itu, Kevin Wu. Bahkan dia tahu persis anak gadisnya itu sangat setia dengan hatinya tapi apa barusan yang dikatakannya? Mencintai orang lain? Siapa?

 

“Pria baik yang sudah mencuri hatiku, eomma. Dia juga sangat mencintaiku.” Rona bahagia terpancar diwajah Soo Kyung, menambah kecantikan gadis itu. Baru Ny. Park akan berbicara kembali ketika pria bernama -Kevin Wu- itu sudah mendahuluinya.

 

“Syukurlah, oppa sangat takut kau akan membenci oppa. Kau ternyata dapat hidup dengan sangat baik. Oppa lega mendengarnya. Meskipun—–“ Kalimat pria itu terhenti. Seperti ada gumpalan besar yang menyumbat ditenggorokannya. Berat sekali. Sosok gadis cantik bertubuh tinggi semampai yang sedari tadi hanya berdiri menyaksikan pertemuan haru itu bergerak mendekatinya, mengelus penuh kasih sayang pundak pria yang sedang berusaha untuk mengatakan sesuatu itu. Soo Kyung menatap berganti-ganti dua orang dihadapannya itu. Siapa gadis itu? Kenapa dia terlihat memiliki ikatan khusus dengan Kevin oppa?

 

Wae…waeyo? Di…dia siapa oppa?” Tanya Soo Kyung sambil menunjuk gadis yang sedang tersenyum ramah padanya.

 

“Dia Hye Rin, tunanganku, Soo Kyung-ah.” Jawab singkat pria itu dibarengi anggukan lembut gadis bernama -Hye Rin- itu. Tunangan? Tak ada sedikitpun rasa cemburu atau kecewa yang terselip dihati Soo Kyung. Entahlah, sepertinya rasa itu benar-benar telah sirna.

 

Chagi-ya, sebaiknya cepat beritahu Soo Kyung. Dia pasti sangat menantikan ini.” Gadis itu berbicara pelan pada kekasihnya, tangannya tak berhenti mengelus pundak lebar itu. Seperti sedang menyalurkan kekuatan yang dimilikinya. Pria itu menghela nafas panjang sebelum berani menatap kembali wajah Soo Kyung yang semakin kebingungan. Mata Soo Kyung beralih pada eommanya, wanita itu menatapnya nanar. Eomma tampak seperti sedang berusaha menahan tangis.

 

“Soo Kyung-ah, ada seseorang yang menitipkan sesuatu untukmu.” Pria itu menahan nafas ketika menyerahkan kotak berukuran sedang ditangannya pada Soo Kyung. Soo Kyung menerima kotak itu ragu-ragu. Lama dia meneliti benda itu ditangannya. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak dengan ritme tak teratur. Ada sebuah daya yang sangat aneh merasukinya, menggetarkan hingga kalbu.

 

“Bukalah.” Suruh pria itu lembut. Soo Kyung tak menolak, jari-jarinya bergerak cepat membuka kotak biasa berwarna cream itu. Bola basket. Soo Kyung mengangkat wajahnya dan menatap pria dihadapannya dengan tatapan tak mengerti. Untuk apa bola ini? Dia tak suka bermain basket.

 

“Itu milik Kris. Kau masih ingat bocah pendek dengan pipi bakpao itu, Soo Kyung-ah?” Tanya pria itu pelan. Matanya sama sekali tak lepas dari wajah cantik dihadapannya.

 

“Tentu saja. Ahh ne, mana bocah jelek itu? Kenapa dia tidak ikut bersamamu, oppa? Yaa!!Apakah dia masih saja membenciku, eoh?” Sahut Soo Kyung antusias, walaupun bocah itu dulu lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengajaknya bertengkar tapi dia juga sangat merindukan sosok itu. Sosok yang diam-diam selalu menjaganya. Soo Kyung sebenarnya tahu akan hal itu. Tapi rasa sukanya pada Kevin oppa membuatnya tak terlalu memperhatikan bocah gendut itu.

 

“Dia…dia…dia—-“

 

“Kris kenapa, oppa?” Tanya Soo Kyung, kedua mata bulatnya tak berkedip menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut pria didepannya. Bocah itu tega sekali tak mengunjunginya? Apa dia tidak rindu berebut ice cream denganku?

 

“Kris sudah pergi, Soo Kyung-ah.

 

“Pergi? Pergi kemana? Aishh, anak itu memang tidak bisa diam. Bocah bandel yang masih saja menyusahkan. Kenapa oppa tidak menghukumnya? Kenapa op—-“

 

“Dia telah pergi untuk selamanya, Soo Kyung-ah. Kris sudah tak lagi berada didunia yang sama dengan kita. Bocah bodoh itu telah pergi dan tak akan pernah kembali.” Pria itu tampak mengumpulkan seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk mengucapkan kalimat yang teramat menyakitkan itu. Bola berwarna orange yang dipegang Soo Kyung terlepas dari genggamannya dan menggelinding bebas kelantai. Tubuh gadis itu sontak membeku.

 

“Dia mengalami kecelakaan empat hari yang lalu. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, hanya satu permintaannya. Dia memintaku untuk sesegera mungkin memberikan bola basket kesayangannya itu padamu. Dia ingin kau tahu kalau sekarang dia telah menjadi kapten basket yang sangat tampan. Dia tak mau kau terus menganggapnya bocah gendut yang pendek dan jelek. Dia ingin kau tahu kalau tubuhnya telah tumbuh dengan sangat baik.” Pria itu menjelaskan dengan airmata berlinang. Gadis dibelakangnya tak henti-hentinya memberi kekuatan. Soo Kyung hanya terpaku. Pergi? Dunia yang berbeda? Kris Wu? Bocah jelek itu?

 

“ Dia begitu eufhoria mendengar berita dariku kalau ticket pesawat ke Seoul telah kubooking karena memang rencananya seminggu lagi kami sekeluarga akan pulang ke Seoul. Itu mungkin yang membuatnya sama sekali tak bisa berkonsentrasi mengendarai sepeda motornya diperjalanan dari kampus menuju ke rumah dan truck itu menghantamnya sangat keras. Dia sempat dibawa ke Rumah Sakit, tapi sebelum operasi. Bocah itu sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Soo Kyung, aku yang telah membunuhnya. Andai saja aku bisa sedikit lebih bersabar untuk tidak langsung memberitahunya. Andai aku—-” Pria itu sudah menangis sesenggukkan, gadis itu sekarang sudah memeluknya erat. Menenangkannya. Ny. Park pun sudah menangis sejadinya. Hanya Soo Kyung, gadis itu sama sekali tak bereaksi. Mematung.

 

“Dan kau tahu, Soo Kyung-ah. Bocah bodoh itu sudah memendam perasaannya padamu sejak kita bertiga masih bersama. Sejak kita masih sering berebut brownies buataan Park ahjumma. Aku pun tahu perasaannya itu tapi lagi-lagi aku menganggap rasanya itu hanya rasa sementara. Cinta monyet. Tapi sialnya rasa itu bahkan tak pernah pudar hingga ia terpisahkan jauh darimu. Dia tetap mengagumimu tanpa perduli sekarang sosokmu seperti apa. Jelek? Tetap bertubuh pendek? Dia berjanji akan tetap menerimamu. Dia terus percaya dengan perasaanya itu dan menyimpannya sendiri tanpa mau orang lain mengetahuinya. Meskipun dia tak berharap banyak padamu karena dia tahu bagaimana perasaanmu padaku. Dia begitu marah ketika aku memutuskan akan bertunangan dengan Hye Rin. Dia mengatakan kalau aku telah mengkhianatimu. Dia benar-benar kehilangan akal sehatnya. Dia membelamu mati-matian kala itu tapi sungguh aku tak peka. Aku sungguh hyung yang tak berguna.”

 

“Dia mencintaimu. Adik kecilku itu, dia teramat mencintaimu Park Soo Kyung. Dia tak pernah bisa sedikit pun membuka hatinya untuk yeoja lain yang mendekatinya. Hanya kau satu-satunya yang ada dihatinya. Kau lah bidadari yang begitu dikaguminya. Kris Wu pabbo itu pria pengecut yang hanya berani mencintaimu dalam diam. Pabboya, kau genduutt.” Pria itu berusaha mati-matian menghentikan airmata yang terus mengalir tanpa jeda. Tangannya bergerak menuju saku celananya. Mengambil sesuatu dan menunjukkannya pada gadis didepannya yang sama sekali tak bergerak sedikit pun. Tatapan gadis itu hampa begitu mendengar semua penuturan pria tampan dihadapannya.

 

“Ahh, ne. Kau lihat ini. Dia sangat tampan bukan, tubuhnya juga sudah jauh mengalahkanku. Ini fotonya ketika mengikuti perlombaan basket di Jerman. Dia sangat ingin memamerkan semua pialanya padamu. Dia lah sosok pria bodoh yang sangat mencintaimu itu, Soo Kyung.”

 

Kedua bola mata gadis itu bergerak menuju benda yang disodorkan dihadapannya. Foto yang tampaknya diambil saat musim panas. Pria bertubuh tinggi besar berwajah tampan dengan rambut yang sedikit berantakkan, senyuman jahil terukir dibibirnya. Seperti melihat sesuatu yang sangat mengerikan. Tubuh gadis itu sontak menggigil hebat, kedua bola matanya seakan terlepas dari tempatnya. Mulutnya menganga tak percaya. Cairan bening itu langsung melesat cepat bak roket, menetes tepat difoto yang membuatnya ingin berteriak sekuatnya.

 

Ani, ani-ya dia bukan Ang…angry Bi…birdku!! ANDWE!! Angry birdku telah berjanji tak akan meninggalkanku. ANDWEYO, bukan dia.” Tubuh gadis itu semakin menggigil tak terkontrol. Wajahnya langsung putih memucat layaknya mayat. Bibirnya bergetar. Cairan bening semakin berlomba mengalir begitu deras dikedua pipinya seperti dua anak sungai kecil. Dadanya seperti dihantam oleh benda yang luar biasa keras. Menohoknya kuat tanpa ampun.

 

Sosok itu.

Sosok yang baru saja menghadirkan jutaan rasa terindah.

Sosok yang berani menyentuh tubuhnya tanpa permisi.

Sosok yang lancang merasakan bibir manisnya.

Sosok yang penuh dengan kasih sayang mengusap kepalanya.

Sosok yang berani berjanji tak akan meninggalkannya.

 

ANDWEEEEEEEEE.” Soo Kyung berteriak keras, foto yang disodorkan pria itu dihempaskannya begitu kuat dari hadapannya hingga terlempar entah kemana. Tatapan kedua mata gadis itu berubah kosong. Gadis itu menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Menyudutkan tubuhnya kedinding. Menangis histeris. Kepalanya terus menggeleng kuat membentur dinding

 

“Soo Kyung, kau ke…kenapa?” Semua yang ada disitu ikut panik melihat perubahan drastis pada gadis itu.

 

“Kau kenapa, nak?” Ny. Park baru saja ingin menyetuh tubuh anak gadisnya itu ketika tangannya dihempaskan dengan kasar. Wanita tua itu terkejut setengah mati.

 

“KELUAAARRR!! KELUAARRR KALIAN!!” Soo Kyung berteriak seperti orang kesetanan. Raut wajahnya mengeras. Sorot matanya menyala namun tetap hampa. Dia semakin merapatkan tubuhnya kedinding dingin itu. Bergetar begitu hebat. Gadis itu menggigit bawah bibirnya kuat hingga mengeluarkan cairan kental berwarna merah, darah. Ekspresi terluka tampak sangat jelas pada wajah cantiknya. Luka yang teramat menyakitkan. Luka yang seketika menghancurkan nadi kehidupannya.

 

“Soo Kyung, kata—–“

 

“KELUUUAAAARRR!!!”

 

Kajja, emmonie. Soo Kyung sedang tak ingin diganggu. Biarkan dia sendiri dulu.” Pria itu cepat membantu mengangkat tubuh wanita separuh baya yang kembali berderai airmata itu, menyaksikan kondisi anak gadisnya yang terlihat begitu menyedihkan. Dadanya seperti akan meledak. Didunia ini mana ada seorang ibu yang tak terluka melihat anaknya begitu terluka. Dengan terpaksa, tubuh lunglai itu mengikuti pria yang menuntunnya keluar dari kamar itu. Meninggalkan gadis itu sendiri.

 

Sepeninggal itu, Soo Kyung langsung menjatuhkan tubuh tak bertenaga itu. Tubuh itu seolah-olah tak memiliki tulang sebagai penyangga. Terhempas dalam kesakitan yang teramat hebat. Tangan mungilnya meraba-raba tempat dimana pria itu pernah merebahkan tubuhnya. Mencoba mencari sisa-sisa dari kehangatan tubuh itu. Membaui aroma maskulin yang sudah begitu dihapal oleh indera penciumannya. Menajamkan pendengarannya, berharap bisikan nakal itu belum benar-benar hilang. Tapi kenyataan itu tak berpihak padanya. Tak ada lagi yang tersisa. Semuanya telah lenyap tak berbekas. Hanya meninggalkan luka baru yang jauh lebih menyakitkan.

 

“Apa yang sudah kau lakukan padaku? Apa kau ingin balas dendam padaku? Inikah caramu? Kau pengecut!! Kau pengecut, Kris Wu!!”

 

Soo Kyung menangis sejadinya. Meraung, meratapi kesakitannya. Menumpahkan seluruh persediaan airmatanya tanpa lelah. Merintih kecil dengan tak henti menyebutkan nama pria itu.

 

Angry bird, kenapa kau tak pernah memberitahuku, eoh? Apa susahnya berkenalan dengan nama itu? Naneun, Kris Wu imnida. Kau hanya perlu mengucapkan kalimat itu. Kau pabbo!! Namja pabbo!!” Jerit Soo Kyung lirih, matanya menerawang, menatap seprai blue soft yang membungkus tempat tidurnya itu. Tiba-tiba benda kecil itu tertangkap kedua matanya. Kertas putih kecil yang bertuliskan tangan sedikit berantakkan. Debaran keras dan airmata mengiringi bibir Soo Kyung yang membaca kata demi kata yang tertulis disitu.

 

Hai gadis pendek dan jelek !!

Kaukah itu? Ahh, tampaknya aku salah lihat. Kenapa sekarang kau bahkan lebih cantik dari Yoona SNSD?

Lihat senyummu itu, manis sekali. Kedua matamu juga begitu indah. Dan aku sangat suka dua pipi memerahmu itu.

 

Kau tahu? Bukan hanya dirimu, bahkan pria tampan ini juga hampir mati berdiri ketika pertama kali melihatmu.

Aku berbohong. Aku sudah terpesona sejak melihatmu di bus. Ani-ya, aku bahkan sudah terpesona padamu sejak ribuan hari yang lalu.

 

Soo Kyung-ah …

Mianhae, aku tak pernah berani mengatakan semua perasaan yang kurasakan …

Mianhae, aku tak bisa memberitahumu siapa diriku sebenarnya …

Itu harga yang harus kubayar untuk tiga hari itu …

Tapi aku bahagia bisa merasakan ketulusan itu, kehangatan yang kau berikan …

Gomawoyo untuk cinta itu …

 

Bidadariku, saranghae …

 

Hantu tampan yang mencintaimu, Kris Wu.

 

 

 

 

 

–the end–

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

EPILOG

 

 

Omo, tampan sekali. Soo Kyung-ah, lihat. Namja itu benar-benar sangat tampan.”

 

“Tugasku belum selesai, Sang Kyu. Jangan ganggu aku. Aiissh, jinja!!” Soo Kyung mengomel kesal. Kalau saja bukan karena eomma gadis itu yang membujuknya mati-matian agar mau membawa Sang Kyu mengikuti kursus bahasa mandarin bersamanya, dia tak akan pernah mau. Lihat saja, gadis itu mana pernah benar-benar mengikuti kursus dengan benar. Matanya hanya sibuk jelalatan meneliti satu persatu namja-namja disekelilingnya.

 

Ani, kali ini benar-benar tampan. Kau pasti akan terkejut. Kajja.

 

“Kau juga bilang seperti itu sebelum-sebelumnya. Membosankan.” Sanggah Soo Kyung.

 

“Selamat sore. Saya assistant baru Profesor Lee. Profesor mungkin tidak akan dapat mengajar untuk satu bulan kedepan jadi saya yang akan menggantikannya. Ni hao ma, wo jiao Wu Yi Fan. Xie xie.”

 

Soo Kyung menghentikan aktivitasnya. Ada rasa teramat kuat yang membuatnya begitu tersihir dengan suara berat yang baru didengarnya itu. Suara berat yang menyusup halus merasuki kedua indera pendengarannya. Perlahan gadis itu mengangkat kepalanya dan mengarahkan tatapannya pada sosok didepan sana. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Nafasnya seketika tertahan. Wajah itu? Pulpen yang dipegangnya terlepas. Angry bird? Kenapa dia ada disitu? Tuhan, apa ini? Apa yang sedang kau tunjukkan?

 

Soo Kyung terus memperhatikan gerak-gerik manusia itu. Hantu? Ani-ya, mereka semua dapat melihatnya bahkan dari tadi Sang Kyu tak henti-hentinya berdecak kagum. Dia nyata? Tapi kenapa mereka begitu persis. Persis sekali. Ani, ini hanya halusinasi. Dia telah pergi dan tak akan mungkin kembali kedunia ini. Tidak akan.

 

“Hai nona, apa kau akan terus melamun? Kau tidak siap untuk mengikuti kursus hari ini? Kau sakit?” Soo Kyung tersentak kaget, tubuh mungilnya sedikit terlonjak. Pria yang sedang dipikirkannya itu sudah berdiri tepat dihadapannya, mengetuk-ngetuk keras mejanya. Soo Kyung tersadar. Sosok itu benar-benar nyata.

 

Mian, mianhae.” Soo Kyung menundukkan sedikit tubuhnya, wajahnya memanas. Malu sekali. Semua yang ada diruangan fokus melihatnya. Dia kepergok memperhatikan tanpa berkedip asistant baru profesor Lee itu. Memalukan. Setelah menegurnya, asistant baru itu pun pergi menjauh dari mejanya. Meninggalkan secarik kertas kecil putih yang bertuliskan tangan sedikit berantakkan. Soo Kyung cepat mengambilnya. Debaran keras mengiringi bibir Soo Kyung yang membaca kata demi kata yang tertulis disitu.

 

 

Hai gadis pendek dan jelek !!

Akhirnya, aku dapat melihat raut wajah bodohmu itu …

Kau tahu? Aku SANGAT BAHAGIA …

Wajah jelekmu itu jauh lebih menarik dari ekspresi sexy Hyuna 4Minute …

Kau yang terbaik …

 

Kau pasti bertanya, kenapa aku bisa kembali?

Aku sudah berhasil memenuhi tantangan itu …

Dengan kesempatan tiga hari itu. Aku sudah berhasil membuatmu jatuh cinta meski tanpa memberitahukan identitasku …

Kau mau mencintaiku sebagai orang baru, tanpa perduli siapa diriku …

Kembali disisimu, itulah HADIAH yang kudapat …

 

Sekali lagi terima kasih untuk perasaan tulus itu …

Tanpa perasaan itu aku tak akan mungkin bisa kembali …

Walaupun dikehidupan ini tak akan ada lagi yang mengenaliku, setidaknya kau tetap ada bersamaku …

Lihat, aku memenuhi janjiku kan? Aku tak akan meninggalkanmu …

 

Wo ai ni bidadariku …

Aku sangat merindukan bibir manismu itu …

 

Pria tampan yang mencintaimu, Wu Yi Fan.

 

 

Tubuh Soo Kyung menegang, wajahnya perlahan terangkat. Menatap tak berkedip pria didepan sana yang juga sedang memandanginya. Senyuman nakal langsung tersungging dibibir seksinya itu. Menggetarkan seluruh saraf-saraf diotaknya. Menghentikan aliran darah ditubuhnya. Soo Kyung menggigil mengingat satu kalimat yang pernah dikatakan pria itu.

 

“Ternyata kau benar. Tenagamu masih ada, nona. Kita baru berpisah semalam, bagaimana kalau aku meninggalkanmu seminggu. Sesange, aku tidak dapat membayangkannya. Lain waktu aku akan membalasmu lebih dari ini, nona”

 

Dan mereka telah berpisah 180 HARI!!! Sesange, otthokeyo!!! Apa yang nanti akan pria maniak itu lakukan? Wajah Soo Kyung pun memerah sempurna.

 

 

 

—oOo—

 

 

 

Hahahahaha selesai juga FF ini XDXD Mianhae karena endingnya gaje badai. Sebenarnya pada awalnya tidak akan berakhir seperti ini =,=  Saya sudah merancang sad end tapi karena permintaan pembaca tercinta semua menginginkan Happy End, akhirnya saya rombak ulang :) Sekali lagi mian kalo gaje /bow/. Jangan tanya kenapa bisa terjadi? Cause is fantasy fanfict /tawamembahana/ XDXD

 

RCL, RCL :) Saya butuh sekali pencerahan.

 

Oh iya mau FF seperti apa lagi /wink/ :) Sequel or New Fanfict :)

7 thoughts on “— FanFict || Three Days With Handsome Ghost || Chapter || 3 of 3 || End —

  1. wahh…
    Author Ddaebak
    Tanggung jawab thor, gara” Author Seprei kamarku jadi basah…

    Bikin Sequelnya dong thor..
    yakin deh pasti tambah menarik…

    Oh ne, aku lupa. aku readers baru di sini,,
    Jihan imnida, Bangapta.. ^^

  2. Naneun Lee Eunhwa imnida… aku udah baca dari part 1 – 3.. tapi baru bisa coment di part 3.. keselurunnya bagus banget, feelnya dapet sampe nangis terharu malahan.. keren… ga bisa bayangin lagi.. untung happy ending.. tapi, boleh saran… “SAMBUNGIN LAGI KISANYA, DENGAN JUDUL BARU DAN PEMAIN YANG SAMA..” ..
    Itu aja sih… ini ff luar binasa dech.. haha xD good luck buat author

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s