[2nd Chapter] Destiny

 

Destiny2

Destiny

 

Author: Choi Eun Hee (@Lixxyvie)

Title: Destiny

Genre: Romance

Casts:

  • Ulzzang Jung Roo as Kwon Eun Hye
  • T.O.P Big Bang as Choi Seung Hyun
  • G-Dragon as Kwon Ji Yong
  • Kim Yoo Jung as Kwon Eun Hye (Child)
  • Yeo Jin Goo as Kwon Ji Yong (Child)
  • Park Gun Tae as Choi Seung Hyun (Child)
  • Other Casts

 

***

 

Chapter 2.

 

~Hilang ingatan, bertemu pangeran tampan!~

 

 

BRAKK!!!

 

Bang Geum yang sedang berjaga mendengar suara itu. Ia beserta temannya melihat apa yang terjadi. Ternyata terjadi kecelakaan. Bang Geum berlari sekencang mungkin bersama temannya itu.

“Minggir! Aku polisi. Biar aku melihatnya” ucap Bang Geum. Ia melihat korban yang tertabrak sementara temannya itu menjaga pengendara mobil tersebut agar ia tidak lari. Bang Geum sepertinya mengenali wajah ini. Ia tiba tiba ingat siapa anak kecil ini ketika ia melihat kalung yang anak ini gunakan.

“Eun Hye?” gumam Bang Geum. Tanpa fikir panjang lagi, ia segera membawa Eun Hye kerumah sakit terdekat. Pos tempat Bang Geum berjaga sangat dekat dengan rumah sakit. Bang Geum menggendong Eun Hye menuju rumah sakit tersebut.

“Bertahanlah! Bertahanlah!!” gumam Bang Geum.

 

Sesampainya di sana, seluruh orang heboh dengan kedatangan Bang Geum. Bang Geum merupakan polisi kebanggaan warga Nagasaki. Karena ia merupakan wakil Nagasaki. Sikapnya yang berwibawa adalah sikap yang tidak dapat ditiru oleh banyak orang. Para suster membawa Eun Hye keruang UGD. Dilihat dari fisiknya saja sepertinya luka yang diderita Eun Hye cukup parah. Bang Geum duduk di kursi tunggu seraya berdoa.

 

Ya tuhan. Kumohon selamatkan putri kecil itu. Jangan buat orang tuanya menangis karena kehilangannya Ya tuhan. Karena aku tahu rasanya. Setelah kau mengambil Hee Yoon dariku. Dan membuat istriku menjadi gila. Jangan lakukan hal yang sama kepada Keluarga Eun Hye ya tuhan. Jangan.

 

Beberapa Saat Kemudian…

 

Dokter baru saja keluar dari ruang UGD dan sepertinya ia habis memeriksa Eun Hye.

“Bagaimana keadaan anak itu Dokter?” Tanya Bang Geum

“Anak itu tidak apa apa. Tidak ada luka yang serius”

“Apa sekarang anak itu sudah sadar?”

“Anda harus bersabar tuan. Anak itu mengalami trauma yang cukup berat. Saya permisi dulu” ucap sang Dokter meninggalkan Bang Geum. Ia memerintahkan suster agar Eun Hye di pindahkan keruang inap. Beberapa saat Kemudian temannya menelpon Bang Geum.

“Ya? Ikimo-san? (-San digunakan sebagai bentuk hormat #dalam bahasa korea seperti penggunaan –ssi di akhir nama Seseorang# dapat berarti Pak atau Tuan)”

“Lelaki yang menabrak anak itu bilang akan menanggung semua biaya rumah sakitnya. Oh iya, Bang Geum-san, saat Hee Yoon meninggal dan kau tidak bekerja waktu itu, anak itu menemuiku untuk menanyai rumahmu. Dan ketika aku bertanya dia bilang seperti ini ‘Sayang sekali, paman Bang Geum tidak bekerja, aku ingin bersembunyi dirumahnya saja tetapi dia sedang berduka’ apa anak itu anak penjahat?”

“Aku tidak tahu. Nanti kita bisa melihat di catatan criminal. Aku akan menjaga anak ini dulu. Bisakah kau bawa Seung Hyun kerumahmu?”

“Bagaimana dengan istrimu Bang Geum-san?”

“Aku sudah meletakkannya dirumah sakit jiwa. Kumohon bawa Seung Hyun bersamamu dulu. Nanti jika aku pulang aku akan mengambilnya dirumahmu”

“Baiklah Kamerad!!” pembicaraan itu terhenti. Seketika Bang Geum teringat dengan istrinya. Semenjak kematian Hee Yoon istrinya menjadi hilang akal. Ia sering memeluk baju Hee Yoon dan tertawa sendiri bersama foto Hee Yoon. Merasa tidak sanggup mengurus istrinya, Bang Geum terpaksa memasukkan istrinya ke Rumah sakit Jiwa di Tokyo beberapa hari setelah kematian Hee Yoon. Bang Geum memasuki ruangan inap Eun Hye. Ia melihat wajah polos Eun Hye yang sedang terbaring lemah. Eun Hye sangat polos dan jujur. Bang Geum belum pernah merasakan hal seperti ini. Ia hanya mengenal Eun Hye pada saat di pos polisi itu saja. Namun entah mengapa, perasaan Geum mengatakan jika ia harus lebih dekat dengan Eun Hye. Beberapa saat Kemudian, Eun Hye tersadar dari tidurnya.

 

“Awwhh” Eun Hye memegang pergelangan tangannya yang sakit.

“Nak? Kau tidak apa apa??” Tanya Bang Geum

“Paman siapa?” Tanya Eun Hye

“Aku Choi Bang Geum. Kau tidak ingat aku?” Tanya Bang Geum. Eun Hye menggelengkan kepalanya. Bang Geum merasa khawatir. Jangan jangan anak ini amnesia batin Geum.

“Kau ingat namamu?” Tanya Bang Geum sekali lagi. Namun Eun Hye menggeleng juga. Benar dugaan Bang Geum. Ia hilang ingatan. Untungnya ia mengingat nama Eun Hye.

“Paman tahu siapa aku?” Tanya Eun Hye. Dan Geum menganggukkan kepalanya.

“Siapa aku paman?”

“Namamu Kwon Eun Hye.” Ucap Bang Geum lagi.

“Kwon Eun Hye? Lalu paman siapaku?”

“Aku, seorang polisi yang waktu itu menolongmu karena kau dikejar preman. Sungguh kau tidak ingat aku?” Tanya Bang Geum. Lagi lagi Eun Hye menggelengkan kepalanya. Perasaan Bang Geum campur aduk. Bagaimana ia bisa mengembalikan Eun Hye ke orang tuanya? Sementara tempo hari, sehari setelah kematian Hee Yoon, Bang Geum hendak mengembalikan uang 10 ribu dolar itu kerumah Eun Hye, Namun rumah Eun Hye kosong.

“Paman tahu dimana rumahku?” merasa bingung dengan pertanyaan Eun Hye akhirnya Bang Geum terpaksa menggelengkan kepalanya.

“Tidak” Dalihnya. Tiba tiba Eun Hye teringat dengan namanya sendiri. Kwon Eun Hye? Tunggu dulu, sepertinya ia mengingat sesuatu. Ia mengingat jika ia disuruh seorang anak kecil yang lebih besar darinya untuk keluar. Namun ia tak tahu siapa anak kecil itu. Kepala Eun Hye terasa sakit.

“Eun Hye? Kau tidak apa apa?” Tanya Bang Geum. Dengan segera ia memanggil dokter dan membiarkan Eun Hye beristirahat.

 

***

 

 

Sementara itu, Yong masih saja menangis karena berpisah dari sang adik. Yong tidak tahu apa yang terjadi kepada adiknya saat ini. Bagaimana keadaan Eun Hye, Apakah Eun Hye selamat atau tidak. Yong menjadi sangat khawatir.

“Paman, kita mau kemana?” Tanya Yong kepada preman itu.

“Ke Tokyo” Yong tidak lagi bertanya. Hatinya benar benar terusik. Kini ia harus menjalani hidupnya sendiri. Sesampainya mereka di Tokyo, Yong di bawa kesuatu tempat yang entah apa namanya. Tempat itu terlihat seperti panti asuhan.

“Paman, kenapa aku dibawa kemari?” Tanya Yong.

“Kau kira aku akan menjadi orang tuamu begitu? Tinggallah kau disini sampai orang tuamu membayar hutang mereka!” bentak preman itu. Yong menangis. Ia ketakutan. Yong di bawa paksa kedalam tempat itu dengan meronta ronta. Ia terus meronta. Preman itu Kemudian meninggalkan Yong.

 

***

 

“Karena kecelakaan itu, Eun Hye sepertinya mengalami benturan keras dikepalanya, dan karena benturan itupula sepertinya ia mengalami amnesia” mendengar semua itu Bang Geum terkejut.

“Apa amnesianya itu bisa hilang?” Tanya Bang Geum

“Tentu bisa. Namun proses itu memerlukan waktu yang cukup lama.”

“Baiklah kalau begitu terima kasih” ujar Bang Geum seraya memberi hormat kepada dokter tersebut.

Amnesia? Bagaimana mungkin aku bisa menemukan orang tuanya jika dia amnesia?

 

Bang Geum berjalan menuju ruangan Eun Hye. Namun ia tidak melihat Eun Hye. Bang Geum merasa khawatir. Kemana perginya gadis itu. Bang Geum segera berlari menuju keluar rumah sakit, hingga akhirnya ia melihat Eun Hye sedang duduk sendirian di taman rumah sakit.

“Eun Hye-ah?” sapa Bang Geum.

“Eh? Paman, maaf aku mencabut infusnya dan membuat paman kebingungan” ucap Eun Hye dengan bahasa Jepang yang sangat fasih dan sopan. Jarang anak berusia 7 tahun sepertinya bisa mengucapkan kata kata itu dengan lancar.

“Gwaenchana. Apa yang sedang kau fikirkan?” Tanya Bang Geum seraya duduk disebelah Eun Hye.

“Aku bingung, dimana aku akan tinggal? Paman tidak mungkin membawaku kerumah paman. Karena samar samar kudengar, paman baru saja berduka. Aku tidak tahu dimana orang tuaku.” Lirih Eun Hye. Bang Geum melirik kearahnya. Benarkah anak ini tidak mengingat semuanya? Jika aku bawa dia pulang, maukah Seung Hyun menerima kehadirannya? Gumam Geum dalam hatinya. Ia tak tega meninggalkan Eun Hye sebatang kara dirumah sakit ini.

“Eun Hye, maukah kau tinggal bersama paman untuk sementara?” hibur Bang Geum. Eun Hye melirik kearah Bang Geum. Sepertinya ini serius.

“Benarkah? Paman tidak keberatan?” Tanya Eun Hye. Dan Bang Geum hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. Beberapa saat Kemudian, Eun Hye yang berbalutkan baju rumah sakit itu memeluknya. Bang Geum kali ini tersentak, pelukan ini–––seperti pelukan anaknya. Hee Yoon.

“Arrigatou gozeimatsu Bang Geum-san!!” lirih Eun Hye seraya mempererat pelukannya di pinggang Bang Geum.

 

***

 

“Permisi, Ikimo-san?” sapa Bang Geum ketika tiba dirumah temannya yang ia panggil Ikimo.

“Ah! Kau rupanya Bang Geum-san”

“Dimana Seung Hyun?”

“Seung Hyun tidak mau ikut denganku tadi. Ia bilang ingin menunggumu dirumah. Jadi aku memutuskan untuk membelikannya makan malam”

“Terima Kasih kau telah membantuku.” Ucap Bang Geum. Namun tiba tiba Ikimo menjadi bingung ketika melihat seorang gadis kecil yang sedang digenggam tangannya oleh Bang. Anak ini–korban kecelakaan tadi? Gumam ikimo dalam hatinya.

“Kenapa kau membawa anak ini, Bang Geum-san?” Tanya ikimo bingung.

“Panjang ceritanya, mungkin akan kuceritakan besok. Kalau begitu aku pulang dulu ya? Selamat malam” Bang Geum dan Eun Hye  memberi hormat lalu bergegas menuju rumah Bang Geum. Sesampainya dirumah Bang Geum, Eun Hye merasa biasa biasa saja.

“Eun Hye-ah, ini rumah paman. Maaf jika kau merasa tidak nyaman dengan rumah paman ini.” Ucap Bang Geum. Rumah Bang Geum tidaklah besar.

“Seung Hyun-ah? Eodie?” Tanya Bang Geum. Namun tidak ada jawaban sama sekali.

“Seung Hyun-aaaah? Eodieee?” Bang Geum kini berbicara sedikit keras. Tiba tiba saja dari salah satu ruangan, keluarlah sosok laki laki yang sepertinya masih berusia 12 tahun. Wajahnya sangat mirip dengan Bang Geum. Ibaratkan anak laki laki itu gambaran Bang Geum ketika masih remaja. Postur tubuhnya sangat cocok untuk anak anak seusianya. Anak lelaki ini mengenakan sweater putih bergaris cokelat dan hitam. Dengan long trouser berwarna hitam. Ia muncul dengan membawa cangkir di tangan kanannya.

“Ada apa ayah?” Tanya Seung Hyun dingin. Eun Hye melihat ekspresi anak laki laki itu. Anak itu bersikap dingin kepadanya. Bang Geum mengantarkan Eun Hye menuju kamar mendiang anaknya, Hee Yoon.

“Eun Hye, kau bisa memakai baju anakku. Hee Yoon. Dan beristirahatlah di sana” titah Bang Geum. Eun Hye menganggukkan kepalanya dan Kemudian berjalan memasuki kamar Hee Yoon.

 

“Anak siapa itu, yah?” Tanya Seung Hyun.

“Dia, anak dari orang yang waktu itu memberikan ayah uang 10 ribu dolar” jawab Bang Geum. Seung Hyun menghentikan aktivitasnya sejenak. –meminum air putih–

“Mengapa ayah membawanya kemari? Ayah menculiknya?”

“Tidak Seung Hyun-ah. Anak itu kecelakaan dan dia amnesia. Ayah membawanya kemari karena rumahnya tidak ada orang” ucap Bang Geum.

“Lalu ayah biarkan dia memasuki kamar Hee Yoon nuna?” ucap Seung Hyun dingin. Semenjak kematian Hee Yoon dan ibunya yang memasuki rumah  sakit jiwa, Seung Hyun mendadak menjadi anak yang cuek dan pendiam.

“Biarkan dia. Jangan ganggu ayah. Ayah lelah” ucap Bang Geum tiba tiba tak bersemangat. Bang Geum berjalan menuju kamarnya.

 

***

 

Eun Hye mengamati betul betul kamar Hee Yoon. Kamar ini cukup sederhana. Terdapat foto–foto Hee Yoon bersama teman temannya beserta keluarganya. Semua barang barang Hee Yoon tersusun dengan rapi. Tiba tiba saja Eun Hye tak sengaja menemukan selembar kertas saat ia hendak menarik selimut untuk tidur. Iapun memutuskan untuk membaca surat itu.

Untuk ayah dan ibu serta adikku, Seung Hyun.

Ini aku Hee Yoon! Kalian baik baik saja kan? Aku ingin minta maaf kepada kalian karena keputusanku untuk bertemu dengan Tuhan sepertinya akan disambut tangis oleh kalian bertiga. Namun kalian harus tahu, aku sudah tidak kuat dengan penyakit yang menggerogoti tubuhku ini. Perlahan lahan aku juga pasti mati lebih dulu dari kalian. Ibu, jangan meneguk banyak arak ketika menangisi kepergianku nanti. Ayah, jangan menyalahkan diri ayah jika aku pergi. karena ini keputusanku sendiri. Dan Seung Hyun. Jangan menjadi adik yang Pendiam. Aku tidak suka melihat sifatmu yang satu itu. Aku mohon jadilah anak yang selalu ceria. Hanya itu saja pesanku untuk kalian. Aku sangat menyayangi kalian.

 

Ditulis dengan penuh Cinta,

Dari anak kalian. Choi Hee Yoon🙂

 

Eun Hye menatap surat itu. Ia tak menyangka jika Hee Yoon adalah anak yang sangat menyayangi kedua orang tuanya. Eun Hye melipat kembali kertas itu lalu meletakkannya di meja didekat ranjang Hee Yoon.

“Apa yang kau baca itu?” Tanya Seung Hyun dari balik pintu yang jelas membuat Eun Hye terkejut.

“A––aku? Ah, tidak ada!” dalih Eun Hye.

“Kau berbohong. Ayo cepat katakan, apa yang tadi kau baca?” tanyanya dingin.

“Bukan apa apa. Kau tidak perlu tahu” ucap Eun Hye.

“Jangan jangan kau membaca cerita porno ya! Jangan jangan kau berbohong pada ayahku. Sebenarnya kau ini tidak amnesiakan? Kau ini Bandar Sex kan?” ucap Seung Hyun.

“Dari mana kau tahu jika aku Bandar Sex? Seenaknya bicara! Kenapa kau kemari? Seharusnya kau tidur dikamarmu sendiri!” ucap Eun Hye.

“Mwo? Aku tidak punya kamar. Kamar nuna, kamarku juga. Awas ya, jika kau mengambil barang barang milik nunaku!”

“He? Mengambil barang nunamu? Aku bukan pencuri! Aneh-aneh saja kau ini” ucapnya. Seung Hyun menatap Eun Hye. Eun Hye menatap Seung Hyun. Keduanya saling melempar tatapan sinis. Namun tiba tiba, pandangan sinis Eun Hye mengendur. Ia terpana akan wajah Seung Hyun. Mata-nya, bibirnya, hidungnya semua mengubah suasana hati Eun Hye. Dia benar benar tampan! Gumam Eun Hye dalam hatinya. Meskipun usianya baru menginjak 12 tahun, Namun Seung Hyun terlihat lebih dewasa dari umurnya. Eun Hye terus memandangi wajah Seung Hyun tanpa Ekspresi.

“Yak! Kau ini kenapa melihatku seperti itu!” teriakan Seung Hyun mengagetkan lamunan Eun Hye. Eun Hye berfikir sejenak. Kasur ini hanya cukup untuk 1 orang, lalu bagaimana ia akan tidur?  Apakah ia harus satu ranjang dengan Seung Hyun?

“Kenapa melamun?” Tanya Seung Hyun lagi.

“Dimana kau akan tidur?” Tanya Eun Hye.

“Tentu saja dikasur”

“Lalu aku bagaimana?”

“Kau juga di kasur”

“Jadi kita tidur berdua dalam satu ranjang yang sempit ini?”

“Jangan bertanya jika kau sudah mengetahuinya” DEG! Eun Hye kaget. Tidur satu ranjang dengan anak laki laki? Eun Hye tidak pernah tidur satu ranjang dengan laki laki. Termasuk dengan kakak dan ayahnya. Seung Hyun tiba tiba berbaring di ranjang yang sedang ditiduri Eun Hye. Seung Hyun yang kesempitan berulang kali menyuruh Eun Hye untuk bergeser. Saat Eun Hye bergeser, Eun Hye merasa kesempitan maka dengan kasar ia menggeser dirinya.

“Kau ini! Sempit tau!” ucap Eun Hye kesal.

“Aku juga kesempitan! Aih Geser!!” ucap Seung Hyun seraya menggeser tubuh Eun Hye dengan pinggulnya. Mereka saling menggeser satu sama lain. Hingga berdorong dorongan dikasur itu. Akhirnya kedua anak inipun terjatuh

 

BRUGH!

 

Eun Hye terjatuh kesisi sebelah kanan sementara Seung Hyun jatuh kesisi sebelah kiri. Keduanya sama sama memegang bagian bokong mereka yang sakit karena secara kasar berciuman dengan lantai.

“Kau ini apa apaan sih!”

“Kau yang apa apaan!! Kasur ini sempit mengapa kau mendorongku hingga jatuh!” ucap Seung Hyun kasar.

“Ah sudahlah!! Jika kita bertengkar, itu tidak akan menyelesaikan permasalahan. Saat kau tidur bersama nunamu di kasur ini, bagaimana cara kalian tidur agar tidak kesempitan?” Tanya Eun Hye.

“Kami berpelukan sampai pagi”

“APA!!”

“Itu wajarkan? Dia kakakku. Yang tidak wajar itu adalah jika kita berdua berpelukan!!” ungkap Seung Hyun. Eun Hye berfikir keras bagaimana caranya agar ia bisa tidur dengan lelap tanpa harus berpelukan dengan pria ini. Ia tidak menemukan tikar dikamar Hee Yoon. Tidak ada sesuatu yang bisa dijadikan alas tidur untuknya. Eun Hye pasrah.

“Kita tidur berdua diranjang ini saja” ujar Eun Hye. Tiba tiba Seung Hyun menaikkan sebelah alisnya.

“Tidak tidak tidak! Aku tidak mau berpelukan denganmu! Tidaak!!”

“Yak! Anak pabo dengarkan aku dulu! Kita tidur tetapi kita saling memunggungi satu sama lain! Kau menghadap ke timur dan aku kebarat!” ucap Eun Hye meninggi. Seung Hyun memasang ekspresi layaknya ia sedang berfikir akan usul Eun Hye. Beberapa saat Kemudian ia menyetujui usul Eun Hye.

 

***

 

Ibu Eun Hye tersadar dari pingsannya. Sejak dibawa masuk oleh preman itu, ia hampir diperkosa. Namun tiba tiba banyak gerombolan warga desa yang datang. Sehingga preman itu tidak dapat memperkosa ibu Eun Hye. Ibu Eun Hye berjalan menuju ruangan depan. Ia ingin melihat keadaan suaminya.

“Yuki-san?” ucap seorang wanita yang sedang duduk bersama seorang wanita lagi di ruang tamunya. Mereka adalah tetangga Yuki, ibu Eun Hye.

“Em, mana suamiku?” tanyanya seraya memijit pelan kepalanya yang sakit. Kedua wanita tampak diam dan memasang raut wajah yang kusut. Mereka bersedih. Ibu Eun Hye terlihat bingung dengan ekspresi wajah mereka. Sepertinya terjadi sesuatu kepada sang Suami.

“Katakan padaku, dimana suamiku?” tanyanya sekali lagi. Namun kedua wanita ini seolah tak mampu menjawab apa yang ditanyakan ibu Eun Hye. Salah seorang wanita berjalan kearah ibu Eun Hye.

“Kau harus relakan suamimu, Yuki-san. Ia telah pergi menghadap yang kuasa” ucapnya seraya terisak. Mendengar itu semua, ibu Eun Hye serasa tak mampu bernafas. Ia sudah tak mampu berdiri lagi. Pikirannya telah pecah dan melebur kemana mana.

“Kau berbohongkan? Kau hanya bercandakan?” ucap ibu  Eun Hye seraya terisak. Namun wanita itu menggeleng. Ini semua adalah kenyataan. Suami Yuki telah meninggal karena tertancap sebilah pisau didadanya saat preman preman itu hendak kabur. Ibu Eun Hye menangis tak karuan. Kesedihannya begitu dalam. Ia kehilangan sosok suami yang teramat sangat dicintainya. Esok pagi adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ke 11. Kedua wanita yang menemaninya dirumah itupun berusaha menenangkannya. Saat menangis, ibu Eun Hye teringat akan kedua anaknya. Yong dan Eun Hye.

“Yong! Eun Hye!” ucapnya tergesa. Ia berlari menuju kamar Yong dan Eun Hye. Namun ia tak menemukan kedua malaikatnya itu. Ibu Eun Hye Semakin khawatir. Ia takut jika kedua anaknya itu dibawa dan benar benar di Jual ke China.

“Dimana Anakku!!!! DIMANA ANAKKU!!!” teriak ibu Eun Hye disertai tangis yang menjadi. Ia berjalan kekamar mandi, kedua anak itu tak dapat ia temukan. Ia mencari keseluruh tempat tinggalnya itu, Namun ia tetap tak menemukan kedua anaknya itu.

“YOOOOONG!!! EUN HYEEEE!!!” ucapnya panjang. Tangis itu tak kunjung reda. Dan tak disangka, hujan pun turun membasahi Nagasaki malam ini. Tanpa diduga, ibu Eun Hye nekat. Ia berlari keluar untuk mencari buah hatinya. Dari pedesaan, kini ibu Eun Hye tiba di perkotaan dengan berjalan kaki. Ia terus meneriakkan nama kedua anaknya.

“Yong!!! Eun Hye!!!”

“Yong!!! Eun Hye!!!”

“Yong!!! Eun Hye!!!” teriaknya diantara derasnya hujan. Dan kini ia tiba di kawasan tempat tinggal Bang Geum. Ia kembali meneriakkan nama kedua anaknya.

“Yong!!! Eun Hye!!!”

“Yong!!! Eun Hye!!!” ibu Eun Hye lelah. Ia bersandar di dinding rumah Bang Geum. Air mata-nya tumpah. Eun Hye mendengar teriakan itu. Ia terbangun dari tidurnya. Dan hendak melihat siapa yang mencarinya. Namun tiba tiba tangan Seung Hyun memeluknya dengan erat hingga ia tidak bisa kemana–mana. Eun Hye mengurungkan niatnya. Ia berbalik kearah Seung Hyun hingga mata-nya dapat menatap Seung Hyun. Ia terpana melihat wajah Seung Hyun yang polos ketika tidur itu. Entah kenapa, jantung Eun Hye Semakin berdegub kencang. Ia tak menyangka jika Seung Hyun memeluknya. Dia benar benar pangeran tampan! Gumam Eun Hye. Sambil tersenyum Eun Hyepun kembali memejamkan kedua mata-nya. Namun ia masih penasaran. Siapa orang yang meneriakkan namanya tadi?

 

TBC

4 thoughts on “[2nd Chapter] Destiny

  1. like this.
    lucu ya.. bocah-bocah.. ^^
    tp sedih bgt 1 keluarga eun hye terpisah gitu semuanya..😦
    next part ditunggu author. semangat🙂

  2. seandainya aja eun hye beneran lihat siapa yang panggil nama dia.. pasti dia bisa ketemu lagi sama ibunya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s