Mr. Appartment Part 8 (Feel the Anger)

 

MA8

Title : mr. Appartment part 8 (feel the anger)

Author : butterfly agashi

fb/twitter : indah fitria/ @iindahfiitriia

Length : chapter

Cast : song yura
lee hyun wu
lee hankang
shin hye jin
kim jongwoon
park jungsu

ini sambungan MA
thanks eon ana and sem and lovely eonni(read: lie ang ang)

ini satu part sebelum part ending
dan kalau tidak sesuai keinginan readers, mianhae…

 

———————————————-part sebelumnya

“nyanyianmu seindah mentari pagi, tatapanmu seperti indah nya kelopak-kelopak bunga dan senyummu, senyum itu begitu hangat, membuatmu menjadi pangeran musim semiku”

“oppa, saranghaeyo.”

Deg!

Hyunwu terpaku mendengar apa yang suara itu ucapkan. Ia mundur dari pintu itu selangkah. Berusaha menjernihkan pikirannya. Kembali berpikir kalau mungkin saja ia sudah salah dengar.

“ye, jongmal saranghae.”

part 8——————————————-

Ucapan dari suara itu kembali membuat hyunwu mematung. Kini ia benar-benar yakin tidak ada kesalahan dari pendengarannya.

‘apa dia sedang berbicara dengan seseorang? Oppa, siapa lagi yang ia panggil oppa kalau bukan lee hankang. Apa laki-laki itu berubah pikiran tentang perasaan yura? Apa mereka akan bersama?’ imaginasi hyunwu bekerja dengan liar.

Ia masih berdiri terpaku di depan pintu kamar itu. Sebenarnya ia ingin mengajak yura makan malam. Bukan sebagai teman berbagi apartemen, tapi pria dan wanita. Dia ingin meyakinkan perasaanya, kalau gadis itu sudah mengantikan ruang yang selama ini di isi hyejin, tanpa sepengetahuannya. Tapi kini semua harapan itu pupus sudah, mendengar yura mengatakan cinta pada orang lain. Hyunwu tidak apa-apa jika ia mendengar kalimat itu saat pertama kali yura datang ke apartemennya, tapi sekarang semuanya sudah berubah. Ia sudah merasakan sesuatu pada gadis itu.

“hyunwu-ya, apa kau mencariku? Mengapa kau berdiri di depan pintu seperti ini?” yura berdiri tepat dihadapan hyunwu. Pintu kamar gadis itu terbuka dengan sempurna.

“tidak, aku tidak mencarimu. Aku hanya ingin berdiri disini,” kata hyunwu berteriak.

“ya, mengapa kau berteriak? Apa kau pikir aku tidak bisa mendengarmu eoh?” yura merasa kesal.

“itu bukan urusanmu, aku punya hak untuk berteriak. Tentu saja, ini apartemenku. Kau hanya menyewa sebuah kamar disini,” laki-laki itu berbicara dengan nada tinggi dan terkesan marah.

“ya, aku tau. Tapi tidak usah marah seperti ini. apa aku berbuat kesalahan? Katakan baik-baik.”

“sudahlah, lupakan. Aku sudah melupakan apa yang akan kukatakan padamu,” hyunwu berjalan gontai ke kamarnya, kerutan dikeningnya terlihat lebih jelas.

——

“kau tidak sarapan?” teriak yura dari arah dapur, mendapati hyunwu telah berpakaian lengkap, berjalan keluar apartemen tanpa menoleh kebelakang.

Tidak ada jawaban. Laki-laki itu tidak menjawab sama sekali, ia membuka pintu dan berjalan terus, membiarkan pintu itu menutup dengan sendirinya.

“aish, mengapa dia jadi aneh sekali. Tidak seperti biasanya. Apa aku berbuat salah?” yura meneguk teh nya. kemudian ia menuangkan gelas kopi yang masih hangat itu kedalam bak pencuci piring dan roti panggang nya kedalam lemari pendingin.

“ini prilaku buruk, membuang makanan dan minuman itu prilaku buruk,” gumam yura. Dia kembali meneguk teh nya sampai habis dan menaruh gelas itu ketempat yang sama dengan gelas kopi hyunwu.

“lee hyunwu, si actor yang akhir-akhir ini berlaku aneh. Seharusnya kau berbicara padaku, aku sudah cukup kesepian tanpa keluarga ditempat ini. nappeun namja!” yura berteriak pada layar ponselnya. Ia terlihat gila berbicara sendirian, tapi itu rasa kesalnya pada laki-laki yang fotonya menghiasi layar tipis ponsel itu.

——-

“yeoboseo, hyunwu-ya….” panggilan itu diputuskan oleh orang diseberang telepon. Yura menunngu di box telepon terdekat dari apartemennya. Hujan turun dengan sangat deras, membuat udara dingin terasa sangat menusuk walaupun yura sudah mengenakan mantel tebal dan scarft. Kedua telapak tangan gadis tiu terlihat pucat dan kaku. Ia tidak bisa lagi menunggu hujan yang tak akan reda di tempat itu, kecuali ia ingin terjangkit hipotermia karena kedinginan.

Yura terlihat ragu, tapi ia mencoba kembali menelpon hyunwu, berharap laki-laki itu mengangkat telepon dan mau menjemputnya. Dengan tangan bergetar yura mengangkat ponselnya, menaruh benda itu di samping cuping telinganya. Tidak ada jawaban, panggilan itu diabaikan. Hyunwu tidak mengangkat ponselnya.

Yura berharap hyunwu akan menjemputnya, masih dengan tangan yang bergetar kaku karena udara dingin, ia mengetik pesan untuk hyunwu. Meminta belas kasih laki-laki itu untuk menjemputnya di box telepon terdekat.

—–

“mengapa dia menelponku? Apa dia tidak tahu aku masih kecewa padanya? Saat ini yang paling penting itu menjauh darinya, mengatur perasaanku dan semuanya kembali normal,” hyunwu menghempaskan ponselnya ke atas ranjang. Laki-laki itu beranjak, mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Air hangat paling baik saat cuaca dingin.

Hyunwu berbalik, ia melangkah keluar dari kamar mandi menuju ruang tengah. Dengan satu tangan ia mengidupkan dvd player yang ada diruangan itu, mebiarkan music yang biasa ia dengarkan mengalun dengan keras.

—–

Hyunwu berbaring di sofa, membaca buku yang menurutnya cukup menarik. Ruangan itu terasa hangat dan nyaman. Terdengar suara bantingan pintu, hyunwu tersentak kaget, duduk dan mendapati yura yang baru saja pulang kerumah. Gadis itu basah kuyup, kedua bola matanya memerah dan wajahnya memucat, menunjukkan kondisinya yang sedang tidak baik.

“kau kehujanan?” tanya hyunwu tanpa rasa bersalah.

Yura tidak menjawab, ia hanya menatap hyunwu tajam dengan kedua ekor matanya yang merah. Dengan langkah terseok-seok ia berjalan ke kamarnya. Hyunwu bangkit dari sofa, mengikuti yura. Ia merasa cemas dengan kondisi gadis itu. Tapi yura membanting pintu kamarnya agar menutup tepat beberapa senti di depan wajah hyunwu. Laki-laki yang hampir saja terkena bantingan pintu itu tertegun, diam ditempat tak bergerak. Rasa khawatirnya cukup besar pada yura, tapi apa yang mebuat gadis itu begitu, pikir hyunwu.

Berpikir yura membutuhkan ruang untuk dirinya sendiri hyunwu memutar badannya, mengambil bukunya yang tergeletak di sofa dan masuk kedalam kamarnya sendiri. Ia sedikit bingung dengan kejadian yang baru saja menimpanya.

Hyunwu berbaring diatas ranjangnya yang hangat. Merasa punggungnya menindih sesuatu hyunwu meraih benda itu yang merupakan ponselnya. Ada sebuah pesan dari yura. Penasaran dengan isi pesan singkat itu hyunwu segera membukanya. Ia terbelalak, terkejut setelah pesan itu terbuka. Hyunwu memukul-mukul kepalanya meratapi kecerobohannya hari itu.

From : yura
Hyunwu-ya, aku lupa membawa payung dan terjebak hujan di box telepon yang letaknya satu blok sebelum apartemen kita. Tolong jemput aku, kumohon. Udaranya sangat dingin sekali dan aku tidak bisa terkena hujan. Kali ini kumohon, aku tidak akan menyusahkanmu lagi.

“Dia kehujanan karena aku, aku pria bodoh yang berusaha menjauhinya saat dia membutuhkanku,” pikir hyunwu.

——

Tubuh tinggi itu berjalan mondar mandir di depan kamar yura. Tangannya disilang di depan dada, memperjelas kekhawatirannya. Sesekali ia berdiri di depan pintu, terlihat ingin mengetuk, namun belum sampai tangannya menyentuh warna hitam dari pintu itu, ia mengurungkan niatnya. Merasa tidak cukup pantas untuk menganggu sang pemilik kamar.

“eomoni, eomoni-“ terdengar suara erangan dari dalam kamar. Hyunwu sontak terkejut, tanpa ragu ia meraih gagang pintu dan melihat sosok yura yang tengah mengigau. Wajahnya merah padam. Keringat terlihat mengucur deras di kening gadis itu.

“yura-ya, yura-ya,” hyunwu menepuk pundak yura pelan. Berusaha menenangkannya. Sosok yura diam, terlihat tenang, tapai kerutan di keningnya masih terlihat jelas. Dengan canggung hyunwu menjulurkan jari telunjuknya, menyentuh kening yura, menghilangkan kerutan menyebalkan itu.

“mianhae yura-ya. ini semua salahku, aku yang menyebabkanmu sakit lagi,” hyunwu meraih tangan yura, menghangatkan buku-buku tangan gadis itu yang memucat.

Deru nafas yura terdengar jelas, membuat hyunwu merasa sedikit lega. Hyunwu mengompresi yura, berusaha menurunkan suhu badan gadis itu. Sesekali ia menatap wajah pucat yura dengan lekat, ia menyesal mengikuti imaginasinya yang tidak benar.

Alunan lagu klasik terdengar dari balik bantal yura. Dengan sedikit penasaran hyunwu mengambil benda yang menimbulkan suara itu. Sebuah panggilan masuk dari luar negri. Screen ponsel yura menunjukan nama dari si penelpon. Hyunjo oppa. hyunwu membiarkan panggilan tersebut tidak dijawab. Ia tidak mungkin mengangkat ponsel seorang gadis pada tengah malam seperti ini. hal itu bisa saja membuat kesalah pahaman yang tidak di inginkan. Ponsel itu berhenti berdering dan menampilkan log panggilan ponsel yura. Terlihat dengan jelas pada dilayar itu, pada saat hyunwu akan mengajak yura makan malam, tepatnya saat yura mengatakan kalimat yang membuat hyunwu berang dengan seseorang ditelepon, yura mengatakan hal itu bukan pada lee hankang, melainkan orang itu. Orang yang disebut yura hyunjo oppa.

Hyunwu menimbang-nimbang rasa keingin tahuannya. Ia tahu hal ini mungkin sudah melanggar privacy pribadi. Tapi rasa penasaran yang menjalari pikirannya membuat hyunwu tidak tahan. Dia mengecek informasi pribadi laki-laki itu di ponsel yura. Tidak terlalu lengkap, hanya ada no kontak, email dan catatan dari kalender yang terhubung dengan kontak itu. Disana tertulis dengan singkat, ‘hari dimana oppaku tersayang dan eonniku tercinta dilahirkan. Aku bersyukur kalian telah dilahirkan. saranghae.’

Hyunwu menaikkan sebelah alisnya, mengira-ngira apa mungkin orang yang saat itu berbicara pada yura adalah kakak laki-laki gadis itu sendiri. Lalu jika memang begitu, terlihat jelas bahwa yang hyunwu lakukan sangat salah. Ia merasa curiga dan cemburu pada orang yang salah.

——-

“sepanjang hari aku hanya memikirkanmu. Aku berpikir apa boleh aku mengisi ruang dihatiku dengan dirimu? Dan apa boleh aku mengisi sedikit ruang dihatimu? Sedikit saja, sebuah ruang dimana kau bisa menerimaku untuk tetap berada disisimu.”

Hyunwu baru saja membuat dapur apartemen itu terlihat tak karuan. Panci-panci steanless steel bertengger tidak beraturan di atas kompor listrik yang baru saja dimatikan. Bak pencuci piring penuh dengan sisa-sisa sayuran yang dipotong tak karuan. Dan poci teh yang biasanya digunakan yura terlihat sedikit berbeda. Jika biasanya hanya ada salah satu kantung the disana, hari ini ada dua. Satu kantung teh chamomile dan satu lagi kantung teh hijau. Menimbulkan aroma teh yang aneh dan jarang ada.

Semangkuk bubur hangat dan satu gelas teh berjejer rapi bersama obat penurun panas yang dibeli hyunwu. Hyunwu membawa benda-benda itu kedalam kamar yura, walaupun gadis itu belum bangun, ia tetap harus makan.

“yura-ya, bangunlah. Kau harus makan obat,” Hyunwu membangunkan yura dengan pelan.

Gadis itu terbangun, mata bulatnya mengerjap, kebingungan dengan keberadaan hyunwu dikamarnya. Ia masih cukup merasa jengkel dengan hyunwu, mengingat laki-laki itu tidak merespon telepon ataupun pesan singkatnya kemarin. Yura, menoleh kesamping, ia mendapati handuk basah didalam mangkuk yang cukup besar. ‘apa kemarin hyunwu mengompresi keningnya?’ pikir yura.

“ayo, makan, aku sudah bersusah payah membuatkannya untukmu,” yura masih tidak menjawab. Ia membiarkan lengan hyunwu tetap mengangkat baki tersebut.

“jeosonghaeyo, aku bersalah. Aku memutuskan teleponmu dan tidak membaca sms yang kau kirimkan. Kau bisa memarahiku nanti, sekarang kau harus makan dulu,” hyunwu menyodorkan makanan itu pada yura.

Yura menegakkan punggungnya, bangkit dari posisi tidurnya. Ia masih malas melihat hyunwu. Tapi permintaan maaf laki-laki itu tadi cukup meluluhkan rasa kesalnya. Ia mengambil sendok dan menyuap bubur yang dibuat hyunwu. Sejenak yura ingin menahan makanan itu untuk tetap dimulutnya, tapi lidahnya menolak. Cepat-cepat ia mengambil tissue dan memuntahkan isi mulutnya pada benda itu.

“apa kau mau membunuhku?,” yura mengambil gelas tehnya dan meneguk cairan bening itu.

“yaa, apa ini kau sebut dengan teh?” yura cepat-cepat meneguk teh yang rasanya tidak karuan itu.

“aku sudah berusaha, apa rasanya seburuk itu?” hyunwu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Yura mengangguk merasa bersalah, ia kembali menyendok isi mangkuk bubur itu. Menghabiskan benda lembek itu dengan cepat, dan meneguk teh campuran yang aneh itu dengan cepat. Ia menghabiskan semuanya dengan sangat cepat. Karena lidahnya tidak kuat untuk mengulum makanan yang separuh tidak enak itu dalam waktu lama.

“kau menghabiskannya?” hyunwu meneguk ludah, tercengang betapa cepatnya yura menghabiskan bubur itu.

“ya, aku tidak tahan melihat wajah bersalahmu itu,” yura menelan obatnya. Matanya memicing ketika rasa pahit itu menyentuh lidahnya.

“gomawo, kau sudah memaafkanku.”

“tidak ada yang berkata begitu,” yura menarik selimutnya, menutupi seluruh tubuh dengan benda tebal dan hangat itu.

“saranghae,” bisik hyunwu.

“kau mengatakan sesuatu?” kata yura dari balik selimut.

“ani.”

——–

“saat ini aku akan menyatakan perasaanku, jadi tolong tetaplah disini sebentar. Dengarkan pernyataanku dan jawablah. Apa kau ingin bersamaku atau tidak?”

TBC_

thanks for all readers.
terima kasih buat semua yang udah baca di note fb ku kalian readers sejati. ^^

11 thoughts on “Mr. Appartment Part 8 (Feel the Anger)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s