— FanFict || Three Days With Handsome Ghost || Chapter || 2 of 3 —

 

TD HG

 

Title : Three Days With Handsome Ghost

 

Author : Miss Wu a.k.a Park Soo Kyung

 

Fb : Henecia Hyunjoong Elfmagnae

 

Main Cast :

  • Park Soo Kyung
  • Wu Yi Fan/Kris Wu
  • Other Cast

Length : Chap2 of 3

 

Genre : Romantic, Horror (?) gagal, Fantasy maybe (?)

 

Rating : PG 17 +

 

Disclaimer :   

Segaje-gajenya neh fanfict, tetap saja ini murni dari hasil pemikiran keras saya, jadi mohon untuk mencintai produk orisinil ^___^v no copas, no plagiat `n no bashing. Mian kalau ada kata-kata yang nantinya kurang berkenan dihati para readers tersayang,  khamsahamnida ^____^

 

Words : 3.597

 

 

 

Happy Reading ^____^

 

 

 

Summary

 

Percayalah …

Bukan kau, bukan dia dan juga bukan aku …

Hati ini, hatiku yang memilihmu …

Apapun kondisiku nanti, tak pernah aku perduli itu …

Aku akan tetap datang …

Datang padamu, itu janjiku …

 

 

 

—Story Begin—

 

 

 

Soo Kyung mengerjap-ngerjapkan pelan kedua matanya. Gadis itu merasakan sesuatu yang hangat menyapu permukaan wajahnya. Perlahan sekali kedua kelopak yang menutup itu memisah sempurna. Menangkap kembali cahaya setelah gelap melingkupi.

 

“Aaaaaaa.”

 

Yaa!! Tidak bisakah kau tidak berteriak? Kau membuatku terkejut.”

 

“Apa yang kau lakukan, hah?” Soo Kyung menyumpal dengan kasar wajah didepannya menggunakkan boneka angry birdnya.

 

“Aku hanya ingin berniat baik padamu.” Gerutu pria itu sembari menghempaskan punggung lebarnya pada sandaran kursi. Kedua tangannya sibuk membersihkan bulu-bulu halus boneka berwarna merah itu yang ikut menempel pada bibir seksinya.

 

“Kurang seperempat detik lagi aku sudah akan memberimu nafas buatan.”

 

Buggg.

 

Pria itu sudah mendapat hantaman keras lagi dikepalanya. Kali ini dengan bantal. Mata gadis didepannya sudah menyala menatapnya.

 

“Aisshh jinja, kau benar-benar tidak tahu terima kasih. Bisa saja tadi aku melempar tubuh kurusmu itu lewat jendela.” Pria itu ganti mengelus keningnya yang sedikit memerah dengan mulut manyun.

 

“Aku berharap aku benar-benar bermimpi dan setelah bangun tak akan melihatmu lagi. Tapi ternyata, aggrrrhhh.” Soo Kyung mengacak frustasi rambut berantakannya hingga semakin kusut tak tertolong. Ekspresinya seperti orang yang ingin menangis.

 

“Kau sudah tidak takut lagi padaku, eoh?” Pria itu heran melihat reaksi Soo Kyung yang sudah tidak terlalu berlebihan seperti sebelumnya.

 

Soo Kyung tak tertarik menjawab pertanyaan pria yang mengaku dirinya hantu itu. Siapa yang takut pada hantu setampan pria didepannya ini? Tapi benarkah sosok didepannya ini adalah hantu? Bukankah selama ini hantu yang digambarkan difilm-film horror yang ditontonnya selalu mengerikan terkecuali Edward, vampire tampan ditwilight itu. Lidah menjulur kaku, mata berdarah, wajah pucat, kuku panjang hitam dengan tawa yang mengikik, selalu seperti itu gambaran hantu dikepalanya. Tapi kenapa hantu didepannya ini lebih terlihat mirip personil boyband? Soo Kyung menggelengkan kepala tak percaya.

 

Wae? Kau masih tidak percaya kalau ada hantu setampan diriku?” Pria itu seakan dapat membaca pikiran gadis didepannya.

 

“Aku tidak percaya. Kalau kau memang benar hantu lalu untuk apa kau ada disini?” Soo Kyung menatap tak berkedip sosok didepannya yang juga sedang memandanginya.

 

“Aku ada disini un—-“

 

–Urin do isang nuneul maju haji aneulkka, sotonghaji aneulkka, saranghaji aneulka. Apeun hyonsire dasi nunmuri heullo, bakkul su itdago bakkumyon dwendago mar-heyo mama mama–

 

Kalimat pria itu terpotong dengan suara ringtone yang berasal dari ponsel gadis itu. Soo Kyung sibuk mencari benda berbentuk persegi tersebut. Tangannya membolak-balik bantal dan selimut tapi masih belum juga ditemukan. Pria didepannya mengedipkan matanya sekali dan benda yang Soo Kyung cari sekarang telah berada digenggaman tangan kanan gadis itu. Soo Kyung menganga tak percaya.

 

“Ka…kau.”

 

Mianhe, tadi aku menyembunyikannya. Aku tidak mau suara jelek penyanyi itu mengganggu tidur pulasmu. Cepat angkat.” Seperti pegawai yang mengikuti perintah atasan. Dengan patuh Soo Kyung menurutinya.

 

Yoboseo.”

 

“…….”

 

Mian, hari ini aku tidak bisa ikut memasak denganmu dan eomma. Badanku sedang tak nyaman, Sang Kyu-ah. Aku sedang tiduran sekarang.”

 

“……”

 

“APA KAU SUDAH DIDEPAN KAMARKU.” Soo Kyung melempar sembarang ponselnya. Meloncat dari tempat tidurnya dan mendorong pria didepannya dengan kasar.

 

“Cepat sembunyi. Aku tidak mau Sang Kyu melihatmu.”

 

Palliwa.” Suruh Soo Kyung panik tapi pria itu bergeming.

 

“Kau lupa kalau aku hantu, eoh.

 

“Bisa saja Sang Kyu melihatmu. Cepat sembu—-“

 

“Soo Kyung-ah.” Pintu pun terbuka. Seorang gadis dengan menggunakan celemek berwarna cerah menyerobot masuk. Soo Kyung cepat berusaha menutupi tubuh pria itu dengan tubuh mungilnya.

 

“Kau bilang tadi kau sedang berbaring tapi kenapa kau lebih terlihat seperti habis lomba lari marathon.” Gadis itu memperhatikan detail wajah sahabatnya. Bulir-bulir keringat menetes dikeningnya. Bernafas pun seperti kekurangan pasokan oksigen.

 

“Aaah…ahh aku…aku.” Gugup. Soo Kyung tidak mampu berfikir untuk menemukan alasan yang tepat.

 

“Ahh, lelah sekali. Aku sudah memasak kimbab bersama ahjumma. Kami menunggumu bangun tapi lama sekali. Jadi aku menyusulmu keatas.” Dengan seenaknya gadis itu menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur tepat bersebelahan dengan kursi dimana pria itu duduk. Soo Kyung menahan nafas menunggu reaksi Sang Kyu -sahabatnya- itu. Tak ada reaksi.

 

“Kau…kau juga tak bi…bisa melihatnya?” Kalimat itu meluncur spontan dari mulut Soo Kyung.

 

Eoh? Apa yang kau bicarakan? Melihat siapa, Soo Kyung?” Tanya Sang Kyu.

 

“I..i..ini.” Jari telunjuk Soo Kyung mengarah pada kursi disebelah tempatnya berdiri.

 

“Kursi? Ada apa dengan kursi itu?” Mata Sang Kyu beralih pada kursi plastik berwarna orange yang ditunjuk sahabatnya itu. Sang Kyu mengerenyitkan kening. Kosong.

 

“Melihat apa, Soo Kyung-ah?” Sang Kyu mengulangi pertanyaannya. Tapi hanya ekspresi putus asa Soo Kyung yang didapatnya.

 

“Arrrggggghh.” Soo Kyung berteriak frustasi sambil mendudukkan tubuh lunglainya dilantai yang berlapiskan karpet bulu berwarna cream itu.

 

Jadi benar sosok ini hantu? Lalu kenapa hanya aku yang bisa melihatnya? Naega wae?

 

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar dikepala Soo Kyung. Hingga gadis itu merasa kepalanya akan meledak seperti yang sering dikatakan Sang Kyu padanya. Untuk kali pertama ini Soo Kyung merasakannya. Pening. Berputar-putar.

 

 

 

~oOo~

 

 

 

“Kenapa kau mengikutiku terus, eoh?” Soo Kyung tak tahan lagi melihat pria itu duduk disampingnya dengan tampang innocentnya. Sejak kuliah jam pertama Soo Kyung tak bisa berkonsentrasi sedikit pun mengikuti jalannya perkuliahan. Bagaimana bisa berkonsentrasi kalau ada makhluk tampan yang terus memperhatikanmu tanpa berkedip hanya dengan jarak beberapa senti? Bahkan anak jerawat yang baru akan muncul pun bisa tertangkap oleh kedua matanya. Soo Kyung beberapa kali merubah posisi duduknya. Jengah. Grogi.

 

“Memangnya siapa yang mengikutimu?” Sang Kyu celingak-celinguk. Tak ada manusia selain mereka berdua diruangan ini.

 

“Aku tidak bertanya padamu.”

 

“Lalu?”

 

“Dengannya.” Sambar Soo Kyung gusar. Sang Kyu kembali mengerutkan keningnya. Tak ada orang ditempat yang Soo Kyung tunjuk.

 

“Kau ini kenapa? Dari kemarin tingkahmu aneh. Berbicara sendiri, marah-marah tanpa sebab.” Omel Sang Kyu. Tadi pagi saja, dibus gadis itu terlihat ribut memperebutkan kursi bus padahal jelas-jelas kursi itu masih kosong dan tak ada orang yang ingin duduk disitu.

 

“Ahh, molla.” Geleng Soo Kyung frustasi. Sang Kyu berdiri dari duduknya, menepuk bahu Soo Kyung lembut.

 

“Tunggulah, aku akan pergi membeli minuman dingin untukmu. Siapa tahu bisa sedikit membantu mendinginkan kepalamu.” Gadis itu berjalan keluar ruangan, dalam sekejap saja tubuhnya menghilang dibalik pintu.

 

“Satu karung minuman dingin pun tak akan berguna, uhhh.” Keluh Soo Kyung menjatuhkan kepalanya diatas meja. Mengatupkan kedua mata indahnya. Wajah cantik gadis itu terlihat kuyu, lingkaran hitam mengelilingi kedua matanya. Semalaman dia tidak bisa tidur, berebut tempat tidur, bantal dan selimut dengan pria itu. Setelah menemukan kesepakatan untuk berbagi dengan membuat garis pembatas ditengah tempat tidur, gadis itu tetap tak bisa memejamkan matanya. Pikiran buruk tak bisa hilang dari kepalanya. Bisa saja kan pria itu berbuat tak senonoh lagi padanya. Alhasil, dia terjaga hingga pagi menjelang dengan raket nyamuk listrik tergenggam erat ditangannya. Tubuhnya lelah sekali. Tak ada semangat.

 

Mianhae.

 

Tubuh gadis itu membeku ketika dirasakannya ada sesuatu yang bergerak dikepalanya. Matanya sontak membuka kembali. Pria itu menatapnya sendu. Tangan itu sedang membelai rambutnya dengan sangat lembut. Hatinya ingin berontak tapi tubuhnya menolak untuk bereaksi. Diam membeku, membiarkan helai-helai rambut halusnya merasakan elusan itu. Mata keduanya bertabrakan, menembus manik mata satu sama lain. Menggetarkan. Gadis itu sungguh tak bisa menjelaskan perasaan hangat yang sedang dirasakannya. Ada kekuatan yang ditulari pria itu lewat tatapan sendunya itu.

 

“Pejamkan matamu.” Seperti ada daya magnet dari suara berat itu. Soo Kyung menutup kedua mata lelahnya dengan sukarela. Kantuk hebat tiba-tiba menyerangnya.

 

Chu~

 

Chu~

 

Pria itu mengecup lembut kedua mata terpejam itu bergantian. Menyalurkan segenap rasa yang dimilikinya. Menenangkan hati gadis dihadapannya.

 

Soo Kyung belum tidur sepenuhnya. Soo Kyung sengaja membiarkannya. Soo Kyung dapat merasakan kecupan nyata itu sambil menahan debaran yang begitu hebat didadanya.

 

“Beristirahatlah. Aku akan menjagamu selama aku bisa. Tidurlah yang nyenyak bidadariku.” Bisik pria itu bergetar. Dia ikut menjatuhkan kepalanya tepat dihadapan wajah gadis yang tampaknya sudah tertidur pulas itu. Damai sekali wajah cantiknya. Pria itu tak pernah bosan memperhatikan setiap inci lekukan wajah indah yang sudah Tuhan ciptakan itu.

 

 

 

~oOo~

 

 

 

“Cepat jawab pertanyaanku?” Desak Soo Kyung gusar. Pria didepannya itu tak perduli, mulutnya masih sibuk mengunyah cemilan yang dirampoknya diam-diam dari dapur. Soo Kyung cepat merebut toples yang berada dipangkuan pria itu. Pria itu menoleh kearahnya dengan alis mata saling bertautan, pipinya menggembung penuh makanan.

 

Angry Bird cepat jawab!!”

 

Angry Bird?” Pria itu mengulangi ucapan gadis itu.

 

“Kau bilang kau tak memiliki nama kan? Aku menamaimu Angry Bird saja.”

 

“Apa miripnya aku dengan makhluk jelak itu.” Pria itu menatap Soo Kyung gusar.

 

“Lihat, lihat alismu itu. Hahahaha, mirip, mirip sekali. Ayo marah, kau akan terlihat semakin mirip. Marahlah. Hahahaha.” Soo Kyung tertawa puas melihat ekspresi kesal pria didepannya.

 

“Makhluk jelek.” Pria itu melempar benda berwarna merah tak bersalah itu kelantai dengan segenap tenaga. Mata Soo Kyung terbelalak.

 

“Kau berani menyakitinya lagi. Aku tak segan-segan membunuhmu. Arra!!” Ledak Soo Kyung tepat didepan wajah pria itu.

 

“Sejak kapan hantu bisa dibunuh? Siapa yang membunuh siapa? Aku bisa saja mem—–“

 

“Sudah, sudah. Aku ganti saja pertanyaannya. Kau tidak mau memberitahukan asalmu, kalau begitu apa alasanmu menemuiku? Ani, lebih tepatnya mengikutiku?”

 

“Kau kira aku mau mengikutimu, eoh? Kau tahu, aku TER…PAK…SA. Gadis menyusahkan.”

 

“Lalu kau pikir aku senang terus kau buntutti? Stalker! Maniak!” Racau Soo Kyung tak kalah garang.

 

“Gadis munafik.”

 

“Ap…apa k…kau bilang? Mu…munafik?” Kedua bola mata Soo Kyung seperti akan keluar dari tempatnya. Emosi selalu memuncak setiap berhadapan dengan pria ini. Selalu!!!

 

“Kau hanya berbohong. Kau sebenarnya sudah tertarik padaku sejak kita pertama kali bertemu kan?” Pria itu menggodanya, matanya mendelik lucu. Telunjuknya mencowel pipi Soo Kyung. Membuat pipi gadis itu semakin merona merah cerah.

 

“Sembarangan.” Sangah Soo Kyung grogi.

 

“Ckckck, lalu kenapa waktu itu kau hampir mati berdiri ketika melihat senyuman mautku.” Soo Kyung hampir saja menggunakan kamus bahasa mandarin seberat dua kilo disebelahnya untuk memukul kepala pria yang sedang menyeringai narsis itu.

 

“Kau juga sangat menikmati tubuh hangatku kan waktu dibus.” Tatapan mata evil itu benar-benar membuat Soo Kyung tak tahan lagi.

 

“KAUUU!!”

 

“Mengaku sajalah, nona manis.”

 

“Awwwww, aaaa. Sakit, sakit….aaaa ya ya ya.” Soo Kyung tak perduli, dia tetap menyerang pinggang pria itu dengan cubitan mautnya. Eomma dan Sang Kyu pun selalu menyerah bila Soo Kyung sudah mengeluarkan jurus andalannya itu.

 

“Rasakan kau.” Geram Soo Kyung puas, cubitannya semakin menguat. Pria ini hanya mempan dilawan dengan kekerasan. Tapi Soo Kyung tak memungkiri semua peryataan pria itu barusan. Semuanya benar. Pertemuan pertama itu sukses membuatnya mati rasa.

 

“Ampuun, ampuun…aku tak akan melakukannya lagi. Aaa…aaa…appo, appoya. Lepaskan tanganmu, Soo Kyung-ah.” Teriak pria itu histeris. Soo Kyung cepat menarik tangannya kembali dengan ekspresi puas diwajahnya.

 

“Ahh, jinja. Kau benar-benar gadis tidak berperikeHANTUan!!” Pria itu masih beraduh-aduh sambil meringis kesakitan. Soo Kyung tertawa terpingkal-pingkal mendengar kalimat itu.

 

“Dan sekarang rasakan pembalasanku.” Pria itu dalam sekejap sudah menyodorkan wajahnya tepat dihadapan wajah Soo Kyung. Gadis itu kaget tapi ia cepat tanggap dengan bahaya yang mengancam dihadapannya, tubuh mungilnya bergegas bangun.

 

“Kau…kau mau apa?” Soo Kyung berjalan mundur menghindari pria bertubuh tinggi besar yang siap ikut berdiri dengan tampang yang membuat Soo Kyung begidik ngeri. Tanpa disadarinya kakinya menginjak boneka angry bird yang tadi dilemparkan pria itu sembarangan dilantai. Licin. Merasa akan jatuh, Soo Kyung menangkap sembarang apa yang ada didepannya. Pria yang berdiri belum sempurna itu tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya ketika Soo Kyung tiba-tiba menarik ujung t-shirtnya dengan sangat kuat.

 

Braaakkk.

 

Alhasil, mereka sukses jatuh dengan posisi tumpang tindih.

 

Appoyaa.” Desis Soo Kyung lirih. Meringis sakit. Kepalanya membentur lantai. Sekujur tubuhnya tak dapat digerakkan seperti ditindih benda berat ribuan ton.

 

“Ka…kau.” Soo Kyung tak mempercayai kalau “sesuatu” yang menindihnya adalah pria hantu itu. Wajahnya berubah merah padam begitu pula dengan wajah dihadapannya. Aura disekitar merekapun berubah menjadi terasa sangat panas.

 

Aisssh, sial. Kenapa kau terlihat sangat cantik dengan jarak sedekat ini?” Desis pria itu dengan nafas tertahan. Keduanya dapat merasakan dengan jelas degup keras jantung yang berasal dari dada satu sama lain. Soo Kyung sudah tak tahu harus bereaksi seperti apa. Seluruh organ tubuhnya seperti sedang tak melakukan aktivitas apa-apa. Mati. Statis.

 

“Kau cantik sekali Soo Kyung-ah.” Bisik pria itu lirih. Nafas hangatnya menyapu seluruh permukaan wajah gadis manis itu. Soo Kyung pun tak berkedip menatap wajah tampan yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya itu. Tampan. Tampan sekali. Kedua tangannya meremas semakin kuat ujung-ujung t-shirt pria itu. Pucuk hidung keduanya bahkan sudah bertemu. Pria itu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Menahan gejolak kuat yang menyerang tubuhnya ketika tatapannya bertemu dengan bibir mungil dengan warna pink cerah itu. Sedikit basah.

 

Ang…angry Bird.” Bisik Soo Kyung lembut seiring dengan mengatupnya kedua mata indah itu. Pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Debaran keras didada mereka semakin tak dapat dikontrol. Pria itu pun perlahan menutup kedua matanya, semakin mendekatkan wajahnya.

 

“Soo Kyung-ah, turunlah nak. Kita makan malam, appamu sudah menunggu.” Teriakan keras diluar membuat Soo Kyung tersadar. Dengan segenap kekuatan gadis itu mendorong tubuh raksasa itu.

 

Aisssh, pasti akan begini. Kenapa selalu datang disaat yang tidak tepat? Jinja!! Arrggghh.” Gerutu pria itu sambil mengacak rambutnya frustasi. Soo Kyung hanya terdiam, wajahnya panas sekali. Apa yang barusan akan dilakukannya dengan pria hantu itu? Kenapa hadir perasaan aneh seperti ini? Setelah dua belas tahun, baru hari ini dia merasakan perasaan itu lagi. Rasa yang sama saat dia jatuh cinta pada anak lelaki yang tak lain sahabatnya sendiri. Rasa yang sudah membuatnya tak pernah memberikan hatinya untuk pria lain hingga saat ini. Rasa yang sama itu kini hadir. Gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Malu, malu sekali.

 

 

 

~oOo~

 

 

 

“Kau sedang apa, eoh?”

 

“Kau mandi atau menyusun skripsi. Lama se—–“ Kalimat Soo Kyung menggantung. Kedua bola matanya tak berkedip memandang sosok dihadapannya. Nafasnya tertahan melihat pemandangan didepannya. Pria itu hanya mengenakan handuk putih untuk menutupi bagian pusar hingga lututnya. Sisa-sisa air masih menetes pada kedua bahu lebar dan dada bidangnya itu. Rambut basahnya dibiarkan sedikit berantakkan. Tapi itu justru membuatnya semakin menawan. Wajahnya terlihat fresh sekali. Bibir tebal itu memerah sempurna. Soo Kyung menelan ludah, gumpalan itu tercekat lama ditenggorokannya.

 

“Kau begitu terpesona padaku, nona.” Dalam sekali kedipan mata, pria itu sudah duduk mepet disebelahnya. Aroma menyegarkan khas pria langsung memenuhi indera penciuman Soo Kyung. Memabukkan.

 

“Kau suka.” Bisiknya nakal ditelinga gadis itu. Deru nafas pria itu seperti sebuah desahan halus yang memberikan sensasi menggelikan ditelinga Soo Kyung. Merinding. Membuat Soo Kyung tersadar dari pikiran-pikiran anehnya.

 

“Maniak!! Tidak sopan!!” Soo Kyung menutupi tubuh disampingya itu dengan selimut tebalnya. Mengalihkan dari rasa gugup yang menyerangnya.

 

“Kau ini. Aku hanya bermain-main saja.” Pria itu mengibaskan selimut tebal itu dari tubuhnya. Sekarang t-shirt hitam dan celana katun selutut sudah menutupi tubuhnya. Bando pink milik gadis itu sudah digunakannya untuk menahan bagian depan rambutnya. Soo Kyung meggeleng. Pria ini bisa berubah kapan pun dia mau. Berada dimanapun hanya dengan satu kedipan mata.

 

“Apa itu?” Pertanyaan tiba-tiba pria itu sedikit mengejutkan Soo Kyung. Pria itu sudah ikut mengamati benda yang ia genggam sedari tadi.

 

“………”

 

“Mereka siapa, Soo Kyung-ah?” Tanyanya lagi. Soo Kyung tak langsung menjawab pertanyaan pria itu, gadis itu menghela nafas panjang. Meredam rindu yang tiba-tiba datang menderanya.

 

“Mereka sahabat-sahabat terbaikku.” Jawaban lirih keluar juga dari mulut Soo Kyung. Matanya menatap nanar fotonya bersama satu anak lelaki tampan yang sudah menginjak remaja dan bocah kecil bertubuh sedikit gempal. Tawa lepas menghiasi ketiga wajah polos itu. Tanpa beban. Tanpa masalah. Menyenangkan sekali.

 

“Sahabatmu?”

 

Ne, aku sangat merindukan mereka.” Kini suara Soo Kyung terdengar bergetar. Mata gadis itu sudah berkaca-kaca.

 

“Kalau kau merindukan mereka. Kenapa kau tak menemui mereka?”

 

“Dia berjanji akan kembali. Dia janji akan pulang. Aku tak akan pernah lupa janjinya itu.” Bulir-bulir bening itu sudah jatuh, mengalir cepat dikedua pipi Soo Kyung. Tubuhnya bergetar. Kerinduan hebat yang selalu saja berhasil menyesakkan dadanya.

 

“Kau tahu, selama dua belas tahun ini aku selalu setia menunggunya. Aku benar-benar menjaga hatiku untuknya. Aku tak pernah berkhianat. Aku percaya sepenuhnya pada lelaki itu. Aku memegang janjinya hingga detik ini.” Airmata itu mengalir deras tak tertahankan lagi.

 

“Kau mencintainya?” Pria itu bertanya dengan nada getir. Matanya menatap sendu gadis yang menangis perih disampingnya.

 

“Aku tidak tahu apa rasa itu yang dinamakan cinta.”

 

“Aku hanya tahu bagaimana memikirkannya. Aku hanya tahu cara mengkhawatirkannya. Aku hanya tahu kalau aku tak pernah sedikitpun berhenti mengaguminya.” Soo Kyung merasa dadanya akan meledak. Akhirnya tangisnya pecah. Bukanlah waktu singkat dia memendam semua ini sendirian. Sudah memuncak. Lama sekali rasa sakit ini ia tanggung sendiri. Mengobati lelahnya hanya dengan tangis.

 

“Kau yakin dengan perasaanmu itu, Soo Kyung-ah?”

 

“Bukan diriku tapi hati ini yang membuatku yakin.” Soo Kyung berhenti sejenak, menolehkan wajahnya pada pria yang duduk tepat disebelahnya. Menatap pria itu dengan mata terlukanya.

 

“Hatiku yang berbicara. Hatiku yang ingin te—–“

 

Chu~

 

Kalimat gadis itu terpotong oleh desakan lembut pada bibirnya. Hangat. Detik waktu yang terus didentingkan oleh benda mati berbentuk lingkaran ditembok kamar gadis itu pun, seakan berhenti melaksanakan aktivitas rutinnya. Soo Kyung tak sempat lagi berfikir ketika desakan itu semakin memaksa untuk menikmatinya.

 

Menghanyutkan.

 

Soo Kyung merasakan bibir dingin itu melumat lembut bibir hangatnya semakin dalam, menyerap seluruh kekuatan yang ada ditubuhnya. Soo Kyung menutup matanya, membalas dengan halus isapan hangat itu. Kedua tangannya bergerak melingkari pinggang pria yang malam ini sudah mengenalkannya rasa yang belum pernah dirasakannya sebelumnya. Kali pertama bagian itu disentuh. Oleh pria asing yang bahkan mengaku dirinya adalah hantu. Pria yang baru hadir dihatinya. Mengusik tatanan hatinya yang selama ini tak pernah diizinkannya dijamah oleh siapapun. Pria ini berhasil menghancurkan kesetiannya.

 

Soo Kyung semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang pria itu. Menyatukan tubuh mereka hingga tanpa jarak. Lekat. Tanpa ada keraguan pria itu terus melumat disetiap sisi bibir tipis milik gadis itu. Tak ada yang terlewati. Mereka semakin larut dalam lumatan hangat yang berlomba mereka ciptakan. Kedua bibir yang bertautan itu baru terlepas perlahan setelah persediaan oksigen benar-benar telah habis. Menyisakn ritme nafas yang tak lagi teratur.

 

“Bibirmu sangat manis dan hangat, nona.” Desis lirih pria itu.

 

“Kau benar-benar setia. Aku kagum padamu.” Soo Kyung terpana melihat butiran bening yang menetes dari kedua mata elang pria dihadapannya.

 

Pria itu melepaskan dengan pelan pelukan erat kedua tangan gadis itu dari pinggangnya. Berdiri dari duduknya. Menghapus kasar airmata dikedua pipinya dengan punggung tangannya. Berjalan gontai meninggalkan Soo Kyung yang masih membeku dengan ribuan hal dikepalanya yang begitu membingungkannya. Terlebih lagi, bingung dengan perasaannya sendiri. Perasaan itu telah terbagi.

 

“Kau mau kemana?” Teriak Soo Kyung ketika melihat pria itu melangkah menjauhinya.

 

“Tidurlah. Aku keluar sebentar untuk mencari udara segar.” Soo Kyung tak yakin. Dengan gerakan sangat cepat gadis itu melompat dan menubrukkan dengan keras tubuh mungilnya dipunggung lebar pria itu. Memeluknya erat.

 

“Kau kenapa, eoh?” Tanya pria itu lembut. Tangannya membelai lembut jemari-jemari lentik yang melingkari erat pinggangnya.

 

Khajjima.” Pinta Soo Kyung. Suara gadis itu serak menahan tangis.

 

“Aku hanya pergi sebentar, percayalah.” Jelas pria itu lirih. Suara paraunya sama sekali tak bisa berbohong tentang kondisi perasaannya. Perih.

 

Shireoo. Aku tahu kau akan pergi meninggalkanku seperti dia. Aku tak akan mengizinkanmu.” Teriak Soo Kyung histeris, tangannya semakin mempererat pelukan itu. Pria itu perlahan membalikan tubuhnya meskipun dengan bersusah payah.

 

“Aku tak akan melakukannya. Percayalah padaku, ne.” Pria itu mengangkat wajah cantik yang telah basah oleh airmata itu dengan kedua telapak tangannya. Menatapnya dengan sorot mata tajamnya.

 

Ani. Ani-ya.” Soo Kyung menggeleng keras, bersikeras. Hatinya yang meminta itu. Hatinya yang tak merelakan.

 

“Beristirahatlah. Aku tak mau melihatmu kelelahan lagi. Kau akan sakit kalau tak cukup tidur.”

 

Chu~

 

Pria itu mengecup lembut kening Soo Kyung. Membagi sedikit kekuatan yang dia miliki. Kekuatan yang cahayanya sudah mulai memudar. Kekuatan yang sebentar lagi akan runtuh. Soo Kyung menutup matanya, meresapi kehangatan tulus itu. Dia tahu persis apa resikonya ketika ia memilih menutup kedua matanya.

 

Hampa. Pria itu telah menghilang ketika Soo Kyung kembali membuka kedua matanya yang sudah dipenuhi lagi oleh krystal-krystal bening yang siap meluncur.

 

Angry Bird, khajjima. Khajjima. Jebaall, khajjima.” Tubuhnya terkulai. Terduduk lunglai. Meratapi pemberi rasa baru yang kini juga pergi meninggalkannya sendiri. Sendiri menangisi sejuta rasa yang sudah pria itu taburkan dihatinya.

 

 

 

~oOo~

 

 

 

“Arrrrggggghhhhhh.”

 

Dipojok gelap salah satu taman kota. Sosok itu dengan keras berteriak marah, meluapkan kesakitannya dengan menghancurkan apapun yang ada disekitarnya.

 

Yeoja pabbo!!! Kau pabbo Soo Kyung-ah!!” Teriakannya membahana membelah langit malam yang kelam. Menggetarkan dahan-dahan pepohonan yang membisu disekitarnya. Merontokkan helai-helai daun yang sebenarnya belum waktunya untuk gugur. Mengejutkan penghuni-penghuni malam lainnya yang tak bisa dilihat secara kasat mata.

 

Otthoke? Otthoke?” Tangisnya pecah. Tubuhnya bergetar hebat.

 

Braakk. Sosok itu menjatuhkan tubuhnya dijalanan taman yang keras dan dingin. Berlutut. Menatap langit. Memohon pada pencipta tertinggi.

 

“Tuhan, apa ini? Apa ini adil untuknya? Aku ingin membahagiakannya. Lihat, gadis itu sangat bodoh. Dia bahkan rela mengorbankan kebahagiaanya hanya untuk menunggu sesuatu yang tak pasti.”

 

Jeball, biarkan aku membahagiakannya. Hanya itu yang dapat kulakukan. Aku mohon padaMu, beri aku kembali kesempatan itu.” Sosok itu terus memohon dalam perih dan airmata. Langit yang kelam semakin gelap. Petir mendadak menyambar menggetarkan hati. Guntur menggelegar begitu hebatnya. Angin kencang membawa hawa dingin yang tak terkira. Lolongan serigala gunung terdengar panjang dan sayup-sayup membuat bulu kuduk yang mendengarnya merinding. Akankah langit mendengar permohonan itu? Mengabulkannya?

 

 

 

 

–tbc–

 

Otthe? Hahahhaha pada akhirnya saya tidak bisa jauh dari hal yang berkaitan dengan KEGALAUAN XDXD Hantu pun punya hak untuk merasakan yang namanya GALAU kan/ngakak/. Comentnya yaa, bagaimana dengan chapter ini? Chapter selanjutnya adalah chapter terakhir a.k.a LAST a.k.a the end hehehehe. RCL, RCL. Khamsahamnida :)

One thought on “— FanFict || Three Days With Handsome Ghost || Chapter || 2 of 3 —

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s