Mr. Appartment (Part 6) [Explanation]

 

MR6

 

Title : mr. Appartment part 6 (explanation)

Author : butterfly agashi

fb/twitter : indah fitria/ @iindahfiitriia

Length : chapter

Cast : song yura
lee hyun wu
lee hankang
shin hye jin
kim jongwoon
park jungsu

ini sambungan MA
thanks eon ana and sem and lovely eonni(read: lie ang ang)

di part ini lebih banyak penjelasan mengenai pertanyaan yang mungkin terbersit di kepala readers. just enjoy

——————————-part sebelumnya

“mwo? Yeoja? chingu?” Tanya yura setelah young-in menghilang dari balik pintu.

 

“ye, kau perempuan dan kau juga temanku. Tepat sekali ‘yeoja’ ‘chingu’,” hyunwu beralasan.

 

“yeee?? Kau tahu semua orang bisa salah paham karena ucapanmu itu? Dan ‘chagi’ apa kau sedang tidak waras? Mengapa banyak kata-kata bodoh yang kau ucapkan pagi ini eoh?

 

——

“karena selama ini hanya mengagumi dari jauh. Itu alasanku tidak mendekatinya. Karena aku sudah terlanjur terbiasa melihatnya dari sudut yang tidak pernah ia sadari”

 

“kau masih belum mengatakannya pada hyejin?” Tanya taejun, saat mereka dalam break latihan yang sangat langka.

 

“hmm,” hyunwu mengangguk.

 

“apa kau memang tidak berniat untuk mengatakannya?”

 

“entahlah,” hyunwu menegak moccachino yang ia pegang.

 

“ya, hyunwu-ya. bagaimana kau bisa seplin-plan ini eoh? Apa ada gadis lain yang menarik perhatianmu?”

Hyunwu tersedak. Apakah hatinya sudah di isi oleh orang lain? Entahlah, sejauh ini hanya itu yang ia ketahui.

 

——-

 

Lorong-lorong fakultas seni universitas seoul terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang yang asik dengan kegiatan mereka masing-masing dan hyunwu baru saja masuk ke gedung itu untuk melakukan latihan rutin nya, latihan drama musikalnya yang sudah mulai ketat seperti semula. Hari ini hyunwu merasa sangat baik, tentu saja karena kondisi yura yang juga sudah membaik. Gadis itu sudah terlihat seperti semula kembali. Hyunwu masih tidak percaya dengan perubahan cepatnya, hanya sekitar satu minggu gadis itu sudah pulih seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

 

Hyunwu berjalan cepat menaiki tangga menuju aula tempat ia biasa latihan. Ia tidak ingin terlambat karena hal itu bisa merubah mood dari sutradara yang sensitive. Hyunwu melihat taejun sudah masuk keruangan dan sekilas ia melihat kebelakang. Laki-laki itu terkejut, wajahnya memerah seketika. Lee hye jin, hyunwu melihat lee hyejin sedang bersama seorang pria. Hal itu sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan, jika saja laki-laki itu bukan lee hankang. ‘apa hubungan diantara mereka?’ batin hyunwu.

 

“hyejin-ssi,” hyunwu memanggil hyejin yang langsung menoleh kearahnya.

 

——

 

Hyejin baru saja kembali dari rumah sakit. Kondisi ibunya sudah cukup membaik, sehingga tidak perlu dijaga oleh seorang wali setiap waktunya. Gadis itu bergegas masuk kedalam gedung fakultas seni untuk mengikuti jadwal latihan drama musikalnya seperti biasa. Baru saja hyejin menginjakkan kakinya di lantai yang sama dengan aula latihan, seseorang memanggil gadis itu dari arah seberang aula, lebih tepatnya di sofa dekat jendela.

 

“oppa,” hyejin mendekati orang itu.

 

“ye, hyejin-a,” orang itu tersenyum. Tapi dari wajahnya terlihat jelas ia ingin menyampaikan sesuatu yang penting.

 

“wae? Mengapa oppa menungguku disini?”

 

“ada hal penting yang harus oppa katakan.”

 

“mwo? Katakan saja?” hyejin mengambil posisi duduk disamping orang itu.

 

“oppa, akan pindah ke luar kota,” kata orang itu dengan suara yang terdengar berat.

 

“odie? Oppa mau pindah kemana?” hyejin menatap orang itu lekat. Ada beberapa kerutan di keningnya.

 

“oppa tidak bisa mengatakannya padamu. Mianhae,” lagi-lagi suara orang itu terdengar berat.

 

“oppa wae?” hyejin menatap orang itu meminta penjelasan.

 

“hankang oppa, wae? Mengapa oppa tidak bisa mengatakannya?”

 

“oppa tidak bisa, maaf.”

 

“ayo katakan, paling tidak aku harus mengatakan sesuatu pada ibuku,” hyejin mencengkram pundak laki-laki itu.

 

“oppa sendiri yang akan mengatakan…” kata-kata hankang terputus karena seseorang memanggil hyejin.

 

“hyejin-ssi?”

 

Hyejin yang dipanggil langsung menoleh kearah sumber suara. Ia mendapati hyunwu dengan wajah yang memerah. Sebenarnya masih ada yang harus dikatakan hyejin pada hankang. Tapi ia harus menahan diri, karena hyunwu berjalan kearah nya dan hankang.

 

“ye, hyunwu-ssi,” hyejin memaksakan seulas senyuman.

 

“perkenalkan ini oppa ku,” hyejin mengenalkan hankang pada hyunwu begitu saja mengingat hyunwu yang tidak melepaskan pandangannya dari hankang.

 

“oppa?” hyunwu menaikan sebelah alis.

 

“ah, maksudku kakak laki-laki. Dia kakak laki-laki ku. Lee hankang,” hyejin cepat-cepat memperjelas kalimat nya.

 

“ah, annyeonghaseyo hankang-ssi,” kata hyunwu menundukkan kepalanya. Kini kedua alisnya sudah sama datar.

 

“ne, annyeonghaseyo hyunwu-ssi. aku sudah tahu tentangmu dari hyejin, tapi kita belum saling menyapa sebelumnya,” hankang juga menundukkan kepala sekilas.

 

“maaf, sebelumnya aku masih ada urusan. sampai jumpa lagi hyunwu-ssi. oppa akan menghubungimu nanti, shin hyejin,” hankang meninggalkan hyunwu dan hyejin.

 

Dengan cepat hyunwu menoleh kearah hyejin. Lagi-lagi ia menaikan sebelah alis.

 

“shin hyejin? Bukankah namamu lee hyejin?” kata hyunwu bingung.

 

“ah nde? Itu nama asliku.”

 

“nama asli? Apa maksudnya? Dan aku juga baru tahu kalau lee hankang adalah kakakmu,” hyunwu menunggu jawaban hyejin.

 

“ya, nama asliku shin hyejin. Karena aku adik tiri hankang oppa. jadi tidak banyak orang yang tahu dengan hubungan kami.”

 

“jinjja? Aku tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya,” hankang tersenyum tipis.

 

“nde?”

 

“ya, setelah hankang-ssi mengurus perizinan drama kita yang lalu. Seharusnya aku menyadarinya. Lee hankang dan lee hyejin.”

 

“ini tidak penting. Ayo masuk, sebelum sutradara mengamuk,” hyejin tersenyum kecil menuju aula.

 

 

——-

 

Sudah hampir tengah malam dan hyunwu baru saja menyelesaikan latihannya. Jadwalnya benar-benar sudah kembali seperti semula. Begitu juga dengan kebiasaan berjalan dengan mata tertutupnya. Sesekali laki-laki itu terlihat benar-benar seperti sedang tertidur. Semuanya benar-benar sama seperti sebelumnya hingga laki-laki itu masuk dan keluar dari lift layaknya terkahir kali ia pulang latihan di tengah malam.

 

Setelah menekan beberapa angka pada tombol di depan pintu hyunwu memasuki apartemennya. Terang sekali diruangan itu. ‘Mengapa lampunya masih menyala?’ pikir hyunwu. Laki-laki itu terus masuk hingga ia menemukan jawaban dari pertanyaan yang ada dipikirannya. Song yura tertidur di sofa. Tangannya persis di depan dada dengan ponsel di salah satu telapak tangan. Gadis itu bahkan tidak menggunakan selimut.

 

“apa yang dia lakukan disini. Yura-ya irreonna!” hyunwu mengoyangkan tubuh gadis itu.

 

Yura tidak terbangun  ataupun bergerak sama sekali. Gadis itu tetap tertidur dengan posisi yang sama.

 

“dia masih belum berubah. Tidak bisa dibangunkan dari tidurnya. Kupikir itu hanya terjadi saat sakit,” hyunwu menarik yura, membuat gadis itu berada di dalam kedua lengannya.

 

“kau sama sekali tidak berat. Walaupun aku sudah sering mengangkatmu,” hyunwu masih berbicara pada yura yang tertidur dan mengangkatnya, memindahkan gadis itu ke dalam kamar.

 

Yura sudah berada di atas ranjangnya. Hyunwu memasangkan selimut gadis itu rapat dan duduk disamping ranjang dan kembali berbicara pada yura yang tertidur.

 

“apa kau sudah tahu hubungan hankang dan hyejin? Aku sebelumnya tidak mengetahui hal itu dan saat aku melihat mereka berdua tadi, tiba-tiba saja aku merasa marah. sebenarnya itu hal yang sangat lumrah jika aku marah karena melihat hyejin-ssi bersama lee hankang. Tapi, kau tahu apa yang membuatku bingung? Aku marah bukan karena itu. Tapi karena melihat lee hankang, orang yang kau sukai dan telah menolakmu sedang bersama gadis lain. Apa aku marah karena bersimpati padamu? Entahlah, karena aku bukan orang yang mudah bersimpati” mata hyunwu terpejam. Dia benar-benar lelah dengan jadwal latihannya hari ini.

 

 

——

 

 

mata hitam itu sangat mempesona, membuatku terhanyut dan lupa diri. Untuk pertama kalinya aku tahu kalau mata itu bisa membuat jantungku berdebar lebih cepat. Namun aku bodoh, benar-benar bodoh. Karena aku tidak menyadari kalau mata hitam itu sudah menarikku kedalam sana dan dengan seketika semua perasaanku sebelumnya berubah, secepat pemilik mata itu mengedipkan kelopak matanya”

 

 

Pagi itu sangat dingin dan mentari enggan keluar dari persembunyiannya. Hawa musim dingin terasa lebih dekat. Hyunwu terbangun dari tidurnya dan ia sangat terkejut. Laki-laki itu terbaring di ranjang yura, tepat disebelah gadis itu. Tiba-tiba dada hyunwu bergetar. Ia tidak tahu sejak kapan, tapi akhir-akhir ini yura memenuhi pikirannya.

 

Hyunwu menatap yura yang masih terlelap disebelahnya lekat. ‘apa yang terjadi padaku, yura-ya’ gumannya. Hyunwu hendak beranjak dari posisinya sebelum ia merasakan ada yang bergerak disebelahnya dan cepat-cepat laki-laki itu memejamkan matanya, berpura-pura tidur.

 

Yura sangat malas beranjak dari posisinya. Badannya tidak terasa sakit, berbanding terbalik dengan yang ia pikirkan. Gadis itu membuka matanya dan mendapati dirinya telah berada di kamarnya. Seingatnya dia tidur di sofa kemarin malam. Yura belum sepenuhnya sadar karena tidak menyadari sosok laki-laki di hadapannya. Dua puluh detik, setelah dua puluh detik gadis itu baru tersadar dengan perasaan yang salah.

 

“omoo, hyunwu-ya. apa yang kau lakukan disini?” kata yura terkejut.

 

Hyunwu yang berpura-pura tidur meneruskan kelanjutan aktingnya. Dia tidak bergerak sedikitpun, membuat yura meyakini ia masih tidur. Yura mendesah panjang dan berguman ‘ahh, kau pulang larut lagi? Dan tertidur disini. Jika orang lain tahu mereka bisa salah paham’.

 

Hyunwu berusaha menahan diri agar tetap seperti orang tidur. Dia tidak tahan mendengar gumaman yura sebelumnya. Dan yura, gadis itu keluar dari kamarnya dan kemabli bergumam ‘aku akan memberimu pelajaran nanti, lihat saja’. Seketika setelah pintu itu tertutup hyunwu bernafas lega.

 

“kau bilang pelajaran? Hah, aku benar-benar gila. Bagaimana aku bisa tertidur ditempat ini,” hyunwu bangkit dan mengendap-endap keluar dari kamar. Dia memperhatikan keadaan apartemen untuk kembali mengendap-endap menuju kamarnya. Ia tidak tahu apa sebenarnya yang ada di pikiran yura. Bisa saja gadis itu mengira dia maniak. Itu kemungkinan terburuk yang hyunwu pikirkan.

 

——

“kau sudah bangun?” tanya yura pada hyunwu yang baru saja duduk di depan meja dapur.

 

“ye,” hyunwu menarik cangkir kopinya lebih dekat.

 

“kemarin ibuku mengirimi tonic ginseng merah. ahh, musim dingin akan segera tiba. Apa kau juga mau mencobanya?”

 

“hmm, ye,” hyunwu menunggu reaksi lain dari yura. Tapi gadis itu tidak berkata apa-apa. Ia sibuk menghangatkan tonic yang tadi ia katakan.

 

“yura-ya. apa kau tidak mau menanyakan sesuatu?”

 

“hmm?” gumam yura.

 

“aku tertidur dikamarmu,” kata hyunwu ragu. Ia berdebar menunggu respon gadis itu.

 

“ah ye, apa yang kau lakukan dikamarku eoh?” yura membelalakan matanya menakuti hyunwu. Tentu saja itu hanya sebuah lelucon.

 

“tidak perlu, aku yakin itu tidak disengaja. Kita seri, ya begitu, kita seri,” gadis itu terkekeh geli mendengar ucapannya sendiri.

 

“apa maksudmu kita seri?”

 

“ini memalukan, tapi saat pertama kali ke apartemen ini aku tidur dikamarmu. Haha memalukan sekali. Wanita macam apa aku ini dan juga terima kasih,” yura mendesah membayangkan kejadian dimasa lalu.

 

“gomawo? Untuk apa?”

 

“karena memindahkan aku ke kamar. Badanku pasti akan sangat pegal jika tidur di sofa kemarin.”

 

“ah ye, hankang-ssi. Apa kau sudah melupakan orang itu?” tanya hyunwu.

 

“aku berusaha. Aku sedang berusaha. Uhmm, aku harus cepat-cepat mencari orang lain. Bagiku rasa suka sama seperti motivasi untuk bersemangat.”

 

‘benarkah? Kalau begitu bolehkan orang lain itu aku? Kurasa aku menyukaimu. Entah sejak kapan, tapi ini memang rasa suka,’ hyunwu bergumam di dalam hati.

 

——

 

“dan perasaanku pada seorang gadis yang selama ini aku kagumi menghilang. Semuanya menghilang, berganti dengan perasaanku padamu” –lee hyunwu

 

Yura melilitkan syal ke lehernya pelan, menjaga agar ia tidak kedinginan, juga menjaga agar ia tidak tercekik benda rajutan benang wol itu. Gadis itu mengambil sepatu hendak mengenakannya.

 

“kau ada kelas hari ini?” hyunwu baru saja keluar dari kamarnya dengan sebuah buku ditangan.

 

“ya, literature dan bahasa inggris.”

 

“ah, berarti itu tidak akan memakan waktu lama. bagaimana kalau kita makan siang bersama? Kau punya waktu kan,” hyunwu beranjak ke sofa dan mengambil posisi untuk duduk.

 

“mianhae hyunwu-ya. hankang oppa sudah lebih dulu mengajak ku untuk bertemu siang ini,” kata yura setelah berhasil mengenakan sepatunya di depan pintu.

 

“hankang-ssi. Apa kau tahu hankang-ssi dan hyejin adalah… ah, lupakanlah.”

 

“apa-apaan kau ini. selesaikan kalimatmu. Apa yang hankang oppa dan hyejin…” kata-kata yura terhenti. Hyejin, ia ingat pada nama itu, gadis yang ia liat di restoran jepang. ‘Gadisnya hankang, oppa’ gumamnya.

 

“aku tahu, aku tahu apa yang ingin kau katakan hyunwu-ya. terima kasih karena tidak melanjutkan kalimatmu,” yura bersikukuh dengan pemikirannya. ‘hankang-ssi dan hyejin-ssi adalah kekasih. Aku tahu kau ingin memberitahukan hal itu hyunwu-ya. terima kasih atas perhatianmu’ gumam yura di dalam hati.

 

“aku akan memasakkan makan malam, jadi nanti kau harus pulang latihan lebih awal. Arrachi? Aku pergi,” yura meninggalkan hyunwu dan menghilang dibalik pintu apartemen mereka.

 

 

——-

 

“yura-ya yogiya!” panggil hankang dari salah satu meja di purple coffe.

 

Berbeda dengan tempat yang terakhir kali, hari ini hankang mengajak yura bertemu di kedai kopi. Dan suasana tempat itu sangat berbeda dengan restoran jepang yang sebelumnya memberi ingatan tidak menyenangkan pada yura. Yura mempercepat langkahnya menuju meja itu dan duduk dengan tenang. Ia memesan chamomile tea sebelum focus pada hankang. Karena sepertinya ada hal serius yang ingin laki-laki itu katakan.

 

“oppa sudah lama menunggu? Maaf, aku terlambat.”

 

“tidak apa, oppa yang minta maaf karena menyuruhmu datang kemari,” hankang menegakkan posisi duduknya.

 

“geureum, apa yang ingin oppa katakan?” yura mengambil teh pesanannya yang telah ada di atas meja.

 

“eunjo, song eunjo. Apa kau tahu dimana eonnimu sekarang?” tanya hankang ragu-ragu.

 

“eonni? Ada apa dengan eonni? Mengapa oppa tiba-tiba menanyakan eonni?” yura terlihat bingung.

 

“ini bukan tiba-tiba. Karena oppa sudah menanyakannya pada kapten. Tapi dia bilang dia tidak mengetahui keberadaan eonnimu itu.”

 

“oppa-ku, oppa sudah menanyakannya pada hyunjo oppa?”

 

“hmm.”

 

“eonni, beberapa saat lalu ia bilang dia sedang di daegu. Tapi kukira sekarang dia sudah tidak di tempat itu.”

 

“oppa, mengapa oppa menanyakan eonniku? Apa benar pertengkaran oppa dan jungsoo oppa dulu itu karena eonni? Apa aku benar?” yura begitu penasaran. Bukankah hankang sudah mempunyai hyejin, lalu mengapa laki-laki itu masih menanyakan kakaknya. Dan yura tidak percaya pada mulutnya sendiri yang menananyakan urusan hankang. Ia tahu benar itu bukan urusannya, tapi bayangan hyejin dan eonninya berputar cepat dikepalanya. Membuat hankang terlihat buruk.

 

“benar, aku bertengkar dengan jungsu karena dia,” kata hankang ragu-ragu. Ia tidak yakin dengan tindakan kali ini. mengatakan pada yura tentang eunjo tak lama sejak ia menolak yura.

 

Tapi bukan hal itu lagi yang dipikirkan yura. Dia benar-benar sudah membereskan perasaannya pada hankang, mengingat laki-laki itu tidak berubah sama sekali padanya. Tapi hyejin, bagaimana bisa hankang menanyakan kakaknya saat laki-laki itu jalas-jelas masih bersama hyejin.

 

“kalau oppa mencari eonni dengan alasan yang sama pada hari itu, bagaimana dengan shin hyejin? Oppa mencari kakakku saat oppa masih menjalin hubungan dengan hyejin?” pikiran yura kacau. Mengapa hankang, cinta pertamanya mempunyai hubungan yang rumit.

 

“hyejin? Apa maksudmu hyejin yang waktu itu di restoran jepang?”

 

“ye.”

 

“kau bercanda song yura. Hubungan apa yang kau maksud antara aku dan adikku. Shin hyejin adalah adik tiriku. Bagaimana bisa kau menyimpulkan hingga sejauh ini,” hankang tertawa.

 

“nde? Adik tiri?” yura tercekat menyadari kenyataan itu. Dia sudah berfikir banyak hal buruk tentang hankang hari ini, dan ternyata semua hal itu adalah fitnah yang ia lakukan. Yura meminum tehnya cepat. Menenangkan dirinya.

 

‘hari-hariku sangat kacau saat itu, saat memikirkan cinta pertama yang menolakku karena gadis lain bernama hyejin. Tapi semua hal itu ternyata hanya opini bodohku. Aku terlalu terburu-buru hingga tidak memikirkan kemungkinan itu. Shin hyejin adik tiri lee hankang. Aku tidak menyadari hal itu karena hankang oppa tidak pernah menyebut hyejin dan gadis itu tidak pernah datang ke rumah hankang oppa di busan. Emosi yang buruk bisa membawamu kedalam lorong yang menyesatkan’ –song yura

 

-TBC

 

ya, cameo part ini memang sangat cetar.. harap jangan terlalu berlebihan sampe salto ato tindakan berbahaya lainnya.. ini part aku ngetik dengan semangat membara, jadi maaf kalau ceritanya agak ngawur.

karena setelah ini adalah part end jadi mohon kritikannya.

terima kasih sudah membaca🙂

7 thoughts on “Mr. Appartment (Part 6) [Explanation]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s